Sejarah Perfilman Korea Selatan dan Mengapa Korea Selatan Menjadi Kiblat Film Asia?

Posting Komentar
Sejarah Perfilman Korea Selatan dan Mengapa Korea Selatan Menjadi Kiblat Film Asia?

Unik, segar dan tidak membosankan adalah kesan saya ketika menonton drama dan film Korea Selatan. Menurut pandangan saya, saat ini Korea Selatan sudah berhasil memberikan trademark sendiri di antara industri film negara lain, seperti Hollywood.

Nyatanya, industri film Korea Selatan mengalami perkembangan pesat mulai dari film independen hingga streaming serial populer di platform seperti Netflix, Viu, Disney+, weTV dan iQIYI, dengan tidak hanya menarik penonton asia tapi di seluruh dunia.

Wajar sih, setelah mengikuti perkembangan drama dan film Korea selama lebih dari 20 tahun, saya melihat perkembangan perfilman Korea Selatan dari tahun ke tahun begitu luar biasa.

Tidak hanya pemilihan aktris/aktornya saja tapi juga narasi, jalan cerita dan sinematografi yang semakin keren dari tahun ke tahun, menjadikan perfilman korea kiblat hiburan, tidak hanya di Asia tetapi juga secara global dan menyandang title Hallyuwood, yang menggambarkan pengaruh besar sinema Korea dalam kancah internasional.

Terlebih ketika Bong Joon-ho naik ke panggung Academy Awards 2020 untuk menerima piala Best Picture lewat Parasite, dunia seolah baru tersadar dari tidur panjangnya. Bong dengan tenang menyebut Oscar hanyalah festival yang "sangat lokal." Pernyataan ini bukan sekadar pernyataan asbun, melainkan proklamasi kepercayaan diri dari sebuah bangsa yang telah mengasah taring sinemanya selama lebih dari satu abad.

Melansir data dari Dewan Film Korea (KOFIC), pasar film Korea Selatan kini menduduki peringkat kelima terbesar di dunia setelah Amerika Utara, Tiongkok, Jepang, dan Inggris.

Bahkan pada 2018, mereka menempati urutan pertama dunia untuk rata-rata jumlah tontonan film per kapita. Lantas, bagaimana negara yang pernah luluh lantak akibat perang ini bisa mendominasi sirkuit film dunia?

Sejarah Industri Perfilman Korea


Bagaimana pada akhirnya perfilman Korea Selatan bisa mendominasi perfilman dunia? Jawabannya adalah kombinasi strategis antara dukungan penuh pemerintah, mempertahankan konten lokal yang unik, serta adaptasi teknologi digital dan platform streaming.

Perkembangan sinema Korea Selatan yang kini melesat, tidaklah lepas dari perjuangan dan sejarah panjang industri perfilman Korea Selatan itu sendiri.

Berdasarkan data dari Wikipedia Sinema Korea Selatan dan catatan sejarah KCC Indonesia, industri perfilman Korea Selatan sudah melewati fase-fase naik turun hingga akhirnya menanjak dan menjadi kiblat perfilman Asia yang tidak mudah.

Uniknya, meski melewati masa gelap, industri perfilman Korea Selatan mampu bertahan dan berkembang pesat setelahnya.

Berikut tahapan evolusi dan sejarah industri perfilman Korea Selatan berdasarkan hasil riset dari Wikipedia Sinema Korea Selatan, dan catatan sejarah KCC Indonesia serta A Short History of Korean Film oleh Darcy Paquet.


1. Era Awal & Perlawanan Korea di Bawah Pemerintahan Jepang (1903-1945)


Meski sebagian besar rekaman film awal Korea hilang karena pengabaian atau kehancuran yang dibawa oleh Perang Korea, dan tidak ada satupun film panjang yang diproduksi sebelum tahun 1934 yang selamat dalam bentuk lengkap hingga hari ini, tapi fragmen-fragmen dari sejarah awal film Korea masih ada.

