Tampilkan postingan dengan label thought. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thought. Tampilkan semua postingan
Generasi Milenial Menjawab keresahan generasi Z



Gue sebagai generasi milenial tergelitik untuk mejawab keresahan generasi z terkait isu kesehatan mental, dan ini adalah pesan gue untuk kalian generasi Z. 



dealing with toxic person


Ternyata, tidak mudah dealing with Toxic person. Bukan cuman diri jadi ngerasa bad mood tapi juga susah banget  ngelepas energi negatif setelah bertemu toxic person apalagi ketemunya gak cuman sebentar dan pake acara nginep. Rasa lelah dan rasa sedih bergelayut mencengkram mood gue berhari-hari hingga sulit berkutik. Dalam hati gue nyesel udah ketemu dia terus ketemuannya lama gitu. 
bertahan dalam kehilangan




Seorang Bapak paruh baya duduk berjongkok sambil menatap kosong seraya menghela nafas. Malam memang mencekam, dingin dan lembab tapi tatapan Bapak lebih dingin dan mencekam dari suasana malam itu.

Saya tahu alasannya, barang dagangan alat dapur tradisional bambu yang dia bawa masih menumpuk di sebelah kanannya. Sontak saya terenyuh dan merasa sedih.

Seketika saya bisa membaca kerisauan dan resah si Bapak paruh baya,

“ Bagaimana saya pulang malam ini? saya tidak membawa uang yang cukup untuk makan keluarga besok”

Saya jadi ingat, betapa mahalnya harga bahan pokok belakangan ini. Jangan tanya soal harga minyak, harga tahu satu bungkus saja mencapai 6 ribu rupiah. Padahal biasanya hanya 3 ribu saja. Jangan tanya soal harga telur yang sudah sebulan ini tidak beranjak dari 30 ribu per kilo, harga tempe potongan kecil saja mencapai 4 ribu rupiah.

Saya hanya membayangkan, mereka yang berpenghasilan dibawah 50 ribu per hari bagaimana bisa bertahan hidup? wajar jika mereka kesusahan dan kehilangan harapan.

Saya jadi ingat Ibu saya, yang selalu menunggu kedatangan saya dan mendoakan kesuksesan saya agar kami sekeluarga mapan. Ibu yang sudah kehilangan banyak hal dalam hidupnya tapi masih mampu bertahan dalam mengalami kehilangan meski saya tahu kini di usia senja nya merasa kelelahan dan kesepian.
Malam itu saya menyadari satu hal, setiap orang bergelut dan berperang dengan kondisi masing - masing. Sama - sama berjuang meski kadang merasa kehilangan harapan hingga terasa mati rasa. 

Bertahan ketika Kehilangan Anak dan Jati Diri


Lalu saya mendapat kabar hari ini akhirnya jasad AA Eril ditemukan. Diantara rasa syukur dan sedih teramat sangat, saya bisa merasakan rasa kehilangan yang cukup berat yang dirasakan oleh Kang Ridwan Kamil. Bagaimana tidak, kesedihan terbesar bagi orang tua adalah ditinggal lebih dulu oleh anak mereka.

Meski hanya sekadar khayalan karena panik saat anak - anak saya bermain entah kemana dan saya sulit menemukan mereka, membayangkan mereka hilang tanpa jejak karena diculik atau terbunuh karena tertabrak mobil dijalan cukup membuat saya menangis sambil berjalan rusuh mencari mereka kesana - kemari. Apalagi Kang Ridwan Kamil yang benar-benar merasakan kehilangan itu. 

Saya gak bisa membayangkan kesedihan dan rasa kehilangan yang dirasakan Kang Ridwan Kamil, hanya bisa mendoakan untuk ketegaran keluarga yang ditinggal dan AA Eril diterima di sisi Allah SWT.

Hal ini membuat saya kembali istighfar karena pernah berfikiran jahat terhadap anak - anak karena depresi yang saya alami yaitu  postpartum depression dimana saya berharap anak-anak saya menghilang begitu saja. Puff hilang, sehingga saya bisa istirahat sebentar saja dan menjadi diri saya sendiri lagi.  

Tapi saya buru - buru istighfar sambil mengusap wajah ketika angan "nakal" itu mulai menggoda iman. Untunglah itu hanya sekedar angan karena over exhausted mengurus Keenan yang masih Batita sementara Kilan masih bayi usia 1 bulan. 

Jangan salah, banyak ibu yang mengalami baby blues merasa kehilangan jati diri nya. Kasus ringannya seperti saya, postpartum depression. Kasus terberatnya menjadi Postnatal Depression seperti banyak kasus dimana ibu bunuh diri bahkan beneran membunuh anak mereka sendiri.

Intinya banyak ibu yang mengalami kehilangan jati diri hingga gak mengenal dirinya sendiri. Seperti diri hilang entah kemana. Saya rasa ini karena proses peralihan peran. Dari yang awalnya single menjadi seorang ibu dengan tanggung jawab besar terhadap hidup seorang manusia. Terlebih mengurus bayi gak ternyata gak semudah itu. Gak semulus di film - film. Nyatanya emang menyita waktu 24 jam 7 hari kita. Wajar kalau jadi merasa gak punya waktu buat diri sendiri dan somehow ngerasa kehilangan jati diri.

Soal ini rumit sih, banyak faktor penyebabnya. Kalau seorang ibu gak kuat - kuat iman dan keyakinan, pikiran bakal nge-blank dan buta akan hal lain. Apalagi kalau gak punya support system atau inner circle yang positif. Untuk kasus saya, untung saya ketemu dunia blog dan masih bisa komunikasi dengan suami. Kasus lain? You know lah, beritanya mengerikan.

Anyway, bicara soal kehilangan memang kompleks. Tapi itulah hidup, soal kehilangan dan menerima apa yang hilang lalu hidup dengan itu. Seperti endless loop. Kita perlu bertahan dalam mengalami kehilangan agar diri tidak sepenuhnya hilang dan terjerembab dalam lembah depresi. 

Saya ingin berbagi tentang kehilangan yang pernah saya alami.


Kehilangan terberat pertama  dalam hidup saya adalah kehilangan sosok orang tua ketika mereka bercerai. Duh artjoka apa gak bosen ngomongin terus perceraian orang tua? yah gak lah marisol.

Kalau dulu saya membicarakan hal ini sembari ramisak dan cirambay ( nangis tersedu - sedu) karena masih trauma, sekarang sih udah 90% biasa aja dan menerima perceraian mereka sebagai bagian dari cerita hidup saya. Ya emang udah gitu aja cerita hidup saya, mau gimana lagi? toh proses penerimaannya sudah saya lalui meski butuh 20 tahun lebih.

Suami saya pernah bilang begini waktu ayah mertua meninggal tahun lalu,

“ Ndaa masih harus bersyukur, ayah masih ada. Aku mah udah gak bisa ketemu Bapak lagi “

Iya sih, tapi beda kasus Pak. Meski raga ayah saya masih ada, tapi sosok ayah udah gak bisa saya rasakan lagi. Saya bahkan lupa bagaimana rasanya punya ayah. Rasa kehilangan sosok ayah lebih berat dari kehilangan ayah karena meninggal. Setidaknya suami punya kenangan manis bersama Bapak dan tidak kehilangan sosok seorang Bapak. Lah saya? usia udah mau 40 tahun masih aja merasakan kehilangan sosok itu.

Perceraian orang tua apalagi proses cerainya banyak drama, udah pasti meninggalkan banyak fase merasa kehilangan berjilid - jilid. Mulai dari kehilangan sosok orang tua, kehilangan pegangan, kehilangan jati diri, kehilangan harapan masa depan hingga keimanan. Truly? sampai kehilangan keimanan? yess fernando.

Saya pernah ada di fase ini sekitar tahun ke empat setelah mereka bercerai. Fase dimana saya kehilangan keyakinan akan hidup, hilang harapan dan marah sampai saya menanggalkan kerudung. Sempat atheis? gak sih, hanya lebih ke marah aja. Kenapa sih Tuhan? kenapa sih harus aku? yaa kayak gitu - gitu deh. 

Lalu sampai kapan saya marah? Gak lama sih, fase depresi terburuk ini saya alami beberapa bulan. Saya lupa kapan tepatnya, yang pasti waktu itu tiba - tiba saya ngerasa capek aja ngerasa marah terus mulai self healing. Dalam proses self healing ini lah saya menyadari bahwa, marah sama Tuhan gak ngaruh sama hidup saya. Dengan marah hidup saya yang terasa pincang dan cacat ini ya bakalan gini-gini aja malah bakal terasa lebih parah dan mati rasa. 

Media self healing saya udah tentu menggambar, menulis, jalan - jalan sendirian, merenung, menatap senja dan curhat dengan sahabat saya. Jadi wahai kalian pecinta senja jaman now, sini sun tangan dulu sama saya yang udah dari tahun 90an jadi pengagum senja sampai sekarang, wehehee.  

Prosesnya self healing ini agak lama, hampir setahun lebih. Self healing ini ditutup dengan bertaubat nasuha dan kembali mengenakankerudung. 

Kalau dipikir-pikir lucu juga sih. Marah sama Tuhan terus capek terus balikan lagi, astaga!! Hehe. Tapi yaaa itu lah proses dalam mengalami kehilangan dan menerimanya jadi bagian hidup yang gak bisa dipisahkan. Udah satu paket dari sonoNya. 
Anyway, enough tentang orang tua saya, kasus closed 🤭. Next kehilangan kedua, kehilangan impian jadi arsitek lanskap. Iihh ini basi banget ya. Cerita yang sama di ulang lagi!! Wkwkwk. Tapi emang ini jadi reminder aja sih, meski kehilangan cita - cita karena ini dan itu ya gak jadi sia - sia. Karena masih bisa menjalani impian lain dan bisa dikatakan berhasil lah di impian lain itu. Jadi blogger dan ilustrator dong tentu nyah 😂

Ini bagian sedihnya mana sih? Ya sedih lahh Pak - Bu, mo  gak sedih gimana coba,  kuliah tinggal satu kali sidang aja  dan lagi semangat menyongsong karir masa depan menjadi arsitek lanskap. Tapi karena  tersandung soal finansial setelah melahirkan Keenan yang " istimewa"…. Hilang tuh harapan jadi arsitek lanskap. Ini sedih banget buat saya. But life must go on bukan? Saya tetap bertahan dalam mengalami kehilangan menggapai impian sambil tetep ngejalanin hobi menulis dan menggambar. Biar gak stress amat, hehe. eh kan malah jadi profesi tetap sekarang, ahiiww. 

Next, kehilangan ketiga yaitu saat tubuh saya harus kehilangan kantung empedu tahun lalu. Wah ini sih bener - bener kehilangan yang selama prosesnya bikin saya pasrah aja sama urusan kematian. Jadi ingat dulu saya pernah hampir atheis karena marah sama Tuhan terus gak takut mati bahkan pengennya mati aja. Eh dikasih beneran sama Tuhan fase mendekati kematian malah jadi takut.
Karena situasinya beda kawan. Kalau dulu saya belum punya suami yang handai taulan, juga belum punya anak - anak se- cute Keenan dan Kilan, dulu saya nothing to lose. Mati ya mati aja, gak rugi.

Sekarang pikirannya udah macem - macem. Kalau saya mati suami saya gimana? Anak - anak siapa yang ngurus? Gimana masa depan mereka? Kalau saya mati nanti gimana? Takut azab kubur dan takut masuk neraka!!

Agak lucu tapi it really happen. Rasa takut akan kehilangan hidup ternyata saya alami juga. Apalagi proses kesembuhan saya panjang sampai hampir 4 tahun. Sebelum operasi mencoba berobat kesana kemari. Mulai dari pengobatan tradisional sederhana sampai yang ghaib hingga akhirnya ya emang harus operasi. Itu udah jawaban final gak bisa diganggu gugat.

Selama proses itulah saya merasa kehilangan harapan sampai mati rasa tapi harus bertahan. Karena apa? Karena saya mikir saya punya suami dan anak. Mereka penyelamat saya dari kehilangan harapan untuk sembuh.

Cape berobat sana sini tapi gak ada hasilnya, ini nih yang bikin saya kehilangan harapan sampai akhirnya ya pasrah aja deh.

Tapi Alhamdulillah, setelah menjalani operasi yang menghabiskan waktu sampai 5 jam, pemulihan di rumah sakit sampai 2 Minggu dan dirumah terbaring gak bisa ngapa-ngapain selama 3 bulan … saya sembuh. Meski sekarang saya hidup dengan kehilangan kantung empedu dan dikasih kenang - kenangan tanda bekas jahitan vertikal dari pusat hingga dada. Pada akhirnya saya bisa melewati itu.
And again, ini karena saya tetap bertahan dalam mengalami kehilangan. 

Boleh Istirahat, berhenti sejenak lalu Bangkit 


Dari cerita yang berawal dengan kisah Bapak paruh baya, kematian Kang Eril dan fase kehilangan banyak hal yang saya alami dari hidup saya, kita bisa ditarik kesimpulan bahwa ini artikel random ya, hehe. Diajak serius di awal terus terkekeh kekeh di akhir.

Ini pertanda bahwa seserius-nya menanggapi sulitnya hidup dan menerima banyak kehilangan, selalu ada hal yang bisa kita syukuri dan tertawai.

Sesekali menengok masa lalu dan merasakan fase kehilangan untuk bersimpati dan empati terhadap sesama. Bukan hanya itu, juga sebagai pengingat betapa hebatnya diri mampu melewati semua rasa kehilangan itu lalu sekarang dengan bangga berdiri tegak dan hidup tanpa beban emosi.

Pada akhirnya, meski sempat kehilangan harapan bertubi - tubi sampai mati rasa saya tetap bertahan. Karena satu keyakinan, dunia ini emang cuman kayak gini aja. Emang tempat buat merasakan banyak kehilangan.

Kalau mampu bertahan dengan output yang positif dalam artian menjadi pribadi yang lebih kuat dan gak jadi musyrik, Allah pasti kasih balasan yang setimpal baik di sini sekarang atau di akhirat kelak.  Walau saya emang pernah ada di fase meragukan keberadaan Allah karena amarah dan kecewa. Tapi saya rasa itu hal  yang wajar. Alhamdulillah nya saya masih dikasih hidayah untuk bertaubat dan gak meragukan Allah SWT lagi. Malah bersyukur karena pernah ada di fase itu sehingga bisa merengkuh keimanan lebih dalam. 

Rasanya semua kehilangan yang saya alami gak sebanding dengan kemungkinan apa yang bakal saya peroleh di akhirat kelak. Pede amat ya? Wkwkwk. Boleh dong pede 🤭 biar semangat menjalani hidup yang lebih positif dan ibadahnya lebih di kencengin lagi. Sekarang itu hal yang saya yakini. 

Terdengar klise dan toxic positivity ya? hehe,  Memang iya sih. Ini kan ceritanya karena sudah melewati proses mengalami kehilangan. 

Untuk kamu yang sedang mengalami kehilangan. Boleh banget atuh istirahat dan berhenti sejenak. Boleh banget marah sama situasi dan mulai menyalahkan teman, ehhh, hehehe.  Luapkan emosi dan keluarkan emosi sampai ke dasarnya. Lakukan hal yang membuat nyaman dan bisa meredam sedih juga stress. Intinya gak apa-apa untuk marah dan menjauh, lalu diam and doing nothing! Tapi setelah itu bangkitlah kawan!! 

Caranya? ngalir aja sih. Kalau emosi negatifnya udah kelar dan kita udah lebih tenang, kita mulai bisa terbuka sama orang terdekat untuk curhat biar lebih plong. 

Saya sih kayak gitu, saya luapkan semua emosi sampai ke dasar. prosesnya bisa berminggu-minggu singkatnya bisa hanya sehari-dua hari. Tapi setelah itu dengan hentakan jari saya bisa langsung bangkit. Karena emosinya udah terkuras habis, yang tersisa adalah lelah dan capek. Kalau udah gini akhirnya saya bisa melihat rasa sedih sebagai penerimaan dan menjadi pijakan energi untuk bangkit. 

Satu hal lain yang saya pahami, 

Kehilangan juga tidak sepenuhnya merugikan kok. Kehilangan bisa menjadi bagian dari proses bertumbuh. Tumbuh menjadi apa? Tanaman rambat? Tentu! Tanaman rambat yang tumbuh lebat, menghasilkan daun hijau mengkilap dengan bunga yang indah seakan menyambut mentari pagi dan menghasilkan buah yang ranum. 

Kita juga seperti itu. Jika saya tidak merasakan kehilangan bertubi - tubi, saya tidak akan menjadi pribadi yang cukup kuat dan tangguh dalam menghadapi ujian demi ujian dan masalah yang akan menghadang esok hari. Saya akan menjadi pribadi yang cengeng dan dikit dikit ngeluh Luh lah dan gak bisa menikmati hidup seperti sekarang. 

Merasakan kehilangan, entah itu harapan atau orang terkasih hingga membuat mati rasa, bertahanlah. Meski kini merasa sesak dengan himpitan keuangan seperti Bapak paruh baya, bertahanlah. Kehilangan anak yang disayangi teramat sangat seperti Kang Ridwan Kamil, bertahanlah. Kehilangan jati diri, harapan hidup, masa depan, kasih sayang dan cinta seperti saya? yaaa bertahanlah!!
Yakinlah harapan itu akan selalu ada, yakinlah akan adanya bantuan dari Allah dengan caraNya yang ajaib yang kita gak bakalan nyangka. Meski proses yang dilaluinya pasti gak mudah, panjang dan terasa sakit. 

Bertahanlah dalam mengalami kehilangan, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga mereka yang selama ini peduli terhadapmu. Tumbuh dan berkembang melalui tahap kehilangan agar menjadi ibu, ayah, kakak, adik dan teman yang kuat dan tangguh untuk mereka yang kita sayangi. 
Sekian.
" Tulisan ini dibuat untuk Minggu tema HILANG komunitas 1m1c"

slow living jadi rsolusi tahun 2022 ku



Gaya Hidup Slow Living dan Pembukaan Tahun Baru 2022. Udah penghujung tahun nih, udah pasti rempong bikin resolusi dan segala macam. Termasuk saya. Tahun 2002 tentu saya bikin resolusi juga dong.

Tapi tahun 2022 saya gak bikin resolusi yang njelimet atau terkesan kudu terwujud. Saya malah menyebutnya wish list dibanding resolusi. Mengapa?
tips menjadi bijak dan dewasa


Menjadi Dewasa, Haruskah? telah menjadi pertanyaan yang ingin kujawab berbulan-bulan lamanya. Lantas apa jawabannya? tulisan ini jawabannya. Tulisan ini adalah sepenggal cerita perjalanan menemukan makna dibalik kata menjadi dewasa dan bijaksana yang diawali dengan curhat. Yess, like always.





Akhir - akhir ini saya banyak pesimis, sedih dan cemas. Sakit menjadi salah satu alasan utamanya, ditambah terlalu banyak googling dan scroll sosmed. Dua hal ini ibarat koin dengan dua sisi, satu sisi baik tapi disisi lain berakibat buruk untuk kesehatan mental terutama bagi yang sedang sakit.

Siapapun yang berada dalam kondisi sakit dalam waktu cukup lama, apalagi hingga bertahun - tahun pasti akan mengalami mood yang pasang surut. Kadang semangat dan kadang jatuh sejatuhnya hingga merasa seakan tidak melihat satu titik cahaya pun. Saya rasa ini dinamika survival. Tahapan yang pasti dilalui semua hingga akhirnya apa yang diharapkan tercapai. yaitu kesembuhan atau berpulang.

Sakit yang saya derita bisa dibilang usianya baru seumur jagung jika dibanding survival lain yang bertahun - tahun. Sakit diabetes, kanker, TBC, jantung atau yang lainnya. Rasa sakit karena penyakit yang diderita, semangat yang harus selalu dipupuk dan lain sebagainya menjadi irama kehidupan kami para survival kesembuhan selalu kami alami, setiap hari. Pesimis, harus dilawan. Sungguh perjuangan lain yang harus dilalui.

Kambuh Lagi, Kena Lagi

Dua minggu sudah saya mengalami gejala batu empedu dengan indikasi cukup berat. Setelah keluar dari UGD pulang membawa hasil tes darah dan urine yang menunjukan positif mengidap batu empedu, membuat mental saya jatuh.

“Kena lagi?”

Begitu pikir saya. Tapi tidak aneh sih, pola hidup saya sebelum april sangat tidak sehat dan kotor mengakibatkan batu empedu muncul lagi. Begadang, kopi, kurang tidur, kurang minum, makan terlalu banyak dan tidak terkontrol. Ini hukuman bagi saya karena terlalu berlebihan mengejar passion dan ambisi. Dan sekarang saatnya saya membayar dosa- dosa saya.

Tapi hukuman ini terasa sangat berat. Terutama pada seminggu lalu dimana saya menemukan urine saya berbusa dan coklat, BAB putih seperti dempul dan seluruh badan saya hingga mata menguning. Saya cemas, saya merasa dekat dengan kematian. Entah apa yang sedang terjadi dalam tubuh saya, kanker pankreas? bocor batu empedu? batu empedu menghambat jalan menuju usus? apapun bisa terjadi. Rasa cemas dan pesimis ini saya rasakan cukup berat.

Yang lebih berat adalah, saldo kami nol rupiah dan aktivasi BPJS terhalang tutupnya kantor BPJS karena PPKM.

Kunjungan ke poli bedah dan USG pun tak bisa dilakukan. Saya selalu berdo’a, semoga dilancarkan semua proses penyembuhan dan pengobatan, entah itu ke dokter atau alternatif dalam sujud tahajud istikharah.

Pengobatan alternatif menjadi jalan berobat saya sekarang. Meski ragu, tapi inilah jalan ikhtiar yang bisa saya lakukan saat ini. Hasilnya memang tidak instan, butuh proses. Lipoma saya aja baru bisa kempes setelah sebulan lebih. Tapi Kempes dan sembuh. Itu saja yang saya yakini mengapa memilih berobat alternatif. Lipoma aja bisa kempes, insya allah lah yang didalam juga bisa sembuh. Sabar aja.

Afirmasi positif saya lakukan setiap hari. Melihat anak - anak, memeluk mereka, menonton film dengan tokoh super woman, dengerin kpop, joget, nyanyi, chat sahabat, dengerin murotal sebelum tidur, peluk pasangan hingga memelihara kucing baru.

Apakah saya bisa optimis setiap hari? oh no!

Yang terberat adalah kemarin, ketika saya scroll media dan mendapati kabar salah satu teman blogger meninggal setelah survive dari covid dan terkena gagal ginjal. Seketika pertahanan optimis saya runtuh. Saya merasakan pesimis dan cemas yang teramat sangat, Saya TAKUT.

Pasalnya, saya adalah penyintas covid juga. Saya takut si covid ini “kenalan” dengan batu empedu saya dan bikin si batu empedu ke trigger kambuh. Seketika saya takut sakit saya ini parah sampai harus masuk rumah sakit, dirawat dan meninggal.

Sedih saya memuncak ketika BW ke blog almarhum dan membaca cerita perjalanan almarhum menghadapi sakitnya. Saya gak kuat baca lebih lanjut dan disudahi di pertengahan. Saya menangis sejadi - jadinya, di kamar mandi.

Rasanya saya pesimis dan tak punya harapan lagi. Apa yang harus saya lakukan dengan hidup saya kini? beban sakit tak berkesudahan sejak april? gak bisa ngeblog lagi, kerja lagi seperti dulu dan Passion apa yang harus saya kejar agar hidup saya semangat lagi?

Saya bisa merasakan sakit yang almarhumah rasakan. Menahan sakit batu empedu selama lima hari aja udah cukup bikin saya seperti orang gila, dan bahkan dalam keadaan menahan sakit pun saya masih bisa kerja karena tuntutan profesionalisme dan tanggung jawab. Gila gak tuh? ambisi itu? oh No! bukan ambisi. tapi tanggung jawab.

Saya juga merasakan sulitnya mengendalikan pesimis dan cemas. Pesimis dilawan setiap hari lewat afirmasi dan bla - bla - bla. Kadang berhasil kadang tidak.

Lalu akhirnya perjuangan berakhir dengan kematian. Tampak sia- sia! Tapi kematian, siapa yang bisa melawan? itu takdir dan kehendak Allah. Semoga dengan sakit yang dirasakan segitu hebatnya, mengendalikan pesimis dan berusaha untuk tetap sabar dan ikhlas menjadi penggugur dosa menghadapi alam barzah.

Kematian,

Saya tidak takut akan kematian tapi takut menghadapi hidup setelah kematian. Apa yang akan saya alami? saya banyak dosa, teramat banyak sehingga saya takut menghadapi siksa kubur. Saya sudah mengalami banyak hal yang buruk ketika hidup didunia, masa di alam barzah juga harus menderita? saya gak mau.

Lucunya, saat saya masih bergelut dengan drama keluarga ketika masih SMA saya hampir melakukan tindakan meregang nyawa dan gagal. Dan sekarang malah takut menghadapi kematian. Ironis bukan?

Ritual Atasi Pesimis

Rasa cemas dan takut ternyata membuat saya sakit lagi. Perut terasa begah dan sakit di punggung gak hilang - hilang. Stress dan cemas nampaknya memicu saya kambuh lagi.

Akhirnya saya jadi pesimis, bisa sembuh gak sih hanya dengan berobat alternatif? gimana nih? badan masih kuning aja, mata apalagi. Urine masih coklat. Tapi saya lapar terus! kan aneh.

Yah, harus sabar. Karena sekarang saya tak punya pilihan berobat lainnya. Ke dokter butuh biaya yang besar dan saya gak bermaksud open donation atau semacamnya. Saya gak mau.

Saya ikhtiar ke alternatif saja. Dan semoga Allah ridha dengan jalan ini.

Akhirnya, rasa takut yang saya alami, akhirnya harus saya lawan. Caranya? slow living!

Thank to kak Novya yang menulis tentang manfaat slow living untuk hidup lebih bahagia. Akhirnya saya mencoba untuk enjoy dan masa bodo dengan apa yang saya hadapi setiap hari demi kesembuhan saya. Saya gak boleh stress dan try to be happy.

Rumah berantakan? biarin aja, ntar lagi diberesinnya,
Mau rebahan dari pagi sampai siang? rebahan aja,
Anak - anak berantem? selonjoran deh sambil makan semangka, habis itu baru deketin mereka tanpa amarah.

Banyak - banyak memeluk anak - anak dan tertawa dengan mereka, hadir dengan mereka. Menemani PJJ dengan hati yang tenang.

Lawan pesimis dengan, TAWAKAL dan IKHTIAR.

Hanya itu yang bisa dilakukan. Apapun yang Allah SWT berikan saat ini adalah yang terbaik menurutNYA. Meski ibadah dirasa paket minimalis dan dosa paket maximal, tapi saya harus yakin kalau lautan maaf Allah lebih luas dari dosa - dosa kita.

Allah mungkin rindu keluhan dan air mata dalam sujud, suara kita membaca ayat-ayatNYA, rintihan doa serta hidup dalam ketenangan dan bukan dalam kecepatan membabi buta mengejar passion dan ambisi. Allah mungkin ingin saya berhenti, menikmati dunia dan hidup untuk saat ini. Slow Living.

Berbaik sangka aja sama Allah. Berprasangka buruk aja udah jadi bagian dosa kan? daripada nambah dosa, lebih baik pasrahkan semua kepada Allah dan tetap ikhtiar. meski harus mengalami roller coaster semangat dan mood setiap hari, yah jalani. Meski harus melewati rasa sakit lagi dengan segala drama nya. Yah, jalani aja. Dengan mencoba menerima keadaan dan yakin kalau ini salah satu bentuk kasih sayang Allah SWT.

Meski segala upaya sudah dilakukan dan hasilnya adalah, kematian. Ya sudah. End of Story. Perjalanan saya sampai disana. Sekarang tugas saya hanya, bertaubat, tetap menjalani pengobatan, banyak beribadah dan berbuat baik, sabar, ikhlas, banyak habiskan waktu dengan keluarga dan slow living. Too perfect ya, tapi gak ada pilihan lain kan? mau ngamuk - ngamuk dan protes sama Allah juga gak bisa ( dan bgak boleh ) kan? hehehe

Yo wis, jalani!!

Masih terdengar pesimis seakan menunggu kematian? bukankah setiap dari kita menunggu kematian? entah karena sakit, kecelakaan atau hal lain. Hanya tidak depan mata banget sih, beda dengan sakit. Jadi ya siap - siap aja.

Pemikiran begitu malah membuat saya semangat dan bisa melawan pesimis. Saya harus sembuh, agar saya bisa beribadah lebih banyak lagi. Semoga kesempatan itu Allah berikan kepada saya lewat kesembuhan.


Oleh sebab itu, lewat tulisan ini saya ingin meminta maaf yang sebesar - besarnya kepada semua teman - teman yang kenal atau tidak dengan saya. Mohon maaf segala ucapan, tindakan dan tulisan yang kurang berkenan dan menorehkan rasa tidak suka, kecewa hingga benci atau ilfil.

Stay safe, healthy and happy yaa teman - teman.


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذَ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ومن عذاب النار، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا الْمَمَاتِ وَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, azab neraka, cobaan hidup dan mati, dan fitnah Dajjal yang terhapus dari rahmat Allah.” (Sadam Al-Ghifari/ Nashih)

Bahagia itu absurd


Bahagia itu absurd. Itu sih pendapatku, kenapa? Sebelum aku jawab aku pengen kalian baca beberapa statement dibawah ini,

" Bahagia banget anak - anak Soleh dan rewel "
" Duh bahagia banget di kasih kiriman nih "
"Duh bahagia banget menang lomba"
"Bahagia itu sederhana, makan dengan keluarga"
"Bahagia deh ketemu temen lama"
" Berbagi dengan sesama adalah suatu kebahagian "
"Happy banget gue, film Marvel yang baru udah keluar"
" Duh, makasih ya udah bikin aku happy dengan cerita konyol kamu. Aku udah gak sedih lagi "
" I'm so happy menikmati senja sore ini "
" This travel make me happy "




Akhirnya Ketemu Siska adalah episode yang paling aku tunggu. Siapa sih Siska? segitu preciousnya kah seorang Siska sampai dibikin satu artikel tentang dia? hehehe

Siska adalah Sahabatku, bukan satu-satunya sahabat yang aku punya tapi Siska adalah salah satu sahabat yang udah tau luar dalem sampai batas gak ada lagi sungkan atau takut tersinggung malah cenderung nyablak.

Mau marah, mau kesel mau protes sekalipun udah gak ada lagi pake baper. Meski begitu tetep jaga hati dan perasaan masing - masing. Lucunya kalau mau marah kita selalu pake judul sebelum marah, “ Aku mau marah nih “ atau “ aku mau protes nih “ atau “ aku kesel nih sama kamu “

Tapi ini jarang sih. Entah kapan kita terakhir bertengkar, kayaknya udah gak pernah deh. Kebanyakan ya ngalir aja semuanya di tiap komunikasi kita.

Persahabatan kita bahkan udah sampai tahap gak ngomong aja kita udah tau cara berfikir dan apa yang ada di kepala masing-masing. Bisa dibilang kita saling membutuhkan satu sama lain bahkan sampai berdo’a bersama semoga di akhirat nanti bisa ketemu lagi. Istilah keren nya sih sister till jannah, hehehe. Aamiin Ya Rabb.

Karena sekarang aku sudah berumah tangga dan Siska sibuk dengan kerjaan dia, kita tuh jadi susah banget ketemu. Terakhir ketemu tuh Januari 2021 dan baru bisa ketemu lagi kemarin hari minggu. Makanya sekalinya ketemu duuhh surga banget, soalnya sekalian Me Time, hahaha. Ketemu siska ibarat isi batre semangat, pikiran dan iman. Iya sih kita hampir tiap hari whatsapan dan curhat atau sekedar chat random tapi kalau ketemu kan beda vibe-nya.


Ritual Piknik di Telaga Hikmah

Kemarin tuh kita pengen ketemunya sambil makan siang. Jadilah kita setuju makan di Basecamp Resto Ujungberung. Tapi begitu masuk, kita malah enggan karena terlalu ramai dan memilih ritual piknik seperti biasa.

Sejak tahun kemarin Tanrise selalu jadi tempat ritual piknik kami. Selain banyak pohon, view gunung manglayang, suasana hening dan sepi jadi alasan kami memilih Tanrise sebagai tempat piknik kami. Piknik sederhana sih, berbekal beli jajanan ke Borma aja.





Tanrise seperti mengingatkan masa - masa kuliah kami dulu yang sering duduk dibawah pohon rindang di kampus sambil ngobrol ini itu sambil nunggu jam kuliah. Jadi begitu aku ajuin Tanrise sebagai tempat piknik, dia langsung oke.

Siska bilang yang utama bukan dimana kita makan, tapi dengan siapa kita makan. jadi mau dimanapun gak masalah, selama sama aku! wkwkwkwk

Curhat dan Telaga Hikmah

Karena jatah waktuku cuman 3 jam buat diluar, jadi obrolan sih biasanya dibagi dua sesi. Biasanya sih satu jam pertama penuh dengan obrolan curhat yang sebetulnya udah di curhatin di whatsapp tapi diceritain lagi, biar afdol! wkwkwk. Terus saling respon gitu. Nah yang seru adalah di dua jam terakhir. Kita diskusi soal hidup. Berat gak sih? hehe


Udah jadi kebiasaan sih tiap kita curhat satu sama lain terus ngomongin solusinya. Atau tiba-tiba aku tanya hal yang gak masuk akal tapi benar adanya. Misal nih, kemarin aku tanya gini ke Siska,

“ Sis, logika nya nih ya. Hari penghitungan amal dan dihisab kan nanti di akhirat. Manusia kelihatan amalan - amalannya di hari itu terus keputusan dapat siksaan atau syurga juga di hari itu. Tapi, kenapa sih mesti ada siksa kubur? “ tanyaku,

“ Aku udah tanya sama Yadi soal ini, jawabannya kurang memuaskan euy. aku mau tanya sama Habib tapi gak tau kapan bisa ngaji lagi “ Lanjutku sementara Siska manggut- manggut sambil senyum dikulum gitu,

Pertanyaan ini sebetulnya aku udah tau jawabannya, ilmunya juga udah tau sejak ikut pengajian rutin pertama kali jaman STM. Tapi yang namanya ilmu kan kadang harus di refresh biar kita ingat lagi. betul kan?

Soal keyakinan juga kan Kadang yakin, kadang tidak. Termasuk soal siksa kubur. Terkadang logika menari - nari di alam bawah sadar sebagai bentuk denial. Paham gak sih? mungkin bukan denial sih, lebih ke rasa takut aja. Mengingat kemarin Bapak Mertua baru meninggal tetiba kepikiran siksa kubur. Emang beneran ada ya? bukan cuman ada di hadits dan Al-Qur’an aja? bukan sekedar kisah menakutkan aja? terus logika aku gimana soal hari penghisaban?

Terus Siska Jawab,

“ Soal ilmu hadits dan Al-Qur’an nya sih harus tanya Habib. Biar lebih valid. Nih Siska main logika juga yaa. Perkara siksa kubur benar ada atau tidaknya masih harus dipelajari tapi kalaupun ada toh gak rugi kan? siksa kubur jadi peringatan buat kita yang masih hidup buat beribadah lebih banyak lagi, lebih waspada. Walaupun ternyata nanti tidak ada, yaah gak apa-apa toh ibadah utamanya kan ke Allah aja. Kalau ada siksa kubur kita udah siap-siap, kalau gak ada ya biar ibadah kita semoga jadi tali sambung dan penyelamatan di hari penghisaban “ jelas Siska,

“ Intinya sih, mau ada siksa kubur atau gak kalau kitanya udah Ikhsan mah gak akan mikirin soal siksa kubur. Mikirnya gimana nanti ketemu Allah? pantas gak yah? layak gak yah? jangan mikir siksaannya dulu. Pasti eka ngebayangin sakitnya ya? hehehe “ Jawabnya sambil bercanda

“ Iyaaa, aku sakit kemarin tuh kaya tiba-tiba takut mati aja sis. rasanya udah kaya di gerbang neraka. Apalagi kalau emang beneran ada siksa kubur. Gak tau deh, mana ibadah aku yaa masih gini - gini aja. “ jawabku lesu

“ Jangan takut, masih ada kesempatan dan masih banyak kesempatan. Eka sakit terus diingatkan Allah akan kematian itu hidayah lho, sakitnya membawa hikmah “ jawab Siska,

“ Iya Sis, aku tuh kepikiran terus kemarin waktu Bapak meninggal “ lanjutku

“ Emang kenapa? Eka ngeliat banget ya? di depan mata banget ya? “ tanya Siska penasaran

“ Iya Sis, di depan mata banget. Bukan soal sedih karena ditinggal Bapak, tapi lihat proses kematian Bapak yang lancar dan gak keliatan sakit sama sekali “ jawabku

“ Kaya gimana prosesnya? jam berapa Bapak meninggal ? “ tanya Siska

“ Jadi, abis solat magrib kan biasa tuh Bapak suka dzikir , wirid, baca sholawat dan banyak banget deh amalan lainnya bareng Mamah Mertua. Terus mamah ijin dulu mau makan terus istirahat bentar. Bapak masih keliatan dzikir sambil duduk bersandar ke tembok pake bantal, masih pegang tasbih sambil merem melek saking khusyuknya. sekitar jam tujuh sebelum Isya, tiba-tiba mamah teriak. Aku langsung ke rumah Mamah dan tanya kenapa. Bentar aku haus, minum dulu ya, hehe “

“ Terus, aku ngeliat Bapak kelihatan tersungkur di kasur, posisinya kaya jatuh dari duduk gitu. Aku langsung pegang kaki nya, dingin banget. Aku tanya Bapak tapi gak jawab, Yadi juga sama. “ lanjutku,

“ Akhirnya Yadi, aku , juga Mamah tuntun Bapak baca syahadat, kalimat thoyyibah dan sholawat. Aku masih bisa liat Bapak ngikutin semua bacaan sampai terakhir solawat, abis itu bibirnya gak gerak lagi. Bibirnya langsung biru dan kaku. Sambil nangis Yadi tutup mata Bapak dan, Innalillahi wainna ilaihi rojiun “ jelasku,

Sambil membayangkan hari kematian Bapak aku merenung dan kembali bertanya,

“ Kematian Bapak yang mudah dan gak keliatan sakit aku jadi kepikiran mati ku nanti gimana ya? “

“ Bapak itu taat banget ibadahnya, rajin ke Habib, gak pernah lepas. Baik banget sama semua orang walau kadang keras soal agama termasuk ke aku dan Yadi. Cerewet dan sering ngasih ceramah soal sholat, sholawat, shodaqoh. Tapi Bapak konsisten sama keyakinan. “ lanjutku,

“ Aku jadi yakin sama pilihan jalanku sekarang yang awalnya ragu karena berbenturan dengan banyak logika. Masih harus digali sih ilmunya. Walau sekarang susah ke Habib, Yadi selalu ceritain lagi dapet apa di pengajian Habib setiap minggu. Jadi aku gak ketinggalan. Kalau ada yang aku gak paham Yadi selalu bisa jawab sih karena ilmunya kan dia lebih tahu dibanding aku. tapi kadang rasa penasaranku lebih banyak dan akhirnya kaya gini, harus diuraikan, hehehe “ kataku sangat yakin,

“ Aku malah jadi kepikir, Ya Allah merinding liat kematian yang indah begitu. Rasanya jadi kaya, waaah walau merasa gak pantas meminta tapi….Ya Allah semoga matiku nanti khusnul Khotimah. yang ada di pikiran dan rasa soal akhirnya bisa ketemu Allah, bukan takut siksa kubur atau api neraka. betul gak sis? “ lanjutku sambil agak berlinang air mata dan kulihat siska juga sama

“ Iya eka, betul banget. Takut api neraka tentu harus sebagai cambuk pengingat, tapi yang utama ya rasa malu berhadapan sama Allah nanti “

Dan aku mengiyakan sambil mengusap sedikit air mata yang menggantung di sudut mata.

Begitulah percakapan diantara kami kalau ketemu. Lebih kepada telaga hikmah sih menurutku. Piknik di telaga hikmah, hehehe


Siska selalu tau kalau aku nih tipe denial, gak yakin dan main logika soal pemahaman agama. Tapi Siska selalu tau harus menjawab apa biar rasa penasaran tak berujung ini tuntas. Bukan jawaban pelik dengan rentetan hadits tapi hal yang paling menyentuh qolbu.

Setelah itu kita lanjut ngomongin soal tingkatan keimanan yaitu muslim, mukmin dan ihsan. Wah dua jam aja gak cukup sampai akhirnya adzan Ashar berkumandang and it's time for me to go home, hiks sedih banget harus udahan.

Teman Di Segala Proses

Persahabatan kami sudah berjalan 20 tahun lamanya. Bukan waktu yang sebentar dan sudah melewati banyak proses.

Soal ngambek, miskomunikasi, salah persepsi, salah ngomong, kesel sama kebiasaan jelek masing - masing, sebel sama respon yang gak sesuai ekspektasi sampai berantem saling mempertahankan prinsip masing - masing.

Secara teori sih persahabatan kami udah sampai level intimate friend dimana kami sudah terkoneksi jiwanya (connected soul to soul).

Secara teori, Inilah level tertinggi dari persahabatan, dimana sudah gak perlu malu atau takut ngungkapin hal yang rahasia sekalipun. Bahkan dengan membaca bahasa tubuh aja bisa langsung mengerti apa yang dirasain atau pikirkan.

Diantara semua yang aku punya dalam hidup, aku bersyukur Allah ngasih aku Siska. Walau kami sempat lost contact setahun tapi Allah mempertemukan kami lagi.

Siska ada setiap proses memahami, mengerti dan memaklumi semua masalah pribadi terutama yang terkait keluarga. Mungkin karena kami punya luka pengasuhan yang sama meski beda bentuk, tapi apa yang kami rasakan sama. Jadi ya lebih mudah memahami perasaan dan kebutuhan masing - masing.

Kalau dipikir - pikir sih, kayaknya Siska lebih tau aku luar dalam dibanding Yadi si Pak Suami deh, wkwkwk. Ya iyalah, usia pernikahan kami aja baru 10 tahun. Baru setengah perjalanan dari usia sahabatan aku sama Siska! Hehe

Sekarang sih kalau ketemu kami bisa sama - sama bangga pada diri sendiri karena udah keluar dari "kubangan" dan trauma luka pengasuhan, udah sama - sama Nerima dan membiarkan semua berlalu. Yang paling utama, masalah yang sama - sama kami hadapi menghantarkan kami pada Allah semata.

Apa Kabar Sahabat Kalian?

Rasanya too much kah atau lebay atau apa sih yang gini aja sampai ditulis jadi satu artikel? mungkin iya. Tapi buat aku pribadi sih tulisan ini sebagai pengingat sebagai pengingat bahwa, betapa Maha PemurahNya Allah ngasih aku sahabat selama 20 tahun terakhir ini dan sebagai rasa syukur. Mengingat moment bersama sahabat bisa jadi pelipur lara saat merasa sendiri atau gak bis handle banyak hal. Jadi bikin ngerasa, I'm not alone.

Juga sebagai pengingat betapa berharganya keberadaan seorang sahabat. Apalagi sahabat yang selalu support, kasih masukan, semangat dan pencerahan dalam hal apapun. Jangan di sia-sia kan dan ditinggal begitu saja hanya karena ada konflik soal ego atau salah paham. Yess, every fight need time to heal, tapi jangan lama-lama sebelum si sahabat terlanjur males dan gak minat lagi dengan kita. Yang tersisa adalah penyesalan.

Memiliki sahabat udah pasti jadi anugerah tersendiri ya, yuk sapa sahabat teman - teman hari ini. Yang kangen ayo buruan WhatsApp atau video call.

Eh share dong cerita teman - teman dengan sahabatan di kolom komentar, aku juga pengen tau style sobatan temen - teman kaya gimana, pasti seruuu 😍








jalan ninjaku menjadi seniman


Menjadi Seniman Adalah Jalan Ninjaku. Waktu pertama kali membaca cuitan “ Ini Jalan ninjaku ” berseliweran di twitter, saya gak begitu “ngeh” atau paham. Saya pikir cuitan jalan ninjaku artinya ya memang jalan menjadi ninja.

kita punya bakat gak sih? punya dong
WEIRD GENIUS, Credir pic from their instagram account



Kita semua memiliki bakat, benarkan? Adalah pertanyaan yang bergelayut dipikiran saya beberapa hari ini. Di sela menunggu jam buka puasa sambil menggoreng kulit ayam crispy pesanan Pak Suami, saya putar beberapa lagu melalui youtube. 

 

panik gak panik gak paniklah masa enggak






Panik gak?
Panik gak?
Panik lah!! Masa enggak.

❤️❤️❤️

ilustrasi gambar kamu kena prank



Begin With The end, Terobosan membuat resolusi yang unik. Seunik apa sih? seunik aku yang sebelumnya gak pernah bikin resolusi? eh ini keunikan bukan sih? atau males? hahaha.

Evaluasi Tahun 2020

Walau saya termasuk yang males bikin resolusi karena seringnya gagal mulu, tahun ini saya bikin lho resolusi. Tapi telat, bukan di akhir tahun 2019 melainkan di pertengahan bulan Februari. Kenapa kok telat? Karena waktu itu emang gak ada target sih dan gak ada hal yang ingin dicapai juga. Semua saya biarin ngalir aja. Tapi setelah mulai ngeblog lagi dengan semangat berapi-api, mulai tuh bikin plan pengen ini dan itu lalu bikin beberapa poin yang ingin dicapai.

Saya pernah baca tuh berapa persenkah keberhasilan suatu resolusi yang telah direncanakan? katanya sekitar 80%. Saya lupa nama bukunya apa, tapi itu lah intinya. jadi kalau kita bikin 10 perencanaan, maka 8 perencanaan biasanya akan terealisasi. Benarkah? Coba kita cek.

Tahun ini saya bikin target menulis sederhana, seperti ini :
  1. DA Blog naik
  2. Menghasilkan karya menulis ( cerpen/novel/buku)
  3. Adsense Blog Approve
Sedikit amat ya targetnya, masa cuman tiga? wkwkwk. ya karena memang saat itu gak banyak keinginan sih, karena fokusnya ke menulis. Tapi kok ada keinginan DA naik? berarti kan berharap dapet job blog juga, yeee kaaann?? hahahaha

Lalu, berapa persen sih dari semua target ini tercapai? alhamdulillah 100%. Ini diluar ekspektasi sih sebetulnya. ngebayangin bisa menghasilkan satu karya buku antologi aja tuh kayanya pekerjaan langit banget. Gak mungkin! secara gitu skill menulis ya segitu - gitu aja. Tapi ternyata semua jalan di mudahkan, eh gak mudah juga sih…. tapi diarahkan olehNya melalui serangkaian peristiwa seperti efek domino.

Maksudnya? 

Jadi, sejak akhir tahun 2019 tuh saya gencar ikutan lomba bikin puisi, cerpen dan giveaway- giveaway yang hadiahnya aduhai bikin ngiler. Tapi sayangnya, setiap periode pengumuman tiba hatiku selalu di bikin patah hati. Apalagi acara giveaway - giveaway tuh, pengen nyoba tapi udah tau hasilnya bakalan kalah tapi tetep aja dicoba karena penasaran dan akhirnya, yah kalah terooosss. 

Ya sudahlah walau hati patah kaya hati para jomblo yang langganan di tolak cintanya, halaaah .. saya tetap jalan terus. Ikutan lomba menulis puisi, cerpen dan ikutan giveaway. Saya bahkan tambah ini ajang ngikutin lombanya, lomba menulis artikel di blog. Yihaaa!! keren kan? udah mirip pemburu lomba, hihihi

Tapi sedihnya sampai di pertengahan tahun 2020, kemenangan tak juga datang padaku. Sampai - sampai masa hiatus dan down menulis berulang hingga 2 kali selama periode itu. Dibilang berat sih gak berat - berat amat, tapi kalah terus selama 7 bulan itu ngenes wahai fernando! kebayang kan berapa hari begadang, ngeluarin duit buat kuota belum termasuk cemilan. Gak sedikit fernando! jadi ya nyesek sih dan feeling down lalu hiatus seminggu sampai sebulan. Tapi emang dasarnya hobi dan suka ya, mau hiatus juga balik lagi, wkwkwk

Bucat bisul! alias pecah bisul! akhirnya lomba menulis artikel bersama Tempo Institute jadi kemenangan perdana saya. Setelah itu disusul lomba menulis guest post di blognya Creameno dan kemudian tulisan saya dibukukan bersama para kontestan yang lain dan voila! menjadi buku antologi pertama saya. 

Tawaran menulis content replacement juga perlahan tapi pasti mulai berdatangan. Hal ini seiring dengan bergabungnya saya dengan komunitas support blogger dan influencer yaitu Indonesian Content Creator. 

Gak mudah lho jadi influencer anak bawang, yang awalnya follower cuman 500 sampai sekarang bisa nyampe 2400 itu perjuangan marisol! thanks to ICC ya, link job dan support bermunculan. Walau, karena hal ini saya sampai bertengkar dengan pasangan, ups! karena saya kesulitan mengatur waktu antara tugas rumah dan ngeblog. Walau akhirnya alhamdulillah banget bisa terselesaikan dengan manis dan komunikasi saya dengan pasangan malah lebih hot, eh…. lebih romantis, hihihi 

Hasil kerja keras, kurang tidur sampai jadi bertengkar dengan pasangan rupanya membuahkan hasil di kuartal 3 dan empat tahun ini. Selain content replacement, job influencer, tawaran membuat ilustrasi juga mulai bermunculan seiring dengan menangnya saya ikutan giveaway Wacom x Aprilia. Ini juga di luar dugaan banget. Sampai saya gak percaya bisa mendapatkan hadiah wacom yang kalo beli kan mikir dua kali. Mending buat keperluan anak dulu dibanding beli wacom, hehehe. 

Satu lagi bonus untuk saya di penghujung tahun, yaitu tawaran membuat antologi parenting yang diadakan komunitas 1 minggu 1 cerita. Ini udah surga banget deh pokoknya. Alhamdulillah. 

Sambil terus memperbaiki tulisan dan template, saya mengajukan kembali adsense setelah sebelumnya berkali - kali ditolak. Alhamdulillah di awal bulan Desember ini adsense saya di approve. Seneng banget rasanya. 

Lalu dimana letak efek dominonya kak? 

Ada di : usaha - gagal - usaha lagi - gabung komunitas - usaha lagi - gagal lagi - hiatus - usaha lagi - gagal lagi - mau nyerah - berhasil.

Itu proses efek dominonya. 

Jadi di setengah tahun pertama ini adalah waktu bagi saya merintis usaha dan secara tidak langsung melakukan segala upaya dalam mewujudkan target saya itu. Setengah tahun pertama saya banyak nangis, beneran lho! ini karena sedih kalah mulu dan banyak sakit juga karena sering begadang. Teman - teman bisa baca perjalanan saya soal ini di beberapa artikel dengan label menulis, curhat emak dan self love. 

Di setengah tahun terakhir adalah waktu bagi saya mendulang perunggu. Padahal saya termasuk anak bawang dalam dunia blogging. Ilmu blogging saya masih harus banyak di upgrade juga soal kualitas menulis. Tapi alhamdulillah semua prosesnya diarahkanNYA sejak akhir tahun 2019 sampai saat ini. Soal gagal dan kalah akhirnya saya yakini sebagai proses milestone. Masa iya mau menang tapi kalah dulu dan belajar. iya kan? 

Lalu bagaimana dengan resolusi tahun 2021? nah ini yang unik. Kalau tahun ini saya mulai dengan target menulis yang cuman tiga poin, maka tahun 2021 akan saya mulai dengan visi. 

Lho kok visi? iya visi mau jadi apa saya di akhir tahun 2021. Ini nih yang menurut saya cara unik membuat resolusi. mengapa? karena tujuannya jelas sehingga langkah realisasinya lebih terarah dan terukur.

Sebelum saya lanjut dengan resolusi 2021, ada baiknya kita telaah dulu yuk sebetulnya apa sih definisi, manfaat dan tujuan membuat resolusi.

Definisi Resolusi

Sebetulnya apa sih definisi dan arti dari resolusi? apakah ini resolusi pada gambar atau foto? atau apa sih?

Menurut KBBI, Resolusi ( resolusi/re·so·lu·si/ /résolusi/ n ) adalah sebuat putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); berupa pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal.

Sekarang ini menurut Edy Nugraha, seorang pengajar Bahasa Indonesia di salah satu sekolah di Jakarta menyebutkan bahwa kata resolusi mengalami perluasan makna menjadi harapan yang sungguh-sungguh dari pribadi seseorang.

Pentingnya Membuat Resolusi Pribadi

Saya pribadi menjabarkan definisi dari kata resolusi diatas adalah sebuah putusan lalu di tulis dan ditetapkan sebagai hasil kesepakatan. Hal yang disepakati oleh diri sendiri bisa berupa tujuan atau goal dan komitmen. Hal ini berkaitan dengan target dan keinginan yang dicapai secara pribadi. 

Lantas apa sih manfaat resolusi? berikut beberapa manfaat dari membuat resolusi pribadi terlebih lagi di penghujung tahun menyambut tahun baru.

Membantu seseorang dalam menentukan arah dan tujuan, keinginan yang dicapai dalam hidupnya. Namun demikian, resolusi bukanlah alat ukur kesuksesan seseorang dalam meraih apa yang ingin dicapai dalam hidup. 

Dengan membuat resolusi maka kita dapat membuat dan menentukan langkah usaha yang harus dicapai dalam mewujudkan tujuan. Dengan membuat resolusi kita dapat merasakan hidup yang lebih semangat

Resolusi 2021 : Begin With The End 

Di suatu hari yang cerah, saya menemani anak-anak saya main di teras rumah. Mereka main tanah sementara saya cek dan update sosial media. Hadeuuhh ni kebiasaan yang perlahan harus dikurangi ya. Kalo lagi sama anak harusnya ya sama anak dan bukannya scroll sosmed. Maafkan, resolusi tahun depan deh saya tambahin, yaitu kalo lagi sama anak stop pegang hp!! 

Btw, lalu saya cek cek Instagram, Facebook lalu Twitter. Nah di twitterland ini nih biasanya saya menemukan hal yang unik, lucu sekaligus menginspirasi. Dunia twitterland memang platform sosmed yang beda sih menurut saya. Bacot Show via jari jemari, dimana orang bebas Ingin berkata apa saja termasuk deep thought nya.

Lalu saya ketemu tweet salah satu teman saya yaitu kak Prima, tiba - tiba dia bilang : 

Now its the best time to decide how you would like to become at the end of 2021

Wah menarik nih, saya bertanya - tanya kenapa harus dengan pertanyaan Menjadi Apa Kita di Akhir Tahun 2021? Hmm, pertanyaan yang aneh gak sih ? Buat saya sih aneh. Apalagi seperti yang saya bilang sebelumnya kalau saya termasuk jarang banget bikin resolusi, karena selalu gagal dan ya yang terwujud hanya 10% nya aja. Maka dari itu saya gak pernah bikin resolusi dan mengalir aja. 

Tetapi, Twitter kak Prima sekali lagi memberikan saya cara pandang baru . Karena biasanya kita bikin resolusi itu kan poin - poin yang ingin dicapai seperti yang saya buat untuk tahun 2020 dan bukannya ingin menjadi apa, ini unik sih menurut saya. 

Saya rasa dengan membuat resolusi dengan visi ingin menjadi apa di akhir tahun 2021 ini lebih realistis dan lebih humanis. Saya langsung kebayang step yang akan ditempuh demi si ingin menjadi apa di akhir tahun ini tercapai. Jadi target dan langkahnya jelas serta terarah.

Saya jadi ingat buku nya Stephen R. Covey, The 7 Habits of Highly Effective People yang memasukan poin "begin with the end in mind' sebagai salah satu good habit. Belum pernah baca sih hanya baca review. Tapi sepertinya berkorelasi nih dengan konsep menyusun resolusi ala kak Prima.

Menurut kak Prima, kenapa kita harus begin with the end in mind ini supaya di akhir tahun kita bisa melihat melihat sejauh mana target tahunan kita terealisasi. 

Kebayang gak sih?

Biasanya kan kalau kita membuat resolusi, yang kita tulis adalah pencapaian yang ingin kita kerjar. misal sebagai blogger nih :
  • Job blog mengalir bak air terjun
  • PV meningkat tajam
  • DA naik drastis
  • dan lain - lain
Atau yang umum seperti :
  1. Ingin lebih rajin Shaum
  2. Ingin lebih sering sedekah
  3. Ingin lebih rajin membaca Al-Qur’an
  4. ingin lebih banyak minum air putih
  5. ingin lebih banyak olahraga
  6. ingin lebih banyak bersyukur
  7. ingin lebih rajin membaca
  8. ingin lebih sering menabung
  9. beli gadget terbaru
  10. dan lain - lain
Nah sekarang, mindsetnya di ubah menjadi :
  1. Mom Blogger yang sukses
  2. Ibu yang lebih beriman, sehat dan bijak
  3. Blogger sukses

Nah, kata sukses dan bijak di sini kan masih umum tapi targetnya sudah jelas, kita ingin menjadi blogger yang sukses. Maka, tahapan untuk mencapai tujuan utama di akhir tahun ini akan terlihat dan bisa di breakdown.
 
Sudah kebayang?

masih belum? hehehe, tenang saya beri contoh ya. Misal, 

Mau menjadi apa kita di akhir tahun 2021     : Mom Blogger yang sukses 

Tolak Ukur Kesuksesan                                    : 

  1. Personal Brand Kuat
  2. Traffic naik atau bertahan secara signifikan
  3. Komentar organik
  4. angka rangking blog naik secara signifikan 
  5. Blog makin menghasilan ( baik karya maupun rupiah )

Step realisasi                                             :

1. Personal Brand kuat
Tahapan Realisasi : 
  1. Tetapkan dan konsisten niche
  2. Buat artikel organik sesuai niche minimal 1 minggu sekali
  3. Share link artikel di semua link sosmed dan komunitas
  4. dan lain - lain … sebutin aja yang kepikiran apa
Dan seterusnya. Udah kebayang kan? 

Lantas bagaimana evaluasinya nanti? Mudah, setiap step bisa kita bikin track recordnya di jurnal atau bikin deh di excell agar mudah ceklisnya. lalu lihat setiap langkah sudah dilaksanakan atau belum? perkembangannya gimana, apakah si langkah sudah terealisasi atau belum. kalau 80% sudah terealisasi, maka menurut saya maka kita sudah menjadi seperti apa yang kita inginkan. Jika Belum? Maka resolusi ini masih bisa dipakai untuk tahun berikutnya dan berikutnya lagi.

Lalu bagaimana dengan saya sendiri? Udah bikin dong. Keinginan saya hanya satu sih di penghujung tahun 2021, Mom Blogger ilustrator yang sukses dalam karir dan rumah tangga tanpa mengabaikan aspek agama. Tahun 2021 saya ingin mendulang perak dan emas, hehe. 

Berat gak sih? berat ya? hahahaha. Kita coba aja dulu, jalani dengan hati riang tanpa beban. Kalau stepnya sudah di tulis lalu dijalani, yah hasilnya kita serahkan sama yang MAHA MENGATUR. kalau masih belum yah namanya juga proses ya… kalau dijalani ntar juga keliatan hasilnya. 

Tapi yang jelas sih, tahun 2021 saya ingin lebih rapih dalam mengarsip semua kegiatan blogging. Baik itu kulwap, seminar, webinar, lomba, job dan report GA, GSC, adsense setiap bulan. Juga lebih getol belajar tekhnik menulis dan SEO walau sudah tergabung dalam beberapa komunitas serupa. Biar di akhir tahun saya bisa mengehela nafas sambil berkata, " i'm proud of me" apapun hasilnya. Karena passion yang dijalani dengan senang tanpa beban apalagi menghasilkan, tentu jadi kebanggaan tersendiri bukan. 

Tetapi ada hal yang harus diingat, sedetail dan segiat apapun usaha kita membuat resolusi perencanaan tetap harus pasrah dengan keputusan Tuhan, karena yang menentukan terwujud atau tidaknya Tuhan yang menentukan. Yang bisa kita lakukan hanya berusaha dan tawakal. 


Semoga tips dari saya bermanfaat ya. 
Happy New Years 2021, happy life.

artikel ini diikutsertakan minggu tema komunitas Indonesian Content Creator 

malaikat tak bersayap bernama ibu
Ilustrasi efila art


Malaikat Tak Bersayap Itu Bernama, IbuPagi itu cerah dan matahari bersinar hangat. Saya duduk di depan teras sambil menyeruput teh manis di temani goreng ulen dan obrolan hangat bersama ibu. Nikmat sekali, bahkan kami mengobrol di temani lagu kpop favorit saya dan ibu tidak keberatan, hehe

Sambil ngobrol banyak hal, saya memperhatikan betapa sayangnya saya dengan sosok yang satu ini. Ibu adalah sosok yang tegar dan kuat sekaligus bagai malaikat tak bersayap bagi saya.

Walau ibu bercerita banyak hal sambil tersenyum dan tertawa lebar, saya bisa melihat banyak sekali gurat kesedihan dan kerapuhan di setiap keriput yang mulai muncul di wajah ibu. Seketika rasa sesal menyeruak dalam dada saya, rasa sesal karena pernah menyakiti Ibu.

Hal ini membuat saya selalu bertanya, masih adakah waktu bagi saya untuk dapat membuat ibu bahagia ? masih banyak kah waktu yang tersisa bagi saya untuk mewujudkan impian Ibu? 

Saya terus menanyakan hal yang sama pada Tuhan di setiap sujud. Rasa sesal yang bergelayut dalam hati saya bersumber pada satu hal, dosa besar yang saya takut Tuhan akan murka karena dosa saya itu. 

Dosa saya adalah pernah membenci Ibu saya dalam waktu yang cukup lama dan menyalahkan Ibu atas semua peristiwa buruk yang terjadi dalam hidup saya. Kami bahkan hidup bertahun - tahun lamanya dalam konflik tiada akhir dan setiap bertemu sering bertengkar hebat berujung saling menyakiti. 

Mengapa saya pernah membenci ibu saya dan menyalahkan ibu atas semua peristiwa buruk dalam hidup saya sampai sekian lamanya?

Tumbuh Dengan Rasa Kesepian


Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua orangtua saya bekerja setiap hari dan libur hanya di hari Minggu. Hal ini menyebabkan saya sering di tinggal sendiri di rumah dengan adik. 

Ada rasa sepi selama saya ditinggal bekerja oleh orang tua saya. Karena, setiap hari saya berangkat sekolah, makan siang dan mengaji sendiri. Tanpa memberi salam atau disambut pulang sekolah dengan gembira oleh ibu. Selain itu saya juga harus menjaga dan menyiapkan segala keperluan adik saya. 

Tidak jarang saya juga bermain sendiri, karena teman - teman seumuran saya rumahnya jauh.

Hal ini membuat saya tumbuh menjadi anak yang kesepian dan tidak percaya diri.
Hal ini ditambah dengan hubungan saya dengan orangtua sangat kaku dan formal. Ibu memiliki karakter agak keras, begitu juga ayah. 

Ayah sangat disiplin dan galak. Beliau termasuk orang tua yang tidak bisa mentolerir kesalahan meskipun usia saya masih sembilan tahun. Hukuman fisik sudah jadi langganan saya ketika saya melakukan kesalahan. Bentakan dan kata - kata kurang pantas juga sering saya terima. Terkadang saya lari ke pelukan ibu untuk mencari perlindungan, tapi naasnya ibu lebih sering diam ketimbang menghibur saya apalagi meraih hati saya.

Hal ini terkadang membuat saya berfikir kalau saya ini anak adopsi dan bukan anak kandung mereka. Rasa kesepian ini ditambah dengan keinginan saya yang kuat untuk memiliki ibu yang lemah lembut dan pengertian, tapi kenyataannya ibu adalah ibu yang tidak demikian. Benih tidak suka dan agak benci ibu berawal dari sini. Mungkin lebih tepatnya bukan benci, tapi kecewa.

Terkadang saya tidak mengerti, kenapa ibu selalu galak dan bersikap kurang lembut pada saya? apa saya anak yang nakal? apa saya menyebalkan? apa saya kurang pintar?

Saat itu saya tidak bisa menemukan jawaban apapun. mengingat usia saya masih sembilan tahun. Tapi sayangnya, perasaan ini terus berlanjut bahkan ketika saya mencapai usia sekolah menengah atas karena saya masih merasakan ibu masih tetap sama, sering marah dan galak. Tak ada sama sekali bayangan atau sebuah opini tentang ibu sebagai malaikat tak bersayap di benak saya saat itu. 

Perceraian Orangtua


Saya masih ingat, saat itu pertengahan bulan Juni tahun 1999. Suatu pagi yang cerah dan langit berwarna biru serta awan berarak ditemani matahari yang teduh . Pagi hari yang sempurna. Tidak ada tanda kemurungan. 

Pagi itu saya, ayah, ibu dan kedua adik sarapan bersama seperti biasanya. Saya duduk manis menunggu ibu menyiapkan sarapan sementara adik bernyanyi riang. Lalu kami sarapan bersama dengan nikmat. 

Lalu tiba-tiba tanpa peringatan dan aba-aba, ayah dengan wajah tegang dan kaku berkata,

jadi, teteh sama aa mau ikut siapa? Ayah atau ibu?” 
DARR!!! Saya merasa seperti terkena sambaran petir saat itu juga!! 
Saya hanya bisa berkata dalam hati, “what?!!! Apa Apaan ini??? Maksudnya ayah sama ibu mau cerai? On no!

Seketika saya seperti terkena sengatan listrik yang membuat sekujur tubuh saya berubah menjadi kaku dan kelu. Hilang semua kata dan pikiran. Pagi itu laksana hujan badai disertai amukan kilat, tak seindah cuaca cerah di luar sana. Sungguh ironis. 

Saya melihat Ibu hanya mampu berteriak seraya berkata, “ apa-apaan ini ayaaah? ayah bercanda? Maksudnya apa iniiiiii?” sambil terus menangis tiada henti. 

Ayah tidak menggubris pertanyaan dan tangis isak Ibu, ayah pergi meninggalkan meja makan dengan layu dan punggung tertunduk rapuh lantas berlalu meninggalkan kami di meja makan masih duduk tegang dan kaku. 

Saya bisa apa? Selain duduk mematung dengan pikiran berkecamuk tak percaya. lalu saya ingat harus sekolah, seketika saya bangkit dan berusaha memecahkan kekakuan tubuh lalu bergegas berangkat sekolah. Saking bingung dan masih merasa tidak percaya, saya berangkat sekolah seakan kejadian tadi pagi tidak terjadi. Saya bahkan gak nangis! 

Sejak kisah pagi yang tragis itu, hidup saya tidak pernah sama lagi. Saya rasa, inilah akhir dari segala drama keluarga selama ini. Drama keluarga? Iya, drama keluarga dimana ayah dan ibu sebelum kejadian naas itu memang sering bertengkar. Mereka kerap bertengkar hampir di setiap kesempatan.Entah apa yang diributkan, semua pertengkaran selalu berakhir dengan teriakan, bentakan dan bantingan pintu kamar tidur. 

Orang Tua saya memang bukan orang tua yang harmonis sejak awal pernikahan mereka. jadi sebetulnya, walaupun mereka akhirnya bercerai juga saya tidak heran. Tapi tetap saja, menghadapi gerbang perceraian mereka di depan mata rupanya membuat saya syok dan meninggalkan bekas luka yang selalu basah dan tak kunjung sembuh. 

Saya pun merasa perceraian mereka disebabkan oleh ibu yang tidak mampu menjaga dan melindungi keluarga hingga akhirnya mereka berpisah. Kalau saja ibu tidak selalu marah - marah dan galak, saya yakin ayah akan betah di rumah. Kalau saja ibu tidak egois dan gak selalu ingin didengar, ayah pasti gak akan lari dari pernikahan. Kalau saja. Semua gara - gara Ibu!! kadang saya sesumbar dalam hati, apa itu istilah ibu sebagai malaikat tak bersayap? nonsense!!

Konflik Tiada Akhir


Setelah perceraian mereka, drama keluarga pun dimulai. Urusan hak asuh anak, uang bulanan sampai pernikahan ibu yang kedua. Baik Ibu maupun saya, kami masing - masing berjuang menghadapi perceraian. 

Ibu yang berusaha menyusun kembali serpihan emosi dan kewarasannya sendiri dan saya yang depresi karena merasa kehilangan sosok ayah dan keluarga yang tidak utuh. 

Kami tidak bisa saling menguatkan karena ibu enggan membagi rasa sedihnya dan melimpahkan tugas domestik pada saya, seperti urusan memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah sampai urusan sekolah kedua adik saya. 

Sementara ibu banyak menghabiskan waktu di kantor dan dengan bebas pergi kemanapun dia suka dan lupa kalau dia punya anak - anak rapuh yang harus diperhatikan di rumah. hal ini kemudian yang membuat saya semakin kecewa dan membenci ibu. Hal ini bahkan berlanjut sampai saya lulus kuliah dan mulai bekerja. 

Lelah dengan semua emosi negatif yang saya rasakan baik terhadap ibu dan hidup saya, akhirnya saya memutuskan untuk mengubah hidup saya, selamanya. 

Sebuah Titik Balik


Amarah, kecewa dan rasa kesepian yang menggelayuti hidup saya selama bertahun - tahun akhirnya menemui titik terang cahaya. Cahaya itu adalah Keenan, anak saya yang pertama.

Setelah menikah dan menjadi ibu akhirnya saya bisa memahami Ibu dan mencoba mengerti dan memaafkan ibu bahkan menyesal pernah membenci ibu segitu hebatnya. 

Proses ini tidak mudah dan panjang sekali. Prosesnya di mulai sejak saya masih kuliah tingkat D3 dulu sampai saya menikah. Setiap proses terasa sangat berat karena berbenturan dengan ego dan trauma.

Trauma dari perceraian dan bagaimana dulu saya diperlakukan kasar semasa kecil berimbas pada cara saya mengasuh anak saya. Trauma yang akhirnya baru terselesaikan setelah lebih dari dua puluh tahun berjuang. 

Pada akhirnya saya memahami bagaimana sudut pandang ibu tentang semua ini. Seperti kepingan puzzle, saya mencoba menyusun satu per satu bagian cerita dari sudut pandang ibu sebagai pribadi dan ibu sebagai ibu. 

Ibu Juga Manusia


Ibu juga manusia, perempuan yang memiliki perasaan, harapan, cita - cita dan keterbatasan. Gelar Ibu tidak serta merta menjadikannya makhluk sempurna tanpa cacat. Sebagai pribadi, ibu juga berproses menemukan jati dirinya. 

Ibu juga punya rasa sakit dan trauma. 

Saya masih ingat, Ibu pernah bercerita mengenai trauma yang beliau rasakan saat masih kecil. Saat itu usia ibu sekitar sepuluh tahun dan seperti kebanyakan anak di usia tersebut terkadang bermain bersama teman terkadang juga bertengkar. 

Naasnya, ketika ibu bertengkar dengan salah satu temannya, Ibu dari teman ibu saya itu mengadu pada kakek kalau pertengkaran anak mereka di sebabkan oleh Ibu saya, padahal teman Ibu saya itu yang memulai lebih dulu. Akibatnya, Ibu mendapat hukuman dari Kakek. Dengan menggunakan sapu lidi, pantat dan kaki ibu dipukul hingga memerah dan bengkak. Ya Tuhan, kalau mengingat cerita Ibu itu, hati saya sedih.

Ibu adalah anak kelima dari 8 bersaudara. Keluarga ibu termasuk keluarga kaya tapi gak kaya - kaya amat, cukup berada sampai kakek dan nenek waktu itu bisa menyekolahkan anak - anaknya hingga SMA. 

Kakek adalah seorang perwira ABRI berpangkat, saya tidak tahu pangkatnya apa tapi kakek pernah menjadi pemimpin sebuah tim saat ada konflik di Irian Barat dulu. Sementara nenek adalah keturunan bupati Cianjur, jadi bisa di bilang nenek berasal dari keluarga Raden.

Keluarga ibu cukup keras dan disiplin dalam mendidik anak - anaknya. Ibu juga sering merasa diperlakukan tidak adil mengingat ibu anak ketujuh dari delapan bersaudara. Ibu juga mengalami masa sulit di sepanjang masa mudanya. Banyak impian Ibu yang harus kandas demi kakak dan juga kami anak - anaknya.

Sewaktu kecil, Ibu memiliki hobi dan cita - cita sebagai penulis dan pelukis. wahh ternyata hobi ibu menurun pada saya ya, hehehe. waktu kecil ibu sering mengikuti lomba menggambar dan juara. Karena kakek dan nenek tidak menyetujui hobi ibu, jadi ibu mengikuti setiap perlombaan dengan diam - diam. Lalu darimana ibu mendapat alat tulis dan gambar? dari setiap hadiah lomba yang ibu terima. waahhh, ibu hebat yaa.

Saya rasa pengalaman ibu semasa kecil membuatnya menjadi pribadi yang kuat, tangguh dan keras. Ibu berusaha untuk selalu berjuang dalam hidupnya. Memperjuangan harapan dan cita - citanya. Berjuang untuk mendapat kasih sayang dari keluarga dan orang sekitarnya. Saya bisa merasakan, ibu juga tumbuh dalam kesepian dan merasa kurang disayangi. 

Dengan Memahami bagaimana hidup ibu semasa kecil hingga dewasa, membuat rasa benci saya perlahan luntur. 

Kebencian saya terhadap ibu semakin luntur setelah saya menikah. Saya merasakan sendiri betapa sulitnya mempertahankan biduk rumah tangga. Tak semudah membalikan telapak tangan. Setelah saya sendiri mengalami konflik rumah tangga dan menjadi ibu bagi kedua anak saya, akhirnya saya paham bagaimana rasanya menjadi ibu ketika menghadapi perceraian mereka dahulu. Akhirnya saya mengiyakan istilah ibu sebagai malaikat tak bersayap. 

Memang tidak mudah menjadi ibu dan istri dengan segala tugas dan tanggung jawabnya. Tidak sedikit hal pribadi yang dikorbankan. Bukan hanya waktu, tapi tenaga, uang dan cita - cita. Menjadi ibu bukan hal yang mudah. Mulai dari kurang tidur sampai kelelahan tiada akhir mengurus mereka dari bayi. Belum termasuk stress mencari uang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan anak. 

Saya jadi ingat, walau ibu jarang ada di rumah lalu ketika pulang sering marah, galak dan disiplin terhadap saya, Ibu tetap memperhatikan kebutuhan saya. Untuk urusan jajan dan perut saya tidak pernah kekurangan sedikitpun. Tidak ada istilah kelaparan atau gak punya mainan. Walau masa kecil saya kesepian, perut saya kenyang. Satu hal yang layak disyukuri sebetulnya. 

Perceraian juga bukan hal yang mudah bagi Ibu, saya bisa bayangkan betapa sulitnya menghadapi perceraian dan berjuang menyusun kembali kepingan jati diri setelahnya. Akhirnya saya dapat memaklumi ketika akhirnya ibu menjadi depresi dan hilang kendali setelah bercerai dengan ayah. Saya membayangkan kalau saya jadi ibu, mungkin akan sama depresinya dengan ibu. 

Dalam keadaan depresi pun, ibu tetap berjuang mencari nafkah untuk saya dan adik - adik saya. Bahkan saya bisa kuliah berkat perjuangan ibu. Ibu memang tangguh dan kuat. 

Sampai titik ini, saya semakin tersadar dan mulai merasa bersalah pada ibu karena pernah membencinya.

Permohonan Maaf


Setelah saya melahirkan Keenan, Ibu menemani saya selama tiga hari di rumah ibu mertua. Ibu membuatkan saya sup daun katuk dan daun kelor setiap hari. Mengajari saya memandikan Keenan, memakaikan baju dan menyusui. Saya merasa tenang dan nyaman selama ibu ada di sisi saya selama tiga hari itu. Saya sangat bersyukur masih memiliki ibu di sisi saya yang bisa mengajari saya bagaimana mengurus bayi yang baru lahir.

Sayangnya, karena ibu harus kembali bekerja ibu tidak bisa lama menemani saya. Hal ini membuat saya sedih dan kalang kabut hingga akhirnya membuat saya mengalami Baby Blues Syndrome. Ternyata melahirkan lalu mengurus anak baru lahir itu tidak mudah. Lelah dan stress nya luar biasa. 

Setelah saya melahirkan anak kedua, saya semakin menyadari pentingnya kehadiran ibu. Betapa saya sangat membutuhkan ibu dan menginginkannya selalu ada di sisi saya. Ibu adalah malaikat tak bersayap milik saya.

Saya mulai menyadari banyak hal mengenai ibu. Mulai bisa memahami dan memaklumi ibu saya. 
Setiap kali saya berlibur ke rumah ibu, saya bisa melihat ibu semakin tua dan fisiknya tidak sekuat dulu lagi. Saya juga bisa melihat banyak sekali gurat kesedihan dan kerapuhan di setiap keriput yang mulai muncul di wajah ibu. Seketika rasa sesal meyeruak dalam dada saya dan saya sadar kalau saya belum pernah sekalipun membahagiakan Ibu.

Ya Tuhan, sampai kapan saya akan membenci, marah , kecewa dan menyalahkan Ibu atas semua tragedi dalam hidup saya? Pantaskah saya menyalahkan beliau? Perceraian Ayah dan Ibu, apakah Ibu yang menciptakan dan menginginkan? Ibu juga berjuang mempertahan kan harga diri dan kewarasan beliau selama ini. 

Kalaupun ibu menjadi pribadi yang keras itu karena tuntutan ibu harus demikian demi kami anak - anaknya. Selama bertahun - tahun ibu bekerja tiada henti sampai pinjam sana dan pinjam sini demi biaya kuliah saya dan adik - adik saya. Sendirian! Karena ayah tak bisa diandalkan.

Ibu juga ingin bahagia. 

Saya tak pernah memikirkan hal itu. Ibu juga ingin memiliki pasangan hidup untuk saling berbagi dan menyayangi. Tapi kenyataanya, ibu kurang beruntung soal ini. Pertama perceraian dengan ayah dan dengan suami nya yang kedua yang lagi - lagi harus kandas. Saya yakin, ibu juga sama kesepiannya dengan saya. 

Mengapa saya sangat egois sekali dan hanya memikirkan penderitaan diri sendiri. Ibu juga sama kesakitannya, sama berjuang untuk dirinya sendiri. Ibu juga ingin bahagia, sama seperti saya.

Ya Tuhan, maafkan saya.

Akhirnya suatu hari saya memutuskan untuk bertaubat dan memohon ampunan pada ibu. Saya memilih hari ulang tahunnya sebagai hari taubat. Jauh - jauh hari sengaja saya menabung untuk membelikan jam tangan kesukaan ibu, jam tangan berlapis sepuhan emas. Dengan perasaan dag dig dug dan tegang, saya serahkan hadiah ulang tahun pada ibu. 

Ibu, selamat ulang tahun ya “ ucap saya, 

waahh apa ini teteh? hadiah buat ibu? waah, makasih teh. padahal mah gak usah repot - repot “ Jawab ibu dengan wajah senang.

gak apa -apa bu, teteh udah nyiapin ini udah lama kok, hihihi. buka dong “ jawab saya lalu ibu membuka hadiahnya dan terkejut.

waahh teteh, ini jam tangan emas ya? aduh pasti mahal! teteh gak lagi gak punya uang, padahal mah gak usah “ jawab ibu terkejut, lagi di kasih hadiah aja ibu masih mikirin masih keuangan saya. duh makin mencelos hati saya.

Gak kok bu, ini mah sepuhan kok, bukan emas beneran. hehehe “ jawab saya malu - malu

Ibu tampak bahagia sekali. saya senang dan hati saya terasa sangat hangat. Tanpa ragu lagi saya langsung memegang kedua tangan ibu lalu bersujud sambil menangis.

Ibu maafin teteh ya, teteh sering nyakitin perasaan ibu dan sering bikin ibu sakit hati. sering merepotkan dan selalu bentak ibu. maafin teteh ya Bu “ ucap saya sambil menangis. Tenggorokan rasanya seperti tercekik dan tangisan pun semakin sulit dikendalikan. 

Ibu terkejut dan ikut menangis. sambil mengangkat tangan dan kepala saya ibu berkata, 

Teteh… udah jangan nangis lagi, gak apa - apa teh…. gak apa - apa gak usah minta maaf sama ibu sampai kayak gini. Jauh sebelum teteh minta maaf , ibu udah maafin semua kesalahan teteh. maafin ibu juga ya

Lalu saya bangkit dari tangisan dan menatap wajah ibu yang terlihat basah oleh air mata di antara kerutan wajahnya. Kami berpelukan dan hati saya lega sudah. 

Lalu kami duduk bersebelahan sambil saling memegang tangan dan ibu mengusap air mata saya. lalu saya berkata, 

Maaf ya teteh belum bisa membalas semua kebaikan, kerja keras dan usaha ibu sejak teteh bayi sampai sekarang

Gak apa - apa teh, jangan mikirin itu. Ibu ikhlas mengurus teteh sampai sekarang. Buat ibu, melihat teteh bahagia sama anak - anak, pernikahan teteh bahagia dan teteh sukses ….ibu udah bahagia, itu hadiah terbaik buat ibu. yaaa selain sering dibawakan batagor sama roti bakar lah bonusnya, heheh” jawab itu menenangkan hati saya sambil bercanda. 

Ah, terimakasih Ya Allah. Saya masih diberi waktu dan kesempatan untuk memohon maaf pada ibu. Terimakasih. 

Hadiah untuk Ibu

Saya sangat bersyukur, sekarang hubungan saya dan ibu jauh lebih baik . Saya bersyukur masih diberikan ibu hingga usia ini dan masih diberikan kesempatan memohon maaf. 

Sekarang setiap kali kami bertemu, kami selalu bercerita banyak hal, ke salon bersama dan luluran bersama Hal - hal seputar dunia perempuan dan kecantikan yang tidak pernah kami lakukan waktu dulu. Bahkan kami sama - sama menyukai drakor, hehe.

Penyesalan saya hanya satu, saya belum punya cukup banyak uang untuk membalas semua perjuangan ibu untuk saya selama ini. Saya ingin sekali mewujudkan impian Ibu untuk memiliki rumah di desa lengkap dengan kolam ikan dan kebun anggrek, bunga favoritnya.

Ketika saya melontarkan keinginan saya ini, ibu hanya berkata, 

Yang terpenting buat Ibu sekarang, Teteh bahagia dengan pernikahan Teteh dan sukses. itu saja cukup buat ibu. gak perlu banyak ngasih hadiah. ya kalau ibu di kasih rezeki tentu gak ibu tolak ya, kan lumayan. hehehe “ jawab ibu sambil bercanda. 

Ibu doakan teteh sukses dengan menulis di blognya dan sukses jadi seniman. Cita - cita ibu yang gak pernah terwujud. Mendengar teteh juara lomba waktu itu terus kemarin dapet hadiah wacom, ibu seneng banget. Itu aja udah jadi hadiah buat ibu. Berarti ibu berhasil mengantar anaknya sukses “ lanjut ibu. 

Jawaban ibu memang ibu - ibu banget ya, saya juga merasakan hal yang sama untuk anak - anak saya. Yang terpenting adalah kebahagiaan dan kesuksesan anak - anaknya. Urusan kebahagiaan sendiri, itu belakangan. 

Untuk saat ini rezeki saya memang masih terbatas. Saya baru bisa memberikan ibu small things sebagai hadiah. Pijatan di kepala dan badan , general cleaning rumah ibu, memasak dan mencuci baju. serta jajanan sederhana. Semoga secepatnya saya bisa mewujudkan impian ibu ya.

Sebuah Pencerahan


selamat  hari ibu
me and mom


Ibu juga manusia, beliau tidak luput dari kesalahan dan ketidaksempurnaan. Ibu juga berproses dalam memahami dirinya sendiri dan mengobati luka lama.


Sungguh sangat egois jika kita sebagai anak hanya memikirkan luka batin sendiri, bagaimana dengan ibu? ibu juga punya trauma dan luka yang sama.

Jika dibandingkan dengan segala perjuangannya tanpa henti dan pamrih, luka batin yang saya alami sungguh tiada tandingannya. Mengingat semua perjuangan ibu, bagi saya ibu adalah malaikat tak bersayap. Sungguh.

Meminta maaf sekali saja rasanya tidak cukup, begitu pula dengan ucapan terimakasih. ada baiknya memang kita lebih sering menyapa hati ibu, menanyakan kabarnya dan mengatakan banyak terimakasih dan diakhiri dengan ucapan i love you ibu. Saya yakin Ibu akan sangat bahagia.

Sudahkan kita menyapa ibu kita hari ini? sudahkan meminta maaf? sudahkah memberikan small things yang bisa membuat wajahnya tersenyum? sudahkan kita mengatakan padanya, I Love you mom, thank you for everything ?
Sudahkan? yuk kita sapa ibu kita sebelum segalanya terlambat.


"Tulisan  saya ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba menulis Blog yang di selenggarakan oleh  Female Blogger Banjarmasin dan  Gloskin Banjarmasin, dengan Tema : Hadiah terindah untuk Ibu"