Tampilkan postingan dengan label Motherhood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motherhood. Tampilkan semua postingan
Cara-Membuat-Sugar-Waxing



Cara Membuat Sugar Waxing Bulu Di Rumah. Halo para Moms yang super kece, apa kabar hari ini? bahagia?? semoga ya. Biar bahagianya bertambah, yuk Me Time bareng saya dengan melakukan waxing bulu di rumah dan membuat sugar Waxing bulu sendiri alias DIY. Cara membuatnya mudah kok, bahkan kurang dari 30 menit. Bisa dibuat sambil membersamai anak PJJ atau bermain. Asal jangan meleng aja ya, hehe. Sebelum lanjut, yuk bahas dulu definisi Waxing.

Definisi Waxing


Sebetulnya waxing itu apa sih? oke, jika dilihat dari segi bahasa wax itu lilin. Tetapi waxing memiliki definisi yang berbeda.
Waxing adalah cara menghilangkan rambut semi permanen dari akarnya menggunakan bahan wax atau cairan lilin. Bukan lilin dalam artian yang sebenarnya ya Moms, tapi cairan lilin yang bentuknya serupa gel yang nanti akan saya share bagaimana cara membuatnya.
Lantas, perlukan kita melakukan proses waxing ini? dan bagian tubuh mana saja yang memerlukan waxing bulu?

Manfaat Waxing


Sejujurnya saya hanya melakukan waxing sesekali jika diperlukan, itupun hanya di bagian yang memang memilki bulu yang cukup lebat yaitu ketiak. Tetapi lain cerita dengan Moms yang memilki bulu yang cukup lebat di bagian lengan, kaki, alis, wajah dan punggung. Waxing bulu menjadi salah satu solusi menghilangkan bulu - bulu tersebut.
Perlukah melakukan Waxing? tentu saja. Berdasarkan pengalaman salah satu teman saya yang kebetulan memiliki bulu yang cukup lebat, tumbuhnya bulu yang cukup lebat terutama dibagian kaki dan lengan cukup mengganggu penampilan. 
Waxing bulu menjadi cara atau metode yang cukup ampuh menghilangkan bulu untuk sementara waktu hingga sekitar tiga bulan lamanya. Hal ini tentu lebih efisien dan efektif jika dibandingkan shaving atau cukuran yang membuat bulu tumbuh dengan cepat.
Sebetulnya jika Moms sibuk dan agak malas membuat cairan waxing bulu dirumah, ada berbagai produk waxing bulu yang dijual di toko-toko kecantikan. Seperti :
  1. Beeswax yang merupakan perpaduan dari lilin lebah dan parafin
  2. Pre-coated wax strips , yang bisa Moms gunakan untuk bagian tubuh seperti alis dan bibir
  3. Sugar wax , nah ini dia cairan waxing bulu yang akan saya share bagaimana cara membuatnya.

Mengapa Harus Sugar wax?

Menurut informasi yang saya peroleh dari Wikipedia, sugar wax atau biasa disebut juga waxing Persia, merupakan cara menghilangkan bulu yang sudah digunakan sejak 1900 SM yang kala itu gula merupakan produk langka sehingga menggunakan madu sebagai penggantinya. Saat ini, bahan untuk membuat waxing bulu alami sudah dimodifikasi, yaitu menggunakan tambahan gula dan air lemon.
Berdasarkan informasi ini, tentu kita bisa melihat ya Moms kalau Sugar wax ini lebih aman karena mengandung bahan alami tanpa lilin. Dan, jika kita waxing bulu menggunakan sugar wax maka rasa sakit saat melakukan wax jauh berkurang jika dibandingkan menggunakan waxing konvensional. Selain itu, karena menggunakan bahan dan alat yang ada di rumah kita , tentu jauh lebih hemat. Hal yang sangat jadi perhatian para Moms bukan? hehe
Nah, bagi para Moms yang juga memilki permasalahan yang sama dengan teman saya, berikut saya share bagaimana cara membuat sugar waxing sendiri dirumah.

Cara Membuat Sugar Waxing Bulu Di Rumah


Bahan :

250 gram Gula Pasir ( 1 ½ gelas belimbing )
250 ml madu ( 1 gelas belimbing ) madu yang digunakan usahakan madu murni ya Moms
125 ml air lemon ( ½ gelas belimbing )
2 sdm air putih

Cara Membuat :

  1. Siapkan panci lalu masukan 2 sdm air putih dan gula pasir
  2. Aduk terus hingga cairan gula menjadi berbentuk seperti karamel
  3. Masukan madu dan air lemon
  4. Terus aduk hingga cairan berbentuk kental hampir mirip dengan kentalnya kecap
  5. Angkat dan pindahkan ke botol bekas selain kacang atau wadah anti panas seperti microwave bowl



Wah, mudah sekali membuatnya bukan? ini sih bisa para Moms buat sambil joget lagu blackpink ya, hehe. Oke, selanjutnya saya mau share juga bagaimana cara menggunakan sugar waxing bulu ini, yuk lanjut.

Cara Menggunakan Sugar waxing Bulu DIY

  1. Siapkan kain katun atau linen bekas, hal ini tentu lebih hemat ya
  2. Taburkan bedak bayi atau tepung kanji di area tubuh yang akan di wax . Hal ini dilakukan agar nantinya sugar waxing bulu menempel pada bulu bukan pada kulit. Hal ini akan mengurangi rasa sakit saat melakukan waxing bulu
  3. Oleskan Sugar waxing bulu yang sudah agak dingin atau hangat kuku pada bagian tubuh tadi secara merata
  4. Letakan kain katun atau linen bekas di atasnya dan tekan hingga wax menempel sepenuhnya
  5. Lalu tarik dari bawah kain ke atas secara cepat
  6. Simpan sisa sugar waxing bulu di dalam kulkas agar tahan lebih lama

Kesimpulan


Wow, mudah sekali ya proses membuat dan melakukan waxing dengan sugar waxing. Kalau mudah begini, me time para Moms akan jauh lebih efisien dan efektif tanpa harus keluar rumah. Terlebih di masa pandemi begini yang saya yakin Moms pasti masih merasa riskan jika harus Me Time di salon atau spa.
Jangan lupa ya Moms, setelah melakukan waxing terutama di bagian ketiak yang menghitam gunakan rollon yang bisa menghilangkan noda hitam pada ketiak. Saya sih biasanya menggunakan Rexona Motion Sense Advance Whitening. Wanginya harum dan bikin mood enak juga terasa segar dan tentu saja ketiak tidak lagi terdapat noda hitam secara perlahan. 
Jika Moms ingin berolahraga terutama joging, lakukan setelah  24  jam setelah waxing ya. Setelah itu Moms bisa banget joging dengan mengikuti petunjuk cara jogging yang benar.  
Demikian share saya kali ini mengenai cara membuat sugar waxing bulu dirumah, semoga bermanfaat ya Moms dan selamat ber Me Time ria.
balita-kurus-tapi-aktif




Baru Sadar Tubuh Balita kurus, Perlu khawatirkah ? ya saya khawatir. Karena saat ini balita saya, Kilan terlihat seperti balita kurus meskipun ia memilki tinggi badan ideal, yaitu 100cm.

Sejak lahir, Kilan yang sekarang berusia 4 tahun memang memiliki tubuh yang kecil nan ramping tapi tinggi.

Saya sempat merasa khawatir setelah lahir Kilan masuk ruang Fitoterapi karena terkena kuning. Seminggu berlalu perasaan pun lega ketika Dokter mengatakan Kilan sudah sehat dan boleh pulang.

Bulan berlalu Kilan pun tumbuh seperti bayi yang lainnya bahkan support ASI seratus persen. Satu kekhawatiran muncul, Kilan tumbuh sesuai Milestone tapi berat badan dibawah standar usia Kilan. Bahkan, Kilan termasuk bayi kurus tapi lincah.

Hingga akhirnya saya mendatangi Dokter anak di Puskesmas dan konsultasi. Syok dengan pernyataan Ibu Dokter yang dengan tegas mengatakan Kilan kekurangan gizi membuat saya denial dan enggan konsultasi dengan dokter lain.

Akhirnya saya pantau perkembangan Kilan sejak saat itu dan berusaha semaximal mungkin menjaga asupan makan dan Milestone nya serta memberikan vitamin untuk anak kurus. Alhamdulillah Kilan tumbuh sehat, bersemangat, perkembangan motorik kasar dan halusnya berkembang sempurna.

Usia 3 tahun pun dilalui Kilan dengan threenager seperti kebanyakan Balita di usianya walau saya agak kembang kempis ngatur emosi dan mood selama membersamai kilan melalui tahapan ini. Begitu pula sekarang, saat memasuki usia empat tahun.

