Cerita #tanoswalkingchallenge hari ini


Hari ini, saya memboyong anak-anak berkunjung ke rumah neneknya yaitu ibu kandung saya ke Panyileukan. Lama nian tak berjumpa, hati sudah rindu begitu pula tubuh ini. Kenapa? soalnya kalo pulang ke rumah ibu itu artinya saya cuti jadi ibu rumah tangga, hahahaha. Anak macam apa ya saya ini, hihihi. 

Yah, ngitung-ngitung saya istirahat dari rutinitas rumah tangga lah beberapa hari. Lantas paksu? dirumah dong kan work from home, hehehehe.

Jadi, hari ini saya Tanos walking challenge nya di sini. Asyik gak? asyik lah karena walking challenge nya mengelilingi lapangan samping rumah sambil nostalgia, hehehe. Jadi, saya walking challenge keliling lapangan dan anak - anak main ayunan atau  jungkitan. Jadi saya bisa walking challenge lepas tangan, hahahaha

Sayang, hari ini saya gak pake tracker. Tapi tetep konsisten kok, selama 20 menit. Kenapa sih saya benar - benar mengikuti aturan 20 menit? padahal #pejuangtanos yang lain bahkan ada yang sampai 3 jam lebih lho?? 

Percayalah Fernando, sesungguhnya aku pun ingin demikian. Tapi apa daya, jangankan 3 jam, 20 menit aja ini selama walking challenge di kasih backsound rengekan anak-anak minta pulang! hahahaha. Kan pengennya mah sambil santai lepas tangan ( gak megang tangan si kecil ) sambil dengerin lagu kesukaan si blekping, be te es dan jidel, hihihihi

Tapi ya, dinikmati saja apa adanya akhirnya. 

Eh, seperti apa ya keseruan cerita Kak Renovrainbow hari ini?






Para Pejuang Tanos


Apa kabar para #pejuangtanos lainnya ya? Silahkan klik link di masing-masing profil para pejuang Tanos di bawah ini ya.

3. Vivi
4. Dita 
9.  Bundav_26
10 Meti

Winner Of Today : Day 6


Dan yah, seperti biasa. Saking gemes dan terpukaunya dengan semua cerita, saya dan kak renov kebingungan nih pilih yang mana. Tapi akhirnya, kami memutuskan, kak Adi dan kak Anil  sebagai winner of today .  Selamat ya kak  (^__^)









Adakah teman-teman yang pernah mengalami alergi antibiotik? Suami saya pernah lho mengalami gejala alergi antibiotik yang cukup parah. Begini nih ceritanya. 

Pengalaman menggunakan antibiotik


Tahun lalu, suami saya sakit flu parah. Awalnya enggan ke dokter, tapi setelah saya paksa akhirnya mau juga. Tapi, suami maunya ke dokter langganan keluarga yang sebetulnya sang dokter  bukan dokter, tapi bidan praktek yang biasa mengobati sakit ringan. Saya ragu karena saya sih gak cocok berobat kesana.

Ya sudahlah, saya turuti saja kemauan suami.  Setelah pulang dari dokter itu dan makan obat, besoknya  kulit kaki dan tangannya Suami muncul ruam berwarna merah. Terus saya tanya di gigit serangga gak? Jawabnya enggak. Atau kaligata kali, jawabnya juga bukan.

Lalu saya oles kayu putih dan  bedak tabur. Tapi gak berefek. Si area merah itu malah jadi menghitam dan bengkak. Duh saya panik, terus sama kompres dengan air hangat. Tapi bengkak nya gak kunjung hilang malah meletus dan keluar getah bening. Saya langsung bawa suami ke dokter lain. Betulan dokter ya.

Setelah di lihat si ruam dan getah bening nya, Pak Dokter  bilang kalau Suami alergi antibiotik. Sempat bertanya obat apa yang dimakan, saya Perlihatkan obatnya. Lalu Dokter tersebut memberi antibiotik jenis lain dan salep yang di olesi ke area ruam. 

