Sejarah Perfilman Korea Selatan dan Mengapa Korea Selatan Menjadi Kiblat Film Asia?

6 komentar
Sejarah Perfilman Korea Selatan dan Mengapa Korea Selatan Menjadi Kiblat Film Asia?

Beneran deh, ngerasa gak sih kalau film-film Korea tuh sekarang ajip banget dan film Korea bikin adiktif? Gak cuman aktor/aktrisnya yang visual-nya bikin klepek-klepek, tapi, narasi, alur cerita dan sinematografisnya udah berasa nonton film-film Hollywood. Setuju?

Filmnya Ji Chan Wook tuh yang terbaru duuh itu beneran bikin sulit move on karena adegan aksi dia yang kek nonton Too Fast and Furious

Padahal, kayaknya film Korea di awal - awal 2000an gak sebagus ini sih. Serial drama episodenya udah kayak sepanjang jalan kenangan, banyak banget sampai puluhan, belum sinematografisnya serasa nonton sinetron Indosiar tahun 90an. Beruntung karena jalan cerita yang bagus dan cast yang visualnya oke, saya masih betah nonton drakor waktu itu.

Speechless rasanya ngelihat perkembangan sinema Korea Selatan sekarang bisa secepat dan sebagus ini, apalagi film independen juga mulai bermunculan dan serial drama serta film-film bisa dinikmati secara  streaming  di platform seperti Netflix, Viu, Disney+, weTV dan iQIYI. Dampaknya tentu aja luar  biasa, yang nonton gak cuman orang Korea, tapi seantaro dunia. 

Melansir data dari Dewan Film Korea (KOFIC), pasar film Korea Selatan kini menduduki peringkat kelima terbesar di dunia setelah Amerika Utara, Tiongkok, Jepang, dan Inggris. Wow amazing!! 

Bahkan pada 2018, mereka menempati urutan pertama dunia untuk rata-rata jumlah tontonan film per kapita. Lantas, bagaimana negara ginseng ini bisa mendominasi arena perfilm dunia?

Sejarah Industri Perfilman Korea


Gimana sih akhirnya perfilman Korea Selatan bisa mendominasi perfilman dunia? Jawabannya adalah kerjasana kuat antara dukungan pemerintah, sineas yang mempertahankan konten lokal, serta adaptasi teknologi digital dan platform streaming yang dilakukan oleh industri perfilman Korea itu sendiri. 

Seperti halnya sejarah panjang perfilman Indonesia, sinema Korea Selatan yang kini melesat juga punya sejarah panjang tapi bedanya, sejarah perfilman Korea tuh beneran se-berdarah-darah itu sih. 

Tapi, ibarat grup BTS nih, meski dari awal udah di hujat, mereka gak pernah nyerah dan membuktikan bahwa mereka, more than just an ordinary boys from Korea, tapi King of  K-Pop! Ya, seperti itulah perfilman Korea, meski melewati masa gelap hingga bioskop dihancurkan, industri perfilman Korea Selatan mampu bertahan dan berkembang pesat setelahnya.

Yuk ikuti jejak sejarang perfilman Korea selatan yang melewati beberapa tahapan evolusi yang saya rangkum dari Wikipedia Sinema Korea Selatan, catatan sejarah KCC Indonesia dan A Short History of Korean Film oleh Darcy Paquet.


1. Era Awal & Perlawanan Korea di Bawah Pemerintahan Jepang (1903-1945)


Menakjubkan! Yes, film Korea ternyata udah ada sejak tahun 1903, meski soal tahun masih diperdebatkan ya, karena gak ada bukti rekaman film karena hilang atau bisa jadi hancur karena perang Korea. Tapi,  fragmen-fragmen dari sejarah awal film Korea masih ada, jadi kita gak nebak-nebak sejak kapan nih film Korea lahir. 

Berdasarkan catatan sejarah, industri sinema Korea Selatan sudah menghasilkan lebih dari 160 film panjang dari awal tahun dua puluhan hingga menyerahnya Jepang kepada pasukan sekutu pada tahun 1945.

