Tampilkan postingan dengan label Motherhood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motherhood. Tampilkan semua postingan
balita kurus tapi sehat




Perlu khawatirkah JikaTubuh Balita kurus  ? ya saya khawatir. Karena saat ini balita saya, Kilan terlihat seperti balita kurus meskipun ia memilki tinggi badan ideal, yaitu 100cm.

Sejak lahir, Kilan yang sekarang berusia 4 tahun memang memiliki tubuh yang kecil nan ramping tapi tinggi.

kamu kena prank


menjadi gemuk


Menjadi Gemuk dan Bahagia, Benarkah? : Tanos Drink Water Challenge Journal : Day 3


Its sooo late post, beneran! Tapi gpp ya yang penting setor, eeaaa. Kali ini saya mau bahas soal dilema berkepanjang selama masa pandemi, yaitu kenaikan berat badan yang gak tangung - tanggung mencapai 5 kg! dahsyat ya!

Apa sih yang membuat berat badan saya melambung tinggi ke angkasa gini? sudah barang tentu pola makan dan pola tidur yang tidak benar. Katakanlah, hobi bergadang dan makan seenak jidat. apa aja dilahap, termasuk sang raja gorengan dan mie instan. Porsi makan pun gak masuk akal, bahkan pasangan saya bilang porsi makan saya udah layaknya monster yang kelaparan. hadeeuuuh.

Sedih gak sih? iya sedih, terlebih begitu pasangan beliin saya celana baru eh ternyata gak muat dong! wkwkwk. Terpaksa lah dibalikin lagi ke tokonya dan ganti dengan size 36! Subhanallah.

Bahagiakan saya menjadi gemuk  

Bahagiakan saya menjadi gemuk dan santay? jawabannya adalah iya. Lho kok bisa? memang, saya sempat kalang kabut begitu ketemu jadwal suntik KB karena pasti ketemu sama yang namanya timbangan berat badan. Udah deh, nimbang badan sembari tutup mata! dan bener aja, begitu liat angka kaann saya syok! hahahaha. akhirnya, ya udah lah ya....saya terima aja deh diri ini menjadi gemuk bahkan sering djadiin samsak permainan smekdown anak-anak karena dibilang badan emak asoy buat jadi samsak, hadeuuh.

Beruntung saya punya pasangan yang gak begitu peduli apakah saya menjadi gemuk atau kurus, selama saya baik hati dan tidak sombong sih dia asoy aja. Walau kadang suka nyemprit juga sih nyuruh zumba atau olahraga, tapi bukan ke nurunin berat badan melainkan biar tetap sehat dan fit. 

Dan ya, saya bahagia dengan kegemukan saya saat ini. Bahagia itu kan datang dari diri sendiri yang menerima keadaan diri sendiri. Jadi stress no more sih. Tapi, bukan berarti gemuk ini saya biarkan tanpa batas ya. Tetep ada koridornya dong, kalo gak nanti kebablasan dan kesehatan yang jadi taruhannya. Betul?

Kesehatan tetep nomer satu, karena bahagia juga kalo sakit ujung-ujungnya kan gak bahagia dan malah meriwehkeun orang sekitar. jadi, kalo berat badan saya akhirnya menjadi 66kg udah deh stop! harus ditakar lagi porsi makan, kurangi garam dan gula dan sebisa mungkin kurangi tuh beli beli thai tea! Dan tentu saja jangan berhenti minum air putih at least 2 liter sehari buat buang toxic dan lemak di tubuh.

Dan di hari ketiga Tanos drink water challenge ini saya bolos minum 2 gelas! bravo! nakal aku yaa...hihihi. Inilah cerita saya di hari ketiga, apa kabar cerita kak Renovrainbow yaaa??


Tanos drink water challenge
Tanos drink water day 3


Apa Kabar nih para pejuang Tanos hari ini?


Halo partner ku kak Renovrainbow, gimana cerita tantangan Tanos drink water challenge hari kedua? pasti seru ya. Pengalaman dari para pejuang Tanos lainnya juga seru - seru. 


Tanos
Report TDWC Day 3 para peserta

Buat teman - teman yang penasaran dengan perjalanan para pejuang Tanos selama mengikuti challenge ini, silahkan kepo - kepo instagram saya dan kak Renovrainbow ya. 




Melepas Impian demi anak, Bukan Akhir dari Segalanya

Banyak hal yang kita korbankan, sebagai seorang ibu untuk anak-anak kita. Jangan tanya soal waktu dan tenaga, itu sudah pasti. Yang terberat dari semua itu adalah, meninggalkan impian.

 

Menjadi  seorang Arsitektur Lanskap adalah impian saya. Dan dengan terpaksa saya Melepas Impian saya itu layaknya menerbangkan burung merpati, lepas bebas di angkasa. Sedih rasanya, sesak di dada dan membuat saya kehilangan harapan dan semangat. Tapi, saya tidak punya pilihan. 

 

Cerita Awal

 

Tahun 2009, saya memutuskan untuk meneruskan kuliah saya ke jenjang S1 ( dulu lulus DIII ) dan ambil jurusan Arsitektur lanskap. Bukan keputusan mudah untuk kuliah lagi di saat usia saya hampir mendekati 30-an. 

 

Masalah biaya, teman kuliah yang usianya terpaut jauh serta waktu yang harus saya atur agar masih bisa bekerja. Untungya, para dosen sangat mendukung dan berbaik hati mau mengatur jadwal kuliah agar saya masih bisa kuliah sambil bekerja.

