Tampilkan postingan dengan label curhat emak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat emak. Tampilkan semua postingan

Tips pernikahan


Selamat, Kamu Kena Prank! Pernah gak sih kalian menemukan situasi kaya kena prank dimana sepertinya bakalan dapat surprise menyenangkan eh gak taunya gak? atau situasi yang diharapkan bahagia nyatanya malah banyak drama? atau merasa tertipu? pernah? Toss dulu dong! hihihi. 

Gak enak banget ya rasanya, seperti merasa terperangkap dan kecewa berat tapi harus ditelan bulat - bulat karena sudah kadung. 

kalau kalian, situasi kaya gimana sih yang membuat kalian merasa seperti kena prank? kalau saya sih  merasa kena prank sama yang namanya pernikahan! 

what?? seriously? ah masa sih? Kok bisa sih saya bilang kena prank sama yang namanya pernikahan? iyalah, karena awalnya saya merasa kalau pernikahan itu seperti  di film, happy ending. eh gak taunya banyak drama! ampyun deh, wkwkwk

Saya Kena Prank!

Bayangan saya terhadap lembaga pernikahan sangat indah. Seindah film-film romantis hollywood. Tapi pada kenyataannya pernikahan tidak seindah itu. Saya sempat kaget dengan banyaknya perubahan yang terjadi pada diri saya dan pasangan. Hal ini ternyata disebabkan seiring dengan bertambahnya peran saya sebagai ibu. 

Perubahan peran ini sedikit banyak mempengaruhi saya dan pasangan secara psikologis dan mengubah sudut pandang saya mengenai pernikahan.

Setelah menikah saya kosong selama dua tahun karena memang kami berdua belum memutuskan untuk memiliki momongan. Dan selama dua tahun itu pernikahan kami rasanya honeymoon terus sepanjang tahun. Yah kalau pertengkaran kecil pasti ada, tapi bisa dengan mudah diselesaikan tanpa berlarut - larut.

Masalah mulai timbul justru saat kami memiliki anak pertama. Peran menjadi ibu dan ayah baru rupanya cukup menguras tenaga, pikiran , waktu dan uang. Masing - masing dari kami mengalami perubahan yang cukup drastis sampai - sampai kami tidak saling mengenal satu sama lain lagi. 

Peralihan peran rupanya membuat saya kehilangan diri saya sendiri dan saya terjebak dalam rutinitas peran baru.

Baik saya maupun pasangan sibuk dengan perannya masing - masing, saya sebagai ibu mengurus bayi dan urusan domestik sementara pasangan sebagai ayah bekerja. Kami jarang memiliki pillow talk atau bahkan quality time berdua,  karena sejak lepas dzuhur hingga tengah malam suami bekerja di kios yang kami rintis sejak tahun 2014. Sedikit sekali waktu yang kami miliki bersama. sok sibuk pisan ya? wkwkwk

Saya rasa, pasangan berubah menjadi pribadi yang keras dikarenakan rasa tanggung jawabnya sebagai suami yang harus mencari nafkah. Sehingga tak ada lagi ruang di dalam pikirannya untuk meributkan hal yang sepele seperti sikap baper saya dan masalah baby blues yang saya alami sepanjang masa pengasuhan anak kami. Hal ini membuat saya sendirian dan kesepian dalam pernikahan. 

Karena idealnya, kesulitan selama masa pengasuhan harus dilalui bersama dengan pasangan. Sayangnya saya tidak demikian.  Terkadang kalau saya sudah di puncak emosi dan akhirnya meledak, saya menangis tanpa bicara sepatah katapun. Hal ini tentu membuat pasangan kebingungan dan geram. Entahlah, karena jarangnya kami berkomunikasi dari hati ke hati, jadi saya agak segan curhat unek-unek dan lebih memilih diam dan menangis saat sendirian. kasian banget ya gue? wkwkwkwk

Hal ini juga dipicu karena setiap kami bertengkar karena anak rewel atau saya yang uring-uringan karena kelelahan, pasangan lebih memilih tidak membahas panjang lebar ketimbang bertanya kenapa saya uring - uringan dan mendengar keluhan saya. padahal hanya tinggal pasang kuping aja tanpa harus ngasih saran bijaksana layaknya Mario Teguh. Sayangnya dia tidak begitu. 

Pasangan saya tipe yang agak malas membahas soal perasaan, karena dia sudah cukup stress memikirkan bisnis kami yang stagnan dan penghasilannya kecil  sementara kebutuhan kami banyak dan bahkan melebihi pemasukan. sehingga urusan saya yang mudah baper dan perasaan saya agak membuat beban pikiran dia bertambah. Lama kelamaan hal ini membuat saya merasa menjadi single fighter dan rasanya seperti kena prank pernikahan. 

Sampai akhirnya, saya pasrah aja sama Allah.  

Alhamdulillah berapa bulan sejak saya memutuskan pasrah lalu melakukan evaluasi serta mencari solusi, hubungan saya dan pasangan membaik dari hari ke hari. Pasangan lebih banyak senyum, ramah dan jarang berkata tegas. Lebih mau mendengar dan menawarkan bantuan. Sungguh diluar bayangan. 

Saya rasa, perubahan ini selain karena ikhtiar doa yang tidak putus juga karena saya kembali menulis buku harian. Baik di jurnal maupun di blog yang hanya saya sendiri yang bisa membacanya. Menulis sebagai pelepasan stress dan self healing saya rasa ada benarnya. Karena hal ini mampu mengubah  respon dan psikologis kita menjadi lebih tenang. Hal ini akan berimbas juga pada respon kita terhadap permasalahan yang kita hadapi sehari - hari.

karena akhirnya perasaan saya plong, saya bisa bersikap lebih tenang saat kelelahan yang pada akhirnya pasangan juga jadi lebih bereaksi positif terhadap saya. Setelah lebih sering menulis di blog pribadi yang di kunci itu, saya jadi bisa lebih spontan dan terbuka terhadap pasangan. Tidak canggung saat berbicara dan masa bodo saat bercerita apa saja walaupun dia hanya manggut - manggut dan jawabannya hanya , “ oh ya?” atau “wah” saja. Yang penting saya plong udah cerita! hahahaha.

Saya memang kena prank pernikahan, tapi saya tidak menyesal. Saya rasa setiap pasangan yang menikah pasti akan melewati fase seperti ini. Apalagi saya baru memasuki tahap 10 tahun awal pernikahan yang katanya merupakan fase saling mengenal satu sama lain. 

Mengapa saya harus menyesal? setelah saya akhirnya menyadari bahwa perubahan pasangan saya itu merupakan proses pendewasaan dia sebagai seorang suami dan ayah?

mengapa saya harus menyesal? karena sekarang kami dikaruniai anak - anak yang sehat dan lucu walau gak sedikit kami dibuat stress dan kadang bertengkar karena masa tantrum mereka?

Mengapa saya harus menyesal? karena sekarang hidup saya damai dan tentram. Hati saya penuh dengan cinta dan saya tak lagi memendam trauma.

Toh hingga detik ini, pasangan tetap memegang janjinya dari awal, yaitu akan membuat saya bahagia dan tidak sedih lagi kalau mengingat masalah keluarga. Dan dia menepati janji itu. Sudah seharusnya saya bersyukur, teramat sangat.

yah, saya kena prank dan saya tidak menyesal.

Bagaimana Persiapan agar kamu tidak kena prank pernikahan?


Satu saran saya, jangan berharap lebih terhadap sebuah pernikahan dan persiapkan mental dan pengetahuan sebelum memutuskan untuk menikah. 

