Tampilkan postingan dengan label Lomba Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba Menulis. Tampilkan semua postingan
Malaikat Tak Bersayap Itu Bernama, Ibu
Ilustrasi by artjoka " me and my mom "



Malaikat Tak Bersayap Itu Bernama, IbuPagi itu cerah dan matahari bersinar hangat. Saya duduk di depan teras sambil menyeruput teh manis di temani goreng ulen dan obrolan hangat bersama ibu. Nikmat sekali, bahkan kami mengobrol di temani lagu kpop favorit saya dan ibu tidak keberatan, hehe
Sambil ngobrol banyak hal, saya memperhatikan betapa sayangnya saya dengan sosok yang satu ini. Ibu adalah sosok yang tegar dan kuat sekaligus bagai malaikat tak bersayap bagi saya.
Walau ibu bercerita banyak hal sambil tersenyum dan tertawa lebar, saya bisa melihat banyak sekali gurat kesedihan dan kerapuhan di setiap keriput yang mulai muncul di wajah ibu. Seketika rasa sesal menyeruak dalam dada saya, rasa sesal karena pernah menyakiti Ibu.
Hal ini membuat saya selalu bertanya, masih adakah waktu bagi saya untuk dapat membuat ibu bahagia ? masih banyak kah waktu yang tersisa bagi saya untuk mewujudkan impian Ibu? 
Saya terus menanyakan hal yang sama pada Tuhan di setiap sujud. Rasa sesal yang bergelayut dalam hati saya bersumber pada satu hal, dosa besar yang saya takut Tuhan akan murka karena dosa saya itu. 
Dosa saya adalah pernah membenci Ibu saya dalam waktu yang cukup lama dan menyalahkan Ibu atas semua peristiwa buruk yang terjadi dalam hidup saya. Kami bahkan hidup bertahun - tahun lamanya dalam konflik tiada akhir dan setiap bertemu sering bertengkar hebat berujung saling menyakiti. 
Mengapa saya pernah membenci ibu saya dan menyalahkan ibu atas semua peristiwa buruk dalam hidup saya sampai sekian lamanya?

Tumbuh Dengan Rasa Kesepian


Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua orangtua saya bekerja setiap hari dan libur hanya di hari Minggu. Hal ini menyebabkan saya sering di tinggal sendiri di rumah dengan adik. 
Ada rasa sepi selama saya ditinggal bekerja oleh orang tua saya. Karena, setiap hari saya berangkat sekolah, makan siang dan mengaji sendiri. Tanpa memberi salam atau disambut pulang sekolah dengan gembira oleh ibu. Selain itu saya juga harus menjaga dan menyiapkan segala keperluan adik saya. 
Tidak jarang saya juga bermain sendiri, karena teman - teman seumuran saya rumahnya jauh.
Hal ini membuat saya tumbuh menjadi anak yang kesepian dan tidak percaya diri.
Hal ini ditambah dengan hubungan saya dengan orangtua sangat kaku dan formal. Ibu memiliki karakter agak keras, begitu juga ayah. 
Ayah sangat disiplin dan galak. Beliau termasuk orang tua yang tidak bisa mentolerir kesalahan meskipun usia saya masih sembilan tahun. Hukuman fisik sudah jadi langganan saya ketika saya melakukan kesalahan. Bentakan dan kata - kata kurang pantas juga sering saya terima. Terkadang saya lari ke pelukan ibu untuk mencari perlindungan, tapi naasnya ibu lebih sering diam ketimbang menghibur saya apalagi meraih hati saya.
Hal ini terkadang membuat saya berfikir kalau saya ini anak adopsi dan bukan anak kandung mereka. Rasa kesepian ini ditambah dengan keinginan saya yang kuat untuk memiliki ibu yang lemah lembut dan pengertian, tapi kenyataannya ibu adalah ibu yang tidak demikian. Benih tidak suka dan agak benci ibu berawal dari sini. Mungkin lebih tepatnya bukan benci, tapi kecewa.
Terkadang saya tidak mengerti, kenapa ibu selalu galak dan bersikap kurang lembut pada saya? apa saya anak yang nakal? apa saya menyebalkan? apa saya kurang pintar?
Saat itu saya tidak bisa menemukan jawaban apapun. mengingat usia saya masih sembilan tahun. Tapi sayangnya, perasaan ini terus berlanjut bahkan ketika saya mencapai usia sekolah menengah atas karena saya masih merasakan ibu masih tetap sama, sering marah dan galak. Tak ada sama sekali bayangan atau sebuah opini tentang ibu sebagai malaikat tak bersayap di benak saya saat itu. 