 

Tapi, dengan semakin padatnya mata kuliah dan kuliah lapangan. Akhirnya saya harus memilih, antara meninggalkan pekerjaan atau berhenti kuliah. Dilema yang terasa sangat berat, sungguh.

 

Karena di satu sisi, saya masih membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi hidup saya yag sudah tidak bisa lagi bergantung pada ibu saya. Tapi di sisi lain, akhirnya saya menemukan impian dan karir yang ingin saya capai. Yaitu menjadi seorang Arsitektur Lanskap.

 

Bersyukur saya bertemu Dosen yang luar biasa baik hati . Beliau rela merogoh koceknya untuk membiayai kuliah saya satu semester dan mengijinkan saya bekerja dengannya. Menjadi drafter dan assisten dosen. Bahkan, masa depan karir saya sudah beliau rancang sedemikian rupa sehingga saya tidak perlu lagi mengkhawatirkan lapangan pekerjaan setelah lulus kuliah. Saya sangat bersyukur.

 

Lalau Dua tahun kuliah, saya bertemu jodoh saya dan menikah.  Saya tetap kuliah dan Pak Suami mendukung 100%. Dua tahun kemudian saya hamil anak pertama saya, Keenan.

 

Selama hamil, saya ajak Keenan jadi pinter. Karena saya harus sidang skripsi. Saya ajak bimbingan dan  bolak-balik ke tempat penelitian. Rempong gak sih? Iya, banget! Tapi alhamdulillah Paksu selalu setia menemani jadi babang ojeg kemanapun saya  menuju.

 

Ada kejadian lucu  tapi sebetulnya naas  selama masa bimbingan ini. Jadi, waktu itu musim hujan. setiap pulang bimbingan pasti keujanan. Jas hujan selalu siap sedia. Tapi sayangnya waktu itu  hujannya gede banget, udah kaya badai aja. Dan malangnya, perempatan GedeBage, banjir.

 

Akibatnya, motor kami mogok dan terpaksa Paksu mendorong motor melewati batas banjir yang sampai  selutut itu dari perempatan hingga pasar GedeBage. Saya ngikutin dari belakang sambil komat-kamit baca solawat karena takut terpeleset. Saya takut si calon jabang bayi di perut saya yang sudah memasuki usia 8 bulan ini kenapa – napa . Karena saya jalannya sangat lamban dan hati-hati, saya tertinggal cukup jauh dari Paksu dan berusaha mengejar Paksu. Ditengah jalan, tiba-tiba saya terjatuh dan terperosok! Masuk got! Gak keliatan karena tertutup banjir.

 

Semua orang berusaha menolong saya yang berusaha bangkit sambil menangis. Saya gak bisa lihat dimana Suami saya dan saya takut si utun kenapa napa. Seorang bapak-bapak lantas bertanya,

 

Bu, gak apa-apa? Dimana suami ibu? “ tanyanya,

 

Suami saya? Eng ...eng..dimana ya pak suami saya? “ tanya saya balik bertanya sambil menangis.

 

Si Bapak malah bingung dan membantu saya berjalan sampai jalan raya yang tidak tergenang banjir.  Di ujung jalan, tiba-tiba saya melihat sosok suami saya dan berlari  layaknya scene film AADC. Sambil menangis saya teriak,

 

Babah.... Babaaahhh!! “ teriak saya. Paksu kaget melihat saya dan bertanya,

 

Ndaa tadi kemana? Aku nyariin!! Aku takut kamu kenapa – napa! Gpp kan? Kok nangis? “ tanyanya khawatir

 

Tadi aku jatuh ke solokan. Gak keliatan! Aku takut! “ jawabku masih sambil nangis.

Ya Allah! Maafin aku ya ninggalin kamu. Maafin aku belum bisa beliin kita mobil! Maafin yaa.... udah jangan nangis lagi “ jawabnya sambil meluk saya erat-erat.

 

Akhirnya kami pulang, sambil mendorong motor sampai rumah yang jaraknya hampir 5 KM!  Hari itu sungguh luar biasa naas, tapi lucu kalo dipikir – pikir!

 

Kalo mengingat moment itu, sungguh luar biasa perjuangan saya yang tetap meneruskan kuliah sambil hamil besar.

 

Melahirkan Keenan

 

Malam itu saya resah. Perut saya tak enak dan saya sulit tidur karena saya merasakan mules yang tiada henti. Ibu saya bilang saya akan segera melahirkan. Lalu esoknya kami ke bidan. Dan setelah di cek, saya sudah pembukaan satu. Lalu kami pulang dan menunggu di rumah. 

Pukul 10 pagi, saya merasakan mules yang semakin hebat. Tidak kuat rasanya sampai meminta Paksu mengantar saya ke bidan dan menunggu disana sampai saya melahirkan. Dengan gerak cepat Paksu ambil motor dan antar saya ke bidan. 

Lucunya, ditengah jalan sedang ada razia motor. Kami yang naik motor tanpa mengenakan helm, sudah pasti di stop Pak Polisi. 

