Teruslah Menulis, Agar kisahmu Tetap Abadi walau ragamu telah tiada




SEJARAH DAN PERKEMBANGAN TULISAN


Sejarah mencatat bahwa, Bangsa Sumeria merupakan bangsa pertama yang memiliki huruf dan tulisan pertama di dunia. Bangsa Sumeria sudah menggunakan huruf paku yang merupakan huruf berbentuk paku dan dipahat di atas Batu sebagai media alat tulisnya sekitar 3000 tahun yang lalu, yang kemudian menjadi cikal bakal huruf pertama dunia di buat.

Seiring dengan semakin berkembangnya peradaban, maka tulisan dan huruf pun ikut berkembang. Keberadaan media alat tulis kemudian menjadi hal yang sangat diperlukan, untuk kebutuhan perdagangan, perjanjian dan kerjasama, penyebaran agama , karya sastra serta rekam jejak sejarah. 

Media menulis pun ikut mengalami perubahan dan perkembangan. Pada awalnya, manusia menulis di atas batu kemudian mulai berkembang menggunakan kulit batang pohon, kulit hewan, papirus dan kertas. 

Begitu pula dengan alat tulis, diawali dengan batu dan pena jarum kemudian bulu angsa, tinta hitam dan pada akhirnya menggunakan pinsil dan pulpen seperti yang kita gunakan pada saat ini. 

Melihat sejarah berkembangnya tulisan dan media alat tulis, maka tak pelak bahwa keberadaan alat tulis dan medianya sangat erat hubungannya dengan kebutuhan manusia akan menulis dengan berbagai maksud dan tujuan. 

Jika dilihat dari awal sejarah, menulis menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat jaman dahulu.

Sebagai contoh, AL QUR’AN. Nabi Muhammad S.A.W memerintahkan sahabat nabi untuk menuliskan kembali wahyu Allah S.W.T yang mana Setelah Nabi Muhammad wafat, para sahabat segera menyusun dan menuliskan hafalan ayat wahyu Allah SWT menjadi Al-Qur’an seperti yang kita kenal hingga saat ini.

Contoh Lain, Dead Sea Scroll atau naskah laut mati yang merupakan 900 lebih naskah manuskrip yang ditulis di atas papirus, perkamen, dan perunggu yang merupakan manuskrip yang di tulis oleh bangsa Ibrani yang dibuat sekitar tahun 408 SM - 318 SM yang berisi salinan kitab suci bangsa israel.

Hal ini menandakan bahwa sekali lagi, menulis sangat dibutuhkan sebagai rekam jejak sejarah dan karya sastra untuk diwariskan dan disebarkan ke kalangan tertentu atau ke seluruh umat manusia.

Saya secara pribadi, sangat takjub dan kagum akan perkembangan menulis terutama karya sastra baik fiksi maupun non fiksi dari masa ke masa. Sedikit banyak, sastrawan dan penulis masa kini banyak dipengaruhi karyanya oleh karya-karya sastrawan dan penulis jaman dahulu, seperti saya yang sangat menyukai karya Charles Dickens dan George Elliot. Saya juga sangat menyukai penulis hebat Indonesia seperti Pramoedya Ananta Noer, N.h Dini, Buya Hamka ,WS Rendra dan tentu saja, Leila S. Chudori

Terdapat banyak kisah pahit dan getir yang para Penulis hebat ini sampaikan kepada masyarakat pada saat itu sebagai protes terhadap ketidakadilan dan pemerintahan juga hiburan ditengah pengap dan sulitnya hidup pada jaman itu, yang mana gaung dan kisahnya masih relevan dengan keadaan dan situasi pada saat ini.

Lantas bagaimana perkembangan menulis pada saat ini? Sungguh sangat berkembang dengan sangat pesat. Hal ini di dukung dengan semakin berkembangnya teknologi komputer dan internet. Kemudahan ini membuat kita dapat dengan mudah mendapatkan akses informasi, ilmu dan karya sastra. Menulis pun pada akhirnya menjadi salah satu kebutuhan manusia pada saat ini sebagai bentuk aktualisasi diri, lapangan pekerjaan , media pelatihan dan media berkomunikasi serta bersilaturahmi.

SAYA DAN DUNIA MENULIS


Sejak kecil saya sudah terbiasa menguraikan apa yang saya pikirkan dan rasakan ke dalam bentuk gambar dan tulisan. Entah itu di buku diari atau hanya di buku gambar. Bagi saya, kertas adalah media untuk berkarya. Terutama karya ilustrasi, karya sastra fiksi dan non fiksi. seperti puisi saya berikut ini ,

Ada sepenggal kisah yang tertinggal dalam ingatan,
Meminta untuk dirangkul dan tak ingin ditanggalkan,
Layaknya hati yang merindu pada senja di musim kemarau,
Dan asa yang ingin merajut hujan,
Dan jiwa yang sangat ingin memeluk salju,

Ringkih aku, memikul semua kegaduhan di pikiran
Dan kekusutan hatiku selama ini,
sehingga kutumpahkan saja semua gundah dan resah,
dalam buku bersampul kulit sintetis berwarna coklat,
bernama BUKU HARIAN.


Menulis dan menggambar yang saya awali dari sekedar hobi lantas menjadi ladang pekerjaan di kemudian hari, walau latar belakang pendidikan saya bukan seni atau sastra. 

Sekarang setelah menjadi ibu dari dua anak laki-laki, menulis dan menggambar pada akhirnya banyak membantu saya menemukan jati diri dengan sudut pandang yang lain, yang tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya. 

Buku harian selain sebagai tempat saya berkreasi dan berkarya, juga sebagai tempat saya menuliskan ide-ide dan menjadi wadah untuk aktualisasi diri. Saya sangat ingin membagi ide dan pemikiran saya juga pengalaman saya kepada khalayak umum untuk dipetik hikmahnya. Berangkat dari alasan ini, munculah ide memindahkan tulisan di buku harian ke dalam format digital, yaitu Blog. 

Ada sebuah rencana, bahwa apa yang nanti akan saya wariskan kepada anak-anak saya kelak bukanlah intan permata atau sejumlah uang di bank atau tanah berhekta-hektar. Tetapi jurnal, dimana saya akan mencatat semua kisah mereka sedari kecil hingga dewasa kelak, sebagai kisah yang layak mereka simak dan ambil hikmah nya sebagi bekal mereka mengarungi ganasnya lautan kehidupan. Dan untuk itulah artjoka lahir, blog pribadi saya. 

MENGAPA KITA HARUS MENULIS


Ada berjuta alasan mengapa orang menulis pada saat ini. mulai dari yang sifatnya pribadi seperti saya, sampai menulis yang menjadi kegemaran mereka seperti karya sastra baik fiksi maupun non fiksi dan topik lainnya. 

Saya berfikir bahwa,  Tulisan akan kekal abadi walau raga kita telah tiada, oleh sebab itu tetaplah menulis. Karena Tulisan  adalah maha karya yang dapat menjadi warisan yang sangat berharga dimana keberadaanya sedikit banyak akan mempengaruhi hidup seseorang, dimasa sekarang dan yang akan datang. 

Janganlah berhenti menulis dan berkarya walau terkadang ingin usai saat berkali-kali menerima kegagalan dan penolakan, karena kesuksesan hanya masalah proses dan waktu yang harus di lalui oleh setiap penulis. 

Membaca biografi atau autobiografi para penulis hebat, bisa menjadi salah satu bahan bakar api semangat kita dalam menulis. Seperti yang di sampaikan oleh Mohammad Hatta dibawah ini,

Saya menyebut satu nama yang patut menjadi kenang-kenangan buat selama-lamanya : Tjipto Mangunkusumo, yang meninggal kemarin pagi dalam usia 58 tahun. Sejarah hidupnya mudah diterangkan dengan beberapa kata saja: jujur, setia, ksatria, berjuang, berkorban, pembuangan dan penyakitan. 
Sungguh pemantik semangat yang mujarab bukan? 

Untuk meningkatkan kemampuan kualitas kita dalam menulis, Saat ini banyak tersedia pelatihan secara online baik yang bertarif maupun gratis. Manfatkanlah peluang dan fasilitas ini dengan sebaik-baiknya dan teruslah berlatih. 