Berkali- kali istighfar menghadapi tingkah laku Kilan yang kadang absurd dan diluar nalar normal saya. Tapi, Kilan tumbuh dengan sempurna. Kecuali berat badan.

Ya. Berat badan Kilan yang lagi - lagi menjadi issue yang mengkhawatirkan bagi saya dan suami. Walau berkali - kali Suami menguatkan saya kalau Kilan tumbuh dengan baik dan saya tidak perlu khawatir tetap saja, hati kecil saya tidak bisa dibohongi.

Terlebih saat saya sadar bahwa dalam hitungan delapan bulan Kilan akan memasuki usia lima tahun, usia yang sudah layak bagi Kilan memasuki Taman Kanak - Kanak. Saya pun tertegun menyadari betapa kecil dan mungilnya tubuh Kilan.
Lantas saya suarakan kekhawatiran saya pada suami, dan beliau menyarankan saya untuk tidak khawatir karena Kilan cerdas, tubuhnya kuat, jago loncat, hebat dalam berlari, pintar berhitung, pandai mengingat surat pendek dan do’a, jago menari gedruk, pandai mendongeng, pandai mengendarai mobil tanpa pedal dan dia memiliki toleransi yang cukup tinggi saat bermain dengan teman sebayanya. Persoalannya hanya satu, berat badan yang lagi - lagi dibawah standar.

Terlebih ibu mertua mengatakan bahwa, dulu ayahnya juga memiliki tubuh yang kurus saat seusia Kilan. Nampaknya ini hanya faktor genetik saja.


anak-kurus-tapi-sehat

Kilan Mendekati usia tahun. segini mah gemuk ya. Iya emang sempet gemuk waktu umur segini dia

balita-kurus

Kilan ketika usia 3 tahun

Meski demikian saya tetap khawatir karena berat badan kilan saat ini hanya 11,5 kg, sementara berat badan ideal anak usia 4 tahun untuk anak laki - laki adalah 12,7-21,2 kg. Lagi - lagi berat badan Kilan di bawah standar. Lantas perlu khawatirkan saya?

Usaha Mencari Tahu Mengapa Tubuh Balita Kurus


Saya masih enggan berkonsultasi dengan dokter anak, mengingat ada rasa takut dalam diri saya kalau Kilan mengalami gizi buruk. Karena, saya ingat betapa gigihnya saya menjaga asupan nutrisi kilan, Menyuapi makan yang effortnya luar biasa karena Kilan kerap melakukan GTM alias gerakan tutup mulut. Hal yang wajar dialami dan dilakukan Balita. Meski demikian, tetap saja berat badan kilan ya, segitu - segitu aja.

Lantas saya mencoba mengumpulkan beberapa informasi terkait Milestone yang apa yang dialami Kilan. Dan berikut hasilnya.

Perkembangan Balita Usia 4 Tahun


Berikut perkembangan balita usia 4 tahun serta hal yang perlu diwaspadai seiring pertumbuhan dan perkembangannya.
1. Tinggi dan berat badan ideal :
Anak perempuan : Tinggi 94,1-111,3 cm, Berat badan 12,3-21,5 kg
Anak Laki - laki : Tinggi 94,9-111,7 cm , Berat badan 12,7-21,2 kg
2. Kemampuan fisik
  • Tumbuh tinggi
  • memiliki kemampuan fisik yang baru
  • menguasai kemampuan motorik halus dan kasar
  • Lebih aktif untuk mencoba berbagai hal baru yang bisa dilakukan dengan fisik mereka ( menarik kursi, bermain bola, mewarnai, melengkapi puzzle, memilih baju yang akan dipakai.)
  • Kemampuan Kognitif
  • Bisa memecahkan teka teki yang mudah
  • Mahir menghafal jenis huruf dan warna.
  • Lebih aktif berbicara
3. Kemampuan Sosial
  • belajar tentang cara bersosialisasi dan konsep berteman yang baik
  • bersikap baik terhadap tema
  • Fase Tantrum mulai berkurang

Hal yang perlu diwaspadai Perkembangan Anak Usia 4 Tahun

  • Mengalami separation anxiety saat berpisah dari orangtua.
  • Mengalami gangguan tidur dan makan.
  • Mengalami kesulitan memegang alat tulis
  • Mengalami kesulitan melakukan hal keseharian
  • Selalu ketakutan, malu dan agresif pada orang lain
  • Tidak menunjukkan ketertarikan pada apapun.
  • Tidak melakukan kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain
  • Tidak mau bermain dengan teman sebaya
  • Tidak bisa menyebutkan nama lengkapnya.
  • Balita Kurus Yang Sehat VS Balita Yang Kurang Gizi
Melihat informasi terkait Milestone Balita usia 4 tahun diatas, saya tidak perlu merasa khawatir, karena semua perkembangan balita usia 4 tahun telah dilalui Kilan. Tinggi badan Kilan 100 cm yang artinya masih berada dalam tinggi badan ideal untuk anak usia 4 tahun. Lingkar kepala Kilan pun masih berada dalam batas ideal yaitu 48 cm. Kedua perhitungan ini masuk ideal kecuali Berat Badan tentunya.

Tapi tetap saja, karena masalah berat badan ini lantas saya menduga-duga apakah Kilan termasuk balita kurus yang sehat atau balita yang kurang gizi? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya kembali menggali informasi terkait cara membedakan balita kurus yang sehat dan balita yang kurang gizi , melalui kanal Nakita.grid yang menyatakan seperti ini :

Untuk mengetahui apakah anak kita mengalami gizi buruk, kita dapat mengukur berat badan (BB) dan tinggi badannya (TB), apakah ideal atau tidak.

Untuk memperoleh persentase perbandingan dengan BB ideal caranya adalah sebagai berikut :

BB aktual : BB Ideal x 100%
Jika hasilnya di atas 110% berarti anak tergolong gemuk.
Berkisar 90-110% berarti BB-nya ideal.
Bila hanya 70-89% dikatakan gizi kurang.

Mari kita hitung milik Kilan :
BB Kilan 11,5 Kg
Berarti status gizinya adalah 11,5 : 12,7 x 100% = 90%
Alhamdulillah, Kilan masih termasuk BB Ideal

Tapi mengapa saya masih merasa khawatir karena saya baru menyadari bahwa tubuh Kilan masih tetap terlihat kurus? ternyata permasalahannya adalah adanya kemungkinan fungsi daya serap ususnya terganggu dimana sari makanan yang dibutuhkan ikut terbuang bersama pup.

Sampai bagian ini saya masih mencari tahu benarkan Kilan mengalami gangguan daya serap usus?

Lalu saya mendapat informasi dari kanal health.detik yang menyatakan bahwa ciri anak yang memiliki saluran cerna yang sehat adalah sebagai berikut :
  1. makanan terserap sempurna
  2. terjadi pergerakan makanan dari mulut ke usus.
  3. memiliki kekebalan tubuh yang sehat jug
  4. memiliki keseimbangan mikrobiota
Melihat empat ciri diatas tentu agak sulit bagi saya, karena untuk mengetahui hasilnya saya tentu harus berkonsultasi dengan ahli gizi anak. Lalu saya kembali mencari informasi lain terkait Gejala anak kurang gizi melalui kanal Hellosehat.

Ciri - ciri Balita Kurus yang mengalami kurang gizi
  1. Tidak memiliki nafsu makan
  2. Anak mengalami gagal tumbuh ( berat badan, tinggi badan atau keduanya tidak sesuai dengan perkembangan ideal usianya)
  3. Kehilangan lemak dan massa otot tubuh
  4. Kekuatan otot tubuh menghilang
  5. Mudah marah, lesu dan menangis berlebihan
  6. Mengalami kecemasan dan kurang perhatian terhadap lingkungan sekitar
  7. Sulit berkonsentrasi
  8. Kulit dan rambut kering serta mudah rontok
  9. Pipi dan mata tampak cekung
  10. Proses penyembuhan luka sangat lama
  11. Rentan terserang penyakit dan proses penyembuhan cenderung lama

Ciri - ciri Balita Kurus Tapi Tidak Mengalami kurang gizi

  1. GERAK GERIK: lincah atau tidak
  2. KULIT: warna, elastisitas, integritasnya (maksudnya, kalau dipegang terasa kencang atau tidak)
  3. KUKU: rapuh, berganti warna atau tidak
  4. MATA: bercahaya, kelopak mata merah atau pucat
  5. MULUT: banyak sariawan juga bisa menunjukkan anak menderita malnutrisi
  6. RAMBUT: cemerlang, warnanya bagus tidak kusam, batangnya kuat.

