Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan

Begin With The end, Terobosan membuat resolusi yang unik. Seunik apa sih? seunik aku yang sebelumnya gak pernah bikin resolusi? eh ini keunikan bukan sih? atau males? hahaha.

Evaluasi Tahun 2020


Walau saya termasuk yang males bikin resolusi karena seringnya gagal mulu, tahun ini saya bikin lho resolusi. Tapi telat, bukan di akhir tahun 2019 melainkan di pertengahan bulan Februari. Kenapa kok telat? Karena waktu itu emang gak ada target sih dan gak ada hal yang ingin dicapai juga. Semua saya biarin ngalir aja. Tapi setelah mulai ngeblog lagi dengan semangat berapi-api, mulai tuh bikin plan pengen ini dan itu lalu bikin beberapa poin yang ingin dicapai. 
Saya pernah baca tuh berapa persenkah keberhasilan suatu resolusi yang telah direncanakan? katanya sekitar 80%. Saya lupa nama bukunya apa, tapi itu lah intinya. jadi kalau kita bikin 10 perencanaan, maka 8 perencanaan biasanya akan terealisasi. Benarkah? Coba kita cek.
Tahun ini saya bikin target menulis sederhana, seperti ini :
  1. DA Blog naik
  2. Menghasilkan karya menulis ( cerpen/novel/buku)
  3. Adsense Blog Approve
Sedikit amat ya targetnya, masa cuman tiga? wkwkwk. ya karena memang saat itu gak banyak keinginan sih, karena fokusnya ke menulis. Tapi kok ada keinginan DA naik? berarti kan berharap dapet job blog juga, yeee kaaann?? hahahaha
Lalu, berapa persen sih dari semua target ini tercapai? alhamdulillah 100%. Ini diluar ekspektasi sih sebetulnya. ngebayangin bisa menghasilkan satu karya buku antologi aja tuh kayanya pekerjaan langit banget. Gak mungkin! secara gitu skill menulis ya segitu - gitu aja. Tapi ternyata semua jalan di mudahkan, eh gak mudah juga sih…. tapi diarahkan olehNya melalui serangkaian peristiwa seperti efek domino.
Maksudnya? 
Jadi, sejak akhir tahun 2019 tuh saya gencar ikutan lomba bikin puisi, cerpen dan giveaway- giveaway yang hadiahnya aduhai bikin ngiler. Tapi sayangnya, setiap periode pengumuman tiba hatiku selalu di bikin patah hati. Apalagi acara giveaway - giveaway tuh, pengen nyoba tapi udah tau hasilnya bakalan kalah tapi tetep aja dicoba karena penasaran dan akhirnya, yah kalah terooosss. Ya sudahlah walau hati patah kaya hati para jomblo yang langganan di tolak cintanya, halaaah .. saya tetap jalan terus. Ikutan lomba menulis puisi, cerpen dan ikutan giveaway. Saya bahkan tambah ini ajang ngikutin lombanya, lomba menulis artikel di blog. Yihaaa!! keren kan? udah mirip pemburu lomba, hihihi
Tapi sedihnya sampai di pertengahan tahun 2020, kemenangan tak juga datang padaku. Sampai - sampai masa hiatus dan down menulis berulang hingga 2 kali selama periode itu. Dibilang berat sih gak berat - berat amat, tapi kalah terus selama 7 bulan itu ngenes wahai fernando! kebayang kan berapa hari begadang, ngeluarin duit buat kuota belum termasuk cemilan. Gak sedikit fernando! jadi ya nyesek sih dan feeling down lalu hiatus seminggu sampai sebulan. Tapi emang dasarnya hobi dan suka ya, mau hiatus juga balik lagi, wkwkwk
Bucat bisul! alias pecah bisul! akhirnya lomba menulis artikel bersama Tempo Institute jadi kemenangan perdana saya. Setelah itu disusul lomba menulis guest post di blognya Creameno dan kemudian tulisan saya dibukukan bersama para kontestan yang lain dan voila! menjadi buku antologi pertama saya. 
Tawaran menulis content replacement juga perlahan tapi pasti mulai berdatangan. Hal ini seiring dengan bergabungnya saya dengan komunitas support blogger dan influencer yaitu Indonesian Content Creator. Gak mudah lho jadi influencer anak bawang, yang awalnya follower cuman 500 sampai sekarang bisa nyampe 2400 itu perjuangan marisol! thanks to ICC ya, link job dan support bermunculan. Walau, karena hal ini saya sampai bertengkar dengan pasangan, ups! karena saya kesulitan mengatur waktu antara tugas rumah dan ngeblog. Walau akhirnya alhamdulillah banget bisa terselesaikan dengan manis dan komunikasi saya dengan pasangan malah lebih hot, eh…. lebih romantis, hihihi 
Hasil kerja keras, kurang tidur sampai jadi bertengkar dengan pasangan rupanya membuahkan hasil di kuartal 3 dan empat tahun ini. Selain content replacement, job influencer, tawaran membuat ilustrasi juga mulai bermunculan seiring dengan menangnya saya ikutan giveaway Wacom x Aprilia. Ini juga di luar dugaan banget. Sampai saya gak percaya bisa mendapatkan hadiah wacom yang kalo beli kan mikir dua kali. Mending buat keperluan anak dulu dibanding beli wacom, hehehe. 
Satu lagi bonus untuk saya di penghujung tahun, yaitu tawaran membuat antologi parenting yang diadakan komunitas 1 minggu 1 cerita. Ini udah surga banget deh pokoknya. Alhamdulillah. 
Sambil terus memperbaiki tulisan dan template, saya mengajukan kembali adsense setelah sebelumnya berkali - kali ditolak. Alhamdulillah di awal bulan Desember ini adsense saya di approve. Seneng banget rasanya. 
Lalu dimana letak efek dominonya kak? 
Ada di : usaha - gagal - usaha lagi - gabung komunitas - usaha lagi - gagal lagi - hiatus - usaha lagi - gagal lagi - mau nyerah - berhasil.
Itu proses efek dominonya. 
Jadi di setengah tahun pertama ini adalah waktu bagi saya merintis usaha dan secara tidak langsung melakukan segala upaya dalam mewujudkan target saya itu. Setengah tahun pertama saya banyak nangis, beneran lho! ini karena sedih kalah mulu dan banyak sakit juga karena sering begadang. Teman - teman bisa baca perjalanan saya soal ini di beberapa artikel dengan label menulis, curhat emak dan self love. 
Di setengah tahun terakhir adalah waktu bagi saya mendulang perunggu. Padahal saya termasuk anak bawang dalam dunia blogging. Ilmu blogging saya masih harus banyak di upgrade juga soal kualitas menulis. Tapi alhamdulillah semua prosesnya diarahkanNYA sejak akhir tahun 2019 sampai saat ini. Soal gagal dan kalah akhirnya saya yakini sebagai proses milestone. Masa iya mau menang tapi kalah dulu dan belajar. iya kan? 
Lalu bagaimana dengan resolusi tahun 2021? nah ini yang unik. Kalau tahun ini saya mulai dengan target menulis yang cuman tiga poin, maka tahun 2021 akan saya mulai dengan visi. 
Lho kok visi? iya visi mau jadi apa saya di akhir tahun 2021. Ini nih yang menurut saya cara unik membuat resolusi. mengapa? karena tujuannya jelas sehingga langkah realisasinya lebih terarah dan terukur.
Sebelum saya lanjut dengan resolusi 2021, ada baiknya kita telaah dulu yuk sebetulnya apa sih definisi, manfaat dan tujuan membuat resolusi.

