Tampilkan postingan dengan label curhat emak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat emak. Tampilkan semua postingan



Akhir-akhir ini pikiran saya terusik sama postingan akun parenting di IG milik  mamahtalks,  yang menampilkan sosok seorang Anchor favorite saya, Marissa Anita. 



Disini, Marissa Anita dengan gamblang menjelaskan apa itu inner child, dan jujur saya nangis nonton di bagian akhir video ini.

MY INNER CHILD



Sebelum melangkah ke definisi, apa itu Inner Child. berikut saya ceritakan pengalaman saya pertama kali menjadi ibu. curhat? tentu, berbagi cerita? ya!, karena tanpa curhat inilah, saya tidak akan menemukan akar Inner Child saya.

Jadi, setelah saya menjadi ibu dari dua anak, saya menemukan fakta mengejutkan bahwa Ternyata, jadi fulltime mother itu tidak mudah. Banyak yang perlu dibenahi. terlebih lagi soal diri sendiri. kalo ada universitas khusus menjadi ibu saya mau ikutan, tapi sayangnya, setelah kita melahirkan anak pertama, si doi lahir tanpa manual book, jadi, semua proses harus dijalani dan diikuti. 

Pertama, setelah Keenan, anak pertama saya lahir saya bagaikan orang bego, bingung mau ngapain ketika pertama kali meluk keenan.

Lantas ibu mertua bilang segera susuin, yo wes-lah saya susuin. Terus apa mudah nyusuin anak pertama? Gak lah marisol!! Bingung saya nyusuin itu harus gimana, diteken-teken, dipijat-pijat atau begimana? Ya yg paling naluriah ajah lah, saya sodorin aja langsung. My baby langsung nyomot asi dan dikenyot, tapi gak lebih dari 10 menit keenan nangis histeris, lahh saya nambah bingung mak, bayi nangis harus diapain?? 

Saya langsung eyong aja sambil kasih susu formula buatan ibu mertua. Alhamdulillah my baby diam seketika. Saya langsung sadar, “ oh begini ya jadi fulltime mother dan ngurus bayi” sambil masih merasa bego sendiri. 

Dan, rutinitas ibu baru pun saya jalani. Mulai dari mandiin, susuin, tidurin, mandiin lagi, susuin lagi, tidurin lagi sampai saya sulit mandi dan makan. Bukan hanya itu, jahitan sisa operasi di area jalan lahir dan sekitarnya masih terasa sakit, terlebih kalo saya duduk dan bangkit dari duduk. hal ini bikin saya stress dan akhirnya terkena BABY BLUES SYNDROME.

Selama 1 bulan setelah melahirkan, Saya murung, melamun, gak selera makan, sedih dan banyak nangis. Sementara saya tinggal dengan mertua, suami bekerja dan ibu kandung pun bekerja. Seketika saya merasa berjuang sendirian. Dan hal ini saya alami sampai keenan 1 tahun. Curhat sana sini sudah, nangis ampe mata bengkak sama pak suami juga sudah. Rupa-rupa nya ini bagian dari proses yang namanya MENJADI IBU. 

Itulah moment pertama kali saya sadar, kalo jadi ibu itu gak seindah yang ditawarin film- film hollywood. Saya kelelahan luar biasa, kurang makan, kurang mandi, kurang tidur dan kurang bersosialisasi. Lengkap sudah. 

Setelah keenan melewati fase 1 tahun, saya mulai mencair. Gak terlalu tegang soal jadi fulltime mother dan ngurus anak, mulai santai dikit lah walo tetep hectic. Saya mulai menikmati jadi ibu. Layaknya mom jaman now, saya selalu pasang kamera di setiap moment penting perkembangan keenan terus pamer deh di semua akun sosial media saya, instagram, facebook, twitter dan BBM ( waktu itu WA blm ada ). 

Saya gak ngalamin lagi baby blues, saya mulai beradaptasi dengan serba kekurangan yang dimiliki seorang ibu yg punya bayi ( kurang mandi, tidur, makan, jajan, dangdan, shopping, jalan-jalan, kongkow dan piknik ) dan mulai bersahabat dengan DRAKOR karena itu satu-satunya hiburan saya, hehehe

Lalu, muncul lah episode baru dalam hidup saya layaknya sinetron hidayah indosiar, babak baru menjadi ibu, HAMIL ANAK KEDUA YANG TIDAK DIINGINKAN!! Dan dari sinilah semua tuh drama jadi ibu dimulai.

Tahun 2015, saya mengandung Kilan, anak kedua saya. Bisa di bilang, ini adalah kehamilan diluar kehendak. tapi, yang namanya TAKDIR DAN REZEKI, kita gak bisa nolak. apapun alasannya, kalo kata GUSTI ALLAH JADI, ya jadilah.

Tapi sayangnya, kehamilan ini justru menarik saya begitu dalam hingga terperosok ke lembah stress dan depresi. ketidaksiapan mental menjadi ibu ganda, ketidaksanggupan menurus bayi lagi dari nol karena ingat betapa melelahkannya mengurus bayi itu.... dan ingatan betapa ngerinya mengalami BABY BLUES SYNDROME, saya stress. belum lagi memikirkan finansial .....yaahhh itu stress lapisannya udah melebihi lapisan wafer Tango! 

Karena stress inilah, saya jadi mudah marah bahkan bersikap buruk sekali dalam pengasuhan si sulung. terkadang, keenan rewel dan tantrum. maklum lah usianya baru 2,5 tahun. sebetulnya sih, semua tantrum dia tuh masih dalam batas wajar. cuman karena saya nya aja nih yang lagi error emosinya, jadi tantrum keenan udah kaya neraka bagi saya.

Lalu, saya melakukan kesalahan pertama dalam pengasuhan keenan, BENTAK ANAK dan berlanjut dengan MAIN CUBIT. Padahal saya udah wanti-wanti sama diri sendiri buat gak bentak anak apalagi cubit anak. Karena saya dibesarkan dengan cara seperti itu, dan hasilnya saya trauma. Saya gak mau anak-anak saya mengalami apa yang saya alami. 

Tapi kenyataannya, malah sebaliknya. Saya bingung, kok bisa gitu sih? Kok bisa saya bertekad buat gak melakukan physical abuse sama anak saya tapi pas prakteknya yang terjadi adalah sebaliknya.

Merasa bersalah setiap saat dan setiap hari setiap malam sambil mewek dan melihat anak-anak tidur tentu saya alami, tapi sayangnya, keesokan hari nya saya melakukan hal yang sama lagi. Ini bagaikan lingkaran setan anu teu ereun-ereun ( gak berhenti). Dan ini bikin saya ngerasa jadi ibu yang super jahat dan gagal jadi ibu. saya tuh kenapa sih? .... tau gak kenapa buibu?...Ternyata, semua itu dikarenakan Inner child saya. what?? ... 

DEFINISI INNER CHILD

Mengacu pada John Bradshaw (1992), inner child merupakan pengalaman masa lalu yang tidak atau belum mendapatkan penyelesaian dengan baik. Orang dewasa bisa memiliki berbagai macam kondisi inner child yang dihasilkan oleh pengalaman positif dan negatif yang dialami pada masa lalu. Seperti motivasi alam bawah sadar lainnya, inner child juga muncul pada orang dewasa dalam bentuk perilaku atau keadaan emosi yang tidak disadari (unconscious).

Ada definisi lain soal Inner chiild :
Menurut Vanessa Guerrero inner child adalah bagian dalam diri kita yang terluka ketika masa kanak-kanak yang untuk sebagian orang luka yang timbul sangatlah dalam dan menghancurkan bahkan bisa lebih buruk, meskipun terdapat bagian menyenangkan saat masa kanak-kanak tetap saja beberapa luka mungkin terjadi sepanjang jalan dan jika luka tersebut belum sembuh maka akan berdampak pada masa dewasa.

Jadi, INNER CHILD itu apa? samakah dengan Ghost Parenting? 
BENANG MERAHNYA Dimana?

Ghost parenting, lebih mengacu kepada pola asuh kita saat ini yang dipengaruhi oleh pola asuh yang kita terima dimasa lalu. outputnya beragam, jika kita diperlakukan "baik" disepanjang masa pertumbuhan kita saat kecil hingga remaja, maka pola asuh kita kepada anak-anak kita akan baik-baik saja. 

Sebaliknya, jika kita hidup dalam keluarga yang broken, banyak di kritik, menerima kekerasan fisik dan verbal dan dididik keras, maka akan seperti itu pula pola asuh kita kepada anak-anak kita. KECUALI, kita menyadari bahwa kita mengalami ghost parenting dan mulai menata diri sendiri agar lingkaran setan itu berhenti di kita aja.

Lantas, apa itu inner child sebenarnya?
Inner child itu, adalah anak kecil dalam diri kita yang mengalami pola asuh yang buruk dimasa lalu oleh orangtua kita dan berdampak pada pola asuh kita terhadap anak - anak kita pada saat ini, yaitu GHOST PARENTING. 

Memang Ada Apa Dengan Masa Lalu Saya? Kepo kaannn? hehe

Nah ini yang saya maksud dengan kenapa saya curhat di paragraf atas. saya yang mudah terkena Baby blues syndrome, merasa stress, marah ,depresi dan berani bentak juga cubit anak selama masa pengasuhan anak-anak saya.

