Berobat batu empedu Part 1.

Sakit Batu empedu

Pengalaman Berobat  batu empedu Part 1. 5 Tahun yang lalu tepatnya bulan Agustus 2016 adalah pertama kali saya merasakan munculnya sakit batu empedu. Awalnya saya tidak mencurigai bahwa yang saya rasakan ini adalah sakit batu empedu. Karena gejalanya mirip dengan maag atau GERD, yaitu sakit perut kanan dekat ulu hati ( kolik bilier ), kembung, mual, muntah dan diare.

Waktu itu sekitar bulan Agustus, saya merasakan sakit di perut kanan bawah. sakitnya menetap dan tidak kunjung hilang. Lalu saya masuk IGD RSUD Ujung Berung. Karena saya sedang hamil, dokter mendiagnosa saya akan melahirkan prematur. Lalu saya rawat inap selama satu Minggu. Saya agak lupa apa saya USG atau tidak. Kalau gak salah sih USG, melihat kondisi janin sehat dan tidak ada indikasi lain. Sehingga dokter menyarankan saya rawat inap dan diberi pengobatan penguat janin.

Tetapi, sebulan setelah melahirkan saya kembali merasakan sakit perut yang sama. bahkan saya sesak hingga kesulitan bernafas seperti akan mati saja rasanya. Ibu mertua lantas menghangat perut, badan dan punggung. Alhamdulillah sesak berangsur hilang tapi tidak dengan sakit perutnya. Masih tetap saya rasakan hingga akhirnya saya masuk IGD lagi.

Lalu saya berobat ke dokter umum, diagnosa dokter saya kena GERD. sakit perut perlahan hilang dan saya tidak kambuh lagi.

Tetapi dalam waktu satu tahun setelahnya, sakit perut saya sering kambuh. Dan saya langganan masuk IGD saking gak kuatnya menahan sakit perut kanan tepat di bawah rusuk yang menjalar sampai punggung. Sakitnya menetap, gak hilang dengan posisi duduk atau tidur sekalipun.

Lantas, saya putuskan untuk berobat ke poli penyakit dalam di RSUD Ujungberung. Dokter menyarankan tes urin, tes darah dan USG abdomen.

Hasilnya, saya terkena batu empedu. Terlihat batu empedunya di hasil USG

Lalu dokter menyarankan saya untuk mengurus kartu BPJS dan segera di operasi pengangkatan kantong empedu.

Apa sih Sakit Batu Empedu?

Sakit Batu empedu, adalah sakit yang dirasakan di area perut kanan dengan beberapa gejala dan ciri - ciri yang hampir sama dengan maag atau GERD. 

Diagnosis Sakit Penyumbatan saluran batu empedu

Sakit Batu empedu dan Penyumbatan saluran batu empedu biasanya baru dapat diketahui setelah melakukan diagnosa dan melakukan USG. Tetapi ada ciri - ciri sakit batu empedu dan penyumbatan saluran batu empedu yang dapat kita ketahui sebelum mengunjungi dokter Bedah atau penyakit dalam.

Ciri - ciri sakit Batu empedu


  • Sakit perut bagian kanan tepat dibawah tulang rusuk
  • Sakit perut menyebar ke sebelah kanan hingga punggung belakang
  • Sakit punggung menetap dan tidak bisa hilang dengan posisi duduk atau berbaring
  • Sakit bisa berlangsung lama hingga diberikan obat penahan sakit
  • Mual
  • Susah BAB
Perut kembung ( sehingga sering salah didiagnosa sebagai sakit maag atau GERD )


Ciri - ciri sakit penyumbatan saluran batu empedu

  • Secara umum ciri - cirinya sama dengan sakit batu empedu
  • seluruh Badan mulai menguning, mulai dari kaki hingga mata
  • Urine berwarna coklat pekat
  • Tinja berwarna putih dempul

Penyebab Sakit Batu Empedu

  • Makan terlalu banyak yang mengandung lemak, minyak, kolesterol 
  • Tingkat hormon yang berlebih

Drama Pengobatan Batu Empedu


Secara pribadi, saya tidak keberatan menjalani operasi padahal saya baru operasi Sesar setahun sebelumnya. Tapi karena saya tidak tahan dengan kolik yang sering kambuh saya berfikir lebih baik operasi sekarang agar tidak kambuh lagi.

Tapi saya dan suami kebingungan karena Kilan usianya masih satu tahun dan sulit dekat dengan siapapun. Itu benar, jangan kan dengan ayahnya dengan saya saja sering tantrum.

