Pernahkah kamu merasa nyaman dan hangat ketika mengunjungi kamar mandi di Mall? Tidak hanya itu, kamupun betah berlama-lama disana hanya untuk mirror selfie karena merasa "cakep"? Perasaan yang seakan “disambut” tersebut muncul tidak hanya dikarenakan desain interiornya yang minimalist dan clean, tapi juga pencahayaan yang diatur sedemikian rupa sehingga menciptakan mood hangat.
Dikutip dari Researchgate, Gary Steffy, penulis buku bertajuk : Architectural Lighting Design menyatakan bahwa pola pencahayaan mempengaruhi perilaku manusia di ruang publik maupun privat.
Meski terbukti secara ilmiah, sayangnya pencahayaan seringkali menjadi elemen yang paling diremehkan dalam perencanaan dan perancangan desain interior terutama area privat.
Padahal, pengaruh cahaya di area privat sangat penting karena berkaitan dengan ritme rutinitas, mulai dari persiapan pagi yang serba cepat hingga waktu relaksasi di malam hari.
Konsep pencahayaan emosional berangkat dari pemahaman lintas disiplin ilmu yaitu studi psikologi lingkungan, arsitektur, dan sinematografi selama beberapa dekade sejak pertama kalinya dicetuskan oleh. Louis Daguerre pada tahun 1830-an.
Konsep ini menjadi acuan dasar dalam perencanaan dan perancangan desain arsitektur interior yang mengatur intensitas, warna, dan arah cahaya untuk mempengaruhi suasana hati, psikologi, dan emosi audiens atau penghuni ruang. Warna cahaya, arah sorot, dan intensitasnya dapat mengubah cara kita merasakan sebuah ruang, tanpa perlu mengubah tata letak atau material utama.
Pentingnya Mengatur Cahaya Untuk Menciptakan Berbagai Mood Dalam Ruang
Lucy Martin dalam bukunya "Residential Lighting: A Practical Guide" menjelaskan bahwa cahaya adalah "bahan bangunan tak kasat mata". Cahaya yang diatur dengan baik mampu menciptakan dimensi, menonjolkan tekstur dinding, dan yang paling penting, memberikan privasi emosional.
Pengaturan cahaya dianggap sebagai investasi paling efisien dalam sebuah ruang karena hanya dengan satu sentuhan saklar atau dimmer, kita bisa mengubah atmosfer ruangan dari formal menjadi intim, atau dari produktif menjadi santai, sesuai dengan apa yang sedang kita rasakan atau butuhkan saat itu.
Oleh karena itu, memahami bagaimana elemen cahaya bekerja bukan sekadar tentang estetika visual, melainkan tentang bagaimana kita merancang pengalaman hidup di dalam setiap jengkal ruang. Dengan menempatkan sumber cahaya pada posisi dan fungsi yang tepat, kita sebenarnya sedang menyusun sebuah bahasa emosional yang berbicara langsung kepada kenyamanan psikologis penghuninya.
![]() |
| Diagram temperatur warna dan tabel sumber cahaya berdasarkan suhu warna yang akan digunakan (gambar : Wikipedia) |
Penerapan yang Digunakan Dalam Pencahayaan Emosi Pada Ruang
Untuk menerapkan teori pencahayaan emosi pada ruang, maka diperlukan pendekatan metodis yang tidak hanya sekadar pemilihan model lampu. Dalam ranah pencahayaan emosional, terdapat tiga pilar teknis utama yang menjadi standar bagi para desainer untuk mengontrol persepsi manusia terhadap sebuah ruang. Teknik yang digunakan dalam pencahayaan emosi pada ruang diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Indirect Lighting: Cahaya yang Tidak Terlihat, Tapi Terasa
Salah satu kunci utama pencahayaan emosional adalah penggunaan lampu indirect atau backlight. Alih-alih menyinari ruang secara langsung, cahaya ini dipantulkan melalui dinding, plafon, atau belakang cermin. Hasilnya adalah pencahayaan yang lembut, tidak menyilaukan, dan terasa lebih “mahal”.
Backlight di belakang cermin wastafel, misalnya, menciptakan efek visual yang bersih dan modern. Cahaya menyebar merata, membuat wajah terlihat lebih natural, sekaligus menambah kedalaman pada desain kamar mandi.
![]() |
| Penerapan Indirect Lighting di kamar mandi |
2. Warm White vs Neutral White: Mengatur Mood dengan Warna Cahaya
Secara psikologis, pentingnya pengaturan cahaya pada ruang terletak pada perannya sebagai perangsang biologis utama yang mempengaruhi sistem saraf pusat (otak) dan memicu respons emosional melalui sistem endokrin (hormon).
Peneliti pencahayaan ternama, Dr. Mariana Figueiro, dalam berbagai studinya yang sering dikutip di jurnal Lighting Research & Technology, menekankan bahwa ketidakmampuan sebuah ruang untuk menyesuaikan cahaya dengan waktu biologis manusia dapat berdampak buruk pada kesehatan mental, pola tidur, hingga tingkat stres.
Jadi, mengatur pencahayaan bukan sekadar urusan estetika agar ruangan terlihat "cantik", melainkan kebutuhan mendasar untuk menjaga keseimbangan emosi dan kesehatan fisik penghuninya.
Pemilihan warna cahaya menjadi faktor krusial. Warm white (sekitar 2700k–3000K) memberikan kesan hangat, menenangkan, dan intim. Warna ini sangat cocok untuk penggunaan malam hari, saat tubuh mulai beristirahat dan pikiran perlu ketenangan.
Sementara itu, neutral white atau cool white lebih ideal untuk pagi hari. Cahaya yang lebih terang dan segar membantu meningkatkan fokus dan energi, membuat rutinitas pagi terasa lebih produktif. Dengan sistem pencahayaan yang fleksibel, satu kamar mandi bisa melayani dua kebutuhan emosional yang berbeda dalam satu hari.
3. Layering Cahaya: Menciptakan Mood Tertentu Melalui Pencahayaan Emosional
Menghadirkan mood tertentu dalam sebuah ruang bukanlah tentang seberapa banyak lampu yang dipasang, melainkan tentang bagaimana kita mengatur distribusi dan karakter cahayanya.
Pengaturan yang tepat memungkinkan sebuah ruangan bersifat multifungsi yang bisa mendukung produktivitas yang tinggi di siang hari, namun bisa berubah menjadi tempat pelarian yang tenang di malam hari.
Untuk menciptakan ruang yang memiliki kedalaman dan karakter, kita perlu menerapkan teknik layering cahaya atau pencahayaan berlapis.
Teknik ini adalah strategi menggabungkan beberapa jenis pencahayaan dalam satu ruangan untuk menciptakan keseimbangan antara fungsionalitas dan kenyamanan visual. Dalam teknik layering, kita membagi pencahayaan menjadi tiga lapisan utama, yaitu :
1). Lapisan Dasar (Ambient): Pencahayaan yang Menciptakan Mood Nyaman
Ambient Lighting atau cahaya umum yang bersifat lembut digunakan ketika kita ingin menciptakan mood yang nyaman, rileks dan tenang pada ruang. Dalam penerapannya, gunakanlah lampu gantung yang memiliki penutup (diffuser) agar cahaya dapat tersebar merata tanpa menyilaukan mata.
Karakteristik cahaya ambient harus menggunakan suhu warna hangat (Warm White 2700K-3000K), karena secara psikologis warna ini meniru suasana matahari terbenam yang memberi sinyal pada otak untuk mulai beristirahat. Hal ini sejalan dengan prinsip Suhu Warna (Kelvin) Cahaya hangat (2700K - 3000K) yang mampu merangsang produksi melatonin, hormon yang memicu rasa rileks dan kantuk.
![]() |
| Ambient Lighting di kamar mandi |
2). Lapisan Fungsional (Task): Pencahayaan yang Menciptakan Mood Fokus, Energik, dan Produktif
Jika aktivitas pada ruang cukup intens dan membutuhkan konsentrasi tinggi, kita bisa menerapkan teknik utama Task Lighting atau cahaya tugas. Penerapannya bisa dilakukan dengan menggunakan lampu dinding di kedua sisi cermin (wall sconces) atau cermin dengan lampu terintegrasi (backlit mirror) yang membantu aktivitas spesifik seperti bercukur atau berdandan.
Karakteristik cahaya yang dibutuhkan adalah neutral white atau cool white ( 4000K-5000K) yang ideal untuk pagi hari. Cahaya yang lebih terang dan segar membantu meningkatkan fokus dan energi, membuat rutinitas pagi terasa lebih produktif.
Cahaya jenis ini efektif menekan produksi melatonin sehingga kita tetap terjaga, karena pada dasarnya cahaya dingin/biru merangsang kortisol, yang meningkatkan fokus dan kewaspadaan.
![]() |
| Task Lighting di kamar mandi |
3). Lapisan Estetika (Accent): Pencahayaan yang Menciptakan Mood Intim
Untuk menciptakan kedalaman ruang, teknik utama yang bisa diaplikasikan adalah Accent Lighting atau cahaya aksen yang memberikan sentuhan estetis dan dramatis yang menonjolkan detail interior.
Penerapannya dilakukan dengan menggunakan spotlight atau track light untuk menyorot elemen spesifik seperti lukisan, tekstur dinding bata, atau benda seni lainnya, sembari membiarkan area di sekelilingnya sedikit lebih gelap.
![]() |
| Accent Lighting di kamar mandi |
Kunci dari keberhasilan layering adalah fleksibilitas. Dengan memisahkan saklar atau menggunakan fitur dimmer pada setiap lapisan, kita memiliki kontrol penuh untuk mengubah suasana ruang kapanpun dibutuhkan. Misalnya, saat ingin fokus bekerja, kita bisa menyalakan lapisan task dan ambient. Namun, saat ingin bersantai, cukup nyalakan lapisan accent dan mood lighting untuk menghadirkan ketenangan instan.
Ketika ketiga teknik layer pencahayaan bekerja bersama, kamar mandi tidak hanya fungsional, tetapi juga akan terasa “bernyawa”.
Cahaya dan Sanitary: Hubungan yang Sering Terlewatkan
Mengatur pencahayaan di kamar mandi adalah kunci untuk mengubah ruangan fungsional menjadi tempat relaksasi (spa) atau suasana yang mewah. Mengkombinasikan berbagai jenis cahaya (layering) dan memilih suhu warna yang tepat akan menciptakan mood yang diinginkan.
Dengan sistem pencahayaan yang fleksibel, satu kamar mandi bisa melayani dua kebutuhan emosional yang berbeda dalam satu hari.
Pada beberapa konsep kamar mandi, area toilet juga mulai mendapat perhatian lebih dari sisi desain. Informasi seputar jual closet jongkok flush kini tidak lagi hanya bicara soal fungsi, tetapi juga bagaimana desainnya dapat menyatu dengan pencahayaan ruang agar tetap terlihat bersih dan modern.
Begitu pula dengan wall hung toilet yang semakin populer. Dengan desain menggantung dan area lantai yang lebih terbuka, pencahayaan indirect di bagian bawah dapat menciptakan efek floating yang elegan, sekaligus memperkuat kesan minimalis.
Mengubah Suasana Tanpa Renovasi Besar
Keindahan pencahayaan emosional terletak pada fleksibilitasnya. Kita tidak perlu mengganti seluruh desain kamar mandi untuk mendapatkan suasana baru. Cukup dengan mengatur jenis lampu, posisi, dan warna cahaya, transformasi bisa langsung terasa.
Teknologi pencahayaan modern bahkan memungkinkan pengaturan intensitas cahaya sesuai waktu atau suasana hati. Pagi hari terasa segar, malam hari terasa tenang, semua dalam satu ruang yang sama.
Cahaya sebagai Bahasa Emosi dalam Desain
Pencahayaan bukan sekadar elemen teknis, melainkan bahasa emosional dalam desain interior. Ia berbicara tentang kenyamanan, ketenangan, dan pengalaman personal. Kamar mandi yang dirancang dengan pencahayaan tepat akan terasa lebih intim dan relevan dengan gaya hidup modern.
Dengan memadukan pencahayaan indirect, pemilihan warna cahaya yang cermat, serta desain sanitary yang selaras, kamar mandi dapat berubah menjadi ruang dengan karakter yang kuat tanpa terasa berlebihan.
Jika kamu ingin mengeksplorasi produk sanitary dan inspirasi desain yang mendukung pencahayaan emosional dalam kamar mandi modern, kamu dapat melihat berbagai pilihan menarik di jomoo.co.id dan menemukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan serta suasana yang ingin diciptakan.
Referensi :
https://en.wikipedia.org/wiki/Color_temperature
https://www.sciencedirect.com/topics/computer-science/color-temperature#:~:text=Color%20temperature%20is%20a%20term,using%20filters%20or%20electronic%20compensation.
https://www.greenleafblueberry.com/blogs/news/understanding-color-temperature?srsltid=AfmBOorZyr2YeKvPrgvpp1w9XOk8oXzpXA0NHyvw5_dV0ARroyI6gg9a
https://www.thelightingpractice.com/what-is-circadian-lighting/
https://binus.ac.id/malang/interior/2022/11/30/warna-cahaya-pada-lampu/











Posting Komentar
Posting Komentar