Alhamdulillah, gak lama kemudian ruam yang lain kempes dan yang terlanjur meletus menjadi kering. Flu juga berangsur sembuh.

Jadi, setiap berobat saya selalu menceritakan riwayat alergi antibiotik Suami saya yaitu jenis Sulfa dan ciprofloxacin.

Ada cerita lain soal alergi antibiotik ini
Pengalaman saya sendiri waktu mau melahirkan Kilan, anak bungsu saya secara sesar. Sebelum operasi, dokter melakukan serangkaian test alergi di area kulit tangan kiri saya. Kalau setelah di suntikan obat saya merasa gatal dan panas itu artinya saya alergi terhadap obat tersebut. Ternyata, saya juga alergi terhadap antibiotik jenis ciprofloxacin.

Lalu ada cerita lain dari tetangga saya, yang anaknya demam lalu diberi obat penurun panas tablet untuk anak. Tapi setelahnya, sang anak malah mengalami bengkak diseluruh wajah, terutama mata dan bibir. Nampaknya sang anak juga alergi tehadap obat jenis aspirin.

Melihat serangkaian cerita diatas, maka sudah selayaknya ya kita waspada terhadap penggunaan antibiotik. Terutama bagi anda yang memang memiliki riwayat alergi antibiotik.

Lantas, yang menjadi pertanyaan adalah memang nya antibiotik itu berbahaya ya ? jika digunakan untuk suatu kondisi yang tepat tentu tidak berbahaya, tetapi jika mengkonsumsi antibiotik mengakibatkan alergi hingga gejala nya parah, maka jika dibiarkan terdapat kemungkinan pasien akan mengalami kondisi yang lebih parah. 

Sebelum lanjut, saya memaparkan penjelasan dibawah berdasarkan hasil pengalaman dan rangkuman informasi yang saya peroleh dari portal web kesehatan.

Antibiotik, apa sih itu?


Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi. Pada umumnya, antibiotik digunakan hanya melawan infeksi bakteri namun tidak dapat bekerja melawan infeksi virus, seperti flu, pilek, sakit tenggorokan, gondok, bronkhitis.




Jenis - jenis Antibiotik


Mengutip dari amazine.co berikut jenis - jenis antibiotik berdasarkan struktur kimia nya, yaitu :

1. Penisilin (Penicillins)


Penisilin adalah jenis antibiotik yang bekerja dengan mengganggu pembentukan dinding sel bakteri selama reproduksi.Jenis penisilin diantaranya adalah, penisilin G, penisilin V, ampisilin, tikarsilin, kloksasilin, oksasilin, amoksisilin, dan nafsilin. Antibiotik jenis penisilin biasanya digunakan untuk mengobati infeksi pada  kulit, gigi, mata, telinga dan saluran pernapasan. Berikut adalah jenis-jenis antibiotik penisilin :


  • Amoxicillin
  • Ampicillin
  • Oxacillin
  • Penicillin G

2. Sefalosporin (Cephalosporins)


Seperti halnya penisilin, Sefalosporin juga bekerja dengan mengganggu pembentukan dinding sel bakteri selama reproduksi . Bedanya, penggunaan antibiotik jenis ini digunakan jika, penisilin tidak mampu infeksi bakteri lebih lanjut. Dalam beberapa kasus, jika sesorang alergi terhadap penisilin maka dia juga akan alergi terhadap sefalosporin.  Jenis-jenis sefalosporin meliputi :

  • Cefadroxil
  • Cefuroxime
  • Cefixime
  • Cefotaxim
  • Cefotiam
  • Cefepime
  • Ceftarolin

3. Aminoglikosida (Aminoglycosides)


Antibiotik jenis ini bekerja dengan menghambat pembentukan protein bakteri. Antibiotik jenis ini biasanya digunakan untuk mengobati tifus dan pneumonia.  Jenis - jenis Aminoglikosida meliputi :

