#Gratitudejournal : Day 3



Mewakili my mood today yang ada di angka delapan,
nemu insight ttg Paksu dan PJJ. jadi rasanya yaahh, nano - nano deh tapi overall happy
( credit by artjoka circa 2017 )



Rabu, 12 Agustus 2020
20.24 WIB

Short Story 


Pagi ini saya terlibat percakapan panas dengan Paksu soal PJJ. Baru bangun tidur saya udah di sodorin video viral seorang pelajar SMA yang pidato di depan DPR terkait PJJ. Paksu geram juga soal PJJ, katanya gak efektif dan bla bla bla, secara gitu Paksu "mantan" guru honorer yang selalu di PHP-in diangkat selama lebih dari 10 tahun mengajar. Tapi gak diangkat juga sampai akhirnya memutuskan keluar mengajar dan memilih mengajar private, hihihi. 

Paksu bilang, 

" Kenapa sih harus PJJ tiap hari? kenapa ga di bikin seminggu sekali? kasih orang tua tema pembelajaran seminggu sekali, media dan tools yang lainnya di bebasin sama orangtua murid. lalu seminggu sekali laporan ke wali kelasnya. kan jadi gak ribet soal harus laporan tiap hari, belum kuota. kata ndaa kan kemarin ada ortu yang beli pulsa kuota sampai 300ribu sebulan! gila gak tuh?? gak semua orang itu mampu!

Terus saya bilang,

" Sekolah kan ngerjar Tema dan Kurikulum Bah,

" Iya, aku tau. tapi teu efektif " jawabnya singkat pake nada kesel!

" Ya udahlah, gpp...mau gimana lagi, protes gak bisa? iya kaann? mending mamam kupat dulu yuk " ajak saya sambil senyum, biar keselnya si Paksu ilang gitu, hihihi

Pagi hari yang panas tapi saya bersyukur akan banyak hal, apa aja sih?

GRATITUDE LIST


1. Komunikasi Dengan Pasangan Itu Penting

selepas ngobrolin PJJ, saya dan Paksu juga terlibat obrolan panas lainnya. yaitu soal hubungan suami istri. nah lho! tentang apa nih? hihihi

Jadi, saya dan Paksu ngobrol panjang lebar soal pentingnya berkomunikasi sama pasangan dan taatnya istri sama suami. kita ngobrol sambil makan basreng lho, hihihihi. 

Bagi dia, komunikasi  dengan istri itu penting walau hanya secuil. Tapi, bentuk komunikasi Paksu dengan saya beda. Kalau saya suka komunikasi detail, panjang, lebar sampai bubuknya.....tapi kalo Paksu itu singkat - padat - jelas. jadi beda kan ya? hahahaha

Ngatasinnya gimana? saya curcolnya di blog aja! hahaha. jadi ke Paksu mah laporan singkat aja. wkwkwkwk

Saya juga akhirnya lebih paham kenapa Paksu melarang saya berkarir. dulu iya saya ngerti, tapi menerima dan paham dari sudut pandang dia? gak begitu juga sih. Hari ini makin paham.

Menurut Paksu, tugas cari nafkah itu ada di pundak suami. istri kewajibannya di rumah, ngurus anak dan suami. Kalopun mau bantu cari uang, jangan sampai lalay sama tugas utama. Dan uang hasil "kerja" istri, ya milik istri. Terserah istri mau diapain. Kenyataanya? emang iya sih. kalau saya dapet uang dari kerjaan ilustrasi atau dari blog dia selalu bilang, 

" Uangnya simpen ya ndaa, beliin apapun yang pengen ndaa beli yang aku belum bisa beliin. tapi ya, kalo mau traktir makan enak sih boleh banget! hahaha "

Suatu hal yang patut disyukuri.

Selain itu, menurut Paksu istri mau segimanapun harus taat sama suami. Gak boleh bentak, gak boleh marahin, gak boleh nyuruh yang gak sopan. karena? laki - laki itu harus punya harga diri, itu udah kunci mati. 

Terkesan seperti istri dibungkam opini dan pendapat ya? hehehe, iya kalau sekilas. tapi pada kenyataannya, sama halnya dengan  cerita saya di awal tentang PJJ itu,  kami juga sering cerita dan diskusi banyak hal. random sih tentang apapun. saling lempar opini, ketidaksetujuan dan berakir dengan tertawa bersama.

Yang Paksu garis bawahi adalah, respek atau rasa hormat istri pada suami. Jangan mentang - mentang istri yang punya karir lebih bagus atau isi dompet lebih banyak jadi semena-mena sama suami. Bicara kasar, gak sopan, nyuruh-nyuruh dan kalau lagi di nasihatin jawabya teriak walau itu bentuk membela diri.