Melihat semua poin balita kurus kekurangan gizi dan balita kurus tapi tidak mengalami kekurangan gizi diatas saya sandingkan dengan perkembangan Kilan, alhamdulillah kilan tidak memiliki semua tanda di atas.

Terkadang ada kasus balita kurus atau anak kurus susah makan, penyebab anak kurus dan susah makan ini salah satunya adalah GTM, tapi Kilan melakukan GTM bukan tidak memiliki nafsu makan melainkan tidak suka dengan jenis makanan tertentu. Misalnya daging ayam bagian daging, sayur bayam, tahun bubuk dan masakan berbumbu kental.
anak-pandai-menari-gedruk
Kilan suka banget nari gedruk. kaos dalam dia pake buat jado kostum, dan itu wajib! hehehe


anak-bermain-kucing
Kilan dan kiki bermain bersama di balong 

Terlebih poin nomor tiga, walau Kilan terlihat seperti balita kurus tetapi Kilan memiliki kekuatan otot yang bagus. Dia kuat mengangkat tumpukan tiga hingga empat buah buku tebal, mengangkat air setengah ember, melempar batu yang cukup besar bahkan mengayuh mobil mainan dengan kakinya yang kuat.

Kilan juga jarang terkena sakit dan bahkan jika terluka cepat sekali sembuhnya. Rambut Kilan bahkan tumbuh lebat dan sehat. Soal konsentrasi, seperti yang saya sebutkan diatas Kilan cerdas dan daya ingatnya kuat.

Sampai poin ini saya tidak lagi “terlalu” merasa khawatir. Terlebih berdasarkan penuturan dari kanal Nakita yang menyatakan bahwa :
Anak kurus tapi aktif bukanlah sebuah masalah, asalkan gizi anak tetap terpenuhi. Anak yang kurang gizi akan membuat si kecil rentan terhadap pilek, kekurangan energi, sulit fokus saat belajar dan jadi sosok yang pemarah. Bahkan, kekurangan gizi juga dikaitkan dengan perilaku buruk dan sulit pada anak. jika anak masih aktif. Moms hanya perlu menjaga asupan nutrisinya dengan baik.

KESIMPULAN


anak-bermain-di-lapangan
anak-bermain-mobilan

Kilan aktif bermain bersama kakak dan kiki, lihat dia kuat bermain mobilan dengan kaki sendiri. tuh kaan ceria dan aktif ya, hehe


Terjawab sudah kekhawatiran saya terhadap kesadaran saya bahwa Kilan terlihat seperti balita kurus saat ini ketika akan menginjak usia lima tahun. Tugas saya selanjutnya adalah memberikan nutrisi dan gizi yang lengkap melalui kombinasi menu makanan sehari-hari agar secara perlahan berat badannya naik.

Meski demikian saya masih harus tetap waspada dan memberanikan diri untuk konsultasi dengan dokter anak untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat mengenai kurusnya tubuh Kilan.

Informasi yang saya peroleh dari media online belum tentu benar seratus persen. Karena informasi disajikan untuk khalayak luas sebagai saran. Jika ada permasalahan seperti Kilan, memang lebih bijak untuk konsultasi dengan dokter anak.

Walau saya menyadari hal ini, rasa takut dalam diri saya masih ada. Mengingat betapa hal ini penting terlebih di masa Golden Age, sepertinya saya harus segera mengumpulkan keberanian untuk konsultasi dengan dokter anak sesegera mungkin.

Atau setidaknya saya masih harus mencari tahu mengenai tips agar berat badan anak cepat naik, vitamin untuk anak berbadan kurus dan cara agar berat badan anak naik drastis.

Kilan, maafkan mamah belum sempurna membersamai kamu ya nak. Semoga keberanian mamah segera muncul terlebih mama sadar, sebentar lagi kamu akan menjadi siswa Taman Kanak - Kanak.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tulisan dengan tema "SADAR"
yang diselenggarakan oleh Komunitas 1M1C periode 9 - 14 Maret 2021


Daftar Referensi :
https://health.detik.com/ibu-dan-anak/d-3460792/kata-dokter-begini-ciri-ciri-saluran-cerna-anak-yang-sehat


kamu-kena-prank



Selamat, Kamu Kena Prank! Pernah gak sih kalian menemukan situasi kaya kena prank dimana sepertinya bakalan dapat surprise menyenangkan eh gak taunya gak? atau situasi yang diharapkan bahagia nyatanya malah banyak drama? atau merasa tertipu? pernah? Toss dulu dong! hihihi. 

Gak enak banget ya rasanya, seperti merasa terperangkap dan kecewa berat tapi harus ditelan bulat - bulat karena sudah kadung. 

kalau kalian, situasi kaya gimana sih yang membuat kalian merasa seperti kena prank? kalau saya sih  merasa kena prank sama yang namanya pernikahan! 

what?? seriously? ah masa sih? Kok bisa sih saya bilang kena prank sama yang namanya pernikahan? iyalah, karena awalnya saya merasa kalau pernikahan itu seperti  di film, happy ending. eh gak taunya banyak drama! ampyun deh, wkwkwk

Saya Kena Prank!

Bayangan saya terhadap lembaga pernikahan sangat indah. Seindah film-film romantis hollywood. Tapi pada kenyataannya pernikahan tidak seindah itu. Saya sempat kaget dengan banyaknya perubahan yang terjadi pada diri saya dan pasangan. Hal ini ternyata disebabkan seiring dengan bertambahnya peran saya sebagai ibu. 

Perubahan peran ini sedikit banyak mempengaruhi saya dan pasangan secara psikologis dan mengubah sudut pandang saya mengenai pernikahan.

Setelah menikah saya kosong selama dua tahun karena memang kami berdua belum memutuskan untuk memiliki momongan. Dan selama dua tahun itu pernikahan kami rasanya honeymoon terus sepanjang tahun. Yah kalau pertengkaran kecil pasti ada, tapi bisa dengan mudah diselesaikan tanpa berlarut - larut.

Masalah mulai timbul justru saat kami memiliki anak pertama. Peran menjadi ibu dan ayah baru rupanya cukup menguras tenaga, pikiran , waktu dan uang. Masing - masing dari kami mengalami perubahan yang cukup drastis sampai - sampai kami tidak saling mengenal satu sama lain lagi. 

Peralihan peran rupanya membuat saya kehilangan diri saya sendiri dan saya terjebak dalam rutinitas peran baru.

Baik saya maupun pasangan sibuk dengan perannya masing - masing, saya sebagai ibu mengurus bayi dan urusan domestik sementara pasangan sebagai ayah bekerja. Kami jarang memiliki pillow talk atau bahkan quality time berdua,  karena sejak lepas dzuhur hingga tengah malam suami bekerja di kios yang kami rintis sejak tahun 2014. Sedikit sekali waktu yang kami miliki bersama. sok sibuk pisan ya? wkwkwk

Saya rasa, pasangan berubah menjadi pribadi yang keras dikarenakan rasa tanggung jawabnya sebagai suami yang harus mencari nafkah. Sehingga tak ada lagi ruang di dalam pikirannya untuk meributkan hal yang sepele seperti sikap baper saya dan masalah baby blues yang saya alami sepanjang masa pengasuhan anak kami. Hal ini membuat saya sendirian dan kesepian dalam pernikahan. 

Karena idealnya, kesulitan selama masa pengasuhan harus dilalui bersama dengan pasangan. Sayangnya saya tidak demikian.  Terkadang kalau saya sudah di puncak emosi dan akhirnya meledak, saya menangis tanpa bicara sepatah katapun. Hal ini tentu membuat pasangan kebingungan dan geram. Entahlah, karena jarangnya kami berkomunikasi dari hati ke hati, jadi saya agak segan curhat unek-unek dan lebih memilih diam dan menangis saat sendirian. kasian banget ya gue? wkwkwkwk

Hal ini juga dipicu karena setiap kami bertengkar karena anak rewel atau saya yang uring-uringan karena kelelahan, pasangan lebih memilih tidak membahas panjang lebar ketimbang bertanya kenapa saya uring - uringan dan mendengar keluhan saya. padahal hanya tinggal pasang kuping aja tanpa harus ngasih saran bijaksana layaknya Mario Teguh. Sayangnya dia tidak begitu. 

Pasangan saya tipe yang agak malas membahas soal perasaan, karena dia sudah cukup stress memikirkan bisnis kami yang stagnan dan penghasilannya kecil  sementara kebutuhan kami banyak dan bahkan melebihi pemasukan. sehingga urusan saya yang mudah baper dan perasaan saya agak membuat beban pikiran dia bertambah. Lama kelamaan hal ini membuat saya merasa menjadi single fighter dan rasanya seperti kena prank pernikahan. 