Saya tau, terlalu banyak cerita drama bahkan film sampai dongeng yang mengisahkan kalau pernikahan merupakan happy ending. Padahal kenyataannya gak gitu. Siapapun yang ingin dan akan menikah harus memikirkan poin penting, yaitu KENALI PERAN BARU - PAHAMI - RESAPI - SIAPKAN DIRI. 

Saya tidak bermaksud menakut - nakuti mereka yang ingin menikah hingga menjadi enggan. Tetapi justru sebaliknya, andai saya punya mesin waktu saya ingin sekali kembali ke masa sebelum menikah dan bertanya pada diri saya yang sekarang APA YANG HARUS SAYA SIAPKAN SEBELUM MENIKAH?  tapi kenyataanya gak mungkin kan? akhirnya semua proses adaptasi itu harus saya lalui sendiri dan cerita saya menjadi pembelajaran bagi mereka yang ingin dan akan menikah. 

Jangan mau menikah karena usia atau sudah lelah mencari cinta yang selalu kandas atau karena pacaran sudah terlalu lama. Menikahlah karena memang sudah siap menjadi seorang istri dan ibu. Itu dua peran penting yang akan dilalui bagi kita kaum hawa. 

Hal ini termasuk menikah dengan alasan beribadah. It's a good intentions, menikah karena  ibadah. Tapi memahami nilai beribadah dalam pernikahan juga itu sama pentingnya. Ibadah seperti apa setelah menikah? ini yang harus betul - betul dipahami agar siap bukan hanya sekedar akibat kepincut godaan menikah muda atau mendapat pasangan halal semata. 

Karena setelah menikah, kamu tidak hanya akan menjadi seorang isteri tapi juga seorang ibu, seorang menantu, kakak/adik ipar, tetap seorang anak dari orang tua kandungmu, dan tetap menjadi diri sendirimu sendiri. Semua peran itu tidak serta merta membuat pernikahan mulus kaya kulit semangka, awal adaptasi pasti ga enak banget. apalagi ada stigma kalo keluarga mertua itu mirip film horor. Kenyataannya? tentu tidak seperti itu. 


Bagaimana Jika Saya Terjebak Dalam Prank Pernikahan?


Nasi sudah jadi bubur, dan kita sudah berada dalam ikatan pernikahan dengan pasangan. Mau tidak mau harus tetap maju dan mulai adaptasi. Karena, jika  mundur dan menyerah maka akan banyak sekali pertimbangannya. Terutama soal anak. 

Jadi, bagaimana nih kalau kamu sudah terlanjur kena prank pernikahan? saya tidak bisa memberikan tips yang banyak, tetapi hal - hal berikut mungkin menjadi solusi ketika kamu merasa terjebak dalam permasalahan pernikahan.

Pertama, melakukan self healing

Ini penting. Karena apapun yang menjadi sumber trauma kita bisa menjadi tembok berlin bagi hubungan kita dengan pasangan. Kita harus menemukan akar permasalahan dari apa yang selalu menjadi gangguan bagi diri kita sendiri. Misal, saya dengan masalah keluarga saya, trauma akibat perceraian orangtua dan inner child. Wah, banyak sekali ya. 

Tetapi ketika semua trauma ini satu per satu terselesaikan, hidup kita akan terasa lebih ringan dan bisa melihat situasi apapun menjadi lebih baik. Soal menjadi bahagia, relative ya. Tapi ketika kita tidak lagi merasa terganggu dan menerima kisah masa lalu kita dengan segala trauma dan dramanya, kita bisa move on dan melanjutkan hidup kita yang ada di depan mata. Perhatian kita tidak lagi berpusat pada trauma yang tidak pernah usai lantas melampiaskan pada pasangan. Maksudnya?

ketika saya belum menyelesaikan konflik saya dengan ibu saya, saya sering melampiaskannya pada pasangan. Ketika pasangan menjadi cuek, tidak perhatian apalagi tidak mau mendengarkan keluh kesah saya, tiba - tiba saya merasa seperti diperlakukan sebagaimana ibu saya memperlakukan saya dulu. Akhirnya saya menumpuk emosi dan kecewa terhadap pasangan saya. 

Padahal, bukan salah suami saya pada akhirnya saya merasa tidak diperhatikan dan diabaikan. Bisa jadi situasinya tidak tepat saja. Saat saya kelelahan dan memerlukan perhatian lebih dari pasangan tapi kenyataannya pasangan juga sedang mengalami situasi yang sama tapi kita tidak menyadari hal itu karena terlalu gelap dengan emosi dan trauma sendiri. 

Sampai sini bisa dipahami? semoga bisa dipahami ya. 

Berhentilah menyakiti diri sendiri dengan terus menggenggam trauma hingga bertahun -tahun lamanya. Emang enak terus berada dalam trauma? gak kan ya? pasti jadi beban lah. Makanya, hempaskan si  trauma itu. Caranya? Bicara dengan diri sendiri. 

Enaknya sih memang pergi ke psikolog atau psikiater ya, tapi kan mahal ya bayar jasanya! hahaha. Jadi yang bisa kita lakukan adalah bicara dengan diri sendiri. Curhat sama diri sendiri . Bisa dengan menulis diary, jurnal, blog atau apapun lah medianya. Lalu uraikan. Contohnya? artikel saya tentang inner child dan penyelesaian konflik saya dengan ibu saya bisa menjadi salah satu contoh. 

Hidup terlalu indah kalau kita melewatkan semuanya. Semua hal yang baik yang ada di depan mata dan sekeliling kita akan menjadi nampak buruk dan terasa seperti sebuah kesialan dan kemalangan. 

Pasangan yang sebetulnya baik dan perhatian akan terlihat menyebalkan dan membuat kita tersiksa hanya karena satu hal sepele,  anak - anak yang ceria dan sehat dan menggemaskan akan terasa seperti mimpi buruk dan teman serta sahabat yang selalu mendukung akan terasa seperti ancaman yang sewaktu waktu akan menikam dari belakang. Sehingga akhirnya kita memilih menyakiti mereka lebih dulu sebelum kita yang tersakiti sebagai bentuk benteng pertahanan agar kita tidak tersakiti “lagi”. 

padahal kenyataanya, kita sendiri yang menyakiti diri sendiri. Pasangan sih baik hati dan selalu menyayangi kita, anak - anak sih menyayangi kita apa adanya dan sahabat pasti menerima kita apa adanya juga dan tetap mendukung kita dalam situasi apapun. 

Kita yang merasa sebaliknya hanya karena punya trauma yang belum terselesaikan. paham?

Kedua, Jangan berharap lebih.

Idealnya memang, setiap pasangan dalam pernikahan memiliki prinsip kesalingan , tetapi kenyataannya tidak semua pasangan dalam pernikahan memiliki prinsip seperti ini. Banyak juga pasangan yang memiliki perbedaan “mazhab” soal kesalingan ini, Suami yang patriarki beserta keluarganya bisa menjadi mimpi buruk. Tetapi, itulah ladang pertempuran kita. 

Rasa iri melihat pasangan lain yang saling terbuka dan bahu membahu menjalani biduk rumah tangga pasti ada. Tetapi jangan iri atau berkecil hati lantas bertanya pada Allah, “ Ya Allah kok saya dikasih jodoh yang begini sih? gak adil!! “ , karena setiap manusia diberikan ladang pertempuran yang berbeda. Segera ubah sudut pandang kita terhadap konsep pernikahan. Ubah menjadi, pernikahan adalah ladang ibadah. Terkesan toxic optimistic ya? bisa dikatakan begitu, tapi ini realistis. Daripada kamu terus tersiksa dengan harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan? iya kan? lebih baik niatkan dalam hati menikah untuk ibadah.

walaupun suatu pernikahan terlihat baik - baik saja, kita tidak pernah tahu seberat apa masalah yang mereka hadapi. Jadi jangan merasa iri, setiap pernikahan memiliki pertarungannya masing-masing. 