Jadi kalau kami bertengkar gimana? ya marah-marah barengan, adu mulut dan bela diri. tapi nada gak boleh tinggi. emang bisa ya? awalnya gak bisa! saya sering balas Paksu dengan nada tinggi dan muka kaya kesetanan. 

Makanya kami jadi sering banget bertengkar sampai perang dingin. Tapi lama-lama setelah paham, kalo saya bertengkar dengan Paksu saya memilih mendinginkan hati dan kepala. Sebisa mungkin bicara lebih pelan walau saya sama marahnya dan ngedumel dalam hati. 

Setelah amarah meluap dan suasana tegang mereda, baru saya bicara mau saya apa dan tidak suka saya apa. 

Jadi, kembali membahas ego seperti di artikel saya yang Memahami Si Belahan Jiwa, setinggi apapun karir dan tingkat pendidikan, istri harus bisa nurunin ego di depan suami. ngerasa gak adil? ngerasa gender tertindas? kalo saya pribadih sih enggak. karena saya ingat nasihat ibu mertua saya soal ibadah istri pada suami.

Bagi Paksu, gak ada istilah SUSI alias suami takut istri. yang ada istri harus hormat pada suami. awalnya agak sulit bagi saya memahami hal ini, tapi setelah saya resapi....iya itu memang benar. seperti Bunda Khadijah yang walau sukses sebagai pedagang dan kaya raya, tapi tunduk - hormat - taat pada Baginda Rasul. 

Toh, pada realitanya Paksu gak melarang saya berkarir di dunia literasi atau ilustrasi. malah mendukung seratus persen. Dan Paksu paling suka kalo saya merengek minta dibeliin makanan atau yang lain. Ada rasa dibutuhkan. Sangat penting ternyata menjaga hal - hal yang sifatnya krusial menyangkut ego laki-laki. 

Adapun Soal kerjaan domestik, pengasuhan anak dan lain sebagainya tentu dikomunikasikan. 

2. Ibu Mertua Sakit


Sudah empat hari Ibu mertua sakit. Tekanan darah tingginya naik. Tapi di ajak ke dokter enggan. Alhamdulillah saya udah gajian dari creameno, jadi bisa ngasih sedikit untuk Ibu dan jajanin makanan enak, hehehe. lumayan lah bikin wajah ibu agak ceria sedikit.

3. Keenan Yang Mudah Pundung dan Kilan Yang Kaya Energizer




Sejak siang hari sampai sore hari, saya hectic dengan tingkah laku kedua dinosaurus saya. Keenan yang saya temani lagi bermain layangan setelah saya perhatikan, dia mudah sekali pundung. ini jadi pe er buat saya gimana caranya membantu dia yang begitu biar ga terlalu cepat pundung dan marah kalau mainanya rusak atau sulit mengatasi sesuatu.

Lalu kilan, yang sedang dimasa threenager bikin saya overwhelmed. Oh betapa tidak marisol, tingkah lakunya bikin saya geleng-geleng kepala dan belajar nahan emosi lebih dalam. Dulu keenan juga mengalami fase ini, tapi gak "separah" kilan.

Dia itu, hobi nonton youtube. Saya temani tentu sambil saya nulis blog atau BW. dia suka banget sama figur spiderman, Monster Siren Head, Parkour VS Joker, konser pake lagu Babahnya, Kereta Api, Karinding Pancanitis , Vlad and niki dan Baby Bus.

Jadi, semua kebutuhan dia "meniru" semua figure itu harus selalu ada. Mudah dia raih dan terlihat nampak. Jadi saya siapin satu box container isinya semua kostum dia.

Yang bikin jengkel adalah, belum selesai berperan satu figur udah pindah figure lain. secepat kilat. kan saya rempong ya, apalagi kalo saya lagi ngerjain tugas domestik atau bantu kakaknya kerjain PJJ. kesel kan ya? hihihi. Mana gak ada berhentinya. loncat-loncat kaya bajing loncat niruin parkour, berantakin isi container, sulit di ajak makan, kalau ada maunya harus segera di wujudkan secepat The Flash.

Saya sangat kelelahan hari ini. Dengan Keenan yang mulai memasuki tahapan mengenal lingkungan dan respon emosi terhadapnya, dan kilan yang mengenal kesukaannya dan melatih motorik lewat berperan jadi figure yang dia suka.

