Aku dan GHOST PARENTING




Ada sebuah postingan catatan di facebook mengenai Ghost Parenting yang menjadi landasan awal saya kenapa saya “akhirnya” bertekad jauh lebih kuat buat benahi diri sendiri dan mengakhiri diri sendiri jadi ABUSE PARENTini cerita saya soal ghost parenting yang saya alami abuse parent dan ghost parenting

Postingan ini inspiratif  sekali, dan bikin saya mewek. Catatan ini milik kawan baru saya di facebook, Vainginselaluistiqamah , dan ini link catatannya :  catatan ummu azmi

berikut postingannya :

GHOST PARENTING
EVHA UMMU AZMI·KAMIS, 18 JANUARI 2018·READING TIME: 3 MINUTES
Ghost Parenting,
berkali-kali dapat curhatan tentang luka lama yang kembali menganga ,
tentang masa kecil yang perih atau semacamnya ,
lalu hadir kembali dalam bentuk serupa saat kita pada akhirnya merasakan menjadi orang tua,
"apa karena saya juga sering diperlakukan begini oleh orang tua ?"
saya balik bertanya "menurut mba bagaimana?"
Ada berparagraf paragraf cerita,
Saya lanjut bertanya ,
"jika kita hari ini menyalahkan mereka, lantas mereka harus menyalahkan siapa?"
Pertanyaan retoris sebenarnya,
maka cerita akan bersambung ke hulu nasab : nenek moyang yang sama sama menunggu yaumil hisab,
Toh mereka juga harus mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka lakukan pada Allah
------------
saya pun belajar, membuka pahami berbagai teori psikologi. memang perilaku saat ini kait-terkait dengan pengalaman sebelumnya.
kabar baiknya, hal ini bisa kok diperbaiki. karena kita manusia, bukan mesin pengulang otomatis tanpa kendali.
lalu bagaimana ?
menyalahkan orang lain atas kesalahan diri kita adalah mudah, tapi apakah menyelesaikan masalah ?
Jika kemarahan, kesepian dan kekhawatiran kita saat ini terbentuk dalam bertahun-tahun episode berulang : dan ada peran orang tua yang membentuk perilaku negatif tersebut,
setelah tahu, Apakah luka jadi mengering dan sembuh ?
apakah perihnya hilang seketika saat kita melempar musabab itu pada orang tua yang kian renta?
jika benar kesalahan mereka penyebab luka, obat seperti apa yang kita pinta?
permohonan maaf dan pengakuan dosa pada kita ?
benarkah hal itu menjamin benar-benar ada lega ?
apakah perlu menunggu bertahun-tahun permohonan maaf mereka
Tak bisakah kita sendiri .... menggerakkan tangan ke dada dan mengeluarkan sesak menggumpal-gupal dalam jiwa ,
tersenyum perlahan dalam isak air mata,
"biar keluar debunya bersama percik wudhu"
"merunduk sombong dalam sujud syahdu"
sesadar diri bahwa tak ada yang tak pernah berbuat salah
sebagaimana hanya perlu menunggu salam setelah tahiyyat terakhir,
mulai mengatakan "aku memang luka. Tapi aku telah memaafkanmu....pak, bu"
Seraya memulai menemui mereka dan meminta maaf pula: atas lebih luka yang kita toreh ,
Tapi mungkin mereka sudah melupakannya,
Sebagaimana kita mengharapkan permohonan maaf mereka,
Mengapa tak bertanya hal yang sama pada diri sendiri yang juga jadi orang tua
"Sudahkah saya minta maaf pada anak anak saya?"
Mereka pun menunggu sebagaimana kita menunggu
Apakah benar ada orang tua yang sempurna tanpa cela?
Jika memang tak ada ,
Mengapa tak menyisakan ruang bernama maaf dan lupa ,
Ya melupakan dan menghapus memori tentang luka ,
Biar ada lebih banyak ruang memori yang tersisa ,
Untuk menyimpan kenangan baik yang bermiliar byte jumlahnya ,
Untuk membuka ruang ruang baru bernama cinta,
Jika memang berat terasa : mintalah bantuan pada pencipta jiwa ,
Karena IA yang meminta dan mewajibkan kita berbuat baik pada orang tua,
Bukankah IA tak pernah meminta yang kita tak bisa menyanggupinya ?
"Dan orang orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebaikan
Serta beriman pada apa yang diturunkan kepada Muhammad
Dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka
Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka
Dan memperbaiki keadaan mereka" (QS Muhammad ayat 2)