Semua itu dikarenakan saya mengalami ghost parenting dimana inner child saya terluka akibat pola asuh yang sangat buruk yang saya terima disepanjang masa pertumbuhan saya sejak kecill hingga remaja.

sudah mengerti sekarang? udah ketemu benang merahnya kan ?

Bagi pembaca setia blog saya pasti sudah baca postingan saya yang berjudul " Sekantong Harapan Bernama Kebahagiaan ", disana ceritanya saya bikin cerpen fiksi, tapi pada kenyatannya cerpen itu 100% kisah saya. gak ada yang di tambahin ceritanya biar lebih buas dan seram. Bagi yang belum baca, mangga dibaca ya biar tau kenapa saya merasa inner child saya adalah pangkal dari semua pola pengasuhan saya yang buruk terhadap anak-anak saya. 

Lantas, apakah saya menyalahkan kedua orangtua saya karena telah mengasuh dan mendidik saya dengan cara sedemikian menyakitkan bagi saya? iya tentu saja! tapi itu adalah proses bagi saya untuk akhirnya memahami mengapa mereka demikian dan memaafkan mereka pada akhirnya. 


SOLUSI Dan PROSES AKHIR

Pada akhirnya, saya bikin mind map buat solusi masalah ini, karena saya gak mau berlaur –larut soal ini, karena masa depan psikologis anak saya taruhanya. Betul gak mak?

Bagaikan terilhami, pas lagi hot-hot nya saya pengen selesein masalah ini, Saya menemukan judul postingan di pinterest, “ selesaikan trauma masa lalumu dan benahi dirimu sendiri untuk masa depan anak-anakmu

JLEB!!

Bagaikan kena lemparan kulit durian, saya tersadar, inilah hal pertama yang harus saya lakukan.yaitu, berdamai dengan masa lalu. berdamai ya, bukan melupakan. karena masa lalu seburuk apapun gak akan pernah bisa dilupain kecuali amnesia, tapi amit-amit deh. 

Masa lalu sudah seharusnya jadi bagian hidup seseorang, kaya potongan puzzle. pada akhirnya semua akan membentuk diri sendiri saat ini dan esok hari. banyak yang menyakitkan kaya kisah sedih di hari minggu? tentu, masih sering nangis kalo inget masa lalu? tentu, suka sedih kalo inget betapa kangennya sama ayah kandung? sudah pasti. dirasain aja, dinikmati lalu tumpahin semua emosi kedalam karya. 

Sama halnya dengan Kurt Cobain, yang menjadikan tragedi dalam hidupnya menjadi dasar dia bikin karya, dan hasilnya? Band Nirvana jadi Band panutan sejuta umat anak band dari dulu sampai sekarang. tapi jangan diliat ending hidupnya yang suicide ya, jangan ditiru! 


Apa saya masih main kasar? TIDAK! alhamdulillah.

Semua itu bukan proses singkat dan sebentar. Puluhan kulwap parenting dan buku parenting, sahabat baru seorang ibu yang juga mengalami inner child/Ghost parenting dan menulis, semua itu menjadi penolong saya. 

Apakah mudah? tidak! sangat sulit bagi saya mengendalikan emosi dan marah walau hanya untuk hal sepele, seperti kelakuan kilan yang doyan hujan bedak sampai lantai penuh dengan bedak, kilan yang lagi ada di fase anxiety separation, keenan yang demen merengek minta beli layangan dan segudang aksi ke-soleh-an mereka berdua yang bisa bikin kepala saya tandukan dan stok coklat abis. 

Satu rahasia dalam menahan emosi dan marah biar gak meledak, CUBIT DIRI SENDIRI. jadi, setiap saya marah dengan kelakuan "lucu" mereka, saya cubit paha sendiri sambil membayangkan dan berkata sama diri sendiri, " RASAIN LO! SAKIT KAN DICUBIT?? MAKANYA JANGAN CUBIT ANAK LO! "

And It works!!
Sekarang, saya bisa lebih sedikit lebih tenang menghadapi tantrum dan sedikit bisa lebih sabar mengahadapi permintaan para sultan bahkan sampai yang gak masuk akal, seperti masukin si kiki ( kucing kesayangan keluarga ) ke dalam keresek, katanya abis belanja kucing di petshop. kan ngakak saya jadinya, wkwkwkwk.

tapi, hidup gak seindah dongeng marisol, gak selamanya saya sebaik hati itu yang bisa nahan emosi dan amarah bla-bla-bla. kadang lepas kontrol kalau lagi kalut, kadang santai banget kaya emak-emak bijaksana di film-film. yah begitulah.

But at least, i try dan it works for a few times. 

INNER CHILD BUKAN SATU-SATUNYA PENYEBAB SALAH PENGASUHAN

Marah sama kelakuan absurd anak-anak bukan satu-satunya penyebab amarah para emak memuncak hingga kembali melakukan tindakan kasar dan kata-kata kasar pada anak. karena, ternyata menurut artikel www.popmama.com
Trauma masa lalu bukan pelaku utama mengapakita jadi orangtua yang suka main kasar sama anak. Si trauma ini bawa kawan-kawannya, salah satunya ialah MANGKEL JENGKEL SAMA SUAMI dan KESULITAN EKONOMI.
Kadang, secara gak sadar, saat kita jengkel sama pak suami yang suka susah dibangunin solat subuh ato naro jaket dan sepatu dimana aja bisa bikin ubun-ubun kita pecah. Marah gak bisa kusabab sieun dicarekan balik ( Takut dimarahin balik ) dan dianggap istri durhaka, hasilnya, pas anak rewel eh si anak kena getahnya. Bener gak mak?

kesulitan ekonomi? udah pasti bikin stress. Dan gak jarang pas kita lagi mumet-mumetnya mikirin soal Hubbud dunya ini alias urusan duniawi otak lagi jangar-jangarnya, klo ditambah anak rewel loba pamenta teu eureun-eureun ( banyak permintaannya, gak berhenti), jadilah kombinasi yang pas buat bikin gunung berapi emak meletus, dan anak kembali jadi korban ledakan gak disengaja. 

Kalo sudah begini, banyak banget point yang kudu dibenahi. Betul gak? Bukan hanya soal ghost parenting atau inner child semata. Makin bingung gak mak? Iya saya bingung, hehehe.


KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN

Ini penting. Sulit kah melakukannya ? bagi yang tidak terbiasa seperti saya tentu sulit. waktu pacaran, saya mudah curhat soal apapun dengan pasangan, setelah menikah semua topik pembicaraan mengarah pada dua hal saja, anak-anak dan cuan! wehehehe. 

Pada akhirnya, kami masing-masing menjalani peran masing-masing. pasangan pencari nafkah dan saya pengasuh anak. 

Menikah itu tidak mudah, tidak seindah waktu pacaran. banyak adaptasi, pemahaman, menerima, mencocokan, mengalah dan sejuta atribut lainnya. salah satu harus mengalah, siapa? ya saya! kenapa? karena yang inner child nya bermasalah hanya saya! suami sih baik-baik aja. 

Lalu langkah apa yang diambil biar komunikasi dengan pasangan lancar jaya? ya tentu dengan memberanikan diri open conversation diluar topik soal anak-anak dan cuan. 

Susah gak sih? susah mak! hahahaha. awalnya grogi, kaya lupa aja gitu gimana curhat sama pasangan soal perasaan, geli sendiri. berasa jadi anak ababil aja! wkwkwkwk. tapi seiring waktu, bisa dan terbiasa kembali. 

Apakah semua selesai? gak juga. jadi orangtua itu kan proses tiada akhir. sampai kita jadi kakek nenek juga bakal tetep jadi orang tua kan? jadi, kedepannya masih banyak tahapan menjadi orangtua yang akan dilalui.

Lantas bagaimana harus bersikap? Biasa aja sih, nikmatin alurnya, mau nyebelin, nyenengin, bikin gondok, jadi berantem sama pasangan, pabaeud-baeud ( saling cemberut), lalu baikan lagi, roromantisan lagi dan seterusnya.

Btw, apakah pak suami tau soal inner child saya? Ghost parenting? perceraian orangtua saya yang jadi penyebab semua trauma ? Tentu Dong! Sejak awal pacaran beliau udah tau dan alhamdulillah menerima. Saya sharing di blog soal inipun tentu atas ijin beliau, mana berani saya share yg begitu private tanpa ijin beliau. Katanya, gpp kalo ini bikin saya merasa lebih baik. So sweet ga sih? Hehehe

Kunci utama dalam mengatasi inner child 

1. Selalu PEDEKATE sama Allah SWT
2. GAK BERHENTI BELAJAR
3.Memahami ( Perbaiki inner child, memaafkan, ikhlas dan memahami pasangan)
4. Bersabar
5. Menulis

Untuk bagian menulis ini, kita bisa menulis surat untuk anak dalam diri kita setiap kita sedih ketika tiba-tiba ingat bagaimana kita diperlakukan sangat buruk saat masih kecil oleh orangtua kita. misal, saat ingin dibelikan permen tapi kita malah dibentak dan dikatain anak tukang jajan dan ngabisin duit orangtua. dan lain sebagainya. Menulis keliatannya sepele, tapi dampak akan luar biasa. 

Dealing with your inner child, waktu penyembuhannya beda-beda di tiap orang. ada yang bentar ada juga yang lama kaya saya, yang butuh 10 tahun buat memahami dan sekarang memaafkan lalu ikhlas. yang penting, sekarang udah tau alasannya kenapa suka bersikap kasar dan gampang marah sama anak, ya udah, perbaiki dan jangan ulangi. dan jangan lupa, tulis surat untuk inner child kita sebagai terapi healing. 