Cara yang terbaik adalah menerima pasangan apa adanya, lengkap dengan segala kebaikan dan kebiasaannya yang absurd. Terkadang ada saja kebiasaan yang jauh berbeda dengan kita, tapi itulah seni nya pernikahan. Indahnya di sana. 

Ketiga, Kendorkan ego dan pahami

Seperti yang saya sebutkan diatas bahwa pernikahan membuat kita dan pasangan berubah dikarenakan perubahan peran. baik kita maupun pasangan sama-sama beradaptasi terhadap peran baru ini. Maka pahamilah bahwa segala macam pertengkaran, perbedaan pendapat dan situasi yang tidak sesuai harapan merupakan bagian proses adaptasi.

Hanya dengan memahami hal ini saja kita tidak akan lagi merasa terjebak dalam unhappy marriage dan merasa kena prank. 

Bagaimana kalau pasangan malas bekerja dan mencari nafkah? dukung dia. Maksudnya? pasti ada alasan mengapa dia malas dan enggan mencari nafkah. Gali akar permasalahannya dan berikan solusi.  Kok rasanya aneh ya? harusnya kan suami gitu lho yang sadar diri buat cari nafkah dan bukannya sebaliknya! hahaha. Yah, sayangnya begitulah kondisi kita. Itulah ladang pertempuran kita. 

Tapi sebelum memulai, siapkan dulu stok sabar dan ikhlas ya. Menerima suami sedang berada dalam situasi seperti itu pasti gak akan mudah. apalagi kalau kita berpikir, buat apa susah susah mikirin itu? toh itu tanggung jawab suami! dia peduli sama aku aja gak! 

Iya sih, tapi kalau suami gak kerja terus kita sendiri gak kerja lha mau ngasih makan anak - anak gimana? oke, aku yang kerja! oh jangan! jangan bebani diri sendiri dengan prinsip seperti ini. Bukan hanya lelah fisik dan juga hati karena terus memendam rasa kecewa pada suami dan terus merasa menjadi single fighter. 

satu hal yang saya pahami dalam pernikahan adalah, para suami memiliki ego lebih atas kekuasaan dan harga diri. Dan ego itu terletak pada uang dan otoritas. Ya ya tidak semua suami begitu tapi mostly ya.

Jadi jangan lukai harga dirinya dengan merendahkan dan berkata kasar pada suami seperti, “ suami tiada guna” atau “ suami pemalas” atau “ suami gak bertanggung jawab “ . Percayalah, dalam hatinya pasti ada rasa bersalah saat tidak mampu memberikan yang layak pada keluarganya. Ada hati yang terluka disana. Jadi, dukunglah dia dengan tetap bersabar, ikhlas dan tersenyum. Klise ya? hahaha, memang! emang ada solusi lain?

Gimana cara mendukungnya? bisa kita arahkan dengan menawarkan pekerjaan atau bisnis yang pasangan sukai. Misal, hobinya burung nih… arahkan untuk bisnis burung. Saya dengar lumayan lho omsetnya. Atau hobinya main game, arahkan bikin warnet game atau jadi gamers yang berpenghasilan. Atau hobinya main bulu tangkis, arahkan untuk buka bisnis peralatan bulu tangkis dan olahraga lainnya. 

Kami gak punya modal dan gak punya jaminan? mintalah sama Allah. Kalau kita sudah berniat membantu suami, insya allah pasti dikasih jalan sama Allah. 

Tapi gimana nih, kalau suami bukan tipe orang yang mau dikasih masukan dan menolak mentah - mentah masukan solusi dari kita? gampang - gampang susah memang, tapi biasanya pasangan memang gengsi diberi masukan dan merasa apa yang dijalani adalah pilihan yang tepat. Gak masalah, terus aja kasih masukan karena informasi dari kita sebetulnya dia simpan dan dipertimbangkan, Cuman responnya aja yang terlihat seperti yang menolak, hihihi

Disinilah peran kendorkan ego dan pahami sangat diperlukan. Bukan hanya soal finansial, tapi juga saat kita menuntut lebih perhatian pada pasangan. Ingat bahwa pasangan juga menginginkan hal yang sama dari kita. Bukan hanya kita. Pahami hal ini dan mulai perhatikan kebutuhan batin pasangan. Insya Allah, hubungan dengan pasangan akan membaik. 

Keempat, Jadikan pernikahan sebagai ladang ibadah

Saat kita sudah berusaha dan melakukan segala cara untuk mempertahankan identitas diri dalam pernikahan dan mempertahankan pernikahan itu sendiri tapi masih tidak membuahkan hasil, maka ubah mindset kita menjadi “ jadikan pernikahan sebagai ladang ibadah”

mengapa? karena akhirnya saya menyadari bahwa, mengapa Rasulullah S.A.W  mengatakan bahwa menikahlah karena ibadah karena memang ladang ibadahnya banyak banget. Mulai dari melayani suami, mengurus rumah tangga dan juga anak - anak. Belum termasuk kepada orangtua kandung dan mertua. Tapi ujiannya juga banyak. Tapi setimpal lah dengan nilai pahalanya. 

kalau sudah mengubah mindset, ujungnya jadi nothing to lose dan Allah pasti kasih jalan yang terbaik untuk kita. Tapi bukan berarti lantas hanya pasrah saja tanpa usaha. semua point di atas bisa dijalankan sembari tetap pasrah dan tawakal. 

Kelima, cari cara komunikasi yang unik dengan pasangan

Setelah keempat poin diatas kita coba praktekan, saya yakin outputnya hati kita akan lebih lega dan plong. Sehingga kita bisa mencari solusi cara berkomunikasi yang unik sesuai dengan karakter pasangan. Misal, komunikasi sambil bercanda tapi menyimpan pesan yang cukup penting. Kita bisa lebih mencari lagi alternatif cara berkomunikasi jika hati dan pikiran kita sudah tidak penuh dengan emosi atau rasa kecewa lagi. percayalah. 

Semua point di atas menurut saya berkesinambungan dan tidak bisa hanya dilakukan satu poin saja. Karena akar permasalahan yang ada dalam diri kita yang harus di hempaskan dan diselesaikan terlebih dahulu, setelah itu baru bisa tidak berharap lebih kemudian mengendorkan ego dan memahami pasangan dan akhirnya mengubah mindset pernikahan menjadi ladang ibadah dan endingnya bisa berkomunikasi dengan lancar dengan pasangan.

Satu tips terakhir yang sangat penting, yaitu bersyukur. Bersyukurlah memiliki pasangan yang diberikan Allah yang lengkap dengan segala kebaikan dan kekurangannya.Bukankah dengan bersyukur maka Allah akan menambah nikmat dalam hidup kita? tentu mau dong. Jadi, jangan lupa bersyukur ya.

Karena biasanya orang yang kena prank, walau awalnya dongkol ujungnya pasti tertawa lucu kan? mirip dengan kebiasaan Kilan Si Bungsu yang sering nge-prank saya pura-pura nangis, tentu saya kaget, setelah saya kaget tiba-tiba dia buka tangan dan mata dia lalu berkata, " iiihhh mamah kena prank! hahaha !! "

aplikasi halodoc
Ilustrasi oleh artjoka

 

menjadi gemuk


Menjadi Gemuk dan Bahagia, Benarkah? : Tanos Drink Water Challenge Journal : Day 3


Its sooo late post, beneran! Tapi gpp ya yang penting setor, eeaaa. Kali ini saya mau bahas soal dilema berkepanjang selama masa pandemi, yaitu kenaikan berat badan yang gak tangung - tanggung mencapai 5 kg! dahsyat ya!

Apa sih yang membuat berat badan saya melambung tinggi ke angkasa gini? sudah barang tentu pola makan dan pola tidur yang tidak benar. Katakanlah, hobi bergadang dan makan seenak jidat. apa aja dilahap, termasuk sang raja gorengan dan mie instan. Porsi makan pun gak masuk akal, bahkan pasangan saya bilang porsi makan saya udah layaknya monster yang kelaparan. hadeeuuuh.

Sedih gak sih? iya sedih, terlebih begitu pasangan beliin saya celana baru eh ternyata gak muat dong! wkwkwk. Terpaksa lah dibalikin lagi ke tokonya dan ganti dengan size 36! Subhanallah.

Bahagiakan saya menjadi gemuk  

Bahagiakan saya menjadi gemuk dan santay? jawabannya adalah iya. Lho kok bisa? memang, saya sempat kalang kabut begitu ketemu jadwal suntik KB karena pasti ketemu sama yang namanya timbangan berat badan. Udah deh, nimbang badan sembari tutup mata! dan bener aja, begitu liat angka kaann saya syok! hahahaha. akhirnya, ya udah lah ya....saya terima aja deh diri ini menjadi gemuk bahkan sering djadiin samsak permainan smekdown anak-anak karena dibilang badan emak asoy buat jadi samsak, hadeuuh.

Beruntung saya punya pasangan yang gak begitu peduli apakah saya menjadi gemuk atau kurus, selama saya baik hati dan tidak sombong sih dia asoy aja. Walau kadang suka nyemprit juga sih nyuruh zumba atau olahraga, tapi bukan ke nurunin berat badan melainkan biar tetap sehat dan fit. 

Dan ya, saya bahagia dengan kegemukan saya saat ini. Bahagia itu kan datang dari diri sendiri yang menerima keadaan diri sendiri. Jadi stress no more sih. Tapi, bukan berarti gemuk ini saya biarkan tanpa batas ya. Tetep ada koridornya dong, kalo gak nanti kebablasan dan kesehatan yang jadi taruhannya. Betul?

Kesehatan tetep nomer satu, karena bahagia juga kalo sakit ujung-ujungnya kan gak bahagia dan malah meriwehkeun orang sekitar. jadi, kalo berat badan saya akhirnya menjadi 66kg udah deh stop! harus ditakar lagi porsi makan, kurangi garam dan gula dan sebisa mungkin kurangi tuh beli beli thai tea! Dan tentu saja jangan berhenti minum air putih at least 2 liter sehari buat buang toxic dan lemak di tubuh.

Dan di hari ketiga Tanos drink water challenge ini saya bolos minum 2 gelas! bravo! nakal aku yaa...hihihi. Inilah cerita saya di hari ketiga, apa kabar cerita kak Renovrainbow yaaa??


Tanos drink water challenge
Tanos drink water day 3


Apa Kabar nih para pejuang Tanos hari ini?


Halo partner ku kak Renovrainbow, gimana cerita tantangan Tanos drink water challenge hari kedua? pasti seru ya. Pengalaman dari para pejuang Tanos lainnya juga seru - seru. 


Tanos
Report TDWC Day 3 para peserta

Buat teman - teman yang penasaran dengan perjalanan para pejuang Tanos selama mengikuti challenge ini, silahkan kepo - kepo instagram saya dan kak Renovrainbow ya. 




Melepas Impian demi anak, Bukan Akhir dari Segalanya

Banyak hal yang kita korbankan, sebagai seorang ibu untuk anak-anak kita. Jangan tanya soal waktu dan tenaga, itu sudah pasti. Yang terberat dari semua itu adalah, meninggalkan impian.

 

Menjadi  seorang Arsitektur Lanskap adalah impian saya. Dan dengan terpaksa saya Melepas Impian saya itu layaknya menerbangkan burung merpati, lepas bebas di angkasa. Sedih rasanya, sesak di dada dan membuat saya kehilangan harapan dan semangat. Tapi, saya tidak punya pilihan. 

 

Cerita Awal

 

Tahun 2009, saya memutuskan untuk meneruskan kuliah saya ke jenjang S1 ( dulu lulus DIII ) dan ambil jurusan Arsitektur lanskap. Bukan keputusan mudah untuk kuliah lagi di saat usia saya hampir mendekati 30-an. 

 

Masalah biaya, teman kuliah yang usianya terpaut jauh serta waktu yang harus saya atur agar masih bisa bekerja. Untungya, para dosen sangat mendukung dan berbaik hati mau mengatur jadwal kuliah agar saya masih bisa kuliah sambil bekerja.

 

Tapi, dengan semakin padatnya mata kuliah dan kuliah lapangan. Akhirnya saya harus memilih, antara meninggalkan pekerjaan atau berhenti kuliah. Dilema yang terasa sangat berat, sungguh.

 

Karena di satu sisi, saya masih membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi hidup saya yag sudah tidak bisa lagi bergantung pada ibu saya. Tapi di sisi lain, akhirnya saya menemukan impian dan karir yang ingin saya capai. Yaitu menjadi seorang Arsitektur Lanskap.

 

Bersyukur saya bertemu Dosen yang luar biasa baik hati . Beliau rela merogoh koceknya untuk membiayai kuliah saya satu semester dan mengijinkan saya bekerja dengannya. Menjadi drafter dan assisten dosen. Bahkan, masa depan karir saya sudah beliau rancang sedemikian rupa sehingga saya tidak perlu lagi mengkhawatirkan lapangan pekerjaan setelah lulus kuliah. Saya sangat bersyukur.

 

Lalau Dua tahun kuliah, saya bertemu jodoh saya dan menikah.  Saya tetap kuliah dan Pak Suami mendukung 100%. Dua tahun kemudian saya hamil anak pertama saya, Keenan.

 

Selama hamil, saya ajak Keenan jadi pinter. Karena saya harus sidang skripsi. Saya ajak bimbingan dan  bolak-balik ke tempat penelitian. Rempong gak sih? Iya, banget! Tapi alhamdulillah Paksu selalu setia menemani jadi babang ojeg kemanapun saya  menuju.

 

Ada kejadian lucu  tapi sebetulnya naas  selama masa bimbingan ini. Jadi, waktu itu musim hujan. setiap pulang bimbingan pasti keujanan. Jas hujan selalu siap sedia. Tapi sayangnya waktu itu  hujannya gede banget, udah kaya badai aja. Dan malangnya, perempatan GedeBage, banjir.

 

Akibatnya, motor kami mogok dan terpaksa Paksu mendorong motor melewati batas banjir yang sampai  selutut itu dari perempatan hingga pasar GedeBage. Saya ngikutin dari belakang sambil komat-kamit baca solawat karena takut terpeleset. Saya takut si calon jabang bayi di perut saya yang sudah memasuki usia 8 bulan ini kenapa – napa . Karena saya jalannya sangat lamban dan hati-hati, saya tertinggal cukup jauh dari Paksu dan berusaha mengejar Paksu. Ditengah jalan, tiba-tiba saya terjatuh dan terperosok! Masuk got! Gak keliatan karena tertutup banjir.