Definisi Resolusi

Sebetulnya apa sih definisi dan arti dari resolusi? apakah ini resolusi pada gambar atau foto? atau apa sih?
Menurut KBBI, Resolusi ( resolusi/re·so·lu·si/ /résolusi/ n ) adalah sebuat putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); berupa pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal.
ekarang ini menurut Edy Nugraha, seorang pengajar Bahasa Indonesia di salah satu sekolah di Jakarta menyebutkan bahwa kata resolusi mengalami perluasan makna menjadi harapan yang sungguh-sungguh dari pribadi seseorang.

Pentingnya Membuat Resolusi Pribadi

Saya pribadi menjabarkan definisi dari kata resolusi diatas adalah sebuah putusan lalu di tulis dan ditetapkan sebagai hasil kesepakatan. Hal yang disepakati oleh diri sendiri bisa berupa tujuan atau goal dan komitmen. Hal ini berkaitan dengan target dan keinginan yang dicapai secara pribadi. 
Lantas apa sih manfaat resolusi? berikut beberapa manfaat dari membuat resolusi pribadi terlebih lagi di penghujung tahun menyambut tahun baru.
Membantu seseorang dalam menentukan arah dan tujuan, keinginan yang dicapai dalam hidupnya. Namun demikian, resolusi bukanlah alat ukur kesuksesan seseorang dalam meraih apa yang ingin dicapai dalam hidup. 
Dengan membuat resolusi maka kita dapat membuat dan menentukan langkah usaha yang harus dicapai dalam mewujudkan tujuan
Dengan membuat resolusi kita dapat merasakan hidup yang lebih semangat