Selamat siang pak, maaf bapak saya tilang karena tidak menggunakan helm! “ sapa pak polisi, 

Aduh pak! Maaf istri saya ini mau melahirkan! “ jawab Paksu teriak 

Ooohh... aduuuh... baiklah pak! Maaf kalau begitu, ayo cepat segera ke rumah sakit. Hati-hati dijalan ya Pak “ jawab pak polisi yang malah jadi panik dan bingung!  Dan kami pun tidak  jadi ditilang dan kami sampai di bidan dengan selamat, Hehehehe. 

Setelah menunggu hampir 12 jam, pembukaan tetap di angka satu. Gak naik-naik. Bidan akhirnya memutuskan menggunakan induksi agar pembukaan saya cepat naiknya. 

Iya sih jadi cepet naik kaya roket, saking cepetnya saya gak bisa nahan itu rasa mules sampai terus nangis dan meringis. 

Enam jam kemudian akhirnya saya pembukaan 10 dan siap melahirkan. Rasanya? Sakit banget buuu!! Sampai saya ga tahan dan teriak kaya orang gila. Padahal udah komat kamit baca doa dan solawat. Tapi tetep saya gak kuat nahannya. Sampai-sampai pak suami abis babak belur badan sama kepalanya saya cubit , cakar dan jambak rambutnya! Huhuhu, maafkan aku Paksu. 

Alhamdulillah, keenan lahir dengan selamat dan sehat sempurna. Rasanya? Bahagia sekali. Dan gak nyangka. Tapi sayangnya, saya mengalami Ruptur stadium empat yaitu tingkatan tertinggi dalam ruptur perineum setelah melahirkan. 

Robekan ini memanjang hingga ke dinding rektum, dimana jalan lahir sobek parah hingga anus yang berpotensi menyebabkan disfungsi dasar panggul dan saluran pencernaan. Hingga akhirnya bidan menyerah dan membawa saya ke rumah sakit dan saya di operasi bius total. 

Alhamdulillah proses operasi lancar. Tapi tidak dengan proses pembayaran operasi. Total biaya operasi memakan uang hingga 15juta! 

Suami saya sampai syok dan menangis di depan saya setelah saya siuman. Kami tidak punya tabungan sebanyak itu. Kami hanya menyiapkan dana 5 juta saja untuk persalinan. Itupun sudah habis untuk biaya persalinan di bidan. 

Ingin saya memohon bantuan pada ibu, tapi tiba – tiba saya ingat kalau beliau masih menanggung biaya kuliah adik bungsu saya. Lalu saya ingat ayah saya, saya coba telpon beliau tapi sayangnya setelah setengah jam menelpon, panggilan saya tidak dijawab. Orang tua saya sudah bercerai, sehingga suasana ini makin membuat hati saya sedih dan merana. 

Saya tertegun diam dan berfikir segalam macam alternatif solusi. Hingga akhirnya saya memutuskan suatu hal yang saya tau saya akan merasa sangat terpukul dan sedih teramat sangat karenanya. 

Saya lihat, Paksu juga berusaha menelpon kesana dan kemari mencari pinjaman. Tapi sepertinya gagal. Karena beliau datang menghampiri saya dengan wajah sendu. Melihat Paksu begitu kebingungan, akhirnya saya angkat bicara , 

Bah, pake aja uang buat sidang dan wisuda aku “ ucap saya 

Hah? Apa ndaa? Pake uang kuliah ndaa? “ jawab paksu terperangah kaget, 

iyaa..... “ jawabku sambil nangis, 

Tapi ndaa.... “ jawabnya getir 

Gak apa-apa Bah, aku ikhlas “ jawabku berusaha nahan tangisan. 

Lalu kami saling memandang dan berpelukan. Ya Allah, sesungguhnya aku sedih dan bingung. Tapi, kami tak punya pilihan.

Keputusan Akhir


Akhirnya, inilah moment dimana saya harus melepas impian terbesar saya demi kesembuhan saya setelah melahirkan keenan, anak pertama kami. Saya sedih? Tentu. Kecewa? Tidak. 

Pada akhirnya saya merasa, menjadi Arsitektur Lanskap mungkin bukan jodoh saya. Mungkin Allah hendak mengantarkan saya menuju impian lain dan menyiapkan saya untuk rencanaNYA yang lebih besar. Wallahualam. 

Terkadang saya merana, setiap kali Dosen yang baik hati itu menelpon atau watsapp menanyakan kabar saya dan menyemangati saya untuk meneruskan kuliah. Tapi dengan berat hati saya selalu menolak dengan alasan anak saya tidak ada yang menjaga. Padahal, sesungguhnya bukan itu alasannya. 

Ingin rasanya meneruskan kembali, tapi situasi finansial kami masih belum stabil. Usaha Paksu juga masih dirintis sementara kebutuhan bayi dan rumah tangga selalu meminta tiada henti setiap hari. 

Akhirnya, saya ikhlaskan dan melepas Impian saya. 

Tapi, Allah itu memang Maha Baik dan Penyayang. Seiring berjalannya waktu , akhirnya saya menemukan impian baru. Menjadi illustrator dan Menulis. 

Iya, saya tetap meneruskan hobi menggambar saya hingga berbuah manis yaitu di pinang saah satu clothing di Bandung dan menjadi illustrator mereka selama hampir 5 tahun terakhir. 

