Zero Waste Cities, Solusi Meningkatkan Kualitas Hidup Petugas Sampah Di Kawasan



Ketika pertama kali mendengar kata Zero Waste Cities, yang terpikirkan dalam benak saya adalah konsep hidup Zero waste. Lantas apakah sama? Atau berbeda? jawabannya adalah keduanya memiliki konsep yang sama dan saling berkaitan erat.
Zero waste adalah dasar filosofi gaya hidup bebas sampah yang merupakan sebuah konsep mengurangi penggunaan produk sekali pakai dan mengurangi jumlah sampah dari hulu yaitu rumah tangga. Caranya bagaimana? yaitu dengan cara menerapkan konsep 3R (Refuse, Reduce, and Reuse).
Sementara Zero Waste Cities adalah program pengembangan model pengelolaan sampah berwawasan lingkungan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi di kawasan pemukiman.
Melihat kedua definisi diatas maka dapat saya simpulkan bahwa Zero waste merupakan filosofis dan kultur atau gaya hidup masyarakat terkait penggunaan produk dan pengelolaan sampah pribadi, sementara Zero waste cities merupakan sebuah program yang mendukung gaya hidup zero waste di masyarakat.
It's so relate kalau bisa saya katakan. Mengapa?
Jika kita menerapkan gaya hidup zero waste yang didukung melalui program Zero waste cities maka sampah akan dikelola dengan lebih baik bahkan memberikan dampak ekonomi yang cukup besar bagi petugas sampah dan lingkungan masyarakat.
Yang saya garis bawahi terkait hal ini adalah kesejahteraan petugas sampah, mengapa? karena petugas sampah merupakan prajurit garda depan penanganan sampah di kawasan. Tanpa adanya petugas sampah maka siapa yang akan melakukan penanganan sampah yang dihasilkan oleh kita?
Karena realitas berbicara, gaya hidup zero waste belum sepenuhnya “mengakar” dalam diri masyarakat dan belum menjadi sebuah gaya hidup atau kultur. Sehingga hingga saat ini petugas sampah lah yang berperan penting dalam menangani sampah.
Penanganan sampah yang masih bersifat ambil - angkut - buang sedikit banyak mempengaruhi kesejahteraan petugas sampah. Bukan hanya terkait finansial, tetapi juga keselamatan kerja dan kesehatan.

Petugas Sampah Adalah Pahlawan Lingkungan


Petugas sampah bagi saya adalah pahlawan lingkungan. Beliau banyak membantu saya menangani sampah dan membuat kawasan rumah saya asri dan bersih dari sampah.
Petugas sampah di kawasan saya tinggal biasanya mengambil sampah setiap hari rabu. Jadi setiap hari rabu biasanya saya sudah menyiapkan sampah untuk diangkut oleh petugas sampah.
Sungguh tak disangka, cuaca hari itu teramat terik , menyengat dan bau! iya bau. Bau bangkai tikus di belakang rumah saya yang sudah tercium sejak hari kemarin. Ingin saya mengambil bangkai dan menguburnya. Tapi malangnya bangkai tikus terjepit antara tembok rumah saya dan tetangga. Sehingga upaya saya mengorek bangkai menggunakan bambu pun sia-sia.
Ketika sedang “asyik” mengorek bangkai tikus sambil menunggu kedatangan petugas sampah, saya dikagetkan oleh suara si Mang Sampah,

Lagi apa Bu? “ tanya si Mang sampah dengan suara khasnya yang cempreng,
Eh Kaget! ah si Mang! ini mang bangke tikus. Susah pisan diambilnya” jawab saya,
“ Sok sini ku saya diambil bu. Kalau didiemin bahaya bu. Bukan cuman baunya bu, tapi belatungnya “ jawab si Mang
Emang kenapa belatungnya mang? “ tanya saya penasaran
Ih gede-gede bu, trus hitam warnanya
Ih amit-amit mang! belatung sampah aja saya mah jijik!”
Makanya bu, sini biar saya ambil
Iya Atuh mang, pang ambilin ya “ jawab saya