Resolusi 2021 : Begin With The End 

Di suatu hari yang cerah, saya menemani anak-anak saya main di teras rumah. Mereka main tanah sementara saya cek dan update sosial media. Hadeuuhh ni kebiasaan yang perlahan harus dikurangi ya. Kalo lagi sama anak harusnya ya sama anak dan bukannya scroll sosmed. Maafkan, resolusi tahun depan deh saya tambahin, yaitu kalo lagi sama anak stop pegang hp!! 
Btw, lalu saya cek cek Instagram, Facebook lalu Twitter. Nah di twitterland ini nih biasanya saya menemukan hal yang unik, lucu sekaligus menginspirasi. Dunia twitterland memang platform sosmed yang beda sih menurut saya. Bacot Show via jari jemari, dimana orang bebas Ingin berkata apa saja termasuk deep thought nya.
Lalu saya ketemu tweet salah satu teman saya yaitu kak Prima, tiba - tiba dia bilang : 
Now its the best time to decide how you would like to become at the end of 2021
Wah menarik nih, saya bertanya - tanya kenapa harus dengan pertanyaan Menjadi Apa Kita di Akhir Tahun 2021? Hmm, pertanyaan yang aneh gak sih ? Buat saya sih aneh. Apalagi seperti yang saya bilang sebelumnya kalau saya termasuk jarang banget bikin resolusi, karena selalu gagal dan ya yang terwujud hanya 10% nya aja. Maka dari itu saya gak pernah bikin resolusi dan mengalir aja. 
Tetapi, Twitter kak Prima sekali lagi memberikan saya cara pandang baru . Karena biasanya kita bikin resolusi itu kan poin - poin yang ingin dicapai seperti yang saya buat untuk tahun 2020 dan bukannya ingin menjadi apa, ini unik sih menurut saya. 
Saya rasa dengan membuat resolusi dengan visi ingin menjadi apa di akhir tahun 2021 ini lebih realistis dan lebih humanis. Saya langsung kebayang step yang akan ditempuh demi si ingin menjadi apa di akhir tahun ini tercapai. Jadi target dan langkahnya jelas serta terarah.
Saya jadi ingat buku nya Stephen R. Covey, The 7 Habits of Highly Effective People yang memasukan poin "begin with the end in mind' sebagai salah satu good habit. Belum pernah baca sih hanya baca review. Tapi sepertinya berkorelasi nih dengan konsep menyusun resolusi ala kak Prima.
Menurut kak Prima, kenapa kita harus begin with the end in mind ini supaya di akhir tahun kita bisa melihat melihat sejauh mana target tahunan kita terealisasi. 
Kebayang gak sih?
Biasanya kan kalau kita membuat resolusi, yang kita tulis adalah pencapaian yang ingin kita kerjar. misal sebagai blogger nih :
  • Job blog mengalir bak air terjun
  • PV meningkat tajam
  • DA naik drastis
  • dan lain - lain
Atau yang umum seperti :
  1. Ingin lebih rajin Shaum
  2. Ingin lebih sering sedekah
  3. Ingin lebih rajin membaca Al-Qur’an
  4. ingin lebih banyak minum air putih
  5. ingin lebih banyak olahraga
  6. ingin lebih banyak bersyukur
  7. ingin lebih rajin membaca
  8. ingin lebih sering menabung
  9. beli gadget terbaru
  10. dan lain - lain
Nah sekarang, mindsetnya di ubah menjadi :
  1. Mom Blogger yang sukses
  2. Ibu yang lebih beriman, sehat dan bijak
  3. Blogger sukses

Nah, kata sukses dan bijak di sini kan masih umum tapi targetnya sudah jelas, kita ingin menjadi blogger yang sukses. Maka, tahapan untuk mencapai tujuan utama di akhir tahun ini akan terlihat dan bisa di breakdown. 
Sudah kebayang?
masih belum? hehehe, tenang saya beri contoh ya. Misal, 
Mau menjadi apa kita di akhir tahun 2021     : Mom Blogger yang sukses 

Tolak Ukur Kesuksesan                                    : 

  1. Personal Brand Kuat
  2. Traffic naik atau bertahan secara signifikan
  3. Komentar organik
  4. angka rangking blog naik secara signifikan 
  5. Blog makin menghasilan ( baik karya maupun rupiah )

Step realisasi                                             :

