Perkembangan teknologi di era digital yang cepatnya terasa wooosh dan makin hari makin nggak masuk akal pintarnya, nyatanya emang beneran banyak bantu kita, orang-orang kreatif dalam bikin karya dan memasarkannya.
Kehadiran browser hingga gadget dan aplikasi, senyata itu bantu kita melakukan pekerjaan remote atau sekadar bikin jadwal kuliah makin estetik.
Tapi, jujur deh, apakah perangkat digital ini benar-benar membantu kita menjalani gaya hidup kreatif? Atau jangan-jangan, kita malah makin malas dan kehilangan "percikan asli" dalam diri kita?
Apakah Teknologi Menumpulkan Orisinalitas?
Kerap menjadi perdebatan memang, apakah kehadiran teknologi menumpulkan orisinalitas atau membantu kita berkarya lebih optimal? Ehm bisa jadi keduanya tergantung sejauh mana kita memanfaatkan teknologi dan menggangap teknologi sebagai apa dalam gaya hidup kreatif yang kita jalani.
Jika, kita menjadikan teknologi sebagai "asisten" untuk meningkatkan produktivitas, bukan menggantikan kreativitas manusia sepenuhnya, berarti kita masih dibatas aman menjaga orisinalitas kreativitas.
Misalnya, kamu hobi bikin kerajinan keramik, gak mungkin kan kamu gunakan AI untuk bikin kendi atau mug cantik? Tapi kamu bisa gunakan AI untuk cari tahu bikin kreamik yang tahan lama atau memanfaatkan platform marketpalce dan sosmed untuk branding produk kamu dan memasarkannya.
![]() |
| Memanfaatkan teknologi AI dan Brwoser untuk belajar pottery dan menjual hasilnya di marketplace online (gambar hasil generate image di Canva) |
Tapi, gak sedikit dari kita yang sangat bergantung pada teknologi. Contoh sederhana, saya sebagai ilustrator juga turut merasakan dampaknya.
Ketika tablet drawing muncul dan mulai ramai di mana-mana, mirip tren yang mendadak FYP, para ilustrator (termasuk saya) seperti mendapat “wangsit” untuk beralih ke perangkat ini. Alasannya klise, biar nggak ketinggalan zaman dan tablet drawing punya andil besar dalam mempertegas identitas profesi ilustrator di era digital.
Tapi, saya jadi malas nge-drawing manual karena gak bisa pakai fitur undo kalau salah bikin line atau coloring. Alasan "males" lainnya, biar cepet aja dan sa-set gak perlu pergi ke foto copy-an dan scan gambar hanya untuk upload di sosmed. Jika pola ini dibiarkan, lama-lama tangan saya bakalan kek kanebo kering ketika mencoba skteching pakai pensil.
Memang, kehadiran teknologi dalam gaya hidup kreatif seperti membawa angin segar sebagai metode berkarya. Berkat kemajuan teknologi bermodalkan tablet drawing, colokan listrik dan Wifi stabil di kafe, cukup bikin seseorang merasa jadi titisan Andy Warhol.
Contoh lain, kehadiran teknologi AI pastinya sudah melekat kuat dalam keseharian kita, yang bahkan menurut studi di Universita Gadjah Mada, 40% penduduk gen Z dan Milenial mulai meninggalkan Google secara perlahan hanya untuk nanya cara bikin cilok gimana.
Itu artinya, Chat GPT, Gemini dan sejenisnya udah jadi bagian alat tempur kita sehari-hari. Tapi, jujur deh, berapa banyak dari kita yang menggunakan AI untuk diskusi? Atau jangan-jangan kita menyerahkan semua tugas kita kepada AI sepenuhnya? Kalau ya, gawat dong, emang gak feeling guilty tuh bikin tugas pakai AI, eh, hihihi. Jika AI melakukan semuanya, kamu hanya akan menjadi "editor" tanpa berpikir kritis. Padahal, AI bisa salah atau menghasilkan konten yang bias.
Jadi, teknologi yang digunakan secara sembrono, dapat mengurangi kemampuan konvensional dan berpikir kritis dan kreatif yang mendalam. Maka, lebih wiser menggunakan teknologi adalah pilihan yang tepat ya.
Peran Teknologi dalam Pola Hidup Kreatif
Meski teknologi berdampak terhadap downgrade orisinalitas kretaivitas jika tidak digunakan dengan bijak, nyatanya teknologi memang se-penting itu dalam menjalani pola hidup kreatif.
Korelasi antara teknologi dan menjalani hidup kreatif sangatlah erat, dimana teknologi adalah "enabler" atau mesin yang mewujudkan "niat" atau ide mentah kreatif yang tadinya mustahil jadi mungkin untuk dilakukan.
Teknologi bukan hanya soal alat, tapi soal bagaimana ia mempercepat inovasi dan ekspresi diri. Berikut adalah peran-peran penting teknologi dalam menjaga kreativitas sehari-hari.
1. Akses Informasi Tanpa Batas
Dulu, kalau kita ingin tahu bagaimana teknik melukis chiaroscuro atau gimana cara kerja mesin, bahkan gimana cara bikin baksi, kita harus ke perpustakaan atau pinjam buku reseo ke tetangga.
Sekarang, kita bisa mengakses Google, YouTube, hingga teknologi AI yang sudah menjadi perpustakaan tanpa batas dan rasa ingin tahu-pun terpuaskan secara instan, kapan saja, dan di mana saja.
