Hari ini kakak libur sekolah, tiba-tiba aku merasa ingin tidur saja seharian, mengingat semua kerjaan domestik sudah rampung dikerjakan kemarin sore, rasanya hari ini ingin bermalas-malasan seharian, pagi ini aku merasa sangat lelah.

Tapi aku teringat, si bungsu yang sulit makan harus mulai aku paksakan makan tertib hari ini, entah gimana caranya, dibawa sambil jalan-jalan atau sambil main tanah.

Berangkatlah aku ke warung dan belanja. Mulai memasak sambil beres-beres mainan yang berserakan dimana-mana, semua itu menghabiskan waktu pagi-ku yang tadinya ingin kupakai dengan tiduran saja. Selesai pukul 10 pagi, akhirnya selesai semua. pundak pegal, kaki semutan-an punggung terasa remuk ditambah perut keroncongan.

Selesai makan, kuputuskan untuk tidur sebentar. gendut biarlah menjadi gendut. tapi rencanaku gagal, aku lupa anak-anak belum sarapan. disuapilah mereka sambil nonton youtube.

Begitu selesai dan badan berangsur mulai mengajak ke kasur, si bungsu merengek minta ganti video youtube, si sulung minta ditemani main. Tak tahan dengan rengekan mereka, sambil menahan amarah aku penuhi keinginan mereka.

Tapi rupanya, aku sudah teramat mengantuk. akhirnya, kepalaku bertanduk dan mulai bentak anak-anak. Pak suami yang sedari pagi tidur kembali akhirnya bangun dan mengalah menjaga anak-anak sambil beres-beres rumah ala kadarnya. aku tertolong.

Lepas adzan Dzuhur aku bangun. segar rasanya. rasa ingin bermalas - malasan kembali merajuk. tapi tentu tak bisa aku wujudkan. anak-anak belum mandi sementara pak suami siap-siap berangkat "ngamen".

Akhirnya, sisa siang menuju sore aku habiskan dengan mandiin anak-anak dan kembali membereskan rumah sampai kinclong. Disaat aku kembali teramat lelah, si bungsu berulah. ember buat nge-pel lantai ia tumpahkan hingga lantai tampak seperti kebanjiran.

Aku kebakaran jenggot!! aku marah teriak dan bentak, aku kesal dan ingin rasanya menangis, bukan itu saja, dengan tanpa merasa bersalah, si bungsu jalan-jalan didalam rumah memakai sendal kotor dan akhirnya sambil mencak-mencak aku pel kembali lantai.

Selesai semua, termasuk cuci piring. aku teringat, ini sudah pukul 4 sore dan kakak belum pulang, ini waktunya ia mengaji. bergegas mengenakan kerudung bau dapur dan baju dinas emak-emak, aku mencari kakak dan akhirnya ketemu. Kakak menolak pulang dan tantrum. es krim jadi sogokan ia agar mau pulang.

Tiba dirumah, perang dunia ke 3 pun kembali terjadi antara si sulung dan si bungsu. rebutan video yang mau di tonton di youtube, rebutan mainan, rebutan kucing. Dan parahnya, si sulung mainin bedak dan di tabur-taburkannya di teras rumah yang baru saja aku pel. Aku meraung dan berteriak!!!

Aku lelaaahhhhh!!!!! 

Dan sekarang, setelah perjuangan panjang menidurkan anak-anak yang engga mau tidur padahal mereka tidak ada yang tidur siang satupun, aku terkapar di atas karpet sambil bersedih hati.

Terbesit rasa iri pada pak suami yang bisa "ngamen" dan ketemu teman-temannya selama lebih dari 6 jam!! aku pun ingin me time dan bebas melenglang walau hanya beberapa jam. tapi sejak kakak mulai masuk sekolah, hal itu sulit didapat. bisa ke borma sendiri pake motor walau cuma beli susu aja udah jadi hal yang istimewa.

Saran semangat dan positif dari quote parenting soal, "istimewanya menjadi ibu" atau "ingatlah anak - anak adalah kado istimewa" atau "ingatlah waktu bersama dengan anak hanya sebentar sebelum ia beranjak dewasa" ... gak mampu menghilangkan perasaanku soal motherhood akhir-akhir ini.

Disebut depresi sih tidak, atau post partum deperesi juga tidak. aku hanya jenuh dengan rutinitas yang sama yang aku lakukan dan terima setiap hari yang membuatku selalu penuh dengan amarah. sepertinya, mau tidak mau harus dipaksakan. aku perlu sendiri dengan diriku sendiri walau hanya 4 jam saja.

Biar kewarasanku tetap terjaga dan kembali siap menjalani rutinitas yang sama seperti kisah hari ini keesokan harinya, hingga aku bertemu dengan waktu Me Time-ku.

Betapa penting adanya Me Time ini ya, jika tidak para ibu akan kehilangan kewarasan dan hilang kesabaran, lantas kebahagiaan anak-anak akan menjadi taruhannya.

Mak, me time yuk. 















Liat seragam sekolah keenan ngegantung di lemari itu rasanya gimana ya....uwoooowww...........It has been 5 years since he was born, asa emeyjing aja gituh, ni anak dah sekolah lagi. 

never imagine deh, padahal awal awal sekolah tantrum nyah edan dongs, alhamdulillah. semoga lancar pembelajarannya ya ken, semoga lancar juga finansialnya agar supaya pembelajaran kamu lancar jaya aman sentosa , hehe

Dulu, saya pernah punya impian kakak sekolah di sekolah alam karna dasar pembelajarannya yang gak standar gitu, mulai dari PAUD ampe nun jauuh disana ( SMA maksudnya ), tapi karena kekuatan finansial dan ngukur jarak yang kurang mumpuni, beralihlah pada sekolah yang jaraknya cukup dekat, ngiceup mata sebentar juga langsung nyampe, RA Tk Al misbah. 

Lalu saya tersadar, sekolah bagus gak harus selalu yang punya tema montessori, terpadu dan lain sebagainya. sekolah sederhana dan minim fasilitas juga bisa jadi bagus, selama potensi yang dimaximalkan. dan secara finansial, saya terbantu sekali dengan kebijakan sekolah kakak, hehehe. 

Alhamdulillah, sejak masuk TK, kakak makin berani, berani sekolah sendiri, berani ke warung sendiri, berani main sendiri dan mulai berani minta uang jajan lebih! hahaha 





Kenapa sih saya pengen jadi full time mother? jawabannya sederhana, karena saya gak mau anak-anak saya ngalamin apa saya alami waktu kecil, yaitu jadi anak yang tumbuh dengan rasa "kesepian".

Ortu saya dua-duanya PNS, masa kecil sampai dewasa saya penuh dengan kata mandiri dan sagala serba sendiri. Berangkat sekolah sendiri, pulang sekolah dirumah sendiri, makan siang sendiri, berangkat ngaji sendiri dan baru ketemu emak saya sore jam 5. Dan semua itu bikin saya tumbuh dengan perasaan kesepian. Inilah alasan saya gak mau keenan dan kilan, anak-anak saya ngerasain hal yang sama. karena rasanya? gak enak banget! 

No judgement ya mak, ibu bekerja ataupun tidak, sama - sama adalah ibu. mom always know the best.

Semua ada sisi positife dan negatife nya, Ibu bekerja, akan kehilangan banyak sekali quality time dengan anak dan harus menebusnya di hari libur, sementara kadang hari libur ingin istirahat dan leha - leha karena lelah bekerja, pun dalam kegiatan sehari - hari, kadang menjalani hari yang lelah selama bekerja di kantor/tempat bekerja membuat lelah juga saat pulang melihat rumah berantakan dan harus cuddle time dengan anak, ini jauh bikin lelah para ibu bekerja. Tapi, kebutuhan finansial keluarga tercukupi, tidak kekurangan dan ibu bisa "sedikit' terhibur dari rasa bosan dan jenuh menjalani rutinitas ke-emak-an setiap hari.

Terus, setelah 5 tahun menjalani profesi baru menjadi full time mother apa yang saya rasakan? LUAR BINASA rasanya. cape pisan geuningan jadi full time mother

Jadi ibu bekerja juga sama sih cape nya, malah double menurut saya. karena pagi-pagi harus jadi bajing luncat segala beres sebelum anak-anak sekolah dan kembali beres-beres rumah begitu pulang kerja. 

Tapi, jadi ibu rumah tangga itu, beres-beresnya TIADA AKHIR,  hehehe


Sehari bisa 4-5x beres beres ( klo mau rumahnya kinclong kaya gambar-gambar di pinterest :P ), apalagi anak saya dua-duanya laki-laki! bisa anda bayangkan gimana rasanyah??? hehehe. anak - anak saya masih usia toddler, jadi selain rumah berantakan kaya semangka murag,ambayatak (geuleuhih,hahaha), rengekan, teriakan dan permintaan yang tiada henti dari kedua bocah saya terima dan makan tiap hari!! 

Terkadang saya jenuh, cape dan merengek minta libur sama pak suamik. etapi, gak bisa libur, mana ada hari libur buat emak, sekalinya libur juga karena sakit yang bisa langsung sembuh begitu denger anak juga ikutan sakit. 

Rutinitas yang sama, penerimaan yang sama atas perilaku anak-anak imut dan lagi berkembang ini, bener-bener bisa bikin kepala mau meledak rasanya. jenuh udah gak bisa di hindari. klo sudah begini, obatnya hanya dua mak,  

Yang kesatu, minta ME TIME sama pak suamik, walau itu hanya 6 jam atau bahkan 4 jam, yang biasanya saya lakukan hanya dengan makan bakso sendirian ( klo ke salon kelamaan mak, kilan keburu ngamuk kaya dinosaurus!! ) atau motormotoran aja deket rumah terus nongkrong makan gorengan dan seruput STMJ di warung atas. lumayan lah, walo pulang kembali dapet teriakan dinosaurs dari anak - anak, hehe.

Dan yang kedua, KANG IBING! why Kang ibing? percayalah mak, mendengar tausyiah almarhum Kang Ibing, dijamin seuserian teu eureun berikut hate jadi tiis, cukup lah buat nge-charge spiritual 80% buat kembali menghadapi auman dinosaurus anak-anak :P



Akhirnya bom waktu itu meledak!  Bom waktu yang isi nya frustasi, rasa lelah teramat sangat, stress, sedih berkepanjangan hingga muncul rasa kebas hati alias masa bodo sama lingkungan sekitar. Selama 6 tahun menikah dan 5 tahun ngurus anak, benteng pertahanan saya akhirnya runtuh. akhirnya saya berteriak dalam tangis tanpa suara dimalam hari ketika anak anak sudah tidur dan pak suami masih kerja, " SUDAH CUKUP! I CAN'T DO THIS ANYMORE!!! "

Well, 
Para ibu pasti pernah ngalamin hal seperti saya. menumpuk emosi yg jarang di utarakan karna lack of quality time dengan pak suami saking sibuknya ngurus anak dan urusan cari uang. Di tumpuk lah itu yang namanya emosi dan akhirnya? Duaaaarrrrrr! Meledak. Dan perasaan kaya gini tuh, bisa balik lagi, kaya boomerang. iiih, dasar onyon!! nyebelin kan ya sebetulnya. 

saya ingat, ketika hamil anak pertama rasanya senang luar biasa. Hamil yg diidam idamkan. tapi setelah baby lahir, saya syok, Oh ternyata having baby itu melelahkan ya, ga bisa kemana mana dan stuck sama rutinitas yang itu itu aja, this feelings makes me kena baby blues berbulan bulan. 

Waktu berlalu saya pun hamil anak kedua Tanpa di rencanakan karna lupa gak KB. Saya pun hamil dengan rasa stress dan panik. saya harus ngurus anak pertama sementara hamil anak kedua. Ini asli bikin syok dan stress. saya hamil ga happy. 

Jadi nya selama hamil saya mudah sakit dan masuk rumah Sakit 2x sampai di kira dokter mau ngelahirin prematur. Tapi tidak. Alhamdulillah. Setelah anak kedua lahir, ke panikan saya meningkat. Ngurus bayi juga balita!!!! Syok tingkat dewa mak!! Tanpa di bantu asisten rumah tangga, semua dikerjain sendiri. 

waktu bergulir setiap hari tanpa jeda dengan tutinitas yg sama dan menghadapi situasi yg sama, mandiin anak, nyuapin makan, nemenin main, ngadepin tantrum si cikal yg sulit makan dan klo ada mau nya semua serba pake nangis, juga menghadapi pertengkaran kakak adik rebutan maiman, belum Masak tiap hari, cuci piring, cuci baju, nyetrika malem malem karna klo siang di ganggu si bungsu, juga gadang ngerjain design ato kerjaan lain buat nambahin ekonomi keluarga. 

Tak ada waktu buat diri sendiri walau itu hanya sekedar mandi lebih lama 5 menit buat luluran, apalagi buat sekedar hang out sendirian selama 1 jam. 

Kenapa ga bagi tugas sama pak suamik?? ....tentu, kami bagi tugas, tapi saat saya benar - benar membutuhkannya, dia bukan tipe handy man yang biasa mengurus urusan pekerjaan rumah tangga, and its all right for me. its not about obligations or duty as wifeh/husband, it is what it is and its fine

The problem only is, i need me time. and i've ask to pak suamik kalo saya butuh me time, minimal 30 menit sendirian.... ke salon ato jalan jalan aja. 30 menit cukup lah untuk recharge, karna kalo lama lama pun tak bisa, si bungsu so attached to me, jadi ga bisa lama lama me time. and that's fine. 

the point is mak, 

i know sometimes its hard talk to your husband tentang apa yang kita inginkan, terkadang lebih baik diam menghindari argumen dan pertengkaran, tapi demi menjaga kewarasan pikiran emak dan juga anak anak, harus di bicarakan, soal me time dan bagi tugas, atau bahkan soal hal sepele tentang hubungan. walau dibarengin adu argumen, pertengkaran dan saling teriak, tapi abis itu baikan ya...hehehe 

karena, kalo beban pikiran emak sudah luluh... emosi terjaga dan emak bisa menjalani rutinitas sehari - hari dengan happy dan gak marah marah lagi, anak - anak juga happy. Bukankah cita - cita kita adalah mengasuh dan mendidik anak - anak kita biar jadi happy dan positife person? .... 

semoga terinspirasi ya mak :)

Ilustrasi Momshaming

Cara Menghadapi Mom Shaming. mom shaming dan baby shaming merupakan dua nama lain dari bullying yang terjadi dalam dunia parenting. Bullying dalam dunia parenting? memang ada ya? tentu saja ada. Tetapi karena perlakuan ini sudah terjadi sejak jaman nenek - moyang kita, maka sindiran dan nyinyir pada para ibu dan kondisi bayi ini tidak terasa seperti bullying. Padahal sesungguhnya dampak yang terjadi akibat mom shaming ini cukup berat.


Saya dan pengalaman di Bully


Pagi ini, tiba-tiba Kilan demam sementara keenan berdarah gusi nya. Hal ini memang kerap terjadi, dimana anak-anak sakit pada saat bersamaan. Jika ditelusuri, ada kemungkinan demam si bungsu karena tertular dari saya yang memang sudah sakit flu dan batuk sejak seminggu yang lalu. Sementara panas dalam Si Cikal bisa diakibatkan karena kurang minum air putih dan terlalu banyak mengkonsumsi minuman dingin dan snack. 


Padahal sesekali saya memberikan tambahan vitamin untuk mempertahankan daya tahan tubuh mereka. Tetapi, rupa nya pemberian vitamin ini tidak dapat melawan takdir kalau mereka harus sakit.


Memberikan paracetamol syrup adalah langkah pengobatan pertama saya. Selain itu saya juga melarang anak-anak mengkonsumsi minuman dingin, snack dan mie instan. Soal minuman dingin dan snack sih tidak masalah ya. Tetapi lain cerita dengan mie instan. 


Keenan sangat menyukai mie instan, saking sukanya dia hampir mengkonsumsi mie instan setiap hari. Tentu jenis mie instan yang saya berikan adalah mie instan seharga seribu rupiah dan terkenal dengan slogan tinggal seduh. Bukan soal hemat, tetapi tekstur mie nya tidak keras dan tidak menimbulkan efek sakit perut setelah mengkonsumsinya.


Jadi, seharian itu Keenan tantrum karena ingin makan mie instan. Tentu saja saya larang. Saya coba membujuk dengan jajan makanan lain dan saya ajak jalan-jalan. Tapi dia menolak dan tetap memaksa ingin mie instan. Awalnya saya masih bisa sabar dan menahan diri, tetapi karena Keenan sulit dirayu akhirnya saya berang juga. Saya kesal dan membentak Keenan. Hal yang paling membuat kesal adalah, Keenan rewel di depan teras rumah yang sudah pasti dilihat banyak orang yang lalu lalang. Sungguh membuat saya panik sekaligus malu. 


Dalam keadaan kakak tantrum, tiba tiba seorang  tetangga lewat dan bertanya,


"Kenapa anaknya Bu kok nangis ?" tanyanya, 

"Dia pengen mie instan"  jawab saya singkat sambil berharap si tetangga lantas pergi dan berlalu. Tapi ternyata si tetangga makin penasaran dan berkata,

"Kasih aja atuh daripada nangis " ucapnya. Sungguh saya makin kesal dibuatnya. Masalahnya, saya masih dalam keadaan jengkel dengan tantru, Keenan lalu tiba-tiba ada orang lain yang ikut campur.


Lantas dengan nada kesal saya berkata, 

“ Gak bisa Bu, anak saya lagi panas dalam. Kalau saya kasih bisa makin parah sakitnya “ 

" Oh, ya gpp kasih mie anaknya terus tinggal kasih cap kaki tiga aja atuh beres. Kasian kan anaknya nangis begitu, kalau saya sih gak tega bu. Udah kasih aja Bu daripada nangis terus!"

MASYAAAA ALLAAHH! KESEL ! 


Nah, kebayang kan situasi emak buibu? So imagined if it happen to you. Lagi rempong ngurusin dua anak yg lagi tantrum terus di recokin harus mengalah pada keinginan anak?? Yah bayangkanlah keselnya seperti apa. Hal ini malah membuat saya makin jengkel dan semakin membentak Keenan untuk berhenti rewel dan menuruti perintah saya. Manjur memang, seketika Keenan diam sambil menahan tangis. Tapi akibatnya, Keenan pasti merasa sakit dalam hati karena saya bentak! 


Definisi Mom Shaming


Cerita saya di atas merupakan salah satu contoh mom shaming yang ringan dari tindakan mom shaming. Sebetulnya apa sih definisi mom shaming?


Mom Shaming adalah tindakan yang dilakukan seseorang atau sekelompok untuk membuat malu seorang ibu atas pola pengasuhan terhadap anaknya seolah-olah pola pengasuhan pelaku mom shaming adalah pola pengasuhan yang lebih baik jika dibandingkan korban.


Mungkin kasus saya hanya kasus kecil, dimana saya direcokin tetangga yang tiba-tiba muncul ntah darimana trus ngasih wejangan sementara yang saya butuhkan adalah bantuan kecil gimana caranya menenangkan si kecil biar ga mau mie lagi. 


Masih ada kasus mom shaming lainnya yang lebih berat, seperti mengkritik cara memberikan ASI dan mengkritik cara mengasuh lainnya. Apa dampak mom shaming? dampaknya adalah psikologis para ibu terguncang dan mengalami mental breakdown.


Ibu yang mengalami mom shaming akan mengalami minder dan hilang kepercayaan diri. Ibu juga akan memiliki perasaan tidak layak menjadi seorang ibu karena secara terus menerus di kritik. Mom shaming dapat berakibat fatal jika terjadi pada ibu baru melahirkan. Jika ibu baru melahirkan terus menerus di cerca dengan kritikan dan saran yang tidak dibutuhkan seputar mengurus bayi, lambat laun hal ini dapat menyebabkan baby blues syndrome dimana ibu akan mengalami mental breakdown, hilang selera makan, sulit tidur dan merasa sedih berkepanjangan. Akibatnya, kesehatan fisik akan terganggu.


Cara Mengatasi Mom Shaming


Jika Bunda mengalami hal seperti saya dan mendapat sindiran, kritikan hingga nyinyiran terkait pola asuh kita, segeralah menghindar dan menjauh dari pelaku mom shaming. 


Bagaimana yang melakukannya ternyata ibu kandung atau ibu mertua kita sendiri? bersabarlah bun. Faktanya memang mereka memiliki pengalaman yang lebih soal mengurus, mengasuh dan mendidik anak. Walaupun ada kemungkinan metode mereka tidak akan sesuai  jika diterapkan pada zaman sekarang. Tetapi bukan berarti poin - poin penting terkait parenting hilang dan tidak bermanfaat sama sekali. Terkadang perkataan orang tua ada benarnya. Pilihlah saran yang memang sesuai dan jangan lakukan yang menurut kita tidak sesuai. 


Bukan hanya menjauhi pelaku mom shaming, Bunda juga perlu detox social media. Kecuali Bunda siap dengan kritikan peda para netizen. 


Pesan Untuk Pelaku Mom Shaming


Wahai yang hobi nya memberi saran tidak perlu dan selalu ingin ikut campur urusan pengasuhan orang lain, pahamilah bahwa terkadang yang dibutuhkan oleh para ibu baru bukanlah  nasihat atau wejangan melainkan dukungan berupa pelukan hangat, makanan yang enak, senyum yang tulus dan pertanyaan yang membuat beban di hati berkurang seperti, " Gimana perasaan kamu? are you okay?" hanya itu.


Biarlah para ibu belajar dengan sendirinya untuk menjadi ibu melalui proses. Walaupun para ibu baru akan kebingungan, para ibu pasti akan meminta bantuan dengan bertanya atau googling


Lantas bagaimana dengan diri sendiri? pernahkan tiba-tiba memberi saran tidak perlu kepada ibu baru? tiba-tiba menawarkan segudang ilmu parenting seakan kita ahlinya hanya karena sudah pengalaman lebih dulu? pasti pernah kan? belum pernah? yakin?


Coba deh evaluasi, ketika kita mengunjungi teman yang baru  melahirkan hal pertama yang kita lakukan adalah bertanya sederetan pertanyaan seperti, 


" Anaknya lahir normal atau cesar? udah bisa nyusu? udah bisa jalan? nanti kalo udah waktunya mpasi kasih ini ya... kasih itu ya dan bla bla bla.... "

Pasti pernah kan? saya pernah lho! hehe. Mulai sekarang yuk berhenti menjadi mom shammer dan dukun para ibu baru dengan memberikan kenyamanan dan bukan pertanyaan mengkritik atau sindiran.

Tetapi karena perlakuan ini sudah terjadi sejak jaman nenek - moyang kita, maka sindiran dan nyinyir pada para ibu dan kondisi bayi ini tidak terasa seperti bullying. Padahal sesungguhnya dampak yang terjadi akibat mom shaming ini cukup berat.


Saya dan pengalaman di Bully


Pagi ini, tiba-tiba Kilan demam sementara keenan berdarah gusi nya. Hal ini memang kerap terjadi, dimana anak-anak sakit pada saat bersamaan. Jika ditelusuri, ada kemungkinan demam si bungsu karena tertular dari saya yang memang sudah sakit flu dan batuk sejak seminggu yang lalu. Sementara panas dalam Si Cikal bisa diakibatkan karena kurang minum air putih dan terlalu banyak mengkonsumsi minuman dingin dan snack. 


Padahal sesekali saya memberikan tambahan vitamin untuk mempertahankan daya tahan tubuh mereka. Tetapi, rupa nya pemberian vitamin ini tidak dapat melawan takdir kalau mereka harus sakit.


Memberikan paracetamol syrup adalah langkah pengobatan pertama saya. Selain itu saya juga melarang anak-anak mengkonsumsi minuman dingin, snack dan mie instan. Soal minuman dingin dan snack sih tidak masalah ya. Tetapi lain cerita dengan mie instan. 


Keenan sangat menyukai mie instan, saking sukanya dia hampir mengkonsumsi mie instan setiap hari. Tentu jenis mie instan yang saya berikan adalah mie instan seharga seribu rupiah dan terkenal dengan slogan tinggal seduh. Bukan soal hemat, tetapi tekstur mie nya tidak keras dan tidak menimbulkan efek sakit perut setelah mengkonsumsinya.


Jadi, seharian itu Keenan tantrum karena ingin makan mie instan. Tentu saja saya larang. Saya coba membujuk dengan jajan makanan lain dan saya ajak jalan-jalan. Tapi dia menolak dan tetap memaksa ingin mie instan. Awalnya saya masih bisa sabar dan menahan diri, tetapi karena Keenan sulit dirayu akhirnya saya berang juga. Saya kesal dan membentak Keenan. Hal yang paling membuat kesal adalah, Keenan rewel di depan teras rumah yang sudah pasti dilihat banyak orang yang lalu lalang. Sungguh membuat saya panik sekaligus malu. 


Dalam keadaan kakak tantrum, tiba tiba seorang  tetangga lewat dan bertanya,


"Kenapa anaknya Bu kok nangis ?" tanyanya, 

"Dia pengen mie instan"  jawab saya singkat sambil berharap si tetangga lantas pergi dan berlalu. Tapi ternyata si tetangga makin penasaran dan berkata,

"Kasih aja atuh daripada nangis " ucapnya. Sungguh saya makin kesal dibuatnya. Masalahnya, saya masih dalam keadaan jengkel dengan tantru, Keenan lalu tiba-tiba ada orang lain yang ikut campur.


Lantas dengan nada kesal saya berkata, 

“ Gak bisa Bu, anak saya lagi panas dalam. Kalau saya kasih bisa makin parah sakitnya “ 

" Oh, ya gpp kasih mie anaknya terus tinggal kasih cap kaki tiga aja atuh beres. Kasian kan anaknya nangis begitu, kalau saya sih gak tega bu. Udah kasih aja Bu daripada nangis terus!"

MASYAAAA ALLAAHH! KESEL ! 


Nah, kebayang kan situasi emak buibu? So imagined if it happen to you. Lagi rempong ngurusin dua anak yg lagi tantrum terus di recokin harus mengalah pada keinginan anak?? Yah bayangkanlah keselnya seperti apa. Hal ini malah membuat saya makin jengkel dan semakin membentak Keenan untuk berhenti rewel dan menuruti perintah saya. Manjur memang, seketika Keenan diam sambil menahan tangis. Tapi akibatnya, Keenan pasti merasa sakit dalam hati karena saya bentak! 


Definisi Mom Shaming


Cerita saya di atas merupakan salah satu contoh mom shaming yang ringan dari tindakan mom shaming. Sebetulnya apa sih definisi mom shaming?


Mom Shaming adalah tindakan yang dilakukan seseorang atau sekelompok untuk membuat malu seorang ibu atas pola pengasuhan terhadap anaknya seolah-olah pola pengasuhan pelaku mom shaming adalah pola pengasuhan yang lebih baik jika dibandingkan korban.


Mungkin kasus saya hanya kasus kecil, dimana saya direcokin tetangga yang tiba-tiba muncul ntah darimana trus ngasih wejangan sementara yang saya butuhkan adalah bantuan kecil gimana caranya menenangkan si kecil biar ga mau mie lagi. 


Masih ada kasus mom shaming lainnya yang lebih berat, seperti mengkritik cara memberikan ASI dan mengkritik cara mengasuh lainnya. Apa dampak mom shaming? dampaknya adalah psikologis para ibu terguncang dan mengalami mental breakdown.


Ibu yang mengalami mom shaming akan mengalami minder dan hilang kepercayaan diri. Ibu juga akan memiliki perasaan tidak layak menjadi seorang ibu karena secara terus menerus di kritik. Mom shaming dapat berakibat fatal jika terjadi pada ibu baru melahirkan. Jika ibu baru melahirkan terus menerus di cerca dengan kritikan dan saran yang tidak dibutuhkan seputar mengurus bayi, lambat laun hal ini dapat menyebabkan baby blues syndrome dimana ibu akan mengalami mental breakdown, hilang selera makan, sulit tidur dan merasa sedih berkepanjangan. Akibatnya, kesehatan fisik akan terganggu.


Cara Mengatasi Mom Shaming


Jika Bunda mengalami hal seperti saya dan mendapat sindiran, kritikan hingga nyinyiran terkait pola asuh kita, segeralah menghindar dan menjauh dari pelaku mom shaming. 


Bagaimana yang melakukannya ternyata ibu kandung atau ibu mertua kita sendiri? bersabarlah bun. Faktanya memang mereka memiliki pengalaman yang lebih soal mengurus, mengasuh dan mendidik anak. Walaupun ada kemungkinan metode mereka tidak akan sesuai  jika diterapkan pada zaman sekarang. Tetapi bukan berarti poin - poin penting terkait parenting hilang dan tidak bermanfaat sama sekali. Terkadang perkataan orang tua ada benarnya. Pilihlah saran yang memang sesuai dan jangan lakukan yang menurut kita tidak sesuai. 


Bukan hanya menjauhi pelaku mom shaming, Bunda juga perlu detox social media. Kecuali Bunda siap dengan kritikan peda para netizen. 


Pesan Untuk Pelaku Mom Shaming


Wahai yang hobi nya memberi saran tidak perlu dan selalu ingin ikut campur urusan pengasuhan orang lain, pahamilah bahwa terkadang yang dibutuhkan oleh para ibu baru bukanlah  nasihat atau wejangan melainkan dukungan berupa pelukan hangat, makanan yang enak, senyum yang tulus dan pertanyaan yang membuat beban di hati berkurang seperti, " Gimana perasaan kamu? are you okay?" hanya itu.


Biarlah para ibu belajar dengan sendirinya untuk menjadi ibu melalui proses. Walaupun para ibu baru akan kebingungan, para ibu pasti akan meminta bantuan dengan bertanya atau googling


Lantas bagaimana dengan diri sendiri? pernahkan tiba-tiba memberi saran tidak perlu kepada ibu baru? tiba-tiba menawarkan segudang ilmu parenting seakan kita ahlinya hanya karena sudah pengalaman lebih dulu? pasti pernah kan? belum pernah? yakin?


Coba deh evaluasi, ketika kita mengunjungi teman yang baru  melahirkan hal pertama yang kita lakukan adalah bertanya sederetan pertanyaan seperti, 


" Anaknya lahir normal atau cesar? udah bisa nyusu? udah bisa jalan? nanti kalo udah waktunya mpasi kasih ini ya... kasih itu ya dan bla bla bla.... "


Pasti pernah kan? saya pernah lho! hehe. Mulai sekarang yuk berhenti menjadi mom shammer dan dukun para ibu baru dengan memberikan kenyamanan dan bukan pertanyaan mengkritik atau sindiran.