Itu aja mak kuncinya. Insha Allah kita semua bisa melalui semua proses dan tahapan ini. jangan tanya kunci yang lain ya sama saya, apalagi kunci inggris dimana atau kunci menuju hatinya kaya gimana, *eeeaaaa


Sumber referensi :
Redraw random pic on pinterest

Banyak banget hal yang berbeda dan berubah sewaktu masih pacaran dan setelah menikah. misal, waktu lagi pacaran, nomer hape si yayang pasti inget di luar kepala, sambil merem pun kalau pencet  nomer si yayang di hape juga bisa. Kalo udah kawin, boro-boro inget. Jangankan nomer hape, tanggal jadian apalagi hari kawin aja suka lupa. 

Ada lagi nih yang bedanya jauuuh banget antara waktu pacaran sama udah nikah, yaitu bentuk perhatian.

Misal, waktu pacaran kalo si yayang jatoh, kita pasti bilang " aduuuh sayang, kamu sakit? ada yang luka? sini aku obatin" . Nah kalo udah kawin, kalimatnya jadi beda, " aduh, mamah sih kalo jalan gak liat-liat. sana beli hansaplast " wkwkwkw.

Kalo udah kaya gini, para istri biasanya suka j ngerasa kalo  suami jadi kaya yang gak peka gitu sama perasaan para istri ,  Padahal udah ngasih kode keras buat minta diperhatiin, tapi gak ngaruh! Kesel kan ya?  

Hal yang begini nih, walo keliatannya sepele tapi bisa memicu pertengkaran. Siapa yang biasanya kesel duluan? Para istri lah, siapa lagi yang suka ribet sama hal beginian? Hehehe. 

Nah, Lupa dan cuek-nya para suami sama hal perintil kaya beginian kadang bisa memicu pertengkaran. biasanya para istri bakal netting nih, alias negative thingking, kalo pak suami gak care, gak perhatian, udah gak sayang lagi, istri bukan lagi prioritas utama dan bla bla bla. Para istri biasanya manyun jadi seharian dan marah – marah. ujung-ujungnya jadi berantem dan pengen rasanya rambut pak suami diuwel – uwel sampai rontok, wehehehe. 

Etapi, jangan emosi dulu ya buuu.... tahan – tahan. Ada alasan lho kenapa para suami suka jadi pelupa dan keliatan kaya gak care gitu. Apa sih alasan utamanya? 


FOKUS CARI DUIT



Yah! Sudah gak asing lagi kan sama satu hal yang ini. Pembagian tugas dan tanggung jawab dalam pernikahan kita semua pasti udah tau deh, istri urusan domestik dan anak sementara suami urusan cari nafkah. 

Nah, kadang ada para suami yang saking fokusnya nyari duit apalagi yang penghasilannya harian bukan bulanan, udah pasti tuh urat dikepala sering nongol saking tegangnya. 

Mau gak tegang gimana, yang namanya wirausaha tuh ga tentu penghasilannya. Kadang bagus kadang gak. Kalo lagi bagus sih biasanya mood si para suami bagus. Jangankan tanggal ulang tahun, tanggal jadian juga beliau pasti inget terus gak lupa beliin para istri coklat atau bunga. 

Tapi kalo lagi sepi orderan, pasti beliau kaya yang gak peduli gitu sama istri. cuek bebek dan jadi doyan marah-marah. pahamilah bu... pak suami bukan gak care padamu dan mentingin soal duit, tapi otaknya lagi mikir keras gimana caranya ngasilin duit lebih buat engkau wahai para istri dan juga anak-anak. Bukankah ini salah satu tanda kalau beliau cinta dan peduli sama keluarga? Betul kan? 

Jadi bu, jangan emosi dulu ya. Pak suami gak inget sama tanggal ultah, anniversary atau gak mau bantu urusan domestik, bukan karena gak care lagi sama kita para istri. Tapi karena fokus nyari duit sebagai bentuk tanggung jawab beliau terhadap keluarga. 

CARA BERFIKIR YANG BERBEDA


Laki – laki itu, cara berfikirnya beda sama perempuan. Kalo perempuan itu terkenal dengan multitasking, sementara laki – laki monotasking. Artinya, dalam pikiran perempuan tuh banyak cabangnya. Misal, lagi masak nih, para istri bisa sambil gendong anak, sapu rumah, cuci piring , nyuapin anak bahkan balas pesan di WAG. Tapi kalo para suami, kalo lagi ngerjain satu hal yah hanya fokus sama satu hal itu aja. 

Alasannya kenapa? Karena secara ilmiah otak para pria itu akan membakar lebih banyak energi ketika mereka harus melakukan beberapa hal sekaligus. Kondisi inilah yang membuat pria merasa sulit untuk melakukan pekerjaan sekaligus atau sulit beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya 

Ada Fakta lain nih, berdasarkan penelitian  otak wanita itu lebih aktif dibandingkan otak pria. Hal ini disebabkan baik saat bekerja maupun saat istirahat, aliran darah ke otak pada wanita lebih banyak dibandingkan pada pria. Jadi, meskipun secara volume otak pria lebih besar dibandingkan otak wanita, namun secara kinerja otak wanita lebih aktif. Jadi, jangan heran kalau wanita dikatakan lebih bisa multitasking

Tetapi, dibalik ke-monotasking-nya para suami, mereka gak secuek itu kok. Coba diingat-ingat, sudah berapa kali pak suami bantu cuci piring, jemur cucian, jagain anak waktu istri lagi mandi, meluk istri pas lagi sedih, beliin makanan tanpa diminta, cebokin BAB anak ? memang bisa dihitung dengan jari, tapi kalau melihat fakta ilmiah diatas, rasanya semua hal yang dilakukan para suami itu sudah hebat sekali. Iya kan? 

Lalu, kata siapa kalau laki-laki itu mentalnya kuat kaya baja, kuat nahan nangis sampai kuat ditimpuk bata?  jangan lupa, pak suami juga perasaan lho. Misal, merasa tak berdaya  dan sedih luar biasa kalo inget duit di dompet tinggal recehan, perasaan sedih gak bisa beliin anak-anak mainan atau bahkan jajan, sedih liat istri jadi kurang glowing karena belum mampu beliin kosmetik SK-II atau jafra terbaru sementara stok lama udah abis, jadi terpaksa istri pake baby cream bayi dan bedak bayi. Para suami itu sensitif lho, cuman jarang aja diliatin. 

Jadi bu, kalo nanti – nanti pak suami lupa tanggal ultah kita, atau anniversary langsung aja todong, “ ayah kok lupa sih sama ultah aku? Aku gak mau tau, pokoknya aku minta peluk sekarang!” dijamin deh, mood bete ibu-ibu langsung mencair, apalagi kalo ditambahin, “ ayah, minta duit dong buat jajan” , wehehehe





Ini adalah kisahku, 
Nyata senyata sentuhan hangat mentari di pagi hari , 
Dan pelukan hangatnya di sore hari, 
Layaknya mesin waktu, 
senja membawaku lari ke masa dimana semua luka berawal,
Kemudian menari dengannya hingga miliaran detik lamanya,
Sampai tiba waktunya aku lelah menari dengannya,
Dan mencoba melupakan lantas memaafkan,

AWAL MULA

Namaku Mika, Aku pernah benci namaku teramat sangat. Pernah marah pada Tuhan kenapa aku di takdirkan memiliki nama Tomboy begitu. Namaku itu, gak ada manis-manisnya, terasa pahit, sepahit kisah hidupku. Kisah hidup, yang membuatku berkali-kali jatuh - bangun hingga aku bosan dan lelah. kisah hidup yang pernah menjerumuskan khayalku tuk’ berhenti bernafas, berkali-kali. Kisah hidup yang sempat membuatku bertahan selama bertahun-tahun yang lalu namun gaungnya kerap membuatku rapuh hingga kini. 

Semua berawal di Tahun 1999, saat usiaku 16 tahun dan masih kelas 1 SMA. Suatu pagi, di pertengahan musim panas bulan juni, hari yang cerah, langit biru , awan berarak, matahari teduh . Pagi hari yang sempurna. Tidak ada tanda kemurungan, hujanpun bahkan mengurungkan niatnya tuk’ menangis. Tapi, entah alam semesta mencoba mencemoohku dengan keceriannya di pagi hari itu atau memang aku sial saja, situasi dirumahku berbanding terbalik dengan cuaca diluar sana. 

Pagi itu, aku, ayah-ibuku dan kedua adikku sarapan bersama seperti biasanya , aku ingat, aku bahkan ada ujian hari itu, lalu tiba-tiba tanpa peringatan dan aba-aba, ayahku dengan wajah tegang dan kaku berkata, “ jadi, teteh sama aa mau ikut siapa? Ayah atau ibu?” 

DAARRRR!!! aku merasa seperti terkena samberan petir saat itu juga!! 

Aku hanya bisa berkata dalam hati, “what?!!! Apapaan ini??? Maksudnya ayah sama ibu mau cerai? On no!!! oh no!!!“

Seketika aku seperti terkena sihirnya JADIS, penyihir putih di film NARNIA, sekujur tubuhku berubah menjadi es, kaku dan kelu. Hilang semua kata dan pikiranku entah melayang kemana. Pagi itu laksana hujan badai disertai amukan kilat, tak seindah cuaca cerah di luar sana. Sungguh ironis. 