Emak pengen koprol sambil mamam bakso jadinya! hahahaha

Tapi, saya bersyukur. Saya jadi ingatkan untuk kembali memperlajari milestone anak - anak dan merumuskan metode pengasuhan kembali. Termasuk soal PJJ yang sebetulnya, saya malasnya luar biasa.

Ini aneh kan ya? kenapa, saya males banget kalo ngajarin anak saya tapi "disuruh" padahal itu sama gurunya. tapi kalau saya inisiatif bikin pembelajaran sendiri, saya semangat.  saya sampai diskusi dengan Teh evarahma , emak seperjuangan yang mengutamakan pendidikan anak terutama emosi dan psikologis. Kata Teh eva mah,

" Sempet ada tulisan pas buka timeline fb, kalau school from home itu lebih susah dari homeschooling. Karena PJJ ini kita ga bisa random ngajarin anak. jadi terpatok sama keharusan mengerjakan tugas. bukan memberikan ilmu "

Jadi, ya terima saja situasi ini sambil memupuk semangat emak biar gak loyo ngadepin tantrum Keenan yang sering ogah disuruh ngerjain tugas PJJ tapi asoy geboy kalo diajakin belajar tentang apa yang ingin dia ketahui. walaupun, saya jadi double job! 



insight

Komunikasi dalam pernikahan itu penting, sangat penting. merasa berat sebelah atau tidak didengar? coba curhat dulu di jurnal atau menulis di diary. biasanya kaum wanita hanya ingin menumpahkan uneg-uneg bukan cari solusi. kalau sudah plong, tinggal minta dijajanin sama pasangan (^__^)

wish list

Berharap esok bisa lebih bisa pasrah dengan PJJ dan menyemangati diri sendiri buat "bertahan" dengan sistem pendidikan yang new-normal ini.

Mood


Mood hari ini secara keseluruhan = 8  ALHAMDULILLAH.

eh, gimana ceritanya kak renovrainbow ya?? aku kepo nihh, temen-temen juga kan ya? meluncur ke blog beliau ya (^___^)

5 komentar:

  1. Wah beli pulsa 300k sebulan 😵 banyak banget itu mbaaa, kasihan ortu yang dananya terbatas.

    Bicara mengenai komunikasi sama pasangan, saya termasuk yang sering menulis di notes kalau ada kekesalan (nggak publish di blog cencunyah) 😂 ini pun saya menulis di notes karena pasangan yang minta pada awalnya. Sebab saya tipikal yang harus runut membahas permasalahannya dan lebih banyak diam kalau sedang memendam rasa kesal sedangkan dia tipikal to the point bicara langsung di depan 😂

    Terus karena kami komunikasi pakai bahasa Inggris, kadang ada kemungkinan salah paham. That's why saya prefer keluarkan unek-unek saya pakai tulisan di notes terus dikasih ke dia biar dia baca dengan rinci dan memahami perasaan saya sebelum akhirnya kasih respon. Kalau bicara langsung suka ada kemungkinan dipotong-potong soalnya hahahaha. Jadi kadang belum kelar bahas masalah, takutnya sudah esmosih duluan gara-gara dipotong atau disanggah 😂 however, kami termasuk jarang berantem hebat, mba. Biasanya cuma ribut-ribut childish persoalan sepele saja 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak eno, itu karena anaknya ada dua. jadi tiap anak pegang hp. kalo gak dipisah gitu tugasnya jadi berantakan. saya sih alhamdulillah ya pake wifi, buang uang gede buat kuota juga itu unlimited access di komputer dan HP.
      gak kebayang yang anaknya lebih dari dua, wah wah wah deh.

      wah? itu beneran curhat di tulis dan dibaca? mau bacanya? lalu dibahas bareng gitu? salut euy. secara gitu kebanyakan cowok males baca ya apalagi curhatan, kecuali papah - papah blogger dan penggiat literasi, hihihi

      kalo saya kebanyakan adu mulut, sembari emosi keluar jadi plong. udahnya mamam bakso bareng! hahaha ( perasaan mamam bakso mulu ya, hahaha. maklum makanan paporit kami )

      Hapus
  2. Keluarga itu kan masyarakat terkecil dan untuk menjamin keteraturan arah perjalanan sebuah keluarga, tetap butuh seorang pemimpin yang bertanggungjawab.. Nah, kalau di budaya Indonesia, yang masih patriarkat, kaum pria yang diharapkan selalu menjadi leadernya.

    Iya nggak mba?