Perceraian Orangtua


Saya masih ingat, saat itu pertengahan bulan Juni tahun 1999. Suatu pagi yang cerah dan langit berwarna biru serta awan berarak ditemani matahari yang teduh . Pagi hari yang sempurna. Tidak ada tanda kemurungan. 
Pagi itu saya, ayah, ibu dan kedua adik sarapan bersama seperti biasanya. Saya duduk manis menunggu ibu menyiapkan sarapan sementara adik bernyanyi riang. Lalu kami sarapan bersama dengan nikmat. 
Lalu tiba-tiba tanpa peringatan dan aba-aba, ayah dengan wajah tegang dan kaku berkata,
jadi, teteh sama aa mau ikut siapa? Ayah atau ibu?” 
DARR!!! Saya merasa seperti terkena sambaran petir saat itu juga!! 
Saya hanya bisa berkata dalam hati, “what?!!! Apa Apaan ini??? Maksudnya ayah sama ibu mau cerai? On no!
Seketika saya seperti terkena sengatan listrik yang membuat sekujur tubuh saya berubah menjadi kaku dan kelu. Hilang semua kata dan pikiran. Pagi itu laksana hujan badai disertai amukan kilat, tak seindah cuaca cerah di luar sana. Sungguh ironis. 
Saya melihat Ibu hanya mampu berteriak seraya berkata, “ apa-apaan ini ayaaah? ayah bercanda? Maksudnya apa iniiiiii?” sambil terus menangis tiada henti. 
Ayah tidak menggubris pertanyaan dan tangis isak Ibu, ayah pergi meninggalkan meja makan dengan layu dan punggung tertunduk rapuh lantas berlalu meninggalkan kami di meja makan masih duduk tegang dan kaku. 
Saya bisa apa? Selain duduk mematung dengan pikiran berkecamuk tak percaya. lalu saya ingat harus sekolah, seketika saya bangkit dan berusaha memecahkan kekakuan tubuh lalu bergegas berangkat sekolah. Saking bingung dan masih merasa tidak percaya, saya berangkat sekolah seakan kejadian tadi pagi tidak terjadi. Saya bahkan gak nangis! 
Sejak kisah pagi yang tragis itu, hidup saya tidak pernah sama lagi. Saya rasa, inilah akhir dari segala drama keluarga selama ini. Drama keluarga? Iya, drama keluarga dimana ayah dan ibu sebelum kejadian naas itu memang sering bertengkar. Mereka kerap bertengkar hampir di setiap kesempatan.Entah apa yang diributkan, semua pertengkaran selalu berakhir dengan teriakan, bentakan dan bantingan pintu kamar tidur. 
Orang Tua saya memang bukan orang tua yang harmonis sejak awal pernikahan mereka. jadi sebetulnya, walaupun mereka akhirnya bercerai juga saya tidak heran. Tapi tetap saja, menghadapi gerbang perceraian mereka di depan mata rupanya membuat saya syok dan meninggalkan bekas luka yang selalu basah dan tak kunjung sembuh. 
Saya pun merasa perceraian mereka disebabkan oleh ibu yang tidak mampu menjaga dan melindungi keluarga hingga akhirnya mereka berpisah. Kalau saja ibu tidak selalu marah - marah dan galak, saya yakin ayah akan betah di rumah. Kalau saja ibu tidak egois dan gak selalu ingin didengar, ayah pasti gak akan lari dari pernikahan. Kalau saja. Semua gara - gara Ibu!! kadang saya sesumbar dalam hati, apa itu istilah ibu sebagai malaikat tak bersayap? nonsense!!

