Childfree dan Hak Perempuan dalam 60 Hadits Shahih

Childfree-dan-Hak-Perempuan-dalam-60-Hadits Shahih





Childfree dan Hak - Hak Perempuan dalam 60 Hadits Shahih. Beberapa waktu yang lalu sempat viral mengenai statement seorang influencer, Gita Savitri akan keputusannya dengan pasangannya dalam hal pernikahan tanpa anak atau childfree. Issue ini lantas menjadi hal yang ramai diperdebatkan, yang pro dan kontra. Tidak sedikit yang menyatakan bahwa keputusan Gitsav ini egois dan menyalahi kodrat perempuan. Benarkah demikian? setujukah saya dengan konsep childfree? bagaimana islam memandang hal ini?

Menilik Pemahaman Patriarki


Beberapa waktu yang lalu, sahabat saya Ibu Kafa secara tidak terduga mengirimkan buku karya K.H Faqih yang bertajuk 60 Hadits Shahih : Khusus tentang Hak - Hak Perempuan Dalam Islam dilengkapi penafsirannya. Buku yang sangat istimewa yang ditulis oleh seorang pencetus konsep  mubadalah

Jujur, secara pribadi istilah persamaan gender atau kesalingan dalam kehidupan pribadi saya tak memiliki nilai sama sekali. Saya lahir dan besar dalam lingkungan patriarki dan sekarang memiliki suami dengan keluarga yang menganut hal yang sama. Bahkan beberapa organisasi dan pemahaman agama yang pernah saya pelajari juga lebih mengutamakan keistimewaan pria/suami dibandingkan perempuan/istri.

Tapi alhamdulillah tidak dengan suami saya, meski secara personal beliau menolak paham feminisme, kenyataannya dalam kehidupan sehari - hari kami secara tidak langsung mempraktekan prinsip kesalingan. Seperti banyak berdiskusi atas suatu perkara meski tak selamanya mulus, agak alot dan harus melalui drama hingga akhirnya kami sepakat. untuk urusan domestik juga saya banyak dibantu suami, termasuk pilihan alat kontrasepsi dan memiliki anak “lagi”.

Memang, pemahaman patriarki begitu sudah mendarah daging dan menjadi pemahaman berjamaah sebagian besar masyarakat kita. Sehingga ketika dalam sebuah komunikasi pernikahan, tidak sedikit yang menyatakan “istri durhaka” ketika dia mengeluarkan pendapat atau menentang pendapat pasangannya. 

Ada hal yang menggelitik rasa haru saya, pada Halaman 7 Buku 60 Hadits Shahih, Pak Kyai Faqih menulis seperti ini :

“ …….ingatan orang mengenai hadits-hadits tentang perempuan adalah tentang penciptaan dari tulang rusuk yang bengkok atau tentang pesona mereka yang seakan menjerumuskan laki - laki atau tentang mereka sebagai penghuni neraka terbanyak, kurang akal dan kurang agama. Harus ditemani mahram ketika keluar rumah, shalat mereka harus di tempat tersembunyi, mereka bisa membatalkan shalat seseorang jika lewat di hadapannya, harus taat suami, laknat atas keenganan mereka melayani suami dan hal - hal yang menitikberatkan kewajiban besar mereka untuk selalu melayani dan menyenangkan suami. “

Pernyataan Pak Kyai seakan mengingatkan saya pada kehidupan perempuan - perempuan dalam novel karya Fatima Mernissi berjudul “ perempuan - perempuan Haremku “. Apa yang buku tersebut ceritakan sungguh tragis mengenai nasib kehidupan seorang perempuan yang ditindas oleh paham patriarki garis keras. Dan saya yakin, di Indonesia pemahaman patriarki sudah lama menjadi penjara bagi hak - hak perempuan.

Childfree dan Hak Perempuan Akan Tubuhnya


Saya ingat, chef Juna pernah diwawancara oleh Deddy corbuzier bulan November 2020 terkait memiliki anak atau bahkan childfree. Dengan gamblang Chef Juna berkata,

“ Apakah saya ingin anak-anak? Jika istri saya menginginkan anak, kami punya anak. Jika istri saya tidak ingin anak, maka kita tidak harus punya anak,"

"Apakah kamu akan hamil sembilan bulan? Tidak, kan? Bagaimana Anda bisa menekan pasangan Anda untuk menderita seperti itu jika dia tidak menginginkannya (untuk punya anak)?” lanjutnya.


