Tampilkan postingan dengan label married. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label married. Tampilkan semua postingan

Tips pernikahan


Selamat, Kamu Kena Prank! Pernah gak sih kalian menemukan situasi dimana sepertinya bakalan dapat surprise menyenangkan eh gak taunya gak? atau situasi yang diharapkan bahagia nyatanya malah banyak drama? atau merasa tertipu? pernah? Toss dulu dong! hihihi. 

Gak enak banget ya rasanya, seperti merasa terperangkap dan kecewa berat tapi harus ditelan bulat - bulat karena sudah kadung. 

kalau kalian, situasi kaya gimana sih yang membuat kalian merasa seperti kena prank? kalau saya sih  merasa kena prank sama yang namanya pernikahan! 

what?? seriously? ah masa sih? Kok bisa sih saya bilang kena prank sama yang namanya pernikahan? iyalah, karena awalnya saya merasa kalau pernikahan itu seperti  di film, happy ending. eh gak taunya banyak drama! ampyun deh, wkwkwk

Saya Kena Prank!

Bayangan saya terhadap lembaga pernikahan sangat indah. Seindah film-film romantis hollywood. Tapi pada kenyataannya pernikahan tidak seindah itu. Saya sempat kaget dengan banyaknya perubahan yang terjadi pada diri saya dan pasangan. Hal ini ternyata disebabkan seiring dengan bertambahnya peran saya sebagai ibu. 

Perubahan peran ini sedikit banyak mempengaruhi saya dan pasangan secara psikologis dan mengubah sudut pandang saya mengenai pernikahan.

Setelah menikah saya kosong selama dua tahun karena memang kami berdua belum memutuskan untuk memiliki momongan. Dan selama dua tahun itu pernikahan kami rasanya honeymoon terus sepanjang tahun. Yah kalau pertengkaran kecil pasti ada, tapi bisa dengan mudah diselesaikan tanpa berlarut - larut.

Masalah mulai timbul justru saat kami memiliki anak pertama. Peran menjadi ibu dan ayah baru rupanya cukup menguras tenaga, pikiran , waktu dan uang. Masing - masing dari kami mengalami perubahan yang cukup drastis sampai - sampai kami tidak saling mengenal satu sama lain lagi. 

Peralihan peran rupanya membuat saya kehilangan diri saya sendiri dan saya terjebak dalam rutinitas peran baru.

Baik saya maupun pasangan sibuk dengan perannya masing - masing, saya sebagai ibu mengurus bayi dan urusan domestik sementara pasangan sebagai ayah bekerja. Kami jarang memiliki pillow talk atau bahkan quality time berdua,  karena sejak lepas dzuhur hingga tengah malam suami bekerja di kios yang kami rintis sejak tahun 2014. Sedikit sekali waktu yang kami miliki bersama. sok sibuk pisan ya? wkwkwk

Saya rasa, pasangan berubah menjadi pribadi yang keras dikarenakan rasa tanggung jawabnya sebagai suami yang harus mencari nafkah. Sehingga tak ada lagi ruang di dalam pikirannya untuk meributkan hal yang sepele seperti sikap baper saya dan masalah baby blues yang saya alami sepanjang masa pengasuhan anak kami. Hal ini membuat saya sendirian dan kesepian dalam pernikahan. 

Karena idealnya, kesulitan selama masa pengasuhan harus dilalui bersama dengan pasangan. Sayangnya saya tidak demikian.  Terkadang kalau saya sudah di puncak emosi dan akhirnya meledak, saya menangis tanpa bicara sepatah katapun. Hal ini tentu membuat pasangan kebingungan dan geram. Entahlah, karena jarangnya kami berkomunikasi dari hati ke hati, jadi saya agak segan curhat unek-unek dan lebih memilih diam dan menangis saat sendirian. kasian banget ya gue? wkwkwkwk

Hal ini juga dipicu karena setiap kami bertengkar karena anak rewel atau saya yang uring-uringan karena kelelahan, pasangan lebih memilih tidak membahas panjang lebar ketimbang bertanya kenapa saya uring - uringan dan mendengar keluhan saya. padahal hanya tinggal pasang kuping aja tanpa harus ngasih saran bijaksana layaknya Mario Teguh. Sayangnya dia tidak begitu. 

Pasangan saya tipe yang agak malas membahas soal perasaan, karena dia sudah cukup stress memikirkan bisnis kami yang stagnan dan penghasilannya kecil  sementara kebutuhan kami banyak dan bahkan melebihi pemasukan. sehingga urusan saya yang mudah baper dan perasaan saya agak membuat beban pikiran dia bertambah. Lama kelamaan hal ini membuat saya merasa menjadi single fighter dan rasanya seperti kena prank pernikahan. 

Sampai akhirnya, saya pasrah aja sama Allah.  

Alhamdulillah berapa bulan sejak saya memutuskan pasrah lalu melakukan evaluasi serta mencari solusi, hubungan saya dan pasangan membaik dari hari ke hari. Pasangan lebih banyak senyum, ramah dan jarang berkata tegas. Lebih mau mendengar dan menawarkan bantuan. Sungguh diluar bayangan. 

Saya rasa, perubahan ini selain karena ikhtiar doa yang tidak putus juga karena saya kembali menulis buku harian. Baik di jurnal maupun di blog yang hanya saya sendiri yang bisa membacanya. Menulis sebagai pelepasan stress dan self healing saya rasa ada benarnya. Karena hal ini mampu mengubah  respon dan psikologis kita menjadi lebih tenang. Hal ini akan berimbas juga pada respon kita terhadap permasalahan yang kita hadapi sehari - hari.

karena akhirnya perasaan saya plong, saya bisa bersikap lebih tenang saat kelelahan yang pada akhirnya pasangan juga jadi lebih bereaksi positif terhadap saya. Setelah lebih sering menulis di blog pribadi yang di kunci itu, saya jadi bisa lebih spontan dan terbuka terhadap pasangan. Tidak canggung saat berbicara dan masa bodo saat bercerita apa saja walaupun dia hanya manggut - manggut dan jawabannya hanya , “ oh ya?” atau “wah” saja. Yang penting saya plong udah cerita! hahahaha.

Saya memang kena prank pernikahan, tapi saya tidak menyesal. Saya rasa setiap pasangan yang menikah pasti akan melewati fase seperti ini. Apalagi saya baru memasuki tahap 10 tahun awal pernikahan yang katanya merupakan fase saling mengenal satu sama lain. 

Mengapa saya harus menyesal? setelah saya akhirnya menyadari bahwa perubahan pasangan saya itu merupakan proses pendewasaan dia sebagai seorang suami dan ayah?

mengapa saya harus menyesal? karena sekarang kami dikaruniai anak - anak yang sehat dan lucu walau gak sedikit kami dibuat stress dan kadang bertengkar karena masa tantrum mereka?

Mengapa saya harus menyesal? karena sekarang hidup saya damai dan tentram. Hati saya penuh dengan cinta dan saya tak lagi memendam trauma.

Toh hingga detik ini, pasangan tetap memegang janjinya dari awal, yaitu akan membuat saya bahagia dan tidak sedih lagi kalau mengingat masalah keluarga. Dan dia menepati janji itu. Sudah seharusnya saya bersyukur, teramat sangat.

yah, saya kena prank dan saya tidak menyesal.

Bagaimana Persiapan agar kamu tidak kena prank pernikahan?


Satu saran saya, jangan berharap lebih terhadap sebuah pernikahan dan persiapkan mental dan pengetahuan sebelum memutuskan untuk menikah. 

Saya tau, terlalu banyak cerita drama bahkan film sampai dongeng yang mengisahkan kalau pernikahan merupakan happy ending. Padahal kenyataannya gak gitu. Siapapun yang ingin dan akan menikah harus memikirkan poin penting, yaitu KENALI PERAN BARU - PAHAMI - RESAPI - SIAPKAN DIRI. 

Saya tidak bermaksud menakut - nakuti mereka yang ingin menikah hingga menjadi enggan. Tetapi justru sebaliknya, andai saya punya mesin waktu saya ingin sekali kembali ke masa sebelum menikah dan bertanya pada diri saya yang sekarang APA YANG HARUS SAYA SIAPKAN SEBELUM MENIKAH?  tapi kenyataanya gak mungkin kan? akhirnya semua proses adaptasi itu harus saya lalui sendiri dan cerita saya menjadi pembelajaran bagi mereka yang ingin dan akan menikah. 

Jangan mau menikah karena usia atau sudah lelah mencari cinta yang selalu kandas atau karena pacaran sudah terlalu lama. Menikahlah karena memang sudah siap menjadi seorang istri dan ibu. Itu dua peran penting yang akan dilalui bagi kita kaum hawa. 

Hal ini termasuk menikah dengan alasan beribadah. It's a good intentions, menikah karena  ibadah. Tapi memahami nilai beribadah dalam pernikahan juga itu sama pentingnya. Ibadah seperti apa setelah menikah? ini yang harus betul - betul dipahami agar siap bukan hanya sekedar akibat kepincut godaan menikah muda atau mendapat pasangan halal semata. 

Karena setelah menikah, kamu tidak hanya akan menjadi seorang isteri tapi juga seorang ibu, seorang menantu, kakak/adik ipar, tetap seorang anak dari orang tua kandungmu, dan tetap menjadi diri sendirimu sendiri. Semua peran itu tidak serta merta membuat pernikahan mulus kaya kulit semangka, awal adaptasi pasti ga enak banget. apalagi ada stigma kalo keluarga mertua itu mirip film horor. Kenyataannya? tentu tidak seperti itu. 


Bagaimana Jika Saya Terjebak Dalam Prank Pernikahan?


Nasi sudah jadi bubur, dan kita sudah berada dalam ikatan pernikahan dengan pasangan. Mau tidak mau harus tetap maju dan mulai adaptasi. Karena, jika  mundur dan menyerah maka akan banyak sekali pertimbangannya. Terutama soal anak. 

Jadi, bagaimana nih kalau kamu sudah terlanjur kena prank pernikahan? saya tidak bisa memberikan tips yang banyak, tetapi hal - hal berikut mungkin menjadi solusi ketika kamu merasa terjebak dalam permasalahan pernikahan.

Pertama, melakukan self healing

Ini penting. Karena apapun yang menjadi sumber trauma kita bisa menjadi tembok berlin bagi hubungan kita dengan pasangan. Kita harus menemukan akar permasalahan dari apa yang selalu menjadi gangguan bagi diri kita sendiri. Misal, saya dengan masalah keluarga saya, trauma akibat perceraian orangtua dan inner child. Wah, banyak sekali ya. 

Tetapi ketika semua trauma ini satu per satu terselesaikan, hidup kita akan terasa lebih ringan dan bisa melihat situasi apapun menjadi lebih baik. Soal menjadi bahagia, relative ya. Tapi ketika kita tidak lagi merasa terganggu dan menerima kisah masa lalu kita dengan segala trauma dan dramanya, kita bisa move on dan melanjutkan hidup kita yang ada di depan mata. Perhatian kita tidak lagi berpusat pada trauma yang tidak pernah usai lantas melampiaskan pada pasangan. Maksudnya?

ketika saya belum menyelesaikan konflik saya dengan ibu saya, saya sering melampiaskannya pada pasangan. Ketika pasangan menjadi cuek, tidak perhatian apalagi tidak mau mendengarkan keluh kesah saya, tiba - tiba saya merasa seperti diperlakukan sebagaimana ibu saya memperlakukan saya dulu. Akhirnya saya menumpuk emosi dan kecewa terhadap pasangan saya. 

Padahal, bukan salah suami saya pada akhirnya saya merasa tidak diperhatikan dan diabaikan. Bisa jadi situasinya tidak tepat saja. Saat saya kelelahan dan memerlukan perhatian lebih dari pasangan tapi kenyataannya pasangan juga sedang mengalami situasi yang sama tapi kita tidak menyadari hal itu karena terlalu gelap dengan emosi dan trauma sendiri. 

Sampai sini bisa dipahami? semoga bisa dipahami ya. 

Berhentilah menyakiti diri sendiri dengan terus menggenggam trauma hingga bertahun -tahun lamanya. Emang enak terus berada dalam trauma? gak kan ya? pasti jadi beban lah. Makanya, hempaskan si  trauma itu. Caranya? Bicara dengan diri sendiri. 

Enaknya sih memang pergi ke psikolog atau psikiater ya, tapi kan mahal ya bayar jasanya! hahaha. Jadi yang bisa kita lakukan adalah bicara dengan diri sendiri. Curhat sama diri sendiri . Bisa dengan menulis diary, jurnal, blog atau apapun lah medianya. Lalu uraikan. Contohnya? artikel saya tentang inner child dan penyelesaian konflik saya dengan ibu saya bisa menjadi salah satu contoh. 

Hidup terlalu indah kalau kita melewatkan semuanya. Semua hal yang baik yang ada di depan mata dan sekeliling kita akan menjadi nampak buruk dan terasa seperti sebuah kesialan dan kemalangan. 

Pasangan yang sebetulnya baik dan perhatian akan terlihat menyebalkan dan membuat kita tersiksa hanya karena satu hal sepele,  anak - anak yang ceria dan sehat dan menggemaskan akan terasa seperti mimpi buruk dan teman serta sahabat yang selalu mendukung akan terasa seperti ancaman yang sewaktu waktu akan menikam dari belakang. Sehingga akhirnya kita memilih menyakiti mereka lebih dulu sebelum kita yang tersakiti sebagai bentuk benteng pertahanan agar kita tidak tersakiti “lagi”. 

padahal kenyataanya, kita sendiri yang menyakiti diri sendiri. Pasangan sih baik hati dan selalu menyayangi kita, anak - anak sih menyayangi kita apa adanya dan sahabat pasti menerima kita apa adanya juga dan tetap mendukung kita dalam situasi apapun. 