Konflik Tiada Akhir


Setelah perceraian mereka, drama keluarga pun dimulai. Urusan hak asuh anak, uang bulanan sampai pernikahan ibu yang kedua. Baik Ibu maupun saya, kami masing - masing berjuang menghadapi perceraian. 
Ibu yang berusaha menyusun kembali serpihan emosi dan kewarasannya sendiri dan saya yang depresi karena merasa kehilangan sosok ayah dan keluarga yang tidak utuh. 
Kami tidak bisa saling menguatkan karena ibu enggan membagi rasa sedihnya dan melimpahkan tugas domestik pada saya, seperti urusan memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah sampai urusan sekolah kedua adik saya. 
Sementara ibu banyak menghabiskan waktu di kantor dan dengan bebas pergi kemanapun dia suka dan lupa kalau dia punya anak - anak rapuh yang harus diperhatikan di rumah. hal ini kemudian yang membuat saya semakin kecewa dan membenci ibu. Hal ini bahkan berlanjut sampai saya lulus kuliah dan mulai bekerja. 
Lelah dengan semua emosi negatif yang saya rasakan baik terhadap ibu dan hidup saya, akhirnya saya memutuskan untuk mengubah hidup saya, selamanya. 

Sebuah Titik Balik


Amarah, kecewa dan rasa kesepian yang menggelayuti hidup saya selama bertahun - tahun akhirnya menemui titik terang cahaya. Cahaya itu adalah Keenan, anak saya yang pertama.
Setelah menikah dan menjadi ibu akhirnya saya bisa memahami Ibu dan mencoba mengerti dan memaafkan ibu bahkan menyesal pernah membenci ibu segitu hebatnya. 
Proses ini tidak mudah dan panjang sekali. Prosesnya di mulai sejak saya masih kuliah tingkat D3 dulu sampai saya menikah. Setiap proses terasa sangat berat karena berbenturan dengan ego dan trauma.
Trauma dari perceraian dan bagaimana dulu saya diperlakukan kasar semasa kecil berimbas pada cara saya mengasuh anak saya. Trauma yang akhirnya baru terselesaikan setelah lebih dari dua puluh tahun berjuang. 
Pada akhirnya saya memahami bagaimana sudut pandang ibu tentang semua ini. Seperti kepingan puzzle, saya mencoba menyusun satu per satu bagian cerita dari sudut pandang ibu sebagai pribadi dan ibu sebagai ibu. 