Puncak awal kebangkitan terjadi pada tahun 1909 hingga 1920 dimana teater mulai banyak dibangun di Seoul dan kota-kota regional seperti Pusan dan Pyongyang, meski sebagian besar dimiliki Jepang.  

Tapi, the real Korean people gak tinggal diam dong, beberapa pemilik teater Korea mengumpulkan modal dengan menyaring film impor Eropa dan Amerika. Nah, modal ini-lah yang akhirnya digunakan untuk membantu membiayai produksi dalam negeri pertama Korea Selatan, "The Righteous Revenge", sebuah kinodrama di mana aktor tampil dengan latar belakang fitur yang diproyeksikan, memulai debutnya di Teater Danseongsa Seoul pada tahun 1919.

Sejumlah laporan pada masa itu menyebutkan bahwa masyarakat Korea Selatan sangat menyukai pertunjukan tersebut (ofkors karena perdana ya), tetapi prospek jangka panjang dari kinodrama terhambat oleh para intelektual yang "hobi" mengkritik format media campuran tersebut sebagai penghinaan terhadap teater dan film. 

Pada tahun 1923, film bisu pertama Korea Selatan akhirnya diproduksi dan selama beberapa tahun berikutnya, tujuh perusahaan film Korea muncul.

Film Arirang (1926)
Film Arirang (1926) sumber : Wikipedia

Mahakarya era ini adalah film bisu Arirang (1926) karya Na Un-kyu. Na, yang pada saat itu masih berusia 25 tahun namun sudah mampu memproduksi, menyutradarai, dan membintangi film yang menceritakan seorang pria yang tidak stabil secara mental yang membunuh putra tuan tanah kaya yang terkait dengan polisi Jepang.

Judul "Arirang" diambil dari lagu rakyat populer, yang dalam bentuk barunya diatur ulang menjadi semacam lagu kebangsaan bagi gerakan kemerdekaan Korea.

Bicara soal Arirang, saya jadi ingat comeback albumnya BTS bertajuk "Arirang" juga yang ternyata punya filosofis mendalam, lebih dari sekadar album comeback tapi album tentang kembali ke diri sendiri. Ya, filosofis yang sama tentang makna lagu Arirang itu sendiri, yang intinya tentang bertahan dan berjuang.

Rasanya gak percaya aja gitu, bukan cocok-logi ya, tapi, film Arirang tuh lahir tahun 1926 dan album Arirang-BTS rilis tahun 2026, seakan BTS merayakan lahirnya film Arirang 100 tahun. Wow!

Anyway, film Arirang (1926) sangat dikagumi pada masanya karena kualitas estetika serta pesan politik tersembunyi yang menjadi inspirasi bagi pembuat film muda yang berharap dapat membuat film yang menceritakan  perlawanan terhadap kekuasaan Jepang.

Sayangnya, meski popularitas sinema lokal mulai meningkat, perkembangannya terjegal sensor Jepang yang membatasi pertumbuhannya. Pemerintah kolonial mewajibkan semua film asing dan domestik diserahkan kepada dewan sensor pemerintah untuk disetujui sebelum diputar, dan polisi selalu mengawasi teater di setiap pemutaran film. Bahkan beberapa film dilarang sama sekali dan dihancurkan. Tragedi yang bikin patah hati para sineas bukan?

Meski patah hati, buktinya beberapa sineas tetap "bebal" dan keras kepala untuk memperoduksi film. Pada tahun 1935, film suara pertama diproduksi berjudul "Chunhyang-jeon" karya Lee Myung-woo yang dibantu teknisi suara perintis Lee Pil-woo. 

Laksana membakar spirit asmara, "Chunhyang-jeon" karya Lee Myung-woo membangkitkan gairah perfilman Korea Selatan meski dalam prakteknya, para sineas mengalami banyak benturan seperti modal memproduksi film suara, dan kritik yang jauh lebih keras daripada film bisu yang mendahuluinya.

Dua tahun kemudian, dengan keberhasilan komersial yang luar biasa dari film Drifter (1937) karya Lee Gyu-hwan, film suara ditetapkan sebagai standar baku industri film Korea Selatan. 

Namun, pada tahun yang sama, Jepang menginvasi Tiongkok, dan para pembuat film Korea berada di bawah tekanan yang meningkat untuk membuat film yang mendukung militer Jepang dan upaya perang. Pada tahun 1942, film berbahasa Korea dilarang sama sekali oleh pemerintah. Ini tuh udah kayak cerita PDKT, kena ghosting terus ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, hiks. 


2. Masa Pendudukan & Perang (1945–1950-an)


Jika kamu mengira pasca film "Chunhyang-jeon" karya Lee Myung-woo maka perfilman Korea bakal bangkit? Oh no! Setelah Industri film Korea Selatan mengalami sensor ketat Jepang dan dilarang pada 1942, pada tahun 1950–1953 sejumlah infrastruktur teater hancur.

Emang dasarnya orang Korea tuh gak gampang nyerah ya, buktinya meski dalam kondisi super ketat begitu, masih bisa bikin karya film patriotik seperti Chayu Manse! (Viva Freedom!, 1946) karya Choi Un-gyu, yang dirilis pada tahun 1946. 

Saya jadi inget cerita nya Soe Hok Jie sih, film Chayu Manse! (Viva Freedom!, 1946) karya Choi Un-gyu tuh sebuah ode untuk patriotisme dengan sentimen anti-Jepang yang kuat, film ini terbukti menjadi hit bagi penonton. Terlebih  pada 15 Agustus 1945, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada akhir Perang Dunia II dan Korea pun bebas dari penjajahan Jepang. 

Karena infrastruktur tetaer hancur akibat perang,  maka pusat film sempat dipindahkan ke Busan, di mana para sineas fokus pada dokumenter perang. 

Kondisi politik yang tegang dimana, pada tahun 1945 pasca Jepang menyerah, sekutu sepakat membagi Korea menjadi dua bagian dimana Soviet di utara (komunis) dan AS di selatan (demokratis). Akibatnya, karena perang dingin, pada tahun 1948 bagian Selatan menjadi Republik Korea (ROK) dan Utara menjadi Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK).

Akhinya, Perang Korea-pun pecah selama tiga tahun pada tahun 1950 hingga 1953 menyebabkan konflik internal yang memuncak menjadi perang saudara yang menghancurkan dan berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai permanen, yang mengukuhkan garis perbatasan di DMZ.

Meski Perang Korea meninggalkan luka, sinema Korea Selatan menemukan secercah harapan ketika Presiden Syngman Rhee menghapus pajak bioskop dan melakukan upaya pemulihan pada tahun 1953. Berkat insentif ini serta bantuan peralatan dari luar negeri, sinema Korea berhasil bangkit dan berkembang pesat pada akhir 1950-an hingga 1960-an.


3. The Golden Age (1960-an)


Sejak Presiden Syngman Rhee mulai peduli, industri perfilman Korea Selatan mengalami lonjakan kreativitas perfilman dimana jumlah produksi domestik meningkat dari 8 film pada tahun 1954 menjadi 108 film yang dibuat pada tahun 1959. 

Selain itu, publik juga kembali mengunjungi teater, menonton film-film seperti remake "Chunhyang-jeon" tahun 1955.  Kebangkitan industri perfilman Korea di akhir 1950-an dan awal 1960-an melahirkan banyak sutradara paling berbakat di Korea. 

Namun, industri perfilman Korea Selatan lagi-lagi harus mengalami "ujian", karena suhu politik lokal membara akibat kudeta milter,  pada tahun 1962, diktator militer Park Chung Hee melembagakan Undang-Undang Film menyebabkan konsolidasi jumlah perusahaan film, dan memperkuat kendali pemerintah atas semua aspek industri.  

And again, para sineas gak nyerah gitu aja, dengan jiwa patriotisme yang kuat, mereka terus membuat film-film berkualitas hingga akhir dekade, seperti sutradara almarhum Kim Ki-young yang merilis film paling terkenal, The Housemaid, pada tahun 1960. 

Meskipun karya Kim sebagian besar terlupakan selama bertahun-tahun kemudian, ia "ditemukan kembali" pada 1990-an dan diberikan tempat yang selayaknya dalam sejarah film Korea.

Selain Kim, muncul juga sutradara berbakat dan gigih lainnya bernama Yu Hyun-mok, yang menarik perhatian luas dengan filmnya tahun 1961 bertajuk Obaltan (diterjemahkan sebagai "Peluru Tanpa Arah"). Film ini, yang menggabungkan keprihatinan sosial dan tema Neorealisme Italia dengan desain suara dan visual yang lebih ekspresionis, mengekspresikan rasa sakit dan keputusasaan yang dibawa oleh kehancuran perang dan pembangunan industri Korea.

Terakhir, sutradara Shin Sang-ok yang membuat  karya-karya seperti A Flower in Hell (1958) dan The Houseguest and My Mother (1961).  Shin-pun beralih ke warna dan nada yang lebih sensual dalam karya-karya seperti The Dream (1967) dan pada tahun 1978, setelah membuat sekitar 80 film di Korea Selatan, ia dan istrinya secara misterius "diculik" dan dibawa ke Korea Utara. Setelah bekerja di industri film di sana selama delapan tahun, ia pindah ke Hollywood.

Meski bisa dikatakan tahun 60-an tuh awalnya menjanjikan, endingnya gak banget, hebatnya, upacara penghargaan bergengsi Grand Bell Awards (1962) dan Blue Dragon Film Awards (1963) lahir di era ini. 


4. Masa Sensor & Kegelapan (1970–1980-an)


Setelah mengalami masa keemasan dengan ending bikin patah hati, pasca kudeta militer yang singkat selama satu tahun, Korea kembali menjadi Republik Ketiga & Keempat pada tahun 1963–1979 yang dipimpin oleh  Park Chung-hee yang otoriter lalu pindah "tangan" ke Republik Kelima (1979–1988) dipimpin oleh Pemerintahan Chun Doo-hwan yang gak stabil secara politik, sekali lagi industri perfilman Korea Selatan harus menelan fakta pahit dimana pemerintah membatasi dengan sangat ketat bahkan dipaksa tunduk pada kepentingan propaganda atau hiburan dangkal. It's all about ploitics babe! Gitu lah kira-kira.

Meski kondisi politik tidak baik-baik saja, upaya revitalisasi industri film Korea tetap dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata dengan membentuk Korean Motion Picture Promotion Corporation (1973) dan Arsip Film Korea (1974). 

Namun, kebangkitan komersial secara signifikan baru tercapai pada pertengahan 1990-an. Di tengah kemerosotan tersebut, kreativitas sineas tetap berdiri tegak melalui eksplorasi tema pribadi dan politik yang simbolis.

Nama-nama besar mewarnai era ini, di antaranya Kim Ki-young melalui deretan film khasnya, serta Lee Jang-ho dengan film debut The Hometown of Stars. Periode ini juga menandai akhir perjalanan dua sutradara berbakat, Lee Man-hee yang merilis Road to Sampo sebelum wafat pada 1975, dan Ha Kil-jong, sutradara visioner di balik March of Fools, yang meninggal dunia pada usia muda di tahun 1979.


5. Renaissance Modern (1990-an–Sekarang)


Pasca lengsernya pemerintahan militer Chun Doo-hwan, setelah demokrasi tegak dan sensor melonggar, pemerintah mulai menganggap industri hiburan sebagai pendorong ekonomi nasional. Industri perfilman Korea Selatan pun mulai bisa bernafas lega karena kesuksesan film The Contact (1997) karya Chang Yoon-hyun menjadi pemantik bangkitnya gairah box office domestik, yang kemudian meledak melalui fenomena film Shiri (1999) karya Kang Je-gyu, menjadi bukti nyata bangkitnya perfilman Korea  yang mengalahkan rekor box office film Titanic di pasar lokal. 

Memasuki tahun 1996, tongkat estafet industri film Korea yang mulai menanjak seakan enggan berhenti,  beralih ke tangan generasi sutradara baru yang lebih progresif.

Era ini dibuka oleh debut Hong Sang-soo lewat The Day a Pig Fell Into the Well (1996), sebuah karya yang merajut nasib empat karakter ke dalam satu narasi yang unik. Melalui film ini dan karya-karya setelahnya, Hong dikenal berani memotret sisi jujur bahkan terkadang kelam dan pahit dari hubungan antarmanusia.

Di tahun yang sama, muncul pula sosok kontroversial Kim Ki-duk yang dikenal melalui gaya visualnya yang kasar namun puitis, serta kemampuannya memproduksi film secara kilat dengan biaya minim. Berbeda dengan sineas lainnya, karya Kim seperti The Isle (2000) justru lebih dulu dipuja oleh publik internasional sebelum akhirnya diakui oleh kritikus di negerinya sendiri.

Tak ketinggalan, mantan novelis Lee Chang-dong turut memulai debutnya lewat Green Fish pada 1997. Lee menjelma menjadi sutradara kelas dunia yang meraih penghargaan di Venesia lewat Oasis (2002), dan bahkan sempat dipercaya menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Korea.

Di saat yang bersamaan, kelompok sutradara muda yang lebih berorientasi komersial juga mulai bermunculan. Sejak saat itu, Korea Selatan memasuki masa keemasan yang dianggap sebagai salah satu lompatan paling mendadak sekaligus paling menonjol dalam sejarah sinema dunia.

Antusiasme publik lokal begitu besar hingga pada tahun 2001, puluhan film Korea yang diproduksi setiap tahunnya mampu menjual tiket jauh lebih banyak daripada ratusan judul film Hollywood yang masuk. Di kancah global pun serupa,  kehadiran sutradara Korea di berbagai festival internasional dan angka penjualan film mereka tumbuh dengan kecepatan yang mencengangkan.


6. Globalisasi (2000-an–Sekarang)


Pasca periode penjajahan Jepang, Perang Korea dan perebutan kekuasaan, Korea "babak belur" dan kehabisan sumber daya terutama devisa negara. Dalam kondisi bertahan dan bangkit, nyatanya dukungan pemerintah didukung oleh korporasi besar, dan strategi ekspor budaya yang agresif, film Korea Selatan mengalami perkembangan pesat dan secara nyata memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian negara.

Tentu saja, hal ini juga didukung oleh kreativitas dan skill para sineas Korea yang mempertahankan kualitas produksi, cerita orisinal yang emosional dan relevan juga adapatif terhadap perkembangan teknologi sinematografi yang canggih, akting aktor/aktris yang total, serta eksplorasi tema sosial, menciptakan gelombang budaya Korea (Hallyu) yang mendunia.

Film Korea Selatan pun meraih pengakuan global dengan Oldboy (2003) memenangkan Grand Prix di Cannes, dan Parasite (2019) memenangkan Palme d'Or dan Oscar sebagai Film Terbaik.


Timeline sejarah industri perfilman di Korea Selatan
Timeline sejarah industri perfilman di Korea Selatan

Mengapa Pemerintah Korea Selatan Sangat Mendukung Industri Perfilman Negaranya?


Alasna pemerintah mendukung industri film Korea Selatan
Alasan pemerintah mendukung industri film Korea Selatan

The answer is simple, karena industri perfilman bantu kebangkitan ekonomi negara. Jadi, "menganak-emaskan" industri perfilman Korea adalah langkah cerdas dalam meningkatan perekenomian negara, 

Industri tersier dan pariwisata pun mengalami peningkatan dengan memanfaatkan Drama Korea dan film sebagai media pemasaran budaya, yang efektif menarik wisatawan mancanegara untuk berkunjung.

Selain investasi dari perusahaan besar (Chaebol) seperti Samsung, Daewoo, dan Hyundai mulai mengalir deras ke sektor film,  pemerintah Korea Selatan bertaruh besar pada industri ini melalui anggaran negara. 

Salah satu lembaga kunci adalah Akademi Seni Film Korea (KAFA). Sutradara Kim Se-in mengakui kalau dukungan dari KAFA itu benar-benar all-out. Mereka mengawal semuanya, mulai dari penulisan naskah hingga tahap pascaproduksi, sehingga sineas bisa fokus pada kualitas tanpa perlu mengkhawatirkan pasar dan distribusi.

Lebih dari sekadar subsidi ala kadarnya, campur tangan pemerintah dalam industri perfilman Korea merupakan manajemen komprehensif yang telah berlangsung selama lebih dari 20 tahun.

Setelah krisis ekonomi tahun 1997, Korea memutuskan untuk fokus pada industri kreatif sebagai tulang punggung ekonomi masa depan yang berdaya saing global. Hal ini dibuktikan dengan penyediaan dana kebijakan (policy fund) mencapai 790 miliar KRW (sekitar $625 juta) untuk mendukung startup dan perusahaan kecil di industri konten pada tahun 2023.

Dukungan intensif ini membuat industri film Korea tumbuh pesat dari industri domestik kecil menjadi raksasa dunia, yang terbukti mampu menghasilkan karya kelas dunia seperti Parasite (2019). 


Mengapa Korea Selatan Kini Menjadi Kiblat Baru Film Asia?



Belive it or not, dari negara yang pernah hancur akibat penajajahan Jepang hingga perebutan kekuasaan ini, kini industri perfilman Korea Selatan menjadi "kiblat" film Asia. Kok bisa?  Padahal selama dekade 80an dan 90an, Asia berkiblat pada film aksi Hong Kong atau film Jepang. Namun, saat ini Korea Selatan mengambil alih tahta tersebut.

Kiblat film Asia tuh maksudnya apa sih? Industri perfilman Korea Selatan sukses melakukan diversifikasi genre dan menarik audiens internasional, menjadikannya rujukan bagi industri film Asia lainnya.

Industri perfilman Korea Selatan berhasil mendominasi industri kreatif melalui kualitas konten yang diakui dunia, standar produksi yang tinggi, serta pengaruh budaya (Hallyu/Korean Wave) yang sangat kuat di Asia dan global. 

Berikut adalah poin-poin yang menjadikan Industri perfilman Korea Selatan menjadi  "Kiblat Film Asia",  yaitu : 

1. Standar Produksi dan Cerita Berkualitas


Film dan drama Korea terkenal memiliki alur cerita yang relatable, emosional, dan sering kali mengangkat isu sosial dengan jujur. Kualitas akting pemain dan produksi sinematografi yang detail membuat karya mereka sering dianggap melampaui standar industri hiburan lainnya.

Film-film Korea Selatan memiliki keberanian luar biasa dalam memotret sisi gelap manusia dan ketidakadilan sosial yang sebenarnya dirasakan oleh seluruh masyarakat Asia (bahkan dunia). Isu seperti kesenjangan kelas, korupsi politik, hingga tekanan pendidikan digambarkan secara jujur. Penonton di Indonesia, Thailand, hingga India merasa "terwakili" oleh cerita-cerita ini, membuat film Korea menjadi cermin bagi masalah sosial di Asia.

2. Dominasi Tren (K-Drama & Film)


Korea Selatan konsisten melahirkan karya-karya ikonik (contoh: Parasite, Squid Game, Train to Busan) yang menetapkan tren cerita baru di Asia. Hal ini membuat kreator di negara lain sering kali menjadikan Korea sebagai referensi atau gaya cerita mereka.

3. Kualitas Produksi yang Setara Hollywood tapi Tetap Lokal 


Tak hanya film, estetika dalam industri hiburan Korea (seperti pencahayaan, fashion, makeup/K-beauty) memengaruhi gaya hidup dan tren kecantikan di Asia.
 
Sineas Korea Selatan berhasil mengadopsi teknologi sinematografi, CGI, dan standar produksi Hollywood, namun tetap mempertahankan kedalaman emosi (melodrama) yang menjadi ciri khas penonton Asia.

Mereka tidak hanya menjual aksi yang megah, tapi juga naskah yang rapi dan akting yang sangat emosional. Perpaduan kualitas teknis Barat dengan sensitivitas Timur inilah yang membuat industri film negara Asia lainnya kini menjadikan Korea sebagai standar kualitas.

4. Adaptabilitas dan Kecepatan Tren


Industri film Korea Selatan sangat adaptif dalam mengikuti selera zaman. Ketika dunia mulai jenuh dengan genre yang itu-itu saja, Korea Selatan menawarkan hal yang segar dan baru, seperti menggabungkan isu sejarah dengan zombie (Kingdom) atau ketegangan bertahan hidup dengan kritik kapitalisme (Squid Game).

Kemampuan mereka untuk terus berinovasi tanpa kehilangan identitas budaya membuat sineas dari negara Asia lain belajar dari model bisnis dan kreativitas mereka.

7. Dampak Sistemik "Hallyu"


Kesuksesan musik (K-Pop) dan drama (K-Drama) menciptakan ekosistem yang saling mendukung. Ketika seseorang menyukai K-Pop, mereka akan memiliki kecenderungan menonton K-Drama, dan akhirnya beralih ke film layar lebar Korea. Inilah yang disebut efek halo, di mana kepercayaan dunia terhadap brand "Korea" sudah sangat tinggi, sehingga film apa pun yang keluar dari sana otomatis mendapatkan perhatian global.

8. Pencapaian Internasional


Keberhasilan memenangkan penghargaan tertinggi di dunia, seperti Parasite di Oscar, memperkuat posisi Korea Selatan di atas negara Asia lainnya dalam hal sinema.


Alasan Korea Selatan menjadi kiblat film di Asia
Alasan Korea Selatan menjadi kiblat film di Asia

Kesimpulan


Keberhasilan perfilman Korea Selatan adalah bukti nyata bahwa perjuangan sineas Korea Selatan tidaklah sia-sia. 

Bayangkan saja, sudah dibuat patah sejak awal lahir, lalu digembirakan sejenak dan dipatahkan kembali, nyatanya gak bikin para sineas ini baper dan menyerah. Hingga akhirnya pemerintah memberikan dukungan penuh dan all-out,  para sineas akhirnya bisa dengan begitu bebas  mengeksplorasi cerita dan meningkatkan kualitas produksi film. 

Kini, sineas dari berbagai belahan dunia termasuk Hollywood, mulai belajar dan meniru cara Korea meramu cerita. Dalam artikel berjudul "The Oscar goes to... Seoul! How South Korean cinema took over the world" di The Guardian (2020), Steve Rose menggarisbawahi bahwa kesuksesan film Korea saat ini bukan lagi sekadar karena dianggap "asing" atau eksotis. Rose mencatat adanya pergeseran besar di mana sineas Barat kini mulai melihat film Korea sebagai sebuah cetak biru yang ideal.

Mereka mempelajari bagaimana Korea Selatan mampu meramu cerita dengan kritik sosial yang sangat tajam, namun di saat yang sama tetap menyajikannya sebagai tontonan yang sangat menghibur dan laku secara komersial.

Kini, Korea Selatan tidak lagi mengejar standar global, merekalah yang sekarang menentukan standar baru bagi industri perfilman dunia.

Nah, dari sekian banyak perubahan besar di dunia sinema Korea Selatan, film apa yang pertama kali membuat kamu jatuh cinta? Apakah kamu lebih suka drama sosial yang intens seperti film Parasite , atau lebih menikmati genre thriller aksi seperti Hunter with A Scalpel (2025)? Yuk diskusi di kolom komentar.


Daftar Referensi :
  • https://www.koreanfilm.org/history.html
  • https://www.koreanfilm.org/kfilm45-59.html
  • Lee, S. (2021). Government Support in the Growth of South Korean Cinema. Asian Film Studies Journal, 15(4), 234-256.
  • Korean Film Council (KOFIC). (2024). Korean Cinema 2023: Reports and Statistics. Diakses dari kofic.or.kr
  • KCC Indonesia. Sejarah Sinema Korea: Dari Arirang hingga Era Modern. Diakses dari id.korean-culture.org
  • KOFICE (Korea Foundation for International Cultural Exchange). (2023). 2023 Global Hallyu Trends.
  • Paquet, Darcy. (2009). New Korean Cinema: Breaking the Waves. Columbia University Press. (Membahas ledakan film Korea pasca-sensor).
  • Choi, Jinhee. (2010). The South Korean Film Renaissance: Local Hits, Global Cinema. Wesleyan University Press. (Analisis teknis genre-bending dalam film Korea).
  • Chua, Beng Huat. (2012). Structure, Audience and Soft Power in East Asian Pop Culture. Hong Kong University Press. (Membahas mengapa budaya Korea menjadi kiblat di Asia).
  • DW (Deutsche Welle). (2021). How South Korea became a global creative powerhouse. Penulis: Julian Ryall. Baca di sini
  • The Guardian. (2020). The Oscar goes to... Seoul! How South Korean cinema took over the world. Penulis: Steve Rose. Baca di sini
  • Vulture. (2019). Bong Joon-ho on ‘Parasite’ and Why the Oscars Are ‘Local’. Penulis: E. Alex Jung.
  • https://listofdeaths.fandom.com/wiki/Arirang_(1926)
  • https://lostmediawiki.com/File:Original_Arirang_poster.png?__cf_chl_rt_tk=W9K7UPoRSC.bu83jBSNm82Ple6i2Itoh5EU7fRYy.BA-1774992479-1.0.1.1-YZ5gUUFdZt7PGLnQZioPQ8yiN74NxWfNb3VuUx9rfH0
  • https://www.koreatimes.co.kr/entertainment/films/20191025/righteous-revenge-marks-birth-of-korean-cinema
  • https://www.korea.net/NewsFocus/Culture/view?articleId=123272
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Viva_Freedom!
  • https://id.wikipedia.org/wiki/The_Housemaid_(film_1960)
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Obaltan
Eka FL
Blogger Gaya Hidup Kreatif - Creative lifestyle blogger

Related Posts

6 komentar

  1. Waah ternyata industri film Korea sudah ada sejak tahun 1903 dan melewati berbagai fase sejarahnya yang panjang. Satu yang saya catat dari keberhasilan industri film Korea selatan ini adalah daya juang mereka dlam membuat film berkualitas dan tidak mudah menyerah meskipun banyak gagal dan bahkan buly. Kereen mentalnya kereen. Tidak heran bisa bertahan dan sukses seperti saat ini.

    BalasHapus
  2. Parasite salah satu film Korea Selatan yang cukup berkesan buatku. Dari cara pengambilan gambar, bahkan cerita yang sangat kuat, beneran bikin ini film nempel diingatan.

    Keren pake banget ya, perjuangan sineas Korsel ini. Beneran tahan banting dan Yap BTS sebagai salah satu boy grup favorit ku, emang selalu menginspirasi banget bahkan judul album terbarunya pun sangat filosofis sekali.

    Patut dicontoh nih sama sineas Indonesia, kalau semua pihak saling mendukung secara penuh dan kerja cerdas serta keras, pasti hasilnya oke banget. Perlu banyak belajar dari Korsel nih.

    BalasHapus
  3. Korea selatan memang patut banget jadi kiblat film/drama ya kak. Totalitas banget menurutku kalau mereka membuat project film gitu

    BalasHapus
  4. Panjang ya perjalanan film korea ini memang keren banget mereka sekarang bahkan filmnya sampai menang Oscar. Padahal dulu kayaknya dipandang sebelah mata gitu. Dan pemerintahnya juga memang memberi dukungan penuh karena tahu potensi besar dari film korea yang bisa dijual sebagai pemasukan negara

    BalasHapus
  5. Menarik banget! Tulisan ini membuka perspektif bahwa kesuksesan film Korea sekarang bukan sesuatu yang instan. Ada proses panjang di belakangnya. Aku suka karena artikelnya tidak hanya informatif, tapi juga mengajak kita lebih menghargai perjalanan sebuah industri.

    BalasHapus
  6. Setuju banget sih kalo film Korea sekarang jadi kiblat film Asia, setelah Jepang dan China dulu ya, atau bolywood. Kini film Korea paling menonjol. Ceritanya kuat dan seringkali sulit ditebak ya. Film dramanya oke, actionnya juga oke. Cuma mungkin yang masih belum halus seperti film Holywood itu, sains fictionnya dari sisi teknologi menurut saya belum halus. Itu aja, memang perlu pengalaman lama dan teknologi kali ya.

    BalasHapus

Posting Komentar