Tampilkan postingan dengan label Thought. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thought. Tampilkan semua postingan

slow living jadi rsolusi tahun 2022 ku



Gaya Hidup Slow Living dan Pembukaan Tahun Baru 2022. Udah penghujung tahun nih, udah pasti rempong bikin resolusi dan segala macam. Termasuk saya. Tahun 2002 tentu saya bikin resolusi juga dong.

Tapi tahun 2022 saya gak bikin resolusi yang njelimet atau terkesan kudu terwujud. Saya malah menyebutnya wish list dibanding resolusi. Mengapa?

Karena tahun lalu saya bikin resolusi atas dasar kepongahan saya akan keberhasilan yang dialami sepanjang tahun 2020. Nyatanya, belum sampai garis finish 2021 saya udah digonjang ganjing ujian sejak awal tahun sampai sekarang.

Setelah ujiannya satu per satu terlewati meski dengan terseok-seok dan ngap-ngapan, saya dapat satu pencerahan. Saya ingin mengubah gaya hidup saya yang selama ini saya jalani dengan kecepatan full speed dengan konsep Slow Living. Mengapa? kok banyak tanya mengapa ya, hehehe

Jawabannya sederhana, karena saya sudah menjalani hidup dengan target dan ambisius selama ini. Endingnya, saya jadi kerja keras dan berusaha semaximal mungkin mencapai semua target lantas merasa kecewa saat gagal. Selama proses menjalani dan memenuhi target itu, saya kerja gak tau waktu dan sembrono. Akibatnya, saya jatuh sakit dan hal itu mengubah sudut pandang saya dan pilihan saya merubah gaya hidup.

Dan inilah bagaimana saya menjadikan slow living sebagai pembukaan tahun baru 2022, semoga bermanfaat ya.

Proses Menuju Gaya Hidup Slow Living


1. ODOP ICC Jadi Pembukaan Awal Tahun 2021


Pembukaan tahun baru 2021 diawali dengan bergabungnya saya dengan kegiatan ODOP komunitas emak - emak kece seantero Indonesia yaitu ICC.
Pengalaman yang luar biasa karena bisa mengenal 100 orang peserta dan membaca tulisan mereka. Saya yang gemar menulis ini belajar banyak dari mereka. Ada yang menulis hanya di Instagram saja tapi gaya bahasanya aduhai membuat saya dan ibukafa terpukau. Ada yang rajin banget nulis di blog dan share di semua sosmed. Banyak peserta yang berhasil melewati tantangan 30 hari ODOP ICC, keren lah pokonamah.
Saya sendiri malah hanya kuat ikut beberapa hari aja karena selain menulis juga rekap report dan membaca tulisan peserta. Gak sanggup nulis lagi mah, hehe.

2. Jatuh Sakit, Pembukaan Tengah Tahun Yang Memunculkan Gaya Hidup Slow Living


Saya sudah banyak share tentang sakit saya di blog dan sosmed. Dan ini emang bener - bener ujian berat bagi saya. Sakit yang mulai kambuh sejak bulan April benar - benar memporak-porandakan semua resolusi dan target 2021.
Sejak bulan April hingga sekarang, saya fokus pada proses pengobatan, operasi dan pemulihan yang ternyata membutuhkan waktu lama. Jadi bablas tuh yang namanya target dan resolusi. Gak bisa dikerjain sama sekali.
Sekarang aja nih, ketika saya masih menyusun draft tulisan ini saya masih dalam masa pemulihan. Selang cairan empedu masih nempel di perut dan masih proses pengeluaran cairan kuning dari darah dan jaringan tubuh.
Sakit ini banyak memberi saya pencerahan. Salah satunya adalah lebih melihat ke dalam, ke diri saya sendiri. Betapa saya udah dzalim sama diri sendiri dengan bikin target gak manusiawi menurut saya.
Gak masalah mau bikin target setinggi langit, tapi kalau ekspektasinya berlebihan hanya akan menghasilkan effort yang membabi buta. Karena mengejar hasil akhir, bukan menikmati proses.
Sakit juga membuat saya selalu merasa bersyukur karena dikelilingi teman, sahabat dan orang - orang baik. Alhamdulillah meski saya sakit dan ijin pamit hiatus dari dunia blogger dan komunitas, dukungan terus mengalir. Baik do'a maupun tanda support lain seperti tiba - tiba mengirim donasi ke rekening, parcel dan datang dadakan kerumah.
Mengingat semua itu, Saya gak pernah bisa berhenti bersyukur dan terkadang menangis terharu kalau ingat bahwa, saya gak sendirian melewati ujian ini.
Saya yang kehilangan seorang teman dekat karena perselisihan dan salah paham akibat ego masing - masing, masih diberikan puluhan teman lama dan baru yang tetap mendukung saya.
Ya, siapa yang tidak pernah mengalami konflik bahkan dengan teman dekat sendiri? Semua pasti pernah termasuk saya. Entah karena salah bicara, salah menulis status hingga curhatan di blog atau platform lain. Yang akhirnya menyulut emosi dan membuat pertemanan hancur. Pada akhirnya memang saling meminta maaf, tapi kadung saling kecewa dan patah hati akhirnya menjauh dan tidak berkomunikasi lagi menjadi pilihan terbaik bagi kami. Atau mungkin bagi dia.
Karena saya sih, masih mau berteman karena sudah merasa dekat dan sangat nyaman. Sekarang pun masih sering ingat dan mendoakan kesehatan juga keberhasilan dia. Tapi tidak bagi dia barangkali, sikap dan tindakan saya mungkin sudah terlalu membuat kecewa jadi dia memilih diam and do nothing. And It's oke. Mungkin ini hanya jadi bagian cerita dan penggalan kisah biar hidup lebih rame aja.
Jadi pelajaran? Bisa juga. Tapi saya menganggapnya ini jadi jalan pencerahan aja. Pertemuan kami semoga bisa menjadi batu loncatan bagi dia untuk menemukan passion dia.
Dan jadi pencerahan bagi saya untuk bisa melihat lebih dalam bentuk pertemanan dan bagaimana saya memperlakukan diri saya dan bagaimana kita bekerjasama dengan teman. Bagaimana saya merespon hal yang sebetulnya tidak saya sukai dan setuju hanya karena saya merasa gak enak. 
Dan itu kesalahan yang cukup fatal bagi saya sendiri sehingga karena masalah ini, saya membuat boundaries agar tidak lagi tersakiti karena pertemanan dan kerjasama dengan teman dekat. Seperti apa boundariesnya, baca sampai bawah ya, ada disana spill nya, hehe
Anyway, halo sahabat blogger yang selama ini support saya tiada henti. Terimakasih banyak atas supportnya yang tak terbendung Yaaa. Sahabat blogger yang saya gak bisa sebut satu - satu saking banyaknya. Support semangat yang selalu disematkan di setiap komentar di postingan feed Instagram saya bahkan selalu komen di kolom komentar artikel saya di blog.
Sungguh, kalau bukan karena kalian semua saya gak mungkin bertahan dan tetap ada di jalur blogger sampai sekarang. Karena setelah sakit yang saya alami, saya beneran berniat Hiatus dan meninggalkan dunia blogging.
Sakit juga memberikan saya sudut pandang baru terhadap pola dan gaya hidup saya. Saya yang selalu bekerja layaknya kuda, bekerja dalam kecepatan full speed dan berambisi meraih banyak hal akhirnya tersungkur dan menunduk di pojokan.
Oh, selama ini saya sudah salah dalam menjalani pola hidup. Sekarang, setelah saya mulai pulih 70% saya menyadari, saya harus mengubah pola hidup. Slow living, jadi selebrasi pembukaan tahun baru 2022 bagi saya.

Slow Living, Gaya Hidup Yang Jadi Pembukaan Tahun Baru 2022


Berawal dari rebahan terus pasca operasi selama hampir dua bulan, saya jadi menggandrungi Netflix dan channel youtube. 
Yang paling saya suka adalah serial netflix "marie kondo"  juga menonton youtube nya gitsav, somehow saya jadi menyadari banyak hal dan slow living menjadi hasil akhirnya.
Jadi apa sih slow living? semacam tren gaya hidup yang sedang hype ya? yahh bisa dibilang gitu. Gaya hidup yang jadi tren beriringan dengan konsep hidup minimalis. Tetapi, konsep gaya hidup slow living ini sesungguhnya bukanlah hal yang baru.