Saya juga kembali menekuni hobi saya yang lain yaitu menulis di Blog dan memutuskan untuk menjadi Blogger. Akhirnya, disinilah passion saya tertambat dan berlabuh. Entah ada rencana besar apa yang Allah siapkan untuk saya di impian baru saya ini. Apapun itu, saya tetap bersyukur. Karena melalui menulis, saya bertemu banyak relasi dan kawan baru yang saling support dan menyemangati. Dan yang paling utama, saling menguatkan dan menginspirasi. Untuk yang satu ini, saya tidak bisa berhenti bersyukur. Terimakasih Ya Allah. 

Terkadang, rencana yang sedemikian dirancang degan sempurna pada akhirnya bisa ambyar dan tidak tercapai. Terkesan tidak adil memang, tapi rencaa Allah lebih besar dan hebat dari rencana kita manusia. Jadi, tidak apa akhirnya saya tidak menjadi Arsitektur Lanskap. Karena sekarang saya menjadi “arsitektur” masa depan anak-anak saya. 

END

-----------------------------------------

Tulisan ini memenangkan juara pertama dalam sayembara menulis Paidguestpost#1 bertema THOUGHT yang diselengarakan oleh pemilik blog CREAMENO 





Akhir-akhir ini pikiran saya terusik sama postingan akun parenting di IG milik  mamahtalks,  yang menampilkan sosok seorang Anchor favorite saya, Marissa Anita. 



Disini, Marissa Anita dengan gamblang menjelaskan apa itu inner child, dan jujur saya nangis nonton di bagian akhir video ini.

MY INNER CHILD



Sebelum melangkah ke definisi, apa itu Inner Child. berikut saya ceritakan pengalaman saya pertama kali menjadi ibu. curhat? tentu, berbagi cerita? ya!, karena tanpa curhat inilah, saya tidak akan menemukan akar Inner Child saya.

Jadi, setelah saya menjadi ibu dari dua anak, saya menemukan fakta mengejutkan bahwa Ternyata, jadi fulltime mother itu tidak mudah. Banyak yang perlu dibenahi. terlebih lagi soal diri sendiri. kalo ada universitas khusus menjadi ibu saya mau ikutan, tapi sayangnya, setelah kita melahirkan anak pertama, si doi lahir tanpa manual book, jadi, semua proses harus dijalani dan diikuti. 

Pertama, setelah Keenan, anak pertama saya lahir saya bagaikan orang bego, bingung mau ngapain ketika pertama kali meluk keenan.

Lantas ibu mertua bilang segera susuin, yo wes-lah saya susuin. Terus apa mudah nyusuin anak pertama? Gak lah marisol!! Bingung saya nyusuin itu harus gimana, diteken-teken, dipijat-pijat atau begimana? Ya yg paling naluriah ajah lah, saya sodorin aja langsung. My baby langsung nyomot asi dan dikenyot, tapi gak lebih dari 10 menit keenan nangis histeris, lahh saya nambah bingung mak, bayi nangis harus diapain?? 

Saya langsung eyong aja sambil kasih susu formula buatan ibu mertua. Alhamdulillah my baby diam seketika. Saya langsung sadar, “ oh begini ya jadi fulltime mother dan ngurus bayi” sambil masih merasa bego sendiri. 

Dan, rutinitas ibu baru pun saya jalani. Mulai dari mandiin, susuin, tidurin, mandiin lagi, susuin lagi, tidurin lagi sampai saya sulit mandi dan makan. Bukan hanya itu, jahitan sisa operasi di area jalan lahir dan sekitarnya masih terasa sakit, terlebih kalo saya duduk dan bangkit dari duduk. hal ini bikin saya stress dan akhirnya terkena BABY BLUES SYNDROME.

Selama 1 bulan setelah melahirkan, Saya murung, melamun, gak selera makan, sedih dan banyak nangis. Sementara saya tinggal dengan mertua, suami bekerja dan ibu kandung pun bekerja. Seketika saya merasa berjuang sendirian. Dan hal ini saya alami sampai keenan 1 tahun. Curhat sana sini sudah, nangis ampe mata bengkak sama pak suami juga sudah. Rupa-rupa nya ini bagian dari proses yang namanya MENJADI IBU. 

Itulah moment pertama kali saya sadar, kalo jadi ibu itu gak seindah yang ditawarin film- film hollywood. Saya kelelahan luar biasa, kurang makan, kurang mandi, kurang tidur dan kurang bersosialisasi. Lengkap sudah. 

Setelah keenan melewati fase 1 tahun, saya mulai mencair. Gak terlalu tegang soal jadi fulltime mother dan ngurus anak, mulai santai dikit lah walo tetep hectic. Saya mulai menikmati jadi ibu. Layaknya mom jaman now, saya selalu pasang kamera di setiap moment penting perkembangan keenan terus pamer deh di semua akun sosial media saya, instagram, facebook, twitter dan BBM ( waktu itu WA blm ada ). 

Saya gak ngalamin lagi baby blues, saya mulai beradaptasi dengan serba kekurangan yang dimiliki seorang ibu yg punya bayi ( kurang mandi, tidur, makan, jajan, dangdan, shopping, jalan-jalan, kongkow dan piknik ) dan mulai bersahabat dengan DRAKOR karena itu satu-satunya hiburan saya, hehehe

Lalu, muncul lah episode baru dalam hidup saya layaknya sinetron hidayah indosiar, babak baru menjadi ibu, HAMIL ANAK KEDUA YANG TIDAK DIINGINKAN!! Dan dari sinilah semua tuh drama jadi ibu dimulai.

Tahun 2015, saya mengandung Kilan, anak kedua saya. Bisa di bilang, ini adalah kehamilan diluar kehendak. tapi, yang namanya TAKDIR DAN REZEKI, kita gak bisa nolak. apapun alasannya, kalo kata GUSTI ALLAH JADI, ya jadilah.

Tapi sayangnya, kehamilan ini justru menarik saya begitu dalam hingga terperosok ke lembah stress dan depresi. ketidaksiapan mental menjadi ibu ganda, ketidaksanggupan menurus bayi lagi dari nol karena ingat betapa melelahkannya mengurus bayi itu.... dan ingatan betapa ngerinya mengalami BABY BLUES SYNDROME, saya stress. belum lagi memikirkan finansial .....yaahhh itu stress lapisannya udah melebihi lapisan wafer Tango! 

Karena stress inilah, saya jadi mudah marah bahkan bersikap buruk sekali dalam pengasuhan si sulung. terkadang, keenan rewel dan tantrum. maklum lah usianya baru 2,5 tahun. sebetulnya sih, semua tantrum dia tuh masih dalam batas wajar. cuman karena saya nya aja nih yang lagi error emosinya, jadi tantrum keenan udah kaya neraka bagi saya.

Lalu, saya melakukan kesalahan pertama dalam pengasuhan keenan, BENTAK ANAK dan berlanjut dengan MAIN CUBIT. Padahal saya udah wanti-wanti sama diri sendiri buat gak bentak anak apalagi cubit anak. Karena saya dibesarkan dengan cara seperti itu, dan hasilnya saya trauma. Saya gak mau anak-anak saya mengalami apa yang saya alami. 

Tapi kenyataannya, malah sebaliknya. Saya bingung, kok bisa gitu sih? Kok bisa saya bertekad buat gak melakukan physical abuse sama anak saya tapi pas prakteknya yang terjadi adalah sebaliknya.

Merasa bersalah setiap saat dan setiap hari setiap malam sambil mewek dan melihat anak-anak tidur tentu saya alami, tapi sayangnya, keesokan hari nya saya melakukan hal yang sama lagi. Ini bagaikan lingkaran setan anu teu ereun-ereun ( gak berhenti). Dan ini bikin saya ngerasa jadi ibu yang super jahat dan gagal jadi ibu. saya tuh kenapa sih? .... tau gak kenapa buibu?...Ternyata, semua itu dikarenakan Inner child saya. what?? ... 

DEFINISI INNER CHILD

Mengacu pada John Bradshaw (1992), inner child merupakan pengalaman masa lalu yang tidak atau belum mendapatkan penyelesaian dengan baik. Orang dewasa bisa memiliki berbagai macam kondisi inner child yang dihasilkan oleh pengalaman positif dan negatif yang dialami pada masa lalu. Seperti motivasi alam bawah sadar lainnya, inner child juga muncul pada orang dewasa dalam bentuk perilaku atau keadaan emosi yang tidak disadari (unconscious).

Ada definisi lain soal Inner chiild :
Menurut Vanessa Guerrero inner child adalah bagian dalam diri kita yang terluka ketika masa kanak-kanak yang untuk sebagian orang luka yang timbul sangatlah dalam dan menghancurkan bahkan bisa lebih buruk, meskipun terdapat bagian menyenangkan saat masa kanak-kanak tetap saja beberapa luka mungkin terjadi sepanjang jalan dan jika luka tersebut belum sembuh maka akan berdampak pada masa dewasa.

Jadi, INNER CHILD itu apa? samakah dengan Ghost Parenting? 
BENANG MERAHNYA Dimana?

Ghost parenting, lebih mengacu kepada pola asuh kita saat ini yang dipengaruhi oleh pola asuh yang kita terima dimasa lalu. outputnya beragam, jika kita diperlakukan "baik" disepanjang masa pertumbuhan kita saat kecil hingga remaja, maka pola asuh kita kepada anak-anak kita akan baik-baik saja. 

Sebaliknya, jika kita hidup dalam keluarga yang broken, banyak di kritik, menerima kekerasan fisik dan verbal dan dididik keras, maka akan seperti itu pula pola asuh kita kepada anak-anak kita. KECUALI, kita menyadari bahwa kita mengalami ghost parenting dan mulai menata diri sendiri agar lingkaran setan itu berhenti di kita aja.

Lantas, apa itu inner child sebenarnya?
Inner child itu, adalah anak kecil dalam diri kita yang mengalami pola asuh yang buruk dimasa lalu oleh orangtua kita dan berdampak pada pola asuh kita terhadap anak - anak kita pada saat ini, yaitu GHOST PARENTING. 

Memang Ada Apa Dengan Masa Lalu Saya? Kepo kaannn? hehe

Nah ini yang saya maksud dengan kenapa saya curhat di paragraf atas. saya yang mudah terkena Baby blues syndrome, merasa stress, marah ,depresi dan berani bentak juga cubit anak selama masa pengasuhan anak-anak saya.

Semua itu dikarenakan saya mengalami ghost parenting dimana inner child saya terluka akibat pola asuh yang sangat buruk yang saya terima disepanjang masa pertumbuhan saya sejak kecill hingga remaja.

sudah mengerti sekarang? udah ketemu benang merahnya kan ?

Bagi pembaca setia blog saya pasti sudah baca postingan saya yang berjudul " Sekantong Harapan Bernama Kebahagiaan ", disana ceritanya saya bikin cerpen fiksi, tapi pada kenyatannya cerpen itu 100% kisah saya. gak ada yang di tambahin ceritanya biar lebih buas dan seram. Bagi yang belum baca, mangga dibaca ya biar tau kenapa saya merasa inner child saya adalah pangkal dari semua pola pengasuhan saya yang buruk terhadap anak-anak saya. 

Lantas, apakah saya menyalahkan kedua orangtua saya karena telah mengasuh dan mendidik saya dengan cara sedemikian menyakitkan bagi saya? iya tentu saja! tapi itu adalah proses bagi saya untuk akhirnya memahami mengapa mereka demikian dan memaafkan mereka pada akhirnya. 


SOLUSI Dan PROSES AKHIR

Pada akhirnya, saya bikin mind map buat solusi masalah ini, karena saya gak mau berlaur –larut soal ini, karena masa depan psikologis anak saya taruhanya. Betul gak mak?

Bagaikan terilhami, pas lagi hot-hot nya saya pengen selesein masalah ini, Saya menemukan judul postingan di pinterest, “ selesaikan trauma masa lalumu dan benahi dirimu sendiri untuk masa depan anak-anakmu

JLEB!!

Bagaikan kena lemparan kulit durian, saya tersadar, inilah hal pertama yang harus saya lakukan.yaitu, berdamai dengan masa lalu. berdamai ya, bukan melupakan. karena masa lalu seburuk apapun gak akan pernah bisa dilupain kecuali amnesia, tapi amit-amit deh. 

Masa lalu sudah seharusnya jadi bagian hidup seseorang, kaya potongan puzzle. pada akhirnya semua akan membentuk diri sendiri saat ini dan esok hari. banyak yang menyakitkan kaya kisah sedih di hari minggu? tentu, masih sering nangis kalo inget masa lalu? tentu, suka sedih kalo inget betapa kangennya sama ayah kandung? sudah pasti. dirasain aja, dinikmati lalu tumpahin semua emosi kedalam karya. 

Sama halnya dengan Kurt Cobain, yang menjadikan tragedi dalam hidupnya menjadi dasar dia bikin karya, dan hasilnya? Band Nirvana jadi Band panutan sejuta umat anak band dari dulu sampai sekarang. tapi jangan diliat ending hidupnya yang suicide ya, jangan ditiru! 


Apa saya masih main kasar? TIDAK! alhamdulillah.

Semua itu bukan proses singkat dan sebentar. Puluhan kulwap parenting dan buku parenting, sahabat baru seorang ibu yang juga mengalami inner child/Ghost parenting dan menulis, semua itu menjadi penolong saya. 

Apakah mudah? tidak! sangat sulit bagi saya mengendalikan emosi dan marah walau hanya untuk hal sepele, seperti kelakuan kilan yang doyan hujan bedak sampai lantai penuh dengan bedak, kilan yang lagi ada di fase anxiety separation, keenan yang demen merengek minta beli layangan dan segudang aksi ke-soleh-an mereka berdua yang bisa bikin kepala saya tandukan dan stok coklat abis. 

Satu rahasia dalam menahan emosi dan marah biar gak meledak, CUBIT DIRI SENDIRI. jadi, setiap saya marah dengan kelakuan "lucu" mereka, saya cubit paha sendiri sambil membayangkan dan berkata sama diri sendiri, " RASAIN LO! SAKIT KAN DICUBIT?? MAKANYA JANGAN CUBIT ANAK LO! "

And It works!!
Sekarang, saya bisa lebih sedikit lebih tenang menghadapi tantrum dan sedikit bisa lebih sabar mengahadapi permintaan para sultan bahkan sampai yang gak masuk akal, seperti masukin si kiki ( kucing kesayangan keluarga ) ke dalam keresek, katanya abis belanja kucing di petshop. kan ngakak saya jadinya, wkwkwkwk.

tapi, hidup gak seindah dongeng marisol, gak selamanya saya sebaik hati itu yang bisa nahan emosi dan amarah bla-bla-bla. kadang lepas kontrol kalau lagi kalut, kadang santai banget kaya emak-emak bijaksana di film-film. yah begitulah.

But at least, i try dan it works for a few times. 

INNER CHILD BUKAN SATU-SATUNYA PENYEBAB SALAH PENGASUHAN

Marah sama kelakuan absurd anak-anak bukan satu-satunya penyebab amarah para emak memuncak hingga kembali melakukan tindakan kasar dan kata-kata kasar pada anak. karena, ternyata menurut artikel www.popmama.com
Trauma masa lalu bukan pelaku utama mengapakita jadi orangtua yang suka main kasar sama anak. Si trauma ini bawa kawan-kawannya, salah satunya ialah MANGKEL JENGKEL SAMA SUAMI dan KESULITAN EKONOMI.
Kadang, secara gak sadar, saat kita jengkel sama pak suami yang suka susah dibangunin solat subuh ato naro jaket dan sepatu dimana aja bisa bikin ubun-ubun kita pecah. Marah gak bisa kusabab sieun dicarekan balik ( Takut dimarahin balik ) dan dianggap istri durhaka, hasilnya, pas anak rewel eh si anak kena getahnya. Bener gak mak?

kesulitan ekonomi? udah pasti bikin stress. Dan gak jarang pas kita lagi mumet-mumetnya mikirin soal Hubbud dunya ini alias urusan duniawi otak lagi jangar-jangarnya, klo ditambah anak rewel loba pamenta teu eureun-eureun ( banyak permintaannya, gak berhenti), jadilah kombinasi yang pas buat bikin gunung berapi emak meletus, dan anak kembali jadi korban ledakan gak disengaja. 