Berdasarkan catatan sejarah, industri sinema Korea Selatan sudah menghasilkan lebih dari 160 film panjang dari awal tahun dua puluhan hingga menyerahnya Jepang kepada pasukan Sekutu pada tahun 1945.

Serangkaian teater dibangun di Seoul dan di kota-kota regional seperti Pusan dan Pyongyang dari tahun 1909 hingga 1920. Sebagian besar teater ini dimiliki oleh pengusaha Jepang, tetapi beberapa pemilik teater Korea membangun modal dengan menyaring film impor Eropa dan Amerika.


Modal ini akhirnya digunakan untuk membantu membiayai produksi dalam negeri pertama Korea Selatan, "The Righteous Revenge", sebuah kinodrama di mana aktor tampil dengan latar belakang fitur yang diproyeksikan, memulai debutnya di Teater Danseongsa Seoul pada tahun 1919.

Sejumlah laporan pada masa itu menyebutkan bahwa masyarakat Korea Selatan sangat menyukai pertunjukan tersebut, tetapi prospek jangka panjang dari kinodrama terhambat oleh para intelektual yang mengkritik format media campuran tersebut sebagai penghinaan terhadap teater dan film.

Lantas, pada tahun 1923 di produksilah film bisu pertama Korea Selatan dan selama beberapa tahun berikutnya, tujuh perusahaan film Korea muncul.
Film Arirang (1926)
Film Arirang (1926) sumber : Wikipedia

Mahakarya era ini adalah film bisu Arirang (1926) karya Na Un-kyu. Na, yang pada saat itu masih berusia 25 tahun namun sudah mampu memproduksi, menyutradarai, dan membintangi film yang menceritakan seorang pria yang tidak stabil secara mental yang membunuh putra tuan tanah kaya yang terkait dengan polisi Jepang.

Judul "Arirang" diambil dari lagu rakyat populer, yang dalam bentuk barunya diatur ulang menjadi semacam lagu kebangsaan bagi gerakan kemerdekaan Korea.

Film ini, dikagumi karena kualitas estetikanya serta pesan politiknya yang tersembunyi, menjadi inspirasi bagi gelombang pembuat film muda yang berharap dapat membuat film berdasarkan prinsip-prinsip realisme dan perlawanan terhadap kekuasaan Jepang.

Sayangnya, meski popularitas sinema lokal mulai meningkat, perkembangannya terjegal sensor Jepang yang membatasi pertumbuhannya. Pemerintah kolonial mewajibkan semua film asing dan domestik diserahkan kepada dewan sensor pemerintah untuk disetujui sebelum diputar, dan polisi selalu mengawasi teater di setiap pemutaran film. Bahkan beberapa film dilarang sama sekali dan dihancurkan.

Pada tahun 1935, film suara pertama "Chunhyang-jeon" diproduksi dan disutradarai oleh Lee Myung-woo, dengan bantuan teknisi suara perintis Lee Pil-woo. Film ini dibuat berdasarkan cerita rakyat Korea yang paling terkenal.

Sejak saat itu, perfilman Korea Selatan kembali meningkat meski mengalami banyak benturan seperti modal memproduksi film suara, dan kritik yang jauh lebih keras daripada film bisu yang mendahuluinya.

Dua tahun kemudian, dengan keberhasilan komersial yang luar biasa dari film Drifter (1937) karya Lee Gyu-hwan, film suara ditetapkan sebagai standar baku industri film Korea Selatan. Namun, pada tahun yang sama, Jepang menginvasi Tiongkok, dan para pembuat film Korea berada di bawah tekanan yang meningkat untuk membuat film yang mendukung militer Jepang dan upaya perang. Pada tahun 1942, film berbahasa Korea dilarang sama sekali oleh pemerintah.


2. Masa Pendudukan & Perang (1930–1950-an)


Pada masa ini, Industri film Korea Selatan mengalami sensor ketat Jepang, bahkan sempat dilarang pada 1942. Saat Perang Korea (1950–1953), infrastruktur hancur, namun film patriotik seperti Chayu Manse! (Viva Freedom!, 1946) karya Choi Un-gyu, yang dirilis pada tahun 1946. Sebuah ode untuk patriotisme dengan sentimen anti-Jepang yang kuat, film ini terbukti menjadi hit bagi penonton.

Hancurnya infrastruktur akibat Perang Korea sempat memindahkan pusat film ke Busan, di mana para sineas fokus pada dokumenter perang. Upaya pemulihan dimulai tahun 1953 saat Presiden Syngman Rhee menghapus pajak bioskop. Berkat insentif ini serta bantuan peralatan dari luar negeri, sinema Korea berhasil bangkit dan berkembang pesat pada akhir 1950-an hingga 1960-an.


3. The Golden Age (1960-an)


The golden age, adalah era ledakan kreativitas industri perfilman Korea Selatan dimana jumlah produksi domestik meningkat dari 8 pada tahun 1954 menjadi 108 pada tahun 1959. Publik juga kembali ke teater, merangkul film-film seperti versi 1955 dari Chunhyang-jeon yang sekarang hilang dan mahakarya seperti The Housemaid (1960) dan Obaltan (1961) lahir di periode ini. Upacara penghargaan bergengsi seperti Grand Bell Awards (1962) dan Blue Dragon Film Awards (1963) pun mulai didirikan.

Akhir 1950-an dan awal 1960-an mulai bermunculan sutradara paling berbakat di Korea. Namun pada tahun 1962, diktator militer Park Chung Hee melembagakan Undang-Undang Film menyebabkan konsolidasi jumlah perusahaan film, dan memperkuat kendali pemerintah atas semua aspek industri. Meskipun film-film berkualitas terus dibuat hingga akhir dekade, kebijakan restriktif tersebut pada akhirnya berdampak pada kreativitas industri.

Namun, sutradara original di Korea Selatan adalah almarhum Kim Ki-young. Kim, yang terkenal dengan drama domestiknya, merilis film paling terkenal, The Housemaid, pada tahun 1960. Meskipun karya Kim sebagian besar terlupakan selama bertahun-tahun kemudian, ia "ditemukan kembali" pada 1990-an dan diberikan tempat yang selayaknya dalam sejarah film Korea.

Bakat signifikan lainnya yang muncul dari era ini adalah Yu Hyun-mok, yang menarik perhatian luas dengan filmnya tahun 1961 bertajuk Obaltan (diterjemahkan sebagai "Peluru Tanpa Arah"). Film ini, yang menggabungkan keprihatinan sosial dan tema Neorealisme Italia dengan desain suara dan visual yang lebih ekspresionis, mengekspresikan rasa sakit dan keputusasaan yang dibawa oleh kehancuran perang dan pembangunan industri Korea.

Terakhir, Shin Sang-ok memantapkan dirinya sebagai tokoh utama dengan karya-karya awal seperti A Flower in Hell (1958) dan filmnya yang paling terkenal The Houseguest and My Mother (1961). Kemudian dalam dekade itu, Shin beralih ke warna dan nada yang lebih sensual dalam karya-karya seperti The Dream (1967) dan pada tahun 1978, setelah membuat sekitar 80 film di negara asalnya, ia dan istrinya secara misterius "diculik" dan dibawa ke Korea Utara. Setelah bekerja di industri film di sana selama delapan tahun, ia pindah ke Hollywood.


4. Masa Sensor & Kegelapan (1970–1980-an)


Setelah mengalami masa keemasan, sekali lagi industri perfilman Korea Selatan harus menelan fakta pahit dimana pada tahun 70an hingga 80an, pemerintahan militer membatasi dengan sangat ketat bahkan dipaksa tunduk pada kepentingan propaganda atau hiburan dangkal.

