Ngerinya jalan menuju pantai Jayanti Cianjur


Ngerinya jalan menuju pantai Jayanti Cianjur




Ngeri nya jalan menuju pantai Jayanti Cianjur. Iya beneran ngeri cuy, ini pengalaman saya. Tapi udah lama banget. Sekarang sih jalan menuju Pantai Jayanti sudah lebih bagus dan gak terlalu ngeri.

Pantai. Begitu denger kata itu udah langsung kebayang deh view pantai kaya gimana ya? Lengkap dengan suara deburan ombak, kicauan burung camar, merasakan pasir dan air ombak di kaki lalu duduk di pinggir pantai sambil seruput es kelapa, duduknya bareng si ayang beb lagi… wkwkwk

Kayaknya sih ya semua orang pasti selalu merindukan pantai. Bahkan pantai jadi jalan - jalan premium, eksklusif dan istimewa bagi sebagian orang. Saya sendiri honeymoon di pantai sih, ahiiww

Bicara soal pantai, sudah ke pantai mana aja nih teman - teman? Pantai mana yang paling indah atau yang paling jauh?

Saya sih baru pantai di Jawa barat saja, itupun baru pantai selatan. Pelabuhan ratu, Pangandaran, Batu Karas dan Pantai Cianjur Selatan yaitu Pantai Jayanti, Cidaun . Eh pernah deng ke pantai parangtritis dan pantai Kukup waktu liburan ke Yogyakarta.

Ada pengalaman menarik nih ketika saya liburan menyambut tahun baru di pantai Jayanti yang terkenal cukup angker juga dengan mitos ratu pantai selatan. Kalau saya tidak salah sih sekitar tahun 2004 atau 2005, saya agak lupa.

Perjalanan Awal


Jadi ceritanya, karena Cianjur adalah kota kelahiran saya dan sebagian besar keluarga besar dari pihak ibu ada disana, saya dan adik pertama saya, berencana liburan ke rumah peristirahatan milik bibi ( adik ibu saya ) di Cidaun. Sekalian tahun baruan lah di pantai.

Adik saya rencananya naik motor lewat jalur Ciwidey, bareng pacarnya Oshie yang sekarang jadi istrinya. Sementara saya karena jomblo ya pasrah aja deh naik bis dari Bandung ke Cianjur dan lanjut naik elf dari Cianjur ke Cidaun. Sedih gak sih? Nasib jomblo ya beginilah, udah mah di jalan sendirian , naik kendaraannya ribet pula! wkwkwk

Rute yang saya ambil adalah Bandung-Cianjur-Cibeber-Campaka-Sukanagara-Pagelaran-Tanggeung-Cibinong-Sindangbarang-Cidaun. Jarak dari Bandung ke Cianjur sekitar 60 Km sementara jarak Cianjur - Cidaun sekitar 139 km, jadi total sekitar 199 Km. Udah mirip perjalanan Bandung - Jakarta lebih sedikit ke Tangerang lah ya wehehehe.







Karena perjalanan cukup jauh tapi saya ingin berangkat santai, jadi saya berangkat dari rumah jam 10 an dan sampai di terminal leuwi panjang jam 12 siang. Bus yang saya tumpangi ngetem cukup lama, hampir satu jam lebih. Akibatnya saya sampai di Terminal Pasir Hayam Cianjur jam 4 sore! luar biasa ya. Padahal perjalanan normal sih cuman memakan waktu sekitar 2 jam.

Lalu saya melanjutkan perjalanan dengan naik mobil elf. Apakah langsung berangkat? oh tidak marisol! ternyata si elf ngetem lagi dong, gak tanggung-tanggung sampai dua jam! Masya Allah banget kan ya? wkwkwk


Kendaraan elf Cianjur - Cidaun




Akhirnya lepas magrib si elf berangkat juga. Hari sudah gelap jadi otomatis saya gak bisa menikmati pemandangan perjalanan menuju Pantai Jayanti. Tadinya perkiraan saya sampai cianjur sekitar jam 2 siang dan masih bisa menikmati perjalanan menuju Pantai Jayanti hingga magrib, tapi ternyata zonk gara-gara angkutannya ngetem tralalala, wkwkwk

Ya sudah, saya menikmati perjalanan dengan? tidur! yes! hihihihi

Ngerinya perjalanan menuju Pantai Jayanti


Inginnya saya memang tidur, tapi ternyata gak bisa. Karena sepanjang perjalanan si mamang sopir ngebut! Udah komat kamit aja deh sepanjang perjalanan baca doa plus sholawat. Takut kenapa-napa gitu, kan serem ya. Udah gitu emang sempat hampir tabrakan pula sama elf di depan karena ngebut itu, Ya Allah. Ngeri banget!

Kengerian ini bertambah dengan derasnya hujan dan jalan berlubang plus licin. Apakah si mamang supir berhenti ngebut? oh tidak Fernando! tetep aja ngebut. udah was-was aja sepanjang perjalanan. Sampai akhirnya berhenti dulu di Sukanagara dan ganti supir. Ah Alhamdulillah, Kayanya si mamang sopir tadi buru-buru pulang karena kangen sama istri ya, makanya ngebut hehehe.

Saya bisa melihat kebun teh di Sukanagara walau hari sudah gelap. Dinginnya kabut juga terasa. Karena elf ngetem cukup lama, saya manfaatkan untuk tidur walau hanya sebentar. Saya cek tas saya di kursi depan, ah aman. Saya bisa tidur sebentar dengan tenang. Tidak lama kemudian elf kembali berjalan.

Kali ini si Mamang supir gak ngebut, tapi jalannya yang bikin naudzubillah. Karena hari gelap saya tidak bisa melihat dengan jelas, tapi saya bisa melihat ketika mobil dari arah berlawanan melintas si elf harus menurunkan kecepatan karena antar kendaraan hampir bersinggungan. Jadi dapat saya simpulkan betapa sempitnya jalan raya. Jika mengukur lebar kendaraan elf saya perkirakan lebar jalan sekitar 5 meter, padahal lebar standar jalan minimal 7.5 meter. Belum termasuk pedestrian ya. Jadi,sempit banget kan jalannya? huhuhu

Bukan hanya lebar jalan yang sempit, tapi juga jalur jalan yang letter S, meliuk-liuk seperti melewati tubuh ular. Bikin mual dan pusing. Saya tidak tahu di wilayah bagian mana yang letter S ini tapi yang pasti sih cukup lama sampai akhirnya perjalanan kembali agak normal dan saya bisa tenang dan bisa tidur sebentar.

Saya terbangun ketika kenek elf teriak, “ Sindangbarang! Sindangbarang! “ saya terkejut dan langsung bangun. Karena itu artinya perjalanan saya akan berakhir. Saya langsung menyiapkan tas gendong, merapikan baju dan sedikit sisiran, juga usap iler yang sedikit menggantung di ujung bibir, hihihi.

Lalu saya ambil tas di kursi depan, tetapi saya terkejut bukan main. Tas jinjing saya ternyata hilang! wah kenek dan supir langsung panik, saya apalagi. Karena semua baju ganti saya ada di tas itu. Ngenes banget rasanya Ya Allah. Supir yang baik hati akhirnya mengganti tas saya dengan sejumlah uang sekitar 200 ribu. Walau dapat uang ganti dimana saya bisa membeli baju ganti? duh ampun deh ada - ada aja nih. Ya sudah akhirnya saya terima uang ganti dan turun dari elf.

Dari kejauhan sayup - sayup terdengar suara teriakan paman saya yang memang akan menjemput saya di stasiun Sindangbarang, “ Fitri! Fitri mana? Fitri! “ begitu teriaknya. Saya langsung menghampiri paman dan merasa lega. Saya langsung ceritakan kalau saya kehilangan tas jinjing tapi sudah diganti sejumlah uang. Paman tidak terima dan langsung mendatangi supir elf. Paman bilang harusnya diganti lebih. Karena ternyata paman cukup punya pengaruh di Cidaun, si sopir segera mengenal paman dan memberi kami uang lebih.

Kami melanjutkan perjalanan ke Cidaun dengan naik motor paman dan tidak sampai satu jam kami sudah sampai di rumah peristirahatan paman dan bibi. Alhamdulillah. Rumahnya besar tapi terbuat dari setengah bata merah dan setengah lagi bilik pada dindingnya. Dalam rumah asri dan wangi khas perkampungan. Tidak bau sama sekali, malah segar. Walau saya masih ngenes dengan peristiwa hilangnya tas, saya masih bisa tidur nyenyak karena ngantuk berat.

Jalan - Jalan ke Pantai Jayanti


Keesokan harinya, pagi-lagi sekali paman dan bibi mengajak saya ke Pantai Jayanti. Bibir pantainya lebar dan panjang, lebih mirip Pantai Pangandaran. Ada banyak perahu nelayan dan dari kejauhan pasar Jayanti juga terlihat. Kami membeli beberapa ikan selar dan berniat barbeque party di rumah paman dan bibi.









Ngenes saya terobati dengan pemandangan pantai yang aduhai. Tetapi saya tiba - tiba merasa sedih, karena saya jomblo! wkwkwk. kebayang kan ya betapa romantisnya ke pantai berdua dengan ayang beb, hahahaha. Ya sudahlah saya jalan-jalan di pantai sendirian aja sambil sedikit berkhayal. sedih banget ya? hahaha


Lalu kami pulang dan barbeque party. Saat paman asyik bakar ikan, tidak lama kemudian adik saya datang dengan motor supranya membonceng sang kekasih. Ah saya senang sekali. Kami langsung makan siang bersama sambil mendengar celoteh adik saya tentang perjalanan ekstremnya melalui jalur ciwidey. Dia bilang jalannya sempit, berkelok, agak curam di sisi kanan dan kiri serta jalannya jelek. Tapi asyik aja kali ya karena perjalanannya bareng kekasih dong, hahahaha

Menjelang sore hari kami bertiga kembali ke pantai Jayanti, memang tidak ada pemandangan sunset tapi kami berencana kemping di pinggir pantai, bakar ikan dan menyalakan kembang api. Semua bekal per-kempingan adik saya yang bawa, jadi saya sih tinggal duduk manis sambil bakar ikan, hahahaha.

Malam itu walau saya ngenes karena masih jomblo, hati saya tetap senang. Kemping di pinggir pantai Jayanti adalah kemping di pinggir pantai pertama saya dan hingga saat ini belum pernah lagi kemping pinggir pantai. Gimana rasanya? menyenangkan.

Saya bisa melihat taburan bintang dengan sangat jelas, sambil bermain gitar dengan adik, bercanda gurau, makan ikan bakar. sedikit bermain air lalu duduk di atas pasir. Menghela nafas seraya menikmati momen. Indah sekali.

Tepat pukul 12 malam ketika pergantian tahun, orang-orang menerbangkan lampion tahun baru dan kami menyalakan kembang api, indaaahhh sekali. Saya sempat berdo’a semoga tahun depan saya segera punya ayang beb, agar bisa ke pantai jayanti lagi dengan si ayang beb. Apakah terkabul? oh tentu tidak fernando! masa berdoa dalam keadaan tidak layak sih? hahahaha. Tapi saya dapat ayang beb juga sih akhirnya, tapi dua tahun kemudian! wkwkwkwk

Keesokan harinya kami kembali ke rumah peristirahat paman dan bibi dan menginap disana hingga dua hari. Oh iya, soal baju ganti akhirnya saya membeli kaos dan celana di pasar terdekat juga memakai baju milik bibi yang sekiranya muat di badan saya.

Selama tiga hari di rumah peristirahat paman dan bibi, saya juga sempat mengunjungi Pantai yang tidak jauh dari rumah paman, Jaraknya cukup dekat sehingga saya jalan kaki sendirian sambil menikmati perjalanan. Sayang jarak dari bibir pantai ke pantai tidak terlalu lebar dan pantai juga tidak landai, saya agak ngeri. Udah gitu sepi pula, saya gak lama-lama disana. Hanya melihat-lihat dan kembali lagi ke rumah. Mungkin saat itu belum ada pembangunan kali ya, karena setelah saya tanya paman sekarang lebih ramai dan ada tempat makan juga.

Perjalanan Pulang


Setelah puas liburan tahun baru ke Pantai Jayanti, akhirnya saya mengakhiri liburan saya dan kembali pulang ke Bandung. Tetap menggunakan jalur yang sama tetapi kali ini saya berangkat lepas solat subuh. Jadi saya bisa menikmati pemandangan perjalanan.

Dan benar saja, jalannya memang sempit cuy. Tetapi pemandangannya indah sekali. Saya bahkan sempat melihat air terjun ceret di daerah Cibuni, indah sekali. Udah mirip di eropa deh, hehehe. Dan ya memang benar ada jalur Letter S, tapi kali ini saya sudah siap. Jadi gak terlalu mual.


Curug Ceret






Oia, karena saya tidak memiliki kamera dan juga handphone masih jaman siemens lipat dan nokia hiu, saya gak punya dokumentasi selama liburan disana. Jadi saya menggunakan beberapa foto dari berbagai sumber.

Kalau teman-teman ada rencana liburan ke Pantai Jayanti, saya sarankan berangkat pagi - pagi ya. Kalau punya lebih baik naik kendaraan pribadi atau minimal sewa lah, jadi gak bakalan ribet seperti saya. Terakhir saya cek sih kondisi jalan rute cianjur - Cidaun ini sekarang sudah lebih baik, tidak banyak yang berlubang dan beraspal. Kalau soal lebar jalan sih susah ya, gak bisa di bikin lebih lebar lagi karena memang sudah segitu lebarnya.

Meskipun awal perjalanan penuh dengan drama dan kengerian, tapi saya puas dan pulang dengan hati senang. Jika pandemi berakhir, saya ingin mengajak Keenan dan Kilan ke Pantai Jayanti dan kemping di pinggir pantai. Mereka pasti senang, saya apalagi. Karena kali ini kemping pinggir pantainya bareng ayang beb seumur hidup! wkwkwkwk

menghayal aja dulu ya, hahahaha




Tulisan ini masuk kedalam Minggu Tema " Jalan " di komunitas 1 Minggu 1 Cerita




Referensi Foto :

https://cianjur.pojoksatu.id/baca/ekonomi-cianjur-selatan-meningkat-warga-cidaun-dambakan-jalan-tol-soreang-cidaun
https://cirebonraya.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/pr-1141434965/mengembalikan-pariwisata-cianjur-ini-yang-akan-dilakukan-dinas-terkait

7 komentar:

  1. Pas sebelum pandemi sering motoran nyusurin Pantai Selatan Jawa, pas bulan puasa apalagi buat ngabuburit hampir tiap minggu. Pergi lewat Ciwidey, pulangnya pake jalur Lembang, kadang dibablasin ke Garut (buat berendem di Cipanas biar ga bau asin).

    Emang turunan-tanjakannya ngeri-ngeri sedap. Sering banget rem motor blog pas turunan, karena cakramnya panas, jadi harus berhenti buat nyiramin, untung banyak curug. Kalau naek elf kayaknya berasa lagi naik roller coster, bikin spot jantung haha.

    Yg paling berkesan itu, apalagi kalau naik motor, pas bisa ngerasain perpindahan hawa dari pegunungan ke daerah laut, pas nyium bau asin pantai kayaknya seneng banget.

    Tapi Keenan itu bukannya udah pernah ke Jayanti ya? Keenan yg di novel Perahu Kertas-nya Dewi Lestari hihi. Soal Jayanti ini jadi inget pernah nulis juga di blog sih, soalnya pengalaman motorannya ngebonceng gebetan heu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo kak, salam kenal
      Iyaa seru banget klo bisa travel pake motor. Beda vibe nya Yaaa cuman harus kuat duduk lama aja, hehehe


      Iihh Keenan itu anakku yang pertama kak, hahahaha

      Ahooyy bonceng gebetan pake motor, aku pengen baca aahh ceritanya

      Hapus
  2. Pengen kemana2 bebas maskeran bisa gak yaa, engep banget hiks

    Mau ke mall pun masih mikir2 banget, pernah sih ke mall tp hari biasa. .udah gak berani weekend karna banyak orang

    BalasHapus
  3. Aku suka ngeliat pemandangan pantai di majalah ato media2 lain, tp jujurnya ga suka pas datang ngeliat sendiri :p. Krn aku ga kuat panas mba, sementara pantai Taulah suhunya kayak apa :D.

    Baru sekali ke Cianjur, aku ga terlalu inget kotanya, tapi aku inget jalan kesana memang sempit. 2 jalur jalan dibagi buat 2 arah. Kebayang sih, apalagi kalo dari arah berlawanan ada trus ato bus, aku serem. Mendingan ngalah deh mobil ku.

    Makanya aku jrg ngelewatin jalur Nagrek ya namanya, kalo ke Bandung . Jalannya serem :(.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo kak Fanny,
      Iya kak jalur ke Cianjur itu sempit. Kalo dari arah Bandung sih lumayan ya gak terlalu sempit. Tapi klo dari arah Jakarta jalur puncak iyaaaaa, mana jalannya belok belok kan ya. Nah ke Jayanti ini lebih sempit lagi, kebayang kan seremnya, huhuhu

      Hapus
  4. main ke cianjur udah 3x tapi malah belum pernah main ke pantainya..aku suka kotanya karena tenang dan banyak ornamen asmaul husna ya ternyata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo kak,
      Iya Cianjur itu brand nya religion city gitu, dulu sih adem, sekarang mah macet in every where, hahahaha

      Hapus

All illustrations created by artjoka. Diberdayakan oleh Blogger.