Ibu Juga Manusia


Ibu juga manusia, perempuan yang memiliki perasaan, harapan, cita - cita dan keterbatasan. Gelar Ibu tidak serta merta menjadikannya makhluk sempurna tanpa cacat. Sebagai pribadi, ibu juga berproses menemukan jati dirinya. 
Ibu juga punya rasa sakit dan trauma. 
Saya masih ingat, Ibu pernah bercerita mengenai trauma yang beliau rasakan saat masih kecil. Saat itu usia ibu sekitar sepuluh tahun dan seperti kebanyakan anak di usia tersebut terkadang bermain bersama teman terkadang juga bertengkar. Naasnya, ketika ibu bertengkar dengan salah satu temannya, Ibu dari teman ibu saya itu mengadu pada kakek kalau pertengkaran anak mereka di sebabkan oleh Ibu saya, padahal teman Ibu saya itu yang memulai lebih dulu. Akibatnya, Ibu mendapat hukuman dari Kakek. Dengan menggunakan sapu lidi, pantat dan kaki ibu dipukul hingga memerah dan bengkak. Ya Tuhan, kalau mengingat cerita Ibu itu, hati saya sedih.
Ibu adalah anak kelima dari 8 bersaudara. Keluarga ibu termasuk keluarga kaya tapi gak kaya - kaya amat, cukup berada sampai kakek dan nenek waktu itu bisa menyekolahkan anak - anaknya hingga SMA. Kakek adalah seorang perwira ABRI berpangkat, saya tidak tahu pangkatnya apa tapi kakek pernah menjadi pemimpin sebuah tim saat ada konflik di Irian Barat dulu. Sementara nenek adalah keturunan bupati Cianjur, jadi bisa di bilang nenek berasal dari keluarga Raden.
Keluarga ibu cukup keras dan disiplin dalam mendidik anak - anaknya. Ibu juga sering merasa diperlakukan tidak adil mengingat ibu anak ketujuh dari delapan bersaudara. Ibu juga mengalami masa sulit di sepanjang masa mudanya. Banyak impian Ibu yang harus kandas demi kakak dan juga kami anak - anaknya.
Sewaktu kecil, Ibu memiliki hobi dan cita - cita sebagai penulis dan pelukis. wahh ternyata hobi ibu menurun pada saya ya, hehehe. waktu kecil ibu sering mengikuti lomba menggambar dan juara. Karena kakek dan nenek tidak menyetujui hobi ibu, jadi ibu mengikuti setiap perlombaan dengan diam - diam. Lalu darimana ibu mendapat alat tulis dan gambar? dari setiap hadiah lomba yang ibu terima. waahhh, ibu hebat yaa.
Saya rasa pengalaman ibu semasa kecil membuatnya menjadi pribadi yang kuat, tangguh dan keras. Ibu berusaha untuk selalu berjuang dalam hidupnya. Memperjuangan harapan dan cita - citanya. Berjuang untuk mendapat kasih sayang dari keluarga dan orang sekitarnya. Saya bisa merasakan, ibu juga tumbuh dalam kesepian dan merasa kurang disayangi. 
Dengan Memahami bagaimana hidup ibu semasa kecil hingga dewasa, membuat rasa benci saya perlahan luntur. 
Kebencian saya terhadap ibu semakin luntur setelah saya menikah. Saya merasakan sendiri betapa sulitnya mempertahankan biduk rumah tangga. Tak semudah membalikan telapak tangan. Setelah saya sendiri mengalami konflik rumah tangga dan menjadi ibu bagi kedua anak saya, akhirnya saya paham bagaimana rasanya menjadi ibu ketika menghadapi perceraian mereka dahulu. Akhirnya saya mengiyakan istilah ibu sebagai malaikat tak bersayap. 
Memang tidak mudah menjadi ibu dan istri dengan segala tugas dan tanggung jawabnya. Tidak sedikit hal pribadi yang dikorbankan. Bukan hanya waktu, tapi tenaga, uang dan cita - cita. Menjadi ibu bukan hal yang mudah. Mulai dari kurang tidur sampai kelelahan tiada akhir mengurus mereka dari bayi. Belum termasuk stress mencari uang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan anak. 
Saya jadi ingat, walau ibu jarang ada di rumah lalu ketika pulang sering marah, galak dan disiplin terhadap saya, Ibu tetap memperhatikan kebutuhan saya. Untuk urusan jajan dan perut saya tidak pernah kekurangan sedikitpun. Tidak ada istilah kelaparan atau gak punya mainan. Walau masa kecil saya kesepian, perut saya kenyang. Satu hal yang layak disyukuri sebetulnya. 
Perceraian juga bukan hal yang mudah bagi Ibu, saya bisa bayangkan betapa sulitnya menghadapi perceraian dan berjuang menyusun kembali kepingan jati diri setelahnya. Akhirnya saya dapat memaklumi ketika akhirnya ibu menjadi depresi dan hilang kendali setelah bercerai dengan ayah. Saya membayangkan kalau saya jadi ibu, mungkin akan sama depresinya dengan ibu. 
Dalam keadaan depresi pun, ibu tetap berjuang mencari nafkah untuk saya dan adik - adik saya. Bahkan saya bisa kuliah berkat perjuangan ibu. Ibu memang tangguh dan kuat. 
Sampai titik ini, saya semakin tersadar dan mulai merasa bersalah pada ibu karena pernah membencinya.

Permohonan Maaf


Setelah saya melahirkan Keenan, Ibu menemani saya selama tiga hari di rumah ibu mertua. Ibu membuatkan saya sup daun katuk dan daun kelor setiap hari. Mengajari saya memandikan Keenan, memakaikan baju dan menyusui. Saya merasa tenang dan nyaman selama ibu ada di sisi saya selama tiga hari itu. Saya sangat bersyukur masih memiliki ibu di sisi saya yang bisa mengajari saya bagaimana mengurus bayi yang baru lahir.
Sayangnya, karena ibu harus kembali bekerja ibu tidak bisa lama menemani saya. Hal ini membuat saya sedih dan kalang kabut hingga akhirnya membuat saya mengalami Baby Blues Syndrome. Ternyata melahirkan lalu mengurus anak baru lahir itu tidak mudah. Lelah dan stress nya luar biasa. 
Setelah saya melahirkan anak kedua, saya semakin menyadari pentingnya kehadiran ibu. Betapa saya sangat membutuhkan ibu dan menginginkannya selalu ada di sisi saya. Ibu adalah malaikat tak bersayap milik saya.
Saya mulai menyadari banyak hal mengenai ibu. Mulai bisa memahami dan memaklumi ibu saya. 
Setiap kali saya berlibur ke rumah ibu, saya bisa melihat ibu semakin tua dan fisiknya tidak sekuat dulu lagi. Saya juga bisa melihat banyak sekali gurat kesedihan dan kerapuhan di setiap keriput yang mulai muncul di wajah ibu. Seketika rasa sesal meyeruak dalam dada saya dan saya sadar kalau saya belum pernah sekalipun membahagiakan Ibu.
Ya Tuhan, sampai kapan saya akan membenci, marah , kecewa dan menyalahkan Ibu atas semua tragedi dalam hidup saya? Pantaskah saya menyalahkan beliau? Perceraian Ayah dan Ibu, apakah Ibu yang menciptakan dan menginginkan? Ibu juga berjuang mempertahan kan harga diri dan kewarasan beliau selama ini. 
Kalaupun ibu menjadi pribadi yang keras itu karena tuntutan ibu harus demikian demi kami anak - anaknya. Selama bertahun - tahun ibu bekerja tiada henti sampai pinjam sana dan pinjam sini demi biaya kuliah saya dan adik - adik saya. Sendirian! Karena ayah tak bisa diandalkan.
Ibu juga ingin bahagia. 
Saya tak pernah memikirkan hal itu. Ibu juga ingin memiliki pasangan hidup untuk saling berbagi dan menyayangi. Tapi kenyataanya, ibu kurang beruntung soal ini. Pertama perceraian dengan ayah dan dengan suami nya yang kedua yang lagi - lagi harus kandas. Saya yakin, ibu juga sama kesepiannya dengan saya. 
Mengapa saya sangat egois sekali dan hanya memikirkan penderitaan diri sendiri. Ibu juga sama kesakitannya, sama berjuang untuk dirinya sendiri. Ibu juga ingin bahagia, sama seperti saya.
Ya Tuhan, maafkan saya.
Akhirnya suatu hari saya memutuskan untuk bertaubat dan memohon ampunan pada ibu. Saya memilih hari ulang tahunnya sebagai hari taubat. Jauh - jauh hari sengaja saya menabung untuk membelikan jam tangan kesukaan ibu, jam tangan berlapis sepuhan emas. Dengan perasaan dag dig dug dan tegang, saya serahkan hadiah ulang tahun pada ibu. 
Ibu, selamat ulang tahun ya “ ucap saya, 
waahh apa ini teteh? hadiah buat ibu? waah, makasih teh. padahal mah gak usah repot - repot “ Jawab ibu dengan wajah senang.
gak apa -apa bu, teteh udah nyiapin ini udah lama kok, hihihi. buka dong “ jawab saya lalu ibu membuka hadiahnya dan terkejut.
waahh teteh, ini jam tangan emas ya? aduh pasti mahal! teteh gak lagi gak punya uang, padahal mah gak usah “ jawab ibu terkejut, lagi di kasih hadiah aja ibu masih mikirin masih keuangan saya. duh makin mencelos hati saya.
Gak kok bu, ini mah sepuhan kok, bukan emas beneran. hehehe “ jawab saya malu - malu
Ibu tampak bahagia sekali. saya senang dan hati saya terasa sangat hangat. Tanpa ragu lagi saya langsung memegang kedua tangan ibu lalu bersujud sambil menangis.
Ibu maafin teteh ya, teteh sering nyakitin perasaan ibu dan sering bikin ibu sakit hati. sering merepotkan dan selalu bentak ibu. maafin teteh ya Bu “ ucap saya sambil menangis. Tenggorokan rasanya seperti tercekik dan tangisan pun semakin sulit dikendalikan. 
Ibu terkejut dan ikut menangis. sambil mengangkat tangan dan kepala saya ibu berkata, 
Teteh… udah jangan nangis lagi, gak apa - apa teh…. gak apa - apa gak usah minta maaf sama ibu sampai kayak gini. Jauh sebelum teteh minta maaf , ibu udah maafin semua kesalahan teteh. maafin ibu juga ya
Lalu saya bangkit dari tangisan dan menatap wajah ibu yang terlihat basah oleh air mata di antara kerutan wajahnya. Kami berpelukan dan hati saya lega sudah. 
Lalu kami duduk bersebelahan sambil saling memegang tangan dan ibu mengusap air mata saya. lalu saya berkata, 
Maaf ya teteh belum bisa membalas semua kebaikan, kerja keras dan usaha ibu sejak teteh bayi sampai sekarang
Gak apa - apa teh, jangan mikirin itu. Ibu ikhlas mengurus teteh sampai sekarang. Buat ibu, melihat teteh bahagia sama anak - anak, pernikahan teteh bahagia dan teteh sukses ….ibu udah bahagia, itu hadiah terbaik buat ibu. yaaa selain sering dibawakan batagor sama roti bakar lah bonusnya, heheh” jawab itu menenangkan hati saya sambil bercanda. 
Ah, terimakasih Ya Allah. Saya masih diberi waktu dan kesempatan untuk memohon maaf pada ibu. Terimakasih. 