Sampai akhirnya, saya pasrah aja sama Allah.  

Alhamdulillah berapa bulan sejak saya memutuskan pasrah lalu melakukan evaluasi serta mencari solusi, hubungan saya dan pasangan membaik dari hari ke hari. Pasangan lebih banyak senyum, ramah dan jarang berkata tegas. Lebih mau mendengar dan menawarkan bantuan. Sungguh diluar bayangan. 

Saya rasa, perubahan ini selain karena ikhtiar doa yang tidak putus juga karena saya kembali menulis buku harian. Baik di jurnal maupun di blog yang hanya saya sendiri yang bisa membacanya. Menulis sebagai pelepasan stress dan self healing saya rasa ada benarnya. Karena hal ini mampu mengubah  respon dan psikologis kita menjadi lebih tenang. Hal ini akan berimbas juga pada respon kita terhadap permasalahan yang kita hadapi sehari - hari.

karena akhirnya perasaan saya plong, saya bisa bersikap lebih tenang saat kelelahan yang pada akhirnya pasangan juga jadi lebih bereaksi positif terhadap saya. Setelah lebih sering menulis di blog pribadi yang di kunci itu, saya jadi bisa lebih spontan dan terbuka terhadap pasangan. Tidak canggung saat berbicara dan masa bodo saat bercerita apa saja walaupun dia hanya manggut - manggut dan jawabannya hanya , “ oh ya?” atau “wah” saja. Yang penting saya plong udah cerita! hahahaha.

Saya memang kena prank pernikahan, tapi saya tidak menyesal. Saya rasa setiap pasangan yang menikah pasti akan melewati fase seperti ini. Apalagi saya baru memasuki tahap 10 tahun awal pernikahan yang katanya merupakan fase saling mengenal satu sama lain. 

Mengapa saya harus menyesal? setelah saya akhirnya menyadari bahwa perubahan pasangan saya itu merupakan proses pendewasaan dia sebagai seorang suami dan ayah?

mengapa saya harus menyesal? karena sekarang kami dikaruniai anak - anak yang sehat dan lucu walau gak sedikit kami dibuat stress dan kadang bertengkar karena masa tantrum mereka?

Mengapa saya harus menyesal? karena sekarang hidup saya damai dan tentram. Hati saya penuh dengan cinta dan saya tak lagi memendam trauma.

Toh hingga detik ini, pasangan tetap memegang janjinya dari awal, yaitu akan membuat saya bahagia dan tidak sedih lagi kalau mengingat masalah keluarga. Dan dia menepati janji itu. Sudah seharusnya saya bersyukur, teramat sangat.

yah, saya kena prank dan saya tidak menyesal.

Bagaimana Persiapan agar kamu tidak kena prank pernikahan?


Satu saran saya, jangan berharap lebih terhadap sebuah pernikahan dan persiapkan mental dan pengetahuan sebelum memutuskan untuk menikah. 

Saya tau, terlalu banyak cerita drama bahkan film sampai dongeng yang mengisahkan kalau pernikahan merupakan happy ending. Padahal kenyataannya gak gitu. Siapapun yang ingin dan akan menikah harus memikirkan poin penting, yaitu KENALI PERAN BARU - PAHAMI - RESAPI - SIAPKAN DIRI. 

Saya tidak bermaksud menakut - nakuti mereka yang ingin menikah hingga menjadi enggan. Tetapi justru sebaliknya, andai saya punya mesin waktu saya ingin sekali kembali ke masa sebelum menikah dan bertanya pada diri saya yang sekarang APA YANG HARUS SAYA SIAPKAN SEBELUM MENIKAH?  tapi kenyataanya gak mungkin kan? akhirnya semua proses adaptasi itu harus saya lalui sendiri dan cerita saya menjadi pembelajaran bagi mereka yang ingin dan akan menikah. 

Jangan mau menikah karena usia atau sudah lelah mencari cinta yang selalu kandas atau karena pacaran sudah terlalu lama. Menikahlah karena memang sudah siap menjadi seorang istri dan ibu. Itu dua peran penting yang akan dilalui bagi kita kaum hawa. 

Hal ini termasuk menikah dengan alasan beribadah. It's a good intentions, menikah karena  ibadah. Tapi memahami nilai beribadah dalam pernikahan juga itu sama pentingnya. Ibadah seperti apa setelah menikah? ini yang harus betul - betul dipahami agar siap bukan hanya sekedar akibat kepincut godaan menikah muda atau mendapat pasangan halal semata. 

Karena setelah menikah, kamu tidak hanya akan menjadi seorang isteri tapi juga seorang ibu, seorang menantu, kakak/adik ipar, tetap seorang anak dari orang tua kandungmu, dan tetap menjadi diri sendirimu sendiri. Semua peran itu tidak serta merta membuat pernikahan mulus kaya kulit semangka, awal adaptasi pasti ga enak banget. apalagi ada stigma kalo keluarga mertua itu mirip film horor. Kenyataannya? tentu tidak seperti itu. 


Bagaimana Jika Saya Terjebak Dalam Prank Pernikahan?


Nasi sudah jadi bubur, dan kita sudah berada dalam ikatan pernikahan dengan pasangan. Mau tidak mau harus tetap maju dan mulai adaptasi. Karena, jika  mundur dan menyerah maka akan banyak sekali pertimbangannya. Terutama soal anak. 

Jadi, bagaimana nih kalau kamu sudah terlanjur kena prank pernikahan? saya tidak bisa memberikan tips yang banyak, tetapi hal - hal berikut mungkin menjadi solusi ketika kamu merasa terjebak dalam permasalahan pernikahan.

Pertama, melakukan self healing

Ini penting. Karena apapun yang menjadi sumber trauma kita bisa menjadi tembok berlin bagi hubungan kita dengan pasangan. Kita harus menemukan akar permasalahan dari apa yang selalu menjadi gangguan bagi diri kita sendiri. Misal, saya dengan masalah keluarga saya, trauma akibat perceraian orangtua dan inner child. Wah, banyak sekali ya. 

Tetapi ketika semua trauma ini satu per satu terselesaikan, hidup kita akan terasa lebih ringan dan bisa melihat situasi apapun menjadi lebih baik. Soal menjadi bahagia, relative ya. Tapi ketika kita tidak lagi merasa terganggu dan menerima kisah masa lalu kita dengan segala trauma dan dramanya, kita bisa move on dan melanjutkan hidup kita yang ada di depan mata. Perhatian kita tidak lagi berpusat pada trauma yang tidak pernah usai lantas melampiaskan pada pasangan. Maksudnya?

ketika saya belum menyelesaikan konflik saya dengan ibu saya, saya sering melampiaskannya pada pasangan. Ketika pasangan menjadi cuek, tidak perhatian apalagi tidak mau mendengarkan keluh kesah saya, tiba - tiba saya merasa seperti diperlakukan sebagaimana ibu saya memperlakukan saya dulu. Akhirnya saya menumpuk emosi dan kecewa terhadap pasangan saya. 

Padahal, bukan salah suami saya pada akhirnya saya merasa tidak diperhatikan dan diabaikan. Bisa jadi situasinya tidak tepat saja. Saat saya kelelahan dan memerlukan perhatian lebih dari pasangan tapi kenyataannya pasangan juga sedang mengalami situasi yang sama tapi kita tidak menyadari hal itu karena terlalu gelap dengan emosi dan trauma sendiri. 

Sampai sini bisa dipahami? semoga bisa dipahami ya. 

Berhentilah menyakiti diri sendiri dengan terus menggenggam trauma hingga bertahun -tahun lamanya. Emang enak terus berada dalam trauma? gak kan ya? pasti jadi beban lah. Makanya, hempaskan si  trauma itu. Caranya? Bicara dengan diri sendiri. 

Enaknya sih memang pergi ke psikolog atau psikiater ya, tapi kan mahal ya bayar jasanya! hahaha. Jadi yang bisa kita lakukan adalah bicara dengan diri sendiri. Curhat sama diri sendiri . Bisa dengan menulis diary, jurnal, blog atau apapun lah medianya. Lalu uraikan. Contohnya? artikel saya tentang inner child dan penyelesaian konflik saya dengan ibu saya bisa menjadi salah satu contoh. 

Hidup terlalu indah kalau kita melewatkan semuanya. Semua hal yang baik yang ada di depan mata dan sekeliling kita akan menjadi nampak buruk dan terasa seperti sebuah kesialan dan kemalangan. 