Ibuku, hanya mampu berteriak seraya berkata, “ apa-apaan ini ayaaah? A..a..ayah bercanda? Maksudnya apa iniiiiii?” sambil terus menangis tiada henti. Ayahku pergi meninggalkan meja makan dengan layu dan punggung tertunduk rapuh, meninggalkan kami di meja makan masih duduk tegang dan kaku. 

Aku bisa apa? Selain duduk mematung dengan pikiran berkecamuk tak percaya, lalu aku ingat aku ada ujian sekolah, seketika aku bangkit dan berusaha memecahkan kekakuan tubuhku dan bergegas berangkat sekolah. Saking bingung dan masih merasa tidak percaya, aku berangkat sekolah seakan kejadian tadi pagi tuh gak ada, aku bahkan gak nangis! Edan gak sih? Hatiku hancur hari itu. Hidupku berantakan sejak hari itu dan penderitaanku dimulai. 

Sejak kisah pagi yang tragis itu, hidupku tidak pernah sama lagi. Aku rasa, inilah akhir dari segala drama keluargaku selama ini. Drama keluarga? Iya, drama layaknya sinetron indosiar. Sebelum scene pagi yang naas itu, ayah-ibuku memang gemar bertengkar, hampir di setiap kesempatan. Apakah itu di setiap sebelum berangkat kerja, pergi jalan-jalan, pergi ke rumah kakek-nenekku, acara rapat orangtua murid, bahkan saat nonton TV bersama. Entah apa yang diributkan, semua pertengkaran selalu berakhir dengan teriakan, bentakan dan bantingan pintu kamar tidur. Belum termasuk piring dan gelas yang pecah. Abis semua stok barang pecah belah di rumah kalau mereka udah mulai “perang”. 

Orangtuaku emang bukan orangtua yang harmonis sejak awal pernikahan mereka. jadi sebetulnya, kalaupun mereka akhirnya bercerai juga aku ga heran. Anehnya, aku malah kadang suka berfikir mending mereka cerai aja daripada tiap hari kalo ketemu kerjaannya berantem terus gak ada endingnya. Bukan apa-apa, kalo mereka udah berantem, aku yang selalu jadi “samsak” luapan emosi mereka. tiba-tiba ngebentak-lah, trus pake acara Main cubit dan pukul, gak tanggung-tanggung, mukulnya gak cuman pake tangan doang, tapi juga aneka peralatan rumah tangga. 

Hebat bukan? Itu belum termasuk Hinaan dan cemoohan orangtua kalo aku bikin kesalahan walo itu sebetulnya masih batas wajar-wajar aja. Saking seringnya aku diperlakukan jadi “samsak”, aku jadi sering nge-khayal kalo aku tuh bukan anak kandung mereka, tapi anak pungut! Sedih gak sih gue? Ampe mikir sejauh itu? Selain itu, aku tumbuh menjadi anak yang selalu merasa kesepian, mengapa? 

MASA KECIL SI MIKA

Aku anak pertama , aku lahir di Bogor dimana keluarga besar ibuku tinggal dan sebagian kecil keluarga besar ayahku tinggal. Ibuku pegawai negeri honorer begitu juga ayahku. Mereka menikah di sana dan setahun kemudian lahirlah aku. 

Pernah aku bertanya kisah cinta ayah-ibuku dulu waktu pertama kali bertemu. Awalnya agak naas sih, menurut pengakuan ibuku, beliau menikahi ayahku bukan atas dasar cinta. Tapi pelarian, karena enin ( nenek, ibu dari ibuku ) tidak menyetujui hubungan ibuku dengan pacarnya waktu itu. 

Mengapa? Karena pacar ibuku waktu itu profesi-nya pengacara, alias pengangguran banyak acara dan hidup-nya slenge-an. Setelah dipaksa putus dengan pacarnya, ibuku ketemu obat penyembuh patah hatinya, ayahku. Mereka gak pacaran, ayahku langsung melamar ibuku dan karena patah hati dan butuh kasih sayang, diterimalah lamaran ayahku. Sebetulnya, menurut penuturan ibuku, ayahku sejak awal mau menikah banyak bohongnya. Salah satunya, Waktu mau melamar, gak datang pas hari H, menghilang tanpa kabar, malah datang 3 hari kemudian, bilangnya ortu-nya sakit. Padahal-mah enggak. Ntah kemana gerangan ayahku pergi dan menghilang. Kalo dipikir-pikir, ada kemungkinan aku ini produk hasil patah hati ibuku. Tragis ya. 

Saat usiaku 2 tahun, ibu hamil anak kedua, adik pertamaku, Yana. Tidak banyak yang ku ingat masa kecilku, kecuali hari-hari saat ke posyandu dan main sama anak tetangga, juga menggambar bola kusut sambil menemani ibuku memasak di dapur. Kurasa masa-masa batita-ku normal-normal aja. Tapi menurut cerita ibuku, pada masa itu, ayah pernah selingkuh dengan pengasuhku! Ah Entahlah. 

Karena ibuku mau melahirkan yana, aku di ungsikan ke Bandung, tinggal dengan enin & apa  dari ayahku. Karena ibuku gak sanggup kalo harus mengurus aku sekaligus bayi yana. Sejak saat itu, aku tinggal disana dan tak pernah kembali ke Bogor. Setahun kemudian, ayah – ibu –bayi yana tinggal bersamaku di rumah enin-apa Bandung. 

Ingatanku loncat ke hari – hari saat aku tumbuh di rumah enin & apa Bandung. Rumahnya kecil, memanjang sekitar 5 x 12 m², dihuni oleh kami bertiga, enin & apa dan tiga adik laki-laki ayahku. Bisa dibayangkan bagaimana sempit dan sesaknya tinggal disana? ... sesak. Rumah enin & apa juga berada di gang sempit dan kumuh, khas pemukiman kelas menengah kebawah. Kakekku pensiunan kepala sekolah dan nenekku ibu rumah tangga sejati. Sementara paman-pamanku masih sekolah SMA. 

Setiap hari biasanya aku bermain sendiri, karena tak ada kawan seumuran. Dan aku sering merasa kesepian, karena ayah-ibuku bekerja sehingga aku hanya bertemu mereka sore sekitar pukul 5 hingga malam sekitar pukul 8, itu artinya aku hanya memiliki cuddle time bersama mereka sekitar 3 jam setiap hari dan itupun gak semuanya untukku dan adikku, terkadang mereka tidur lebih awal atau pergi mengunjungi temannya. Karena hal inilah, kurasa aku tumbuh menjadi anak yang gak pede-an, selalu merasa kesepian , caper dan super sensitife. Hal ini juga berimbas pada kehidupan sosialku di sekolah. 

Selama aku sekolah SD, sekolah terdekat yang jaraknya ± 2 km dari rumah enin & apa, aku hampir tak punya teman. Tempat dudukku di sekolah adalah jajaran belakang dan duduk sendirian. Jam istirahat , aku selalu jajan sendirian dan bermain sendirian. Makan pempek sambil duduk di teras seraya memandang kawan-kawanku yang bermain bersama dengan “geng”nya. Sementara aku, melihat mereka dengan penuh iri. Aku tak bisa tiba-tiba ikut nimbrung dan minta join grup, aku ga pede. 

Akhirnya, kebanyakan waktu jam istirahatku, dihabiskan menjadi Dora The Explorer, menjelajah sekolah yang teramat luas sampai jauh ke Tk yang berada di samping sekolahku dan lapangan luas di sebelahnya lagi. Seringnya aku naik ke atas pohon flamboyan dan duduk disana menikmati belaian angin dan senyuman bunga flamboyant berwana merah oranye, sampai terdengar suara bel masuk kelas. Kurasa dari sanalah asal muasal mengapa aku sangat suka jalan-jalan sendiri dan mencintai alam, terutama pohon. 

Di luar perasaan keterasinganku tanpa kawan di sekolah dan kesepian karena ortu bekerja, hidupku selama tinggal di rumah enin & apa terasa adem-ayem. Setiap hari minggu ayah-ibu sempatkan mengajakku dan yana jalan-jalan ke alun-alun Bandung, King Palaguna dan membolehkan aku menonton acara TV kesukaanku, Friday the 13th dan Little house on the prairie di hari jum’at sampai minggu. Biasanya, sehabis nonton Little house on the prairie , sebelum tidur aku mengkhayal, kalau saja ibuku seperti Caroline Ingalls, ibu yang perhatian, penyabar dan lemah lembut, karena ibuku datar-datar aja. 

Semua yang ibuku berikan serba bertema-kan uang, masih alhamdulilah sih sebetulnya, aku dikasih boneka, sepatu baru, baju baru dan tak lupa jalan-jalan hari minggu, tapi yang aku inginkan sebetulnya komunikasi, seperti, “gimana sekolah? Belajar apa aja? Seneng gak di sekolah?” … yaaah layaknya talking heart to heart as mother and daughter - lah. Yaaah, Sedalam itulah perasaanku sebagai gadis kecil berusia 8 tahun. 

Setelah aku SD kelas 4, akhirnya kami pindah dari rumah enin & apa ke rumah baru yang dibeli ayah di ujung kota Bandung bagian timur, perumahan komplek yang jauh lebih layak lingkungannya. Tapi karena sekolahku masih di SD lama, jadi setiap hari aku berangkat sekolah bersama ayahku dan pulang naik angkot sendiri! Hebat ya. 