    Cuma kalau saya, make budaya Indonesia yang satu lagi, yaitu musyawarah. Biar secara otomatis saya dipandang kepala keluarga, saya pilih segala sesuatu dibahas dulu dan dicarikan kompromi dengan si Yayang.

    Garis besarnya saya yang buat, tapi dalam pelaksanaan, terkadang justru saya mengandalkan si Yayang untuk melaksanakan.

    Kami kerja tim Mbak..

    Nggak berarti selalu sempurna, kadang ego saya juga sering timbul, ego dia juga, dan soal berantem mah, ya sering... hahahaha.. Dan, saya memandangnya sebagai salah satu bentuk komunikasi antar kita berdua... Paling marahan 2-3 hari, kemudian baekan lagi dan hahahahaha hihihi lagi...

    Justru dari berantem itu saya bisa belajar banyak tentang karakter istri...moodnya dan perasaannya.

    Biasanya saya berantem ga sampe adu mulut, kita berdua sudah belajar, yang terbaik itu, salah satu ngalah.. kadang dia, kadang saya.. hahaha tergantung mood.. Timbal balik.

    Soal ngerasa dibutuhin, kayaknya semua pak su sama.. saya juga seneng kok kalau disuruh beliin ini itu atau belanja ke warung..

    Eh.. dah kepanjangan ..

    #kabur ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. wow.....cerita yang bikin saya melongo, kepanjangan juga gpp kak anton, hihihi

      harus banyak belajar nih sama kak anton yang udah belasan taun berlayar di samudra pernikahan. saya belum sempet BW ke blog kakak yang khususon parenting, "celoteh orangtua"....baru kepo kepo judul pengen baca belum sempet, hihihi

      saya masih awam sih kak kalo soal patriaki...belum paham konsep yang sebetulnya seperti apa. tapi yang pasti, saya yakin semua paksu tipe nya beda-beda. dan paksu saya sayangnya gak termasuk kategori "papah-papah " seperti kak anton, hahaha. jadi untuk mengimbangi pasangan, saya yang belajar lebih dulu neredam ego dan merubah sudut pandang terhadap peran.

      karena saya gak paham soal patriaki, takut salah pemahaman konsep...jadi yang saya pegang dari sudut pandang agama. karena itu yang paling menenangkan buat saya. alhamdulillah sih kak, sejak saya tulis soal komunikasi dengan paksu dan banyak bertukar pikiran dengan teman sesama blogger.....pikiran saya lebih terbuka dan anehnya juga membuka gerbang komunikasi dengan paksu saya lebih lancar. jadi saya berfikir, ah ini mah saya yang harus memperbaiki diri.

      hasilnya, sekarang komunikasi dengan pasangan saya makin lancar. dan seperti halnya kak anton dengan istri....paksu saya juga yang menentukan A B C D semua hal, tapi eksekusinya? tetap saya bantu atau malah saya yang kerjakan. hahaha, bisa dibilang tema work juga kan ya? hihihihi

      romantika rumah tangga itu seru kalo dipikir - pikir, lucu dan kadang bikin spaneng. hahaha.

      Hapus
  3. Komunikasi dengan pasangan itu aku anggab juga sangaaaat penting :). Aku bukan tipe yg suka ksh clue doang di saat ada masalah ato sedang menginginkan sesuatu. Suamiku ga bakal mudeng kalo cuma diksh clue :p. Dia hrs diksh tau yg jelas.

    Gitu juga kalo aku sedang ngerasa sebel Ama dia, ya udh bicarain :). Didiemin lama2 ,yg ada hubungan bisa ga harmonis, yg parah rasa sayang takutnya jadi kekikis. Suamiku jg sepakat soal istri harus taat dan hormat. Dalam Islam itu juga udah jelas tertulis :). Aku bersyukurnya, kami berdua tipe yg beda karakter. Aku panasan , dan pak suami kalem dan sabar. Jadi sbnrnya kami berdua jarang yg sampe bener2 meledak marah, cm sekali pernah kejadian, dan aku ga pengen ngulang begitu lagi :(.

    Tapi ya itu serunya berumahtangga ya mba. Kdgpun butuh tahunan untuk bisa saling mengerti pasangan :)

    Kalo ttg anak2, duuuh aku yg dibantu Ama babysitter aja terkadang jg msh repot ngadepin mereka :D. Aaplagi selama SFH ini. Cm terkadang di saat anak2 sudah tidur, trus merhatiin muka mereka, lgs adem lagi, dan bersyukur mereka sehat. Giliran pagi Ampe malam yg mana aktifnya udah kluar, berasa mamak kluar tanduk pas ngadepin hahahahaha.

    BalasHapus