  • Amikacin
  • Kanamycin
  • Neomycin
  • Paramomycin
  • Tobramycin


4. Makrolid (Macrolides)


Antibiotik jenis Makrolida bekerja dengan cara mencegah biosintesis protein bakteri dan umunya  diberikan pada  pasien yang sangat sensitif terhadap penisilin. Yang termasuk jenis ini adalah :
  • Azithromycin
  • Clarithromycin
  • Erythromycin
  • Fidaxomicin
  • Roxithromycin
  • Spiramycin


5. Sulfonamida (Sulfonamides)


Antibiotik sulfa bisanya digunakan untuk  mengobati infeksi ginjal. Sayangnya, dibalik manfaat dari antibiotik untuk menyembuhkan infeksi pada ginjal juga memiliki efek berbahaya terhadap ginjal itu sendiri. sehingga, penggunaan obat ini harus dilakukan di bawah petunjuk dokter. Yang termasuk jenis ini adalah :

  • Sulfamethoxazole
  • Sulfisoxazole


6. Fluoroquinolones


Antibiotik jenis Fluoroquinolones adalah satu-satunya antibiotik yang secara langsung menghentikan sintesis DNA bakteri. Karena Fluoroquinolones dapat diserap dengan sangat baik oleh tubuh, maka fluoroquinolones dapat diberikan secara oral. Antibiotik ini relatif aman digunakan dan biasa digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih dan saluran pernapasan. Yang termasuk jenis ini adalah :

  • Ofloxacin
  • Ciprofloxacin
  • Levofloxacin
  • Moxifloxacin
  • Nalidixic Acid
  • Norfloxacin
  • Sparfloxacin
  • Gatifloxacin

7. Tetrasiklin (Tetracyclines)


Tetrasiklin adalah jenis  antibiotik yang memiliki  spektrum luas yang digunakan untuk mengobati berbagai infeksi seperti infeksi telinga tengah, saluran pernafasan dan saluran kemih. Namun, bagi pasien yang memiliki  masalah hati harus sesuai dengan petunjuk dari dokter. Yang termasuk jenis ini adalah :

  • Tetracycline HCl
  • Oxytetracycline
  • Doxycyline
  • Minocycline 
  • Tigecycline


8. Polipeptida (Polypeptides)


Polipeptida adalah antibiotik yang biasa digunakan untuk mengobati infeksi pada kulit akibat bakteri. Yang termasuk jenis ini adalah :

  • Bacitracin
  • Colistin
  • Polymyxin B





Gejala alergi antibiotik


a. Gejala alergi antibiotik ringan

  • Kulit melepuh dan mengelupas
  • Diare
  • Mual dan muntah
  • Gangguan penglihatan
  • Pembengkakan yang lebih parah di bagian tubuh tertentu, seperti bibir dan kelopak  mata  dan disertai rasa gatal

b. Gejala alergi antibiotik berat 

Reaksi alergi yang parah terhadap antibiotik disebut juga anafilaksis.  tanda dan gejala berikut ini. Gejala dari alergi ini adalah sebagai berikut : 

  • Lemas
  • Kesemutan
  • Sesak napas
  • Peningkatan detak jantung atau dada berdebar
  • Penurunan kesadaran atau pingsan


Terdapat suatu kasus yang cukup berat dari gejala anafilaksis yaitu hingga kehilangan nyawa dimana kondisi ini disebut juga kondisi sindrom Stevens-Johnson.



Apakah Alergi antibiotik bisa menurun dari orangtua ke anak?

Jawabannya adalah IYA, tetapi hanya 20% saja. 

Anak yang memiliki orangtua yang alergi terhadap antibiotik memiliki peluang 20% juga memiliki alergi yang sama. Tapi tidak selalu demikian. Mengapa?

Karena, menurut  dr. Aditya, dr Arifianto, SpA, dalam alergi tidak berlaku adanya kepastian hubungan genetik atau keturunan dan semua orang punya kemungkinan untuk alergi terhadap satu jenis obat karena alergi itu sifatnya  sporadis.