Salut saya dengan keterbukaan Chef Juna. Memang benar demikian menurut pandangan saya. Perempuan, tidak boleh dipandang hanya sebagai objek “ Pabrik anak “ dan kewajiban mengurus seabrek urusan domestik yang gak kelar - kelar atas nama ibadah.

Maaf saya gunakan sample tokoh publik "umum" karena, toh tidak ada salahnya kan? Nabi pernah berkata " ambil ilmu dari siapa saja, jangan lihat status" bahkan kalau ilmu itu datangnya dari seorang anak kecil, apalagi yang berbeda keyakinan.

Saya kira, urusan punya anak atau tidak dan menjadi childfree adalah hak setiap pasangan. Tidak ada kaitannya dengan egois atau menyalahi kodrat.

Kodrat perempuan sering dikaitkan dengan melahirkan, menyusui dan menyapih lantas tiga kodrat ini dijadikan kodrat wajib perempuan. Memang, pada dasarnya mengandung, melahirkan dan menyusui  menjadi kodrat perempuan secara biologis . Tetapi perlu digaris bawahi bahwa meskipun itu adalah kodrat perempuan, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa suami sebagai laki-laki faktanya bisa kok ikut berperan membantu memudahkan perempuan dalam menjalani proses biologis tersebut.


Q.S Luqman ayat 14,

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

wa waṣṣainal-insāna biwālidaīh, ḥamalat-hu ummuhụ wahnan 'alā wahniw wa fiṣāluhụ fī 'āmaini anisykur lī wa liwālidaīk, ilayyal-maṣīr

Artinya: "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Ayat Al-qur’an saja sering “salah” ditafsirkan apalagi hadits. Oleh sebab itu, kehadiran Buku 60 Hadits Shahih saya kira mampu mengenalkan sisi lain yang lebih fundamental dari hadits - hadits populer yang beredar di “pasaran” yang notabene mendiskriminasikan hak - hak perempuan.

60 Hadits Shahih : Kompilasi Lengkap Mengenai Hadits - Hadits Hak Perempuan


Buku 60 Hadits shahih adalah sebuah buku kompilasi hadits mengenai hak - hak perempuan yang terinspirasi karya besar Syekh Abdul Halim Abu Syuqqah ( 1924 - 1995 ), tafsir al - mar'ah fi ‘Ashr ar Risalah mengenai penguatan hak - hak perempuan dalam islam dari keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Kompilasi 60 Hadits Shahih ini dimaksudkan untuk memudahkan para pemula yang ingin mengenal hadits - hadits inti terkait kesetaraan gender dan relasi laki - laki dan perempuan yang lebih fundamental yaitu prinsip kesalingan.

Dalam buku ini memuat 15 tema kelompok yaitu :

  1. Prinsip Relasi laki - laki dan perempuan
  2. Pengakuan atas hal - hak perempuan
  3. Memuliakan dan menghormati perempuan
  4. Perempuan dan kedekatan dengan Tuhan
  5. Perempuan dan tuntutan haknya
  6. Protes perempuan terhadap kekerasan
  7. Larangan memukul perempuan
  8. Teladan Nabi Muhammad SAW tanpa kekerasan
  9. Musyawarah untuk kebaikan
  10. Hak Perempuan atas dirinya
  11. Keterlibatan Perempuan dalam ibadah jenazah
  12. Keterlibatan perempuan dalam bela negara
  13. Perempuan, kerja, infaq dan nafkah
  14. Relasi kesalingan Suami istri
  15. Musyawarah Bil Ma’ruf

Terkait isu childfree, teman - teman bisa melihat tema Bagian 10 : Hak Perempuan atas dirinya, juga Tema 14 : Relasi kesalingan suami-istri dan tema 15 : Musyawarah Bil ma’ruf.

Buku 60 Hadits Shahih setebal 276 halaman ini saya rasa lengkap dan jelas terkait pemaparan dan tafsir hadits - hadits populer yang beredar di masyarakat terkait perempuan. Bisa menjadi sumber informasi dan keilmuan atau bahan diskusi dengan teman bahkan pasangan. Saya rasa perempuan harus menjadi lebih aware terhadap hak - haknya sebagai perempuan dan istri Tapi tidak dengan egois menyatakan pendapat mengenai hak - hak ini terhadap pasangan. Mengingat tidak semua pasangan memiliki pemahaman yang sama. Diperlukan strategi dan cara - cara tertentu untuk menyampaikan hal ini.