Kita yang merasa sebaliknya hanya karena punya trauma yang belum terselesaikan. paham?

Kedua, Jangan berharap lebih.

Idealnya memang, setiap pasangan dalam pernikahan memiliki prinsip kesalingan , tetapi kenyataannya tidak semua pasangan dalam pernikahan memiliki prinsip seperti ini. Banyak juga pasangan yang memiliki perbedaan “mazhab” soal kesalingan ini, Suami yang patriarki beserta keluarganya bisa menjadi mimpi buruk. Tetapi, itulah ladang pertempuran kita. 

Rasa iri melihat pasangan lain yang saling terbuka dan bahu membahu menjalani biduk rumah tangga pasti ada. Tetapi jangan iri atau berkecil hati lantas bertanya pada Allah, “ Ya Allah kok saya dikasih jodoh yang begini sih? gak adil!! “ , karena setiap manusia diberikan ladang pertempuran yang berbeda. Segera ubah sudut pandang kita terhadap konsep pernikahan. Ubah menjadi, pernikahan adalah ladang ibadah. Terkesan toxic optimistic ya? bisa dikatakan begitu, tapi ini realistis. Daripada kamu terus tersiksa dengan harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan? iya kan? lebih baik niatkan dalam hati menikah untuk ibadah.

walaupun suatu pernikahan terlihat baik - baik saja, kita tidak pernah tahu seberat apa masalah yang mereka hadapi. Jadi jangan merasa iri, setiap pernikahan memiliki pertarungannya masing-masing. 

Cara yang terbaik adalah menerima pasangan apa adanya, lengkap dengan segala kebaikan dan kebiasaannya yang absurd. Terkadang ada saja kebiasaan yang jauh berbeda dengan kita, tapi itulah seni nya pernikahan. Indahnya di sana. 

Ketiga, Kendorkan ego dan pahami

Seperti yang saya sebutkan diatas bahwa pernikahan membuat kita dan pasangan berubah dikarenakan perubahan peran. baik kita maupun pasangan sama-sama beradaptasi terhadap peran baru ini. Maka pahamilah bahwa segala macam pertengkaran, perbedaan pendapat dan situasi yang tidak sesuai harapan merupakan bagian proses adaptasi.

Hanya dengan memahami hal ini saja kita tidak akan lagi merasa terjebak dalam unhappy marriage dan merasa kena prank. 

Bagaimana kalau pasangan malas bekerja dan mencari nafkah? dukung dia. Maksudnya? pasti ada alasan mengapa dia malas dan enggan mencari nafkah. Gali akar permasalahannya dan berikan solusi.  Kok rasanya aneh ya? harusnya kan suami gitu lho yang sadar diri buat cari nafkah dan bukannya sebaliknya! hahaha. Yah, sayangnya begitulah kondisi kita. Itulah ladang pertempuran kita. 

Tapi sebelum memulai, siapkan dulu stok sabar dan ikhlas ya. Menerima suami sedang berada dalam situasi seperti itu pasti gak akan mudah. apalagi kalau kita berpikir, buat apa susah susah mikirin itu? toh itu tanggung jawab suami! dia peduli sama aku aja gak! 

Iya sih, tapi kalau suami gak kerja terus kita sendiri gak kerja lha mau ngasih makan anak - anak gimana? oke, aku yang kerja! oh jangan! jangan bebani diri sendiri dengan prinsip seperti ini. Bukan hanya lelah fisik dan juga hati karena terus memendam rasa kecewa pada suami dan terus merasa menjadi single fighter. 

satu hal yang saya pahami dalam pernikahan adalah, para suami memiliki ego lebih atas kekuasaan dan harga diri. Dan ego itu terletak pada uang dan otoritas. Ya ya tidak semua suami begitu tapi mostly ya.

Jadi jangan lukai harga dirinya dengan merendahkan dan berkata kasar pada suami seperti, “ suami tiada guna” atau “ suami pemalas” atau “ suami gak bertanggung jawab “ . Percayalah, dalam hatinya pasti ada rasa bersalah saat tidak mampu memberikan yang layak pada keluarganya. Ada hati yang terluka disana. Jadi, dukunglah dia dengan tetap bersabar, ikhlas dan tersenyum. Klise ya? hahaha, memang! emang ada solusi lain?

Gimana cara mendukungnya? bisa kita arahkan dengan menawarkan pekerjaan atau bisnis yang pasangan sukai. Misal, hobinya burung nih… arahkan untuk bisnis burung. Saya dengar lumayan lho omsetnya. Atau hobinya main game, arahkan bikin warnet game atau jadi gamers yang berpenghasilan. Atau hobinya main bulu tangkis, arahkan untuk buka bisnis peralatan bulu tangkis dan olahraga lainnya. 

Kami gak punya modal dan gak punya jaminan? mintalah sama Allah. Kalau kita sudah berniat membantu suami, insya allah pasti dikasih jalan sama Allah. 

Tapi gimana nih, kalau suami bukan tipe orang yang mau dikasih masukan dan menolak mentah - mentah masukan solusi dari kita? gampang - gampang susah memang, tapi biasanya pasangan memang gengsi diberi masukan dan merasa apa yang dijalani adalah pilihan yang tepat. Gak masalah, terus aja kasih masukan karena informasi dari kita sebetulnya dia simpan dan dipertimbangkan, Cuman responnya aja yang terlihat seperti yang menolak, hihihi

Disinilah peran kendorkan ego dan pahami sangat diperlukan. Bukan hanya soal finansial, tapi juga saat kita menuntut lebih perhatian pada pasangan. Ingat bahwa pasangan juga menginginkan hal yang sama dari kita. Bukan hanya kita. Pahami hal ini dan mulai perhatikan kebutuhan batin pasangan. Insya Allah, hubungan dengan pasangan akan membaik. 

Keempat, Jadikan pernikahan sebagai ladang ibadah

Saat kita sudah berusaha dan melakukan segala cara untuk mempertahankan identitas diri dalam pernikahan dan mempertahankan pernikahan itu sendiri tapi masih tidak membuahkan hasil, maka ubah mindset kita menjadi “ jadikan pernikahan sebagai ladang ibadah”

mengapa? karena akhirnya saya menyadari bahwa, mengapa Rasulullah S.A.W  mengatakan bahwa menikahlah karena ibadah karena memang ladang ibadahnya banyak banget. Mulai dari melayani suami, mengurus rumah tangga dan juga anak - anak. Belum termasuk kepada orangtua kandung dan mertua. Tapi ujiannya juga banyak. Tapi setimpal lah dengan nilai pahalanya. 

kalau sudah mengubah mindset, ujungnya jadi nothing to lose dan Allah pasti kasih jalan yang terbaik untuk kita. Tapi bukan berarti lantas hanya pasrah saja tanpa usaha. semua point di atas bisa dijalankan sembari tetap pasrah dan tawakal. 

Kelima, cari cara komunikasi yang unik dengan pasangan

Setelah keempat poin diatas kita coba praktekan, saya yakin outputnya hati kita akan lebih lega dan plong. Sehingga kita bisa mencari solusi cara berkomunikasi yang unik sesuai dengan karakter pasangan. Misal, komunikasi sambil bercanda tapi menyimpan pesan yang cukup penting. Kita bisa lebih mencari lagi alternatif cara berkomunikasi jika hati dan pikiran kita sudah tidak penuh dengan emosi atau rasa kecewa lagi. percayalah. 

Semua point di atas menurut saya berkesinambungan dan tidak bisa hanya dilakukan satu poin saja. Karena akar permasalahan yang ada dalam diri kita yang harus di hempaskan dan diselesaikan terlebih dahulu, setelah itu baru bisa tidak berharap lebih kemudian mengendorkan ego dan memahami pasangan dan akhirnya mengubah mindset pernikahan menjadi ladang ibadah dan endingnya bisa berkomunikasi dengan lancar dengan pasangan.

Satu tips terakhir yang sangat penting, yaitu bersyukur. Bersyukurlah memiliki pasangan yang diberikan Allah yang lengkap dengan segala kebaikan dan kekurangannya.Bukankah dengan bersyukur maka Allah akan menambah nikmat dalam hidup kita? tentu mau dong. Jadi, jangan lupa bersyukur ya.

Karena biasanya orang yang kena prank, walau awalnya dongkol ujungnya pasti tertawa lucu kan? mirip dengan kebiasaan Kilan Si Bungsu yang sering nge-prank saya pura-pura nangis, tentu saya kaget, setelah saya kaget tiba-tiba dia buka tangan dan mata dia lalu berkata, " iiihhh mamah kena prank! hahaha !! "










Jika saya ditanya, " Siapa panutan saya saat ini? " Jawaban saya adalah ibu mertua saya. Ah masa sih? Yakin? Bukan karena biar disayang mertua?? Hihihi (¬‿¬)

Enggak lah, tanpa saya banyak memuji beliau, saya yakin sudah disayang beliau dari sejak pertama kami bertemu. Ahiiww 

Jadi, kenapa saya menjadikan Ibu mertua sebagai panutan saya? 

Itu karena, saya mengagumi kesabaran dan keikhlasan beliau dalam mengurus sang belahan jiwa, yaitu Bapak mertua yang sedang sakit keras selama hampir dua tahun lebih. 



Ibu mertua juga tidak pernah terlihat berkeluh kesah, menangis atau berteriak selama saya mengenal beliau. Sikap nya yang sangat lemah lembut dan selalu berkata halus. Jadi, sudah sewajarnya kalau saya menjadikan beliau sebagai panutan saya menjadi seorang istri dan ibu bagi anak – anak saya. 

Alasan Di Balik Keikhlasan Ibu Mertua


Bapak mertua saya, sudah sakit hampir dua tahun lebih. Sakit parah. Dokter mendiagnosa Bapak memiliki penyakit congenital heart disease atau jantung. Dokter bilang ini bawaan sejak lahir. Terjawab sudah semua keraguan keluarga selama ini, dimana Bapak seringkali mengeluh sesak dada. Selama ini kami mengira Bapak memiliki asma atau Bronchitis

awalnya, Bapak enggan berobat ke dokter dan memilih pengobatan alternatif. lalu, ketika pengobatan alternatif dirasa sudah tidak lagi  menunjukan hasil yang signifikan. Akhirnya Bapak mau berobat ke dokter. alhamdulillah. 

Mengapa Bapak memilih berobat alternatif ketimbang langsung ke dokter? itu karena Bapak pernah mengalami reaksi alergi obat yang cukup parah. Jadi, sesakit apapun bapak, beliau memilih berobat ke pengobatan alternatif.

Saya dan Pak suami ( Paksu ) sudah berulang kali menyarankan sampai memaksa Bapak untuk berobat ke dokter dan memberi pengertian kalau dokter pasti akan bertanya alergi obat bapak dan kasih obat yang aman. Tapi tidak di gubris.

Akhirnya, Bapak merasa lelah dengan berobat alternatif yang tidak membuahkan hasil, akhirnya dengan terpaksa bapak mau berobat ke rumah sakit. 

Namun, setelah di lanjutkan dengan berobat di dokter, kondisi Bapak tidak kunjung membaik. Badan semakin kurus, wajah Bapak pun tidak menyiratkan aura kesembuhan. Setiap saya melihat Bapak di rumah, selalu nampak murung dan sedih. Saya rasa, secara mental Bapak sudah down duluan.

Mengapa? 

Bapak sepertinya mengalami stress atas vonis penyakit yang dideritanya Akibatnya, gejala psikomatis pasti Bapak rasakan. Seperti pusing dan mimisan atau keluar darah dari gusi. Sementara itu, saya lihat Bapak – Bapak lain yang juga memiliki penyakit yang sama dengan Bapak, terlihat sehat bugar seperti yang tidak memiliki penyakit parah. 

Saya melihat kondisi Bapak yang begitu, agak sedikit geram juga. Terlebih melihat Ibu mertua yang dengan sabar dan ikhlas mengurus Bapak tanpa banyak mengeluh walau dirinya sendiri terkadang terlihat sangat kelelahan dan letih, terlebih dimalam hari dimana saatnya Ibu merebahkan tubuh yang payah kelelahan... eh Bapak selalu meraung dan meringis minta di pijit kaki. 

Melihat kesabaran dan keikhlasan Ibu mertua mengurus Bapak, betul – betul bikin saya geleng-geleng kepala gak habis pikir. 

Akhirnya saya bertanya pada Ibu mertua,

Mah, kok bisa sabar banget sih sama Bapak. Kalo saya pasti udah stress dan gak kuat. Bukan sama sakitnya bapak, tapi tingkah laku bapak yang gemesin “ tanya saya terheran-heran sambil makan ranginang, kriuk...kriuk

Lalu Ibu mertua menjawab santai sambil ikutan makan ranginang,

Karena ikhlas” jawab Ibu mertua sesingkat dan se sederhana itu. Saya pun melongo saking bingung dan gak habis pikir sama jawaban Ibu mertua.

Tapi ikhlas kan ada batasnya Mah, kok bisa sih Mamah masih tetep sabar ?” tanya saya lagi

Sabar mah gak ada batasnya atuh Neng. Di paksain aja, nanti lama – lama juga terbiasa. Jadi, ada pepatah sunda yang mengatakan, sing bakti kanu jadi salaki, sabab surga anjeun ayana di salaki. Mamah inget selalu ke sana “ jawab Ibu mertua menjelaskan.