Setelah usaha yang cukup keras dalam waktu yang cukup singkat, bangkai tikus berhasil diambil. Syukurlah belatung hitam dan besar yang diceritakan Mang sampah belum muncul. Hari saya diselamatkan oleh Mang sampah. Mang sampah memang pahlawan, hehe
Eh tapi, Mang sampah emang beneran pahlawan kok. Mengapa? tentu saja karena petugas sampah memiliki peran sangat penting terkait pengambilan sampah di kawasan rumah kita.
Bukan hanya itu, petugas sampah tidak hanya menangani pengambilan sampah tetapi juga membantu warga seperti kasus saya dengan si bangkai tikus.
Peran petugas sampah begitu sangat penting, karena saya yakin kita tidak mau kan mengambil sampah atau menyatukan sampah yang bercampur dengan sampah dapur yang membusuk sendirian?
Seperti pengalaman saya yang pernah kewalahan akibat truk sampah milik petugas sampah RT 02 mogok dan tidak bisa mengangkut sampah hingga dua minggu lamanya. Dengan terpaksa saya memilah sampah yang sudah tercampur aduk. Karena kalau tidak dipilah, sampah di pekarangan akan menumpuk dan belatung putih akan muncul seperti tempo hari. Walau merasa jijik saya tidak punya pilihan. Karena sudah seharusnya memang saya memilah sampah sedari dapur. Bukan ketika sampah sudah disatukan dalam kresek sampah.
Sambil memilah sampah saya baru ngeh, banyak banget ya sampah yang dihasilkan dari rumah saya. Sehari bisa mengeluarkan hingga 2 kantong sampah yang dibungkus menggunakan kresek ukuran 35 dan itu cukup besar. Belum termasuk satu hingga dua sampah organik seperti sampah sisa makanan dan masak di dapur juga daun kering. Itu per hari lho! bisa dibayangkan jika dikalikan dengan jumlah KK di kawasan saya jadi berapa banyak jumlahnya ?
Jadi siapa sebetulnya penyumbang sampah terbesar selama ini? tentu saya dan warga yang enggan memilah sampah dan tidak aware terhadap prinsip zero waste!
Tetapi sejak kejadian itu, saya mulai membiasakan diri memilah sampah sejak dari rumah. Saya mulai memisahkan sampah kertas dan kardus bekas kardus susu bekas anak-anak saya ikat dan simpan di dekat sumur. Sementara botol dan gelas plastik saya pisahkan di kresek yang terpisah. Dan sampah organik saya buang di pojokan pekarangan yang memang disediakan untuk sampah non organik seperti dedaunan dan sampah dapur.

Tempat pembuang sampah
TPS RT 02 RW 11 Keluarahan Cipadung


Jadi, terbayang sudah bagaimana kehidupan petugas sampah setiap hari. Berhubungan dengan sampah dan mikroba, bakteri serta virus dari sampah. Belum termasuk terkena pecahan gelas atau piring hingga patahan kayu! karena tidak semua warga melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah. Padahal pemerintah Bandung memiliki program terkait pengelolaan sampah, yaitu Kang Pisman. Mang sampah, engkau adalah pahlawan lingkungan!

Realitas Kualitas Hidup Petugas yang Rendah


Kepahlawanan petugas sampah, sesungguhnya berbanding terbalik dengan realitas kualitas hidup yang dimilikinya. Mengapa? karena petugas sampah memiliki pekerjaan yang penuh resiko terkait kesehatan dan keselamatan. Mereka rawan mengalami luka saat bekerja dan terkena infeksi atau bahkan terpapar bakteri dari sampah.
Mereka juga tidak memiliki tunjangan kesehatan dan diberi upah yang menurut saya tidak sebanding dengan resiko pekerjaannya.
Seperti petugas kesehatan dikawasan saya misalnya. Karena penasaran, saya pernah bertanya pada petugas sampah yang memiliki nama Kang Yaya ini mengenai upah dan kenapa mau kerja jadi petugas sampah. Wawancara saya tentu diawali dengan secangkir kopi hitam kegemarannya, karena jika saya todong langsung saya khawatir menyinggung perasaannya.

Ini Mang kopinya “ ucap saya sambil menyodorkan segelas kopi hitam,
Iya Teh, Nuhun “ jawabnya yang terkadang memanggil saya teteh atau ibu, sambil mengambil gelas dan duduk di teras,
Hari ini banyak Mang sampah yang diangkut? ” tanya saya sambil duduk disebelahnya,
Lumayan Teh, Minggu kemarin yang banyak mah Teh. Udah mah banyak, eh trek sampahnya mogok. terpaksa saya nunggu sampai sore. padahal besok paginya teh saya harus mengangkut sampah di RT 03 “
Aduh, gimana atuh?” tanya saya
Ah gak apa-apa teh, udah biasa” jawabnya santai
Hehehe, si Mang hebatlah mau kerja jadi petugas sampah, pahlawan lah Mang mah, hehehe. eh Mang, udah berapa lama jadi petugas sampah? “ tanya saya penasaran,
Ah saya mah udah lama pisan jadi tukang sampah Teh, ada lah sekitar 15 tahun mah
What? teriak saya dalam hati.
Wah, udah lama juga ya?” jawab saya,
Iya Teh, atuh da gimana lagi Teh, hanya ini yang saya bisa. Usia udah gak muda lagi, udah gak bisa ngelamar ke pabrik. ah jalani aja yang ini
Iya ya mang, namanya juga ikhtiar “ jawab saya
Iya Teh, upah saya kecil kalau dibandingkan petugas penyapu jalan yang dapet sampai hampir dua jutaan. Ah saya terima aja dan disyukuri “ jawabnya sambil tersenyum kecut
“ Memangnya Mang dapet upah berapa sebulan? “ tanya saya penasaran
Sehari dibayar 30ribu Teh “ ucapnya getir
Aduh meuni alit pisan ya mang” jawab saya

Subhanallah! miris hati saya. Sambil menemani Kang Yaya menghasbiskan kopinya, saya memandang sosok Kang Yaya dan memperhatikan ada banyak “tanda cinta” di sekujur kaki si Mang sampah. Tanda cinta berupa bekas luka yang tidak sedikit. Saya yakin, selama menjalankan pekerjaannya sebagai petugas sampah tidak jarang Kang Yaya mengalami luka akibat pecahan gelas atau piring pecah atau patahan kayu. Tapi tampaknya hal ini sudah biasa bagi Kang Yaya.
Rasanya agak tidak percaya bahwa Kang Yaya sudah bertugas selama kurang lebih 15 tahun sebagai petugas sampah di kawasan tempat tinggal saya, yaitu kecamatan Cibiru. Sudah selama itu dia bekerja mengangkut sampah dan bergelut dengan sampah.
Setiap hari ia mengangkut sampah sendirian dari RT ke RT menggunakan sebuah gerobak sorong berwarna merah. Sementara rekannya menunggu di TPS RT untuk membantu mengangkut sampah ke atas truk sampah.
Saya perhatikan, Kang Yaya terlihat susah payah mengangkut sampah dari rumah ke rumah yang jumlahnya banyak. Karena, memang di kawasan tempat tinggal saya tidak ada pemilahan sampah. Padahal pemerintah Bandung memiliki program terkait pengelolaan sampah, yaitu Kang Pisman. Tapi entah mengapa program tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya dikawasan saya.
Padahal jika program kang pisman ini berjalan dengan seharusnya, kita tidak hanya mendapatkan kawasan dengan konsep zero waste cities tetapi juga peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup petugas sampah. Bukan hanya menyoal meningkatkan upah atau pendapatan, tetapi juga kelayakan sarana dan prasarana penunjang penanganan sampah seperti sepatu boots, seragam, sarung tangan, masker dan topi.
Saya perhatikan selama ini Kang Yaya bekerja apa adanya, hanya mengenakan baju belel, celana pendek, tanpa menggunakan sarung tangan, masker dan topi yang sudah lusuh. Sepatu Boot pun merupakan pemberian warga.Bisa dikatakan dari seragam bekerja saja sudah jauh dari menjaga keselamatan dan kesehatan Kang Yaya selama bertugas.

Petugas sampah di kawasan
Kang Yaya, Petugas sampah di kawasan RW 11

Kang Pisman, Zero Waste Cities dan Peningkatan Kualitas Kesejahteraan Petugas Sampah


Saya percaya, jika program Kang Pisman diterapkan di kawasan saya maka Kehidupan Kang Yaya akan mengalami peningkatan.
Mengapa? karena program Kang Pisman merupakan suatu upaya meminimalisir jumlah sampah yang akan diangkut ke TPA. Hal ini secara tidak langsung akan berdampak terhadap jumlah sampah yang diangkut oleh petugas sampah dan meminimalisir resiko mengalami kecelakaan dan terinfeksi bakteri atau virus selama bekerja.

Seperti Apa sih Program Kang Pisman?


Walikota Bandung, Kang Oded memiliki agenda khusus terkait penanganan sampah di kota Bandung yaitu sebuah program yang masuk dalam 100 hari pertama kepemimpinan Mang Oded. Melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, pemerintah membuat program penanganan dan pengelolaan sampah bernama Kang Pisman.
Bukan tanpa alasan, program Kang Pisman dibentuk sebagai bentuk aksi kepedulian dan keprihatinan atas tragedi meledaknya TPA Leuwigajah pada tahun 2005 silam yang menyebabkan kematian 143 warga dan mengubur 2 kampung yaitu Kampung Cilimus dan Kampung Gunung Aki.

kang pisman
Kang Pisman, sumber gambar https://www.kangpisman.com/

Oleh sebab itu dalam rangka memiliki tata kelola sampah yang lebih baik, pemerintah mencanangkan program Kang Pisman yang merupakan program kepedulian terhadap pengelolaan sampah. Program ini memiliki konsep pengelolaan sampah dengan mengurangi sampah dari sumbernya melalui konsep zero waste lifestyle dan 3R yaitu Reduce, Reuse, Recycle.

Program Kang Pisman
Program Kang Pisman, sumber gambar https://www.kangpisman.com/



Seperti Apa Mekanisme Berjalannya Program Kang Pisman?


Pemerintah Kota Bandung bekerjasama dengan warga dan pihak swasta membuat program Kawasan Bebas Sampah (KBS) di delapan kelurahan di Kota Bandung sebagai percontohan bagi kelurahan lainnya . Delapan kelurahan tersebut yaitu Kelurahan Sukamiskin, Sukaluyu, Gempolsari, Cihaurgeulis, Kujangsari, Neglasari, Babakansari, dan Kebon Pisang.
Kawasan Bebas Sampah (KBS) sendiri merupakan program pemerintah Kota Bandung yang sudah tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2014-2018 yang menargetkan pengurangan sampah rumah tangga hingga 30% pada 2025.

Sebagai tindak lanjut dan inovasi pengembangan program, maka Walikota Bandung membuat program inovasi melalui Kang Pisman yang merupakan singkatan dari Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan.
Agar program Kang Pisman dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan, maka pemerintah bekerjasama dengan warga dan pihak swasta.
Mengapa dibutuhkan kerjasama antara warga, pemerintah dan pihak swasta? karena program Kang Pisman bukan hanya menyoal pengelolaan sampah dari kawasan tetapi juga merubah kultur atau budaya membuang sampah di masyarakat. 
Hal ini tentu akan sulit dilakukan jika tidak ada kerjasama dengan warga dan pihak swasta, Karena merubah kebiasaan membuang sampah tentu membutuhkan waktu dan usaha yang tidak hanya dilakukan satu kali. Kang Pisman bukanlah program yang hanya bersifat sementara atau dilakukan dalam satu periode saja. Program ini diharapkan menjadi dasar untuk menciptakan budaya baru terkait pengelolaan sampah di masyarakat.
Sebagai tahap awal, pemerintah memberikan sosialisasi dan penyuluhan program Kang Pisman dan konsep Zero waste cities kepada lebih dari 3.000 orang dan 1.363 warga yang teregistrasi di Whatsapp Center Kang Pisman. Program ini diterapkan oleh pemerintah bersama YPBB di delapan kelurahan percontohan.
Mengapa pada akhirnya pemerintah kota Bandung Bekerjasama dengan YPBB?
Hal ini dikarenakan Kang Pisman ternyata membuat lembaga Mother Earth Foundation (MEF) asal Filipina tertarik untuk menjadikan Kang Pisman menjadi salah satu model rujukan karena kesesuaian visi dan misi Kang Pisman terkait mewujudkan Zero Waste Cities. Program Zero waste cities merupakan program dari MEF yang telah berhasil mewujudkan pengelolaan Sampah dengan prinsip Sustainable Solid Waste Management di Philipina.
Sementara itu, YPBB sendiri melalui proyek Asia Pacific Action Against Plastic Pollution: Reducing Land-Based Leakage of Plastic Waste in Philippines & Indonesia Through Zero Waste Systems and Product Redesign, dibawah supervisi MEF akan mengembangkan model pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan di kawasan pemukiman.
Selain Perkumpulan YPBB dan MEF, lembaga lain di dunia yang bekerja sama salah satunya adalah GAIA (Global Alliance for Incinerator Alternatives) , yaitu sebuah organisasi non pemerintah asal Filipina yang juga bekerja sama dengan Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) dalam menyelenggarakan kegiatan Zero Waste Kota Bandung dan Cimahi.
Program YPBB ini akan dilakukan selama 2 tahun secara intensif selama enam hingga sembilan bulan di dua kelurahan dan dua kecamatan di Kota Bandung serta lima 5 desa di Kabupaten Bandung juga Kota Cimahi.
Program Kang Pisman juga sesuai dengan sasaran program Zero Waste Cities yang dimiliki YPBB, salah satunya adalah pengumpulan dan daur ulang sampah untuk mencegah masuknya 62.000 ton sampah (14.000 plastik) per tahun. Bagaimana caranya? caranya yaitu dengan :
  1. Edukasi dan penyuluhan dari pintu ke pintu
  2. Melakukan ketaatan pemilahan sampah (90%) dan jumlah sampah sampai 70% dikawasan dan tidak lagi dikirim ke TPA.
  3. Program Zero Waste Cities YPBB ini dilakukan secara bertahap, yaitu sebagai berikut :
  4. Kajian kondisi Kelurahan (Green Profiling, Penyebaran Kuesioner, Pengukuran Timbulan dan Karakteristik Sampah)
  5. Konsultasi dengan Kelurahan dan stakeholders
  6. Pembentukan Dewan Pengelola Sampah Kelurahan
  7. Pengembangan sistem pengelolaan sampah, program kerja 10 tahun dan regulasi
  8. Pelatihan untuk petugas pengelola sampah
  9. Edukasi door to door
  10. Ujicoba dan perbaikan sistem
  11. Penerapan penuh sistem pengelolaan sampah di Kelurahan
  12. Monitoring dan penegakan hukum
Hal ini tentu selaras dengan tujuan dari dibentuknya Kang Pisman terkait pengelolaan dan penanganan sampah yang lebih baik dalam rangka menuju kota Bandung yang Zero Waste Cities.

Bagaimana Program Zero Waste Cities dapat meningkatkan Kualitas Hidup Petugas Kebersihan


Ada banyak realitas ketimpangan antara upah, keselamatan kerja dan tanggung jawab pekerjaan yang dialami petugas sampah seperti Kang Yaya. Pekerjaan penuh resiko tetapi upah yang kecil. Tetapi pada pelaksanaannya, petugas sampah hanya mendapat upah yang rendah. Secara logika, upah bekerja sebesar Rp 900.000 sebetulnya tidak akan mampu mencukupi kebutuhan sehari - hari. Oleh sebab itu untuk mendapatkan penghasilan tambahan, Kang Yaya menjual sampah non organik seperti kardus, kertas, botol plastik dan cup yang telah beliau pisahkan sebelum diangkut ke truk sampah ke pengumpul.
Secara sederhana, program Zero to waste cities Kang Pisman yang diimplementasikan di masyarakat adalah sebagai berikut :
  1. Sosialisasi dan penyuluhan terkait meningkatkan kesadaran terhadap bahaya sampah yang menumpuk dan pengelolaan sampah yang terdesentralisasi di kawasan.
  2. Pemilahan sampah organik dan non organik
  3. Mendaur ulang sampah organik melalui program waste to Food
  4. Menyediakan sarana dan prasarana terkait program Kang Pisman dan sub program Kang Pisman yaitu waste to food
Jika Kang Pisman diterapkan di kawasan tempat saya tinggal, maka sampah organik akan dikelola dan dimanfaatkan  sehingga memiliki nilai daya jjual dan penguatan ketahanan pangan. Misalnya, melalui Kang Pisman warga disediakan sarana dan prasarana untuk memiliki kebun organik. Pupuk yang digunakan merupakan pupuk yang berasal dari sampah organik dari warga yang dikelola dan dijadikan kompos dan pupuk. Hasil panen dari kebun organik tentu akan memiliki daya jual yang bisa dijual untuk menambah kas sehingga memberikan upah lebih kepada petugas sampah.


Program zero waste cities
Beberapa Program yang telah dilaksanakan oleh YPBB

Selain itu, pemilahan sampah non organik seperti botol plastik, cup bekas minuman kemasan, sampah plastik dan kertas juga memiliki daya jual yang bisa dimanfaatkan petugas sampah untuk dijual kembali sehingga petugas sampah memiliki pemasukan tambahan.
Uang kas yang terkumpul dari hasil pemilahan sampah organik maupun organik secara tidak langsung dapat meningkatkan kualitas kesejahteraan petugas sampah. Selain mendapat upah atau insentif tambahan juga bisa mendapatkan sarana dan prasarana selama bekerja. Seperti seragam, sepatu boot,masker, topi, sarung tangan hingga gerobak sampah yang layak.
Lantas bagaimana caranya agar kawasan dapat membantu pemerintah mewujudkan Zero waste cities dan ikut Meningkatkan Kualitas Hidup Petugas Sampah Di Kawasan ?
Seperti yang dikatakan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, pemerintah akan sepenuhnya mendukung dengan memberikan anggaran khusus, edukasi masyarakat dan pendampingan bagi kelurahan yang ingin menerapkan rencana teknis pengelolaan sampah Kang Pisman. Juga termasuk insentif bagi pengangkut sampah dan pendampingan, sarana dan prasarana.
Jadi sebetulnya hanya semudah membalikan telapak tangan, warga di kawasan dapat mengajukan ke kelurahan untuk menerapkan program Kang Pisman di kawasannya.

Yuk Bantu Pemerintah Dalam Mewujudkan Zero waste cities


Tentu dibutuhkan kerjasama dari semua elemen masyarakat di kawasan untuk dapat mewujudkan impian kota Bandung yang bebas dari masalah sampah seperti siklus pembuangan sampah yang memiliki resiko terhadap keselamatan dan kesehatan petugas dan untuk mewujudkan Kota Bandung menuju Zero waste cities.
Hal ini bisa dimulai dari hal yang kecil dan sederhana, yaitu mulai dari diri kita sendiri. Dari saya sendiri. Mulai dari sekarang, kita bisa mulai melakukan pemilahan sampah setiap hari sebelum hari pengangkutan sampah tiba.
Saya sendiri sudah mulai melakukannya. Sebelum diangkut, sebelumnya saya sudah memilah sampah botol bekas dan kardus untuk diambil petugas Sampah. Sementara sampah organik sudah saya buang ke “kuburan” sampah organik dan sampah non organik lainnya saya pisahkan dalam kantong kresek dan siap diangkut Mang sampah.

pengelolaan sampah di kawasan
Pengumpul sampah non organik di RT 02 RW 11, Kelurahan Cipadung Kecamatan Cibiru
( Dok. Pribadi )

Pengumpul sampah
Pengumpul sampah non organik di RT 02 RW 11, Kelurahan Cipadung Kecamatan Cibiru
( Dok. Pribadi )

Sampah non organik seperti kertas, botol plastik dan sampah organik yang memiliki daya jual saya berikan langsung kepada penadah yang kebetulan ada di kawasan saya atau saya berikan langsung kepada petugas sampah agar bisa dijual kembali. Mungkin, dimasa yang akan datang saya akan mencoba chit-chat dengan Pak RT untuk mengajukan program Kang Pisman ke kelurahan.
Apakah saya sudah menerapkan filosofis hidup Zero waste dengan melakukan pemilahan sampah? sejujurnya belum sepenuhnya. Saya masih berusaha untuk meminimalisir penggunaan barang atau produk sekali pakai dan sedikit mungkin mengeluarkan sampah rumah tangga.
Tetapi setidaknya, dengan melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah saya berharap usaha saya ini sedikit banyak membantu meringankan pekerjaan petugas sampah dan berkontribusi secara sederhana terhadap perwujudan zero waste cities. Yuk kita mulai gerakan hidup zero waste detik ini juga.

21 komentar:

  1. Bagus banget nih teh program zero wastenya, sangat mudah diaplikasikan oleh masyarakat

    BalasHapus
  2. Masya Alloh suka suka suka.. ini bisa diadopsi nih program kang pisman. Paling tidak di rumah dulu lah. Sip mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kak, dari small thing bisa jadi big thing kan ya

      Hapus
  3. RTnya udah keren banget ini teh udha ngaplikasiin pilah sampah yaa. Aku udah pilah sampah jg sih, tp karena TPS dicampur lg kayaknya memang harus segera bljr mengkompos nih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru belum teh, RT dsini mah gak bikin program apa - apa kok, ada pemilah sampah karena emang itu kerjaan dia, biasnaya saya setor kesana atau dikasiin ke kang Yaya. Lumayan buat nambah nambah uang dapur kang yaya

      Hapus
  4. Semoga Mang Sampah dan kawan-kawan diberi kesehatan dan kemudahan dalam bekerja ya. Dan kita juga bisa lebih baik salam mengelola sampah yang kita hasilkan sendiri.

    BalasHapus
  5. Setelah tahu adanya program zero waste cities ini saya semangat banget lo mbak eka, tapi sayangnya pihak kawasan sini belum memberikan fasilitas itu. Paling seneng milah sampah, tapi kalau kompos, aduh....gagal, jadi malah bau karena basah.

    BalasHapus
  6. wah di komplek rumahku jg udah nerapin bank sampah nih, dan alhamdulillah semua warganya semangat :) jadi meringankan tugas petugas sampah ya :)

    BalasHapus
  7. Kalau aku beneran baru tau soal kangpisman ini kak eka. Kirain mah naama orang wkwk. Bandung emang kreatif yaa.
    Di kotaku blm ada nih kayak gini. Apa aku yg kudet ya.

    BalasHapus
  8. Inspiratif kak tulisannya ... memang kadang kita menyepelekan kinerja mereka tetapi sesungguhnua kita tidak tahu betapa besar jasa mereka

    BalasHapus
  9. Pas ngebahas tikus aku malah jadi ingat tikus yang kena perangkap tikus saat banjir dan masih hidup 🙈 itu ngatasinnya susah banget wkwk

    BalasHapus
  10. Sayangnya banyak petugas sampah juga yang masih kurang teredukasi. Ada yang sudah dipilah sampahnya, eh sama petugas sampah dicampur2 lagi. "

    Kalau ketemunya petugas sampah seperti mang sampah yang diceritakan teteh sih nyenengin yaa.. dulu di kampungku juga ada satu petugas sampah yang ikhlas.. helpful.. bahkan perempuan. Sayangnya sekarang ganti, dan galak banget.

    Hmm, mungkin karena kesejahteraannya kurang diperhatikan ya. Kayanya harus usul ke bu RT buat nambahin uang jasanya, biar bapak sampahnya gak galak lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya betul mbak, kang Yaya ini dulu nya juga cuek dan kadang gak mau ambil sampah tertentu. Selain karena kurang edukasi dan penyuluhan juga kesejahteraan. Memang pekerjaannya bisa di bilang kotor ya, tapi bukan berarti jadi Nerima upah seadanya dari kita. Saya sih biasa ngasih uang lebih kalau kang Yaya Dateng sekalian botol plastik dan kardus saya kasiin juga jadi bisa dia jual. Akhirnya, kang Yaya selalu ramah kok sama saya. Malah selalu nanya "Bu Aya ni tiada di banto?" Artinya dia nawarin bantuan kalo kalo saya butuh lagi kaya kasus tikus dari situ aja saya paham, perlakuan yang ramah dan hangat dari warga juga berarti untuk kang Yaya.

      Hapus
  11. Sayangnya banyak petugas sampah juga yang masih kurang teredukasi. Ada yang sudah dipilah sampahnya, eh sama petugas sampah dicampur2 lagi. "

    Kalau ketemunya petugas sampah seperti mang sampah yang diceritakan teteh sih nyenengin yaa.. dulu di kampungku juga ada satu petugas sampah yang ikhlas.. helpful.. bahkan perempuan. Sayangnya sekarang ganti, dan galak banget.

    Hmm, mungkin karena kesejahteraannya kurang diperhatikan ya. Kayanya harus usul ke bu RT buat nambahin uang jasanya, biar bapak sampahnya gak galak lagi.

    BalasHapus
  12. Saya kalau ada yang menyangkut tukang sampah begini, ingat sama Fizi. Di Indonesia pekerjaan Pengumpul sampah ini dilihat dengan sebelah mata. Padahal tanpa mereka, kita aja jijik emmbersihkan sampah yang menggunung dan bau.

    BalasHapus
  13. masalah sampah ini memang masalah luar dalam. program kang pis man dan zwc ini udah keren bgt, semoga masy lebih istiqomah dan pemerintah lebih aware dan galak dengan pengelolaan sampah ini

    BalasHapus
  14. Setuju banget ma program Kang Pis Man jg zero waste cities. Klo aku pribadi sih suka ngumpulin botol bekas kosong ya (maklum abi n anak2 suka beli minuman dingin). Alhasil pasti banyak kan botol bekasnya.. Nah botol bekas tu aku buat kerajinan gt. Nah secara ga langsung sdh ikut berpartisipasi di program zero waste ala2 aku 🤭

    BalasHapus
  15. Petugas sampah tuh seperti pahlawan yang tak terlihat. Seringkali diremehkan namun tanpa dia kita juga kerepotan. Betul kan?

    BalasHapus
  16. Keren sekali zero waste ini, mantep nih buat para petugas sampah yang selalu memulihkan lingkungan menjadi bersih dari tumpukan sampah. Tetap semangat para petugas sampah

    BalasHapus
  17. aku setuju sekali "petugas kebersihan adalah pahlawan", kalau beberapa hari nggak ada petugas yang ngambilin sampah ke rumah, udah pasti bingung, mau nambah sampah lagi, lah yang di bak sampah belum diambil-ambil dan makin tumpah kemana-mana sampahnya
    aku sendiri baru tau istilah zero waste ini

    BalasHapus