Padahal waktu itu usiaku masih 8 tahun dan dipaksa untuk berani naik angkot sendiri. Padahal jarak sekolah dan rumah baruku ±12 Km! naik angkot 2 kali dan jalan kaki sejauh 2 Km dari gerbang komplek sampai rumahku. Yah, thanks to Daddy yang memaksaku untuk berani di usia dini demi kelancaran urusan antar-jemput anak biar ga rempong. 

Tapi kalo aku sekarang setelah menjadi orangtua, mana berani nyuruh anakku di usia segitu naik angkot dengan jarak tempuh sejauh itu. Kalo ada yang nyulik gimana? Kalo kesasar gimana?....tapi ayahku nampaknya gak khawatir sama sekali. Hingga akhirnya tiba waktunya aku pindah ke sekolah dekat rumah baruku dan aku berhenti naik angkot sendiri. Yes!! 

Sejak kepindahan kami, aku sangat berharap hidupku di rumah baru jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun kenyataanya, hidupku jauh lebih terjerumus ke lembah kesepian dan aku mulai sering mengalami physical abuse dan mental abuse dari ayah dan ibuku. 

Ibuku, “memperjakan” aku sebagai asisten rumah tangga yang harus bangun lebih awal dari semua penghuni rumah, biasanya jam 4 pagi. Tugasku adalah beberes seisi rumah, menyapu dan ngepel lantai, siram tanaman dan menanak nasi. Jadi begitu ibuku bangun, beliau tinggal masak, mandi, sarapan dan berangkat kerja. Lalu sore hari-nya sehabis pulang ngaji, aku harus kembali melakukan rutinitas yang sama dengan pagi hari. Karena, kalo ibuku menemukan rumah dalam keadaan berantakan, aku akan dihujani rentetan caci-maki ketidakbecusanku sebagai anak perempuan diakhiri dengan cubitan dipaha atau lengan hingga berwarna biru lebam. 

Melihat anak gadisnya diperlakukan ibuku sedemikian rupa, ayahku hanya diam saja sambil mengerutkan dahi dan memilih meneruskan baca Koran atau nonton TV. Ayahku memang tidak se-galak ibuku, tapi sikap diam-nya cukup membuatku merasa terpukul, merasa tidak dilindungi dan tidak dicintai serta diabaikan. Hal ini juga berlaku jika aku melakukan kesalahan sedikit saja. 

Ayahku, terkadang juga memukulku, dengan gagang sapu atau sabuk. Karena aku tau bagaimana perangai ayah – ibuku, aku tidak pernah minta dibelikan ini dan itu, karena takut ibuku marah dan kembali mencaci dan mencubitku. Aku jadi terbiasa menahan keinginan dan kesedihan. Aku hanya bisa menangis dalam diam dan menghayal seakan aku ini anak pungut yang tak lama lagi akan bertemu dengan orangtua kandungku. 

Kesepianku juga bertambah, karena ayah-ibuku PNS sejati, maka sehari-hari praktis aku sendirian dirumah. Masih mending waktu tinggal di enin & apa sebetulnya, kesepianku kadang terobati dengan hadirnya enin, tapi di rumah baruku? Hanya ditemani adikku yana dan kucing – kucing liar yang mulai berdatangan ke rumah. Bisa dibayangkan tidak? Waktu itu usiaku 9 tahun dan adikku 7 tahun, kami ditinggal berdua di rumah dari pagi sampai sore, berangkat sekolah dan ngaji sendiri. Tidak ada terbesit secuilpun rasa khawatir orangtuaku nampaknya, karena hingga ibuku melahirkan adik bungsuku, beliau tidak pernah sekalipun memperkerjakan asisten rumah tangga. Begitu adik bungsuku lahir, ibu memperkerjakan ART dan tugas rumah tangga ku sedikit terbantu. Tapi, tugasku yang lain bertambah, mengurus adik bungsuku. Kurasa, ini sama saja. 

Sejak adik bungsuku lahir, ayah dan ibuku kerap bertengkar. Ibu lebih sering berteriak sementara ayahku menjawab teriakan ibuku dengan diam dan berlalu. Kurasa, inilah awal mereka sering bertengkar hingga kejadian pagi yang naas itu terjadi. 

Masa SMA Hingga Kuliah

Sejak kejadian naas pagi itu, ayahku kabur menginggalkan rumah. Ibuku histeris setiap hari. Berteriak, menangis dan berkali-kali mencoba bunuh diri! Setiap malam aku beralih profesi jadi satpam, jaga ibuku kalo tiba-tiba kabur bawa koper, atau tiba-tiba kaya orang kesurupan lari sekencang-kencangnya ke rel kereta api terus nyoba tabrakin diri sendiri kalo kereta api lewat ( rumahku deket rel kereta api). 

Siangnya, aku berubah jadi koki, office girl sekaligus babysitter. Adikku masih kecil, Yana masih SMP dan si bungsu Dito masih TK. Karena ibuku berubah menjadi “gak waras”, aku harus jadi satu-satunya orang “dewasa” yang agak waras. Aku gak boleh nangis karena akan buang-buang waktu. Aku harus jadi tameng ibuku kalo tetangga kepo nanyain kenapa ibuku suka teriak-teriak terus nangis, aku harus jadi google yang siap ngasih jawaban serba lengkap dan detail kalo paman dan bibiku nanya ini itu soal ayah dan ibuku. 

Sejak ayah pergi dari rumah, aku memang berhenti mendapatkan physical abuse dan mental abuse dari ayah dan ibuku, tapi aku berubah menjadi babysitter seisi rumah, Sementara aku sendiri, setiap hari merasa sedih dan hancur berantakan. Saking berantakannya, aku ga bisa nangis. Gak ada waktu dan tempat buat aku menangis. Karena apa? Karena aku anak paling tua. Mereka cerai, tapi aku yang memikul semua beban perceraian mereka. 

Satu tahun aku lalui hidupku seperti itu, hingga ahirnya aku menyerah dan jatuh. Aku mulai sering menangis tengah malam dalam keheningan usai menidurkan adik-adikku dan menemani ibuku hingga tidur. Aku mulai kesepian teramat sangat dan hampa. Aku mulai marah pada Tuhan dan mempertanyakan takdir yang harus kuterima. Ayahku tak pernah kembali, dan aku mulai lelah dengan semua peran ke-pahlawanan-ku. Aku ingin dirangkul, aku ingin menangis di bahu seseorang dan aku ingin mati saja! 

Hingga suatu waktu, akhirnya aku merasa mungkin keluarga kami akan utuh lagi, saat pamanku berinisiatif mempertemukan ibuku dan ayahku yang saat itu tinggal di rumah orangtuanya. Pertemuan keluargapun dilakukan. Aku sebagai “pengacara” ibuku tentu harus ada. Pertemuan berjalan damai tanpa pertengkaran, semua menjaga bendera putih masing-masing. 

Namun, pertemuan tiba-tiba menjadi ladang perang yang memanas, ayah-ibuku bertengkar dan mulai berteriak saling menyalahkan. Aku merasa sangat tertekan dan menangis, aku berteriak, “sudah ayaaaahh! Sudah ibuuu! Lihat akuuu! Lihat aku!!!!” seraya aku melirik ayahku, rindu aku padanya walau aku tau beliau sering berbuat kasar padaku waktu kami masih satu atap. 

Mengapa tidak? Setahun sudah aku tak jumpa ayahku, tetiba aku menangis semakin kencang dan sesugukan di depan ayahku, tapi malangnya, ayahku berubah menjadi manusia tak ber-emosi dan mengacuhkan tangisanku, akhirnya ayahku berkata, “ aku ceraikan istriku! “ dan jatuh lah talak cerai untuk ibuku. 

Aku kembali menangis histeris sampai – sampai Paman dan bibiku berusaha menenangkan Tangisku, tapi aku tak bisa. Tangisku berhenti saat tiba-tiba aku mendengar suara barang pecah dilantai dan aku merasa kepalaku teramat sakit seperti ada sesuatu yang menyerang kepalaku seketika, hingga berdarah. Tangisku berubah menjadi panik dan aku bisa mendengar suara teriakan histeris ibuku, sementara di sudut lain aku lihat ayahku bernafas tersenggal-senggal dan dibawah kaki ku aku bisa melihat pecahan asbak kaca berserakan dilantai! Ayahku, memukul kepalaku dengan asbak! 

Hari itu, aku berakhir di puskesmas. Tidak ada luka yang harus dijahit, hanya goresan kecil. Dalam waktu seminggu juga sembuh. Tapi luka di hatiku, terus terbuka dan mengangga , sulit kering dan tak kunjung sembuh. Sejak saat itu aku berubah menjadi mayat hidup. Aku mulai tak peduli dengan ibuku, pekerjaan rumah tak pernah ku kerjakan dan kutelantarkan adik-adikku. 

Aku mulai membentak setiap tentangga yang kepo dengan urusan ayah-ibuku dan aku mulai bolos sekolah. Aku mulai bergaul dengan anak nakal di sekolah dan mulai berbuat onar. Aku memberontak dan mengeluarkan semua setan dalam diriku. Aku meradang, karena aku juga ingin di dengar, suaraku ingin di dengar, tangisku ingin ditampung dan jiwaku butuh di peluk. Tapi tak seorangpun yang peduli. Semua orang selalu menanyakan bagaimana ibuku dan adik-adikku lantas menyuruhku untuk menjaga mereka, lalu bagaimana dengan aku? aku ini manusia, bukan boneka karet. Mereka tak pernah menanyakan bagaimana perasaanku, bagaimana aku menghadapi semua ini dan bagaimana aku harus bertahan. Aku berjuang sendiri melawan depresiku sendiri, sampai - sampai baygon semprot cair terlihat menggoda buatku. Pikirku, jika aku mati semua akan baik-baik saja. 