2. Alat Catat dan Rekam Instan
Sebagai generasi analog, yang namanya notebook atau buku catatan sudah menjadi sahabat karib, alat tulis yang menjadi andalan untuk mencatat ide apapun. Gak tanggung-tanggung, notebook-pun menjadi koleksi tersendiri, mulai dari bentuk, ukuran hingga motif cover atau jenis jilidnya.
Punya budget lebih, beli tuh yang namanya alat perekam buat ngerekam percakapan atau ide yang tiba-tiba terlintas.
Meski kadang kangen dengan tools analog, tapi jaman sudah berubah. Digitalisasi mengubah segalanya atas nama efisiensi dan efektivitas. Dengan memiliki smartphone, kita sudah memiliki segalanya, notebook juga perekam hanya dalam satu perangkat. Praktis dan cepat.
![]() |
| Menggunakan aplikasi mencatat untuk membantu produktivitas dan kretivitas (gambar hasil generate image di Canva) |
3. Tempat Uji Coba Bebas Biaya, Kecuali Kuota
Teknologi digital (seperti tablet atau software simulasi) bikin kita bisa coba-coba ide tanpa takut rugi. Kamu bisa ganti-ganti warna atau desain sepuasnya tanpa perlu takut buang-buang bahan fisik atau uang.
Satu hal lucu yang kerap bikin saya ketawa sendiri adalah kebiasaan memencet fitur erase pada aplikasi drawing di tablet yang secara otomatis bikin saya melakukan hal yang sama ketika menggambar menggunakan cat air atau cat akrilik., “Eits, gak bisa erase ya, wkwkwk”.
Di situlah saya sadar, teknologi memang menyediakan ruang simulasi rendah risiko yang saking manjanya, sering bikin kita lupa kalau dunia nyata itu nggak punya tombol undo.
4. Bantu Otomatisasi Aktivitas Harian
Menjalani gaya hidup kreatif tuh sebenarnya bentuk usaha biar kita nggak sekadar hidup dalam mode autopilot dan monoton di tengah rutinitas yang itu-itu saja. Memang, mencatat di buku manual punya seninya sendiri, tapi ada kalanya daftar belanjaan atau jadwal kerja yang menumpuk justru menyita energi mental kita.
Kamu bisa menggunakan teknologi sebagai asisten untuk memudah pencatatan. Pakai aplikasi seperti Notion atau bantuan AI, urusan yang tadinya kaku dan memakan waktu bisa kita sulap jadi sistem yang lebih sistematis dan cepat.
5. Efektivitas dan Efesiensi Kolaborasi Serta Pemasaran Produk
Dulu, yang namanya meeting harus selalu dilakukan tatap muka atau offline. Selain “wasting time” ditengah aktivitas padat, juga membutuhkan budget yang tidak sedikit. Melalui platform digital, kerja bareng tim dari berbagai lokasi secara real-time jadi lebih efisien dan efektif.
Begitu juga untuk urusan jual-beli karya. Hadirnya marketplace online, memudahkan kita memasarkan produk bahkan menjangkau target pasar yang lebih luas. Teknologi membantu memangkas birokrasi, bikin ide mentah bisa langsung jadi cuan dan dikenal dunia.
Alat Tempur di Balik Gaya Hidup Kreatif di Era Digital
Menjalani gaya hidup kreatif di era digital tuh membutuhkan amunisi yang bentuknya bukan lagi tumpukan kertas atau meja kerja yang berantakan melainkan ekosistem digital dalam device digital, laptop atau PC yang bisa digunakan juga sebagai alat kerja remote.
Selain menggunakan laptop atau PC, kamu juga bisa kerja remote pakai smartphone dengan dukungan aplikasi yang sesuai dengan jenis pekerjaan kamu.
Apa saja “alat tempur” untuk gaya hidup kreatif di era digital?
- Aplikasi Manajemen Idea: Note di HP atau aplikasi seperti Notion membantu kita menangkap spontanitas. Ide kreatif itu kayak gebetan, kalau nggak langsung dikejar ya hilang.
- Platform Belajar Instan: Dari TikTok sampai kursus online, teknologi memberi asupan gizi buat rasa ingin tahu kita setiap hari.
- Kecerdasan Buatan (Generative AI): Jadi teman diskusi buat nyari solusi rutin, mulai dari bikin jadwal kerja yang unik sampai nyari ide kado buat temen.
- Gadget Portable: Tablet atau HP bikin kita bisa "berpikir inovatif" di mana saja, nggak harus diem di depan meja kerja.
Dengan banyaknya pilihan "alat tempur", hal ini bukan berarti kita harus punya gadget paling mahal atau spek paling dewa, tapi soal bagaimana kita memilih perangkat dan aplikasi yang bisa diajak kerja sama untuk menangkap ide spontan, memangkas proses yang ribet, sampai jadi teman diskusi saat otak lagi mampet.
Kesimpulan
Jadi, sepenting apa teknologi? Jelas penting banget. Di era digital, menolak teknologi sama saja dengan mencoba memotong daging pakai penggaris besi, bisa dilakukan tapi lama dan hasilnya berantakan.
Teknologi membantu kita melampaui keterbatasan fisik, tapi tidak boleh mengambil alih peran kita sebagai pemikir. Orisinalitas tidak akan tumpul selama kita tetap punya rasa ingin tahu dan keberanian untuk tampil beda, bukan cuma tampil "sesuai permintaan algoritma".
Gaya hidup kreatif yang keren adalah saat kita bisa "berselingkuh" dengan teknologi untuk menghasilkan karya yang tetap terasa manusiawi.









Posting Komentar
Posting Komentar