Memahami Gaya Hidup Slow Living


Awalnya, gaya hidup slow living muncul di negara Italia pada tahun 1980 - 1990. Konsep gaya hidup Slow living muncul diawali dengan gerakan slow food yang menekankan pada proses tradisional membuat makananan sebagai respon semakin menjamurnya fast food.
Slow Living sendiri mengadaptasi konsep slow food yang artinya menjalani hidup yang seperti makanan yang kita makan, berproses, dimakan perlahan dan dinikmati. Hasil akhirnya memberikan rasa nikmat dan kenyang. Hidup juga demikian.
Dilansir dari popbela(dot)com, seorang penulis In Praise Slowness bernama Carl Honore, menjelaskan bahwa
slow living merupakan revolusi budaya melawan konsep pernyataan bahwa hal- hal yang lebih cepat selalu lebih baik. Konsep slow living bukanlah tentang menjadi berleha-leha dan santai atau bergerak dengan kecepatan lambat. Tetapi bagaimana melakukan segala sesuatu dengan kecepatan yang tepat,efektif dan efisien. Menikmati setiap proses dari jam hingga menit dan detiknya. Slow living bicara tentang kualitas dibanding kuantitas dalam segala hal.

Dalam bahasa sunda, konsep slow living mungkin cocok dengan istilah Tong gurung gusuh atau jangan terburu-buru.

Sama halnya dengan membuat keputusan berbicara, bertindak dan merespon situasi serta keadaan. Membuat resolusi tahun 2022 termasuk didalamnya. 
Saya masih ingat, tahun lalu saya menulis resolusi 2021 karena juga terinspirasi quote nya teman blogger saya Kak Prim yaitu "Now its the best time to decide how you would like to become at the end of 2021" dengan target utamanya adalah Mom Blogger ilustrator yang sukses dalam karir dan rumah tangga tanpa mengabaikan aspek agama. Tahun 2021 saya ingin mendulang perak dan emas.
Tapi nyatanya, seperti yang saya ceritakan di atas. Maka tahun 2022 wish list saya hanya satu, Boundaries! wah ini udah beda bahasan lagi ya, hehehe. apa kaitannya antara slow living dan boundaries. Coba deh nonton video gitsav di youtube tentang boundaries agar lebih paham konsep ini. Intinya, boundaries adalah jalan bagi saya untuk menjalani slow living.

Boundaries , Pembukaan Memulai Hidup Dengan Slow Living Lifestyle


Boundaries adalah batasan. Jadi saya membuat batasan untuk diri saya sendiri dan lingkungan saya agar saya bisa menjalani hidup saya, menikmatinya dan saya bahagia.
Yaaa, inti dari mengapa saya ingin hidup dengan gaya hidup slow living adalah saya ingin bahagia. Menikmati setiap proses, tidak merasa dikejar kejar target atau keharusan sukses. Saya ingin menikmati moment, jam, menit dan setiap suasana yang saya alami setiap hari.

Karena waktu, adalah bagian dari hidup yang paling berharga.

Lebih banyak berbagi hal yang baik dengan teman, sahabat dan keluarga. Menyapa mereka lebih sering dan berkunjung lebih banyak. Menghirup udara segar lebih sering dan menerima pelukan mentari lebih sering.
Melihat bagaimana anak - anak saya tumbuh dan berkembang, menemani mereka bermain, membersamai mereka dalam belajar dan eksplorasi keingintahuan mereka. Di setiap prosesnya.
Selama ini ketika saya bekerja hal itu saya abaikan. Saya ada di dekat mereka dan mereka main di dekat saya, mengeluarkan semua mainan dan membuat rumah berantakan yang akhirnya saya maklumi karena saya sendiri bekerja mengejar deadline. Tapi, saya tidak hadir di antara mereka, anak - anak saya.
Fokus dan perhatian saya tidak sepenuhnya pada mereka. Menjawab pertanyaan mereka dengan asal sambil mata tetap ke layar monitor dan tangan di keyboard atau hp, mengabulkan permintaan mereka tergesa - gesa bahkan tidak jarang sambil marah - marah. Wah ini tidak sehat. Sangat tidak sehat. Time management saya buruk sekali.
Makanya saya buat boundaries. Apa saja boundaries yang saya buat untuk diri saya? Saya kasih spill beberapa ya.

1. Berhenti bekerja ketika badan sudah lelah


Saya sudah mencoba hal ini selama satu bulan dan saya menyukainya. Jadi biasa nih kan ya saya kalo udah kerja depan laptop gak kenal waktu dan ngantuk juga di tabrak aja. Jadi, sekarang gak gitu lagi. Kalau badan udah mulai ngos ngosan, pegel punggung, buntu ide, cape lah intinya. Ya udah stop! Gak saya terusin.
Berarti itu waktunya saya membersamai anak dan suami saya atau saya melakukan hal lain yang menyenangkan bagi saya. Apakah itu masak ( padahal gak suka suka amat sih, haha) menggambar, jajan, jalan jalan, nonton drakor atau serial Netflix, beres beres rumah sampai sikat WC dan berkebun ( padahal gak punya kebun punyanya teras aja se uprit, hihihi )
Pokoknya harus tau alarm yang badan kasih kalo udah waktunya stop! Itu batasannya. Mau itu deadline, kelas webinar atau kursus.
Seperti saya yang sekarang dengan semangat ikutan kelas SEO yang cukup ketat dan disiplin. Saya jalani dan kali ini ngomong blak blakan kenapa mau ambil kelas SEO sama pak suami, biar Jongjon alias tenang gak di warning terus kalo udah kelamaan depan monitor.
Batasannya, saya kerjain dengan fokus dan semangat tapi kalau badan dan mata udah gak bisa lanjut ya udah. Stop. Kesehatan nomer satu.
Bukan berarti gak menjalani dengan baik dan serius ya. Oh justru ini serius sekali. Akhirnya karena punya batasan itu, setiap saya mulai belajar saya fokus seratus persen pada materi dan tugas. Sesekali cek grup dan bantu teman satu kelompok.
Walaupun akhirnya tidak lolos karena gak sanggup menyelesaikan tugas Karena kelelahan, ya udah gpp. Saya gak maksain diri untuk sampai garis finish. Tapi keinginan itu jelas ada, makanya tetap dijalani.

2. Tidak ada Bergadang


Begadang udah jadi trademark para freelance kayaknya. Udah jadi hal biasa. Eh tapi gak akan jadi hal yang biasa lagi bagi saya. Oh jadi haram hukumnya bagi saya, hehe.
Kalau lagi ada kelas atau webinar, Maximal jam 10 saya harus udahan. Biar jam 11 saya sudah masuk dunia mimpi. Kalo lagi gak ada kelas, biasanya lepas isya saya sudah tidur dan bangun pas mau tahajud sekitar jam setengah 3 sampai jam 3an. Abis itu biasanya saya standby depan laptop nerusin nulis artikel atau edit edit. Dan itu, terasa enak banget ke badan dan pikiran.
Tetap belajar dan bekerja mengejar impian dan passion dengan syarat jalani dengan tanpa paksaan atas nama ambisi dan nikmati setiap proses nya. Ini ga usah dibahas ya, intinya gitu deh. Gak ada ambisi berlebih.

3. Say No bantu teman, keluarga atau orang lain kalau memang tidak sanggup.


Berkaca dari konflik saya ceritakan diatas saya bikin batasan untuk diri saya sendiri. Saya tipe people pleasure yang orang gak minta tolong aja saya udah nawarin pertolongan duluan. Awalnya emang karena ngerasa gak enak aja karena merasa gak berguna atau kikuk, tapi lama lama jadi kebiasaan tanpa beban tapi jatuhnya malah nyusahin diri sendiri. Kadang udah tau gak sanggup bahkan gak setuju dengan konsep atau ajakan tapi dijalani aja karena ngerasa gak enak
Dan endingnya yaa seperti yang dibayangkan emang. Jadi, kalau gak setuju ya bilang gak, gak sanggup ya bilang gak. Bilang sanggup dan ingin tapi kendalanya ini dan itu ya bilang dengan jelas.
Jadi sama - sama enak kan? Intinya sih komunikasi. Bahasa sundanya mah, Hade goreng ku basa, alias bagus jelek semua karena bahasa atau komunikasi.

4. No Multitasking


Ada istilah dalam bahasa sunda yang berbunyi, " sok hayang diraup kusiku" , artinya ingin segala sesuatu nya dilakukan sekali ngerjain dan semua dikerjain atau diambil. Hawek atau serakah singkatnya. Bukan hanya soal keinginan tapi juga ngerjain jobdesk. Mau itu kerjaan domestik, kerjaan di organisasi atau komunitas, di kantor dan lain sebagainya.
Kerjain semua satu per satu. Jangan sekaligus. Biar fokus, efektif, efisien dan hasilnya bener. Gak masak sambil webinar, gak nyiapin anak sambil beberes rumah, gak ngerjain artikel sambil ngezoom, gak makan sambil jalan ( eh gak boleh kata hadits, hehe )
Gak ngerjain dengan tergesa gesa. Jadi santai aja, selow my man. Yang penting tujuan , tahapan dan cara nya udah tau. Ya udah kerjain satu - satu. Pasti beres dengan hasil memuaskan. Pokoknya no Nyambi - Nyambi deh. Malah kata ahli psikolog, multitasking itu gak baik lho.
Say No masak dan ngerjain domestik ketika badan teramat lelah. Ini udah kesepakatan saya dengan pak suami dan disetujui dengan makan bakso bareng, hehe.