Kalo sudah begini, banyak banget point yang kudu dibenahi. Betul gak? Bukan hanya soal ghost parenting atau inner child semata. Makin bingung gak mak? Iya saya bingung, hehehe.


KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN

Ini penting. Sulit kah melakukannya ? bagi yang tidak terbiasa seperti saya tentu sulit. waktu pacaran, saya mudah curhat soal apapun dengan pasangan, setelah menikah semua topik pembicaraan mengarah pada dua hal saja, anak-anak dan cuan! wehehehe. 

Pada akhirnya, kami masing-masing menjalani peran masing-masing. pasangan pencari nafkah dan saya pengasuh anak. 

Menikah itu tidak mudah, tidak seindah waktu pacaran. banyak adaptasi, pemahaman, menerima, mencocokan, mengalah dan sejuta atribut lainnya. salah satu harus mengalah, siapa? ya saya! kenapa? karena yang inner child nya bermasalah hanya saya! suami sih baik-baik aja. 

Lalu langkah apa yang diambil biar komunikasi dengan pasangan lancar jaya? ya tentu dengan memberanikan diri open conversation diluar topik soal anak-anak dan cuan. 

Susah gak sih? susah mak! hahahaha. awalnya grogi, kaya lupa aja gitu gimana curhat sama pasangan soal perasaan, geli sendiri. berasa jadi anak ababil aja! wkwkwkwk. tapi seiring waktu, bisa dan terbiasa kembali. 

Apakah semua selesai? gak juga. jadi orangtua itu kan proses tiada akhir. sampai kita jadi kakek nenek juga bakal tetep jadi orang tua kan? jadi, kedepannya masih banyak tahapan menjadi orangtua yang akan dilalui.

Lantas bagaimana harus bersikap? Biasa aja sih, nikmatin alurnya, mau nyebelin, nyenengin, bikin gondok, jadi berantem sama pasangan, pabaeud-baeud ( saling cemberut), lalu baikan lagi, roromantisan lagi dan seterusnya.

Btw, apakah pak suami tau soal inner child saya? Ghost parenting? perceraian orangtua saya yang jadi penyebab semua trauma ? Tentu Dong! Sejak awal pacaran beliau udah tau dan alhamdulillah menerima. Saya sharing di blog soal inipun tentu atas ijin beliau, mana berani saya share yg begitu private tanpa ijin beliau. Katanya, gpp kalo ini bikin saya merasa lebih baik. So sweet ga sih? Hehehe

Kunci utama dalam mengatasi inner child 

1. Selalu PEDEKATE sama Allah SWT
2. GAK BERHENTI BELAJAR
3.Memahami ( Perbaiki inner child, memaafkan, ikhlas dan memahami pasangan)
4. Bersabar
5. Menulis

Untuk bagian menulis ini, kita bisa menulis surat untuk anak dalam diri kita setiap kita sedih ketika tiba-tiba ingat bagaimana kita diperlakukan sangat buruk saat masih kecil oleh orangtua kita. misal, saat ingin dibelikan permen tapi kita malah dibentak dan dikatain anak tukang jajan dan ngabisin duit orangtua. dan lain sebagainya. Menulis keliatannya sepele, tapi dampak akan luar biasa. 

Dealing with your inner child, waktu penyembuhannya beda-beda di tiap orang. ada yang bentar ada juga yang lama kaya saya, yang butuh 10 tahun buat memahami dan sekarang memaafkan lalu ikhlas. yang penting, sekarang udah tau alasannya kenapa suka bersikap kasar dan gampang marah sama anak, ya udah, perbaiki dan jangan ulangi. dan jangan lupa, tulis surat untuk inner child kita sebagai terapi healing. 

Itu aja mak kuncinya. Insha Allah kita semua bisa melalui semua proses dan tahapan ini. jangan tanya kunci yang lain ya sama saya, apalagi kunci inggris dimana atau kunci menuju hatinya kaya gimana, *eeeaaaa


Sumber referensi :
Redraw random pic on pinterest

Banyak banget hal yang berbeda dan berubah sewaktu masih pacaran dan setelah menikah. misal, waktu lagi pacaran, nomer hape si yayang pasti inget di luar kepala, sambil merem pun kalau pencet  nomer si yayang di hape juga bisa. Kalo udah kawin, boro-boro inget. Jangankan nomer hape, tanggal jadian apalagi hari kawin aja suka lupa. 

Ada lagi nih yang bedanya jauuuh banget antara waktu pacaran sama udah nikah, yaitu bentuk perhatian.

Misal, waktu pacaran kalo si yayang jatoh, kita pasti bilang " aduuuh sayang, kamu sakit? ada yang luka? sini aku obatin" . Nah kalo udah kawin, kalimatnya jadi beda, " aduh, mamah sih kalo jalan gak liat-liat. sana beli hansaplast " wkwkwkw.

Kalo udah kaya gini, para istri biasanya suka j ngerasa kalo  suami jadi kaya yang gak peka gitu sama perasaan para istri ,  Padahal udah ngasih kode keras buat minta diperhatiin, tapi gak ngaruh! Kesel kan ya?  

Hal yang begini nih, walo keliatannya sepele tapi bisa memicu pertengkaran. Siapa yang biasanya kesel duluan? Para istri lah, siapa lagi yang suka ribet sama hal beginian? Hehehe. 

Nah, Lupa dan cuek-nya para suami sama hal perintil kaya beginian kadang bisa memicu pertengkaran. biasanya para istri bakal netting nih, alias negative thingking, kalo pak suami gak care, gak perhatian, udah gak sayang lagi, istri bukan lagi prioritas utama dan bla bla bla. Para istri biasanya manyun jadi seharian dan marah – marah. ujung-ujungnya jadi berantem dan pengen rasanya rambut pak suami diuwel – uwel sampai rontok, wehehehe. 

Etapi, jangan emosi dulu ya buuu.... tahan – tahan. Ada alasan lho kenapa para suami suka jadi pelupa dan keliatan kaya gak care gitu. Apa sih alasan utamanya? 


FOKUS CARI DUIT



Yah! Sudah gak asing lagi kan sama satu hal yang ini. Pembagian tugas dan tanggung jawab dalam pernikahan kita semua pasti udah tau deh, istri urusan domestik dan anak sementara suami urusan cari nafkah. 

Nah, kadang ada para suami yang saking fokusnya nyari duit apalagi yang penghasilannya harian bukan bulanan, udah pasti tuh urat dikepala sering nongol saking tegangnya. 

Mau gak tegang gimana, yang namanya wirausaha tuh ga tentu penghasilannya. Kadang bagus kadang gak. Kalo lagi bagus sih biasanya mood si para suami bagus. Jangankan tanggal ulang tahun, tanggal jadian juga beliau pasti inget terus gak lupa beliin para istri coklat atau bunga. 

Tapi kalo lagi sepi orderan, pasti beliau kaya yang gak peduli gitu sama istri. cuek bebek dan jadi doyan marah-marah. pahamilah bu... pak suami bukan gak care padamu dan mentingin soal duit, tapi otaknya lagi mikir keras gimana caranya ngasilin duit lebih buat engkau wahai para istri dan juga anak-anak. Bukankah ini salah satu tanda kalau beliau cinta dan peduli sama keluarga? Betul kan? 

Jadi bu, jangan emosi dulu ya. Pak suami gak inget sama tanggal ultah, anniversary atau gak mau bantu urusan domestik, bukan karena gak care lagi sama kita para istri. Tapi karena fokus nyari duit sebagai bentuk tanggung jawab beliau terhadap keluarga. 

CARA BERFIKIR YANG BERBEDA


Laki – laki itu, cara berfikirnya beda sama perempuan. Kalo perempuan itu terkenal dengan multitasking, sementara laki – laki monotasking. Artinya, dalam pikiran perempuan tuh banyak cabangnya. Misal, lagi masak nih, para istri bisa sambil gendong anak, sapu rumah, cuci piring , nyuapin anak bahkan balas pesan di WAG. Tapi kalo para suami, kalo lagi ngerjain satu hal yah hanya fokus sama satu hal itu aja. 

Alasannya kenapa? Karena secara ilmiah otak para pria itu akan membakar lebih banyak energi ketika mereka harus melakukan beberapa hal sekaligus. Kondisi inilah yang membuat pria merasa sulit untuk melakukan pekerjaan sekaligus atau sulit beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya 

Ada Fakta lain nih, berdasarkan penelitian  otak wanita itu lebih aktif dibandingkan otak pria. Hal ini disebabkan baik saat bekerja maupun saat istirahat, aliran darah ke otak pada wanita lebih banyak dibandingkan pada pria. Jadi, meskipun secara volume otak pria lebih besar dibandingkan otak wanita, namun secara kinerja otak wanita lebih aktif. Jadi, jangan heran kalau wanita dikatakan lebih bisa multitasking

Tetapi, dibalik ke-monotasking-nya para suami, mereka gak secuek itu kok. Coba diingat-ingat, sudah berapa kali pak suami bantu cuci piring, jemur cucian, jagain anak waktu istri lagi mandi, meluk istri pas lagi sedih, beliin makanan tanpa diminta, cebokin BAB anak ? memang bisa dihitung dengan jari, tapi kalau melihat fakta ilmiah diatas, rasanya semua hal yang dilakukan para suami itu sudah hebat sekali. Iya kan? 

Lalu, kata siapa kalau laki-laki itu mentalnya kuat kaya baja, kuat nahan nangis sampai kuat ditimpuk bata?  jangan lupa, pak suami juga perasaan lho. Misal, merasa tak berdaya  dan sedih luar biasa kalo inget duit di dompet tinggal recehan, perasaan sedih gak bisa beliin anak-anak mainan atau bahkan jajan, sedih liat istri jadi kurang glowing karena belum mampu beliin kosmetik SK-II atau jafra terbaru sementara stok lama udah abis, jadi terpaksa istri pake baby cream bayi dan bedak bayi. Para suami itu sensitif lho, cuman jarang aja diliatin. 

Jadi bu, kalo nanti – nanti pak suami lupa tanggal ultah kita, atau anniversary langsung aja todong, “ ayah kok lupa sih sama ultah aku? Aku gak mau tau, pokoknya aku minta peluk sekarang!” dijamin deh, mood bete ibu-ibu langsung mencair, apalagi kalo ditambahin, “ ayah, minta duit dong buat jajan” , wehehehe