Ehhm... jadi, bakti seorang istri ada pada suami, karena disanalah surga untuk seorang istri. Oke baiklah.

Tapi, saya masih gak paham. Melihat saya masih berkerut dahi dan mulut monyong tanda gak ngerti, Ibu mertua kembali melanjutkan penjelasannya,

Ibarat kita dulu hormat dan berbakti pada orangtua , seperti itu juga sekarang. Surga kita ada di suami kita. Allah akan ridho pada istri yang taat pada suami. Kunci pernikahan itu sebetulnya ada di tangan para istri, tong saruana mun pasea jeng salaki. Kudu bisa nurunkeun egois jeung ikhlas dengan situasi suami apapun itu “ 

Belajar Ikhlas, meluruhkan ego


Oh, i see. Saya mengerti, akhirnya. 

Awalnya saya agak sulit menerima penjelasan ibu mertua dimana saya harus belajar sabar dan ikhlas serta harus bisa menurunkan ego pribadi. 

Kesulitan ini saya rasakan karena saya masih memiliki ego yang cukup besar dalam diri saya. Ego untuk selalu diperhatikan lebih dahulu, ego untuk selalu di sayangi lebih dulu, ego tidak mau menerima kritikan Paksu dan ego-ego lainnya. 

Mengapa ego saya bisa sedemikian tinggi? Karena, orangtua saya bercerai jadi saya tidak punya bayangan atau pandangan sama sekali tentang esensi pernikahan itu seperti apa dan bagaimana berkomunikasi dalam pernikahan. Yang saya lihat dalam pernikahan hanya pertengkaran tiada akhir. Sehingga saya berasumsi, saya bebas mengutarakan apapun yang saya rasakan tanpa melihat situasi dan mood Paksu karena saya merasa itulah hak saya. 

Hasilnya? Pertengkaran dan salah paham lah yang saya dapat. Belum termasuk perang dingin dan emosi yang terpendam. 

Akhirnya, saya paksakan diri saya untuk mencoba memahami lebih dalam penjelasan ibu mertua dengan semedi. What? Hehehe, iya semedi alias muhasabah sambil tahajud lalu di lanjut curhat di jurnal.

Di sana, saya uraikan semua permasalahan yang kerap saya rasakan dengan Paksu. Sampai se detail-detailnya. Lalu diuraikan juga emosi atau perasaan saya terhadap masalah itu. 

Dan akhirnya saya menemukan bahwa, saya itu orangnya sangat mudah bereaksi negatif terhadap suatu perkara, dan baper-an. Saya juga kesulitan mengontrol emosi saya saat kelelahan dan kurang tidur. Ternyata hal itu juga memicu ego saya untuk di perhatikan dan di sayangi lebih dulu oleh Paksu. 

Jadi permasalahannya sebetulnya, ada dalam diri saya sendiri. 

Lantas kemana kah fungsi komunikasi dalam hubungan suami istri? 
Kenapa gak di muntahin semua keluh kesah yang kita rasakan pada pasangan agar semua permasalahan beres tanpa tersisa? 

Saya sudah mencoba untuk lebih terbuka akan apa yang saya rasakan, tapi saya selalu kesulitan mencari waktu yang tepat. Karena kesibukan Paksu mencari nafkah dari siang hingga tengah malam dan saya mengurus anak – anak sehingga kami jarang berkomunikasi dari hati ke hati seperti waktu kami masih pacaran. Jadi, sekalinya ngobrol yang di obrolin pasti urusan cuan. Akibatnya, saya banyak memendam emosi negatif termasuk saat kesal dengan Paksu. 

Jadi, solusinya bagaimana ?

Pertama, saya kembali terus mengingatkan diri saya sendiri akan wejangan ibu mertua untuk sabar dan ikhlas kalau udah mulai kesel atau bete dengan Paksu. Inget, Surga lho balasannya. 

Kedua, Menulis. 

What?? Kok menulis. Iya, jadi menulis kan resah di jiwa bisa membantu saya mengurai sebetulnya apa sih permasalahan saya. Dari sana saya bisa cari solusinya. Kalau sudah menulis, biasanya saya merasa jauh lebih baik dan lega. Jadi, energi negatif saya terkonversi menjadi respon positif.

Menulis itu punya segudang manfaat, selain perasaan jadi lega juga mengasah kemampuan mennulis kita terutama di Blog dan siapa tau bisa ikut ajang lomba menulis. iya kan?

Back to the topic, jadi setelah saya analisa, ternyata saya yang mudah reaktif dan baperan berdampak pada respon Paksu. Dia jadi males ngadepin saya dan ikut badmood. Ternyata Paksu ini orangnya sensitif jadi kalau saya badmood akan berpengaruh sama moodnya Paksu, sementara fokus utama beliau mencari nafkah yang merupakan tanggung jawab utama baginya.

Itu yang selalu jadi pikiran Paksu. Jadi wajar aja kalau sering terlihat murung kalau dagangan sepi. Karena Paksu mengkhawatirkan hal yang sangat realistis seperti, “ kalau dagang gak laku, mau dikasih makan apa istri sama anak gue?? “ begitulah kira-kira yang selalu ada dibenak Paksu. 

Memang, suami juga wajib memberikan nafkah batin pada istri. Tapi saya paham, tidak semua para suami bisa se-bijak papah - papah lainnya yang memahami hal ini. Karena, para suami juga sama halnya dengan kita, belajar setiap hari menjadi seorang suami dan ayah. Di sinilah letak keikhlasan di perlukan, ikhlas menerima Paksu yang juga sedang belajar menjadi suami dan ayah. 




Kadang saya lupa, Paksu memang tidak pandai merangkai kata atau ngasih saya wejangan dan kata-kata bijak serta menenangkan layaknya motivator. Tapi pandai memberikan saya kejutan dan menjawab curcol saya dengan jawaban paling realistis. Jadi, Paksu itu orangnya straight to the point, gak suka kode – kode tersembuyi. Jadi saya belajar untuk straight to the point juga, kalau saya bilang gak suka... ya bilang gak suka saat itu juga. Tapi, tetep saya harus memperhatikan mood Paksu.

Misal nih ya, saya pengen sentil Paksu soal kebiasaan jeleknya menyimpan kunci motor di mana aja padahal udah saya sediain box khusus tempat menyimpan kunci. Saya liat dulu, kalau Paksu keliatan lagi rudet sampai jidatnya berkerut kaya kerutan diwajahmu, hehehe......saya tunda dulu nyentil nya dan tarik nafas dalam – dalam biar energi negatif saya keluar dan pikiran lebih segar. Dan saya coba ulangi lagi nanti saat mood Paksu terlihat lebih baik. 