5. Kurangi kadar perfeksionis


Ini beneran ngebantu banget loh. Semua hal pengen dikerjain dengan sempurna malah bikin stress. Gak beres - beres. Jadi ya setelah beberes rumah masih ada kotor dikit ya gak apa apa lah toh ntar juga kotor lagi, setrikaan kurang rapi ya gpp lah gak keliatan ini, artikel gambarnya kurang kece ya gpp lah sambil selow bisa diedit, masakan kurang gurih…. Ya jangan atuh kan jadi gak nikmat. Tambahin mecin dikit lh, hehe

6. Kurangi ekspektasi


Yess. Ini boundaries nomer Wahid sih. Udah kerjain semua dengan benar dan sesuai jalur kalau hasilnya gak sesuai harapan ya udah. Gak apa apa. Jangan jadi ngotot dan malas ngapa ngapain atau jadi stress dan terpuruk. Yang penting udah usaha dan menikmati setiap prosesnya. That slow living.

7. Kurangi makan nasi


Ini gue banget sih. Secara gitu sebelum jatuh sakit porsi makan nasi gue udah mirip kuli bangunan ( tidak bermaksud underestimated suatu bidang pekerjaan ya) . Udah mirip orang yang mau kerja pake tenaga luar biasa deh. Padahal gak juga. Ternyata makan nasi berlebih dampaknya buruk sekali bagi kesehatan. Kenapa?
Makanya sekarang kalau makan nasi paling 5-6 sendok terus dibanyakin lalapannya. Entah sayur, daging atau tumisaan-nya. Terus porsi buah dibanyakin, minum juice juga. Karbo diganti apa? Kadang ngemil jagung, ubi atau Roti gandum. Endingnya sama aja yang penting badan dapet jatah Karbo.

8. Luapkan emosi dan ketidaksetujuan dengan pasangan


Ini sih kunci dari semua kunci pernikahan yang sehat versi akuuu. Hehehe. Selama ini jujur saya tuh tipe mendem. Gak mau ribet dan gak mau berantem. Udah terima aja dan jalani yang penting adem. Tapi Marisol, hati ini jadi gundah gulana dan banyak nyimpen kesel. Rasanya tuh gak enak dan malah bikin stress terus pas nonton drakor ujungnya jadi mikir, oh selama ini aku hidup dalam pernikahan tidak bahagia. Lebay dan drama banget kan? Wkwkwk
Padahal ya salah sendiri memendam perasaan gak enak. Jadi, saya mulai tuh kalau pak suami nyimpen handuk di kasur, ambil kaos paling bawah kedudut atau keambil bagian atasnya, nyimpen jaket dimana aja, nyimpen kunci sembrono, bekas makan gak di cuci sampai pak suami bilang mau nyicil FX dan gitar baru aku protes!!!
Aku bilang aku gak suka Babah kaya gini dan gitu, aku cape beresin kebiasaan jelek Babah suka naro barang dimana aja dan bla bla bla.

Termasuk waktu dia pengen beli gitar baru atau FX baru. Aku godain, " ada duitnya? Yakin mau beli? Kalo nyicil bisa bayar cicilannya? Aku gak mau ya duit ngeblog atau ngegambar aku buat gitar. Aku juga pengen dong beli emas berlian, hehehe "
Meski akhirnya dia beli juga tapi dia udah tau resikonya dan tau aku gak setuju, jadi aku ga nanggung akibatnya. Jadi pas giliran bayar cicilan dia gundah gulana, aku mah ketawa aja! Wkwkwk akhirnya dibayar juga sih karena dia ngurangin jajan bakso dan makanan enak. Nah kan jadi ada usaha, hahaha.

Kesimpulannya Adalah Bahagia


hidup selow bikin happy



Begin with the end menjadi evaluasi saya terhadap resolusi 2021. Apakah apa yang saya targetkan tahun 2021 sudah tercapai? untuk beberapa hal tercapai dan untuk yang lain tidak. Saya masih ingat betapa saya mengingkan hasil akhir yang idealis dan sempurna, menjadi momblogger ilustrator yang sukses. 
Apakah sudah sukses? entahlah, tapi rasanya mulai tercapai secara perlahan. Penghujung tahun ini saya membuat blog khusus paemting dan mengembalikan artjoka ke konsep awal yaitu blog mengenai lifestyle ilustrator yang juga seorang ibu tapi saya akan perlahan mengurangi menulis mengenai parenting atau motherhood. Sementara blog baru, mamajokaa khusus tentang parenting. 
Selain itu, akhir tahun juga saya mengikuti kelas SEO BRT Network yang artinya sudah satu langkah menuju usaha saya untuk memperdalam ilmu SEO. 
Lantas sudah waktunya kah saya berkata " i'm proud of me" seperti yang saya tulis di artikel resolusi 2021? ya tentu saja. Karena meskipun hasilnya hanya terwujud 20% - 30% saja, saya sudah bahagia karena menemukan purpose of life yang baru. 
Yess. Bahagia adalah ending dari semuanya. Bahagia dalam artian hidup dalam resonansi yang tenang, damai, adem ayem dan mengikuti bagaimana alam bekerja dan bumi berputar.
Tahun depan memang ada beberapa rencana tapi lebih kepada apa yang ingin saya lakukan. Bukan target keberhasilan. Seperti Ingin membuat teras kebun dan berbagi cerita berkebun di blog khusus, renovasi rumah ( minimal nge cat dinding lah dan ganti pintu ), ternak blog dengan tujuan cuan tentunya sebagai penghasilan tambahan, belajar lagi menjadi ilustrator dan ikut kelas intensif, membersamai Kilan yang mau masuk TK, lebih sering mengajak anak-anak edutourism ke kebun binatang, taman, hutan raya, museum, galeri seni, event musik dan naik kereta api. Lebih banyak tertawa, menari dan bernyanyi.
Lebih banyak waktu yang saya habiskan dengan pak suami sambil ngobrolin FX atau gitar terbaru, genre musik, politik yang absurd, cerita blog aku sampai ngomongin bisnis yang kadang bikin kepala cenat cenut, hehehe.
Menikmati setiap langkah, jejak dan tarikan nafas setiap hari. Menikmati memandang anak ngobrak ngabrik isi lemari dan taburin bedak ke seluruh lantai sambil geleng-geleng kepala gak abis pikir tapi itu terasa menyenangkan.

Seperti ending film drama yang indah yang ditampilkan dengan musik yang menyentuh seperti lagunya hoppipolla dari sigur ros dan scene yang melambat hingga adegan tersebut lambat laun menghilang seiring dengan semakin redupnya alunan musik hoppipolla.

Seperti itulah vibe gaya hidup slow living yang saya harapkan. Salam Tahun Baru 2022, semoga kita semua sehat selalu dan bahagia.
Salam sayang,
artjoka
tips menjadi bijak dan dewasa


Menjadi Dewasa, Haruskah? telah menjadi pertanyaan yang ingin kujawab berbulan-bulan lamanya. Lantas apa jawabannya? tulisan ini jawabannya. Tulisan ini adalah sepenggal cerita perjalanan menemukan makna dibalik kata menjadi dewasa dan bijaksana yang diawali dengan curhat. Yess, like always.






Pengalaman Berobat  batu empedu Part 1. 5 Tahun yang lalu tepatnya bulan Agustus 2016 adalah pertama kali saya merasakan munculnya sakit batu empedu. Awalnya saya tidak mencurigai bahwa yang saya rasakan ini adalah sakit batu empedu. Karena gejalanya mirip dengan maag atau GERD, yaitu sakit perut kanan dekat ulu hati ( kolik bilier ), kembung, mual, muntah dan diare.
Memaknai Hidup bersama Buku Narasi Gurunda. Bagaimana cara kita memaknai hidup? tentu berbeda satu dan yang lainnya, tergantung pada prinsip hidup yang dijalani. Hal ini tentu selaras dengan definisi kata Makna hidup, yaitu hal yang dianggap penting dan berharga yang dapat dijadikan tujuan dalam hidup.

Tetapi sebagai seorang muslim bagaimana memaknai hidup sifatnya krusial dan berbanding lurus antara kehidupan didunia dan di akhirat. Bagaimana seorang muslim Memaknai hidup nya di dunia akan berdampak terhadap kehidupan akhiratnya.

Ketika mencari makna hidup maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah  dengan ngomong sama diri sendiri atau self talk, “ apa itu hidup dalam islam? “ . Yah ini semacam pertanyaan retorika sih, pertanyaan yang semua muslim tahu jawabannya. Iya kan? tentu saja jawabannya adalah ibadah.

Yang jadi pertanyaan adalah, ibadah yang seperti apa? tentu dong ibadah yang sesuai dengan Al-qur'an dan Hadits. Tetapi jawaban inipun maknanya luas. Diperlukan pemahaman melalui serangkaian kajian yang mungkin butuh waktu gak sebentar hingga paham, mengerti dan menjalani.

