Literasi Keuangan.
Baca sekilas aja udah ngerasa “gagah” sendiri ya dan berasa jadi orang yang up to date dan ngikutin arus tren keuangan. Tapi apakah kita (baca:saya) bener-bener paham apa itu literasi keuangan? Bisa jadi hanya paham sekilas bahkan mungkin gak paham sama sekali.
Dua tahun yang lalu saya baru mengenal istilah ini dan menganggapnya “gak penting” karena saya menyangka, literasi keuangan pasti gak jauh soal ngatur cash-flow, memahami ekonomi dan belajar investasi. Anggapan saya gak salah sepenuhnya tapi juga kurang tepat.
Lebih dari sekadar nge-manage uang, literasi keuangan adalah lampu kuning biar kita lebih hati - hati dan aware dengan isi dompet, tabungan dan masa depan finansial pribadi.
Satu hal yang pasti, saya tertarik mempelajari literasi keuangan karena personal issue, selain ingin mempebaiki perekonomian pribadi dan mempesiapkan masa depan karena gak punya dana pensiun, juga karena pernah terpikat investasi bodong yang bikin saya nyesek luar biasa dan auto mikir, "gak bisa gini nih, gak bener nih, kudu dibenerin nih".
Meski saya lulusan Manajemen Bisnis, istilah literasi keuangan adalah hal yang baru bagi saya. Jadi, sebelum dive in lebih jauh tentang literasi keuangan, ada baiknya kita (baca:saya) mengenal lebih dalam tentang apa itu literasi keuangan dan bagaimana sejarah kemunculannya sehingga munculah istilah literasi keuangan.
Siapa Sih Yang Bikin Istilah Literasi Keuangan Pertama Kali ?
Kalau ditanya siapa yang pertama kali mempopulerkan istilah ini, gak ada satu aktor utama melainkan gabungan beberapa nama dan peristiwa.
Dikutip dari tulisan karya Justine S Hastings, Brigitte C Madrian dan William L Skimmyhorn dalam artikel di situs NLM (National Library of Medicine) bertajuk “Literasi keuangan, pendidikan keuangan, dan hasil ekonomi”, menyatakan bahwa :
Konsep "literasi keuangan" pertama kali digagas oleh Jump$tart Coalition for Personal Financial Literacy dalam studi perdananya pada tahun 1997.
Mereka, (Jump$tart Coalition for Personal Financial Literacy) melakukan riset dengan hasil mencengangkan dimana anak muda di Amerika mulai "buta huruf" soal uang karena ekonomi digital dan kartu kredit mulai menjamur.
Pada akhir 1997, Jump$tart melakukan survei baseline pertama terhadap siswa sekolah menengah (high school seniors) di 65 sekolah menengah umum (high schools) yang tersebar di seluruh negara bagian Amerika Serikat dan melibatkan sekitar 1.532 siswa kelas 12 (high school seniors).
Mereka menemukan hasil riset yang mengkhawatirkan dimana hanya 10,2% siswa yang mampu menjawab setidaknya tiga perempat pertanyaan dengan benar, dengan nilai rata-rata yang tergolong "gagal" (57,3%).
Survei tersebut menunjukkan bahwa siswa sekolah menengah, mereka lulus tanpa keterampilan dasar manajemen keuangan pribadi, seperti menabung, berinvestasi, dan kredit.
Akhirnya, Jump$tart merumuskan definisi dan melakukan survei yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik dan mempromosikan pendidikan keuangan di sekolah dan rumah agar generasi muda tidak terjebak dalam utang dan perilaku keuangan yang buruk.
![]() |
| Jump$tart Coalition for Personal Financial Literacy |
![]() |
| Jump$tart Coalition for Personal Financial Literacy mencanangkan hari literasi finansial di bulan April |
Jump$tart Coalition, Meneruskan Semangat Literasi Keuangan Masa Lalu
Jauh sebelum Jump$tart Coalition bikin heboh di tahun 90-an, benih-benih "melek finansial" ini sebenarnya sudah ditanam sejak ratusan tahun lalu di Amerika Serikat.
Sebut saja Benjamin Franklin pada tahun 1737. Lewat almanaknya, salah satu bapak pendiri Amerika ini sudah sibuk membagikan "Kiat Bagi Mereka yang Ingin Kaya".
Salah satu nasihatnya yang legendaris meski sering salah dikutip orang zaman sekarang, "Satu sen yang ditabung berarti dua sen bersih." Sejak abad ke-18, Franklin sudah sadar kalau urusan duit itu bukan cuma soal seberapa banyak yang masuk, tapi seberapa pintar kita menahan diri agar tidak “jajan”.
Lalu di tahun 1849, James Gilbart, seorang manajer bank di London yang "nyambi" jadi penulis keuangan pribadi, merilis artikel berjudul "Saran Sepuluh Menit tentang Menjaga Hubungan dengan Bankir".
Gilbart adalah pionir yang percaya kalau bank itu bukan cuma buat orang kaya. Ia mendidik masyarakat yang saat itu masih "takut" berurusan dengan bank, persis seperti kita sekarang yang mungkin masih sering ragu atau bingung mau mulai investasi di mana.
Namun, meski nasehat Franklin dan Gilbart itu keren, semuanya masih bersifat personal dan tercerai-berai. Barulah ketika dunia semakin rumit, kebutuhan akan standar nasional menjadi harga mati.
Di sinilah Jump$tart Coalition masuk ke panggung sejarah. Organisasi nirlaba yang berdiri sejak 1993 ini sadar bahwa kita tidak bisa lagi cuma mengandalkan pepatah "Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit" yang diajarkan nenek kita di ruang tamu. Sebab, tantangan zaman sudah berubah.
Literasi Keuangan di Era Milenial
Di awal tahun 2000-an, muncul duet maut wanita hebat, Annamaria Lusardi dan Olivia Mitchell yang nggak cuma sekadar ikut-ikutan pakai istilah itu, tapi mereka melakukan riset murni untuk membuktikan kalau 'buta huruf finansial' itu adalah masalah sains, bukan cuma masalah malas menabung.
Dikutip dari Wikipedia, Annamaria Lusardi adalah ekonom kelahiran Italia dan sarjana terkemuka Denit Trust serta Profesor Ekonomi dan Akuntansi di Sekolah Bisnis Universitas Stanford yang pada tahun 2011 mendirikan dan menjabat sebagai Direktur Akademik Pusat Keunggulan Literasi Keuangan Global.
Satu hal unik dari Annamaria Lusardi adalah, meskipun beliau memiliki berlatar belakang pendidikan ekonomi, Lusardi memandang ekonomi sebagai disiplin ilmu dasar yang mendasari keuangan pribadi, dan bagaiman keuangan pribadi diterapkan sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi yang berfokus pada pengambilan keputusan individu dan kesejahteraan finansial.
Sementara Olivia S. Mitchell (1953) adalah seorang ekonom Amerika dan Profesor Yayasan Internasional untuk Rencana Manfaat Karyawan di Sekolah Wharton Universitas Pennsylvania dan direktur eksekutif Dewan Penelitian Pensiun, pusat tertua di AS yang didedikasikan untuk beasiswa dan penelitian yang relevan dengan kebijakan tentang keamanan pensiun .
Latar belakang keduanya memang luar biasa ya, jadi gak heran jika Annamaria Lusardi dan Olivia Mitchell terinspirasi dari betapa ribetnya sistem keuangan modern, lalu menciptakan standar pertanyaan yang sampai sekarang dipakai OJK buat ngetes kita semua.
Riset mereka yang diterbitkan pada tahun 2011 dan 2014, menciptakan tiga pertanyaan standar yang kini digunakan secara global untuk mengukur literasi keuangan, yang dikenal sebagai "The Big Three". Pertanyaan ini menguji pemahaman tentang :
- Bunga Majemuk (Compound Interest)
- Inflasi (Inflation)
- Diversifikasi Risiko (Risk Diversification)
Hampir semua survei literasi keuangan nasional di berbagai negara (termasuk yang diadaptasi oleh lembaga seperti OJK di Indonesia) berakar dari metodologi yang mereka kembangkan.
Lalu, riset mereka yang berjudul "The Economic Importance of Financial Literacy: Theory and Evidence" (2014) menjadi salah satu dokumen yang paling banyak dikutip (highly cited) di dunia ekonomi. Makalah mereka menjelaskan secara empiris bahwa literasi keuangan berhubungan langsung dengan kesejahteraan masa tua.
Jadi, Jump$tart yang kasih nama, tapi Annamaria Lusardi & Olivia Mitchell-lah "Ibunya" Literasi Keuangan yang bikin istilah ini punya taring di mata dunia.
Annamaria Lusardi dan Olivia Mitchell dianggap sebagai pionir riset literasi keuangan modern. Mereka yang bikin standar pertanyaan (seperti soal inflasi dan bunga majemuk) untuk mengukur seberapa pintar penduduk sebuah negara soal uang. Berkat riset mereka, dunia sadar kalau "nggak tahu cara ngatur uang" itu adalah krisis global.
Terakhir, Lembaga internasional OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) adalah yang membuat literasi keuangan jadi "kurikulum" wajib bagi negara-negara di dunia. Sejak tahun 2012, mereka bahkan memasukkan literasi keuangan ke dalam tes PISA (tes yang biasanya buat ngukur kepintaran matematika dan membaca anak sekolah).
Ehmm, perjalanan panjang ya bagi si istilah “literasi keuangan” lahir yang ternyata berawal dari kegelisahan rendahnya pengetahuan keuangan dari para siswa di Amerika.
Jadi, Definisi Literasi Keuangan Itu Apa Sih?
Membaca sejarah panjang awal munculnya istilah literasi keuangan memang menarik, tapi yakin deh kita masih bingung, apa sih definisi literasi keuangan sesungguhnya?
Buat yang kuliah jurusan manajemen keuangan, perbankan, akuntansi atau manajemen bisnis, pasti nggak asing dengan istilah ini. Tapi bagi yang sekolah atau kuliahnya jurusan IPA seperti Kimia, Biologi atau mungkin Sejarah, apalagi seni & desain, pasti agak asing bahkan gak ngerti dengan begitu banyaknya istilah finansial, termasuk literasi keuangan.
Jadi, literasi keuangan itu apa sih? Kenapa menggunakan kata “Literasi” alih-alih kata “Manajemen”?
Dari aspek bahasa, kenapa harus menggunakan kata “literasi” alih-alih manajemen? Karena, dari definisi kata “literasi” saja sudah menjelaskan semuanya.
Menurut Dispusipda, Literasi adalah kemampuan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah, serta menggunakan potensi tersebut untuk mengolah informasi dan berpikir kritis.
Selain Itu, berdasarkan hasil riset-nya Jump$tart di atas, menjelaskan bahwa mayoritas siswa nggak tahu cara kerja kartu kredit dan mereka nggak paham kalau bunga bank itu bisa bikin utang jadi 'beranak pinak' lebih cepat daripada pertumbuhan tikus got. Ironisnya, mereka adalah siswa yang rajin belajar dan melek secara akademis, tapi lumpuh secara finansial. Itulah kenapa muncul istilah Financial Illiteracy (Buta Huruf Keuangan) sebagai 'diagnosa' atas kondisi darurat tersebut.
Jadi, inilah alasan mengapa menggunakan kata literasi lebih tepat digunakan dibanding manajemen karena mengelola keuangan di era digital bukan sekadar aktivitas administratif mencatat angka, melainkan proses pengolahan informasi yang kompleks.
Sederhananya manajemen itu soal "Cara Mengatur", sedangkan Literasi itu soal "Cara Memahami".
To be honest, ngerasa gak sih kalau dunia keuangan sekarang tuh udah kayak hutan belantara digital yang penuh jebakan Batman? Dulu, orang tua kita selalu ngasih nasihat keuangan yang sederhana, "Hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai." atau soal menabung dengan ngasih pepatah, "Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit." sesederhana itu.
Tapi sekarang? Kita hidup di era dimana iman finansial kita digoda 24 jam nonstop oleh teknologi. Sebut saja, Paylater yang bunganya diam-diam menghanyutkan, Crypto dan NFT yang naik-turunnya lebih ekstrim dari mood swing saat PMS, hingga Pinjol yang iklannya lebih rajin muncul daripada notifikasi dari "si dia".
Dalam kondisi yang penuh distraksi ini, kalau kita cuma tahu cara "mengatur" saldo tapi "buta" dalam membaca efek samping dari kemudahan digital tersebut, maka hasil kerja keras kita hanya akan berakhir menjadi "terima-kasih", diterima, lalu habis dikasih-kasih ke pihak lain.
Literasi Keuangan Adalah
Maka, tidak heran jika Annamaria Lusardi & Olivia Mitchell mendefinisikan literasi keuangan sebagai, pengetahuan tentang konsep ekonomi dan keuangan dasar, serta kemampuan untuk menggunakan pengetahuan tersebut dan membuat rencana keuangan jangka panjang.
Begitu juga dengan OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) yang mendefinisikannya sebagai kombinasi dari kesadaran, pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku yang diperlukan untuk membuat keputusan keuangan yang tepat dan akhirnya mencapai kesejahteraan keuangan individu.
Lebih simple lagi, literasi keuangan tuh ibarat lampu kuning, yang ngasih kita peringatan, “ Ini jangan dibeli, ayok nabung, boleh deh beli ini karena yang itu rusak, sisain dong penghasilan buat investasi dan asuransi”.
Dalam hal ini, Digangi, Christine. "What Is Financial Literacy?" di situs thebalancemoney yang memberikan contoh jika seseorang punya tingkat literasi yang lebih baik lagi, ia akan aware dengan beberapa formula penganggaran, seperti aturan 80/20, di mana 80% dari pendapatan untuk dibelanjakan dan 20% untuk disimpan dalam bentuk tabungan berjangka atau diinvestasikan di instrumen pasar modal, seperti saham.
Keduanya merupakan pilihan yang melek finansial dan dapat dipilih, tergantung tujuan keuangan seseorang, pemahaman terkait produk-produk keuangan dan toleransi risiko.
Kesimpulan
Perjalanan sejarah literasi keuangan dari tahun 1700-an hingga riset modern "The Big Three" menyadarkan kita satu hal, bahwa mengelola uang di era digital udah gak bisa lagi hanya mengandalkan insting atau pepatah lama. Dunia sudah berubah menjadi hutan belantara digital yang penuh godaan.
Memahami definisi literasi keuangan adalah langkah awal bagi kita untuk menyalakan "lampu kuning" di kepala. Kita belajar bahwa menjadi melek secara akademis ternyata tidak otomatis membuat kita melek secara finansial.
Kita butuh kemampuan untuk memahami, bukan sekadar mengatur keuangan. Kita butuh literasi agar tidak terjebak dalam krisis "buta huruf" keuangan yang bisa membuat kerja keras kita menguap begitu saja.
Namun, memahami definisi dan sejarah hanyalah sebuah garis start. Pertanyaan besarnya adalah, “Kenapa literasi keuangan ini mendadak jadi sangat krusial, bahkan bersifat "darurat" bagi kita, para Gen Z dan Milenial?”
Apakah benar tantangan yang kita hadapi cuma soal "jajan kopi" yang kebanyakan? Atau ada jebakan sistemis yang lebih besar seperti fenomena Sandwich Generation dan Doom Spending yang mengintai kita di balik layar smartphone?
Simak pembahasan lengkapnya di Part 2: Sepenting Apa Sih Literasi Keuangan bagi Gen Z dan Milenial? dan akan lanjut di part 3 : Tantangan Finansial Milenial & Gen Z di Era Digital. Sampai jumpa di bagian selanjutnya!
Daftar Referensi :
- Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2024, 22 Januari). Siaran Pers: Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan. OJK.go.id. https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/ (Sumber data pendukung pentingnya literasi keuangan di Indonesia).
- Prawira, A. (2025, 10 Januari). Problem Finansial yang Dihadapi Milenial di Era 2025. Visiku. https://visiku.co.id/news/post/Problem-Finansial-yang-Dihadapi-Milenial-di-Era-2025
- Putri, A. S. (2024, 12 Agustus). Jaminan Sosial untuk Memutus Rantai Generasi Sandwich. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/jaminan-sosial-untuk-memutus-rantai-generasi-sandwich
- OppLoans. (2023, 22 September). The History of Financial Literacy. OppU. https://www.opploans.com/oppu/financial-literacy/history-of-financial-literacy/
- Lusardi, A., & Mitchell, O. S. (2014, 01 Maret). The Economic Importance of Financial Literacy: Theory and Evidence. Journal of Economic Literature. https://www.aeaweb.org/articles?id=10.1257/jel.52.1.5
- Lusardi, A., & Mitchell, O. S. (2011, 01 Juni). Financial Literacy around the World: An Overview. NBER Working Papers. https://www.nber.org/system/files/working_papers/w17107/w17107.pdf
- Hastings, J. S., Madrian, B. C., & Skimmyhorn, W. L. (2013, 01 Juni). Financial Literacy, Financial Education, and Economic Outcomes. PMC (NCBI). https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3753821/
- Jump$tart Coalition. (2024, 01 Januari). About the Jump$tart Coalition for Personal Financial Literacy. Jump$tart.org. https://www.jumpstart.org/
- GFLEC. (2014, 01 Desember). The Economic Importance of Financial Literacy: Theory and Evidence (Working Paper). GFLEC.org. https://gflec.org/wp-content/uploads/2014/12/economic-importance-financial-literacy-theory-evidence.pdf
- Lusardi, A. (2024, 01 Februari). Research & Publications. AnnamariaLusardi.com. https://annamarialusardi.com/research/publications/
- Stanford University. (2024, 01 Maret). Annamaria Lusardi: Senior Fellow at SIEPR. Stanford Institute for Economic Policy Research. https://siepr.stanford.edu/annamaria-lusardi-senior-fellow
- Wikipedia. (2024, 10 Maret). Annamaria Lusardi. Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Annamaria_Lusardi
- Wikipedia. (2024, 12 Maret). Olivia S. Mitchell. Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Olivia_S._Mitchell
- Wikipedia Indonesia. (2024, 15 Maret). Literasi Keuangan. Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Literasi_keuangan










Posting Komentar
Posting Komentar