Mengetahui bahwa kita terluka Memang tak menyelesaikan masalah ,
Tapi jujur mengakui bahwa semua manusia juga lemah dan punya salah
Akan mengantar kita pada titik "aku butuh Allah yang Maha Sempurna"
Maka perjalanan mengobati luka Pada dasarnya dimulai Dari keyakinan terhadap penyembuh luka yang tak pernah salah : mendekat terus padaNya
Memulai satu kebaikan ,
Terus berbuat kebaikan kebaikan ,
Sampai Allah menghapus kesalahan Dan menyempurnakan keadaan,
Ingatlah lebih banyak jariyah mereka ,
Suatu saat kita akan sadar bahwa
"Hantu itu hanya ada dalam imajinasi kita",


25 September 2017
Untuk semua yang pernah terluka, tapi masih meyakini Kasih sayang Allah

Ninin Kholida




Baca postingan ini saya jadi semangat bikin mind  map yang setelah saya renungkan, solusinya hanya 5 point, yaitu :

1.   MEMAAFKAN

Maafkan semua perlakuan kasar orangtua kita dimasa lalu, maklumi semua tindakan mereka dimasa lalu karena kita juga tau, kalo jadi orangtua itu tidak mudah, mengendalikan emosi dan amarah adalah dua hal yang tersulit dilakukan. Jangankan untuk urusan pengasuhan anak, untuk diri sendiri juga sama sulitnya.

2.    Kembali pada Tuhan

Maksud kembali pada Tuhan adalah bukan hijrah yang instan, tapi hijrah yang perlahan tapi pasti. Hijrahr bukan soal kita gak pake hijab langsung pake hijab, ato yg udah berhijab jadi pake hijab syari, yaa itu juga termasuk, tapi yang paling utama adalah hijrah kebiasaan. Yang awalnya solat saya bolong-bolong, mulai benahi biar gak bolong, tahajudnya dikerjain lagi, baca al-qur’an lagi walo hanya satu ‘ain/hari, banyakin sedekah dan PERBANYAK SEDEKAH. Semua itu harus dikerjain secara KONSISTEN. Gimana caranya biar bisa konisten? Saya bikin bullet journal ( nanti saya bahas di postingan selanjutnya ya ). Saya tau, buat melakukan point 2 ini dahsyat sulitnya, apalagi buat konsisten. Karena yang namanya iman, pasti ada futurnya, tapi dengan paca postingan ini dan sering-sering dengerin taushiahnya kang ibing bisa narik saya insyaallah buat back on track.

Sebelum melakukan point kedua ini, ada hal yang paling mendasar yang harus saya lakukan dulu, yaitu PERCAYA PADA TUHAN!!

Nah lho, apa hubungannya? Oh tentu ada fernando.

Terkadang, kesulitan hidup dan luka masa lalu bikin kita ( atau dalam hal ini saya sendiri) sering mengalami ketidakpercayaan pada TUHAN, bukan tidak percaya, tapi lebih tepatnya adalah marah pada Tuhan, karena “WHY ME” TUhan? Why me? Saya tau marah pada Tuhan itu bagian dari dosa. Tapi itu adalah hal yang tak bisa di hindari. Klo sudah begini, biasanya saya harus kembali  melakukan “pembersihan” lagi, di mulai dari curhat sama sahabat terdekat saya soal kapusing dan kamumet mengenai persoalan hidup. Alhamdulillah, Tuhan kasih saya sahabat yang demikian inspiratifnya kalo menyoal Tuhan, teman yang demikian adalah rezeki mak, rezeki yang gak tertandingi nilainya. Kalo udah terinspirasi, segera mandi tobat sebagai langkah awal tobat kita. Memang terkesan naif dan lebay, tapi terkadang kita perlu melakukan hal simbolik agar apa yang kita bisa mulai memasuki gerbang  perubahan.

Kalo sudah yakin lagi sama Tuhan, buat kembali membenahi semua ibadah akan terasa lebih nikmat.

Apakah point ini akan dilaksanakan terus menerus tanpa hambatan? Yah gak lah marisol, iman itu layaknya air bendungan, kadang naik kadang turun. Gak selamanya semangat dan kadang lebih banyak turunnya ketimbang naiknya. Tapi setidaknya, kalo kita udah punya SOP alias standar operasional point 2, saat iman kita turun, kita tau apa yang harus dilakukan dan kita bisa back on track.

3.   Lakukan ANGER MANAGEMENT

Hanya satu yang perlu dilakukan, ketika kita JENGKEL sama pak suami, MANGKEL sama tetangga yang sotoy, KESEL liat rumah berantakan terus PENGEN BENTAK, PENGEN NYUBIT, PIKIRAN RUDET lalu liat anak rewel terus pengen lampiasin ke anak SEGERA lakukan hal ini : CUBIT BAGIAN TUBUH SENDIRI dan RASAKAN SAKITNYA! Itulah rasa sakit yang akan anak-anak kita rasakan kalo kita cubit mereka.

Ini adalah saran dari adik tersayang saya ketika saya curhat soal parenting ghost, karena kami sama-sama diperlakukan sangat tidak manis oleh orangtua kami dimasa lalu. Dan untuk saran jitu ini, saya sangat berterimakasih padanya.

4.    ME TIME

YES!! Ini paporit saya. Saya sudah bicarakan hal ini dengan pak suami, dalam rangka menjaga kewarasan saya dalam menjalani profesi sebagai IBU RUMAH TANGGA FULLTIME, maka me time adalah suatu keharusan. Gak harus mewah, maximal 3 bulan sekali selama 6 jam. Ntah saya mo ngapain bebas, ke salon, nonton bisokop, ketemu sahabat lama ato leye-leye tiduran di rumah ibu saya, hehe. Yang penting setelah me time ini, mumet-nya pikiran saya dan jenuhnya saya akan sama persisnya rutinitas yang saya lakukan setiap hari terobati dan saat kembali ke rumah, saya udah segar kembali.

5.    SABAR

Hey,  ini tidak mudah lho, Tapi kalo udah niat, insyaallah pasti bisa. Caranya? Klo udah keluar tuh tanduk di kepala gara-gara kelakuan anak-anak yang luarbiasa kreatifnya, ELUS DADA terus bilang sama diri sendiri, “SABAR-SABAR” walo sambil pake suara “sedikit” mengggeram kaya kucing lagi kawin, hehehe

6.   PAHAMI

Pahamilah, kalo anak-anak yaah namanya juga anak-anak, OTAKNYA BELUM MATENG, ATTITUDE BELUM KEBENTUK, POLA PIKIRNYA LABIL, EMOSINYA KAYA CUACA ( gak menentu). Namanya juga makhluk lagi berkembang, ya begitulah adanya. Kalo kelakuan kita sama kaya anak kita, lha marisol jadi bingung nih, siapa yang jadi anak dan siapa yang jadi orangtua????betul gak mak?? Hihihihi,

Sekian.

Saya tau, pembahasan soal parenting ghost ini ngaler – ngidul. Bahkan saya bawa –bawa cerita dari ranah pribadi soal masa lalu saya sampai kelakuan saya sama anak-anak saya yang bisa bikin ILFIL orang yg kenal saya, yang hal ini bisa dibilang aib, tapi , I don’t feel regret, NO! saya ingin share hal ini juga sebagai terapi buat saya sekaligus pengingat, kalo saya lagi lemah dan ingin lari, saya bisa buka curhatan saya ini dan semoga bisa back on track

Saya juga ingin berbagi biar emak yang saya yakin juga mengalami hal yang sama persis kaya saya bisa terinspirasi. Karena saya tau, rasanya gak enak. Hidup rasanya mumet dan gak happy. Sementara saya, lelah bertahun-tahun mengalami depresi sebagai anak korban perceraian dan sekarang mengalami  ghost parenting. Saya ingin hidup saya jauh lebih happy. Karena, suka atau tidak suka, sekarang saya bukan lagi saya yang berumur 25 tahun yang bebas kesan-kemari mo ngapain aja gak ada tuntutan. Hidup akhirnya mengantarkan saya pada titik ini, dimana sekarang saya jadi seorang wanita berumur 36 tahun, jadi gendut, wajah gak seger lagi, gaulnya sama emak-emak yang nganter anaknya ke TK dan tiap hari ngurusin hal yang sama sama secara berulang, inilah hidup saya sekarang,  

BANGUN EKA!!! BANGUN!!!! SADAR OY SADAR!! KAMU SEKARANG ADALAH SEORANG IBU!!!  Emang jadi ibu gak semulus film – film box office, yang ditonjolin bagian manisnya ajah, tapi ternyata jadi ibu itu MELELAHKAN TIADA AKHIR.

Tapi hey, bukan kamu aja yang ngalamin  kaya gitu, SEMUA IBU JUGA MERASAKAN HAL YANG SAMA!!!!

Jadi, biarlah lelah kita yang tiada endingnya , gak kaya film  snow white yang happy ending, semoga lelah kita ini diganti ALLAH SWT balasan surga diakhirat nanti. Aamiin.

Tergoda kan kalo ditawarin surga mah?? Tentu atuh, hehe

---------- SEKIAN ---------

Semoga terinspirasi

0 Comments:

Posting Komentar