Tetapi daripada kita mikir yang ngejelimet soal ini ada satu cara bagaimana memaknai hidup lebih sederhana tapi besar dampaknya, yaitu melalui membaca buku. seriusan!

Melalui membaca buku, ntah itu buku novel, biography, agama apalagi motivasi tentu ada banyak sekali hikmah yang bisa diambil dan menjadi bagian dari cara memaknai hidup kita.

Seperti buku yang saya bahas kali ini, Narasi Gurunda karya Jihan Mawaddah atau yang biasa saya sapa Mba Ji.

Ada banyak poin penting dalam buku biography ini yang gak terlalu berat bahkan sederhana yang dapat menambah keimanan , keyakinan dan tentu lebih mudah dalam memaknai hidup.

Seperti ketika membaca halaman awal, belum apa - apa saya saya sudah "disindir" oleh pesan yang tersirat pada halaman 29.

" Lepas isya tidak boleh berlama - lama bersenda gurau hingga lalai karena urusan dunia"

Well, that's me setahun belakangan ini. Somehow, wejangan ini so relate dengan kondisi saya yang sedang down saat ini. Down secara fisik dan mental. Dan ternyata inilah sumber keterpurukan saya, lalai karena urusan dunia. Akibatnya, saya pun jatuh sakit.

Tapi tak mengapa, jika tidak disentil Allah lewat sakit mungkin saya akan makin lalai dan lupa dengan Allah. Saya rasa, bab sakit ini adalah salah satu perjalanan spiritual saya.

Perjalanan spiritual seseorang tidak sama antara satu dan yang lainnya. Ada yang dilalui melalui serangkaian tragedi yang dialami sejak kecil, musibah yang dialami, pola asuh orangtua hingga sederhananya hidup yang dijalani. Apapun prosesnya, seyogyanya semua itu bisa menghantarkan kita sebagai umat Islam menjadi pribadi muslim yang menjalani hidup sebagaimana mestinya.

Seperti kisah yang ditulis Mba Jihan Mawadah tentang perjalanan hidup dan spiritual sang Ayang tercinta dalam buku Bertajuk, Narasi Gurunda.

Buku Sederhana Syarat Hikmah Kehidupan


Judul Buku: Narasi Gurunda
Penulis: Jihan Mawaddah
Jumlah Halaman : 161 Halaman
ISBN : 978-623-92548-1-0
Penerbit: Sanggar Baca Caraka
Cetakan Pertama : Desember 2019
Cetakan Kedua : Februari 2020
Distributor Tunggal : Kampus Nulis Aja Community


Buku biografi yang ditulis dengan jumlah 161 halaman ini menceritakan perjalanan hidup sang ayah sejak masih kecil hingga masa pensiun menjelang.

Tidak seperti kebanyakan buku biografi lainnya, mba Jihan menulis biografi sang Ayah dengan inspirasi buku Biografi seperti novel biografi KH. Hasyim Asy’ari yang berjudul Sang Penakluk Badai dan novelisasi biografi KH. Ahmad Dahlan dengan judul Sang Pencerah.

Alasannya sederhana, Mba Ji ingin membuat biography dengan alur cerita yang tidak membosankan. Dan Faktanya, memang tidak membosankan. Saya malah hanyut terbawa cerita dari awal hingga akhir.

Bukan sekadar kisah hidup sang ayah yang penuh Lika-liku kehidupan tapi juga syarat makna kehidupan Ada begitu banyak pesan terkait bagaimana memaknai kehidupan yang disampaikan kisah sang ayah tercinta dalam buku ini.

Hidup, ibarat buih di lautan dan akan muncul dan lenyap begitu saja lalu menjadi sia - sia jika tidak dimaknai sebagaimana mestinya.

Narasi Gurunda, mengajak saya memaknai hidup lebih dalam namun sederhana. Hal - hal sederhana namun bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Dibutuhkan keimanan dan tujuan hidup yang kuat. Karena ujian hingga mutiara hikmah bisa didapatkan juga tidak mudah.

Konsistensi dan Kegigihan Seorang Taufiq


Buku ini menceritakan seorang Taufiq yang merupakan ayahanda tercinta dari Mba Ji yang terdiri dari 11 bab yang mana setiap bab menceritakan perjalanan hidup Taufiq.

Setiap bab diceritakan layaknya sebuah novel. Saya seakan ikut hadir disana mengikuti perjalanan spiritual dan karir hingga rumah tangga yang dilalui Taufiq sepanjang hidupnya.

Setiap bab memiliki konflik batin yang dilalui Taufiq disertai solusi dan tentu saja hikmah dibalik konflik. Ini yang saya suka.

Setiap bab menceritakan konsistensi dan kegigihan Taufiq dalam mengejar impiannya sebagai guru. Langkah langkah dalam mengejar impiannya pun konsisten, selalu pada jalur yang benar. Benar dalam artian disertai tawakal, ikhtiar dan sabar serta tak pernah lepas dari prinsip agama yang dia pegang sejak kecil.

Ada satu kisah yang paling membekas di hati saya, yaitu Bab 4 : Ibu Kost Yang Malang. Bab ini menceritakan dilema Taufiq yang pada saat itu sedang kuliah dan tinggal di kost - kost an dengan uang pas - pas an.

Dalam situasi keuangan yang tercekik, tiba - tiba ibu kost minta bantuan Taufiq untuk meminjamkannya uang karena ia sedang butuh.

Dengan penuh dilema, akhirnya Taufiq memutuskan memberikan sisa uang yang dimilikinya untuk ibu Kost.

Stress memang setelahnya, tapi Taufiq tidak pernah putus asa terhadap Rahmat dan pertolongan Allah. Tidak lama kegundahannya soal mendapat uang dari mana terjawab ketika ada yang memintanya mengajar ngaji. Bukan hanya uang yang didapat, tapi juga cemilan dan makan enak secara gratis.

Matematika Allah dan manusia memang beda ya. Itulah makna kehidupan yang saya ambil dalam bab ini.

Bab lain juga sama, banyak sekali hikmah yang bisa dijadikan ibrah yang dapat menambah cara kita memaknai hidup.

Penutup : Poin Hikmah Narasi Gurunda


Ada beberapa poin penting hikmah yang menambah cara saya dalam memaknai hidup yang saya ambil dari Narasi Gurunda dari setiap bab nya , yaitu :

  1. Jangan pernah tinggalkan sholat wajib dan tahajud
  2. Hidupkan Nur Al Qur'an
  3. Jadilah Manusia Yang Bermanfaat
  4. Matematika Allah berbeda dengan Manusia
  5. Adopsi Filsafat Cina
  6. Tidak boleh Zalim Terhadap Diri Sendiri
  7. Laki - laki harus berpijak di atas kaki sendiri
  8. Dunia hanya sebatas Hembusan Angin
  9. Ujian Tak Kan Pernah Usai
  10. Pertanggungjawaban Peran Orangtua Di Hadapan Allah

10 poin ini terlihat sederhana bukan? Nggak ngejelimet. Tapi untuk bisa seperti Taufiq dalam menjalani hidupnya tentu tidak mudah. Tetapi pasti bisa.

Terimakasih Mba Ji sudah menghadirkan novel biography ayahanda yang sarat makna sehingga dapat menjadi salah satu cara bagaimana saya memaknai hidup secara sederhana sesuai dengan keyakinan saya, keyakinan Islam.
Childfree-dan-Hak-Perempuan-dalam-60-Hadits Shahih





Childfree dan Hak - Hak Perempuan dalam 60 Hadits Shahih. Beberapa waktu yang lalu sempat viral mengenai statement seorang influencer, Gita Savitri akan keputusannya dengan pasangannya dalam hal pernikahan tanpa anak atau childfree. Issue ini lantas menjadi hal yang ramai diperdebatkan, yang pro dan kontra. Tidak sedikit yang menyatakan bahwa keputusan Gitsav ini egois dan menyalahi kodrat perempuan. Benarkah demikian? setujukah saya dengan konsep childfree? bagaimana islam memandang hal ini?

Menilik Pemahaman Patriarki


Beberapa waktu yang lalu, sahabat saya Ibu Kafa secara tidak terduga mengirimkan buku karya K.H Faqih yang bertajuk 60 Hadits Shahih : Khusus tentang Hak - Hak Perempuan Dalam Islam dilengkapi penafsirannya. Buku yang sangat istimewa yang ditulis oleh seorang pencetus konsep  mubadalah

Jujur, secara pribadi istilah persamaan gender atau kesalingan dalam kehidupan pribadi saya tak memiliki nilai sama sekali. Saya lahir dan besar dalam lingkungan patriarki dan sekarang memiliki suami dengan keluarga yang menganut hal yang sama. Bahkan beberapa organisasi dan pemahaman agama yang pernah saya pelajari juga lebih mengutamakan keistimewaan pria/suami dibandingkan perempuan/istri.