Perjalanan Akhir


Orangtua saya memang bercerai dan menorehkan luka yang cukup dalam. Terlebih perceraian mereka penuh drama dan pertengkaran sehingga saya hanya melihat sisi buruk dari pernikahan. Tetapi, perceraian orang tua saya juga memberikan saya banyak pelajaran tentang pernikahan. Seperti :

1. Belajar meredam ego dan emosi
2. Belajar memahami pasangan lebih dalam 
3. Belajar ikhlas menerima segala kekurangan pasangan
4. Belajar strategi komunikasi yang tepat dengan pasangan
5. Saling memahami dan memaafkan satu sama lain adalah proses tiada akhir dalam pernikahan. Karena masing – masing pasangan tumbuh dan berkembang setiap hari. Sehingga perubahan itu pasti terjadi. Oleh sebab itu belajar pun tidak berhenti satu titik pencapaian saja.

Saru hal yang paling krusial yang saya pelajari, bahwa, 
Jangan menuntut pasangan untuk memperhatikanmu lebih dulu. Tapi berhenti sejenak dan pikirkan, apakah kamu sudah melakukannya lebih dulu? Mau disayangi tapi gak balik menyayangi? Bukankah itu teramat sangat egois namanya? 

Wejangan Ibu mertuaku sayang memang benar, sabar itu gak ada batasnya dan kita sebagai istri memang perlu meluruhkan ego sambil memperbaiki kekurangan kita. Ingat saja dengan balasan Allah kalau kita bersedia ikhlas dan sabar dalam pernikahan. Pasti mau kan? Kalau saya sih mauuuuu ^_^

Saya rasa Allah itu memang Maha Adil. Saya diberi keluarga yang “cacat” tapi diberikan Ibu dan Bapak mertua serta Paksu yang Masya Allah baik dan perhatiannya luar biasa. Saya sangat bersyukur untuk itu. 

Sebagai rasa syukur saya, maka saya perlu memperbaiki kekurangan saya yang mudah baper, moody dan bereaksi negatif. Bukan hanya untuk saya, tapi juga suami dan anak – anak saya. Bukankah ibu yang bahagia akan menghasilkan anak – anak yang bahagia? 

Bahagia itu, kita sendiri yang ciptakan. Gak bisa beli kebahagiaan di Borma, kesana mah beli keperluan bulanan aja. Jangan lupa, minta cuan lebih yang warna merah buat beli kosmetik, eskrim dan coklat. Langsung todong aja, jangan pake kode – kode an, hahaha. Emak – emak juga perlu jajan dong, hihihi

Kalau kamu, gimana proses menjalani komunikasi dengan pasangan? Ada cerita lucu atau malah sebaliknya? Yuk saling berbagi (^_^)


Tulisan ini di ikut sertakan dalam setoran artikel untuk Komunitas Content Creator  Indonesia, Tema : Ikhlas dan Setoran Artikel Untuk Komunitas 1minggu1cerita, Minggu 32 dengan Tema : Terpaksa













Pernah gak sih kamu ngalamin Bad day yang super bad sampai efeknya kaya beresonansi sampai berhari-hari??? udah gitu, si bad day gak cuman terjadi sekali, tapi dua kali, tiga kali bahkan empat kali berturut turut? saya pernah. 

Minggu lalu adalah minggu ter-hot sejak awal tahun ini sampai sekarang. Banyak banget peristiwa yang terjadi di minggu itu, bener-bener kaya roller coaster rasanya. 

Allah itu romantis kadang juga galak dan keras terhadap saya Lewat empat rangkaian peritiwa yang bisa dibilang naas, sepertinya itu adalah cara Allah SWT berkomunikasi dengan kita, eh saya maksudnya.


Selasa, 21 Juli 2020



Kalah Lomba Literasi

Menanti kabar itu terkadang tidak enak, membuat hati gelisah dan merana. Seperti menunggu jawaban dari si dia ( eeaaa ) , begitu juga perasaan saya.

Memang apa sih yang saya tunggu?

Jadi, saya lagi nunggu pengumuman pemenang dari empat lomba literasi yang saya ikuti. Rasanya deg-deg-an dan terus bertanya - tanya dalam hati, " lolos gak ya " seraya berharap lolos.

Tapi ternyata, saya tidak lolos dalam dua lomba literasi yang saya ikuti sejak bulan Mei lalu yaitu cerpen dan puisi. Ah mencelos hati saya, tapi tak apa. Masih ada dua lomba lagi. Semoga salah satunya menang. 

Tapi tetep, saya juga manusia. kecewa pasti dong, sedih apalagi. Ditambah ini bukan pertama kalinya saya ikut ajang perlombaan literasi. jadi rasanya, yah agak sesak juga. jadi saya obati kekecewaan ini dengan membahagiakan diri sendiri makan bakso favorit saya. Lumayan terobati dan mood saya tidak tergores sedikitpun.


Kamis, 23 Juli 2020


Kilan jatuh sakit


Mah, Kilan sakit perut! " keluh Kilan sambil berbaring di atas karpet ,

"Sakitnya sebelah mana? " tanya saya,

" sebelah sini, ini Kilan sakit banget perutnyaaaa! " jawab dia sambil nunjuk bagian pusar sambil nangis. duh, saya ga tega sungguh, lalu saya tanya lagi,

sakitnya kaya mau pup gak? atau perih kaya di tusuk? " tanya saya lagi,

sakit aja, gak mau pup " jawabnya memelas 


Duh, sakit apa ya?? saya bingung. Jadi ya saya gendong aja sambil terus mengusap-usap punggungnya sambil di balur kayu putih. 

Akhirnya dia tertidur di gendongan dan saya pindahin ke kamar. Satu jam berselang, dia bangun, mengeluh sakit sambil menangis keras. Saya makin panik dan pikiran di kepala udah ngebayangin yang serem-serem. 

Ini gara-gara saya abis googling tentang ciri-ciri sakit perut pada anak 3 tahun, jadi parno. padahal Pak Suami udah ngelarang! hiks . jadi saya mikirnya, Kilan kena usus buntu lah, maag, ginjal dan yang lainnya. Saya sempat kepikiran mau bawa Kilan ke UGD, tapi saya usahain dulu deh Kilan dibalur bawang merah pake kayu putih. 

Alhamdulillah abis itu dia tidur lelap. yah suka bangun terus mah wajar lah ya, masih agak sakit dan gak nyaman dia nya. Kalau udah gini, emak bergadang walau dia tidur pulas. 

Jadi, dalam tidur saya terbayang terus sakit perutnya kilan, terus terbangun dan langsung cek suhu tubuh dan perutnya. Alhamdulillah, Kilan membaik keesokan harinya, rupanya dia masuk angin. 