Begitulah hari-hari kujalani setahun kemudian sejak insiden hantaman asbak ayahku. 

Namun tiba waktunya, aku merasa lelah menjalani hidup layaknya mayat hidup. Berulangkali mencoba bunuh diri tapi gak jadi-jadi, antara takut dan ingin. Hingga suatu hari, kulihat adik kecilku tidur lelap, seketika aku sadar, ibuku sedang tak waras, siapa yang akan menjaga mereka? maka bangkitlah aku dari depresi dan keterpurukanku. Dan aku hijrah! 

Yaah, hijrah dalam artian yang sebenarnya, aku memutuskan untuk membenahi hidupku dan bangkit dari lumpur keterpurukan hidupku dan bertaubat. Aku memutuskan memakai jilbab dan gabung organisasi agama. Aku banyak menghadiri pengajian dan mulai melihat sisi positif dari masalahku. Tuhan sedang mengujiku, dan aku harus bersabar karenanya. Aku banyak belajar dan terus memperbaiki diri. Sedikit banyak, hijrah-nya aku waktu itu berpengaruh besar terhadap pandanganku terhadap agama hingga sekarang. 

Setahun setelah aku hijrah, ibuku akhirnya mulai bangun dari ketidakstabilan emosinya dan mulai menata hidupnya kembali. Aku bahagia. Hingga suatu hari, Kebahagianku bertambah, ketika secara tiba-tiba tanpa pesan dari burung merpati, ayahku pulang! 

Namun lagi-lagi, aku kembali masuk drama sinetron hidayah indosiar bagian kedua. Pulangnya ayahku, ternyata bukan untuk memperbaiki keluarga kami yang sudah hancur berantakan, tapi hanya untuk mengambil beberapa barang dan dokumen pribadinya. Ibuku tidak membuang sia-sia kesempatan ini, beliau bagai kerasukan arwah ntah darimana, menahan ayahku untuk tidak pergi lagi dan mengancam untuk bunuh diri dengan pisau dapur!

Ayahku gak kalah kerasukannya, dengan segala tenaga meraih pisau ditangan ibuku dan menahan ibuku, menghantam tubuh ibuku ke kasur dan mulai memukul ibuku, di wajah, menampar berkali-kali!!! Aku hanya bisa menjerit dan berteriak, “ hentikan ayaaahh! Hentikan!!!” sambil menangis dan membawa kedua adikku jauh-jauh agar tidak melihat ibunya dipukuli ayahnya dengan sadis! 

Sejak hari bahagia yang menipu itu, aku kembali meradang sambil kembali terus mempertanyakan maksud Tuhan akan semua ini. Aku masih bergaul dengan “ikhwan” dan “akhwat” teman pengajianku, agar supaya pikiran dan emosiku terkendali dan tidak kembali meradang lebih jauh. Tetapi, karena ketidaknyamananku, aku memilih mundur namun masih mempertahankan jilbabku. 

Setahun kemudian, setelah aku lulus SMA, aku masuk kuliah. Ibuku setidaknya berjuang agar aku bisa kuliah dan memiliki masa depan secara finansial lebih baik melalui pendidikan. Dan aku bersyukur karena hal itu. Walau hari-hariku masih terasa pincang dan aku merasa hidupku cacat, setidaknya kehidupan kami mulai membaik. Aku bertemu dengan sahabat baruku di perkuliahan. Awalnya kami tidak cocok, tapi lama kelamaan aku bisa merasakan bahwa, dia ditakdirkan Tuhan untuk menjadi satu-satunya sahabatku yang akan bersamaku hingga saat ini dan kami berharap sampai akhirat nanti. 

Memang, sejak SD hingga SMA, kehidupan sosial pertemananku bisa di bilang sama saja dengan waktu aku sekolah di SD. Nyaris gak punya teman. Sekalinya punya teman, aku jadi teman yang selalu cari perhatian dan berani melakukan apa saja demi teman karena takut di tinggalkan lalu merasa kesepian. Aku selalu berusaha menyenangkan teman-temanku dan tidak mengecewakan mereka. hingga akhirnya aku sering ditinggalkan karena terlalu membosankan atau aku sendiri yang menjauh karena aku mulai tidak nyaman dengan perasaanku sendiri yang banyak merasa iri dengan perhatian yang tidak adil terhadapku. 

Bisa di bilang, dalam pertemanan ber-geng, aku selalu merasa minder dan yang paling rendah derajatnya. Karena kecacatan keluarga yang kumiliki. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Lita, sahabatku di bangku kuliah. Setelah sejak usia 3 tahun selalu merasa kesepian dan berulangkali mengalami bongkar pasang grup pertemanan dan uji-coba sahabat sejak SD sampai SMA, akhirnya Tuhan mempertemukanku dengan Lita saat aku berusia 19 tahun, satu-satunya sahabat dimana aku bisa mencurahkan segala derita dan kisah tragis hidupku. 

Berbeda dengan mantan sahabat-sahabatku yang lain, Lita selalu menyemangati dan mengingatkanku untuk kembali pada Tuhan. Sungguh penantian dan proses yang panjang. 

Tahun demi tahun berlalu dan ibuku akhirnya mulai menata kembali hidupnya serta mulai mengurus kami anak-anaknya, aku akhirnya merasa hidupku akan segara membaik. Aku tak curiga sama sekali, kupikir, akhirnya ibuku mulai menerima kenyataan. Tapi ternyata, ada gajah dibalik batu, perubahan ibuku bisa terjadi karena adanya support dari teman barunya, seorang pria. Siapakah pria itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah tetangga kami sendiri yang aku tau memilki istri dan dua anak gadis!!. Aku tak suka itu. Aku tak suka hubungan mereka yang semakin mencurigakan, dan yah memang mencurigakan. Dan seperti yang kuduga, mereka ternyata sudah menikah siri di belakangku. Hatiku kembali hancur dan hidupku kembali meradang. aku tak sudi tinggal satu atap dengan ayah tiriku! najis! tapi, apa daya, aku tak punya pilihan. Dengan terpaksa aku harus hidup dengan ayah baru yang sangat aku benci. 

Mengapa tidak, selain fakta bahwa ibuku adalah istri simpanan, aku juga harus jadi tukang tagih keuangan bulanan ayahku. Masih mending kalo semuanya mudah, kadang aku harus pulang dengan tangan kosong setelah seharian menungguh ayahku di kantornya, kecewaku berlipat, masih memendam luka hati akibat insiden asbak dan kecewa gak dapet uang bulanan!

Dan kalo aku pulang dengan tangan kosong, ibu gak akan berhenti ngoceh dan menghina ayahku dengan membabi buta. Tapi setidaknya, aku bisa bertemu ayahku sebulan sekali, kalau lagi mujur dan mood ayahku lagi bener, ayah sering mentraktirku makan siang enak dan terkadang memberiku uang lebih.

Aku senang, karena dengan uang lebih itu aku bisa membeli banyak buku dan peralatan menggambar, hobi yang selalu jadi pelarian depresiku. Buku yang kubeli kebanyakan bertemakan hal yang sama dengan yang aku alami, kisah anak terlantar dan tersakiti seperti series karya Torey hayden. Sampai-sampai Lita selalu memarahiku karena aku keseringan beli buku yang hanya bisa membuat luka-ku terus basah dan sulit kering. Padahal, lewat buku seperti itu, aku bisa menemukan dukungan bahwa aku tidak sendirian dan banyak anak diluar sana yang mengalami masalah sepertiku dan bahkan lebih parah tapi mereka bisa bertahan. Aku selalu mencari jawaban dan penguatan diri agar lebih kuat Lewat buku – buku yang aku baca. 

Tahun berjalan dengan ritme yang sama, tetap menjadi asisten rumah tangga ibuku di rumah, kuliah, ketemu ayahku sebulan sekali dan kenyataan baru bahwa ibuku menjadi istri kedua dari pria tetangga kami! 

Kembali Pada Ayah


Tak kuat dengan semua itu, begitu aku lulus kuliah, aku kabur dengan kedua adikku, ke rumah ayahku. Yaaah, ayahku! Yang mana aku masih dendam, sakit hati dan terluka. Tapi aku tak punya pilihan, setelah terkena rayuan maut ayahku untuk menguliahkan ku ke jenjang S1 ( sebelumnya aku lulus D3), kuceritakan kronologis latar belakang kisah “kaburku” lalu ayahku setuju aku tinggal dengannya, daripada tersiksa dengan tatapan sinis dan omongan dibelakang para tetangga akan hubungan ibu dan ayah tiriku, lebih baik aku berlari ke pelukan ayahku dan istri baru-nya! Yah, ternyata ayahku sudah menikah lagi. Menikah siri, karena perceraian orangtuaku belum jua diajukan ke pengadilan. Karena setiap mereka bertemu, perang dunia ke-3 gak bisa di hindari. Lantas apakah hidupku lebih baik dengan ayahku? Oh gak juga bambang! 