Tapi alhamdulillah tidak dengan suami saya, meski secara personal beliau menolak paham feminisme, kenyataannya dalam kehidupan sehari - hari kami secara tidak langsung mempraktekan prinsip kesalingan. Seperti banyak berdiskusi atas suatu perkara meski tak selamanya mulus, agak alot dan harus melalui drama hingga akhirnya kami sepakat. untuk urusan domestik juga saya banyak dibantu suami, termasuk pilihan alat kontrasepsi dan memiliki anak “lagi”.

Memang, pemahaman patriarki begitu sudah mendarah daging dan menjadi pemahaman berjamaah sebagian besar masyarakat kita. Sehingga ketika dalam sebuah komunikasi pernikahan, tidak sedikit yang menyatakan “istri durhaka” ketika dia mengeluarkan pendapat atau menentang pendapat pasangannya. 

Ada hal yang menggelitik rasa haru saya, pada Halaman 7 Buku 60 Hadits Shahih, Pak Kyai Faqih menulis seperti ini :

“ …….ingatan orang mengenai hadits-hadits tentang perempuan adalah tentang penciptaan dari tulang rusuk yang bengkok atau tentang pesona mereka yang seakan menjerumuskan laki - laki atau tentang mereka sebagai penghuni neraka terbanyak, kurang akal dan kurang agama. Harus ditemani mahram ketika keluar rumah, shalat mereka harus di tempat tersembunyi, mereka bisa membatalkan shalat seseorang jika lewat di hadapannya, harus taat suami, laknat atas keenganan mereka melayani suami dan hal - hal yang menitikberatkan kewajiban besar mereka untuk selalu melayani dan menyenangkan suami. “

Pernyataan Pak Kyai seakan mengingatkan saya pada kehidupan perempuan - perempuan dalam novel karya Fatima Mernissi berjudul “ perempuan - perempuan Haremku “. Apa yang buku tersebut ceritakan sungguh tragis mengenai nasib kehidupan seorang perempuan yang ditindas oleh paham patriarki garis keras. Dan saya yakin, di Indonesia pemahaman patriarki sudah lama menjadi penjara bagi hak - hak perempuan.

Childfree dan Hak Perempuan Akan Tubuhnya


Saya ingat, chef Juna pernah diwawancara oleh Deddy corbuzier bulan November 2020 terkait memiliki anak atau bahkan childfree. Dengan gamblang Chef Juna berkata,

“ Apakah saya ingin anak-anak? Jika istri saya menginginkan anak, kami punya anak. Jika istri saya tidak ingin anak, maka kita tidak harus punya anak,"

"Apakah kamu akan hamil sembilan bulan? Tidak, kan? Bagaimana Anda bisa menekan pasangan Anda untuk menderita seperti itu jika dia tidak menginginkannya (untuk punya anak)?” lanjutnya.


Salut saya dengan keterbukaan Chef Juna. Memang benar demikian menurut pandangan saya. Perempuan, tidak boleh dipandang hanya sebagai objek “ Pabrik anak “ dan kewajiban mengurus seabrek urusan domestik yang gak kelar - kelar atas nama ibadah.

Maaf saya gunakan sample tokoh publik "umum" karena, toh tidak ada salahnya kan? Nabi pernah berkata " ambil ilmu dari siapa saja, jangan lihat status" bahkan kalau ilmu itu datangnya dari seorang anak kecil, apalagi yang berbeda keyakinan.

Saya kira, urusan punya anak atau tidak dan menjadi childfree adalah hak setiap pasangan. Tidak ada kaitannya dengan egois atau menyalahi kodrat.

Kodrat perempuan sering dikaitkan dengan melahirkan, menyusui dan menyapih lantas tiga kodrat ini dijadikan kodrat wajib perempuan. Memang, pada dasarnya mengandung, melahirkan dan menyusui  menjadi kodrat perempuan secara biologis . Tetapi perlu digaris bawahi bahwa meskipun itu adalah kodrat perempuan, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa suami sebagai laki-laki faktanya bisa kok ikut berperan membantu memudahkan perempuan dalam menjalani proses biologis tersebut.


Q.S Luqman ayat 14,

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

wa waṣṣainal-insāna biwālidaīh, ḥamalat-hu ummuhụ wahnan 'alā wahniw wa fiṣāluhụ fī 'āmaini anisykur lī wa liwālidaīk, ilayyal-maṣīr

Artinya: "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Ayat Al-qur’an saja sering “salah” ditafsirkan apalagi hadits. Oleh sebab itu, kehadiran Buku 60 Hadits Shahih saya kira mampu mengenalkan sisi lain yang lebih fundamental dari hadits - hadits populer yang beredar di “pasaran” yang notabene mendiskriminasikan hak - hak perempuan.

60 Hadits Shahih : Kompilasi Lengkap Mengenai Hadits - Hadits Hak Perempuan


Buku 60 Hadits shahih adalah sebuah buku kompilasi hadits mengenai hak - hak perempuan yang terinspirasi karya besar Syekh Abdul Halim Abu Syuqqah ( 1924 - 1995 ), tafsir al - mar'ah fi ‘Ashr ar Risalah mengenai penguatan hak - hak perempuan dalam islam dari keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Kompilasi 60 Hadits Shahih ini dimaksudkan untuk memudahkan para pemula yang ingin mengenal hadits - hadits inti terkait kesetaraan gender dan relasi laki - laki dan perempuan yang lebih fundamental yaitu prinsip kesalingan.

Dalam buku ini memuat 15 tema kelompok yaitu :

  1. Prinsip Relasi laki - laki dan perempuan
  2. Pengakuan atas hal - hak perempuan
  3. Memuliakan dan menghormati perempuan
  4. Perempuan dan kedekatan dengan Tuhan
  5. Perempuan dan tuntutan haknya
  6. Protes perempuan terhadap kekerasan
  7. Larangan memukul perempuan
  8. Teladan Nabi Muhammad SAW tanpa kekerasan
  9. Musyawarah untuk kebaikan
  10. Hak Perempuan atas dirinya
  11. Keterlibatan Perempuan dalam ibadah jenazah
  12. Keterlibatan perempuan dalam bela negara
  13. Perempuan, kerja, infaq dan nafkah
  14. Relasi kesalingan Suami istri
  15. Musyawarah Bil Ma’ruf

Terkait isu childfree, teman - teman bisa melihat tema Bagian 10 : Hak Perempuan atas dirinya, juga Tema 14 : Relasi kesalingan suami-istri dan tema 15 : Musyawarah Bil ma’ruf.

Buku 60 Hadits Shahih setebal 276 halaman ini saya rasa lengkap dan jelas terkait pemaparan dan tafsir hadits - hadits populer yang beredar di masyarakat terkait perempuan. Bisa menjadi sumber informasi dan keilmuan atau bahan diskusi dengan teman bahkan pasangan. Saya rasa perempuan harus menjadi lebih aware terhadap hak - haknya sebagai perempuan dan istri Tapi tidak dengan egois menyatakan pendapat mengenai hak - hak ini terhadap pasangan. Mengingat tidak semua pasangan memiliki pemahaman yang sama. Diperlukan strategi dan cara - cara tertentu untuk menyampaikan hal ini.

Penutup

Pada halaman 8 dan 9, Pak Kiyai menyatakan harapannya mengenai buku ini,

“ Melalui kompilasi kecil ini, diharapkan masyarakat muslim bisa mengenali sikap islam terhadap perempuan dari teks sumber yang sangat otoritatif. kompilasi ini menegaskan bahwa posisi dan peran perempuan dalam islam sebagai manusia yang utuh adalah setara dengan laki - laki “

“ Prinsip ini berlaku untuk hal - hal teologis-ritual, kerja-kerja publik dan domestik. Sehingga, prinsip meritokrasi yang ditegaskan dalam islam adalah siapa yang berbuat dialah yang memperoleh apresiasi dan balasan. “

“ Ukuran keutamaan dalam islam adalah ketakwaan, keimanan, amal perbuatan dan kiprah kebaikan pada keluarga, masyarakat. Siapapun itu baik laki - laki atau perempuan. Inilah akhlak islam, inilah islam yang rahmatan lil’ alamin “ .

Bagaimana dengan issue childfree? 


Jika teman - teman membaca keseluruhan isi buku, maka teman - teman akan menemukan bahwa menjadi childfree sama sekali tidak bertentangan dengan agama apalagi menyalahi kodrat perempuan. Perempuan memiliki hak atas tubuhnya yang tidak dapat diganggu gugat oleh pasangannya.

Namun keputusan untuk menjadi Childfree, bukan pula keputusan egois perempuan atas nama hak mereka akan tubuhnya. Menjadi childfree atau tidak haruslah disepakati bersama dengan pasangan. Karena 60 hadits shahih ini juga memaparkan prinsip kesalingan, musyawarah dan saling menghormati serta menghargai pasangan.