Ah, hari ini sungguh aduhai Ya, Allah. kali ini, Allah mungkin pengen nasihatin dan peringatin saya,

 " eka sayang, jangan terlalu keasyikan bloging!  sampai anak dibiarin main diluar, panas-panas-an maen siren head sama si raja! ga pake topi, jaket apalagi sepatu!! lain kali, perhatiin anak dulu baru ngonkrong depan PC! "


 Jum'at, 24 Juli 2020



Pukul 08.00 WIB



Kalah Lomba “lagi”



Akhirnya, pengumuman lomba literasi yang ketiga datang juga. 

Hasilnya? saya gak lolos lagi! 

Saya sedih? tentu
Saya kecewa ? iya dong
Saya down? sudah pasti

Why? yaahh, baru aja saya struggle melawan kekecewaan hari selasa kemarin dan sudah ok, lalu hari ini mental saya dihantam lagi dengan kegagalan. Memang sih, Kalah di dalam sebuah pertandingan itu biasa, saya juga sadar. 

Hanya saja saya jadi ingat, bagaimana proses pengerjaannya yang sampai membuat saya bergadang dan berjibaku dengan pekerjaan domestik yang never ending, PJJ Keenan, Tantrum Kilan yang oohh My God never ending, juga ditambah Kilan sakit kemarin...yah pada akhirnya saya down juga akhirnya. 

Hal ini membuat saya menjadi manusia paling galau sedunia. Galau pun di sebarkan lewat status WA yang gak lama kemudian saya hapus secepat kilat karena merasa alay dan rasanya agak geli , berasa cengeng! 

Tapi rupanya mood belum juga membaik. jadi seharian itu saya hidup kaya zombie. mata selayaknya panda, senyum irit dan males beresin rumah. Chat sama sahabat saya, Renny pun malah jadi kurang nyaman karena rupa-rupanya kita sama-sama lagi bad day juga. Walau kurang nyaman tapi setidaknya masih bisa ngobrol dan saling support. untuk satu hal ini, saya sangat bersyukur. karena di saat jatuh begini, Tuhan masih ngasih saya teman untuk berbagi. 

Saya sempat nangis di kamar mandi sambil ngocorin air bak biar gak kedengeran saya nangis sama anak-anak, Kan malu kalo ketahuan anak-anak , hehehe.

Lagian, udah lama juga saya gak nangis. kayanya pasti plong kalo bisa nangis. Tapi, ternyata saya gak bisa nangis. Kenapa? karena baru aja saya mau drama India nangis nangis sampai puas dikamar mandi, eh Kilan teriak minta dibikinin kepala Monster Siren Head! kan saya gak jadi nangisnya! Hehehe.

Sepertinya Allah SWT  kembali ingin melatih mental saya agar lebih kuat dan bisa menerima kekalahan lalu diakhiri dengan mengajak saya menertawai kekalahan dengan scene lucu di kamar mandi.



Pukul 20.38 WIB

Leila S. Chudori

Hadiah dari Allah SWT


" Say ... selamat ya dapat buku Jurnalistik Dasar Tempo, Horay . Kata siapa tulisannya gak layak menang? Proud of you " Sebuah ping di chat Wa dari sahabat saya Renovrainbow berbunyi,

"Ah yang bener? dapet info darimana?" jawab saya kaget setengah mati!!

" Udah ada di blog nya mas pringadi " jawabnya,

" Alhamdulillah ya Allah ... hiks! " jawab saya sambil menambahkan emoticon nangis,

" Aduh Naha ( kenapa ) kamu nangis " tanya nya lagi,

" Nangis sedih terharu teh, nuhun ya udah jadi editor aku " jawab saya berterimakasih tak terhingga.

Alhamdulillah, Makasih Ya Allah, Tulisan saya yang berjudul " Teruslah Menulis, Agar kisahmu Tetap Abadi walau ragamu telah tiada ",  menang di lomba menulis bersama Leila S.Chudori Tempo Institute yang bekerjasama dengan Mas Pringadi Abdi Surya. alhamdulillah ya Allah, terimakasih!!!

Allah SWT  itu memang Maha Penyayang , saya memang dihajar dengan kegagalan di tiga lomba lalu Tuhan kasih saya hadiah hiburan dengan menang di lomba ini. 

Tiba-tiba saya merasa kalau Allah SWT sebetulnya ingin mengajari saya untuk gak pantang menyerah dengan gagal di tiga lomba dan belajar soal menulis lagi dengan evaluasi diri di kemenangan lomba yang ke empat


Sabtu, 25 Juli 2020

Mensyukuri hidup

Malam ini malam minggu, kami sekeluarga punya kebiasaan unik. Yaitu Jalan - jalan ke Warban ( warung bandrek ) yang lokasinya ada di dekat Sekolah Krida. Terus, dalam perjalanan kami melewati "mantan" kios tempat kami ikhtiar mencari rezeki setiap hari selama 6 tahun terakhir.

Lalu, disana saya melihat, gerobak dagangan gorengan milik teman Pak Suami, sebut saja namanya Edi. Saya lihat istrinya menemani Edi dan melayani pembeli sambil menggendong anaknya yang masih berusia 2 tahun dan anak perempuannya yang sudah SMP membantu ibunya di sisinya. 

Dalam hati saya terenyuh dan berkata, 

" Duh, kasian itu istri sama anak-anaknya. sudah malam bukannya diam dirumah tapi di sini kedinginan dan bekerja membantu sang ayah " . 

lantas terbesit dalam hati saya rasa syukur hingga membuat saya nangis. Beneran, saya nangis. sedih banget rasanya. 

Saya sudah seharusnya bersyukur. di balik Pak Suami yang kadang gak romantis dan segudang kebiasaan buruk lainnya tapi dia tidak pernah sekalipun menyuruh saya membantu dia dagang di kios selama 6 tahun kami dagang hingga akhirnya bangkrut karena pandemi di bulan lalu. saya hanya membantu Pak Suami menyiapkan barang dagangan dan membuat adonan setiap hari. 

Setiap kali saya bilang saya ingin bantu, Pak Suami selalu menolak. dia bilang 

" Jangan, dagang itu cape dan anginnya gede kalo malam. kasian kamu, kasian anak-anak. Udah biar aku aja yang dagang, kan ada si Epul yang bantuin" . 

Pandemi memang berdampak besar terhadap perekonomian di setiap orang. Termasuk pedagang kaki lima seperti kami. Kalo gak kuat iman, bisa jadi melakukan hal yang tida-tidak. 

Saya sangat bersyukur karena selain dagang di kios, Pak Suami juga punya usaha lain yaitu jualan Thriftstore dan suami nge-band. Tapi nge-band tidak bisa diandalkan karena semua event dilarang selama pandemi, jadi si thrifstore ini andalan kami. At least, untuk keperluan sehari-hari Kami gak terlalu khawatir. 

Situasi kami masih bisa dikatakan sangat beruntung. Teman sesama pedagang bahkan ada yang sampai harus tinggal di masjid untuk sementara waktu karena gak mampu bayar kontrakan akibat dagangan yang gak laku-laku. Apa daya, kami ingin membantu tapi ekonomi kami pun pas – pas-an. Hanya bisa memberi sebesar kemampuan kami. Tapi alhamdulillah, Pak RT berbaik hati rela kontrakannya di tinggali teman Pak Suami itu dengan dibayar setengah harga normal. Ternyata, masih ada orang baik dimasa pandemi ini. 

Teman Pak Suami saya yang lain, katakanlah namanya Asep, juga mengalami hal yag sangat memprihatinkan. Awalnya dia punya usaha clothing yang sukses. Karena selama pandemi lesu penjualan sehingga barang di toko menumpuk sementara vendor terus menagih hutang produksi, akibatnya kontrakan rumahnya tak bisa di lunasi dan terpaksa tinggal di gudang milik temannya. Asep juga punya hutang pada kami, sehingga begitu kami ingin menangih..... tak tega rasanya. Jadi, yah kami ikhlaskan saja walau kami juga butuh. Semoga Tuhan mengganti lewat jalan yang lain.

Ingat perkataan Pak Suami itu dan melihat kondisi teman- teman Pak Suami, saya memang merasa sangat bersyukur. Bersyukur karena walau rumah kami sangat kecil dan sempit, tapi ini milik kami sendiri dan tidak ngontrak. 

Sekali Lagi Allah SWT menyapaku, untuk lebih banyak bersyukur.


Minggu, 26 Juli 2020

  
Tuhan menyapaku


Kilan si bungsu kembali berulah, kali ini dia rewel minta pedangnya harus lurus vertikal di gantung pake tali tapi cuman di ujungnya. 

Jadi dia tuh pengen maen “jeng-jeng” alias main gitar menggunakan pedang mainan dia. soalnya gitar plastik yang dia punya katanya kependekan . Kilan ingin gitar dengan ukuran normal seperti punya Babah. Katanya, dia mau konser pake lagu babahnya.

Tapi dia keukeuh, ingin pedangnya lurus. sementara tali yang dia jadikan Strap gitar hanya di ujung pegangan pedang aja. yah, mau bagaimanapun juga gak bakalan seimbang itu pedang, pasti jatuh, hihi. 

Akhirnya, saya gunakan seribu macam rayuan maut biar di dia paham. tapi yah namanya anak kecil usia 3 tahun, kan daya nalarnya belum sempurna betul. Jadi mau dibilangin sampai emaknya salto sambil tari jaipong juga gak bakalan ngerti. akhirnya, emak tandukan dan hilang kesabaran sampai agak bentak dan bilang,

" Ya udah! terserah kamu deh! susah bener dikasih tau! "


Teriakan saya ini rupanya cukup keras sampai ngebangunin naga yang lagi tidur, alias Pak Suami! hihihi. sambil bangun sempoyongan dan mata merah Pak Suami datang menghampiri kami layaknya monster buas sambil teriak,

" Ada apa ini??? Kenapa Kilan??? maunya apa sih??? ah segimana *hydgdhjd aja! "

*hydgdhjd, itu bukan typo ya, tapi kata-kata kasar Pak Suami. sekasar apa? ya kasarnya bahasa sunda untuk kata kamu. tapi bagi saya itu aja udah kasar sih. jadi saya bete! mau ngasih tau Pak Suami jangan bilang kasar takut disembur api naga! wkwkwk. ya udah saya milih diam sembari manyun! nahan bete dan kesel. dan hari pun berlalu sampai sore tiba.

Dalam hati saya udah bertekad mau nyemprot pak suami kalo sore ini ngomong kasar lagi, mau saya bilangin,

" Bisa aja babah bilang sama Keenan dan Kilan kalau marah boleh asal jangan ngomong kasar! tapi sendirinya? yey! " tapi tenyata pak suami udah gak marah lagi sih. tapi tetep aja saya mah masih bete. sampai ibu mertua tanya saya,

" Kenapa Eka kok manyun terus? kaya yang pundung?" saya tertunduk terus jawab,

" Gak lah mah, ini karena pilek terus batuk , kepala pusing " jawab saya lesu,

" Oh, kirain pundung karena Iyad " JLEB! kok tau sih??? pengen nangis!! dan meluk ibu mertuaku rasanya!!! akhirnya aku ngomong dong,

" Iya, emang pundung sama iyad. dia marah sama Kilan sampai ngomong kasar! kan sebel! bukan apa-apa, eka takut Kilan inget kata kasar dari ayahnya dan gak pernah lupa! kan bahaya! " ucap saya nyerocos kaya kereta api .

" Iya sih, Iyad emang suka gitu! sampai mamah kaget dan ikut sebel! " oh ibu mertuaku tersayang memang perhatian.

Setelah ditanya begitu sama ibu mertua, tiba-tiba rasa saya yang penuh dengan bete - sebel - kesel hilang seketika bagai di tiup bubuk ajaib!

Lagi-lagi Allah SWT  memperhatikan perasaan saya dan menyapa saya lewat ibu mertua.



Rabu, 29 Juli 2020



Sapaan Allah di setiap peristiwa  yang terjadi di minggu lalu memberi saya pencerahan soal banyak hal. Terutama soal mensyukuri hidup, bermental kuat dan menerima kekalahan.

Terkadang, saya sering luput akan hal besar yang saya miliki di depan mata dan lebih mempersoalkan hal kecil, hingga akhirnya Allah “turun tangan” mengingatkan saya lewat serangkaian kejadian yang bikin sedih bertubi-tubi. Mulai dari kalah lomba, anak sakit dan bertengkar dengan pasangan. 

Tapi Allah juga tidak lupa menghibur saya, dengan kemenangan di lomba terakhir dan memberikan saya teman – kakak – sahabat yang selalu suport saya siang dan malam . ini beneran, karena kami gak pernah stop chat setiap hari. Teman yang demikian adalah rezeki yang tak terbantahkan . Allah itu memang penuh kasih sayang bukan? 

Semoga kamu yang juga di dera peristiwa mencekam dan mengalami kekalahan bertubi-tubi dalam waktu yang bersamaan, tetep semangat ya. Karena kamu gak sendirian, Allah  selalu menyapamu dan memberimu semangat lewat sapaan dan pelukan dari hambaNYA yang lain. Tetap bersyukur dan mensyukuri hidup. 

Saya tutup cerita saya dengan puisi yang saya buat ketika saya kalah lomba . 
semoga berkenan.


Allah telah menegurku dengan cara yang paling bersahaja, halus dan lucu.
Lantas aku tersenyum namun takut sekaligus,
Ini peringatan yang nampak depan mata.
Sujud syukur saja tidak cukup,
Memohon ampunan perlu dilakukan,
Seraya berharap, Ya Allah, Tutuplah kesalahan dan dosaku,
Ampunilah Dosaku dan berikanlah aku keselamatan Dunia dan Akhirat.