1. Personal Brand kuat
Tahapan Realisasi : 
  1. Tetapkan dan konsisten niche
  2. Buat artikel organik sesuai niche minimal 1 minggu sekali
  3. Share link artikel di semua link sosmed dan komunitas
  4. dan lain - lain … sebutin aja yang kepikiran apa
Dan seterusnya. Udah kebayang kan? 
Lantas bagaimana evaluasinya nanti? Mudah, setiap step bisa kita bikin track recordnya di jurnal atau bikin deh di excell agar mudah ceklisnya. lalu lihat setiap langkah sudah dilaksanakan atau belum? perkembangannya gimana, apakah si langkah sudah terealisasi atau belum. kalau 80% sudah terealisasi, maka menurut saya maka kita sudah menjadi seperti apa yang kita inginkan. Jika Belum? Maka resolusi ini masih bisa dipakai untuk tahun berikutnya dan berikutnya lagi.
Lalu bagaimana dengan saya sendiri? Udah bikin dong. Keinginan saya hanya satu sih di penghujung tahun 2021, Mom Blogger ilustrator yang sukses dalam karir dan rumah tangga tanpa mengabaikan aspek agama. Tahun 2021 saya ingin mendulang perak dan emas, hehe. Berat gak sih? berat ya? hahahaha. Kita coba aja dulu, jalani dengan hati riang tanpa beban. Kalau stepnya sudah di tulis lalu dijalani, yah hasilnya kita serahkan sama yang MAHA MENGATUR. kalau masih belum yah namanya juga proses ya… kalau dijalani ntar juga keliatan hasilnya. 
Tapi yang jelas sih, tahun 2021 saya ingin lebih rapih dalam mengarsip semua kegiatan blogging. Baik itu kulwap, seminar, webinar, lomba, job dan report GA, GSC, adsense setiap bulan. Juga lebih getol belajar tekhnik menulis dan SEO walau sudah tergabung dalam beberapa komunitas serupa. Biar di akhir tahun saya bisa mengehela nafas sambil berkata, " i'm proud of me" apapun hasilnya. Karena passion yang dijalani dengan senang tanpa beban apalagi menghasilkan, tentu jadi kebanggaan tersendiri bukan. 
Tetapi ada hal yang harus diingat, sedetail dan segiat apapun usaha kita membuat resolusi perencanaan tetap harus pasrah dengan keputusan Tuhan, karena yang menentukan terwujud atau tidaknya Tuhan yang menentukan. Yang bisa kita lakukan hanya berusaha dan tawakal. 


Semoga tips dari saya bermanfaat ya. 
Happy New Years 2021, happy life.

artikel ini diikutsertakan minggu tema komunitas Indonesian Content Creator 





Pernah kah anda mendengar istilah, " seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak" ? pasti pernah ya. Lantas apa sih maksud sebenarnya?

Sebagaimana kita tahu bersama bahwa, peran seorang ibu dalam mendidik anak bukanlah peran yang kecil melainkan peran besar dimana seorang ibu memiliki andil besar dalam membentuk masyarakat yang berakhlak baik dan tangguh yang semua itu di mulai dari keluarga kecilnya. Nah, disinilah letak peran besar seorang ibu sebagai madrasah pertama berada.

Tetapi, benarkah "beban" mendidik anak ini hanya ada di pundak seorang ibu saja? bagaimana dengan fungsi seorang ayah dalam mendidik anak dan keluarga? 

Ingin tau jawabannya? 

Untuk mengetahui jawaban selanjutnya, yuk ikutan Virtual Class Mubadalah yang di selenggarakan oleh Komunitas Indonesian Content Creator bersama Mubadalah.id terkait Kursus Online Intensif dan Bimbingan Penulisan. 

Lho kok judulnya tentang penulisan? eit sabar dulu. Judul memang tentang penulisan, tetapi materi yang akan disampaikan sangat erat kaitannya dengan Urgensi relasi kesalingan dalam keadilan gender islam dalam sebuah keluarga. 

Bukan hanya itu, ada segudang materi lainnya yang sangat sayang untuk dilewatkan. Bukan hanya untuk para ibu, tetapi juga para ayah, calon ibu dan calon ayah atau mereka yang sangat ingin mengetahui lebih dalam mengenai prinsip dasar Mubadalah.

Kapan Sih Pelaksanaannya?