Upaya revitalisasi industri film Korea dimulai dengan pembentukan Korean Motion Picture Promotion Corporation (1973) dan Arsip Film Korea (1974). Namun, kebangkitan komersial secara signifikan baru tercapai pada pertengahan 1990-an. Di tengah kemerosotan tersebut, kreativitas sineas tetap berdiri tegak melalui eksplorasi tema pribadi dan politik yang simbolis.

Nama-nama besar mewarnai era ini, di antaranya Kim Ki-young melalui deretan film khasnya, serta Lee Jang-ho dengan film debut The Hometown of Stars. Periode ini juga menandai akhir perjalanan dua sutradara berbakat, Lee Man-hee yang merilis Road to Sampo sebelum wafat pada 1975, dan Ha Kil-jong, sutradara visioner di balik March of Fools, yang meninggal dunia pada usia muda di tahun 1979.


5. Renaissance Modern (1990-an–Sekarang)


Pasca lengsernya pemerintahan militer, setelah demokrasi tegak dan sensor melonggar, pemerintah mulai menganggap industri hiburan sebagai pendorong ekonomi nasional. Film Shiri (1999) menjadi bukti nyata dengan mengalahkan rekor box office film Titanic di pasar lokal.

Memasuki tahun 1996, tongkat estafet industri film Korea mulai beralih ke tangan generasi sutradara baru yang lebih progresif.

Era ini dibuka oleh debut Hong Sang-soo lewat The Day a Pig Fell Into the Well (1996), sebuah karya yang merajut nasib empat karakter ke dalam satu narasi yang unik. Melalui film ini dan karya-karya setelahnya, Hong dikenal berani memotret sisi jujur bahkan terkadang kelam dan pahit dari hubungan antarmanusia.

Di tahun yang sama, muncul pula sosok kontroversial Kim Ki-duk yang dikenal melalui gaya visualnya yang kasar namun puitis, serta kemampuannya memproduksi film secara kilat dengan biaya minim. Berbeda dengan sineas lainnya, karya Kim seperti The Isle (2000) justru lebih dulu dipuja oleh publik internasional sebelum akhirnya diakui oleh kritikus di negerinya sendiri.

Tak ketinggalan, mantan novelis Lee Chang-dong turut memulai debutnya lewat Green Fish pada 1997. Lee menjelma menjadi sutradara kelas dunia yang meraih penghargaan di Venesia lewat Oasis (2002), dan bahkan sempat dipercaya menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Korea.

Di saat yang bersamaan, kelompok sutradara muda yang lebih berorientasi komersial juga mulai bermunculan.

Kesuksesan film The Contact (1997) karya Chang Yoon-hyun menjadi pemantik bangkitnya gairah box office domestik, yang kemudian meledak melalui fenomena film Shiri (1999) karya Kang Je-gyu.

Sejak saat itu, Korea Selatan memasuki masa keemasan yang dianggap sebagai salah satu lompatan paling mendadak sekaligus paling menonjol dalam sejarah sinema dunia.

Antusiasme publik lokal begitu besar hingga pada tahun 2001, puluhan film Korea yang diproduksi setiap tahunnya mampu menjual tiket jauh lebih banyak daripada ratusan judul film Hollywood yang masuk. Di kancah global pun serupa; kehadiran sutradara Korea di berbagai festival internasional dan angka penjualan film mereka tumbuh dengan kecepatan yang mencengangkan.


6. Globalisasi (2000-an–Sekarang)


Setelah pemerintah semakin peduli terhadap perfilman Korea Selatan didukung oleh korporasi besar, dan strategi ekspor budaya yang agresif, film Korea Selatan mengalami perkembangan pesat.

Hal ini juga didukung oleh kombinasi kualitas produksi yang tinggi, cerita orisinal yang emosional dan relevan. Teknologi sinematografi canggih, akting totalitas, serta eksplorasi tema sosial yang jujur, menciptakan gelombang budaya Korea (Hallyu) yang mendunia.

