Apa Itu Teknologi Kreatif dan Mengapa Pekerja Kreatif Wajib Melek Teknologi

Apa Itu Teknologi Kreatif dan Mengapa Pekerja Kreatif Wajib Melek Teknologi


Sadar gak sih kalau saat ini,  dunia kreatif bergerak sangat cepat bahkan melampaui imajinasi kita? Perubahan teknologi kreatif terasa berjalan begitu pesat stiap kali kita mengakses Pinterest, dengerin lagu di platform streaming, melihat portofolio keren di Behance, atau ketika mencoba fitur “ajaib” di sosmed. 

Semua keajaiban teknologi ini terasa seru ya? Bukan cuman seru, tapi bikin kita merasa tertantang dan bersemangat secara bersamaan. Fenomena ini sebenarnya adalah wujud nyata dari berkembangnya ekosistem teknologi kreatif.

Sebagai kreator yang menjalani gaya hidup produktif, memahami apa itu teknologi kreatif dan alasan pekerja kreatif wajib melek teknologi di era sekarang adalah kunci utama agar karya kita gak cuma punya tampilan estetik, tapi juga punya fungsi nyata yang dihargai tinggi di industri ekonomi kreatif. 

Mengetahui mengapa memahami hal ini penting akan membuka mata kita tentang seberapa luas perkembangan dunia teknologi kreatif saat ini dan bagaimana cara eksplorasi lebih dalam lagi.

Mengenal Apa Itu Teknologi Kreatif Menurut Para Ahli


Apa itu teknologi kreatif?

Teknologi kreatif adalah bidang lintas ilmu yang menggabungkan ekspresi seni, desain, dan ilmu komputer demi menciptakan sebuah pengalaman digital yang inovatif dan interaktif. Teknologi ini berfungsi sebagai akselerator yang melipatgandakan nilai ide mentah manusia menjadi produk fungsional bernilai ekonomi tinggi.

Menurut Meadows School of the Arts, teknologi kreatif adalah bidang yang menggabungkan seni, desain, dan ilmu komputer demi menciptakan sebuah pengalaman digital yang inovatif. 


Diagram Venn irisan antara seni, desain, dan ilmu komputer sebagai fondasi teknologi kreatif.
Teknologi kreatif bukan berdiri sendiri, melainkan hasil sinergi dari Seni, Desain, dan Ilmu Komputer. 


John Howkins juga menyatakan dalam bukunya yang berjudul The Creative Economy: How People Make Money from Ideas, teknologi kreatif berkembang pesat ketika pemikiran kreatif dan imajinasi murni manusia berpadu secara langsung dengan konektivitas digital. Gabungan inilah yang kemudian mampu menghasilkan nilai ekonomi baru yang tidak terbatas di dalam sektor ekonomi kreatif global.

Sementara itu NESTA (National Endowment for Science, Technology and the Arts) menyatakan bahwa Teknologi kreatif  adalah titik temu antara kreativitas, teknologi, dan bisnis. Pada irisan ini, ide-ide kreatif dan inovasi digital didorong oleh penguasaan teknologi untuk menciptakan produk, layanan, atau model bisnis baru yang bernilai komersial tinggi.

Terkait hal tersebut, desainer dan teknolog John Maeda turut beropini dalam laporan tahunan Design in Tech Report:

"Desainer masa kini tidak bisa lagi memisahkan diri dari logika komputasi. Kekuatan sejati dari desain modern muncul ketika sensitivitas visual seorang seniman bersinergi dengan kekuatan komputasi teknologi."

Hal ini mengubah produk yang awalnya hanya indah dipandang menjadi produk yang sangat fungsional dan berdampak massal bagi kehidupan sehari-hari masyarakat. 

Di era digital, teknologi kreatif merupakan motor penggerak utama dalam pertumbuhan industri kreatif dunia. Sektor ini tidak hanya berfokus pada pembuatan produk fisik semata yang asal jadi dan berfungsi, melainkan produk yang mengutamakan user experience (UX) atau pengalaman digital yang berkesan, bermakna, dan interaktif bagi para audiens.