Ada satu kutipan mujarab layaknya hembusan angin surga di saat saya jatuh dan merasa lelah seraya ingin berhenti karena kegagalan demi kegagalan sering saya dapatkan ketika mengikuti ajang perlombaan menulis,

Semua harus ditulis, apa pun.Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna. ( Pramoedya Ananta Noer )

Terimakasih Om Pramoedya, berkat kalimat bijak ini saya yang masih banyak belajar menulis diantara sempitnya waktu yang saya miliki sebagai ibu rumah tangga, pada akhirnya selalu mampu bangkit dan kembali berdiri tegak lalu duduk di depan komputer usang dan kembali mencurahkan semua pemikiran dan asa yang selalu meminta untuk dikeluarkan dari cangkangnya dan menari berlari dengan girangnya.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Catatan Pringadi bekerja sama dengan Tempo Institute”



Sumber Referensi :
1. Konten Redaksi kumparan, Tulisan Tersembunyi dalam Naskah Laut Mati Akhirnya Bisa Terbaca, .https://kumparan.com/kumparansains/tulisan-tersembunyi-dalam-naskah-laut-mati-akhirnya-bisa-terbaca/full, Diakses pada 19 juli 2020 pukul 21.00 WIB
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Laut_Mati, Di akses pada 7 Juli 2020 Pukul 21.00 WIB
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_huruf , Di akses pada 7 Juli 2020 Pukul 21.00 WIB

16 komentar:

  1. Masya Allah, bersyukur karena bisa menulis, semoga dari menulis, kelak karya-karya kita bisa abadi ya teh, haduuh, beratnyaaa aku ngomong, wkwk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiin, Ya Rabb.
      iya nih akupun berat nih ngomongnya ya, hahahaha. tapi beneran ya, semoga karya kita tetap abadi, selama blognya di maintain. makanya harus di print berkala nih ya.

      Hapus
  2. Balasan
    1. Aaamin Ya Rabb, makasih banyak supportnya mba rina

      Hapus
  3. Bismillah ....
    Semoga tulisan kita terutama yang baik tak lekang oleh waktu, dan
    Semoga menang ya say ...

    Nuhun juga buat sejarah tulisan yang informatif sekali ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamin Ya Rabb,
      semoga tetap abadi tulisan kita ini, selama blognya di maintain tapi, hehehe.
      sama- sama tetehku

      Hapus
  4. Halo mba. Masyaallah keren gambarnya. Blogger yang bisa gambar tuh punya nilai lebih ya . kalau saya sih nggak bisa. Hehe.

    Kenapa atuh saya jadi ingat eyang sapardi Djoko. Sedih T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo mba mirna, salam kenal :) selamat datang di artjoka. makasih apresiasinya mba. mba juga passion sama bukunya hebat lho, saya belum bisa review buku malah, hehehe

      Hapus
    2. Review buku gampang kok mba. Hanya menuliskan kesannya saja .Tapi mungkin untuk ilmu kepenulisan dalam buku saya belum bisa review. Hehe ^^

      Hapus
  5. Tetap semangat dan terus berkarya teh, wish u luck 👍👍👍

    BalasHapus
  6. Selamat ya mba... Semangat terus dalam menularkan kebaikan melalui tulisan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih banyak kak cahya , terimakasih sudah berkenan mampir ke blog saya :)

      Hapus
  7. Halo Mbak Eka
    Aku terharu baca tulisannya, dan aku setuju.
    Menulis buatku adalah hobi sekaligus terapi. Aku mulai melakukan ini sejak SMP, diawali dengan menulis di buku diary.
    Lalu berlanjut ke blog sampai saat ini.
    Salah satu manfaat yang aku dapat dari menulis selain terapi adalah pengembangan diri. Beberapa waktu lalu aku sempat iseng baca postingan lamaku. Aku menemukan kalau aku berubah, berubah menjadi versi terbaikku melalui tulisan-tulisanku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo kak pipit,'
      salam kenal. saya juga kalo dirumah dipanggil pipit ( ada nama fitri di nama saya, hihihi)

      wah, ternyata kita samaan ya kak, hihi. suka curhat juga dan akhirnya berlabuh ke blog, hihihi

      semangat menulis ya kak

      Hapus
  8. Menarik nih :)
    Betul sekali, saya menulis juga biar saya tetap selalu bisa mengunggapkan isi hati, agar merekam momen, terlebih saya ini pikunnya ampun-ampunan hahaha.

    Tapi, akhir-akhir ini saya berpikir, menulis di blog gini gawat juga ya.
    Pertama, terlebih TLD ya, kalau enggak diperpanjang dan nggak ada yang tau pasword kita, pas kita udah nggak di dunia ini, lupa diperpanjang domainnya, musnah deh tulisan kita.

    Atau mungkin tutup platformnya, kayak Multiply dulu :D

    BalasHapus