Kesimpulannya, tidak ada kepastian alergi terhadap antibiotik akan diturunkan dari orangtua ke anaknya. Tetapi kemungkinan itu akan selalu ada sebanyak 20%. 

Seperti kasus Suami saya yang alergi terhadap salah satu jenis antibiotik, ternyata setelah di analisa ternyata Ayah mertua saya juga memiliki alergi yang sama bahkan dengan jenis antibiotik yang sama. Tetapi, Alergi ini hanya diturunkan pada Suami saya. Sementara kakak ipar saya ( saya punya dua kakak ipar ) dan adik ipar tidak memiliki alergi antibiotik sama sekali.



Apa yang harus dilakukan?


Berdasarkan pengalaman saya, satu-satunya cara apakah kita memiliki alergi terhadap antibiotik adalah dengan mengkonsumsi antibiotik itu sendiri. Jika setelah mengkonsumsi obat jenis antibiotik mengalami gejala seperti diatas, jangan ditunda lagi ayo segera lekas menghubungi dokter dan segera mendapat pengobatan lebih lanjut. Karena jika dibiarkan akan mengalami gejala yang lebih.

selanjutnya, Catat atau simpan di google keep/note jenis obat apa saja yang setelah kita mengkonsumsi nya mengalami gejala alergi seperti yang saya sebutkan diatas. Jangan lupa untuk memberitahu dokter jika teman-teman memiliki riwayat alergi terhadap antibiotik.

Begitulah cerita pengalaman saya dan sedikit pemaparan mengenai antibiotik. Semoga bermanfaat ya terutama bagi teman-teman yang juga memiliki alergi terhadap salah satu atau bahkan dua jenis antibiotik.

Cara terbaik untuk menghindari penggunaan antibiotik adalah dengan menjaga kesehatan dan kewarasan, mengapa? karena stress  sangat mempengaruhi  kesehatan lho, terutama proses peredaran darah dan fungsi kerja dari organ lainnya. Jadi, jangan lupa untuk selalu tersenyum, berbahagia, bersyukur dan nonton drakor ya, hehehe





sumber referensi :
https://www.suarasurabaya.net
https://www.alodokter.com/
https://health.detik.com/
https://www.halodoc.com/https://www.sehatq.com/


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tema Minggu : Alergi di Komunitas 1 Minggu 1 Cerita

Cerita #tanoswalkingchallenge hari ini


Tanos walking challenge hari ini, benar - benar jalan tipis. Saking tipisnya hanya keliling gang area rumah, ke lapangan Al Misbah sembari nyari kucing kesayangan kami yang sudah hilang sejak hari kemarin, si Kiki.

Saya baru sadar, ternyata sebagian sawah sudah panen. Sebagian padi nya disimpan di jemur di lapangan Al Misbah. Sudah jelas di datangi burung gereja. Dari kejauhan juga saya liat sebagian sawah sedang dipanen. Kalau sudah panen, kami kebagian asapnya nih. Asap? iya, asap pembakaran jerami. Bikin sesek dan bau. 

Setelah jalan kaki sekitar 20 menit, si Kiki tak kunjung ketemu. Jadi saya sudahi jalan kaki sore ini dan kembali ke kandang alias pulang.

Halo, apa kabarmu hari ini my partner renovrainbow?








Para Pejuang Tanos


Apa kabar para #pejuangtanos lainnya ya? Silahkan klik link di masing-masing profil para pejuang Tanos di bawah ini ya.


3. Vivi
4. Dita 
9.  Bundav_26
10 Meti

Winner Of Today : Day 5


Dan yah, seperti biasa. Saking gemes dan terpukaunya dengan semua cerita, saya dan kak renov kebingungan nih pilih yang mana. Tapi akhirnya, kami memutuskan, kak  Huyogo  sebagai winner of today .  Selamat ya kak  (^__^)









Mengapa Memilih Pondok Pesantren


Pondok Pesantren menjadi pilihan terbaik anak - anak untuk belajar dan menimba ilmu? setujukah anda? Saya setuju.