Hadiah untuk Ibu


Saya sangat bersyukur, sekarang hubungan saya dan ibu jauh lebih baik .Saya bersyukur masih diberikan ibu hingga usia ini dan masih diberikan kesempatan memohon maaf. 
Sekarang setiap kali kami bertemu, kami selalu bercerita banyak hal, ke salon bersama dan luluran bersama Hal - hal seputar dunia perempuan dan kecantikan yang tidak pernah kami lakukan waktu dulu. Bahkan kami sama - sama menyukai drakor, hehe.
Penyesalan saya hanya satu, saya belum punya cukup banyak uang untuk membalas semua perjuangan ibu untuk saya selama ini. Saya ingin sekali mewujudkan impian Ibu untuk memiliki rumah di desa lengkap dengan kolam ikan dan kebun anggrek, bunga favoritnya.
Ketika saya melontarkan keinginan saya ini, ibu hanya berkata, 
Yang terpenting buat Ibu sekarang, Teteh bahagia dengan pernikahan Teteh dan sukses. itu saja cukup buat ibu. gak perlu banyak ngasih hadiah. ya kalau ibu di kasih rezeki tentu gak ibu tolak ya, kan lumayan. hehehe “ jawab ibu sambil bercanda. 
Ibu doakan teteh sukses dengan menulis di blognya dan sukses jadi seniman. Cita - cita ibu yang gak pernah terwujud. Mendengar teteh juara lomba waktu itu terus kemarin dapet hadiah wacom, ibu seneng banget. Itu aja udah jadi hadiah buat ibu. Berarti ibu berhasil mengantar anaknya sukses “ lanjut ibu. 
Jawaban ibu memang ibu - ibu banget ya, saya juga merasakan hal yang sama untuk anak - anak saya. Yang terpenting adalah kebahagiaan dan kesuksesan anak - anaknya. Urusan kebahagiaan sendiri, itu belakangan. 
Untuk saat ini rezeki saya memang masih terbatas. Saya baru bisa memberikan ibu small things sebagai hadiah. Pijatan di kepala dan badan , general cleaning rumah ibu, memasak dan mencuci baju. serta jajanan sederhana. Semoga secepatnya saya bisa mewujudkan impian ibu ya.

Sebuah Pencerahan


selamat  hari ibu
me and mom


Ibu juga manusia, beliau tidak luput dari kesalahan dan ketidaksempurnaan. Ibu juga berproses dalam memahami dirinya sendiri dan mengobati luka lama. Sungguh sangat egois jika kita sebagai anak hanya memikirkan luka batin sendiri, bagaimana dengan ibu? ibu juga punya trauma dan luka yang sama.
Jika dibandingkan dengan segala perjuangannya tanpa henti dan pamrih, luka batin yang saya alami sungguh tiada tandingannya. Mengingat semua perjuangan ibu, bagi saya ibu adalah malaikat tak bersayap. Sungguh.
Meminta maaf sekali saja rasanya tidak cukup, begitu pula dengan ucapan terimakasih. ada baiknya memang kita lebih sering menyapa hati ibu, menanyakan kabarnya dan mengatakan banyak terimakasih dan diakhiri dengan ucapan i love you ibu. Saya yakin Ibu akan sangat bahagia.
Sudahkan kita menyapa ibu kita hari ini? sudahkan meminta maaf? sudahkah memberikan small things yang bisa membuat wajahnya tersenyum? sudahkan kita mengatakan padanya, I Love you mom, thank you for everything ? 
Sudahkan? yuk kita sapa ibu kita sebelum segalanya terlambat. 

"Tulisan  saya ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba menulis Blog yang di selenggarakan oleh  Female Blogger Banjarmasin dan  Gloskin Banjarmasin, dengan Tema : Hadiah terindah untuk Ibu"

hari ibu