Pasangan yang sebetulnya baik dan perhatian akan terlihat menyebalkan dan membuat kita tersiksa hanya karena satu hal sepele,  anak - anak yang ceria dan sehat dan menggemaskan akan terasa seperti mimpi buruk dan teman serta sahabat yang selalu mendukung akan terasa seperti ancaman yang sewaktu waktu akan menikam dari belakang. Sehingga akhirnya kita memilih menyakiti mereka lebih dulu sebelum kita yang tersakiti sebagai bentuk benteng pertahanan agar kita tidak tersakiti “lagi”. 

padahal kenyataanya, kita sendiri yang menyakiti diri sendiri. Pasangan sih baik hati dan selalu menyayangi kita, anak - anak sih menyayangi kita apa adanya dan sahabat pasti menerima kita apa adanya juga dan tetap mendukung kita dalam situasi apapun. 

Kita yang merasa sebaliknya hanya karena punya trauma yang belum terselesaikan. paham?

Kedua, Jangan berharap lebih.

Idealnya memang, setiap pasangan dalam pernikahan memiliki prinsip kesalingan , tetapi kenyataannya tidak semua pasangan dalam pernikahan memiliki prinsip seperti ini. Banyak juga pasangan yang memiliki perbedaan “mazhab” soal kesalingan ini, Suami yang patriarki beserta keluarganya bisa menjadi mimpi buruk. Tetapi, itulah ladang pertempuran kita. 

Rasa iri melihat pasangan lain yang saling terbuka dan bahu membahu menjalani biduk rumah tangga pasti ada. Tetapi jangan iri atau berkecil hati lantas bertanya pada Allah, “ Ya Allah kok saya dikasih jodoh yang begini sih? gak adil!! “ , karena setiap manusia diberikan ladang pertempuran yang berbeda. Segera ubah sudut pandang kita terhadap konsep pernikahan. Ubah menjadi, pernikahan adalah ladang ibadah. Terkesan toxic optimistic ya? bisa dikatakan begitu, tapi ini realistis. Daripada kamu terus tersiksa dengan harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan? iya kan? lebih baik niatkan dalam hati menikah untuk ibadah.

walaupun suatu pernikahan terlihat baik - baik saja, kita tidak pernah tahu seberat apa masalah yang mereka hadapi. Jadi jangan merasa iri, setiap pernikahan memiliki pertarungannya masing-masing. 

Cara yang terbaik adalah menerima pasangan apa adanya, lengkap dengan segala kebaikan dan kebiasaannya yang absurd. Terkadang ada saja kebiasaan yang jauh berbeda dengan kita, tapi itulah seni nya pernikahan. Indahnya di sana. 

Ketiga, Kendorkan ego dan pahami

Seperti yang saya sebutkan diatas bahwa pernikahan membuat kita dan pasangan berubah dikarenakan perubahan peran. baik kita maupun pasangan sama-sama beradaptasi terhadap peran baru ini. Maka pahamilah bahwa segala macam pertengkaran, perbedaan pendapat dan situasi yang tidak sesuai harapan merupakan bagian proses adaptasi.

Hanya dengan memahami hal ini saja kita tidak akan lagi merasa terjebak dalam unhappy marriage dan merasa kena prank. 

Bagaimana kalau pasangan malas bekerja dan mencari nafkah? dukung dia. Maksudnya? pasti ada alasan mengapa dia malas dan enggan mencari nafkah. Gali akar permasalahannya dan berikan solusi.  Kok rasanya aneh ya? harusnya kan suami gitu lho yang sadar diri buat cari nafkah dan bukannya sebaliknya! hahaha. Yah, sayangnya begitulah kondisi kita. Itulah ladang pertempuran kita. 

Tapi sebelum memulai, siapkan dulu stok sabar dan ikhlas ya. Menerima suami sedang berada dalam situasi seperti itu pasti gak akan mudah. apalagi kalau kita berpikir, buat apa susah susah mikirin itu? toh itu tanggung jawab suami! dia peduli sama aku aja gak! 

Iya sih, tapi kalau suami gak kerja terus kita sendiri gak kerja lha mau ngasih makan anak - anak gimana? oke, aku yang kerja! oh jangan! jangan bebani diri sendiri dengan prinsip seperti ini. Bukan hanya lelah fisik dan juga hati karena terus memendam rasa kecewa pada suami dan terus merasa menjadi single fighter. 

satu hal yang saya pahami dalam pernikahan adalah, para suami memiliki ego lebih atas kekuasaan dan harga diri. Dan ego itu terletak pada uang dan otoritas. Ya ya tidak semua suami begitu tapi mostly ya.

Jadi jangan lukai harga dirinya dengan merendahkan dan berkata kasar pada suami seperti, “ suami tiada guna” atau “ suami pemalas” atau “ suami gak bertanggung jawab “ . Percayalah, dalam hatinya pasti ada rasa bersalah saat tidak mampu memberikan yang layak pada keluarganya. Ada hati yang terluka disana. Jadi, dukunglah dia dengan tetap bersabar, ikhlas dan tersenyum. Klise ya? hahaha, memang! emang ada solusi lain?

Gimana cara mendukungnya? bisa kita arahkan dengan menawarkan pekerjaan atau bisnis yang pasangan sukai. Misal, hobinya burung nih… arahkan untuk bisnis burung. Saya dengar lumayan lho omsetnya. Atau hobinya main game, arahkan bikin warnet game atau jadi gamers yang berpenghasilan. Atau hobinya main bulu tangkis, arahkan untuk buka bisnis peralatan bulu tangkis dan olahraga lainnya. 

Kami gak punya modal dan gak punya jaminan? mintalah sama Allah. Kalau kita sudah berniat membantu suami, insya allah pasti dikasih jalan sama Allah. 

Tapi gimana nih, kalau suami bukan tipe orang yang mau dikasih masukan dan menolak mentah - mentah masukan solusi dari kita? gampang - gampang susah memang, tapi biasanya pasangan memang gengsi diberi masukan dan merasa apa yang dijalani adalah pilihan yang tepat. Gak masalah, terus aja kasih masukan karena informasi dari kita sebetulnya dia simpan dan dipertimbangkan, Cuman responnya aja yang terlihat seperti yang menolak, hihihi

Disinilah peran kendorkan ego dan pahami sangat diperlukan. Bukan hanya soal finansial, tapi juga saat kita menuntut lebih perhatian pada pasangan. Ingat bahwa pasangan juga menginginkan hal yang sama dari kita. Bukan hanya kita. Pahami hal ini dan mulai perhatikan kebutuhan batin pasangan. Insya Allah, hubungan dengan pasangan akan membaik. 

Keempat, Jadikan pernikahan sebagai ladang ibadah

Saat kita sudah berusaha dan melakukan segala cara untuk mempertahankan identitas diri dalam pernikahan dan mempertahankan pernikahan itu sendiri tapi masih tidak membuahkan hasil, maka ubah mindset kita menjadi “ jadikan pernikahan sebagai ladang ibadah”

mengapa? karena akhirnya saya menyadari bahwa, mengapa Rasulullah S.A.W  mengatakan bahwa menikahlah karena ibadah karena memang ladang ibadahnya banyak banget. Mulai dari melayani suami, mengurus rumah tangga dan juga anak - anak. Belum termasuk kepada orangtua kandung dan mertua. Tapi ujiannya juga banyak. Tapi setimpal lah dengan nilai pahalanya. 

kalau sudah mengubah mindset, ujungnya jadi nothing to lose dan Allah pasti kasih jalan yang terbaik untuk kita. Tapi bukan berarti lantas hanya pasrah saja tanpa usaha. semua point di atas bisa dijalankan sembari tetap pasrah dan tawakal. 

Kelima, cari cara komunikasi yang unik dengan pasangan

Setelah keempat poin diatas kita coba praktekan, saya yakin outputnya hati kita akan lebih lega dan plong. Sehingga kita bisa mencari solusi cara berkomunikasi yang unik sesuai dengan karakter pasangan. Misal, komunikasi sambil bercanda tapi menyimpan pesan yang cukup penting. Kita bisa lebih mencari lagi alternatif cara berkomunikasi jika hati dan pikiran kita sudah tidak penuh dengan emosi atau rasa kecewa lagi. percayalah. 

Semua point di atas menurut saya berkesinambungan dan tidak bisa hanya dilakukan satu poin saja. Karena akar permasalahan yang ada dalam diri kita yang harus di hempaskan dan diselesaikan terlebih dahulu, setelah itu baru bisa tidak berharap lebih kemudian mengendorkan ego dan memahami pasangan dan akhirnya mengubah mindset pernikahan menjadi ladang ibadah dan endingnya bisa berkomunikasi dengan lancar dengan pasangan.

Satu tips terakhir yang sangat penting, yaitu bersyukur. Bersyukurlah memiliki pasangan yang diberikan Allah yang lengkap dengan segala kebaikan dan kekurangannya.Bukankah dengan bersyukur maka Allah akan menambah nikmat dalam hidup kita? tentu mau dong. Jadi, jangan lupa bersyukur ya.