Apa Saja Bentuk Teknologi Kreatif di Era Digital?


Bentuk teknologi kreatif di era digital
Bentuk teknologi kreatif di era digital


Meski bekerja sama dengan bidang ilmu komputer, teknologi kreatif tuh bukan cuma soal bikin barisan kode biner rumit yang bikin pusing. Berdasarkan penjelasan dari Wikipedia dan ulasan dari SMU Meadows School of the Arts, teknologi kreatif sebetulnya adalah sebuah bidang lintas ilmu (interdisipliner) yang menyatukan ekspresi seni, desain, humaniora, dan ilmu komputer. 

Lantas apa saja wujud dari teknologi kreatif? Berikut karakteristik, contoh alat, sampai dampaknya di industri nyata.

1. Memadukan Berbagai Bidang Untuk Kenyamanan Pengguna (UX)


Keunikan dari teknologi kreatif adalah sifatnya yang menggabungkan banyak keahlian sekaligus. Gak cuma fokus pada fungsi teknis perangkat, ekosistem ini sangat menitikberatkan pada aspek bagaimana manusia merasakan dan berinteraksi secara multisensori dengan sebuah produk. Inilah mengapa pemahaman mendalam soal user experience (UX) jadi pilar yang gak bisa dipisahkan.

Contoh simpelnya bisa kita temukan ketika menggunakan filter atau topeng lucu di Instagram Story. Filter itu gak bakalan ada kalau kreator dibalik pembuatannya hanya membuat gambar dua dimensi biasa. 

Di balik layar pembuatan efek ini, ada perpaduan antara ilmu desain objek tiga dimensi, kepekaan audio, dan coding berupa teknologi facial recognition agar filternya bisa mengikuti gerakan wajah secara real-time.

2. Contoh Penerapan dan Tools Kreatif


Wujud dari teknologi ini sangat dekat dengan keseharian kita, baik berupa perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software) seperti:
  • Realitas Imersif: Penggunaan Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) untuk dunia game, pertunjukan musik virtual, hingga simulasi pelatihan interaktif.
  • Media Baru (New Media Art): Pembuatan karya digital art, instalasi seni interaktif di museum yang menggunakan sensor gerak, hingga arsitektur audio spasial yang memanjakan pendengaran.
  • Pengembangan Produk Modern: Grafis komputer tingkat lanjut, pembuatan narasi interaktif berbasis kecerdasan buatan, hingga pencetakan tiga dimensi dan Internet of Things (IoT).

Salah satu produk teknologi kreatif di era digital Virtual Reality (VR)
Salah satu produk teknologi kreatif di era digital Virtual Reality (VR)

Kerennya lagi, sekarang ada banyak banget tools kreatif terbuka (open-source) yang ramah buat kreator eksperimental. Contohnya seperti Arduino dan Raspberry Pi untuk utak-atik perangkat keras, serta bahasa pemrograman visual seperti Processing, p5.js, dan TouchDesigner

Bahkan lembaga seperti Adobe Creative Technologies Lab berkolaborasi dengan MIT Media Lab berkolaborasi membuat  software yang memungkinkan para seniman, penulis, dan musisi melahirkan karya digital canggih tanpa perlu menyentuh coding berbasis teks sama sekali.

3. Wujud Teknologi Kreatif di Industri


Teknologi kreatif bukan sekadar teori, melainkan strategi nyata yang mengubah cara industri beroperasi. Seperti yang diungkapkan oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar, bidang ini memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi nasional dan membuka lapangan kerja baru.

Makanya gak heran kalau brand lokal mulai adaptif seperti yang dilakukan oleh studio animasi lokal atau jenama kriya digital. Mereka mulai menghadirkan visual imersif di ruang publik seperti Sarinah atau mengaktifkan filter AR buatan kreator lokal untuk industri fashion agar produk mereka bisa bersaing di era digital.