"Mubadalah Virtual Class; Kursus Online Intensif dan Bimbingan Penulisan"


Materi:

1. Urgensi relasi kesalingan dalam keadilan gender islam
2. Relasi keadilan gender dalam keluarga dan bersosial terkait islam yang rahmatan lil'alamin
3. Metodologi penafsiran ayat al-Qur'an dan hadist dalam perspektif kesalingan
4. Contoh-contoh tafsir kesalingan untuk isu keluarga dan bermasyarakat
5. Bimbingan penulisan populer isu-isu gender dalam perspektif kesalingan untuk media online



Narasumber:

1. Dr. Faqihudin Abdul Kodir, Lc. MA (Penulis Buku Qiro'ah Mubadalah)
2. Fathonah K. Daud, Lc. M. Phil (Penulis Buku Tafsir Ayat-Ayat Hukum Keluarga)
3. Zahra Amin (Redaksi Mubadalah.id)

Pelaksanaan:

1. Registrasi: 15 Agustus - 16 September 2020
2. Waktu Pembelajaran: 23 - 30 September 2020 (Senin, Kamis, dan Minggu) pukul 19.30-21.30 WIB via Zoom/Google Meet

Biaya Registrasi: Idr 300K

Form Registrasi : https://forms.gle/MoUxFEjmhAdxMe7LA


Fasilitas:

1. Materi
2. E-Sertifikat
3. Buku Qiro'ah Mubadalah
4. Kitab Nabiyurrahmah
5. Kitab Sittina 'Adliyah
6. Gratis biaya pengiriman ke seluruh Indonesia

Beasiswa penulisan 

Syarat dan Ketentuan:

1. Mengisi form pendaftaran


2. Mengikuti sosial media penyelenggara
3. Mengirim link tulisan terbaik yang pernah dimuat di media online
4. Membagikan e-flyer ini ke 5 grup whatsapp dan sosial media lainnya
5. Mengirim bukti screenshot follow, share, dan posting ke narahubung
6. 10 pendaftar terpilih akan menjadi kontributor Mubadalah.id dan menandatangani kontrak menulis sebanyak minimal 3 tulisan

Narahubung:

Eka Fitriani Larasati : 0857 9420 9094


Nah, gimana? seru kan ya? ada beasiswa pula. Jadi, tunggu apalagi, ayo segera daftarkan diri anda dan jangan lupa ajak teman  - teman yang lain ya.



Pernah gak sih kamu ngalamin Bad day yang super bad sampai efeknya kaya beresonansi sampai berhari-hari??? udah gitu, si bad day gak cuman terjadi sekali, tapi dua kali, tiga kali bahkan empat kali berturut turut? saya pernah. 

Minggu lalu adalah minggu ter-hot sejak awal tahun ini sampai sekarang. Banyak banget peristiwa yang terjadi di minggu itu, bener-bener kaya roller coaster rasanya. 

Allah itu romantis kadang juga galak dan keras terhadap saya Lewat empat rangkaian peritiwa yang bisa dibilang naas, sepertinya itu adalah cara Allah SWT berkomunikasi dengan kita, eh saya maksudnya.


Selasa, 21 Juli 2020



Kalah Lomba Literasi

Menanti kabar itu terkadang tidak enak, membuat hati gelisah dan merana. Seperti menunggu jawaban dari si dia ( eeaaa ) , begitu juga perasaan saya.

Memang apa sih yang saya tunggu?

Jadi, saya lagi nunggu pengumuman pemenang dari empat lomba literasi yang saya ikuti. Rasanya deg-deg-an dan terus bertanya - tanya dalam hati, " lolos gak ya " seraya berharap lolos.

Tapi ternyata, saya tidak lolos dalam dua lomba literasi yang saya ikuti sejak bulan Mei lalu yaitu cerpen dan puisi. Ah mencelos hati saya, tapi tak apa. Masih ada dua lomba lagi. Semoga salah satunya menang. 

Tapi tetep, saya juga manusia. kecewa pasti dong, sedih apalagi. Ditambah ini bukan pertama kalinya saya ikut ajang perlombaan literasi. jadi rasanya, yah agak sesak juga. jadi saya obati kekecewaan ini dengan membahagiakan diri sendiri makan bakso favorit saya. Lumayan terobati dan mood saya tidak tergores sedikitpun.


Kamis, 23 Juli 2020


Kilan jatuh sakit


Mah, Kilan sakit perut! " keluh Kilan sambil berbaring di atas karpet ,

"Sakitnya sebelah mana? " tanya saya,

" sebelah sini, ini Kilan sakit banget perutnyaaaa! " jawab dia sambil nunjuk bagian pusar sambil nangis. duh, saya ga tega sungguh, lalu saya tanya lagi,

sakitnya kaya mau pup gak? atau perih kaya di tusuk? " tanya saya lagi,

sakit aja, gak mau pup " jawabnya memelas 


Duh, sakit apa ya?? saya bingung. Jadi ya saya gendong aja sambil terus mengusap-usap punggungnya sambil di balur kayu putih. 

Akhirnya dia tertidur di gendongan dan saya pindahin ke kamar. Satu jam berselang, dia bangun, mengeluh sakit sambil menangis keras. Saya makin panik dan pikiran di kepala udah ngebayangin yang serem-serem. 

Ini gara-gara saya abis googling tentang ciri-ciri sakit perut pada anak 3 tahun, jadi parno. padahal Pak Suami udah ngelarang! hiks . jadi saya mikirnya, Kilan kena usus buntu lah, maag, ginjal dan yang lainnya. Saya sempat kepikiran mau bawa Kilan ke UGD, tapi saya usahain dulu deh Kilan dibalur bawang merah pake kayu putih. 

Alhamdulillah abis itu dia tidur lelap. yah suka bangun terus mah wajar lah ya, masih agak sakit dan gak nyaman dia nya. Kalau udah gini, emak bergadang walau dia tidur pulas. 

Jadi, dalam tidur saya terbayang terus sakit perutnya kilan, terus terbangun dan langsung cek suhu tubuh dan perutnya. Alhamdulillah, Kilan membaik keesokan harinya, rupanya dia masuk angin. 

Ah, hari ini sungguh aduhai Ya, Allah. kali ini, Allah mungkin pengen nasihatin dan peringatin saya,

 " eka sayang, jangan terlalu keasyikan bloging!  sampai anak dibiarin main diluar, panas-panas-an maen siren head sama si raja! ga pake topi, jaket apalagi sepatu!! lain kali, perhatiin anak dulu baru ngonkrong depan PC! "


 Jum'at, 24 Juli 2020



Pukul 08.00 WIB



Kalah Lomba “lagi”



Akhirnya, pengumuman lomba literasi yang ketiga datang juga. 

Hasilnya? saya gak lolos lagi! 

Saya sedih? tentu
Saya kecewa ? iya dong
Saya down? sudah pasti

Why? yaahh, baru aja saya struggle melawan kekecewaan hari selasa kemarin dan sudah ok, lalu hari ini mental saya dihantam lagi dengan kegagalan. Memang sih, Kalah di dalam sebuah pertandingan itu biasa, saya juga sadar. 

Hanya saja saya jadi ingat, bagaimana proses pengerjaannya yang sampai membuat saya bergadang dan berjibaku dengan pekerjaan domestik yang never ending, PJJ Keenan, Tantrum Kilan yang oohh My God never ending, juga ditambah Kilan sakit kemarin...yah pada akhirnya saya down juga akhirnya. 

Hal ini membuat saya menjadi manusia paling galau sedunia. Galau pun di sebarkan lewat status WA yang gak lama kemudian saya hapus secepat kilat karena merasa alay dan rasanya agak geli , berasa cengeng! 

Tapi rupanya mood belum juga membaik. jadi seharian itu saya hidup kaya zombie. mata selayaknya panda, senyum irit dan males beresin rumah. Chat sama sahabat saya, Renny pun malah jadi kurang nyaman karena rupa-rupanya kita sama-sama lagi bad day juga. Walau kurang nyaman tapi setidaknya masih bisa ngobrol dan saling support. untuk satu hal ini, saya sangat bersyukur. karena di saat jatuh begini, Tuhan masih ngasih saya teman untuk berbagi. 

Saya sempat nangis di kamar mandi sambil ngocorin air bak biar gak kedengeran saya nangis sama anak-anak, Kan malu kalo ketahuan anak-anak , hehehe.

Lagian, udah lama juga saya gak nangis. kayanya pasti plong kalo bisa nangis. Tapi, ternyata saya gak bisa nangis. Kenapa? karena baru aja saya mau drama India nangis nangis sampai puas dikamar mandi, eh Kilan teriak minta dibikinin kepala Monster Siren Head! kan saya gak jadi nangisnya! Hehehe.

Sepertinya Allah SWT  kembali ingin melatih mental saya agar lebih kuat dan bisa menerima kekalahan lalu diakhiri dengan mengajak saya menertawai kekalahan dengan scene lucu di kamar mandi.



Pukul 20.38 WIB

Leila S. Chudori

Hadiah dari Allah SWT


" Say ... selamat ya dapat buku Jurnalistik Dasar Tempo, Horay . Kata siapa tulisannya gak layak menang? Proud of you " Sebuah ping di chat Wa dari sahabat saya Renovrainbow berbunyi,

"Ah yang bener? dapet info darimana?" jawab saya kaget setengah mati!!

" Udah ada di blog nya mas pringadi " jawabnya,

" Alhamdulillah ya Allah ... hiks! " jawab saya sambil menambahkan emoticon nangis,

" Aduh Naha ( kenapa ) kamu nangis " tanya nya lagi,

" Nangis sedih terharu teh, nuhun ya udah jadi editor aku " jawab saya berterimakasih tak terhingga.

Alhamdulillah, Makasih Ya Allah, Tulisan saya yang berjudul " Teruslah Menulis, Agar kisahmu Tetap Abadi walau ragamu telah tiada ",  menang di lomba menulis bersama Leila S.Chudori Tempo Institute yang bekerjasama dengan Mas Pringadi Abdi Surya. alhamdulillah ya Allah, terimakasih!!!

Allah SWT  itu memang Maha Penyayang , saya memang dihajar dengan kegagalan di tiga lomba lalu Tuhan kasih saya hadiah hiburan dengan menang di lomba ini. 

Tiba-tiba saya merasa kalau Allah SWT sebetulnya ingin mengajari saya untuk gak pantang menyerah dengan gagal di tiga lomba dan belajar soal menulis lagi dengan evaluasi diri di kemenangan lomba yang ke empat


Sabtu, 25 Juli 2020

Mensyukuri hidup

Malam ini malam minggu, kami sekeluarga punya kebiasaan unik. Yaitu Jalan - jalan ke Warban ( warung bandrek ) yang lokasinya ada di dekat Sekolah Krida. Terus, dalam perjalanan kami melewati "mantan" kios tempat kami ikhtiar mencari rezeki setiap hari selama 6 tahun terakhir.

Lalu, disana saya melihat, gerobak dagangan gorengan milik teman Pak Suami, sebut saja namanya Edi. Saya lihat istrinya menemani Edi dan melayani pembeli sambil menggendong anaknya yang masih berusia 2 tahun dan anak perempuannya yang sudah SMP membantu ibunya di sisinya. 

Dalam hati saya terenyuh dan berkata, 

" Duh, kasian itu istri sama anak-anaknya. sudah malam bukannya diam dirumah tapi di sini kedinginan dan bekerja membantu sang ayah " . 

lantas terbesit dalam hati saya rasa syukur hingga membuat saya nangis. Beneran, saya nangis. sedih banget rasanya. 

Saya sudah seharusnya bersyukur. di balik Pak Suami yang kadang gak romantis dan segudang kebiasaan buruk lainnya tapi dia tidak pernah sekalipun menyuruh saya membantu dia dagang di kios selama 6 tahun kami dagang hingga akhirnya bangkrut karena pandemi di bulan lalu. saya hanya membantu Pak Suami menyiapkan barang dagangan dan membuat adonan setiap hari. 

Setiap kali saya bilang saya ingin bantu, Pak Suami selalu menolak. dia bilang 

" Jangan, dagang itu cape dan anginnya gede kalo malam. kasian kamu, kasian anak-anak. Udah biar aku aja yang dagang, kan ada si Epul yang bantuin" . 

Pandemi memang berdampak besar terhadap perekonomian di setiap orang. Termasuk pedagang kaki lima seperti kami. Kalo gak kuat iman, bisa jadi melakukan hal yang tida-tidak. 

Saya sangat bersyukur karena selain dagang di kios, Pak Suami juga punya usaha lain yaitu jualan Thriftstore dan suami nge-band. Tapi nge-band tidak bisa diandalkan karena semua event dilarang selama pandemi, jadi si thrifstore ini andalan kami. At least, untuk keperluan sehari-hari Kami gak terlalu khawatir. 

Situasi kami masih bisa dikatakan sangat beruntung. Teman sesama pedagang bahkan ada yang sampai harus tinggal di masjid untuk sementara waktu karena gak mampu bayar kontrakan akibat dagangan yang gak laku-laku. Apa daya, kami ingin membantu tapi ekonomi kami pun pas – pas-an. Hanya bisa memberi sebesar kemampuan kami. Tapi alhamdulillah, Pak RT berbaik hati rela kontrakannya di tinggali teman Pak Suami itu dengan dibayar setengah harga normal. Ternyata, masih ada orang baik dimasa pandemi ini. 

Teman Pak Suami saya yang lain, katakanlah namanya Asep, juga mengalami hal yag sangat memprihatinkan. Awalnya dia punya usaha clothing yang sukses. Karena selama pandemi lesu penjualan sehingga barang di toko menumpuk sementara vendor terus menagih hutang produksi, akibatnya kontrakan rumahnya tak bisa di lunasi dan terpaksa tinggal di gudang milik temannya. Asep juga punya hutang pada kami, sehingga begitu kami ingin menangih..... tak tega rasanya. Jadi, yah kami ikhlaskan saja walau kami juga butuh. Semoga Tuhan mengganti lewat jalan yang lain.