Beberapa waktu yang lalu saya diresahkan oleh beberapa kejadian viral di seantero jagat twitter-land. Salah satunya adalah kasus Adhisty Zara eks JKT 48. Kasusnya seperti apa? Silahkan google sendiri ya, hehehe. Yang jelas, kasus viral itu bikin saya merinding dan lebih memikirkan lagi soal pilihan pendidikan anak – anak saya, keenan dan kilan. Terutama keenan yang tahun depan akan masuk sekolah dasar.


Memang, sekolah bukan satu-satunya lembaga yang bertugas memonitoring, mengasuh dan membimbing anak agar memiliki akhlak yang baik. Dibutuhkan kerjasama orangtua agar anak – anak tidak melakukan hal-hal diluar norma agama dan sosial. Tetapi  jika anak sudah memiliki pondasi yang kuat terhadap agama, setidaknya disaat anak mengalami masa transisi pencarian jati diri dan memasuki dunia baru  dia akan berpegang teguh pada prinsipnya dan kembali ke rel yang benar.

Hal ini kemudian yang menjadi perhatian utama saya terhadap masa depan pendidikan dan pengembangan akhlak, budi pekerti dan falsafah hidup anak-anak saya. Saya memilih pondok pesantren sebagai pilihan utama pendidikan anak-anak saya.

Pesantren Jaman Now Lebih Terbuka


Alasan utama mengapa saya memilih pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan anak- anak saya adalah karena di pondok pesantren, anak - anak akan memperoleh ilmu agama yang komprehensif  terkait ilmu agama. Bahkan pesantren modern saat ini tidak hanya mempelajari ilmu agama, tetapi juga mempelajari berbagai ilmu pengetahuan sebagaimana pada sekolah negeri atau umum lainnya. 

Di beberapa pesantren juga membekali para santri nya ilmu berwirausaha, berkebun dan beternak. Sehingga, siswa juga dibekali ilmu agar ketika mereka lulus tidak hanya menjadi seorang pengajar atau  ustad seperti kebanyakan tetapi juga wirausaha dan mampu memiliki usaha sendiri. hebat bukan??

Awalnya saya kira kegiatan di pondok pesantren itu menjenuhkan dan kurang menyenangkan. Tetapi ternyata, pondok pesantren jaman sekarang lebih terbuka dengan banyak pilihan kegiatan ekstrakulikuler, ilmu dan bidang studi.


Menyiapkan kesiapan anak masuk pondok pesantren


Lantas timbul pertanyaan, bagaimana mempersiapkan anak-anak agar mau bersekolah di pesantren? Usia berapa sebaiknya anak-anak mulai masuk pesantren?

Oke. Saya ambil contoh Keenan anak pertama saya. Sejak pertama kali Keenan mulai memasuki dunia pendidikan, saya sudah merencanakan sejak awal kemana Keenan akan bersekolah.

Pertama, Sekolah Taman Kanak – kanak RA


Saya mendaftarkan Keenan Sekolah Swasta Yayasan Al Misbah yang memiliki tiga jenjang pendidik yaitu RA ( setara TK), MI ( setara SD ) dan MTS ( setara smp ). Saya memilih Keenan sekolah pendidikan usia dini ke RA dan bukan TK, Mengapa?

RA merupakan singkatan dari Raudhatul Athfal yang artinya taman kanak – kanak. Secara skema lembaga, RA berada dibawah naungan Departemen Agama dan dikelola oleh Ikatan Guru Raudhatul Athfal ( IGRA ) . Salah satu kelebihan RA adalah, Selain memiliki kurikulum materi pengetahuan umum juga menyiapkan kurikulum materi dasar-dasar ajaran agama Islam. 


Keenan ikut kegiatan manasik haji  ( photo atas, keenan ketiga dari kiri )


Keenna Belajar jadi imam shalat
Keenan belajar menjadi imam shalat


Selain itu, dari segi atribut sekolah juga sudah disiapkan dan disesuaikan, yaitu untuk murid wanita berhijab dan pria seragam berlengan dan celana panjang. Khusus untuk hari jumat mereka memakai seragam berwarna putih. Kegiatan lainnya seperti manasik haji dan belajar praktek sholat juga rutin diadakan. Bahkan, hari santri pun ikut diperingati setiap tahunnya.

Salah satu yang saya rasakan besar manfaatnya menyekolahkan Keenan di RA adalah, dia mulai memahami konsep siapa Tuhan dan bahkan suatu hari Keenan pernah bertanya,

Mah, kenapa sih solat terus? Emang kenapa sih kita harus sholat? “ tanyanya terheran- - heran.

Pertanyaan ini sungguh menggelitik rasa haru saya. Mengapa tidak, di usianya yang masih lima tahun dia mampu berfikir sejauh itu. Lantas saya jawab,

Kakak udah kenal kan sama Allah? Tuhan yang memiliki juga menciptakan kakak, mamah, Kilan, babah dan semua yang ada di dunia ini. Nah, karena Allah sudah menciptakan semuanya untuk kita maka, kita wajib mentaati perintahnya Allah. Kalau gak, nanti Allah marah sama kakak. Takut kan ya kalau Allah marah?

Lalu dia kembali bertanya,

Gak ah, Keenan mah gak takut mah “ jawabnya polos

Lho kok gak takut? Harus takut lho. Gimana kalo kata Allah teh kakak harus solat tapi malah main layangan terus sampai gak solat, lalu Allah ngilangin semua layangan di seluruh dunia? Kakak pasti gak akan bisa main layangan lagi kan? Sedih kan? “ jawab saya berusaha menjelaskan,

Tinggal bikin we atuh layangan mah gampang “ jawabnya

Iya memang gampang, tapi gimana kalau Allah musnahin semua pohon bambu lewat bencana alam? Gunung meletus? Semua pohon bambu musnah! Gimana kakak mau bikin layangan? “ jawab saya. Lalu dia terdiam sambil berfikir. Nampaknya dia berfikir cukup keras tentang hal ini, hehehe

Kedua, Sekolah Madrasah Ibtidaiyah ( MI )


Setelah Keenan menyelesaikan pendidikannya di TK Ra Al Misbah, tahun depan saya berencana untuk kembali mendaftarkan Keenan ke MI ( Madsarah Ibtidaiyah ) Al Misbah . Jika anda mengetikan kata kunci sekolah MI di google, maka yang pertama muncul adalah lokasi sekolah ini. Rupa-rupanya MI Al Misbah cukup terkenal sampai masuk page one google ya, hehehe. Alhamdulillah.


Sekolah Yayasan Al Misbah



Karena lokasi sekolah RA Al misbah masih berada dalam lingkungan yayasan Al Misbah, maka setiap kali saya mengantar dan menunggu Keenan sekolah, secara tidak langsung saya mengamati bagaimana kebiasaan siswa SD dan SMP di sekolah ini. Satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah, setiap pagi sebelum memulai KBM para siswa dibiasakan membaca do’a, surat-surat dan hadits. Sehingga, saya tidak ragu lagi jika nanti Keenan melanjutkan SD ke MI Al Misbah.


Lapangan Upacara yang sering digunakan untuk kegiatan olahraga dan warga sekitar

Sama halnya dengan RA, Madrasah ibtidaiyah ( MI ) yang setara dengan SD juga pengelolaannya dilakukan oleh Kementerian Agama. Mengenai Kurikulum, madrasah Ibtidaiyah juga memiliki kurikulum yang sama dengan kurikulum sekolah dasar, tetapi memiliki porsi lebih banyak mengenai pendidikan agama . 

Berikut beberapa tambahan kurikulum di MI, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Alquran dan Hadits 

2. Aqidah dan Akhlaq 

3. Fiqih 

4. Sejarah Kebudayaan Islam 

5. Bahasa Arab.


Ketiga, Madrasah Tsanawiyah di Pesantren


Disinilah tujuan akhir pendidikan Keenan bermuara. Saya belum memilih dan mencari pilihan pondok pesantren nanti untuk Keenan . Tetapi jika melihat pengalaman ayahnya waktu pesantren dulu, sedikit banyak saya belajar mengenai pesantren dan dunia nya. Untuk tahap selanjutnya mungkin saya akan mempelajari lebih lanjut mengenai pesantren yang ada di Kota Bandung.