Masalah pertama sejak aku tinggal dengan ayahku adalah, ayahku tersandung kasus korupsi atasannya, hal ini berimbas pada kandasnya impianku untuk meneruskan kuliah ke S1 bersama Lita sahabatku. Dan aku “terpaksa” mencari pekerjaan. Ayahku menyatakan permohonan minta maafnya sambil menangis, akupun luluh. Aku sayang ayahku, sekasar apapun dia dimasa lalu, dia satu-satunya ayahku dan aku teramat merindukan sosoknya. 

Karena stress dan depresi dengan semua rentetan kejadian tragis yang tak kunjung padam, aku menyerah dan kembali berontak. Aku lepas jilbabku. Dengan deraian air mata, Lita sahabatku merelakan aku melepas jilbabku sambil terus berkata suatu hari nanti aku harus kembali mengenakan Jilbab. Dia memberiku kelonggaran waktu untukku mencari jalanku dan jawaban atas semua makna di balik semua kisah tragisku. 

Dan akupun mulai bekerja di café sebagai pramusaji. Lelah luar biasa bekerja sebagai pramusaji. Berdiri menunggu kedatangan tamu, menawarkan menu, mengantarkan menu dan kembali merapihkan meja. Kakiku terasa pegal luar biasa, setiap hari. Sebulan pertama, aku menangis tiap malam karena kelelahan. Sampai akhirnya aku berkata pada diri sendiri, “kamu boleh menyerah kapan aja, tapi gak sekarang!” dan sejak itu aku mulai terbiasa kerja disana hingga 1 tahun lamanya. 

Selain mendapatkan gaji setiap bulan, aku juga mendapatkan pacar pertamaku di tempatku bekerja. Dia tampan dan rupawan, tapi di balik ketampanannya ternyata dia pria brengsek yang berhasil menipu kepolosanku dan memanfaatkan kesepian dan depresiku akibat perceraian orangtuaku. Semua aktivitas pacaran kami, aku yang menyokong kebutuhan finansialnya. Sampai-sampai setiap bulan aku selalu kehabisan uang dan tak bisa menabung sepeserpun. Tapi karena haus akan kasih sayang dan perhatian, aku anggap itu sebagai “bayaran” yang setimpal. Tapi malangnya, setelah 2 tahun pacaran, dia selingkuh dan mencampakanku. 

Tidak kuat dengan depresi patah hati, aku kabur dari rumah ayahku, meninggalkan adik bungsuku sendirian disana yang membuatku selalu merasa bersalah hingga sekarang. Aku tinggal dengan sahabat baruku, Kania, teman satu pekerjaan di café. Kami tinggal di kost-kostan ditengah ibu kota. Kost-kostan murah, sempit dan kumuh. Setelah sebulan aku tinggal di sana, depresiku sembuh. Sahabat baruku, Kania adalah sahabat keduaku setelah Lita yang banyak membantuku melalui masa suramku. Dan kami bersahabat sampai sekarang. 

Pada akhirnya, aku menemukan sedikit kebahagiaan karena aku hidup hanya untuk diriku sendiri, tanpa peduli dengan urusan rumah, perceraian orangtuaku dan adik-adikku. Akhirnya, aku bisa hidup hanya untukku sendiri. Untuk pertama kalinya, aku merasa hidupku bebas dan bahagia. lalu, aku sembuh dari patah hatiku dan satu tahun kemudian aku bertemu pacar keduaku. 

Drama terbaru dalam hidupku kembali dimulai setelah aku dan pacarku mulai banyak bertengkar setelah kami berpacaran selama dua tahun. Dia yang mulai masuk kuliah sementara aku yang kerap minta bertemu, selalu menjadi awal pertengkaran kami. Dia, pacar keduaku, tau soal masa lalu keluargaku yang suram dan menerima hal itu, tapi rupa-rupanya dia tidak kuat dengan keadaan mentalku yang sering menangis tiba-tiba dan merajuk untuk sering ketemu. Akhirnya, kami berpisah baik-baik diiringi ribuan permintaan maaf dan deraian air mata darinya, dia minta kami putus. Alasanya karena dia ingin memilih fokus kuliah ketimbang melayani emosiku yang kerap labil. Kami masih saling mencintai saat kami berpisah, hal itu yang terasa berat bagiku. Tapi aku harus menerimanya, karena kalau dipaksakan, gak akan bener. 

Kembali patah hati, akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah ibuku. Yaaah, kembali ke “pusat neraka” dimana semua penderitaanku berawal. Aku pulang karena aku lelah dan aku butuh ibuku, aku rindu ibuku. Aku sedikit bahagia, karena ternyata adik bungsuku juga sudah tinggal disana cukup lama. Kabur katanya dari rumah ayah. Oh, adikku yang malang, maafkan kakakmu yang egois selama 2 tahun terakhir ini. 

Kembali ke rumah ibuku itu artinya aku kembali ke peran awalku, kembali dengan urusan rumah tangga dan bahkan bertambah tugas, menjadi Sherlock holmes bagi ayah tiri-ku. Iya, dia, ayah tiri-ku sering menghilang tanpa jejak. Aku terpaksa yang jadi tumbal mencari keberadaan beliau. Dan begitu ketemu, aku harus berhasil menyeretnya pulang. Karena kalau tidak, ibuku akan terus memaksaku kembali menyuruhnya pulang sambil berlinang air mata. Lelah aku, lelah harus kembali menjadi babysitter ibuku. Tapi tetap aku jalani. Begitulah hari-hariku kemudian berjalan. 

Sungguh tidak terasa, ternyata waktu sudah berjalan kurang lebih 20 tahun sejak ayah dan ibuku bercerai. ritmenya selalu sama. aku yang mudah rapuh, lalu mencari pelarian lewat menulis, menggambar dan bertemu Lita atau Kania. selalu begitu. 

Pada akhirnya, aku bertemu yang namanya pencerahan. 


Setelah aku kerap mengalami physical abuse dan mental abuse sedari kecil, lalu perceraian orangtuaku, pernikahan siri kedua orangtuaku dengan pasangannya masing-masing beserta skandalnya, diselingkuhin pacar dan gonta ganti pekerjaan. semua itu sungguh proses panjang, melelahkan dan menguras banyak tenaga dan emosiku. tapi, aku tak jua bertemu dengan yang namanya proses mengihklaskan apalagi menerima. pencerahan itu tak kunjung tiba. 

Hingga suatu hari, sepulang kerja aku menemukan selembaran promosi perkuliahan. aku memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah di usiaku yang sudah berada di penghujung 30-an. sangat telat memang, tapi ini upayaku untuk tetap merasa hidup dan waras. aku ingin mengejar impianku yang lain, yaitu menjadi seseorang yang bisa hidup mandiri dengan sebuah karir dan profesi. 

Adalah Arsitekur lanskap pilihanku. kujalani perkuliahan selama 2 tahun dengan biaya dari uang gaji ku. namun lama kelamaan, tuntutan tugas yang bejibun tidak bisa lagi membuatku bisa bekerja. aku memutuskan berhenti bekerja dan meminta ayah dan ibuku membiayai kuliahku, dengan memelas bantuan mereka dan bahkan memberanikan diri membuat SKTM, semua cara dan upaya kujalani agar kuliahku bisa terselesaikan. aku bahkan menjadi asisten salah satu dosenku yang mana aku banyak belajar darinya. 

Di tahun ketiga perkuliahanku, aku bertemu dengan pacar ketigaku, Ryan. pertemuan kami di luar dugaan sebetulnya. kami bertemu di dunia maya, sosmed. kami chatting ber jam-jam membahas satu hal yang kami sama-sama suka. musik. Ryan seorang pemain band juga Guru honorer di sekolah dasar. hingga akhirnya kami kopi darat dan mulai saling jatuh cinta. 

Dua bulan kami berpacaran, Ryan melamarku. aku bahagia bukan main. Ryan mengetahui bagaimana aku menjalani hidupku, permasalahanku, ketakutanku, kebutuhanku dan cita-citaku. dia berjanji akan menjagaku selamanya dan membahagiakanku. mengangkatku dari kubangan penderitaanku. sungguh momen yang tidak terlupakan. bagaimana tidak, selama 20 tahun aku berjuang sendirian dan tidak memiliki sandaran, lalu ada seseorang yang menawarkan bahunya untukku bersandar dan kedua tangannya untuk menjagaku serta hati yang hangat dan lembut untuk mencintaiku, mana bisa aku tolak. 

Pada akhirnya, inilah momen dimana aku bisa melepas masa laluku dan merelakannya berlalu. mencoba memahami, menerima dan mengikhlaskan. mencoba memaafkan walau tak pernah sekalipun aku menerima permintaan maaf. Proses yang sangat panjang dan melelahkan hingga akhirnya aku bisa hidup dengan meninggalkan kisah sedih hidupku dan hidup dengan normal. 

Dua tahun kemudian, kami menikah dan aku kembali mengenakan jilbabku. perintah pertama dari suamiku. tentu aku tidak menolak. 

Aku tau, dosaku menanggalkan jilbabku mungkin terlalu besar. namun aku yakin, pintu taubat Tuhan Maha Besar dan Maha Luas. aku kembali mendalami agama yang sudah lama kutinggalkan. aku juga tetap menulis dan menggambar. sementara pak suami tetap menjalani usahanya meraih impiannya membesarkan Band yang sudah dia rintis sejak masih dibangku SMP sembari mencari recehan menjadi guru honorer. kami bahagia. 

hingga akhirnya kami dikarunia dua anak laki-laki yang lucu, menggemaskan, cerdas dan sehat. alhamdulillah. kurasa hidupku sudah sangat sempurna. 