 

Semua orang berusaha menolong saya yang berusaha bangkit sambil menangis. Saya gak bisa lihat dimana Suami saya dan saya takut si utun kenapa napa. Seorang bapak-bapak lantas bertanya,

 

Bu, gak apa-apa? Dimana suami ibu? “ tanyanya,

 

Suami saya? Eng ...eng..dimana ya pak suami saya? “ tanya saya balik bertanya sambil menangis.

 

Si Bapak malah bingung dan membantu saya berjalan sampai jalan raya yang tidak tergenang banjir.  Di ujung jalan, tiba-tiba saya melihat sosok suami saya dan berlari  layaknya scene film AADC. Sambil menangis saya teriak,

 

Babah.... Babaaahhh!! “ teriak saya. Paksu kaget melihat saya dan bertanya,

 

Ndaa tadi kemana? Aku nyariin!! Aku takut kamu kenapa – napa! Gpp kan? Kok nangis? “ tanyanya khawatir

 

Tadi aku jatuh ke solokan. Gak keliatan! Aku takut! “ jawabku masih sambil nangis.

Ya Allah! Maafin aku ya ninggalin kamu. Maafin aku belum bisa beliin kita mobil! Maafin yaa.... udah jangan nangis lagi “ jawabnya sambil meluk saya erat-erat.

 

Akhirnya kami pulang, sambil mendorong motor sampai rumah yang jaraknya hampir 5 KM!  Hari itu sungguh luar biasa naas, tapi lucu kalo dipikir – pikir!

 

Kalo mengingat moment itu, sungguh luar biasa perjuangan saya yang tetap meneruskan kuliah sambil hamil besar.

 

Melahirkan Keenan

 

Malam itu saya resah. Perut saya tak enak dan saya sulit tidur karena saya merasakan mules yang tiada henti. Ibu saya bilang saya akan segera melahirkan. Lalu esoknya kami ke bidan. Dan setelah di cek, saya sudah pembukaan satu. Lalu kami pulang dan menunggu di rumah. 

Pukul 10 pagi, saya merasakan mules yang semakin hebat. Tidak kuat rasanya sampai meminta Paksu mengantar saya ke bidan dan menunggu disana sampai saya melahirkan. Dengan gerak cepat Paksu ambil motor dan antar saya ke bidan. 

Lucunya, ditengah jalan sedang ada razia motor. Kami yang naik motor tanpa mengenakan helm, sudah pasti di stop Pak Polisi. 

Selamat siang pak, maaf bapak saya tilang karena tidak menggunakan helm! “ sapa pak polisi, 

Aduh pak! Maaf istri saya ini mau melahirkan! “ jawab Paksu teriak 

Ooohh... aduuuh... baiklah pak! Maaf kalau begitu, ayo cepat segera ke rumah sakit. Hati-hati dijalan ya Pak “ jawab pak polisi yang malah jadi panik dan bingung!  Dan kami pun tidak  jadi ditilang dan kami sampai di bidan dengan selamat, Hehehehe. 

Setelah menunggu hampir 12 jam, pembukaan tetap di angka satu. Gak naik-naik. Bidan akhirnya memutuskan menggunakan induksi agar pembukaan saya cepat naiknya. 

Iya sih jadi cepet naik kaya roket, saking cepetnya saya gak bisa nahan itu rasa mules sampai terus nangis dan meringis. 

Enam jam kemudian akhirnya saya pembukaan 10 dan siap melahirkan. Rasanya? Sakit banget buuu!! Sampai saya ga tahan dan teriak kaya orang gila. Padahal udah komat kamit baca doa dan solawat. Tapi tetep saya gak kuat nahannya. Sampai-sampai pak suami abis babak belur badan sama kepalanya saya cubit , cakar dan jambak rambutnya! Huhuhu, maafkan aku Paksu. 

Alhamdulillah, keenan lahir dengan selamat dan sehat sempurna. Rasanya? Bahagia sekali. Dan gak nyangka. Tapi sayangnya, saya mengalami Ruptur stadium empat yaitu tingkatan tertinggi dalam ruptur perineum setelah melahirkan. 

Robekan ini memanjang hingga ke dinding rektum, dimana jalan lahir sobek parah hingga anus yang berpotensi menyebabkan disfungsi dasar panggul dan saluran pencernaan. Hingga akhirnya bidan menyerah dan membawa saya ke rumah sakit dan saya di operasi bius total. 

Alhamdulillah proses operasi lancar. Tapi tidak dengan proses pembayaran operasi. Total biaya operasi memakan uang hingga 15juta! 

Suami saya sampai syok dan menangis di depan saya setelah saya siuman. Kami tidak punya tabungan sebanyak itu. Kami hanya menyiapkan dana 5 juta saja untuk persalinan. Itupun sudah habis untuk biaya persalinan di bidan. 

Ingin saya memohon bantuan pada ibu, tapi tiba – tiba saya ingat kalau beliau masih menanggung biaya kuliah adik bungsu saya. Lalu saya ingat ayah saya, saya coba telpon beliau tapi sayangnya setelah setengah jam menelpon, panggilan saya tidak dijawab. Orang tua saya sudah bercerai, sehingga suasana ini makin membuat hati saya sedih dan merana. 

Saya tertegun diam dan berfikir segalam macam alternatif solusi. Hingga akhirnya saya memutuskan suatu hal yang saya tau saya akan merasa sangat terpukul dan sedih teramat sangat karenanya. 

Saya lihat, Paksu juga berusaha menelpon kesana dan kemari mencari pinjaman. Tapi sepertinya gagal. Karena beliau datang menghampiri saya dengan wajah sendu. Melihat Paksu begitu kebingungan, akhirnya saya angkat bicara , 

Bah, pake aja uang buat sidang dan wisuda aku “ ucap saya 

Hah? Apa ndaa? Pake uang kuliah ndaa? “ jawab paksu terperangah kaget, 

iyaa..... “ jawabku sambil nangis, 

Tapi ndaa.... “ jawabnya getir 

Gak apa-apa Bah, aku ikhlas “ jawabku berusaha nahan tangisan. 

Lalu kami saling memandang dan berpelukan. Ya Allah, sesungguhnya aku sedih dan bingung. Tapi, kami tak punya pilihan.

Keputusan Akhir


Akhirnya, inilah moment dimana saya harus melepas impian terbesar saya demi kesembuhan saya setelah melahirkan keenan, anak pertama kami. Saya sedih? Tentu. Kecewa? Tidak. 

Pada akhirnya saya merasa, menjadi Arsitektur Lanskap mungkin bukan jodoh saya. Mungkin Allah hendak mengantarkan saya menuju impian lain dan menyiapkan saya untuk rencanaNYA yang lebih besar. Wallahualam. 

Terkadang saya merana, setiap kali Dosen yang baik hati itu menelpon atau watsapp menanyakan kabar saya dan menyemangati saya untuk meneruskan kuliah. Tapi dengan berat hati saya selalu menolak dengan alasan anak saya tidak ada yang menjaga. Padahal, sesungguhnya bukan itu alasannya. 

Ingin rasanya meneruskan kembali, tapi situasi finansial kami masih belum stabil. Usaha Paksu juga masih dirintis sementara kebutuhan bayi dan rumah tangga selalu meminta tiada henti setiap hari. 

Akhirnya, saya ikhlaskan dan melepas Impian saya. 

Tapi, Allah itu memang Maha Baik dan Penyayang. Seiring berjalannya waktu , akhirnya saya menemukan impian baru. Menjadi illustrator dan Menulis. 