Mengapa memilih di Kota Bandung? Karena lebih dekat dekat tempat tinggal. Jadi kalau ada apa-apa lebih mudah. Tentu ada pertimbangan penting dalam memilih pesantren, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Pertimbangan Madzhab dan Organisasi

Sebagaimana kita ketahui, islam memiliki banyak mazhab dan organisasi. Mulai dari pondok pesantren beraliran NU, Muhammadiyah, Pondok pesantren Modern, pondok pesantren tarbiyah (PKS) dan masih banyak lagi. Saya akan memilih pondok pesantren yang sejalan dengan pemahaman yang saya dan keluarga anut, untuk menghindari adanya konflik sosial antara anak dan keluarga kelak.

2. Program pendidikannya serta Kredibiltasnya terbukti baik.

Mulai dari prestasi, citra dan alumnus. Dengan melihat kredibiltas suatu pondok pesantren, maka kita bisa melihat bagaimana pondok pesantren ini mendidik, mengasuh dan mendidik para santri. Terlebih jika ada alumnus pondok pesantren yang berhasil dan sukes. Tentu hal ini menjadi nilai lebih dari pondok pesantren itu sendiri.

3. Biaya pendidikan.

Tidak ada pendidikan yang murah, terlebih lagi jika pondok pesantren tersebut memiliki kredibiltas baik, fasilitas lengkap dan kurikulum pendidikan yang komprehensif. Semisal gontor. Tentu biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Untuk itu, maka perlu dipersiapkan biaya pendidikan untuk kedepannya. Dengan menabung atau deposito. Memilih pondok pesantren dengan biaya yang terjangkau juga bisa menjadi pilihan, tetapi jangan asal memilih yang murah tetapi tidak berkualitas. Tetapi pilihlah pondok pesantren dengan biaya yang terjangkau dan berkualitas.

4. Tindak Lanjut

Setelah Keenan lulus MTS nanti, tentu akan ada perencanaan yang dilakukan selanjutnya. Apakah akan meneruskan ke jenjang Madrasah Aliyah di pondok pesantren tersebut atau pindah ke pondok pesantren lainnya atau malah berpindah haluan ke SMA Negeri?

Semua hal tersebut bergantung kepada kemauan dan keinginan Keenan nantinya. Mengapa? Karena saya menyadari bahwa, anak juga memiliki hak untuk memilih mau kemana dia bersekolah dan menimba ilmu. Saya sebagai orang tua hanya sebatas mempersiapkan dan membimbing melalui jalur yang terbaik yang sudah saya persiapkan dengan tujuan awal saya. Tentu saya berharap Keenan akan bisa melanjutkan ke Madrasah Aliyah lalu melanjutkan ke Universitas berbasis agama islam. Tetapi kembali, saya harus melihat bagaimana perkembangan Keenan nantinya.

Pondok Pesantren Bukan Pilihan Utama


Perencanaan pendidikan yang saya uraikan di atas terlihat sempurna ya, Lalu bagaimana dengan respon dan keinginan Keenan terhadap rencana saya itu? Apakah Keenan tertarik dengan pondok pesantren?

Untuk sekarang belum terlihat bagaimana keinginan keenan sebetulnya. Tetapi ketika dia melihat sepupunya yang sekarang sekolah di MTS di pondok pesantren, dia pun mengatakan ingin sekolah di sana seperti sepupunya. Juga, ketika saya menceritakan bahwa dulu Babah ( ayahnya) juga sekolah di pondok pesantren, diapun terakagum-kagum.