Penutup

Pada halaman 8 dan 9, Pak Kiyai menyatakan harapannya mengenai buku ini,

“ Melalui kompilasi kecil ini, diharapkan masyarakat muslim bisa mengenali sikap islam terhadap perempuan dari teks sumber yang sangat otoritatif. kompilasi ini menegaskan bahwa posisi dan peran perempuan dalam islam sebagai manusia yang utuh adalah setara dengan laki - laki “

“ Prinsip ini berlaku untuk hal - hal teologis-ritual, kerja-kerja publik dan domestik. Sehingga, prinsip meritokrasi yang ditegaskan dalam islam adalah siapa yang berbuat dialah yang memperoleh apresiasi dan balasan. “

“ Ukuran keutamaan dalam islam adalah ketakwaan, keimanan, amal perbuatan dan kiprah kebaikan pada keluarga, masyarakat. Siapapun itu baik laki - laki atau perempuan. Inilah akhlak islam, inilah islam yang rahmatan lil’ alamin “ .

Bagaimana dengan issue childfree? 


Jika teman - teman membaca keseluruhan isi buku, maka teman - teman akan menemukan bahwa menjadi childfree sama sekali tidak bertentangan dengan agama apalagi menyalahi kodrat perempuan. Perempuan memiliki hak atas tubuhnya yang tidak dapat diganggu gugat oleh pasangannya.

Namun keputusan untuk menjadi Childfree, bukan pula keputusan egois perempuan atas nama hak mereka akan tubuhnya. Menjadi childfree atau tidak haruslah disepakati bersama dengan pasangan. Karena 60 hadits shahih ini juga memaparkan prinsip kesalingan, musyawarah dan saling menghormati serta menghargai pasangan.

Secara sederhana, perempuan memang memiliki hak akan tubuhnya, pendapat, pilihan karir, pendidikan, pernikahan dan lain sebagainya akan tetapi jangan lupa, posisikan pasangan juga sejajar dengan kita. Mengajak diskusi, bermusyawarah dan silang pendapat tentu perlu dilakukan bukan? untuk apa? tentu saja untuk mencapai 5 pilar utama pernikahan , yaitu :

  1. Mitsaqa ghalidlan, keyakinan bahwa pernikahan adalah janji yang kokoh sehingga tidak boleh dipermainkan
  2. Zaawaj, mengembangkan sikap saling melengkapi dan kerjasama untuk kebaikan;
  3. Mu’asyarah bil ma’ruf, suami istri saing memperlakukan pasangannya dengan bermartabat;
  4. Musyawarah, suami istri saling berdiskusi maupun bernegosiasi untuk mencapai mufakat;
  5. Taradlin, suami istri saling menjaga kerelaan pasangannya dalam setiap tindakan.

Jadi, sebelum memutuskan childfree, pertimbangkan banyak hal dari segala sudut pandang termasuk komunikasi dengan pasangan.


18 komentar:

  1. Suka banget sama artikelnya, kak Ekaa😍 Berasa teduh bacanya, setelah beberapa hari ini isi kepala dipenuhi noises yang sentimentil dari media sosial tentang childfree. Seolah-olah kodrat melahirkan bagi perempuan itu mutlak harus "dimanfaatkan". Padahal Allah Maha Baik, kita selalu diberikan pilihan untuk menentukan yg juga baik menurut diri masing2. Kalau ternyata pasangan yg memutuskan childfree ini justru aktif membantu dan mengasuh ribuan anak yatim piatu yang sengsara dan sebatang kara di pelosok, gimana? Niat baiknya mungkin saja lebih mulia daripada orang2 yg memilih punya anak tapi melupakan tugas dan tanggung jawabnya. Wallahua'lam🥺

    Ah, aku jadi ingin baca buku yang kak Eka jadiin referensi di atas. Kira-kira ada di toko buku apa aja yaa, kak Eka barangkali tau?😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak awal 🥰
      Makasih banyak udah berkunjung 🙏
      Soal childfred emang jadi ricuh ya, yang pro dan kebanyakan yang kontra. Alhamdulillah kalo review saya bisa bikin teduh, hehe

      Saya juga sependapat nih sama ka awl. Ada negatif dan positif memang dari childfree ini, tapi bener kata kak awl, kalau ternyata yang childfree bisa mengasuh ribuan anak yatim piatu, mengapa tidak? Tapi ada aja yang diakitkan dengan gak percaya Allah dg punya anak, gak menuruti kodrat Bahkan dikaitkan dengan ibadah. Padahal yang namanya ibadah kan banyak bentuknya, banyak ladangnya dan nilainya? Tentu itu hak perogrative Allah. Gak bisa yang childfree jadi di asumsikan gak beribadah. It's so weird sih kataku.