Akhirnya kami berdiskusi cukup panjang dan alot, hasilnya adalah saya berobat alternatif dengan harapan perlahan bagi empedu saya sembuh.

Antara yakin dan tidak yakin sih sebetulnya, karena saya tipe orang yang kalau sakit meski itu tidak terlalu parah ya harus ke dokter. Alasannya cukup krusial, untuk menghindari hal - hal yang tidak diinginkan dan mencegah suatu penyakit bertambah parah.

Tapi karena kasus nya kali ini berhubungan dengan anak, saya berusaha ikhlas sambil menjalani pengobatan alternatif.

Pertama, operasi gaib


Lucu gak sih kedengarannya? Tapi iya namanya emang operasi gaib. Udah mirip cerita harry potter belum? hehehe. Agak ajip sih dengernya, operasi gaib kaya gimana sih?

Jadi, saya dapat info ini dari teman suami. Katanya si akang ini bisa operasi sakit apapun. Mulai dari jantung, ginjal apalagi batu empedu. Lokasinya di daerah Banjaran Kab. Bandung. Kabarnya bahkan bisa operasi kanker di kepala dengan memisahkan kepala nya dari tubuhnya, membuang kankernya lalu menyatukan kembali tubuh dan kepalanya. Waw, entah itu benar atau tidak, yaaah kami coba juga metode yang agak absurd ini.

Lalu, di operasi lah saya. Saya sih gak lihat proses nya gimana. Tapi suami yang lihat, katanya perut dibawah pusar saya dibelah menggunakan pisau kecil mirip keris. Terus keluar darah dan entah gimana caranya si batu ojol - ojol keluar. Setelah selesai operasi yang hanya memakan waktu 15 menit itu, saya diperlihatkan batu nya. Hitam legam, bentuknya ada yang persegi dan lonjong. Jumlahnya 5 buah kalo gak salah.

Melihat bentuk batu yang begitu, saya agak curigesyen yaa, karena setahu saya bentuk batu empedu itu mostly bulat dan berwarna keemasan. Bukan hitam legam mirip batu Ali. Aahh, saya pikir ini sih atraksi sulap tukang sihir aja.

Tapi suami terlihat lega, ya sudah saya manut saja. Padahal saya gak percaya, selain karena mahal ( hampir 2 juta) juga ya saya gak yakin nih tabib bener gitu.

Lalu apakah saya sembuh? Oh tidak ferguso!!!! Sebulan kemudian kambuh lagi dan masuk IGD lagi. Tuuhh kan??? Bener apa kata saya. Tabibnya bohong! Lalu saya merengek minta berobat lagi ke dokter, lagi lagi ditolak dan menyarankan berobat ke alternatif lain.

Kedua, Pengobatan Suntik


Wah, pengobatan apalagi ini? Suntik beneran di suntik? Iya disuntik.

Sebagian teman - teman mungkin tahu pengobatan suntik Hj. Imas di Cibaduyut Bandung. Sudah terkenal sih. Katanya manjur, yang sakit kanker aja bisa sembuh. Wah yang ini kayanya rada bener lah, soalnya banyak testimoni positifnya. Ya sudah saya coba

Berobatnya harus pagi - pagi karena ngantri, udah gitu harus nunggu giliran dipanggil. Pengobatan berlangsung selama satu bulan. Lama juga ya

Jadi, saya berobat 2x seminggu. Saya datang pagi pukul 9 dan baru dipanggil jam 1 siang. Eh busyet, lama amat ya? Hehe. Metodenya sederhana, punggung saya disuntik lalu dipijat. Udah gitu aja. Gak dikasih ramuan apa apa. Hanya air putih aja.

Berapa biayanya? Murah sih. Pendaftaran 20ribu dan bayar jasa berobat seikhlasnya. Wah kalau kaya gini sih saya yakin tabibnya bener ya, soalnya gak mematok harga pengobatan. Udah gitu air putih nya emang manjur sih, sakit perut saya gak terlalu terasa dan katanya bisa mengobati segala sakit dan luka.

Waktu saya jatuh dan kuku saya patah, saya obati dengan air putih itu. Eh Alhamdulillah kuku yang patah nyambung lagi dan kuat. Saya jadi agak yakin nih pengobatan bagus.

Lalu setelah selesai berobat selama hampir sebulan lebih sudah sembuh kah saya? Oh tidak Marisol. Kolik masih sering kambuh, bedanya emang gak keluar masuk IGD. Mungkin karena saya mulai adaptasi dan bersahabat dengan rasa sakit dan bisa menahan sakit. Saya obati dengan asam mefenamat dan biasanya dalam waktu 3 hari sakit perutnya hilang sendiri.

Ketiga, pengobatan herbal H. Ois


Ayah mertua saya menyarankan berobat ke seorang tabib yang sudah jadi haji di daerah pacet, Ciparay. Katanya banyak yang sudah sembuh dari sakit apapun. Ya sudah, di coba lagi deh who knows ya kali ini bener deh saya sembuh. Walau saya masih gak yakin juga.

Lokasinya cukup jauh dari rumah saya. Setiap berobat kami harus berangkat sebelum adzan subuh dan sholat di pom bensin yang dekat lokasi pengobatan. Karena, pendaftaran dibuka jam 6 pagi dan pengobatan buka jam 8 pagi. Jadi semua pasien yang berobat berlomba lomba datang sepagi mungkin agar dapat nomor antrian paling awal.

Biasanya saya dipanggil jam 9.30 pagi. Pak Haji Ois, begitu biasa tabibnya disapa memeriksa saya dan menanyakan keluhan saya apa. Lalu saya dipijat bagian kaki dan punggung sambil dikasih doa- doa. Setelah itu saya diberi resep herbal dan pantangan makanan selama melakukan pengobatan.

Obat herbalnya ada yang berupa pil dan teh herbal. Dosisnya mirip obat medis, dikonsumsi 3x sehari setelah makan. Pantangannya hampir sama sih dengan biasa saya lakukan, hindari daging berlemak, gorengan, makanan terlalu gurih, santan dan mie instan. Pengobatan saya lakukan sekitar 7 minggu dan berobat seminggu 2x.

Berapa biaya berobat disini? pendaftarannya 15 ribu dan biaya pengobatan 350 ribu sekali berobat. Jadi bisa dibayangkan lah ya berapa rupiah yang harus saya keluarkan hingga pengobatan selesai, sekitar 2,5 juta belum termasuk ongkos bensin dan jajan.

And The Result


Lantas, setelah 7 minggu berobat sudah sembuhkah saya? pak Haji bilang sih saya udah sembuh dari batu empedu dan bisa dicek dengan USG. Tapi karena saya malas harus USG jadi saya tidak tahu pasti. Tapi terkadang perut saya terasa nyeri tapi tidak sampai kolik yang lama seperti biasanya.

Akhirnya karena saya sudah lelah berobat alternatif kesana kesini selama hampir satu tahun lebih saya menyerah. Saya anggap pengobatan terakhir sebagai berobat terakhir dan saya sembuh.

Saya mulai hiraukan rasa sakit yang kadang muncul dan mencari semangat baru. Saya mulai ngeblog dan menggambar lagi. Alhamdulillah seiring waktu saya gak pernah kambuh. Kadang suka nyeri tapi setelah makan dan makan asam mefenamat biasanya nyerinya hilang.

Dua tahun berlalu saya lalui tanpa adanya kolik yang kambuh. Saya rasa saya sudah sembuh nih. Alhamdulillah. Saya jadi semangat kerja lewat blog dan menggambar, tapi saya kalap. Saya kerja seperti kesetanan dan zalim pada tubuh sendiri. Sering begadang, makan tidak terkontrol dan jarang olahraga.

Akhirnya setelah hampir dua tahun kolik tidak pernah kambuh, pada bulan april yang lalu saya masuk IGD karena kolik yang tiba-tiba muncul dan membuat saya terbaring di kasur selama satu minggu. Ah ya, saya kambuh lagi.

Yo wis, jalani lagi pengobatan alternatif. Tapi kalo ini saya ingin berobat alternatif yang benar, dalam artian metodenya tidak ekstrim dan tidak mematok harga.

Keempat, Berobat Totok Jari


Atas rekomendasi salah satu teman almarhum Bapak mertua yang secara kebetulan bertemu saat suami berobat ke Dokter Sigit, saya pun berobat ke pengobatan alternatif totok jari di daerah Cicalengka.

Meski agak lelah berobat alternatif, kali ini saya berusaha sangat keras untuk ikhlas dan melihat dari sudut pandang yang berbeda. Ada hal yang unik yang menghantarkan saya pada suatu keyakinan bahwa, metode penyembuhan apapun pada hakikatnya Allah SWT lah yang menyembuhkan. Baik pengobatan medis maupun tradisional hingga yang ekstrim sekalipun.

Suatu hal yang menyadarkan saya bahwa, kekuatan dan ridha Allah terhadap kesembuhan seseorang lebih besar kuasaNya dibandingkan usaha kita. Jadi, sebagai seorang yang sedang dalam ujian sakit, yang perlu dilakukan hanya ikhtiar dan tawakal. Itu saja.

Jadi, sekitar bulan mei seminggu setelah lebaran idul fitri saya mulai menjalani pengobatan totok jari. Metodenya sederhana, saya hanya mengeluhkan sakit lalu Mas Arif, begitulah nama sang Tabib mulai melakukan totok jadi di bagian betis kanan dan kiri saya. Rasanya aduhai, sakit sekali. Seperti dicubit sangat keras. Padahal Mas Arif terlihat tidak mencubit betis saya sekuat tenaga, malah hanya terlihat seperti menyentuh beberapa titik totok.

Setelah selesai di totok, punggung dan pundak saya dipijat menggunakan ramuan yang wanginya mirip cengkeh dan sereh. Biasanya sambil diobati, kami mengobrol tentang pentingnya menjaga kesehatan dan bla bla bla sehingga setiap pertemuan mendekatkan bonding kami sebagai pasien dan tabib.

Jarak cicalengka dan rumah saya cukup jauh, memakan waktu hingga satu jam hingga sampai ke tempat pengobatan. Setiap perjalanan menjadi trip dan traveling yang saya coba nikmati sambil terus berharap dan berdo’a semoga dengan metode ini sakit saya sembuh selamanya. Semoga Allah ridha dengan pengobatan kali ini dan saya sembuh.

Setelah sebulan berobat, alhamdulillah kesehatan saya mulai pulih. Saya tidak lagi merasakan sakit punggung atau perut dan saya merasa stamina saya kembali fit. Bahkan, lipoma yang tiba - tiba muncul di kaki kiri saya pun perlahan mengempis.

Saya kira saya sudah berada di tahap mulai sembuh nih, benarkah demikian? oh ternyata tidak.

Terpapar Covid 19


Setelah saya dinyatakan 90% sembuh oleh Mas Arif, saya hanya berkunjung satu kali dalam seminggu setelah sebelumnya saya intens berobat 3x seminggu. Di minggu terakhir saya mengunjungi dokter gigi menemani ibu saya. Siapa yang menyangka, pulang dari dokter gigi baik saya maupun ibu saya malah jatuh sakit.

Awalnya saya sakit tenggorokan, lalu panas dingin dan batuk tiada henti. Tidak lama kemudian saya mulai mengalami anosmia dan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Saya tidak tes swab atau PCR, tapi saya sadar diri dengan melihat gejala yang saya rasakan saya berasumsi terpapar covid. Karena, gejalanya jauh berbeda dari gejala flu atau batuk yang biasanya saya alami.

Dua minggu setelah karantina mandiri dan rebahan, alhamdulillah saya mulai pulih dan sehat. Tapi baru saja saya mulai pulih, anak - anak saya gantian sakit. Saya yang masih dalam proses pemulihan, terpaksa mengurus anak - anak yang sakit bergantian dan setelah mereka sembuh saya kembali drop.

Mungkin karena saya stress dan kelelahan, saya kembali merasakan kolik yang cukup hebat hingga akhirnya kembali ke UGD setelah menahan sakit kolik selama 5 hari. Sebelumnya saya kembali berobat ke Mas Arif dan berharap sakit kolik ini segera hilang. Tapi nyatanya tidak. Sakitnya malah semakin hebat dan saya tak kuasa lagi menahan sakit.

Sambil menangis menahan nyeri saya minta suami mengantar saya ke UGD. Alhamdulilah hanya dalam waktu satu jam sakit kolik saya sirna. Saya ceritakan bagaimana rasa sakit yang saya rasakan dan dibagian mana. Lalu saya di tes darah dan urin. Dari hasil tes darah dan urin dokter mengindikasikan kalau saya mengalami sakit batu empedu, karena hasil keton positif dan bilirubin 2+ yang mana hasil ini diatas angka normal.

Seperti yang saya duga, sakit batu empedu saya tidak pernah benar - benar hilang selama ini. Hanya mereda sesaat menunggu kambuh lagi.

Tapi dengan saya terkena covid lalu anak - anak sakit gantian sehingga kolik saya kambuh saya rasa itu jawaban dari Allah kalau saya harus berobat medis. Udah stop berobat alternatif nya. Ada memang penyakit yang bisa diterapi lewat pengobatan alternatif, seperti asam urat, maag, Gerd dan lainnya. Tapi kalau menyoal batu empedu ya memang harus di operasi

Tapi saya dan suami kembali galau. Meski kilan sudah berumur 4 tahun, tapi dia masih kerap tantrum dan sangat lekat dengan saya. Selain itu, PPKM cukup berdampak terhadap penghasilan usaha kami . Saya memikirkan Soal mengurus tunggakan BPJS yang tidak sedikit, biaya selama berobat, biaya rawat inap nanti dan tentu saja uang jajan dan makan anak - anak selama saya rawat inap nanti.

Akhirnya karena saya bertekad ingin sembuh melalui berobat medis dan suami setuju, dengan sisa uang dari hasil menulis saya relakan untuk membayar tunggakan BPJS dan suami segera mengurus mutasi kelas BPJS.

Soal biaya lain - lain, kami pasrahkan pada Allah SWT. Semoga ada jalan dan semoga dimudahkan.

Akhirnya Berobat Medis


Sebelum berobat medis, suami mengurus BPJS saya terlebih dahulu karena masih ada tunggakan dan pindah kelas ke BPJS PBI. Alhamdulillah prosesnya cepat, hanya memakan waktu seminggu. Setelah itu kami bisa tenang berobat medis.

Bagaimana alur dan cerita saya berobat medis yang saya lakukan? Lanjut part 2 nanti ya, hehehe

8 komentar:

  1. Panjang sangat perjalanan berobat teh Eka.
    Semoga segera disembuhkan dan dikuatkan dalam segala proses ikhtiarnya. Amin

    BalasHapus
  2. Mba ekaaaa, bacanya ikutan ngilu pas bayangin nahan sakitnya :(. Aku memang belum pernah sakit batu empedu, tapi banyak dengar cerita dari keluarga yg pernah kena.

    Mba, pas ngerasain yg operasi ghaib, itu tapi ga sakit, ato gimana? Apa dibius juga? Aku pas baca cara yg dia pakai, blm lagi pas denger katanya pernah operasi di bagian kepala, langsung curiga juga mba, cuma dukun palsu -_- .

    Tapi untungnya pas mba kena covid, ga menimbulkan komplikasi apapun yaaa. Baca cerita mba Eka, aku JD makin semangat untuk trus jaga makan dan rutin olahraga. Karena memang kebanyakan penyakit itu, awalnya dari makanan.

    Ga sabar mau baca cerita part 2 nya mba :)

    BalasHapus
  3. Wow pengalaman berobat yang luar biasa. Jadi inget dulu saat rame-rame nyobain pengobatan alternatif yg lagi trend. Setelah beres, salah seorang temen saya langsung liat yang aneh-aneh, gak logis bin bohong 😁😄

    BalasHapus
  4. Panjang sekali perjalanan berobat batu empedu, jadi ngebayangin gimana sakitnya kena batu empedu. Semoga lekas sembuh dan penyakitnya bisa diangkat oleh Allah, Amiin

    BalasHapus
  5. wow, saya membaca agak takut dan khwatir dengan pengobatan alternatif yang bermacam-macam. Sorry saya tak percaya dengan pengobatan alternatif sama sekali. Lebih baik yang ilmiah. Meskipun dokter pun harus yang punya reputasi yang baik .

    BalasHapus
  6. super ya teh perjalanannya :( memang kadang harus dilalui dulu nih biar puas, jadi tau mana yang harus benar-benar jadi pilihan :) semangat teh, semoga lekas membaik dan sehat terus

    BalasHapus
  7. baru tau kalo yang muda bisa kema batu empedu, kirain hanya orang tua

    karena dulu, mertua saya juga terkena batu empedu

    bolak balik ke herbalist, orang pintar dll,akhirnya masuk rumah sakit untuk operasi

    BalasHapus
  8. Jika salah-salah diagnosa ini akan berakibat fatal ya, karna gejalanya hampir mirip dengan gerd atau magh.

    Semoga lekas sembuh ya Kak :)

    BalasHapus

Berkomentarlah dengan bijak, relevan dengan isi artikel, tidak meninggalkan link dan tidak ditulis anonim ( atau saya hapus). Terimakasih

All illustrations created by artjoka. Diberdayakan oleh Blogger.