Secara sederhana, perempuan memang memiliki hak akan tubuhnya, pendapat, pilihan karir, pendidikan, pernikahan dan lain sebagainya akan tetapi jangan lupa, posisikan pasangan juga sejajar dengan kita. Mengajak diskusi, bermusyawarah dan silang pendapat tentu perlu dilakukan bukan? untuk apa? tentu saja untuk mencapai 5 pilar utama pernikahan , yaitu :

  1. Mitsaqa ghalidlan, keyakinan bahwa pernikahan adalah janji yang kokoh sehingga tidak boleh dipermainkan
  2. Zaawaj, mengembangkan sikap saling melengkapi dan kerjasama untuk kebaikan;
  3. Mu’asyarah bil ma’ruf, suami istri saing memperlakukan pasangannya dengan bermartabat;
  4. Musyawarah, suami istri saling berdiskusi maupun bernegosiasi untuk mencapai mufakat;
  5. Taradlin, suami istri saling menjaga kerelaan pasangannya dalam setiap tindakan.

Jadi, sebelum memutuskan childfree, pertimbangkan banyak hal dari segala sudut pandang termasuk komunikasi dengan pasangan.









Akhir - akhir ini saya banyak pesimis, sedih dan cemas. Sakit menjadi salah satu alasan utamanya, ditambah terlalu banyak googling dan scroll sosmed. Dua hal ini ibarat koin dengan dua sisi, satu sisi baik tapi disisi lain berakibat buruk untuk kesehatan mental terutama bagi yang sedang sakit.

Siapapun yang berada dalam kondisi sakit dalam waktu cukup lama, apalagi hingga bertahun - tahun pasti akan mengalami mood yang pasang surut. Kadang semangat dan kadang jatuh sejatuhnya hingga merasa seakan tidak melihat satu titik cahaya pun. Saya rasa ini dinamika survival. Tahapan yang pasti dilalui semua hingga akhirnya apa yang diharapkan tercapai. yaitu kesembuhan atau berpulang.

Sakit yang saya derita bisa dibilang usianya baru seumur jagung jika dibanding survival lain yang bertahun - tahun. Sakit diabetes, kanker, TBC, jantung atau yang lainnya. Rasa sakit karena penyakit yang diderita, semangat yang harus selalu dipupuk dan lain sebagainya menjadi irama kehidupan kami para survival kesembuhan selalu kami alami, setiap hari. Pesimis, harus dilawan. Sungguh perjuangan lain yang harus dilalui.

Kambuh Lagi, Kena Lagi

Dua minggu sudah saya mengalami gejala batu empedu dengan indikasi cukup berat. Setelah keluar dari UGD pulang membawa hasil tes darah dan urine yang menunjukan positif mengidap batu empedu, membuat mental saya jatuh.

“Kena lagi?”

Begitu pikir saya. Tapi tidak aneh sih, pola hidup saya sebelum april sangat tidak sehat dan kotor mengakibatkan batu empedu muncul lagi. Begadang, kopi, kurang tidur, kurang minum, makan terlalu banyak dan tidak terkontrol. Ini hukuman bagi saya karena terlalu berlebihan mengejar passion dan ambisi. Dan sekarang saatnya saya membayar dosa- dosa saya.

Tapi hukuman ini terasa sangat berat. Terutama pada seminggu lalu dimana saya menemukan urine saya berbusa dan coklat, BAB putih seperti dempul dan seluruh badan saya hingga mata menguning. Saya cemas, saya merasa dekat dengan kematian. Entah apa yang sedang terjadi dalam tubuh saya, kanker pankreas? bocor batu empedu? batu empedu menghambat jalan menuju usus? apapun bisa terjadi. Rasa cemas dan pesimis ini saya rasakan cukup berat.

Yang lebih berat adalah, saldo kami nol rupiah dan aktivasi BPJS terhalang tutupnya kantor BPJS karena PPKM.

Kunjungan ke poli bedah dan USG pun tak bisa dilakukan. Saya selalu berdo’a, semoga dilancarkan semua proses penyembuhan dan pengobatan, entah itu ke dokter atau alternatif dalam sujud tahajud istikharah.

Pengobatan alternatif menjadi jalan berobat saya sekarang. Meski ragu, tapi inilah jalan ikhtiar yang bisa saya lakukan saat ini. Hasilnya memang tidak instan, butuh proses. Lipoma saya aja baru bisa kempes setelah sebulan lebih. Tapi Kempes dan sembuh. Itu saja yang saya yakini mengapa memilih berobat alternatif. Lipoma aja bisa kempes, insya allah lah yang didalam juga bisa sembuh. Sabar aja.

Afirmasi positif saya lakukan setiap hari. Melihat anak - anak, memeluk mereka, menonton film dengan tokoh super woman, dengerin kpop, joget, nyanyi, chat sahabat, dengerin murotal sebelum tidur, peluk pasangan hingga memelihara kucing baru.

Apakah saya bisa optimis setiap hari? oh no!

Yang terberat adalah kemarin, ketika saya scroll media dan mendapati kabar salah satu teman blogger meninggal setelah survive dari covid dan terkena gagal ginjal. Seketika pertahanan optimis saya runtuh. Saya merasakan pesimis dan cemas yang teramat sangat, Saya TAKUT.

Pasalnya, saya adalah penyintas covid juga. Saya takut si covid ini “kenalan” dengan batu empedu saya dan bikin si batu empedu ke trigger kambuh. Seketika saya takut sakit saya ini parah sampai harus masuk rumah sakit, dirawat dan meninggal.

Sedih saya memuncak ketika BW ke blog almarhum dan membaca cerita perjalanan almarhum menghadapi sakitnya. Saya gak kuat baca lebih lanjut dan disudahi di pertengahan. Saya menangis sejadi - jadinya, di kamar mandi.

Rasanya saya pesimis dan tak punya harapan lagi. Apa yang harus saya lakukan dengan hidup saya kini? beban sakit tak berkesudahan sejak april? gak bisa ngeblog lagi, kerja lagi seperti dulu dan Passion apa yang harus saya kejar agar hidup saya semangat lagi?

Saya bisa merasakan sakit yang almarhumah rasakan. Menahan sakit batu empedu selama lima hari aja udah cukup bikin saya seperti orang gila, dan bahkan dalam keadaan menahan sakit pun saya masih bisa kerja karena tuntutan profesionalisme dan tanggung jawab. Gila gak tuh? ambisi itu? oh No! bukan ambisi. tapi tanggung jawab.

Saya juga merasakan sulitnya mengendalikan pesimis dan cemas. Pesimis dilawan setiap hari lewat afirmasi dan bla - bla - bla. Kadang berhasil kadang tidak.

Lalu akhirnya perjuangan berakhir dengan kematian. Tampak sia- sia! Tapi kematian, siapa yang bisa melawan? itu takdir dan kehendak Allah. Semoga dengan sakit yang dirasakan segitu hebatnya, mengendalikan pesimis dan berusaha untuk tetap sabar dan ikhlas menjadi penggugur dosa menghadapi alam barzah.

Kematian,

Saya tidak takut akan kematian tapi takut menghadapi hidup setelah kematian. Apa yang akan saya alami? saya banyak dosa, teramat banyak sehingga saya takut menghadapi siksa kubur. Saya sudah mengalami banyak hal yang buruk ketika hidup didunia, masa di alam barzah juga harus menderita? saya gak mau.

Lucunya, saat saya masih bergelut dengan drama keluarga ketika masih SMA saya hampir melakukan tindakan meregang nyawa dan gagal. Dan sekarang malah takut menghadapi kematian. Ironis bukan?

Ritual Atasi Pesimis

Rasa cemas dan takut ternyata membuat saya sakit lagi. Perut terasa begah dan sakit di punggung gak hilang - hilang. Stress dan cemas nampaknya memicu saya kambuh lagi.

Akhirnya saya jadi pesimis, bisa sembuh gak sih hanya dengan berobat alternatif? gimana nih? badan masih kuning aja, mata apalagi. Urine masih coklat. Tapi saya lapar terus! kan aneh.

Yah, harus sabar. Karena sekarang saya tak punya pilihan berobat lainnya. Ke dokter butuh biaya yang besar dan saya gak bermaksud open donation atau semacamnya. Saya gak mau.

Saya ikhtiar ke alternatif saja. Dan semoga Allah ridha dengan jalan ini.

Akhirnya, rasa takut yang saya alami, akhirnya harus saya lawan. Caranya? slow living!

Thank to kak Novya yang menulis tentang manfaat slow living untuk hidup lebih bahagia. Akhirnya saya mencoba untuk enjoy dan masa bodo dengan apa yang saya hadapi setiap hari demi kesembuhan saya. Saya gak boleh stress dan try to be happy.

Rumah berantakan? biarin aja, ntar lagi diberesinnya,
Mau rebahan dari pagi sampai siang? rebahan aja,
Anak - anak berantem? selonjoran deh sambil makan semangka, habis itu baru deketin mereka tanpa amarah.

Banyak - banyak memeluk anak - anak dan tertawa dengan mereka, hadir dengan mereka. Menemani PJJ dengan hati yang tenang.

Lawan pesimis dengan, TAWAKAL dan IKHTIAR.

Hanya itu yang bisa dilakukan. Apapun yang Allah SWT berikan saat ini adalah yang terbaik menurutNYA. Meski ibadah dirasa paket minimalis dan dosa paket maximal, tapi saya harus yakin kalau lautan maaf Allah lebih luas dari dosa - dosa kita.

Allah mungkin rindu keluhan dan air mata dalam sujud, suara kita membaca ayat-ayatNYA, rintihan doa serta hidup dalam ketenangan dan bukan dalam kecepatan membabi buta mengejar passion dan ambisi. Allah mungkin ingin saya berhenti, menikmati dunia dan hidup untuk saat ini. Slow Living.

Berbaik sangka aja sama Allah. Berprasangka buruk aja udah jadi bagian dosa kan? daripada nambah dosa, lebih baik pasrahkan semua kepada Allah dan tetap ikhtiar. meski harus mengalami roller coaster semangat dan mood setiap hari, yah jalani. Meski harus melewati rasa sakit lagi dengan segala drama nya. Yah, jalani aja. Dengan mencoba menerima keadaan dan yakin kalau ini salah satu bentuk kasih sayang Allah SWT.

Meski segala upaya sudah dilakukan dan hasilnya adalah, kematian. Ya sudah. End of Story. Perjalanan saya sampai disana. Sekarang tugas saya hanya, bertaubat, tetap menjalani pengobatan, banyak beribadah dan berbuat baik, sabar, ikhlas, banyak habiskan waktu dengan keluarga dan slow living. Too perfect ya, tapi gak ada pilihan lain kan? mau ngamuk - ngamuk dan protes sama Allah juga gak bisa ( dan bgak boleh ) kan? hehehe

Yo wis, jalani!!

Masih terdengar pesimis seakan menunggu kematian? bukankah setiap dari kita menunggu kematian? entah karena sakit, kecelakaan atau hal lain. Hanya tidak depan mata banget sih, beda dengan sakit. Jadi ya siap - siap aja.

Pemikiran begitu malah membuat saya semangat dan bisa melawan pesimis. Saya harus sembuh, agar saya bisa beribadah lebih banyak lagi. Semoga kesempatan itu Allah berikan kepada saya lewat kesembuhan.


Oleh sebab itu, lewat tulisan ini saya ingin meminta maaf yang sebesar - besarnya kepada semua teman - teman yang kenal atau tidak dengan saya. Mohon maaf segala ucapan, tindakan dan tulisan yang kurang berkenan dan menorehkan rasa tidak suka, kecewa hingga benci atau ilfil.

Stay safe, healthy and happy yaa teman - teman.


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذَ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ومن عذاب النار، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا الْمَمَاتِ وَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, azab neraka, cobaan hidup dan mati, dan fitnah Dajjal yang terhapus dari rahmat Allah.” (Sadam Al-Ghifari/ Nashih)

Bahagia itu absurd


Bahagia itu absurd. Itu sih pendapatku, kenapa? Sebelum aku jawab aku pengen kalian baca beberapa statement dibawah ini,

" Bahagia banget anak - anak Soleh dan rewel "
" Duh bahagia banget di kasih kiriman nih "
"Duh bahagia banget menang lomba"
"Bahagia itu sederhana, makan dengan keluarga"
"Bahagia deh ketemu temen lama"
" Berbagi dengan sesama adalah suatu kebahagian "
"Happy banget gue, film Marvel yang baru udah keluar"
" Duh, makasih ya udah bikin aku happy dengan cerita konyol kamu. Aku udah gak sedih lagi "
" I'm so happy menikmati senja sore ini "
" This travel make me happy "




Akhirnya Ketemu Siska adalah episode yang paling aku tunggu. Siapa sih Siska? segitu preciousnya kah seorang Siska sampai dibikin satu artikel tentang dia? hehehe

Siska adalah Sahabatku, bukan satu-satunya sahabat yang aku punya tapi Siska adalah salah satu sahabat yang udah tau luar dalem sampai batas gak ada lagi sungkan atau takut tersinggung malah cenderung nyablak.

Mau marah, mau kesel mau protes sekalipun udah gak ada lagi pake baper. Meski begitu tetep jaga hati dan perasaan masing - masing. Lucunya kalau mau marah kita selalu pake judul sebelum marah, “ Aku mau marah nih “ atau “ aku mau protes nih “ atau “ aku kesel nih sama kamu “

Tapi ini jarang sih. Entah kapan kita terakhir bertengkar, kayaknya udah gak pernah deh. Kebanyakan ya ngalir aja semuanya di tiap komunikasi kita.

Persahabatan kita bahkan udah sampai tahap gak ngomong aja kita udah tau cara berfikir dan apa yang ada di kepala masing-masing. Bisa dibilang kita saling membutuhkan satu sama lain bahkan sampai berdo’a bersama semoga di akhirat nanti bisa ketemu lagi. Istilah keren nya sih sister till jannah, hehehe. Aamiin Ya Rabb.

Karena sekarang aku sudah berumah tangga dan Siska sibuk dengan kerjaan dia, kita tuh jadi susah banget ketemu. Terakhir ketemu tuh Januari 2021 dan baru bisa ketemu lagi kemarin hari minggu. Makanya sekalinya ketemu duuhh surga banget, soalnya sekalian Me Time, hahaha. Ketemu siska ibarat isi batre semangat, pikiran dan iman. Iya sih kita hampir tiap hari whatsapan dan curhat atau sekedar chat random tapi kalau ketemu kan beda vibe-nya.


Ritual Piknik di Telaga Hikmah

Kemarin tuh kita pengen ketemunya sambil makan siang. Jadilah kita setuju makan di Basecamp Resto Ujungberung. Tapi begitu masuk, kita malah enggan karena terlalu ramai dan memilih ritual piknik seperti biasa.

Sejak tahun kemarin Tanrise selalu jadi tempat ritual piknik kami. Selain banyak pohon, view gunung manglayang, suasana hening dan sepi jadi alasan kami memilih Tanrise sebagai tempat piknik kami. Piknik sederhana sih, berbekal beli jajanan ke Borma aja.





Tanrise seperti mengingatkan masa - masa kuliah kami dulu yang sering duduk dibawah pohon rindang di kampus sambil ngobrol ini itu sambil nunggu jam kuliah. Jadi begitu aku ajuin Tanrise sebagai tempat piknik, dia langsung oke.

Siska bilang yang utama bukan dimana kita makan, tapi dengan siapa kita makan. jadi mau dimanapun gak masalah, selama sama aku! wkwkwkwk

Curhat dan Telaga Hikmah

Karena jatah waktuku cuman 3 jam buat diluar, jadi obrolan sih biasanya dibagi dua sesi. Biasanya sih satu jam pertama penuh dengan obrolan curhat yang sebetulnya udah di curhatin di whatsapp tapi diceritain lagi, biar afdol! wkwkwk. Terus saling respon gitu. Nah yang seru adalah di dua jam terakhir. Kita diskusi soal hidup. Berat gak sih? hehe


Udah jadi kebiasaan sih tiap kita curhat satu sama lain terus ngomongin solusinya. Atau tiba-tiba aku tanya hal yang gak masuk akal tapi benar adanya. Misal nih, kemarin aku tanya gini ke Siska,

“ Sis, logika nya nih ya. Hari penghitungan amal dan dihisab kan nanti di akhirat. Manusia kelihatan amalan - amalannya di hari itu terus keputusan dapat siksaan atau syurga juga di hari itu. Tapi, kenapa sih mesti ada siksa kubur? “ tanyaku,

“ Aku udah tanya sama Yadi soal ini, jawabannya kurang memuaskan euy. aku mau tanya sama Habib tapi gak tau kapan bisa ngaji lagi “ Lanjutku sementara Siska manggut- manggut sambil senyum dikulum gitu,

Pertanyaan ini sebetulnya aku udah tau jawabannya, ilmunya juga udah tau sejak ikut pengajian rutin pertama kali jaman STM. Tapi yang namanya ilmu kan kadang harus di refresh biar kita ingat lagi. betul kan?

Soal keyakinan juga kan Kadang yakin, kadang tidak. Termasuk soal siksa kubur. Terkadang logika menari - nari di alam bawah sadar sebagai bentuk denial. Paham gak sih? mungkin bukan denial sih, lebih ke rasa takut aja. Mengingat kemarin Bapak Mertua baru meninggal tetiba kepikiran siksa kubur. Emang beneran ada ya? bukan cuman ada di hadits dan Al-Qur’an aja? bukan sekedar kisah menakutkan aja? terus logika aku gimana soal hari penghisaban?

Terus Siska Jawab,

“ Soal ilmu hadits dan Al-Qur’an nya sih harus tanya Habib. Biar lebih valid. Nih Siska main logika juga yaa. Perkara siksa kubur benar ada atau tidaknya masih harus dipelajari tapi kalaupun ada toh gak rugi kan? siksa kubur jadi peringatan buat kita yang masih hidup buat beribadah lebih banyak lagi, lebih waspada. Walaupun ternyata nanti tidak ada, yaah gak apa-apa toh ibadah utamanya kan ke Allah aja. Kalau ada siksa kubur kita udah siap-siap, kalau gak ada ya biar ibadah kita semoga jadi tali sambung dan penyelamatan di hari penghisaban “ jelas Siska,

“ Intinya sih, mau ada siksa kubur atau gak kalau kitanya udah Ikhsan mah gak akan mikirin soal siksa kubur. Mikirnya gimana nanti ketemu Allah? pantas gak yah? layak gak yah? jangan mikir siksaannya dulu. Pasti eka ngebayangin sakitnya ya? hehehe “ Jawabnya sambil bercanda

“ Iyaaa, aku sakit kemarin tuh kaya tiba-tiba takut mati aja sis. rasanya udah kaya di gerbang neraka. Apalagi kalau emang beneran ada siksa kubur. Gak tau deh, mana ibadah aku yaa masih gini - gini aja. “ jawabku lesu

“ Jangan takut, masih ada kesempatan dan masih banyak kesempatan. Eka sakit terus diingatkan Allah akan kematian itu hidayah lho, sakitnya membawa hikmah “ jawab Siska,

“ Iya Sis, aku tuh kepikiran terus kemarin waktu Bapak meninggal “ lanjutku

“ Emang kenapa? Eka ngeliat banget ya? di depan mata banget ya? “ tanya Siska penasaran

“ Iya Sis, di depan mata banget. Bukan soal sedih karena ditinggal Bapak, tapi lihat proses kematian Bapak yang lancar dan gak keliatan sakit sama sekali “ jawabku

“ Kaya gimana prosesnya? jam berapa Bapak meninggal ? “ tanya Siska

“ Jadi, abis solat magrib kan biasa tuh Bapak suka dzikir , wirid, baca sholawat dan banyak banget deh amalan lainnya bareng Mamah Mertua. Terus mamah ijin dulu mau makan terus istirahat bentar. Bapak masih keliatan dzikir sambil duduk bersandar ke tembok pake bantal, masih pegang tasbih sambil merem melek saking khusyuknya. sekitar jam tujuh sebelum Isya, tiba-tiba mamah teriak. Aku langsung ke rumah Mamah dan tanya kenapa. Bentar aku haus, minum dulu ya, hehe “

“ Terus, aku ngeliat Bapak kelihatan tersungkur di kasur, posisinya kaya jatuh dari duduk gitu. Aku langsung pegang kaki nya, dingin banget. Aku tanya Bapak tapi gak jawab, Yadi juga sama. “ lanjutku,

“ Akhirnya Yadi, aku , juga Mamah tuntun Bapak baca syahadat, kalimat thoyyibah dan sholawat. Aku masih bisa liat Bapak ngikutin semua bacaan sampai terakhir solawat, abis itu bibirnya gak gerak lagi. Bibirnya langsung biru dan kaku. Sambil nangis Yadi tutup mata Bapak dan, Innalillahi wainna ilaihi rojiun “ jelasku,

Sambil membayangkan hari kematian Bapak aku merenung dan kembali bertanya,

“ Kematian Bapak yang mudah dan gak keliatan sakit aku jadi kepikiran mati ku nanti gimana ya? “

“ Bapak itu taat banget ibadahnya, rajin ke Habib, gak pernah lepas. Baik banget sama semua orang walau kadang keras soal agama termasuk ke aku dan Yadi. Cerewet dan sering ngasih ceramah soal sholat, sholawat, shodaqoh. Tapi Bapak konsisten sama keyakinan. “ lanjutku,

“ Aku jadi yakin sama pilihan jalanku sekarang yang awalnya ragu karena berbenturan dengan banyak logika. Masih harus digali sih ilmunya. Walau sekarang susah ke Habib, Yadi selalu ceritain lagi dapet apa di pengajian Habib setiap minggu. Jadi aku gak ketinggalan. Kalau ada yang aku gak paham Yadi selalu bisa jawab sih karena ilmunya kan dia lebih tahu dibanding aku. tapi kadang rasa penasaranku lebih banyak dan akhirnya kaya gini, harus diuraikan, hehehe “ kataku sangat yakin,

“ Aku malah jadi kepikir, Ya Allah merinding liat kematian yang indah begitu. Rasanya jadi kaya, waaah walau merasa gak pantas meminta tapi….Ya Allah semoga matiku nanti khusnul Khotimah. yang ada di pikiran dan rasa soal akhirnya bisa ketemu Allah, bukan takut siksa kubur atau api neraka. betul gak sis? “ lanjutku sambil agak berlinang air mata dan kulihat siska juga sama

“ Iya eka, betul banget. Takut api neraka tentu harus sebagai cambuk pengingat, tapi yang utama ya rasa malu berhadapan sama Allah nanti “

Dan aku mengiyakan sambil mengusap sedikit air mata yang menggantung di sudut mata.

Begitulah percakapan diantara kami kalau ketemu. Lebih kepada telaga hikmah sih menurutku. Piknik di telaga hikmah, hehehe


Siska selalu tau kalau aku nih tipe denial, gak yakin dan main logika soal pemahaman agama. Tapi Siska selalu tau harus menjawab apa biar rasa penasaran tak berujung ini tuntas. Bukan jawaban pelik dengan rentetan hadits tapi hal yang paling menyentuh qolbu.

Setelah itu kita lanjut ngomongin soal tingkatan keimanan yaitu muslim, mukmin dan ihsan. Wah dua jam aja gak cukup sampai akhirnya adzan Ashar berkumandang and it's time for me to go home, hiks sedih banget harus udahan.

Teman Di Segala Proses

Persahabatan kami sudah berjalan 20 tahun lamanya. Bukan waktu yang sebentar dan sudah melewati banyak proses.

Soal ngambek, miskomunikasi, salah persepsi, salah ngomong, kesel sama kebiasaan jelek masing - masing, sebel sama respon yang gak sesuai ekspektasi sampai berantem saling mempertahankan prinsip masing - masing.

Secara teori sih persahabatan kami udah sampai level intimate friend dimana kami sudah terkoneksi jiwanya (connected soul to soul).

Secara teori, Inilah level tertinggi dari persahabatan, dimana sudah gak perlu malu atau takut ngungkapin hal yang rahasia sekalipun. Bahkan dengan membaca bahasa tubuh aja bisa langsung mengerti apa yang dirasain atau pikirkan.

Diantara semua yang aku punya dalam hidup, aku bersyukur Allah ngasih aku Siska. Walau kami sempat lost contact setahun tapi Allah mempertemukan kami lagi.

Siska ada setiap proses memahami, mengerti dan memaklumi semua masalah pribadi terutama yang terkait keluarga. Mungkin karena kami punya luka pengasuhan yang sama meski beda bentuk, tapi apa yang kami rasakan sama. Jadi ya lebih mudah memahami perasaan dan kebutuhan masing - masing.

Kalau dipikir - pikir sih, kayaknya Siska lebih tau aku luar dalam dibanding Yadi si Pak Suami deh, wkwkwk. Ya iyalah, usia pernikahan kami aja baru 10 tahun. Baru setengah perjalanan dari usia sahabatan aku sama Siska! Hehe

Sekarang sih kalau ketemu kami bisa sama - sama bangga pada diri sendiri karena udah keluar dari "kubangan" dan trauma luka pengasuhan, udah sama - sama Nerima dan membiarkan semua berlalu. Yang paling utama, masalah yang sama - sama kami hadapi menghantarkan kami pada Allah semata.

Apa Kabar Sahabat Kalian?

Rasanya too much kah atau lebay atau apa sih yang gini aja sampai ditulis jadi satu artikel? mungkin iya. Tapi buat aku pribadi sih tulisan ini sebagai pengingat sebagai pengingat bahwa, betapa Maha PemurahNya Allah ngasih aku sahabat selama 20 tahun terakhir ini dan sebagai rasa syukur. Mengingat moment bersama sahabat bisa jadi pelipur lara saat merasa sendiri atau gak bis handle banyak hal. Jadi bikin ngerasa, I'm not alone.

Juga sebagai pengingat betapa berharganya keberadaan seorang sahabat. Apalagi sahabat yang selalu support, kasih masukan, semangat dan pencerahan dalam hal apapun. Jangan di sia-sia kan dan ditinggal begitu saja hanya karena ada konflik soal ego atau salah paham. Yess, every fight need time to heal, tapi jangan lama-lama sebelum si sahabat terlanjur males dan gak minat lagi dengan kita. Yang tersisa adalah penyesalan.

Memiliki sahabat udah pasti jadi anugerah tersendiri ya, yuk sapa sahabat teman - teman hari ini. Yang kangen ayo buruan WhatsApp atau video call.

Eh share dong cerita teman - teman dengan sahabatan di kolom komentar, aku juga pengen tau style sobatan temen - teman kaya gimana, pasti seruuu 😍