Dan keenan semakin penasaran dengan konsep pondok pesantren ketika saya ceritakan bagaimana sepupunya Aldi, sekolah di pondok pesantren Baitul Hidayah Bandung dan pamannya yang dulu juga pondok pesantren dan sekarang mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di universitas terkenal di Irak. Mendengar kata LUAR NEGERI, keenan pun semakin tertarik dan terkesan. 

Saya juga meperlihatkan  video kegiatan pondok pesantren dimana sepupunya Aldi sekolah sekarang, dan dia tertarik. 







Keenan mengatakan dengan penuh semangat kalau dia ingin meneruskan sekolah ke MI Al Misbah tahun depan. Semoga nanti setelah lulus MI, keenan mau meneruskan ke jenjang MTS di pondok pesantren.

Bagaimana jika Keenan menolak? Tidak masalah


Ini terkesan bersebrangan dengan judul saya di atas, tetapi tidak. Saya memang membuat perencanaan dan menyediakan fasilitas terbaik untuk pendidikan anak-anak saya, tetapi yang menjalani semua itu bukan saya. Tetapi anak-anak saya. Sehingga, mereka harus memiliki keinginan yang kuat akan hal itu. Tidak bisa dipaksakan hanya karena “ambisi” saya semata.

Saya mengambil kasus dimana, sepupu saya pernah dipaksa oleh orangtuanya untuk belajar di pondok pesantren tanpa menanyakan bagaimana keinginan sepupu saya itu. Hasilnya, dia berontak dan kabur dari pondok pesantren. Berkaca ke peristiwa itu, maka saya tidak akan memaksakan anak-anak saya nanti untuk belajar di pondok pesantren.


Ibu Sebagai Madrasah Al - Ula



Seperti yang saya ceritakan di atas mengenai keresahan saya terkait gaya hidup anak – anak generasi sekarang, pondok pesantren memang menjadi pilihan saya agar Keenan dan kilan memiliki pondasi yang kuat terhadap agama sehingga mampu melewati segala macam rintangan dan godaan selama masa pencarian jati diri mereka.



Tetapi saya sadar, Pondok pesantren bukan lah pilihan utama. Pendidikan dasar agama masih bisa diperoleh melalui pengajian rutin di masjid setiap hari dan pengasuhan serta bimbingan dari kedua orangtua. Ini kemudian yang akan menjadi pekerjaan rumah saya terbesar jika Keenan atau Kilan menolak meneruskan belajar di pondok pesantren. Persiapan mental harus di siapkan sedari sekarang agar nantinya saya tidak kecewa.


Saya juga menyadari hal lain bahwa bagaimana seorang anak itu memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik dalam artian tidak melenceng dari norma agama dan sosial, bergantung pada bagaimana orangtua terutama ibu mendidik dan mengasuh anak-anak mereka. Mengapa?

Karena seorang Ibu merupakan madrasatul ula yang artinya sekolah utama dan pertama bagi seorang anak. Sejak dari kandungan hingga menjadi seorang manusia seutuhnya. Ibu lah yang pertama mengajari duduk, berjalan, berlari dan mengenal dunia di sekitarnya. Bahkan ibulah yang melihat, menggali dan mengembangkan potensi yang ada dalam diri anak – anaknya.

Seperti Ungkapan dari Hafiz Ibrahim yang menyatakan bahwa :

"Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”

Yang artinya, “Ibu adalah madrasah atau pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya “

Selama masa tumbuh dan kembang. seorang anak akan mempelajari banyak hal melalui sebuah proses yang disebut imitasi, dimana anak akan melihat, merespon lalu mengikuti bagaimana orang lain bersikap, berbicara dan bertingkah laku. Proses belajar inilah dilakukan anak dengan melihat ibu dan ayahnya.

Mempersiapkan anak – anak untuk belajar di pondok pesantren, secara tidak langsung juga “memaksa” saya dan ayahnya untuk kembali belajar. Belajar agama lebih dalam dan belajar pengasuhan sesuai fitrahnya.

Masa iya, cita-cita setinggi langit agar anak akhlakul karimah tetapi kedua orang tuanya tidak? Apa tidak malu? hehehe