Namun, ternyata aku masih memiliki pe-er yang cukup besar. perang batin dengan diriku sendiri. kini aku berperang melawan trauma masa laluku masih menghantuiku hingga sekarang. Tetapi bukan perasaan sedih dan depresi yang tertinggal, tapi sikap dan perilaku-ku kini yang sedikit banyak dipengaruhi oleh trauma masa lalu. Perilaku yang mempengaruhi sikap dan caraku berkomunikasi dengan suamiku dan caraku dalam mendidik anak-anakku. suatu hal yang tidak pernah terpikirkan olehku. 

Setelah mengalami post partum depression setelah 2 kali melahirkan dan menjadi orangtua, lalu menjalani hari-hari pernikahan yang tidak mudah selama 8 tahun terakhir, aku menemui penyadaran diri, bahwa aku mengalami yang namanya Ghost parenting.

Inginku untuk menjadi orangtua terbaik yang bisa membahagiakan anak-anakku sungguh besar. namun nampaknya alam bawah sadarku sudah merekam jutaan frame perilaku kedua orangtuaku terhadapku dimasa lalu. sehingga, aku sering tidak sadar marah, membentak dan mencubit anak-anakku di waktu-waktu dimana mereka rewel luar biasa. aku menyadari hal itu, teramat sadar. sehingga, usahaku untuk meredam semua itu sangat diperlukan. aku belajar online mengenai parenting dan penyembuhan luka. aku belajar bagaimana cara mendidik anak sembari menyembuhkan luka trauma masa lalu.

Ini tidak mudah, semua trial and error. terkadang aku kuat dan bisa bertahan, terkadang aku lelah dan jengah dengan semua tips dan ilmu parenting hingga aku harus melakukan puasa dan detox sosmed beberapa hari. memiliki waktu sendirian adalah solusi yang tepat. aku bersykur suamiku banyak membantuku dan memberiku waktu Me Time minimal 1 minggu sekali, agar emosi ku kembali stabil dan aku siap kembali ke medan perang. 

Aku tau, aku bukan orangtua sempurna bagi anak-anakku. Karena aku tumbuh dengan banyak memendam rasa sedih dan amarah, juga melalui banyak serangakaian peristiwa tragis, menyedihkan dan kecewa dan rasa sepi, sekarang aku menjadi orang yang mudah murah dan sangat sensitive. Suamiku kerap menyarankan aku untuk berubah, tapi sikap sensitive dan mudah marahku bukan hal yang bisa dengan mudah “dihilangkan” layaknya menghapus kesalahan nulis pake penghapus. Tapi seperti menghapus tattoo pake laser. Prosesnya lama, menyakitkan dan masih meninggalkan bekas. 

Yah, aku menyalahkan kedua orangtuaku karena dulu kerap melakukan physical abuse dan mental abuse yang berakibat sekarang aku mengalami ghost parenting. Aku berusaha teramat keras untuk mengurangi level amarahku setiap hari dan berhenti mencubit anakku. Jadi, ketika aku marah, aku masih bentak dan teriak, tapi aku tidak mencubit mereka dan memilih mencubit diriku sendiri hingga amarahku akhirnya hilang. 

Ghost parenting adalah horror baru bagi kami yang mengalami physical abuse dan mental abuse semasa kecil, dilengkapi dengan perceraian orang tua dan pengalaman tragis lainnya. Kami adalah korban, memang demikian. Tapi kami harus meruntuhkan perasaan menjadi korban agar lingkaran setan itu berhenti di kami saja, jangan sampai anak-anak kami mengalami hal yang sama dan akhirnya mereka mengalami juga ghost parenting dan diturunkan pada anak-anaknya dan terus demikian tiada akhirnya.

Atas nama cinta pada anak-anak dan bentuk pertanggung jawaban pada Tuhan, kami, sekali lagi harus berjuang melawan trauma masa lalu. Diawali dengan memahami mengapa orangtuaku bercerai, lalu menerima perceraian mereka sebagai bagian dari takdir dan memaafkan mereka.

Prosesku kembali berjuang menghentikan ghost parenting di mulai, karena akhirnya aku sadar, orangtuaku, keduanya juga tumbuh dalam keadaan sulit dan juga sering mengalami physical abuse dan mental abuse dari orangtua mereka. sedikit “wajar” kalau mereka melakukan hal yang sama padaku, anak mereka. tapi, lingkaran setan itu harus berhenti sekarang juga. Aku memaafkan kedua orang tuaku sepenuhnya pada akhirnya, demi anak-anakku.

Biarlah, semua sesak yang menyesakkan dada dan semua rasa sedih yang mendarah daging di jiwaku terhapus lewat aliran air wudhu dan isakan air mata dalam sujud solatku, aku memang terluka, tapi aku telah memaafkan ayah – ibu, esok hari aku ingin pulang ke rumah ibuku yang kini hidup sendiri tanpa suami dan meratapi nasib kurang mujurnya dalam pernikahan seraya tak hentinya berdoa di setiap sujud tahajudnya setiap malam, mendoakan kami anak-anaknya untuk selalu sehat dan bahagia. 

Setelah menjadi orang tua, aku sadar, aku memang terluka sedemikian parahnya atas sikap mereka terhadapku di masa lalu, tapi aku juga tak luput dari semua salah yang menyakiti perasaan mereka yang aku yakin sudah mereka maafkan sebelum aku memintanya. Tidak ada orangtua tanpa cela, jadi aku sisakan ruang dihatiku untuk memaafkan dan melupakan, agar sisa ruang lain yang lebih besar bisa ku isi dengan cinta dan kasih sayang.

Bersabar dalam menghadapi ujian bukanlah bersabar dalam menahan segala emosi, tetapi bersabar untuk menahan diri untuk tidak melakukan hal yang sama atau membalas perbuatan orang yang menyakiti kita. Memang tidak mudah, maka aku pinta Tuhan memuluskan jalanku dan menguatkan niatku. Perjalananku dalam mengobati luka, pada dasarnya harus dimulai dari keyakinan bahwa, penyembuh luka itu hanya Tuhan, Allah SWT. Terbukti dengan pertemuanku dengan Lita, Kania dan suamiku. Aku ingin terus melakukan kebaikan, hingga Allah menghapus kesalahanku dan menyempurnakan keadaanku. 

Satu hal yang selalu ku ingat, Tuhan saja segitu besar lautan maafnya terhadap hamba-hambaNya, masa aku gak? 

Kini aku paham, orang tuaku, sama sepertiku, manusia biasa. Kalau dulu aku memaafkan kedua orang tuaku karena aku ingin berdamai dengan hidupku sendiri, maka sekarang aku memaafkan mereka karena aku sendiri mengalami sendiri menjadi orangtua itu bagaimana dan menjalani hidup berumah tangga itu bagaimana. Akhirnya, aku tau bagaimana rasanya berada di posisi ayah dan ibuku. 

Aku yakin, perceraian bukanlah hal yang mereka berdua inginkan. Pernikahan memang bukanlah hal yang mudah. Aku rasakan sendiri bagaimana sulitnya menjalani pernikahan. Ego adalah sumber segalanya.

Aku tidak mengatakan bahwa pernikahanku baik-baik saja, kalo pernikahan demikian sempurna tanpa masalah, itu namanya pernikahan khayalan. Aku dan suami kerap bertengkar dan adu mulut, aku sering marah dalam diam dan memendam kecewa. Tapi aku belajar, menahan ego dan menstabilkan emosiku. Tidak mudah, dan proses itu akan terus berjalan di sepanjang pernikahan.

Kadang aku bisa maklum, tapi lain hari tidak. Yang terpenting adalah, begitu aku merasa marah dan kecewa pada suamiku, aku arahkan pikiranku untuk memahami suamiku. Lalu memaafkan beliau. 

Mungkin, ayahku akhirnya menyerah pada ego nya dan ibuku juga demikian. Mereka hanya manusia biasa yang juga punya kisah masa lalu yang tragis yang akhirnya membentuk kepribadian mereka. aku berfikir, mereka memang sudah tidak cocok. Kalo pernikahan dirasa sudah tidak nyaman dan lebih sering bertengkar ketimbang ketawa bersama, untuk apa terpaksa dijalani hanya demi anak.

Yang terpenting, kalau mau bercerai, lakukanlah baik-baik. Jangan lampiaskan emosi pada anak, jangan sampai anak mengalami seperti yang aku alami. Tetap jaga nama baik pasangan demi anak-anak. Berpura-pura akurlah atau akur beneran aja di depan anak-anak. Dengan begitu, anak gak akan merasa depresi dan kesepian. Aku tau, menurunkan ego memang sulit, apalagi kalo kita selalu merasa jadi korban, tapi lakukanlah, demi anak-anak. Karena mereka tanggung jawabmu terhadap Tuhan!! 

Tapi aku selalu berharap, aku tidak mengalami apa yang orangtuaku alami. Aku sayang keluarga kecilku. Aku sayang suamiku dan kedua anakku. Aku berharap, kami bisa melewati semua ujian rumah tangga hingga akhir hayat. 

Dan aku berharap, suatu hari aku bisa menikmati indahnya senja tanpa diikuti dengan ingatan kelam dan kesedihan masa laluku. aku berharap bisa tersenyum dengan hangat sehangat pelukan sinar matahari senja. 


Ini adalah, sekantong harapanku yang bernama KEBAHAGIAAN. 



END