      Kalo kak awl pengen bukunya, coba cek IG @joganmubadalah 🥰

      Hapus
  2. Masyaallah tulisan teh eka super lengkap, aku sependapat teh. Saat memutuskan sesuat memang banyak hal yang harus di pertimbangan ya. Gak bisa hanya melihat sepihak saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul kak, bukan keputusan salah satu aja

      Hapus
  3. IMO itu hak azasi manusia. Selama ak ganggu orang lain gausah bising.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, thats excatly what i mean kak, toss dulu :)

      Hapus
  4. Saya tahu tentang alasan free child dari teman yang tinggal di negara asing dan bersuami seorang warga negara asing antara lain karena banyak sekali aturan bila memiliki anak. Ketika mereka tidak sanggup memenuhi segala aturan negara yang berkenaan dengan memiliki anak maka mereka memutuskan untuk tidak perlu memiliki keturunan.Jadi keputusan tersebut diambil berdasarkan kesepakatan suami dan istri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. di luar negeri mungkin hal ini biasa ya, karena pertimbangannya juga banyak. tapi saya yakin ini keputusan yang bijak bagi siapapun yang menjalaninya

      Hapus
  5. ralat dikit teh: mengandung, melahirkan dan menyusui pada dasarnya menjadi kodrat perempuan secara biologis ketika perempuan tersebut memilih untuk melakukan ketiga peran biologis tersebut. Tetapi perlu digaris bawahi bahwa meskipun itu adalah kodrat perempuan, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa suami sebagai laki-laki faktanya bisa kok ikut berperan membantu memudahkan perempuan dalam menjalani proses biologis tersebut :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih banyak ralatnya bu, saya masukin di artikel ya

      Hapus
  6. wah berat nih teh, hehe.. memang betul ya, meski sudah jadi kodratnya perempuan, namun juga tidak bisa di'eksploitasi' :) Childfree, bukan sebuah keputusan egois perempuan sih, tp ya memang bisa menjadi pilihan jika ada 'banyak' hal yang pada akhirnya akan menyakiti ya :) Nah, point pentingnya, untuk menjadi childfree atau tidak haruslah disepakati bersama dengan pasangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul, maksudku itu. masukan dari ibu kafa benar, rupanya aku masih harus belajar juga, hihihi. iya kodrat biologis perempuan, tapi dengan hal itu bukan berarti jadi ego pengen childfree ya, tetep keputusannya harus disepakati bersama

      Hapus
  7. Kayanya saya jadi pengen baca bukunya juga. Chef JUna ternyata sangat terbuka yah, bener sih kalau kita memang harus menghargai keputusan pasangan. Semua bisa dirundingkan dan dipertimbangkan baik buruknya bersama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kak, menurutku itu artinya pernikahan. kesepakatan dan komunikasi

      Hapus
  8. Aku juga mau rekomendasiin buku untuk kak eka, judulnya diabolisme intelektual. Moderat juga sih tapi ngga mengesampingkan tanggung jawab kita atas tubuh sendiri dan juga hak-haknya Tuhan yang menciptakan kita sebagai perempuan. Bagus juga tuh kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. waahhhh racun buku lagi nih, asyik asyik. aku masih harus belajar nih soal ranah seperti ini, its something new juga. makasih mba Ji

      Hapus
  9. Alih-alih childfree, aku lebih memilih untuk merundingkan kapan punya anak, kapan punya anak lagi, dan saling bahu-membahu dalam urusan domestik dan pengasuhan anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. its good decision untuk kakak dan suami, tetapi mereka yang memilih childfree juga saya yakin jadi decision bijak untuk mereka

      Hapus

Berkomentarlah dengan bijak, relevan dengan isi artikel, tidak meninggalkan link dan tidak ditulis anonim ( atau saya hapus). Terimakasih