Wujud nyata dari potensi tersebut kini hadir dalam tiga bentuk utama:

1. Pengalaman Imersif di Ruang Publik

Brand kini tidak lagi hanya memasang iklan statis, tetapi menciptakan interaksi yang memikat. Di Indonesia, kita melihat studio animasi lokal dan jenama fashion mulai adaptif dengan menghadirkan visual imersif di ruang publik seperti Sarinah, atau memanfaatkan filter AR untuk memberikan pengalaman baru bagi konsumennya. Ini mengubah audiens dari penonton pasif menjadi partisipan aktif.

2. Efisiensi Bisnis Berbasis Desain

Kreativitas yang berpadu dengan teknologi adalah investasi yang menguntungkan. Laporan McKinsey & Company dalam The Business Value of Design membuktikan bahwa perusahaan yang konsisten memadukan keduanya mampu mencetak pertumbuhan pendapatan hingga 32% lebih tinggi. 

Tren ini sebenarnya telah dirintis sejak lama oleh raksasa global seperti The Walt Disney Company. Melalui divisi Walt Disney Imagineering yang berdiri sejak 1952, mereka membuktikan bahwa "keajaiban" teknologi dapat dikelola secara sistematis untuk menciptakan loyalitas audiens.

3. Kolaborasi Cerdas dengan AI

Di era digital, teknologi kreatif makin canggih berkat kehadiran Artificial Intelligence (AI). AI kini bertransformasi menjadi rekan kolaborasi yang akseleratif; penulis mematangkan ide cerita lewat pemrosesan teks, musisi menggubah melodi otomatis, hingga desainer menciptakan kemasan produk dengan visual dinamis.

Wujud teknologi kreatif di industri adalah transisi dari produk yang hanya "berfungsi" menjadi produk yang "memberikan pengalaman". Dari langkah adaptif brand lokal, data pertumbuhan bisnis skala global, hingga inovasi AI, teknologi kreatif berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan visi artistik dengan logika bisnis. 

Inilah bahasa masa depan yang mengubah perusahaan yang sekadar "bertahan" menjadi pemimpin pasar yang mampu menciptakan pengalaman tak terlupakan bagi konsumennya.

Dampak Teknologi Kreatif Terhadap Industri Ekonomi Kreatif di Indonesia


Ekosistem teknologi kreatif gak hanya booming di luar negeri, tapi juga sudah menjadi pilar penting dalam pertumbuhan ekonomi digital dan ekonomi kreatif di Indonesia. Menurut data proyeksi industri yang dirilis oleh Multimedia Nusantara Polytechnic (MNP) bersama Bakti Komdigi pada pertengahan 2024, ada beberapa sektor industri berbasis teknologi dalam negeri yang perkembangannya sedang melesat tajam:
  • Periklanan (Advertising): Pembuatan iklan digital yang interaktif dan dinamis di ruang publik dengan memanfaatkan teknologi pintar.
  • Layanan Komputer & Perangkat Lunak: Industri pembuatan aplikasi mobile terdepan, pengembangan ekosistem digital, dan arsitektur situs web modern.
  • Hiburan dan Media: Pembuatan efek visual video, musik digital, animasi, pengembangan game lokal, hingga sinematografi digital kelas dunia.
Saat ini teknologi kreatif bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan motor utama yang menggerakkan roda industri modern di Indonesia. Sebetulnya simbiosis antara teknologi dan kreativitas sangat erat.

Kreativitas tanpa sentuhan teknologi akan sulit bersaing di skala global, sedangkan teknologi tanpa ide kreatif hanya akan menjadi alat yang kaku. Hanya talenta lokal yang mampu mengkolaborasikan kedua aspek inilah yang akan memimpin pasar dan membawa industri kreatif Indonesia mampu bersaing di kancah internasional.


Alasan Pekerja Kreatif Wajib Melek Teknologi Kreatif Demi Masa Depan


Disadari atau tidak, dunia kreatif di era digital bergerak sangat cepat melampaui batas-batas konvensional. Artinya, karya kreatif sudah gak kaku lagi, melainkan bisa bergerak, berinteraksi, dan melibatkan panca indra penikmatnya berkat bantuan teknologi.

Jadi, jika kita ingin sukses berkarir di industri ini maka kita perlu mengetahui alasan mengapa pekerja kreatif wajib melek teknologi dan mulai menggabungkannya ke dalam proses berkarya.

Mengapa pekerja kreatif wajib melek teknologi?

Pekerja kreatif wajib melek teknologi karena perkembangan teknologi kreatif telah mengubah total cara kerja tim lewat kolaborasi real-time, menciptakan medium seni baru yang interaktif, serta menggeser standar industri modern untuk lebih fokus pada kenyamanan pengguna atau user experience (UX).

Alasan mengapa pekerja kreatif wajib melek teknologi di era digital
Alasan mengapa pekerja kreatif wajib melek teknologi di era digital

1. Teknologi Berperan dalam Membentuk Masa Depan Industri Kreatif


Jika kita melihat tren perkembangannya yang bergerak super cepat, industri kreatif di masa depan tidak akan jalan di tempat, melainkan terus melahirkan berbagai sub-sektor baru. Di sinilah letak peran strategis teknologi sebagai penentu arah dan standar baru dalam industri. 

Pasar kerja digital bakal makin selektif di mana kebutuhan akan talenta yang memiliki kombinasi maut antara rasa seni yang tinggi (creative thinking) dan keahlian teknis yang solid (technical skills) jelas akan menjadi komoditas yang sangat mahal.

2. Inovasi Digital Mengubah Cara Kreator Saling Berkolaborasi


Sebelum aplikasi buat kerja bareng secara online muncul, para pekerja kreatif sering kali kerja bergantian secara linier di "gua" masing-masing. Penulis mengetik naskah sendirian di Microsoft Word lalu mengirimnya lewat email, sementara desainer grafis memberikan aset visual via hardisk eksternal ke web developer.

Sekarang adalah eranya teknologi kreatif, di mana kreativitas didukung inovasi teknologi sepenuhnya. Desainer grafis, copywriter, dan developer bisa buka satu kanvas desain yang sama secara real-time di Figma. Munculnya aplikasi seperti Trello, Asana, atau Monday.com juga membantu kerja berjamaah dalam satu waktu yang sama mulai dari ilustrator hingga editor video. 

Ketika kita memahami karakteristik teknologi ini, kita akan memiliki kemampuan komunikasi teknis yang baik untuk menghasilkan produk digital yang kuat dari segi fungsionalitas.

3. Melek Teknologi adalah Kunci Menghadirkan UX yang Nyaman


Tuntutan industri modern saat ini sudah bergeser, di mana sebuah karya tidak lagi dinilai dari sekadar keindahannya, melainkan dari seberapa nyamannya karya tersebut saat digunakan oleh manusia atau User Experience (UX). 

Karya yang sukses adalah karya yang mampu berfungsi dengan optimal, menyelesaikan masalah, serta memberikan kemudahan nyata bagi para penggunanya. Zaman sekarang, visual yang estetik tapi lemot dan membingungkan saat diklik, hanya akan ditinggalkan oleh audiens. 

Pemahaman yang komprehensif mengenai teknologi di balik aplikasi akan membantu kita merancang produk yang ramah pengguna.

4. Seni Digital  Tidak Hanya Dilihat, tapi Bisa Diajak Interaksi


Transformasi teknologi dan inovasi digital sudah melewati lorong waktu jauh sejak zaman Baby Boomer masih main permainan petak umpet atau kelereng, hingga Gen Alpha yang saat ini menguasai 24,4% penduduk dunia, yang juga masih main kelereng.

Tapi ini bukan tentang kelereng.

Kelereng mungkin tidak mengalami perubahan, tapi bagaimana cara menikmati karya kreatif, mengalami perubahan yang cukup signifikan.

Nyatanya, teknologi layar sentuh (touchscreen) sudah lahir sejak tahun 1965 lewat eksperimen kaku untuk radar pesawat. Menariknya, meskipun lahir di tengah kaku dan dinginnya laboratorium radar pesawat tahun 60-an, teknologi ini justru menjadi tulang punggung revolusi interaksi kreatif bagi para kreator di era modern sekarang.


teknologi layar sentuh pertama di dunia
Teknologi layar sentuh sudah ada sejak tahun 1965 melalui eksperimen untuk radar pesawat, Sumber : sejarah teknologi touchscreen.


Tapi, film Tron tahun 1982 ketika milenial baru lahir dan Boomer jadi emak-emak dan bapak-bapak, film ini berhasil meramal masa depan dengan sangat jelas dengan memvisualisasikan bagaimana teknologi kaku tersebut bertransformasi menjadi medium kreatif, lewat adegan Kevin Flynn menggunakan layar monitor segede gaban yang bisa disentuh, meski saat itu layarnya masih layar tabung.

Kala itu, karya kreatif di dunia nyata masih konvensional. Informasinya baru disampaikan lewat kertas yang dibaca dan layar yang hanya bisa dilihat. Kalaupun ada inovasi, itu baru sebatas visualisasi film menggunakan efek CGI awal yang grafisnya masih kotak-kotak sederhana.

Lalu Tron: Uprising (2013) melompat lebih jauh lagi dengan menggambarkan dunia yang magical lewat inovasi teknologi layar sentuh transparan hingga hologram interaktif. Wujud fiksi ilmiah ini pelan-pelan mulai diwujudkan secara nyata di era modern sekarang melalui dua teknologi keren.

Pertama, layar sentuh transparan (Transparent Touchscreen) yang saat ini sudah diproduksi massal oleh raksasa teknologi seperti LG dan Samsung. 

Penerapan nyatanya bisa kita temukan di kaca jendela kereta bawah tanah modern (seperti di China) untuk menampilkan peta digital interaktif, dimana sistem ini dapat ditemukan di Beijing Subway (Jalur 6), Shenzhen Metro (Jalur 10), dan jalur light rail di Chongqing.

Berdasarkan laporan dari LG Display Newsroom, inovasi OLED transparan kini telah diwujudkan dalam berbagai bentuk, mulai dari jendela kereta hingga panel kaca interaktif untuk toko.

Berbagai aplikasi teknologi Transparent OLED
Berbagai aplikasi teknologi Transparent OLED dalam industri.Sumber: Sumber: LG Display Newsroom


Kedua, ada teknologi Hologram Interaktif (Interactive Hologram) seperti buatan Looking Glass Factory atau Proto Hologram. Meskipun bukan teknologi hologram yang melayang bebas di udara kosong, teknologi berbasis optik dan sensor yang ditaruh di dalam kotak kaca khusus ini sudah dipakai di beberapa bandara dunia atau pameran medis. Fungsinya adalah menampilkan 'asisten virtual' berwujud hologram manusia tiga dimensi yang bisa mendeteksi gerakan tangan atau merespons pertanyaan kita secara real-time.

Jadi, terasa sudah perubahan teknologi dan inovasi digital ya, terutama bagi generasi milenial yang ketika masih muda hanya memiliki dua pilihan menikmati karya kreatif, yaitu membaca atau melihat karya di atas kertas, dan menonton di layar monitor yang datar.

Sekarang, karya digital bertransformasi menjadi sesuatu yang seolah "hidup" di dunia nyata. Keren sih, tapi efek sampingnya, para kreator gak bisa lagi pakai cara berpikir old school atau jadul. Kita dituntut untuk mulai belajar cara berpikir multidimensi, yaitu gimana caranya bikin karya yang punya ruang, jarak, dan kedalaman.

Mungkin saat ini masyarakat global belum merasakan teknologi hologram atau layar sentuh transparan yang pasarnya masih terbatas. Tapi, kamu pastinya pernah mencoba fitur "Coba Produk" kosmetik di e-commerce, yang merupakan contoh nyata dari teknologi kreatif yang interaktif.


Seorang pengguna mencoba warna lipstik secara virtual menggunakan aplikasi AR (Augmented Reality) di smartphone.
Teknologi Augmented Reality (AR) memungkinkan konsumen mencoba produk secara real-time melalui ponsel, menghapus batasan antara toko fisik dan pengalaman digital. (Visualisasi dikreasikan oleh AI.).


Teknologi kreatif yang disematkan di sosmed atau e-commerce ini memperlihatkan inovasi teknologi yang semakin canggih. Lewat teknologi ini, karya kreatif tidak hanya dilihat dan audiens tidak lagi jadi penonton pasif di balik layar, melainkan ikut mengendalikan langsung pengalaman mereka lewat interaksi fisik.


Langkah Praktis Mengadopsi Teknologi Baru


Lantas bagaimana cara kita mulai mengadopsi teknologi baru? Apalagi kalau semua terasa membingungkan, membuat cemas, dan bikin overthinking, bukan? Take it easy, karena proses adaptasi bisa dilakukan secara bertahap melalui langkah-langkah sederhana yang konsisten, yaitu:


Cara pekerja kreatif mengadopsi teknologi baru
Cara pekerja kreatif mengadopsi teknologi baru



1. Pahami Logika Dasarnya, Bukan Hanya Eksekusinya


Mulailah dengan mempelajari bagaimana sebuah teknologi bekerja. Misalnya, saat menggunakan alat berbasis kecerdasan buatan, pelajari bagaimana cara menyusun instruksi atau prompt yang logis dan terstruktur agar menghasilkan output yang sesuai dengan visi senimu.

2. Eksplorasi Perangkat Lunak Multi-platform


Sempatkan diri untuk mencoba perangkat lunak baru di luar bidang keahlian utamamu. Jika kamu terbiasa menulis teks, cobalah pelajari cara kerja sistem manajemen konten digital. Jika kamu terbiasa dengan desain dua dimensi, mulailah membuka perangkat pembuat efek augmented reality yang kini banyak tersedia secara gratis.

3. Ikuti Komunitas dan Perkembangan Tren


Bergabunglah dengan ruang diskusi atau komunitas yang fokus membahas irisan antara seni, sains, dan teknologi. Bertukar pikiran dengan sesama kreator dari latar belakang berbeda akan mempercepat proses belajarmu dan memberikan sudut pandang baru yang segar dalam memecahkan sebuah tantangan kerja.



Kesimpulan: Langkah Awal Menjadi Bagian dari Ekonomi Kreatif yang Adaptif



Sebagai pekerja kreatif, terlebih anak desain, memahami mengenai apa itu teknologi kreatif dan alasan pekerja kreatif wajib melek teknologi merupakan langkah awal yang sangat bijak untuk mempersiapkan karier jangka panjang.

Mengadopsi teknologi baru itu bukan tentang langsung jadi ahli dalam semalam, melainkan soal konsistensi untuk belajar secara bertahap. Mulai saja dulu dari langkah paling kecil yang bisa kita lakukan hari ini dengan memahami logikanya, berani mencoba hal baru, dan aktif di komunitas.

Di era digital yang bergerak secepat kereta Whoosh, membiarkan diri gagap teknologi sama saja dengan membiarkan karya-karya kita menjadi usang dan terlupakan di masa lalu hingga akhirnya menjadi bukan apa-apa. Lantas mau mengeluh? Oh, tentu tidak, dong! Itulah mengapa kita perlu belajar memahami dan beradaptasi dengan teknologi baru.

Karena, musuh terbesar seorang pekerja kreatif bukanlah AI atau algoritma yang rumit, melainkan rasa malas untuk meng-upgrade isi kepala sendiri. Menolak melek teknologi di zaman sekarang ibarat mau perang tapi cuma bawa bambu runcing di saat lawan sudah pakai drone. Hasilnya? Pasti tumbang sebelum bertempur. 

Dunia tidak akan pernah berjalan mundur ke masa lalu, dan realitas baru yang serba interaktif serta digital ini sudah menjadi standar kehidupan modern. Oleh karena itu, beradaptasi dengan teknologi kreatif bukanlah pilihan, melainkan satu-satunya cara bagi pekerja kreatif untuk bertahan dan berkembang.

Sudah siap mulai belajar? Yuk, share teknologi apa yang sedang kamu pelajari sekarang di kolom komentar!"

Daftar referensi:

  • Nesta. (2017). Nesta's work in the creative economy, arts and culture. https://media.nesta.org.uk/documents/nestas_work_in_the_creative_economy_arts_and_culture-2017.pdf
  • Howkins, J. (2001). The Creative Economy: How People Make Money from Ideas. Penguin Books.
  • Maeda, J. (2024). Design in Tech Report. (Laporan tahunan mengenai sinergi desain dan komputasi).
  • McKinsey & Company. (2018). The Business Value of Design (Laporan disusun oleh B. Sheppard, H. Sarrazin, G. Kouyoumjian, & J. Asfour). https://www.mckinsey.com/capabilities/mckinsey-design/our-insights/the-business-value-of-design
  • LG Display Newsroom. (2023, Mei). LG Display’s Futuristic OLED to Make Science Fiction a Reality. Diakses dari https://news.lgdisplay.com/en/2023/05/lg-displays-futuristic-oled-to-make-science-fiction-a-reality/
  • Touch Hall of Fame. (n.d.). Touchscreen History & Technology Evolution. Diakses dari https://touchhalloffame.us/blog/touchscreen-history-technology-evolution/
  • Multimedia Nusantara Polytechnic (MNP) & Bakti Komdigi. (2024). Laporan Proyeksi Industri Kreatif dan Ekonomi Digital Indonesia.
  • Nesta. (n.d.). What are the Creative Industries? (Definisi dan cakupan teknologi dalam seni dan budaya).
  • SMU Meadows School of the Arts. (2023, 10 Agustus). What is Creative Technology? https://www.smu.edu/meadows/newsandevents/news/2023/what-is-creative-technology
  • Wikipedia. (n.d.). Creative Technology. https://en.wikipedia.org/wiki/Creative_technolog
  • Bakti Kominfo. (n.d.). 5 Sejarah Generasi Komputer yang Sebaiknya Anda Tahu. Diakses dari https://baktikomdigi.id/id/detail-berita/5-sejarah-generasi-komputer-yang-sebaiknya-anda-tahu
  • HowStuffWorks. (n.d.). Computer Evolution. Diakses dari https://translate.google.com/translate?u=https://computer.howstuffworks.com/computer-evolution.htm&hl=id&sl=en&tl=id&client=sge
  • Pendidikan Elektro FT UNESA. (n.d.). Generasi Komputer dari Masa ke Masa. Diakses dari https://pendidikan-elektro.ft.unesa.ac.id/post/generasi-komputer-dari-masa-ke-masa
  • Ruangguru. (n.d.). Yuk, Ingat Kembali Sejarah Perkembangan Komputer. Diakses dari https://www.ruangguru.com/blog/yuk-ingat-kembali-sejarah-kembali-sejarah-perkembangan-komputer
  • Universitas STEKOM. (n.d.). Sejarah Komputer dan Perkembangannya dari Masa ke Masa. Diakses dari https://teknik-informatika-s1.stekom.ac.id/artikel/sejarah-komputer-dan-perkembangannya-dari-masa-ke-masa
  • YouTube. (n.d.). Sejarah Komputer. Diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=_tztMU405nc
  • https://en.wikipedia.org/wiki/PDP-1 (By Alexey Komarov - Own work, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=75337442)
  • https://en.wikipedia.org/wiki/IBM_System/360 (By Ben Franske - DM IBM S360.jpg on en.wiki, CC BY 2.5, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=1189162)
Eka FL
Blogger Gaya Hidup Kreatif - Creative lifestyle blogger
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar