Kulwapp GRATIS dan KEREN buat Emak-emak jaman now : MENTAL HEALTH & FAMILY SUPPORT






Kulwapp GRATIS dan KEREN buat Emak-emak jaman now : MENTAL HEALTH & FAMILY SUPPORT

“ Aduh kok aku bĂȘte terus nih? Kok aku sedih terus sih tanpa alas an? Apa aku ini waras? Apa aku harus ke psikolog? “

Pernah gak sih mak nanya begitu sama diri sendiri? Aku pernah! Terus jawabannya apa? Jawabannya, ikut KULWAPP ( kuliah watsapp ) ONLINE SHARING #4⁣

Ruang Keluarga, bertema : MENTAL HEALTH AND FAMILY SUPPORT⁣yang diadakan hari Rabu, 6 November 2019, 19.00-21.00 WIBdi GRUP WA RUANG KELUARGA.

Terjawab semua gak pertanyaan di atas? Emmm, gak semua sih, karena si aku kurang GERCEP sama peserta lain yang gak kalah heboh dan semangatnya! Hehehe. Tapi dari beberapa pertanyaan peserta dan jawaban narasumber yang ciamik, beberapa pertanyaan di atas terjawab. 

Jadi nih,


Awal ceritanya, sahabat baru saya di dunia maya yang karena jarak memisahkan kami sehingga belum juga bisa KOPDAR sampai sekarang, bikin status WA soal kulwapp ini. Begitu si aku liat judulnya yang terpampang jelas : MENTAL HEALTH AND FAMILY SUPPORT⁣

Waahhh, langsung DM sahabatku itu. Itu tuh, tulisan MENTAL HEALTH-nya itu yang keliatan ijoooooo banget di mataku! Apa aku ini gak waras sampai liat tulisan MENTAL HEALTH aja ijo? bukannya kalo liat duit warna merah yaah yang langsung ijo? Yaah itu juga dong! Hehehehe

So, why? Kok tertarik sih sama materi kulwapp nya #4⁣ Ruang Keluarga soal mental health ini? Itu karna, secara pribadi si aku ini memang merasa seperti sering ngerasa depresi atau anxiety gitu, apa ini self diagnosed atau hasil periksa psikolog? Self diagnose kok mak, makanya begitu liat itu tulisan MENTAL HEALTH mataku langsung berbinar binary kaya liat berlian 24 karat! 

Aku pengen tau soal “sakit jiwa” aku ini, bener atau cuman karna stress aja. Dan ternyata? Belum ter-diagnosa sih kalo soal depresi yang aku rasain, itu perlu diskusi pribadi langsung dengan narasumber sharing online #4 kali ini, mba nurul. Semoga ada waktu dan kesempatan nanti buat konsultasi dengan beliau.

LANJUT! 

Jadi, kulwapp kali ini sebetulnya ngebahas apa sih? Ya ngebahas soal KESEHATAN MENTAL dong Fernando! Masa soal kesehatan kucing! Hehehe

Di kulwapp kali ini saya menemukan bahwa, saya tidak sendirian. Maksudnya? Iya, yang merasa memiliki permasalahan personal seputar kesehatan mental ternyata bukan hanya saya, tapi banyak juga emak-emak dan bapak-bapak yang lain yang juga walau dalam kondisi masih revitalisasi diri masih tetap beraktivitas sesuai perannya setiap hari. So, intinya adalah ibarat lagu-nya the corrs, “everybody hurt”.

Ternyata bukan hanya saya yang sering merasa seakan-akan memiliki , trauma masa lalu dan masih bergelut dengan hal itu sampai sekarang, DISTIMIA (self-diagnose) atau depresi. 

Setelah saya mengikuti kulwapp, saya juga menemukan bahwa, jika merasa depresi atau trauma masa lalu kita sudah sedemikian parahnya mengganggu aktivitas kita sehari-hari, maka kita harus segera memiliki supporting system, atau segeralah mengunjungi psikolog/psikiater, karena menurut mba nurul, psikolog atau psikiater akan mampu membantu kita dalam melakukan analisa dan diagnose terhadap permasalahan psikologis kita dan intervensi yg dilakukan bisa tepat guna. Selain daripada itu, kesehatan mental yang sudah demikian parah efeknya terhadap keseharian kita, juga akan berimbas pada kesehatan keluarga.

Mengapa demikian?


Let’s say, aku misalnya, yang punya trauma GHOST PARENTING . Kalo aku gak segera “curhat” sama supporting system aku, yang dalam hal ini pak suamik sebagai bagian dari anggota keluarga, akan berimbas pada kualitas hubungan suami-istri dan juga ibu-anak. Kalo udah curhat, solusi seperti apa yang paling tepat pasti akan ketemu. Karena menurut mba nurul, dukungan pasangan bisa menjadi satu pondasi dasar bagi terjalinnya hubungan yang sehat dalam sebuah keluarga/rumah tangga.

Nah, untuk bisa “curhat” ini juga bisa menjadi permasalahan tersendiri lho, karena tidak semua istri bisa terbuka seterbukanya sama suami. Idealnya, memang keluarga yg sehat itu keluarga yg berani mengidentifikasi permasalahan yg ada di keluarganya, memetakannya, lalu menghadapinya bersama. Keluarga yg sehat sejatinya adalah keluarga yg belajar dari kesalahan, dari permasalahan yg ada. Tetapi yah, seperti yang saya bilang, tidak semua pasangan bisa terbuka mengenai luka masa lalu terhadap pasangannya, bisa karena takut, malu, segan atau “kaburu hoream curhat karena respon suami yang datar aja kaya papan triplek”

Tapi mak, kalo dibiarkan berlarut, efeknya besar lho. Yang jadi korban bukan hanya kehidupan kita, tapi juga anak. Menurut mba Nurul, memang tidak semua orang dilahirkan dalam keluarga yang membiasakan "ngobrol" antar anggota keluarganya dan tidak semua orang mempunyai kemampuan atau ketrampilan untuk dapat berkomunikasi secara sistematis, luwes dan efektif. Oleh karena itu, memang yg harus ditandaskan di awal pernikahan adalah pola komunikasi yg disepakati. Termasuk didalamnya adalah bersama-sama mengidentifikasi pola komunikasi masing-masing pasangan. 

Kembali menurut Mba Nurul, membuka komunikasi dengan pasangan memang tidak mudah, tapi bisa dilatih. Butuh effort yang tidak sedikit, dan membutuhkan waktu. Akan ada masa-masa putus asa, masa masa berucap "ini tdk bisa, ini tdk mungkin dilakukan, omong kosong" ,namun jika terus diupayakan, ditekuni, maka pola komunikasi sehat sedikit demi sedikit akan terbangun. Karena, komunikasi yang sehat akan berdampak jangka panjang. Tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga terhadap lingkungan keluarga dalam hal ini anak. Jika kita sebagai orangtua tidak meluangkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk mencoba menjalin harmoni dengan pasangan, lalu larut dalam komunikasi yang tidak sehat, maka anak-anak pun besar kemungkinan akan tumbuh dengan pola komunikasi yang serupa. 

Kenapa bisa begitu? 

Karena sejatinya sekolah anak yang paling mendasar adalah keluarganya (baca : orangtuanya). Anak belajar beremosi, berpikir, mencari solusi, juga berkomunikasi dr orangtuanya.

Namun demikian, sembari memperbaiki pola komunikasi, kita memang harus meningkatkan tata kelola mood/emosi yang kita miliki sehingga tidak berdampak negatif bagi diri sendiri terlebih bagi orang-orang penting di sekitar kita. 

Saya menggaris bawahi uraian mba Nurul, MENINGKATKAN TATA KELOLA MOOD/EMOSI , nah ini yang menurut saya penting. Sama persis dengan solusi yang saya buat untuk permasalahn ghost parenting yang saya alami. 

Lalu, gimana kalo yang memiliki gangguang kesehatan mental itu adalah pasangan kita dan bukan kita? Nah menurut mba nurul, ada yang bisa lakukan demi untuk membantu pasangan kita melalui permasalahannya sembari membentuk keluarga kita menjadi sehat secara mental. Yaitu dengan, Look and Listen. Ajak pasangan untuk lebih terbuka terhadap masa lalu yang mengganggu atau menghambat pola pikir positifnya. Dengarkan dengan cermat. Hadapi bersama, tela'ah dan kaji bersama. Petakan permasalahan dan ajak pasangan untuk memperluas sudut pandang dalam menilai permasalahan yang terjadi di masa lalu. Listen. Jika kita melihat pasangan kesulitan dalam mengurai permasalahan, maka libatkan orang lain yang dinilai dapat dipercaya, seperti orangtua, sahabat, atau pemuka agama. Jika kita melihat masalah yang dihadapi pasangan merupakan masalah yang berat dan menekan, maka kita bisa menghubungkannya dengan psikolog/psikiater. Semakin cepat masalah dapat diurai, maka semakin cepat penanganan bisa dilakukan.

Saya juga menemukan insight baru di kulwapp ini, menyoal ME TIME.

YESS!! Paporit saya, hehe. Kalo waktu me time-nya udah disepakati sama suami sih gak masalah yak mak, waktu kita buat sendiri dan anak-anak akan terbagi adil dan merata. Tapi gimana kalo karena kita ibu bekerja dan me-time kita dilakukan setelah kita pulang kerja? Oohhh yess jadi sebuah dilemma yaahh…


Kembali menurut Mba Nurul, ( ini nih yang paling meninspirasi) BUAT SKALA PRIOTITAS! 

Hobi sebagai mood booster dan juga penyeimbang memang diperlukan untuk kesehatan mental individu. Bahkan dianjurkan. Namun demikian, waktu untuk menemani dan mendampingi keluarga, terutama anak, untuk tumbuh dan berkembang juga sangat diperlukan. Terlebih waktu mereka bersama kita terbilang singkat sebelum mereka dewasa dan mempunyai urusan masing – masing. good things take times. Keluarga terutama anak, tidak hanya cukup dengan kualitas, namun juga kualitas. Karena sesungguhnya, sesuatu yg baik itu membutuhkan waktu untuk menumbuhkan dan juga waktu untuk memeliharanya.

Saran saya, kembali ke KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN, pilih waktu yang asoy geboy buat kita para emak bisa me time. Jadi, kita masih bisa melakukan hobi kita sebagai penyeimbang kesehatan mental dan anak-anak tetap terjaga dan terawasi. Kata kunci adalah manajemen hobi (juga waktu melakukan hobi) dan skala prioritas

Dari semua materi kulwapp kali ini, yang paling menohok saya dan yes!! Ini jawaban yang selama ini saya cari, adalah GIMANA CARANYA ME-MANAJEMEN EMOSI DAN DEPRESI dan gak melampiaskannya ke anak ?

Menurut pemaparan Mba Nurul, Cara untuk menekan emosi supaya kita tetap “sehat” dan tidak melampiaskan ke anak adalah dengan, Kita bisa menerapkan teknik pause time. 

Jika dlm kondisi emosi, dan kebetulan di deketnya ada anak, atau emosi krn anak, maka kita bisa sejenak berdiam diri, fokus pada nafas, jgn pikirkan apa2, lalu hitung sampai 10. Belum tenang? Ulang lagi prosesnya. Biasanya emosi akan sedikit banyak mereda. Dan anak tdk akan terlalu kena dampaknya.

Karena, Pada kasus depresi, pola pikir yg negatif (biasanya juga karena dipengaruhi oleh persepsi yg salam pada masa lalu) akan mempengaruhi emosi shg mjd negatif pula. Keduanya saling menguatkan dalam hal kenegatifan. Akibatnya, fisik pun mjd limbung. Tdk berenergi, muncul gangguan tidur, gangguan makan, dsb. Ketiganya kemudian akan bahu membahu saling menguatkan kenegatifan. 

Nah kalo udah gini kita harus begimana mak? mood atau emosi adalah salah satu yang sulit untuk diintervensi, meskipun bukan tdk mungkin. Jadi apa yang bisa dilakukan? OLAHRAGA! ZUMBA?AEROBIK?JOGGING? apa aja semua boleh, karena menurut mba nurul, semua Aktivitas tersebut akan menghasilkan hormon-hormon kesehatan mental, yg biasanya dipaksa untuk dihasilkan melalui injeksi obat-obatan dari psikiater. Jadi bisa bayangkan Jika fisik oke, Lalu hormone-hormon kesehatan mental dihasilkan, Emosi menjadi (sedikit demi sedikit) lebih stabil, maka intervensi kepada pikiran menjadi mngkin untuk dilakukan. 

Selain olahraga, kita juga bisa MENULIS, yess! Kesukaan saya yang lain! hehehehe.

Bikin buku harian, jurnal atau blog kaya saya, hehehe. Dengan menulis catatan harian, kita bisa mencoba belajar Memetakan permasalahan. Sulit awalnya karena tidak terbiasa , namun bagi sebagian orang terbukti sangat membantu. 

Kulwapp kali ini banyak pencerahan bagi saya, dan semoga juga bagi emak yang baca postingan saya kali ini. Semoga kedepannya ada kulwapp dari ruang keluarga lagi yang gak kalah menarik dan GRATIS tentunya ya, hehehe ( dasar emak-emak, hihihi )















9 komentar:

  1. yang baru menikah boleh hadir gk ya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh banget, tapi udah lewat mas acaranya, hehehe, klo ada info kulwapp terbaru nanti saya kabari ya

      Hapus
  2. Me time itu memang penting banget.. biar gak stres biar gak depresi hehe ya kan kak?

    BalasHapus
  3. Aku masih suah ini memanajemenkan emosi, karena seringnya di pendem, akhirnya jadi mumet, haha..

    BalasHapus
  4. Wah lewat lagi materi keren. Aku juga sering baca2 soal mental health seperti ini mba. Mengimbangi kegilaan pekerjaan dan tugas rumah tangga haha. Jadi kalau ada materi soal mental health selalu antusias. Baca resumenya dulu deh di blognya ka eka. hihi

    BalasHapus
  5. Kesepakatan sama suami itu penting Banget. Baik soal kerjasama atopun urusan pengasuhan nih bakal tmbh stres kalo ga sepakat. Sampe skrg pun masih ada hal2 yg beda dlm pengasuhan kami. Haha KZL tp ya emang ga harus selalu sama jg sih perspektif tuh

    BalasHapus
  6. “kaburu hoream curhat karena respon suami yang datar aja kaya papan triplek” huahaha ini awal2 nikah bgt,akhirnya aku nothing too lose kalau curhat dan bilang "yah gitu amat sih respon" dan dia nanya mau direspon apa wkwk... btw teh eka ghost parenting tuh apa ya?

    BalasHapus
  7. Kalau menurut aku yang paling berpengaruh terhadap depresi adalah pola pikir sih mba eka.

    Jadi sebisa mungkin kita selalu berfikir positif dan menghindari hal-hal sepele penyebab stres.

    BalasHapus
  8. Me time ku dengan nonton drama korea mba hahaha.
    Aku kalau nggak gitu stres banget. Apalagi hidup dengan mertua, yang kemauannya yang kudu disabarin. Kalau udah emosi ya, melarikan diri aja dengan menonton kalau keluar rumah kan nggak mungkin ehhehe. Semangat.

    BalasHapus