Iya, saya tetap meneruskan hobi menggambar saya hingga berbuah manis yaitu di pinang saah satu clothing di Bandung dan menjadi illustrator mereka selama hampir 5 tahun terakhir. 

Saya juga kembali menekuni hobi saya yang lain yaitu menulis di Blog dan memutuskan untuk menjadi Blogger. Akhirnya, disinilah passion saya tertambat dan berlabuh. Entah ada rencana besar apa yang Allah siapkan untuk saya di impian baru saya ini. Apapun itu, saya tetap bersyukur. Karena melalui menulis, saya bertemu banyak relasi dan kawan baru yang saling support dan menyemangati. Dan yang paling utama, saling menguatkan dan menginspirasi. Untuk yang satu ini, saya tidak bisa berhenti bersyukur. Terimakasih Ya Allah. 

Terkadang, rencana yang sedemikian dirancang degan sempurna pada akhirnya bisa ambyar dan tidak tercapai. Terkesan tidak adil memang, tapi rencaa Allah lebih besar dan hebat dari rencana kita manusia. Jadi, tidak apa akhirnya saya tidak menjadi Arsitektur Lanskap. Karena sekarang saya menjadi “arsitektur” masa depan anak-anak saya. 

END

-----------------------------------------

Tulisan ini memenangkan juara pertama dalam sayembara menulis Paidguestpost#1 bertema THOUGHT yang diselengarakan oleh pemilik blog CREAMENO 







#jurnalkilan

Senin, 24 Agustus 2020
23.08 WIB



Pagi ini Kilan bangun dengan tangisan manjaaaaah khas toddler yang mau menuju usia 4 tahun. Guess what? merengek? TENTU saja! hihihi. Dan seperti biasa, do'i minta gendong. What??? iya, dia udah mau usia 4 tahun tapi masih pengen di eyong terus. Apalagi kalo lagi tantrum! Rupa - rupanya anxiety separation dia cukup hebat kalo di banding kakaknya. Yo wis lah, gpp. Toh Gak selamanya kan saya akan gendong dia terus?? hehehe (( menghibur diri ))

Setelah saya ajak dia belanja di warung Teh Neng, saya rayu dia agar turun dari gendongan dengan senjata andalan saya, SUSU KUDA dan Channel yutub-nya si Diwan! hahaha (^▿^)

Haahh! ibuh macam apa akuh inih yaaahh??? wkwkwkwk (>‿◠)✌

Yah, mau gimana lagi...Paksu lagi ke rumah sakit ngurus pendaftaran untuk Bapak mertua yang harus kontrol hari ini. Jadi, yutub adalah penyelamat saya pagi ini.

Lalu saya kembali ke Dapur yang hanya berjarak 2 meter dari ruang tamu. Mulai memasak Semur Ati ayam untuk anak - anak dan Sayur Tahu sabe ijo buat Paksu. Pas lagi asyiknya saya masak ditemenin lagu blekping, be te es, gidel dkk ..... e e e ehhh Kilan rewel dong minta pake celana yang dia pake kotor - kotoran kemarin, yaitu celana kakaknya. 

Hadeeuuuh, saya tepok jidat sembari ngelus dada mencoba sabar-sabarin diri sendiri. Soalnya, itu celana baru aja saya cuci kemarin sore dan masih menggantung di jemuran. Masih setengah basah!! Tapi dia terus merengek minta celana itu walau agak basah juga. 

Usut punya usut ternyata dia mau bermain jadi Parkour vs Joker, channel nya Thunderbird. Iya, dia suka banget sama video itu. Dia suka loncat - loncat kaya kijang kesana kemarin menirukan gaya para parkour di video itu! seneng sih saya, dengan begitu motorik kasar dia ke asah. Untuk yang satu ini, saya tidak khawatir lagi. Karena untuk anak se usia Kilan, dia tuh termasuk di bawah rata-rata untuk Berat badan. Badanya terlihat kurus seperti yang kurang gizi ( saya pernah dikatain gitu sama bidan di puskesmas, sebe deh ). Sempet khawatir Kilan stunting. Tapi, tinggi badan dia masuk kategori rata-rata dan dia aktif juga ceria. 

Mungkin, badan dia yang ramping menurun dari babahnya. Waktu kecil babahnya juga kecil dan ramping mirip Kilan.

Back to the story soal celana, Jadi dengan terpaksa saya setrika celana kakaknya itu basah - basah. Mau gimana lagi? yang penting dia seneng dan saya bisa masak lagi walau agak bete karena lagi hot masak tadi.

Pagi itu, Kilan sepenuhnya ceria setelah pake celana kakaknya dan loncat sana dan sini persis kutu loncat. ckckck...

Siang hari,
saya ajak Kilan nemenin kakaknya main layangan. Sementara dia sendiri berpetualang jadi Si Bolang, nongkrong depan Balong sambil lemparin batu dan ngumpulin "fosil" keong. Di temani si kiki, dia kumpulin cangkang keong satu per satu sambil di hitung. lalu tiba - tiba dia nyeletuk dong,





" Wah...cuaca cerah ya " ucap dia sambil senyum - senyum,

Sontak saya ketawa terbahak - bahak! Lucu banget denger dia ngomong begitu. lalu saya tanya, 

" Kilan tau dari mana kalimat itu? "
" Ituuu maah, si bebibas suka ngomong gitu " jawabnya sambil monyong - monyong,

Ya Ampuuun, beneran anak yutub ya! wkwkwkwk

Lalu sore hari tiba dan setelah saya selesai dengan urusan tikus yang kembali merajalela di rumah saya dan ibu mertua, saya mandi dan solat magrib. Kilan udah mandi duluan, begitu juga kakaknya. Lalu gak  lama ayahnya pulang dan kami family time seperti biasa. Ngapain aja? Yahhh you know-lah permainan anak laki-laki kaya gimana?....naik punggung ayahnya lalu gantian punggung saya sampai...duhhhh pundak sakit nih. Terus main gitar - gitar-an dan main adu jotos. 

Saya sebagai perempuan satu-satunya di rumah ini (selain ibu mertua) merasa sangat tertindas sodara-sodara. Kadang pengen gitu, family time nya tenang.....baca buku, nonton channel discovery atau kartun upin - ipin. Tapi itu hanya khayalan, karena baru baca buku sebentar......drama rebutan buku di mulai, lalu pindah ke drama rebutan nonton channel youtube....lalu pindah rebutan mainan .....eeeaaaaa.....bayangan family time pun buyar seketika! wkwkwkwk

Tetapi, malam ini saya terselamatkan! oleh panggilan ibu mertua. Serta merta saya menuju rumah Ibu mertua yang jaraknya? gak berjarak, karena rumah kami nempel! hahahaha (^▿^) selesai dengan percakapan ibu mertua, saya rebahan di kamar paksu waktu masih bujang yang sekarang jadi studio foto produk @bekasbagus__ 


Gak lama kemudian Kilan nyusul sambil teriak gordes alias gorowok desa ( teriak kencang ) manggil emaknya. Lalu masuk kamar dan liat saya rebahan kaya ikan paus, dia pun ikutan rebahan sambil memboyong bantal - guling - selimut miliknya sendiri.


Lalu, tiba-tiba dia cerita,

atau lebih tepatnya mendongeng tentang Serigala yang sangat takut dengan api unggun.  Terus dia cerita lagi soal dia yang udah besar sekarang dan bla bla bla....cerita tiada henti dengan api semangat berkobar sampai bikin saya ketawa terpingkal - pingkal.

Jadi, yang cerita sebelum tidur bukan saya tapi sebaliknya! hahahaha

Jadi terbesit sebuah ide brilian. Cerita kilan, mungkin akan saya jadikan cerita buku anak, karena memang cerita dia karangan dia sendiri. Saya bersyukur Kilan se-imajinatif itu. 

Tapi untuk membuat sebuah buku cerita anak, berproses kali ya. Ngumpulin dulu ilustrasi nya. Untungnya, cerita kilan tadi saya rekam pake hp. jadi saya akan ingat selalu cerita, suara dan gaya dia berbicara. 

Membuat buku cerita anak sebetulnya bukan hal baru buat saya. Sudah lama sekali saya ingin membuatnya. Tapi setiap memulai membuat cerita, selalu buntu dan kesulitan memulai. Bertanya pada Kang Iwok Abqary pun sudah saya lakukan.

Mungkin, saya masih membutuhkan semedi dan tekad serta  niat yang serius untuk  menggarap buku cerita anak ini. Mengapa harus buku cerita anak? karena saya suka menggambar dan awalnya sih ingin buku cerita anak ini saya wariskan buat anak-anak saya. hihihi... so sweet gak sih? 

Anak, terkadang memberi kita banyak inspirasi. Nampaknya, saya harus rajin bawa jaring biar ide nya gak kabur dan saya tampung. 




Halo Orang Baper-an

Pernah gak sih, kamu mengalami hari yang ambyar dimana semua itu di akibatkan hal sepele yang terjadi dipagi hari ?

Kalo iya, wah sama dong.

Iya sama - sama suka rudet dengan hal sepele terus kadang di bawa pikiran sampai berhari-hari, kalau sudah begini suka kaya yang depresi gitu. 

Kalo Jawaban kamu GAK! Yakin nih gak? Hihihi. Coba cek yuk apakah kamu termasuk orang yang baper-an atau gak

Tanda kamu termasuk orang Baper
  • Apakah kamu intuitif dan memikirkan sesuatu sampai detail hingga membutuhkan waktu lebih lama untuk memutuskan sesuatu?
  • Apakah kamu sering merespon cepat secara emosinal akan sesuatu hal? baik itu respon positif maupun negatif.
  • Apakah kamu seorang dengan empati tinggi dan sering mengalami emosi yang intens? misal ketika orang lain sedih, kamu cepat merasa hanyut dalam suasana sedih
  • Apakah merasa sensitif terhadap lingkungan kamu? Misal bau, suara bising, atau bahkan nada bicara tinggi, cahaya yang terlalu terang, yang orang lain tidak menganggap itu sebagai masalah

Oke cukup! Sudah dijawab dengan jujur?

Kalo jawaban kamu kebanyakan adalah YA, maka kamu satu tim dengan saya. Welcome to the clubnya manusia dengan tingkat BAPER level dewa, wehehe.

Ada istilah keren dalam psikologis untuk kondisi ini, namanya HSPS alias Highly Sensitive Person (HSP). Istilah ini pertama kali  dikemukakan oleh Dr. Elaine Aron dalam bukunya yang berjudul The Highly Sensitive Person (1997) yaitu studi tentang sensory-processing sensitivity,  dimana HSP di definisikan sebagai :
Orang yang memiliki kesadaran terhadap hal-hal kecil di sekelilingnya dan lebih mudah merasa kewalahan ketika berada di lingkungan yang sangat menstimulasi inderanya.
Apakah ini sesuatu hal yang buruk? TIDAK! semua balik lagi ke kamu. Coba jawab lagi pertanyaan berikut : 

1.    Nyaman gak kalau selalu merasa mudah jatuh saat di kritik ? 
2.    Nyaman gak kalau selalu merasa mudah sedih ? 
3.    Nyaman gak kalau selalu punya hari buruk cuman gara-gara kamu fast respon yang cenderung emosi negatif terhadap suatu peristiwa yang kurang menyenangkan?

Kalau jawabannya adalah TIDAK NYAMAN, ya ubah dong. Se sederhana itu kok. MEMANG BISA? Tentu bisa! batu yang keras aja bisa jadi berlubang kalau di tetesin air terus – menerus , masa kamu gak. iya kan? hehe

Cara Agar Gak Baper 

Jadi orang Baper-an itu, It’s not a bad thing sebetulnya, kebiasaanmu yang suka detail dan penuh dengan kreatifitas serta daya imaginasi tinggi, hal itu  bagus dalam menghasilkan karya yang gak biasa yang bahkan orang lain gak akan kepikiran.

Tapi kalo interval feeling nya kuat dan sering terjadi terus sampai menganggu aktivitas, Hal ini bisa menjadi ancaman bagi  kesehatan mental kamu sendiri. cape kan?
Jadi, wahai hati yang keras dan rasa takut yang terlalu erat merangkul jiwa, yuk  paksakan diri untuk keluar dari cangkang dan hirup udara segar. Kasihanilah dirimu yang sudah sedemikian ringkih menahan beban berat emosi dan psikologis ini berlama-lama, terlalu lama sampai berakar dan beranak pinak. 
Kekurangan dari jadi orang baper-an itu adalah kalo terlalu ekstrim bapernya, bisa  berpengaruh pada hidup orang lain. apalagi buat kamu yang sudah menikah harus berhati-hati, karena bisa berpengaruh terhadap keharmonisan berumah tangga.


Gak percaya? Nih curhatan saya soal sisi buruk dari jadi orang BAPER-an

Di suatu pagi yang biasa saja,  saya bangun tidur terus mikir segudang rencana yang akan dilakukan hari itu. Saat saya sedag melamun, tiba-tiba Pak Suami bertanya ,

Mah, ikan tongkol udah di ambil belum di warung teh neng? "  tanya Pak Suami,
Belum, aku ambil abis solat ya " jawab saya sambil berkata dalam hati, Ya Allah! aku lupa!!

"Ok" Jawab Pak Suami

Sehabis solat saya bergegas ke warung Teh Neng lalu ambil ikan tongkol nya. 

Semua jadi berapa Teh Neng" tanya saya,

80 ribu teh " jawab Teh Neng, 

HAH? Eh Busyet!! 80 ribu!!! kok jadi mahal banget?

Wah mahal ya tongkolnya teh?  " tanya saya getir,

Teteh pesennya Kan 1 kilo teh " jawab Teh Neng,

MASYA ALLAH!!!!! saya mau bikin abon atau mau dagang abon? Saya salah pesen! Harusnya seperempat kilo aja. itu juga cukup buat ngisi 1 toples! Hah! bete gue! aslinya! Lalu saya pulang sambil berjalan terhuyung dan rasa lapar yang tiba-tiba hilang.

Bah, uangnya kurang " ucap saya pada Pak Suami,

"Hah, kurang? emang berapaeun semuanya? ' tanya Pak Suami keheran, 

80 ribu! "jawab saya sambil agak pelan ngomongnya, 

Hah??? Astagfirulloh!!! yang bener Mah?? gak salah? beli berapa banyak? " wah Pak Suami marah nih, 

1 kilo " jawab saya sambil nunduk, 

Ya Allah. Mamah ngelamun ya??? kan aku udah bilang jangan banyak-banyak dulu. dikit aja" ucap Pak Suami dengan nada kesal,

Iya, maaf Bah " Jawab saya agak bete

End of conversation.

Lalu kami pun sarapan bareng walau saya tak ada nafsu makan. Lantas, saya sudahi sarapan yang tak berselera dan bergegas mengerjakan kerjaan domestik biar mood agak enakan. Rumah kinclong mood baikan, pengennya gitu. Tapi abis beberes kelar, nih mood masih aja buruk.

Masalahnya, dalam hati saya merasa dan berfikir, 

Duh Pak Suami jahat! lebih mikirin duit ketimbang perasaan aku!!  ini kan bukan masalah besar. uangnya gak ilang, ikannya ada! cuman lebih banyak aja. Tinggal di bikin. Kenapa harus marah begitu? Kaya yang aku ini ngelakuin kejahatan besar gitu! sebe! " . 

Kemurungan dan bad mood saya makin menjadi-jadi. rasanya jadi pengen kabur dan lari .

Tapi tiba-tiba saya ingat, kejadian kaya gini udah sering terjadi berulang kali. beda cerita tapi ujungnya sama. Biasanya kalo udah gini, hari saya bakalan buruk sepanjang hari sampai menjelang tidur malam harinya. akibatnya, masalah suka beresonansi sampai berhari-hari. Duh, saya cape ngadepin hal kaya gini.

Lalu saya mandi dan sambil mandi saya ngomong sama diri sendiri, 

Oh Eka sayang, udahlah. jangan cemberut aja. ini bukan masalah gede, sayangilah harimu yang indah ini kalau jadi berantakan hanya karena perasaan kamu. "

Pahamilah suami-mu, dia lagi rudet sama penjualan gak menentu kaya arah angin selama pandemi ini. Dia bukan mentingin duit dibanding feeling-mu, tapi memang kan ya duit itu penting untuk kelangsungan hidup. Jadi maklumi aja, itu bentuk khawatirnya dia aja. Lain kali jangan lupa-an dan gegabah. ayo semangat lagi atuh!! "

Eh busyet, tetiba mood saya melesat naik ke level terindah, maksudnya jadi jauuuhhhh lebih baik!!! Lalu saya memutuskan pake baju paporit saya, dandan secantik mungkin dan pasang senyum. lalu masak bikin abon sambil dengerin lagu blekping yang baru sambil joged dan nyanyi, 

ha...ha.....ha....yu laik dat??? ..... haw yu laik dat....daradat dat dat dat dat dat"

Alhamdulillah, sisa hari saya berubah menjadi indah dan bahagia. lebay yah, wkwkwk. Tapi ini beneran, karena saya merubah reaksi saya dengan cepat jadi output nya Pak Suami gak lama-lama ngambeknya. Begitu ketemu dia lagi, saya udah cantik dan wangi sambil memasang wajah manis tersenyum, dia juga jadi kesemsem kan ya....hehe. Akhirnya suasana mencair dan terus begitu sampai malam hari tiba. 

Akhirnya saya mengerti, mengubah respon itu kuncinya.

Gak semua pikiran dan prasangka buruk kita itu benar adanya, terkadang memang bisikan dan rayuan maut setan di telinga kita terasa seperti supporting system yang mendukung rasa sedih kita, Padahal kata setan,

Eit.... jangan salah, aku ajak kamu terjerumus pada lembah pertengkaran hebat dengan suami mu! huahahaha " sambil bayangin ketawa jahat setan yaa...biar dramatis wkwk

TANOS CHALLENGE

Sebetulnya, pemahaman saya soal self love ini juga berkat banyak diskusi ngaler ngidul (kesana kemari) seputar menulis di blog dan soal self love sama sahabat saya renovrainbow selama kurang lebih 2 bulan terakhir ini. ditambah saya baca postingan si doi yang ternyata juga suka ngalamin hal kaya saya ini

Ada upaya nyata yang harus kita lakukan agar kita bisa menjadi better person. Salah satunya adalah dengan menantang diri sendiri. kok bisa?

Jika di lihat cerita saya di atas yang tentang tragedi salah beli ikan tongkol? nah itu kan karena saya termasuk orang yang sangat cepat bereaksi  dan sayangnya reaksi  ini negatif dan kejadian yang sama sering berulang.

Ini sangat mengganggu dan saya ingin berubah. Lalu apa langkah konkritnya? Yaitu menantang diri sendiri lewat serangkaian tantangan terkait self love. Apa itu Self love?

Untuk lebih jelasnya, kalian bisa kepo-kepo web tetangga sebelah, eh bukan... blog Renovrainbow karena bulan ini, blog kak renovrainbow akan membahasa soal Self Love.

Tapi kalau kamu penasaran apa itu Self Love, saya bahas sedikit ya. Jadi, menurut psikolog Deborah Khoshaba Psy.D, self love itu adalah : 

Self-love adalah keadaan apresiasi terhadap diri sendiri yang bersifat dinamis, yang tumbuh dari tindakan yang mendukung pertumbuhan fisik, psikologis, dan spiritual kita—tindakan yang membuat kita dewasa (Psychology Today, 2012).
Memahami dan mempraktikkan self-love merupakan hal yang esensial, karena seseorang yang tidak mencintai dirinya sendiri dapat berujung pada self-esteem (harga diri)—penilaian seseorang mengenai dirinya sendiri—yang rendah, terlalu fokus pada pikiran negatif, menyalahkan diri sendiri, melakukan tindakan melukai diri sendiri, dan menunjukkan sikap denial (penyangkalan). 

Oke, udah kebayang kan? Ternyata saya memang kurang mencintai diri sendiri, buktinya kebiasaan saya yang kerap bereaksi  cepat yang negatif terhadap  suatu kejadian yang tidak menyenangkan, berakibat cukup fatal terhadap  kehidupan keseharian saya. Oleh karena itu, saya perlu nih memaksakan diri mempraktekan self love. salah satunya adalah dengan melakukan challenge terkait self  love.

Jadi, saya dan Kak renovrainbow sepakat untuk bekerjasama menguasai dunia! hohoho, Oh bukan, sepakat untuk saling support dan evaluasi pengembangan diri lewat challenge atau tantangan. Dan tantangan ini akan terus berlanjut setiap bulan dan di evaluasi hasilnya, 

1.    Apakah akan kami teruskan atau tidak 
2.    Apakah berdampak postif atau tidak 
3.    Apakah pada akhirnya tantangan ini menjadi bagian dari kebiasaan baru yang positif dalam keseharian kami? 

Tantangan ini kami beri nama TANOS alias TAntangan NaON Sih ??







Seperti namanya, tantangan ini akan berpusat terhadap point pengembangan diri. Seperti tantangan melatih rasa bersyukur setiap hari, tantangan melatih positif  thingking, tantangan melatih empati , memaafkan diri sendiri dan lain sebagainya.

Harapan nya sih, kami bisa menjadi versi the best of me yang jauuh lebih baik dari hari ini dan hidup bahagia dengan mencintai diri sendiri. kenapa?

Karena dengan mencintai diri sendiri, kita akan memiliki pandangan yang positif terhadap hidup yang kita jalani. melalui self love, kita juga bisa melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda dan bahagia dengan hal yang teramat sangat sederhana. 

Jadi seperti apa sih wujud asli tantangan TANOS ini? pantengin terus akun Ig kami ya @renoverainbow dan @efila_ info update TANOS ini pasti akan kami posting di akun instagram kami masing – masing dan juga di Blog.

Jadi, ayo segera paksakan dirimu untuk keluar dari cangkang ke-baper-an lalu melangkah menuju dirimu yang lebih baik dan hidup berbahagia.

Tapi, kalau lagi masak udang, cangkang udang sih jangan dilepas ya, enak tuh di goreng kering. Eehmm yummy, nyam – nyam ( jadi laper kan ya! Hihihi )





Referensi :