Film Korea Selatan pun meraih pengakuan global dengan Oldboy (2003) memenangkan Grand Prix di Cannes, dan Parasite (2019) memenangkan Palme d'Or dan Oscar untuk Film Terbaik.



Jika dirunut secara historis, ledakan yang dinikmati sinema Korea saat ini sebenarnya bukanlah sebuah kebetulan yang luar biasa, melainkan kondisi "normal" yang akhirnya tercapai setelah sekian lama terbelenggu.

Sejak awal, industri ini terus ditekan oleh sejarah kelam, mulai dari kolonisasi Jepang, perpecahan nasional, perang saudara, hingga sensor mencekik di bawah rezim militer. Baru pada dekade 1990-an lah, perfilman Korea akhirnya bisa bernapas lega berkat stabilitas ekonomi dan kebijakan pemerintah yang suportif. Meski pertumbuhan masif dalam beberapa tahun terakhir mungkin akan mulai melandai, ada harapan besar bahwa sinema Korea tidak akan pernah lagi terjerembab ke dalam pengekangan ekstrem seperti yang mereka alami di abad ke-20.

Timeline sejarah industri perfilman di Korea Selatan
Timeline sejarah industri perfilman di Korea Selatan

Mengapa Pemerintah Korea Selatan Sangat Mendukung Industri Perfilman Negaranya?

Alasna pemerintah mendukung industri film Korea Selatan
Alasna pemerintah mendukung industri film Korea Selatan

Kesuksesan perfilman Korea Selatan tidak terjadi secara organik, melainkan hasil dari strategi investasi yang sangat terstruktur. Melansir dari DW, setelah rezim militer berakhir, investasi dari perusahaan besar (Chaebol) seperti Samsung, Daewoo, dan Hyundai mulai mengalir deras ke sektor film. Pasca krisis keuangan Asia 1997, peta kekuatan bergeser ke arah konglomerat baru seperti:
  • CJ Entertainment (CJ ENM)
  • Orion Group (Showbox)
  • Lotte Entertainment
Selain swasta, pemerintah Korea Selatan bertaruh besar pada industri ini melalui anggaran negara. Salah satu lembaga kunci adalah Akademi Seni Film Korea (KAFA).

Sutradara Kim Se-in mengakui kalau dukungan dari KAFA itu benar-benar all-out. Mereka mengawal semuanya, mulai dari penulisan naskah hingga tahap pascaproduksi, sehingga sineas bisa fokus pada kualitas tanpa perlu mengkhawatirkan pasar dan distribusi.

Lebih dari sekadar dubsidi ala kadarnya, campur tangan pemerintah dalam industri perfilman Korea merupakan manajemen komprehensif yang telah berlangsung selama lebih dari 20 tahun.

Berikut adalah alasan utama mengapa pemerintah Korea Selatan sangat mendukung industri perfilman di negaranya, yaitu :

1. Pendorong Ekonomi (Ekspor Konten) dan Citra Nasional


Industri kreatif (K-content) berkontribusi signifikan terhadap ekspor Korea Selatan yang mencapai nilai miliaran dolar per tahun, dimana hal ini  membantu diversifikasi ekonomi di luar produk manufaktur. Efek Ekonomi Tidak Langsung: Setiap kenaikan ekspor konten sebesar $100 juta mendorong ekspor produk konsumen terkait seperti kosmetik, fashion, dan makanan sebesar $180 juta.

Selain itu, Film dan drama Korea (K-drama) juga berperan sebagai duta budaya yang menyebarkan pengaruh Korea di dunia internasional. Keberhasilan ini membangun citra positif, kebanggaan nasional, dan meningkatkan minat global terhadap produk Korea lainnya (seperti pariwisata, makanan, dan teknologi).

2. Investasi dan Tujuan Jangka Panjang (Pasca Krisis)


Setelah krisis ekonomi tahun 1997, Korea memutuskan untuk fokus pada industri kreatif sebagai tulang punggung ekonomi masa depan yang berdaya saing global. Hal ini dibuktikan dengan penyediaan dana kebijakan (policy fund) mencapai 790 miliar KRW (sekitar $625 juta) untuk mendukung startup dan perusahaan kecil di industri konten pada tahun 2023.

Dukungan intensif ini membuat industri film Korea tumbuh pesat dari industri domestik kecil menjadi raksasa dunia, yang terbukti mampu menghasilkan karya kelas dunia seperti Parasite.


Mengapa Korea Selatan Kini Menjadi Kiblat Baru Film Asia?



Selama dekade 80an dan 90an, Asia berkiblat pada film aksi Hong Kong atau film Jepang. Namun, saat ini Korea Selatan mengambil alih tahta tersebut karena empat hal, yaitu :

1. Keberanian Menembus Universalitas Isu


Film-film Korea Selatan memiliki keberanian luar biasa dalam memotret sisi gelap manusia dan ketidakadilan sosial yang sebenarnya dirasakan oleh seluruh masyarakat Asia (bahkan dunia). Isu seperti kesenjangan kelas, korupsi politik, hingga tekanan pendidikan digambarkan secara jujur. Penonton di Indonesia, Thailand, hingga India merasa "terwakili" oleh cerita-cerita ini, membuat film Korea menjadi cermin bagi masalah sosial di Asia.

2. Kualitas Produksi yang "Setara Hollywood" tapi Tetap " Asia Banget"


Sineas Korea Selatan berhasil mengadopsi teknologi sinematografi, CGI, dan standar produksi Hollywood, namun tetap mempertahankan kedalaman emosi (melodrama) yang menjadi ciri khas penonton Asia.

Mereka tidak hanya menjual aksi yang megah, tapi juga naskah yang rapi dan akting yang sangat emosional. Perpaduan kualitas teknis Barat dengan sensitivitas Timur inilah yang membuat industri film negara Asia lainnya kini menjadikan Korea sebagai standar kualitas.

3. Adaptabilitas dan Kecepatan Tren


Industri film Korea Selatan sangat adaptif dalam mengikuti selera zaman. Ketika dunia mulai jenuh dengan genre yang itu-itu saja, Korea Selatan menawarkan hal yang segar dan baru, seperti menggabungkan isu sejarah dengan zombie (Kingdom) atau ketegangan bertahan hidup dengan kritik kapitalisme (Squid Game).

Kemampuan mereka untuk terus berinovasi tanpa kehilangan identitas budaya membuat sineas dari negara Asia lain belajar dari model bisnis dan kreativitas mereka.

4. Dampak Sistemik "Hallyu"


Kesuksesan musik (K-Pop) dan drama (K-Drama) menciptakan ekosistem yang saling mendukung. Ketika seseorang menyukai K-Pop, mereka akan memiliki kecenderungan menonton K-Drama, dan akhirnya beralih ke film layar lebar Korea. Inilah yang disebut efek halo, di mana kepercayaan dunia terhadap brand "Korea" sudah sangat tinggi, sehingga film apa pun yang keluar dari sana otomatis mendapatkan perhatian global.

Alasan Korea Selatan menjadi kiblat film di Asia
Alasan Korea Selatan menjadi kiblat film di Asia

Kesimpulan


Faktanya, kini Korea Selatan bukan lagi sekadar pengikut tren perfilman global, melainkan penentu tren. Keberhasilan mereka membuktikan bahwa bahasa bukanlah penghalang selama cerita yang disampaikan memiliki kejujuran emosional.

Keberhasilan perfilman Korea Selatan adalah bukti nyata bahwa dukungan pemerintah yang all-out, dan keberanian para sineasnya dalam mengeksplorasi cerita.

Seperti yang dikatakan Bong Joon-ho, "Setelah Anda mengatasi hambatan subtitle yang tingginya hanya satu inci, Anda akan diperkenalkan dengan begitu banyak film Korea Selatan yang luar biasa."

Faktanya, sineas dari berbagai belahan dunia termasuk Hollywood, mulai belajar dan meniru cara Korea meramu cerita.

Dalam artikel berjudul "The Oscar goes to... Seoul! How South Korean cinema took over the world" di The Guardian (2020), Steve Rose menggarisbawahi bahwa kesuksesan film Korea saat ini bukan lagi sekadar karena dianggap "asing" atau eksotis. Rose mencatat adanya pergeseran besar di mana sineas Barat kini mulai melihat film Korea sebagai sebuah cetak biru yang ideal.

Mereka mempelajari bagaimana Korea Selatan mampu meramu cerita dengan kritik sosial yang sangat tajam, namun di saat yang sama tetap menyajikannya sebagai tontonan yang sangat menghibur dan laku secara komersial.

Kini, Korea Selatan tidak lagi mengejar standar global, merekalah yang sekarang menentukan standar baru bagi industri perfilman dunia.

Nah, dari sekian banyak perubahan besar di dunia sinema Korea Selatan, film apa yang pertama kali membuat kamu jatuh cinta? Apakah kamu lebih suka drama sosial yang intens seperti film Parasite , atau lebih menikmati genre thriller aksi seperti Hunter with A Scalpel (2025)? Yuk diskusi di kolom komentar.


Daftar Referensi :
  • https://www.koreanfilm.org/history.html
  • https://www.koreanfilm.org/kfilm45-59.html
  • Lee, S. (2021). Government Support in the Growth of South Korean Cinema. Asian Film Studies Journal, 15(4), 234-256.
  • Korean Film Council (KOFIC). (2024). Korean Cinema 2023: Reports and Statistics. Diakses dari kofic.or.kr
  • KCC Indonesia. Sejarah Sinema Korea: Dari Arirang hingga Era Modern. Diakses dari id.korean-culture.org
  • KOFICE (Korea Foundation for International Cultural Exchange). (2023). 2023 Global Hallyu Trends.
  • Paquet, Darcy. (2009). New Korean Cinema: Breaking the Waves. Columbia University Press. (Membahas ledakan film Korea pasca-sensor).
  • Choi, Jinhee. (2010). The South Korean Film Renaissance: Local Hits, Global Cinema. Wesleyan University Press. (Analisis teknis genre-bending dalam film Korea).
  • Chua, Beng Huat. (2012). Structure, Audience and Soft Power in East Asian Pop Culture. Hong Kong University Press. (Membahas mengapa budaya Korea menjadi kiblat di Asia).
  • DW (Deutsche Welle). (2021). How South Korea became a global creative powerhouse. Penulis: Julian Ryall. Baca di sini
  • The Guardian. (2020). The Oscar goes to... Seoul! How South Korean cinema took over the world. Penulis: Steve Rose. Baca di sini
  • Vulture. (2019). Bong Joon-ho on ‘Parasite’ and Why the Oscars Are ‘Local’. Penulis: E. Alex Jung.
  • https://listofdeaths.fandom.com/wiki/Arirang_(1926)
  • https://lostmediawiki.com/File:Original_Arirang_poster.png?__cf_chl_rt_tk=W9K7UPoRSC.bu83jBSNm82Ple6i2Itoh5EU7fRYy.BA-1774992479-1.0.1.1-YZ5gUUFdZt7PGLnQZioPQ8yiN74NxWfNb3VuUx9rfH0
  • https://www.koreatimes.co.kr/entertainment/films/20191025/righteous-revenge-marks-birth-of-korean-cinema
  • https://www.korea.net/NewsFocus/Culture/view?articleId=123272
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Viva_Freedom!
  • https://id.wikipedia.org/wiki/The_Housemaid_(film_1960)
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Obaltan
Eka FL
Blogger Gaya Hidup Kreatif - Creative lifestyle blogger
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar