Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Hari ini adalah hari ke 69 sejak pandemi covid19 merebak dengan cepat di indonesia.
Saya sempat berharap hal yang sama dengan mungkin ribuan masyarakat muslim se-indonesia begitu hawa-hawa Ramadhan mau tiba, si covid udah pergi. tapi nyata-nya, ramadhan kali ini sungguh menjadi ramadhan paling berbeda sepanjang sejarah Ramadhan di indonesia.

Tanpa dibangunin sama teriak "sahuuuur-sahuuuurr" sama anak-anak dan petugas ronda keliling, tanpa tarawih, tanpa nga-buburit , tanpa petasan dan kembang api , tanpa takbir keliling, tanpa bukber antar grup di WA, tanpa silaturahmi antar rumah/saudara dan mungkin tanpa beli baju lebaran, solat Ied dan Mudik.

Ramadhan kali ini, saya malah di kasih tugas lebih sama Allah SWT. berbakti pada ibu.
puasa hari pertama kami kedatangan tamu istimewa, ibu . beliau sakit dan ingin saya yang mengurus beliau. tentu saya senang, anak-anak juga senang.

Ibu , sering ngeluh sakit dada kiri hingga menusuk punggung sejak 2 minggu kebelakang. udah makan paracetamol, asam mefenamat, di kasih freshcare, balsem, pijit, urut..... gak ngaruh. sakitnya gak ilang-ilang. jadi, besoknya saya antar ibu ke dokter langganan . kata dokter, ibu asam lambung. tapi kalo sakitnya masih ada, langsung ke dokter praktek/klinik yang ada dokter jantungnya atau internist.

Setelah 3 hari, Ternyata, sakitnya masih ada malah makin menjadi, lalu saya bawa ke dokter internist di daerah antapani, namanya Klinik Tongkonan atas saran ibu mertua karena dulu ayah mertua pernah berobat disana dan sembuh. ini menjadi perjalanan terjauhku dimasa pandemi. agak was-was dan parno, gimana kalo dijalan atau di klinik terpapar covid? tidak ada cara lain untuk menghentikan panik dan parno kecuali memberanikan diri, demi kesembuhan ibu. berbekal hand sanitizer buatan sendiri, tisu basah antiseptik, sarung tangan kain, sepatu dan kaos kaki lengkap beserta jaket dan tentu masker baru cuci.... kami berangkat pake GRAB PROTECT. agak mahal sih, tapi demi rasa aman dan nyaman berkendara, hayu ajah lah.











Klinik Tongkonan ini katanya banyak yang sembuh, kliniknya sederhana dan tempatnya kaya rumah tahun 90-an, lebih mirip tempat dokter praktek pribadi sih dibanding klinik. petugasnya cuman ada 2, ditambah dokter 1 dan petugas apotek 2 orang. Setelah sampai, langsung daftar dan di tes suhu dulu, dicatet nama+alamat dan keluhan, ditanya ada demam/batuk/pilek atau gak. lalu nunggu sekitar 30 menit baru dipanggil. dokter internist nya laki-laki, ibu agak kagok dan kurang nyaman. tapi gpp lah lanjut aja.

Begitu nama ibu dipanggil, saya langsung masuk ruangan dokter yang pintunya gak boleh ditutup dan harus jaga jarak. yo wes, gpp itu kan aturannya. dokter nanya ibu ada demam atau bapil, ibu jawab gak ada. terus di raba punggung pake stetoskop dan di suruh nafas. gak ada keluhan sesek nafas atau sakit di perut. jadi gak perlu USG abdomen. nge-ceknya sebentar banget. dokternya ngomong gak sambil duduk layaknya konsultasi dokter-pasien, tapi berdiri dengan jarak cukup jauh. 


karena dokternya pake masker dan face-shield ditambah logat bahasa sebrang yang kental dan suara yang pelan, aku gak bisa dengar apa kata dokter, apalagi ibu yang pendengarannya memang sudah berkurang karena faktor usia. jadi wajar kalo saya berjalan mendekati si dokter, tapi baru maju dua langkah, si dokter teriak dengan tegas, 

" EH!!! JANGAN MENDEKAT. CUKUP DISANA AJA!!" aduh Gusti! 

Saya mau tanya ibu kira-kira sakit apa dan kenapa, jawabannya gak jelas dan bikin bingung. akhirnya komunikasi kami banyak di selipi kata, "apa dok? gimana? " sambil saling teriak. si dokter cuman bilang, " ada kemungkinan cereda otot atau radang selaput paru. perlu di rontgen thorax dan ekg. saya kasih surat pengantar ke rumah sakit buat rontgen " terus kami di suruh cepet-cepet keluar ruangan.

Aduh gusti!!! takut sama pandemi kok gini-gini amat ya. Dokter Tongkonan kasih ibu obat penahan nyeri, antibiotik, obat maagh dan obat radang untuk 5 hari. setelah obat habis, sakitnya masih ajah ada. bingung kan kami.

Lalu , setelah gugling nyari Lab mandiri di daerah deket rumah, saya nemu Lab klinik Kimia Farma. saya bilang ke ibu kalo mendingan rontgen disana aja, mengingat kami berdua sebisa mungkin menghindari ke rumah sakit karena kami yakin semua rumah sakit fokusnya ke penanganan covid. jadi yah, was-was juga kalo pergi kesono. jadi, saya bawa ibu ke Lab kimia farma. 


Lab nya bersih, terlihat steril, tempat duduknya di kasih label jaga jarak pembatas buat duduk. yang saya suka di sana adalah petugasnya sangat ramah dan baik, dan gak keliatan ketakutan atau parno gitu nanganin customer yang mau cek Lab. semua pertanyaan dari saya dan ibu dijawab dengan tenang, sabar dan detail.

Lalu, kami memutuskan untuk konsultasi dengan dokter penyakit dalam di klinik Kimia Farma saja, mengingat adminnya baik dan ramah, dokternya juga pasti gitu. ditambah dokternya perempuan, maaf ya bukan rasis gender, tapi ini menyangkut kenyamanan.










Hasil rontgen thorax dan ekg baru bisa diambil esok hari dan dokter penyakit dalamnya juga baru buka praktek jam 7 malam. Jadi yah, kami menunggu. Abis solat subuh saya ga tidur. Tapi beberes rumah, nyuci baju dan nyiapin buat buka puasa biar nanti berangkat semua urusan domestik udah beres.

Pak suamik bersedia ambil hasil lab sebelum belanja buat dagang pagi hari. Kalo saya yg ambil duuhh rempong anak anak pasti mau ikut. Kan ga boleh karena lagi pspb. Setelah saya liat hasil rontgen thorax, di sana ada laporan hasil analisa nya. Tertulis kesimpulannya adalah BRONKITIS. wah, kami kaget. Kami jadi berkesimpulan wajar kalo ibu kena bronkitis karena suka mandi pake air dingin sebelum solat subuh sehabis beberes rumah dan berkeringat. Juga suka tidur pake kasur tipis depan tv. Tapi, kami juga was was ibu kena covid. Karena covid menyerang saluran pernafasan kan? Kami berdua jadi parno dan stress mikirin itu.

Abis buka puasa, solat magrib terus dzikir. Berdoa minta ke Allah supaya dokternya ramah dan ga kaya yg ketakutan gitu terus mencurigai kami sebagai suspect covid. Sambil berangkat mendendap ngendap menghindari para bocah yg anteng main sama sepupunya, ibu dan saya berangkat sambil pesen babang GRAB protect di jalan.

Sebelumnya saya udah telpon apotek buat daftar ke dokter internist, jadi begitu sampai cukup bilang mau berobat dan udah daftar ibu dapet no antrian 3, alhamdulillah ga terlalu antri lah. Admin nya baik dan ramah. Ibu di tensi dulu dan timbang BB juga cek suhu dan ditanya ada demam atau bapil. Mereka tetap waspada, tapi gak kaya yg ketakutan atau terlalu jaga jarak gitu. Mereka tetap melayani dengan ramah. Abis itu, kami nunggu sekitar 30 menit sampai bu dokternya datang dan 20 menit sampai nama ibu dipanggil bu dokter.

Begitu masuk ruangan dokter, kami disambut sama senyum ramah dokter dibalik masker dan kaca matanya dan ucapan, " iya ibu, ada keluhan apa"... Lalu kami cerita bla bla gejala sakit ibu dan udah berobat kemana aja sambil serahin hasil rontgen dan ekg. Lalu ibu diperiksa badan di kasur pasien. Begitu bu dokter liat di punggung ibu ada semacam bintik merah mengumpul dan kaya yg udah pecah, dengan tenang bu dokter bilang,
" ooohhh ini mah herpes bu. Tenang aja. Ga berbahaya kok bu" sontak kami berdua lega! Nuhun gusti.

Abis itu, bu dokter nyuruh saya liat bukti ibu kena herpes tanpa ragu atau nyuruh saya jaga jarak dengan beliau terus jelasin kenapa ibu bisa kena herpes dan bilang ibu harus sabar karena si herpes udah diem di syaraf dan bikin sakit tulang dan syaraf. Makanya sakitnya gak ilang ilang dan bakalan lama proses ilangnya. Bu dokter juga jelasin ngasih obat apa aja dan apa yg dipantrang.

Terus aku tanya, kenapa hasil rontgen nya bronkitis, terus bu dokter bilang gak bronkitis, itu hanya asumsi. Karena ibu ga ada demam batuk pilek atau sesak nafas.

Alhamdulillah. Kami bersyukur, sakit ibu ga se parah yg kami khawatirkan. Sekarang ibu hanya perlu banyak bersabar menahan sakit.

Jadi, apa hubungannya semua ini ?

Di masa pandemi Covid19 ini, memang perlu selalu waspada dan hati-hati dalam berinteraksi. Jarak jarak dan pembatasan juga perlu, tapi jangan sampai hal itu juga membatasi nilai kemanusiaan dan mencurigai semua orang sebagai suspect. 

Yang jahat itu menurutku bukan virus corona, tapi nilai kemanusiaan yang diinjak - injak, keserakahan dan keegoisan kita para manusia. saya jadi berfikir, Mungkin Corona Ada Supaya Manusia Lebih Peduli .


Hal inilah yang jadi alasan kenapa ibu memilih berobat ke dokter di Kimia Farma. Kami ga rasis soal fasilitas klinik ya. Tapi, pelayanan yang ramah dan penjelasan yang detail lah yang bikin kami nyaman berobat disana, karena soal harga mah sama aja. Sama mahal nya kok. Hehehe

Hal ini juga berlaku untuk setiap aspek komunikasi di setiap kegiatan yg kita lakukan, semisal belanja ke warung. Jaga jarak perlu tapi mati nilai kemanusiaan jangan atuh lah. Selalu pakai masker, cuci tangan abis dari luar, ganti semua baju abis berangkat jauh dan selalu sedia hand sanitzer di ikuti doa terus, adalah solusi mengatasi rasa takut dan parno.

Akhirnya, saya bisa mengatasi parno saya sendiri karena pandemi ini.


Menjaga mood untuk bisa ceria dan hati senang selama masa pandemi corona ini, bisa dibilang agak susah. Walau diam dirumah adalah hobi saya sedari dulu, tapi lain dulu lain sekarang. Dulu sih, saya masih berkutat sama diri sendiri aja, sekarang, diam dirumah seharian selama 46 hari adalah sebuah stress baru. Karena setiap hari bergelut dengan irama parenting yang sama, kebosanan dan kejenuhan yang sama dan bergelut dengan persoalan ekonomi yang sama.

Pandemi ini, adalah wajah perang baru.

Dulu mungkin was-was berada dalam situasi perang. Was-was tiba-tiba ada peluru nyasar ntah darimana dan berakhirlah sudah. Sekarang “peluru”nya gak keliatan. Rasanya jadi seperti bohongan tapi nyata. Panic attack adalah level pertama memasuki susana perang pandemi ini. Tiba-tiba diri merasa kena serangan covid begitu si tenggorokan kerasa gatel, batuk dan dada agak sesak. Padahal, bukan covid, tapi panic attack. Dan saya yakin, sympton seperti ini dirasakan hampir semua orang. Batuk dikit langsung mikirin hidup.

Babak demi babak episode kepanikan juga saya rasakan selama 46 hari ini, hingga hari ini.

Babak pertama, 
Hari minggu, 30 maret 2020 adalah hari ke 36 masa lockdown pandemi covid, dimana anak-anak saya tiba-tiba demam parah. Tanpa batuk atau pilek. Anak pertama sama bahkan demamnya bikin dia halu dan rewel level 10. Demam berlanjut sampai 3 hari, si kecil malah abis turun demam naik lagi. Mau gak stress gimana? Padahal saya baru aja agak sembuh dari pilek dan batuk berkepanjangan. Saya juga parno takut batuk pilek lagi. 

Alhamdulillah setelah ikhtiar balur bawang merah sampai 3x dalam satu malam dan gak berhenti mulut komat kamit baca doa beserta dzikir dan wirid dilengkapi tahajud dan deraian air mata memohon dan memelas pada Sang Maha kuasa agar anak-anak sembuh, esoknya si sulung muntah dan mencret keluar, setelah itu mereka pulih dengan cepat. Rupa-rupanya mereka masuk angin karena terlalu heboh sabtu 5 april 2020 main di teras rumah sementara diluar cuaca hujan deras.

Hal ini berlanjut pada, punggung dan perut saya kram dan saya agak meriang. Parno saya kembali muncul. Saya tersiksa sangat dengan sakit ini. Pak suami gak henti mijit saya tapi si sakit gak kunjung hilang. Akhirnya, saya menyerah pada asam mefenamat, karena paracetamol udah gak mempan. Sembari tiduran dibarengi dzikir, rasa sakit berangsur hilang. Cemas saya hilang begitu juga si sakit.

Babak kedua, 
Tiba-tiba PC komputer rusak. Gak bisa internet-an. Saya bad mood bukan main. Karena kami tak punya TV, Anak-anak gak punya hiburan lain dan kadang mereka bosan main dirumah walau mereka main sampai bikin rumah kaya kapal pecah. Mereka merajuk terus pengen nonton youtube dan rewel terus , tentu hal ini bikin Pertengkaran adik-kakak menjadi hal yang tidak bisa dihindari sedari bangun tidur sampai kembali tidur. Saya lelah luar biasa. 

Solusinya mudah sebetulnya, tinggal install ulang. Masalahnya, semua tukang install tutup karena masa lockdown. Alhamdulillah, jumat 10 april 2020 si aa install deket rumah akhirnya buka. Saya serahkan si pc buat di install ulang. Dan kehidupan kami, kembali ceria,

Tapi,  gak lama kemudian tiba-tiba si PC kembali bermasalah, tiap masuk internet loadingnya lama dan malah bikin pc lemot. Saya coba utak atik dari pagi sampai malem tapi gak ada hasilnya. Akhirnya saya nyerah dan watsap si aa install kemarin. Dia kasih saran, coba cek hardisk pake HDD generator. Donlot aja . lha, si aa ini kumaha sih, mau donlot kumaha kan pc nya juga gak bisa internetan atuh? Saya gemes bukan main. 

Akhirnya, saya donlot itu software lewat hp suami saya, karena saya gak punya hp udah hampir sebulan lebih karena rusak kebanting si bungsu. Dan, berhasil. Saya langsung install di pc dan jalanin itu HDD generator. Prosesnya lama, makan waktu sampai 5 jam. Dan hasilnya? Alhamdulillah bisa internetan lagi dan nonton drakor lagi, juga setor tulisan di 1minggu1cerita setelah bolos 2x setor. Ya Tuhan, kenapa gak dari awal rusak aja saya watsap si aa install ya? Geleng-geleng kepala saya. Mungkin otak saya bener-bener udah freeze mikir sampai-sampai yang muncul duluan adalah panik.

Lalu sekarang gimana?

Setelah 46 hari masa lockdown, jumlah positif covid se-indonesia mencapai 5.516 orang , sembuh 548 orang, meninggal 496 orang.

Liat angka nya, memang bukan main-main. Awalnya saya nyalahin jokowi yang kurang gercep nanganin pandemi di awal wabah mulai terjadi di wuhan, tapi sekarang liat gerak pemerintah dan tim medis, saya gak bisa nyalahin pemerintah sepenuhnya, karena negera kita gak punya dana dan tenaga yang banyak. Sementara indonesia ini kan wilayahnya berpulau-pulau, beda dengan cina yang satu wilayah solid, mobilisasinya mudah. Lha kita, agak sulit karena berpulau. belum ditambah masyarakatnya yang ngeyel dan banyak ngurusin masalah yang gak perlu.

Satu hal yang mungkin bisa memunculkan harapan di hati saya adalah senyum tawa si bungsu yang selalu bertanya, “ si korona teh lagi dimana sekarang mah? Kok belum ilang-ilang juga sih? Cepet pergi atuhlah, kilan pengen momotoran lagi”. Itu harapan si bungsu yang juga menjadi harapan saya. Semoga wabah ini cepat berlalu.

memang, stimulus untuk membangun mood dan rasa "bahagia" itu perlu. jika tidak, akan seperti saya yang mulai hilang harapan.

tapi, sekali ini sebelum setor tulisan, saya buka profil IG influencer paporit saya, semua postingan dia positif. kalo orang lain masih bisa semangat dan berfikiran positif kenapa saya gak sih? gemes deh sama diri sendiri. apakah ini masa nya memang saya lagi down dan butuh me time tapi gak bisa karena lagi pandemi? hiks

terus, saya blogwalking sesama bloger.... kontenya positif semua, saya ngerasa hanya saya aja nih yang "ngeluh". ini bikin saya makin jatuh dalam rasa malu.

salah satu, sahabat saya sesama blogger dalam artikelnya 8 Tips Agar Emak Tetap ‘Waras’ Saat Pandemi berkata, " banyak bersyukur, tidak mengeluh, tetep produktif dan bantu sesama", duh saya makin anjlok merasa malu. saya lupa bersyukur.

ah, semoga besok semangat saya bisa kembali ON, mungkin zumba pake lagu kpop di komputer bisa bikin saya semangat lagi, walau tiap zumba pasti di "mandorin" si bungsu sambil teriak,

" mamaahhhh udah belum jumbanyaahh? aku pengen nonton si booba!!!!!" hehehehehe


Hari ini adalah hari ke-29 akhirnya virus corona mulai mewabah di seantaro indonesia. sampai hari ini, udah 1155 jiwa positif corona, 59 dinyatakan sembuh tapi memakan 102 korban jiwa!!! gue beneran sedih, parno dan was-was. beneran.

Di wuhan sendiri padahal udah mulai dari bulan november 2019 dan sekarang mulai pulih.sementara negara lain udah langsung prevent sejak virus di wuhan merebak. lha kita mah nyantei aja, banyak pihak berujar, termasuk kemenkes sendiri, bilang kalo indonesia-mah moal ka-asupan corona, tenang we, nyatanya sekarang, yah we know it ya, sekarang jadi kebablasan.

Situasi udah kaya perang. sejak tanggal 15 maret 2020 sekolah di"home-schooling"kan. semua pembalajaran udah kaya kulwapp aja deh. untung udah pengalaman ikut kulwapp jadi ga grogi. 

PNS udah pasti work from home alias gawe dirumah aja, sebagian pegawai swasta juga. mereka sih enak ya, work from home tapi gaji mah tetep we ngalir, lha kita, para pencari nafkah di garda depan, alias pecari nafkah di pinggir jalan, termasuk pihak paling pertama kena imbas efek samping corona, dagangan sepi kaya kuburan. akhirnya, kami memilih stop dagang karna dagangpun percuma, yang lewat lalat. jangan tanya soal tabungan, jelas gak ada, karna namaya juga gajih harian, ya abis sama kebutuhan harian. masih syukur alhamdulillah sih, kami masih punya usaha lain agar supaya kami masih bisa bertahan di masa lockdown ini, tapi bagi mereka yang andalannya hanya jualan kaki lima, tiap hari tetep usaha dagang walau hanya bawa duit yang ntah cukup atau tidak buat makan. gak peduli soal corona karna kalo gak dagang-pun nyawa tetep taruhannya. 

Lantas patutkan kami salahkan jokowi sebagai pemimpin nomer wahid negeri ini? sekali-kali boleh ya, kami gemesss pak'de kok telat pisan sih penangannya? kenapa waktu wuhan merebak sampeyan gak langsung prevent sih? udah tau ini pandemi mudah nular secepat the flash tapi kenapa gak tutup bertahap bandara, pelabuhan dan semua aktivitas ekonomi yang bersifat ekspor-impor? kenapa gak nahan warga +62 yang keukeuh pengen holiday atau gawe ke luar negeri? eh malah jor-jor-an ngeluarin duit miliaran buat support pariwisata ditengah pandemi corona di seluruh dunia? malah ngasih diskon!!!! luar biasa!!! biar apa coba? biar ekonomi kita ga ambruk? tapi liat imbas nya sekarang pak'de, you juga yang lieur kan? ( sumber info : cara pemerintah ngadepin pandemi corona awal tahun 2020 ) padahal WHO udah wanti-wanti, JANGAN MERASA GAGAH SENDIRI KALO NEGARA YOU GAK BAKALAN KENA CORONA! sekarang kebukti kan?

Tapi ya, sudahlah, toh udah kejadian.

Setelah melewati 29 hari, kinerja pemerinta memang digenjot abis-abis-an. semua pihak sekarang digiring buat me-nomer-satu kan penanganan virus corona. banyak pihak medis yang juga jadi korban covid19 atau meninggal karena kelelahan. banyak orang semacam dr Tirta yang lagi hive karena aksi solideritas dan derwamawannya yang akhirnya juga tumbang karena super exhausted gue suka beliau karena tegas dan blak-blak-an, gue suka waktu dia akhirnya marah dan kesel sama lambatnya kinerja pemerintah juga kesel sama pemerintah yang gak juga memberlakukan LOCKDOWN area ditambah kesel sama pernyataan jubir kemenkes, yang bilang terang-terangan kalo "yang kaya bantu yang miskin yang miskin bantu untuk tidak menularkan penyakitnya", hellooowwww!!! maksud L? jadi si miskin tuh biang keladi penyebar virus gituh? duh pak, klo bicara itu di filter dulu atuh pak!!! jangankan dr Tirta, gue aja marah banget!!!!

Gue juga kesel, kelurahan di wilayah rumah gue lambatnya bukan main! semprot desinfektan jalan raya baru dikerjain minggu ini, setelah mau nyampe 4 minggu! juga semprot di gang-gang, itu pun bukan foging, cuman pake sprayer pestisida yang jangkauannya cuman se-uprit. dari awal corona masuk indon, gue udah bikin masker sendiri dan hand sanitizer sendiri, karena abis dimana-mana. termasuk bikin desinfektan sendiri buat sekitaran rumah aja. setelah gue bikin, itu bahannya gampang kok, dimana-mana banyak tutorial bikinnya. cari bahannya juga gampang. kan jokowi udah bilang, hentikan semua pengeluaran yang kurang penting dan alokasikan segera buat penanganan virus corona di wilayah masing-masing! bisa kan inisiatif bikin sendiri atuh pak lurah????? iiiih super gemes gueee!!!

sebetulnya yang paling bikin gue marah adalah KELAKUAN WARGA +62 yang masih ngeyel aja ditengah pandemi begini masih keluyuran dan nongkrong! juga warga yang ngeyel tetep solat jumat dan pengajian, belum termasuk musyawarah-musyawarah dan acara-acara keagamaan di masjid atau tempat seminar! halo warga yang budiman, kalo ini cuman penyakit yang bikin you mati sendiri sih gpp, tapi ini kan nular nya cepet bambang!!!!! masih keukeuh aja bilang, " tong sieun ku korona, sieun mah ka gusti alloh! paeh mah urusan alloh tong nepi keun ka ibadah stop!" ya iyalah itu juge gue tau bambang! tapi kalo kita cuek bebek gak prevent gak stay at home terus masih aja "jihad" kesana kesini sambil nyebarin virus apa itu namanya bukan dzalim?? jatohnya dosa juga kan bambang? percuma ente ibadah diluar juga, nilainya nol!!! ibadah kan bisa di rumah juga. nabi aja nyuruh di rumah aja solatnya kalo ujan gede, apalagi ini VIRUS MEWABAH! iiiih kesel gue!!!! 

oke! beneran cukup!
Urusan gimana caranya pemerintah menangani virus corona ini akhirnya gue serahin aja sama Gusti Allah, pasrah aja. gue cuman bisa bantu do'a dan stay at home, karena gak punya super power kaya dr Tirta, walo inginnya begitu. 

Gue fokus sama keluarga kecil gue yang ditengah pandemi begini, malah sakit sekeluarga. bikin parno, mana gejalanya sama kaya gejala corona. batuk, pilek, meler, pusing, idung mampet, susah nafas, demam! gadang udah pasti, bolak balik doker gantian udah pasti. akhirnya kembali, pasrah dan banyak berdo'a jadi senjata utama. setelah seminggu, alhamdulillah satu per satu sembuh, walo ada sisa batuk dikit dan ingus kadang keluar dikit. tinggal si gue nih yang berada di tahap akhir penyembuhan. karena jadi perawat di rumah satu-satunya, gue juga akirnya tumbang. untungnya gak demam, cuman meriang. yang gak kuat adalah sakit usus dan punggungnya itu. akibat begadang dan gendong si bungsu siang-malam. asam mefenamat penyelamat. seperti biasa. 

Entah kapan virus ini mereda. memang akan mereda, karena corona termasuk virus yang self limited alias akan berlalu sendiri. tapi harus waspada dan cepet penanganannya karena sifat mudah menyebar dan mematikannya itu. kembali lagi, si kami untuk sekarang hanya bisa pasrah dan berdoa. semoga badai cepat berlalu. semoga tim medis pada kuat-kuat, semoga pemerintah bisa serba cepat dan potong semua birokrasi, semoga para warga nurut buat ngajedog di imah dan semoga para artis yang kaya raya berkat jadi yutuber mau jadi kaya dr Tirta , semua saling bantu. biar tiap hari gue buka twitter isinya bukan tentang naiknya angka korban terjangkit dan yang meninggal, tapi naiknya yang sembuh dan berkurangnya yang meninggal!!!











Pada suatu hari,
Saat saya bersandar di tembok dapur sambil nunggu kuluban ayam ungkeb matang, saya kok merasakan ada yang beda dengan bagian pinggang saya. Rasanya ada yang menonjol dan rasanya tidak nyaman. ternyata oh ternyata, itu tambahan lemak baru di pinggang!!!

Pada suatu hari yang lain lagi,
Saat saya mau antar keenan sekolah,  saya udah siapin baju tunik denim paporit saya buat dipake hari itu. Lalu saya pakai dan saya terkejut! Baju nya udah gak muat lagi! Alias seureug marisol!!

Pada suatu hari jadwal KB, saya kembali SHOCK! Setelah bidan menyuruh saya timbang BB, saya mendapati angka yang mengejutkan, 65 Kg!!!! MasyaAllah!!! Dalam waktu 10 Bulan sejak terakhir saya diet, BB saya naik 10 kg!!!




Sepertinya saya harus kembali diet, bukan hanya untuk mengambalikan kepercayaan diri , tetapi juga biar gak nge-modal lagi beli baju baru karna sekarang ukuran baju saya L menuju XL!!!!

Setelah evaluasi diri sambil nangis- nangis bombay menyadari betapa gemuknya saya sekarang, saya mendapati alasan mengapa saya menjadi gemuk,

1.  Stress  tapi bahagia
Nah lho! Kok bisa? Iya lah, saya memang stress dengan banyak hal, mulai dari adaptasi perkembangan anak yang mulai sekolah dengan segala kerempongan-nya, juga stress karna usaha saya lagi mandeg juga stress-stress yang lain. Tetapi, walau saya stress, saya bahagia. Mengapa? Karena saya akhirnya bisa menerapkan kalimat, “ Belajar masa bodo!”. Ya! Saya biarkan stress menggerogoti seluruh pikiran saya tapi tidak dengan emosi saya. Saya tetap kalem, santay dan gak banyak murung. Saya nikmati dan enjoy aja, hasilnya, saya jadi banyak makan dan jajan di luar kebiasaan saya. Sehari saya bisa makan 4-5 kali dengan sekali makan porsi-nya seukuran abang tukang becak! Coba bayangkan-lah marisol! Mau gak jadi gendut kumaha saya sekarang!

2.  Bergadang
Me time adalah barang langka bagi emak yang punya toddler apalagi 2! Maka, me time adalah semacam hadiah-lah buat kami para emak yang setiap harii-nya penuh dengan urusan rumah tangga dan anak-anak. Dan waktu tidur malam hari anak-anak adalah me time saya. Jadinya, setiap hari, setiap malam, sembari  nunggu suami saya pulang dagang tengah malam, saya ber-metime ria dengan mainan paporit saya, komputer dan internet. Setiap malam saya berkutat di depan komputer, ntah itu nonton kdrama sambil setrika, nulis buat bahan blog, menggambar dan/atau ngerjain kerjaan 3D arsitek pesanan klien. Me time di waktu malam ini berimbas pada jam tidur saya yang hanya sekitar 4-5 jam setiap hari nya, dan hasilnya, saya jadi gendut. Kok bisa? Menurt fimela.com , Begadang bisa memperlambat metabolisme dan menyebabkan jumlah hormon ghrelin meningkat. Inilah hormon yang berkaitan dengan nafsu makan. Saat hormon ini tidak bekerja dengan baik maka seseorang akan mempunyai nafsu makan yang lebih besar dari biasanya. Inilah yang membuat seseorang bisa terus makan dan makan sehingga menjadi gemuk.  Nah, ketemu kan alasannya kenapa bergadang bisa bikin gemuk? Kayanya kalo mo diet saya harus mengikuti nasihat Bang Rhoma irama, “ begadang jangan begadang!

3.  Hobi makan malam
Jangan tanya dech gimana susahnya nahan lapar malem-malem, karna saya selalu kalah. Ditambah saya selalu me-time setiap malam sampai begadang, jadilah, nasi goreng, mie instan, susu dicampur kue eh salah, kue  di celup susu dan makanan oleh-oleh pak suami sehabis pulang dagang, semua itu gak mungkin saya lewatkan.  Hasilnya, yaaahhh BB meningkat tajam kaya kenaikan harga BBM. Kok bisa makan malem bikin gendut? Menurut hellosehat.com Hasil gambar untuk makan malam bikin gemuk
Para ahli gizi berpendapat bahwa kalori adalah kalori, tidak peduli kapan Anda makan. ... Penelitian-penelitian ini cenderung menunjukkan bahwa makan pada malam hari membuat tubuh menyimpan kalori dari makanan tersebut dalam bentuk lemak daripada membakarnya, sehingga menyebabkan kenaikan berat badan.

4.  Porsi nasi yang gak masuk akal
Nah, ini nih pelaku utama penyebab saya jadi gendut. Mengapa? Karena porsi makan saya selama beberapa bulan terakhir ini sangat gak masuk akal, sama persis sama porsi sekali makan abang becak! Bahkan ngalahin porsi makan suami saya yang cuman se-uprit. Jadi, yah  wajar aja kalo BB saya naik drastis.
  
Kalo udah tau why oh why BB saya naik segitu hebatnya, sekarang tinggal menyusun rencana sesuai dengan hasil diet yang pernah saya lakukan selama bulan oktober – desember tahun 2018 yang bisa bikin BB saya yang waktu itu 60 kg menjadi 55 kg!!

Apa aja sih rahasia-nya?


1.  Belajar ilmu diet ke mba YULIA BALTSCHUN!  Beliau ahli diet yang “berilmu”, dia ngebahas banya hal soal diet dan ilmu gizi di IG-nya dan lebih banyak di channel youtube-nya. Saya sampai “kuliah” lagi sama mba yulia lewat chanel youtube-nya sembari gugling soal gizi dan bener-benre nyatet di agenda saya.


    


   


2.  Hitung kebutuhan kalori , protein dan lemak harian,. Gak perlu manual, udah ada kok web-nya juga aplikasinya. Kita tinggal masukin BB dan tinggi badan doang, nanti keluar deh berapa jumlah kebutuhan kalori-protein-lemak harian kita. Terus gimana cara nge-bagi porsi makannya? Pake aja aplikasi FAT SECRET lewat playstore di android kita mak, semua lengkap kok. Tinggal isi isi aja apa aja yang kita makan, nanti keluar kok dalam satu hari itu apakah makanan yang kita makan udah sesaui kebutuhan atau gak. Jadi, jumlah asupan kalori-protein-lemak kita terkendali tiap  hari-nya

klik link ini untuk hitung kebutuhan kalori-protei-lemak harian 
calculator.net/calorie-calculator.html  cari  app ini di playstore buat efektivitas program diet kita





3.  Tentukan jenis diet apa yang mau kita ambil,.
Wah! Diet aja ada macem-nya ya? Iya lah marisol! Tentu ada. Jangan sampai salah pilih jenis diet ya. Pilih yang paling cocok sama kita. Apa jenis diet?
-  Diet keto
-  Diet  rendah karbo
-  Diet jendela makan
-  Dan diet-diet yang lain , guugling aja yah, hehehe
Saya, pilih diet rendah karbo digabungkan dengan jendela makan. Jadi jam makannya di atur gitu. 
4.  PUASA
Puasa bisa dibilang termasuk diet jendela makan lho, karena jam makan-nya diatur, ini bisa nge-bantu program diet kita berhasil. Malah double manfaat, pahala dapet, turun BB juga. Asal jangan makan kaya orang kesetanan ajah pas buka puasa, percuma dong! Hehehe
5.  Minum perasan jeruk nipis 1 sdm + air anget kuku setiap pagi sehabis bangun tidur dalam keadaan perut kosong. Manfaatnya? Banyaaakkk banget! Kepo-in deh channel youtube-nya yulia baltschun, nanti ketemu kok kenapa  minum itu bisa bikin BB turun
6.  Olahraga
Banyak tuh di youtube channel yang menyediakan olahraga yang ringan sampai berat buat turunin berat badan. Pilih yang bisa bikin kita semangat dan enjoy.
7.  BIKIN JADWAL dan CATATAN DIET
Ini ngebantu kita dalam melihat perkembangan diet kita udah sejauh mana. Contohnya,  catatan workout trace, kalori tracker, 80/20 mela tracker dll


 

    


Jadi intinya, RAHASIA TURUN BB 5 KG SELAMA 3 BULAN itu adalah,  IKUTIN CHANNEL YOUTUBE-NYA YULIA BALTSCHUN!!!









Walo saya agak shock dengan tampilan timeline-IGnya yulia baltschun yang hampir semua-nya potopoto beliau yang cantik, anggun nan sexxiiihhh!!… saya tetep subscribe channel youtube-nya, karena ilmu dietnya lebih banyak disana ketimbang di IG ( yah saya pilih yutub ajah daripada IG, karena shock itu tadi, hehehe ).  Jadi yah, walo kurang sreg sama penampilan beliau yang terlalu terbuka, gpp lah, yang penting saya ambil ilmunya ajah.

Karena, semua saran-saran saya di atas, adalah kesimpulan yang saya ambil dari “ilmu” yang saya keruk dari mba yulia dan hasilnya, alhamdulillah berhasil.

Tapi sayangnya, diet saya berhenti pas awal tahun 2019.
Karena apa? Karena males! Hahahaha
Saya kurang niat mak, karena diet itu harus di awali dengan TEKAD DAN NIAT YANG KUAT dan harus dilakukan konsisten, bukan hanya 3 bulan. Karena menurut mba yulia, diet itu bukan merubah pola makan, tapi merubah pola hidup.

Dan saya, akan mulai diet lagi, tapi gak sekarang. nunggu mood dan tekad terkumpul! Hihihihi, sekarang mah saya mau banyak makan enak termasuk makanan paporit saya, yaitu PERKEDEL. Ini adalah  RESEP PERKEDEL yang manyusss banget lho, klik link nya ya. tapi, jangan salahin saya ya kalo ntar malah jadi makin ndut gegara makan perkedel , wkwkwk