Karena biasanya orang yang kena prank, walau awalnya dongkol ujungnya pasti tertawa lucu kan? mirip dengan kebiasaan Kilan Si Bungsu yang sering nge-prank saya pura-pura nangis, tentu saya kaget, setelah saya kaget tiba-tiba dia buka tangan dan mata dia lalu berkata, " iiihhh mamah kena prank! hahaha !! "



Malaikat Tak Bersayap Itu Bernama, IbuPagi itu cerah dan matahari bersinar hangat. Saya duduk di depan teras sambil menyeruput teh manis di temani goreng ulen dan obrolan hangat bersama ibu. Nikmat sekali, bahkan kami mengobrol di temani lagu kpop favorit saya dan ibu tidak keberatan, hehe

Sambil ngobrol banyak hal, saya memperhatikan betapa sayangnya saya dengan sosok yang satu ini. Ibu adalah sosok yang tegar dan kuat sekaligus bagai malaikat tak bersayap bagi saya.

Walau ibu bercerita banyak hal sambil tersenyum dan tertawa lebar, saya bisa melihat banyak sekali gurat kesedihan dan kerapuhan di setiap keriput yang mulai muncul di wajah ibu. Seketika rasa sesal menyeruak dalam dada saya, rasa sesal karena pernah menyakiti Ibu.

Hal ini membuat saya selalu bertanya, masih adakah waktu bagi saya untuk dapat membuat ibu bahagia ? masih banyak kah waktu yang tersisa bagi saya untuk mewujudkan impian Ibu? 

Saya terus menanyakan hal yang sama pada Tuhan di setiap sujud. Rasa sesal yang bergelayut dalam hati saya bersumber pada satu hal, dosa besar yang saya takut Tuhan akan murka karena dosa saya itu. 

Dosa saya adalah pernah membenci Ibu saya dalam waktu yang cukup lama dan menyalahkan Ibu atas semua peristiwa buruk yang terjadi dalam hidup saya. Kami bahkan hidup bertahun - tahun lamanya dalam konflik tiada akhir dan setiap bertemu sering bertengkar hebat berujung saling menyakiti. 

Mengapa saya pernah membenci ibu saya dan menyalahkan ibu atas semua peristiwa buruk dalam hidup saya sampai sekian lamanya?

Tumbuh Dengan Rasa Kesepian


Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua orangtua saya bekerja setiap hari dan libur hanya di hari Minggu. Hal ini menyebabkan saya sering di tinggal sendiri di rumah dengan adik. 

Ada rasa sepi selama saya ditinggal bekerja oleh orang tua saya. Karena, setiap hari saya berangkat sekolah, makan siang dan mengaji sendiri. Tanpa memberi salam atau disambut pulang sekolah dengan gembira oleh ibu. Selain itu saya juga harus menjaga dan menyiapkan segala keperluan adik saya. 

Tidak jarang saya juga bermain sendiri, karena teman - teman seumuran saya rumahnya jauh.

Hal ini membuat saya tumbuh menjadi anak yang kesepian dan tidak percaya diri.
Hal ini ditambah dengan hubungan saya dengan orangtua sangat kaku dan formal. Ibu memiliki karakter agak keras, begitu juga ayah. 

Ayah sangat disiplin dan galak. Beliau termasuk orang tua yang tidak bisa mentolerir kesalahan meskipun usia saya masih sembilan tahun. Hukuman fisik sudah jadi langganan saya ketika saya melakukan kesalahan. Bentakan dan kata - kata kurang pantas juga sering saya terima. Terkadang saya lari ke pelukan ibu untuk mencari perlindungan, tapi naasnya ibu lebih sering diam ketimbang menghibur saya apalagi meraih hati saya.

Hal ini terkadang membuat saya berfikir kalau saya ini anak adopsi dan bukan anak kandung mereka. Rasa kesepian ini ditambah dengan keinginan saya yang kuat untuk memiliki ibu yang lemah lembut dan pengertian, tapi kenyataannya ibu adalah ibu yang tidak demikian. Benih tidak suka dan agak benci ibu berawal dari sini. Mungkin lebih tepatnya bukan benci, tapi kecewa.

Terkadang saya tidak mengerti, kenapa ibu selalu galak dan bersikap kurang lembut pada saya? apa saya anak yang nakal? apa saya menyebalkan? apa saya kurang pintar?

Saat itu saya tidak bisa menemukan jawaban apapun. mengingat usia saya masih sembilan tahun. Tapi sayangnya, perasaan ini terus berlanjut bahkan ketika saya mencapai usia sekolah menengah atas karena saya masih merasakan ibu masih tetap sama, sering marah dan galak. Tak ada sama sekali bayangan atau sebuah opini tentang ibu sebagai malaikat tak bersayap di benak saya saat itu. 

Perceraian Orangtua


Saya masih ingat, saat itu pertengahan bulan Juni tahun 1999. Suatu pagi yang cerah dan langit berwarna biru serta awan berarak ditemani matahari yang teduh . Pagi hari yang sempurna. Tidak ada tanda kemurungan. 

Pagi itu saya, ayah, ibu dan kedua adik sarapan bersama seperti biasanya. Saya duduk manis menunggu ibu menyiapkan sarapan sementara adik bernyanyi riang. Lalu kami sarapan bersama dengan nikmat. 

Lalu tiba-tiba tanpa peringatan dan aba-aba, ayah dengan wajah tegang dan kaku berkata,

jadi, teteh sama aa mau ikut siapa? Ayah atau ibu?” 
DARR!!! Saya merasa seperti terkena sambaran petir saat itu juga!! 
Saya hanya bisa berkata dalam hati, “what?!!! Apa Apaan ini??? Maksudnya ayah sama ibu mau cerai? On no!

Seketika saya seperti terkena sengatan listrik yang membuat sekujur tubuh saya berubah menjadi kaku dan kelu. Hilang semua kata dan pikiran. Pagi itu laksana hujan badai disertai amukan kilat, tak seindah cuaca cerah di luar sana. Sungguh ironis. 

Saya melihat Ibu hanya mampu berteriak seraya berkata, “ apa-apaan ini ayaaah? ayah bercanda? Maksudnya apa iniiiiii?” sambil terus menangis tiada henti. 

Ayah tidak menggubris pertanyaan dan tangis isak Ibu, ayah pergi meninggalkan meja makan dengan layu dan punggung tertunduk rapuh lantas berlalu meninggalkan kami di meja makan masih duduk tegang dan kaku. 

Saya bisa apa? Selain duduk mematung dengan pikiran berkecamuk tak percaya. lalu saya ingat harus sekolah, seketika saya bangkit dan berusaha memecahkan kekakuan tubuh lalu bergegas berangkat sekolah. Saking bingung dan masih merasa tidak percaya, saya berangkat sekolah seakan kejadian tadi pagi tidak terjadi. Saya bahkan gak nangis! 

Sejak kisah pagi yang tragis itu, hidup saya tidak pernah sama lagi. Saya rasa, inilah akhir dari segala drama keluarga selama ini. Drama keluarga? Iya, drama keluarga dimana ayah dan ibu sebelum kejadian naas itu memang sering bertengkar. Mereka kerap bertengkar hampir di setiap kesempatan.Entah apa yang diributkan, semua pertengkaran selalu berakhir dengan teriakan, bentakan dan bantingan pintu kamar tidur. 

Orang Tua saya memang bukan orang tua yang harmonis sejak awal pernikahan mereka. jadi sebetulnya, walaupun mereka akhirnya bercerai juga saya tidak heran. Tapi tetap saja, menghadapi gerbang perceraian mereka di depan mata rupanya membuat saya syok dan meninggalkan bekas luka yang selalu basah dan tak kunjung sembuh. 

Saya pun merasa perceraian mereka disebabkan oleh ibu yang tidak mampu menjaga dan melindungi keluarga hingga akhirnya mereka berpisah. Kalau saja ibu tidak selalu marah - marah dan galak, saya yakin ayah akan betah di rumah. Kalau saja ibu tidak egois dan gak selalu ingin didengar, ayah pasti gak akan lari dari pernikahan. Kalau saja. Semua gara - gara Ibu!! kadang saya sesumbar dalam hati, apa itu istilah ibu sebagai malaikat tak bersayap? nonsense!!

Konflik Tiada Akhir


Setelah perceraian mereka, drama keluarga pun dimulai. Urusan hak asuh anak, uang bulanan sampai pernikahan ibu yang kedua. Baik Ibu maupun saya, kami masing - masing berjuang menghadapi perceraian. 

Ibu yang berusaha menyusun kembali serpihan emosi dan kewarasannya sendiri dan saya yang depresi karena merasa kehilangan sosok ayah dan keluarga yang tidak utuh. 

Kami tidak bisa saling menguatkan karena ibu enggan membagi rasa sedihnya dan melimpahkan tugas domestik pada saya, seperti urusan memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah sampai urusan sekolah kedua adik saya. 

Sementara ibu banyak menghabiskan waktu di kantor dan dengan bebas pergi kemanapun dia suka dan lupa kalau dia punya anak - anak rapuh yang harus diperhatikan di rumah. hal ini kemudian yang membuat saya semakin kecewa dan membenci ibu. Hal ini bahkan berlanjut sampai saya lulus kuliah dan mulai bekerja. 

Lelah dengan semua emosi negatif yang saya rasakan baik terhadap ibu dan hidup saya, akhirnya saya memutuskan untuk mengubah hidup saya, selamanya. 

Sebuah Titik Balik


Amarah, kecewa dan rasa kesepian yang menggelayuti hidup saya selama bertahun - tahun akhirnya menemui titik terang cahaya. Cahaya itu adalah Keenan, anak saya yang pertama.

Setelah menikah dan menjadi ibu akhirnya saya bisa memahami Ibu dan mencoba mengerti dan memaafkan ibu bahkan menyesal pernah membenci ibu segitu hebatnya. 

Proses ini tidak mudah dan panjang sekali. Prosesnya di mulai sejak saya masih kuliah tingkat D3 dulu sampai saya menikah. Setiap proses terasa sangat berat karena berbenturan dengan ego dan trauma.

Trauma dari perceraian dan bagaimana dulu saya diperlakukan kasar semasa kecil berimbas pada cara saya mengasuh anak saya. Trauma yang akhirnya baru terselesaikan setelah lebih dari dua puluh tahun berjuang. 

Pada akhirnya saya memahami bagaimana sudut pandang ibu tentang semua ini. Seperti kepingan puzzle, saya mencoba menyusun satu per satu bagian cerita dari sudut pandang ibu sebagai pribadi dan ibu sebagai ibu. 

Ibu Juga Manusia


Ibu juga manusia, perempuan yang memiliki perasaan, harapan, cita - cita dan keterbatasan. Gelar Ibu tidak serta merta menjadikannya makhluk sempurna tanpa cacat. Sebagai pribadi, ibu juga berproses menemukan jati dirinya. 

Ibu juga punya rasa sakit dan trauma. 

Saya masih ingat, Ibu pernah bercerita mengenai trauma yang beliau rasakan saat masih kecil. Saat itu usia ibu sekitar sepuluh tahun dan seperti kebanyakan anak di usia tersebut terkadang bermain bersama teman terkadang juga bertengkar. 

Naasnya, ketika ibu bertengkar dengan salah satu temannya, Ibu dari teman ibu saya itu mengadu pada kakek kalau pertengkaran anak mereka di sebabkan oleh Ibu saya, padahal teman Ibu saya itu yang memulai lebih dulu. Akibatnya, Ibu mendapat hukuman dari Kakek. Dengan menggunakan sapu lidi, pantat dan kaki ibu dipukul hingga memerah dan bengkak. Ya Tuhan, kalau mengingat cerita Ibu itu, hati saya sedih.

Ibu adalah anak kelima dari 8 bersaudara. Keluarga ibu termasuk keluarga kaya tapi gak kaya - kaya amat, cukup berada sampai kakek dan nenek waktu itu bisa menyekolahkan anak - anaknya hingga SMA. 

Kakek adalah seorang perwira ABRI berpangkat, saya tidak tahu pangkatnya apa tapi kakek pernah menjadi pemimpin sebuah tim saat ada konflik di Irian Barat dulu. Sementara nenek adalah keturunan bupati Cianjur, jadi bisa di bilang nenek berasal dari keluarga Raden.

Keluarga ibu cukup keras dan disiplin dalam mendidik anak - anaknya. Ibu juga sering merasa diperlakukan tidak adil mengingat ibu anak ketujuh dari delapan bersaudara. Ibu juga mengalami masa sulit di sepanjang masa mudanya. Banyak impian Ibu yang harus kandas demi kakak dan juga kami anak - anaknya.

Sewaktu kecil, Ibu memiliki hobi dan cita - cita sebagai penulis dan pelukis. wahh ternyata hobi ibu menurun pada saya ya, hehehe. waktu kecil ibu sering mengikuti lomba menggambar dan juara. Karena kakek dan nenek tidak menyetujui hobi ibu, jadi ibu mengikuti setiap perlombaan dengan diam - diam. Lalu darimana ibu mendapat alat tulis dan gambar? dari setiap hadiah lomba yang ibu terima. waahhh, ibu hebat yaa.

Saya rasa pengalaman ibu semasa kecil membuatnya menjadi pribadi yang kuat, tangguh dan keras. Ibu berusaha untuk selalu berjuang dalam hidupnya. Memperjuangan harapan dan cita - citanya. Berjuang untuk mendapat kasih sayang dari keluarga dan orang sekitarnya. Saya bisa merasakan, ibu juga tumbuh dalam kesepian dan merasa kurang disayangi. 

Dengan Memahami bagaimana hidup ibu semasa kecil hingga dewasa, membuat rasa benci saya perlahan luntur. 

Kebencian saya terhadap ibu semakin luntur setelah saya menikah. Saya merasakan sendiri betapa sulitnya mempertahankan biduk rumah tangga. Tak semudah membalikan telapak tangan. Setelah saya sendiri mengalami konflik rumah tangga dan menjadi ibu bagi kedua anak saya, akhirnya saya paham bagaimana rasanya menjadi ibu ketika menghadapi perceraian mereka dahulu. Akhirnya saya mengiyakan istilah ibu sebagai malaikat tak bersayap. 

Memang tidak mudah menjadi ibu dan istri dengan segala tugas dan tanggung jawabnya. Tidak sedikit hal pribadi yang dikorbankan. Bukan hanya waktu, tapi tenaga, uang dan cita - cita. Menjadi ibu bukan hal yang mudah. Mulai dari kurang tidur sampai kelelahan tiada akhir mengurus mereka dari bayi. Belum termasuk stress mencari uang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan anak. 

Saya jadi ingat, walau ibu jarang ada di rumah lalu ketika pulang sering marah, galak dan disiplin terhadap saya, Ibu tetap memperhatikan kebutuhan saya. Untuk urusan jajan dan perut saya tidak pernah kekurangan sedikitpun. Tidak ada istilah kelaparan atau gak punya mainan. Walau masa kecil saya kesepian, perut saya kenyang. Satu hal yang layak disyukuri sebetulnya. 

Perceraian juga bukan hal yang mudah bagi Ibu, saya bisa bayangkan betapa sulitnya menghadapi perceraian dan berjuang menyusun kembali kepingan jati diri setelahnya. Akhirnya saya dapat memaklumi ketika akhirnya ibu menjadi depresi dan hilang kendali setelah bercerai dengan ayah. Saya membayangkan kalau saya jadi ibu, mungkin akan sama depresinya dengan ibu. 

Dalam keadaan depresi pun, ibu tetap berjuang mencari nafkah untuk saya dan adik - adik saya. Bahkan saya bisa kuliah berkat perjuangan ibu. Ibu memang tangguh dan kuat. 

Sampai titik ini, saya semakin tersadar dan mulai merasa bersalah pada ibu karena pernah membencinya.

Permohonan Maaf


Setelah saya melahirkan Keenan, Ibu menemani saya selama tiga hari di rumah ibu mertua. Ibu membuatkan saya sup daun katuk dan daun kelor setiap hari. Mengajari saya memandikan Keenan, memakaikan baju dan menyusui. Saya merasa tenang dan nyaman selama ibu ada di sisi saya selama tiga hari itu. Saya sangat bersyukur masih memiliki ibu di sisi saya yang bisa mengajari saya bagaimana mengurus bayi yang baru lahir.

Sayangnya, karena ibu harus kembali bekerja ibu tidak bisa lama menemani saya. Hal ini membuat saya sedih dan kalang kabut hingga akhirnya membuat saya mengalami Baby Blues Syndrome. Ternyata melahirkan lalu mengurus anak baru lahir itu tidak mudah. Lelah dan stress nya luar biasa. 

Setelah saya melahirkan anak kedua, saya semakin menyadari pentingnya kehadiran ibu. Betapa saya sangat membutuhkan ibu dan menginginkannya selalu ada di sisi saya. Ibu adalah malaikat tak bersayap milik saya.

Saya mulai menyadari banyak hal mengenai ibu. Mulai bisa memahami dan memaklumi ibu saya. 
Setiap kali saya berlibur ke rumah ibu, saya bisa melihat ibu semakin tua dan fisiknya tidak sekuat dulu lagi. Saya juga bisa melihat banyak sekali gurat kesedihan dan kerapuhan di setiap keriput yang mulai muncul di wajah ibu. Seketika rasa sesal meyeruak dalam dada saya dan saya sadar kalau saya belum pernah sekalipun membahagiakan Ibu.

Ya Tuhan, sampai kapan saya akan membenci, marah , kecewa dan menyalahkan Ibu atas semua tragedi dalam hidup saya? Pantaskah saya menyalahkan beliau? Perceraian Ayah dan Ibu, apakah Ibu yang menciptakan dan menginginkan? Ibu juga berjuang mempertahan kan harga diri dan kewarasan beliau selama ini. 

Kalaupun ibu menjadi pribadi yang keras itu karena tuntutan ibu harus demikian demi kami anak - anaknya. Selama bertahun - tahun ibu bekerja tiada henti sampai pinjam sana dan pinjam sini demi biaya kuliah saya dan adik - adik saya. Sendirian! Karena ayah tak bisa diandalkan.

Ibu juga ingin bahagia. 

Saya tak pernah memikirkan hal itu. Ibu juga ingin memiliki pasangan hidup untuk saling berbagi dan menyayangi. Tapi kenyataanya, ibu kurang beruntung soal ini. Pertama perceraian dengan ayah dan dengan suami nya yang kedua yang lagi - lagi harus kandas. Saya yakin, ibu juga sama kesepiannya dengan saya. 

Mengapa saya sangat egois sekali dan hanya memikirkan penderitaan diri sendiri. Ibu juga sama kesakitannya, sama berjuang untuk dirinya sendiri. Ibu juga ingin bahagia, sama seperti saya.

Ya Tuhan, maafkan saya.

Akhirnya suatu hari saya memutuskan untuk bertaubat dan memohon ampunan pada ibu. Saya memilih hari ulang tahunnya sebagai hari taubat. Jauh - jauh hari sengaja saya menabung untuk membelikan jam tangan kesukaan ibu, jam tangan berlapis sepuhan emas. Dengan perasaan dag dig dug dan tegang, saya serahkan hadiah ulang tahun pada ibu. 

Ibu, selamat ulang tahun ya “ ucap saya, 

waahh apa ini teteh? hadiah buat ibu? waah, makasih teh. padahal mah gak usah repot - repot “ Jawab ibu dengan wajah senang.

gak apa -apa bu, teteh udah nyiapin ini udah lama kok, hihihi. buka dong “ jawab saya lalu ibu membuka hadiahnya dan terkejut.

waahh teteh, ini jam tangan emas ya? aduh pasti mahal! teteh gak lagi gak punya uang, padahal mah gak usah “ jawab ibu terkejut, lagi di kasih hadiah aja ibu masih mikirin masih keuangan saya. duh makin mencelos hati saya.

Gak kok bu, ini mah sepuhan kok, bukan emas beneran. hehehe “ jawab saya malu - malu

Ibu tampak bahagia sekali. saya senang dan hati saya terasa sangat hangat. Tanpa ragu lagi saya langsung memegang kedua tangan ibu lalu bersujud sambil menangis.

Ibu maafin teteh ya, teteh sering nyakitin perasaan ibu dan sering bikin ibu sakit hati. sering merepotkan dan selalu bentak ibu. maafin teteh ya Bu “ ucap saya sambil menangis. Tenggorokan rasanya seperti tercekik dan tangisan pun semakin sulit dikendalikan. 

Ibu terkejut dan ikut menangis. sambil mengangkat tangan dan kepala saya ibu berkata, 

Teteh… udah jangan nangis lagi, gak apa - apa teh…. gak apa - apa gak usah minta maaf sama ibu sampai kayak gini. Jauh sebelum teteh minta maaf , ibu udah maafin semua kesalahan teteh. maafin ibu juga ya

Lalu saya bangkit dari tangisan dan menatap wajah ibu yang terlihat basah oleh air mata di antara kerutan wajahnya. Kami berpelukan dan hati saya lega sudah. 

Lalu kami duduk bersebelahan sambil saling memegang tangan dan ibu mengusap air mata saya. lalu saya berkata, 

Maaf ya teteh belum bisa membalas semua kebaikan, kerja keras dan usaha ibu sejak teteh bayi sampai sekarang

Gak apa - apa teh, jangan mikirin itu. Ibu ikhlas mengurus teteh sampai sekarang. Buat ibu, melihat teteh bahagia sama anak - anak, pernikahan teteh bahagia dan teteh sukses ….ibu udah bahagia, itu hadiah terbaik buat ibu. yaaa selain sering dibawakan batagor sama roti bakar lah bonusnya, heheh” jawab itu menenangkan hati saya sambil bercanda. 

Ah, terimakasih Ya Allah. Saya masih diberi waktu dan kesempatan untuk memohon maaf pada ibu. Terimakasih. 

Hadiah untuk Ibu

Saya sangat bersyukur, sekarang hubungan saya dan ibu jauh lebih baik . Saya bersyukur masih diberikan ibu hingga usia ini dan masih diberikan kesempatan memohon maaf. 

Sekarang setiap kali kami bertemu, kami selalu bercerita banyak hal, ke salon bersama dan luluran bersama Hal - hal seputar dunia perempuan dan kecantikan yang tidak pernah kami lakukan waktu dulu. Bahkan kami sama - sama menyukai drakor, hehe.

Penyesalan saya hanya satu, saya belum punya cukup banyak uang untuk membalas semua perjuangan ibu untuk saya selama ini. Saya ingin sekali mewujudkan impian Ibu untuk memiliki rumah di desa lengkap dengan kolam ikan dan kebun anggrek, bunga favoritnya.

Ketika saya melontarkan keinginan saya ini, ibu hanya berkata, 

Yang terpenting buat Ibu sekarang, Teteh bahagia dengan pernikahan Teteh dan sukses. itu saja cukup buat ibu. gak perlu banyak ngasih hadiah. ya kalau ibu di kasih rezeki tentu gak ibu tolak ya, kan lumayan. hehehe “ jawab ibu sambil bercanda. 

Ibu doakan teteh sukses dengan menulis di blognya dan sukses jadi seniman. Cita - cita ibu yang gak pernah terwujud. Mendengar teteh juara lomba waktu itu terus kemarin dapet hadiah wacom, ibu seneng banget. Itu aja udah jadi hadiah buat ibu. Berarti ibu berhasil mengantar anaknya sukses “ lanjut ibu. 

Jawaban ibu memang ibu - ibu banget ya, saya juga merasakan hal yang sama untuk anak - anak saya. Yang terpenting adalah kebahagiaan dan kesuksesan anak - anaknya. Urusan kebahagiaan sendiri, itu belakangan. 

Untuk saat ini rezeki saya memang masih terbatas. Saya baru bisa memberikan ibu small things sebagai hadiah. Pijatan di kepala dan badan , general cleaning rumah ibu, memasak dan mencuci baju. serta jajanan sederhana. Semoga secepatnya saya bisa mewujudkan impian ibu ya.

Sebuah Pencerahan


selamat  hari ibu
me and mom


Ibu juga manusia, beliau tidak luput dari kesalahan dan ketidaksempurnaan. Ibu juga berproses dalam memahami dirinya sendiri dan mengobati luka lama.


Sungguh sangat egois jika kita sebagai anak hanya memikirkan luka batin sendiri, bagaimana dengan ibu? ibu juga punya trauma dan luka yang sama.

Jika dibandingkan dengan segala perjuangannya tanpa henti dan pamrih, luka batin yang saya alami sungguh tiada tandingannya. Mengingat semua perjuangan ibu, bagi saya ibu adalah malaikat tak bersayap. Sungguh.

Meminta maaf sekali saja rasanya tidak cukup, begitu pula dengan ucapan terimakasih. ada baiknya memang kita lebih sering menyapa hati ibu, menanyakan kabarnya dan mengatakan banyak terimakasih dan diakhiri dengan ucapan i love you ibu. Saya yakin Ibu akan sangat bahagia.

Sudahkan kita menyapa ibu kita hari ini? sudahkan meminta maaf? sudahkah memberikan small things yang bisa membuat wajahnya tersenyum? sudahkan kita mengatakan padanya, I Love you mom, thank you for everything ?
Sudahkan? yuk kita sapa ibu kita sebelum segalanya terlambat.


"Tulisan  saya ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba menulis Blog yang di selenggarakan oleh  Female Blogger Banjarmasin dan  Gloskin Banjarmasin, dengan Tema : Hadiah terindah untuk Ibu"