Ingat perkataan Pak Suami itu dan melihat kondisi teman- teman Pak Suami, saya memang merasa sangat bersyukur. Bersyukur karena walau rumah kami sangat kecil dan sempit, tapi ini milik kami sendiri dan tidak ngontrak. 

Sekali Lagi Allah SWT menyapaku, untuk lebih banyak bersyukur.


Minggu, 26 Juli 2020

  
Tuhan menyapaku


Kilan si bungsu kembali berulah, kali ini dia rewel minta pedangnya harus lurus vertikal di gantung pake tali tapi cuman di ujungnya. 

Jadi dia tuh pengen maen “jeng-jeng” alias main gitar menggunakan pedang mainan dia. soalnya gitar plastik yang dia punya katanya kependekan . Kilan ingin gitar dengan ukuran normal seperti punya Babah. Katanya, dia mau konser pake lagu babahnya.

Tapi dia keukeuh, ingin pedangnya lurus. sementara tali yang dia jadikan Strap gitar hanya di ujung pegangan pedang aja. yah, mau bagaimanapun juga gak bakalan seimbang itu pedang, pasti jatuh, hihi. 

Akhirnya, saya gunakan seribu macam rayuan maut biar di dia paham. tapi yah namanya anak kecil usia 3 tahun, kan daya nalarnya belum sempurna betul. Jadi mau dibilangin sampai emaknya salto sambil tari jaipong juga gak bakalan ngerti. akhirnya, emak tandukan dan hilang kesabaran sampai agak bentak dan bilang,

" Ya udah! terserah kamu deh! susah bener dikasih tau! "


Teriakan saya ini rupanya cukup keras sampai ngebangunin naga yang lagi tidur, alias Pak Suami! hihihi. sambil bangun sempoyongan dan mata merah Pak Suami datang menghampiri kami layaknya monster buas sambil teriak,

" Ada apa ini??? Kenapa Kilan??? maunya apa sih??? ah segimana *hydgdhjd aja! "

*hydgdhjd, itu bukan typo ya, tapi kata-kata kasar Pak Suami. sekasar apa? ya kasarnya bahasa sunda untuk kata kamu. tapi bagi saya itu aja udah kasar sih. jadi saya bete! mau ngasih tau Pak Suami jangan bilang kasar takut disembur api naga! wkwkwk. ya udah saya milih diam sembari manyun! nahan bete dan kesel. dan hari pun berlalu sampai sore tiba.

Dalam hati saya udah bertekad mau nyemprot pak suami kalo sore ini ngomong kasar lagi, mau saya bilangin,

" Bisa aja babah bilang sama Keenan dan Kilan kalau marah boleh asal jangan ngomong kasar! tapi sendirinya? yey! " tapi tenyata pak suami udah gak marah lagi sih. tapi tetep aja saya mah masih bete. sampai ibu mertua tanya saya,

" Kenapa Eka kok manyun terus? kaya yang pundung?" saya tertunduk terus jawab,

" Gak lah mah, ini karena pilek terus batuk , kepala pusing " jawab saya lesu,

" Oh, kirain pundung karena Iyad " JLEB! kok tau sih??? pengen nangis!! dan meluk ibu mertuaku rasanya!!! akhirnya aku ngomong dong,

" Iya, emang pundung sama iyad. dia marah sama Kilan sampai ngomong kasar! kan sebel! bukan apa-apa, eka takut Kilan inget kata kasar dari ayahnya dan gak pernah lupa! kan bahaya! " ucap saya nyerocos kaya kereta api .

" Iya sih, Iyad emang suka gitu! sampai mamah kaget dan ikut sebel! " oh ibu mertuaku tersayang memang perhatian.

Setelah ditanya begitu sama ibu mertua, tiba-tiba rasa saya yang penuh dengan bete - sebel - kesel hilang seketika bagai di tiup bubuk ajaib!

Lagi-lagi Allah SWT  memperhatikan perasaan saya dan menyapa saya lewat ibu mertua.



Rabu, 29 Juli 2020



Sapaan Allah di setiap peristiwa  yang terjadi di minggu lalu memberi saya pencerahan soal banyak hal. Terutama soal mensyukuri hidup, bermental kuat dan menerima kekalahan.

Terkadang, saya sering luput akan hal besar yang saya miliki di depan mata dan lebih mempersoalkan hal kecil, hingga akhirnya Allah “turun tangan” mengingatkan saya lewat serangkaian kejadian yang bikin sedih bertubi-tubi. Mulai dari kalah lomba, anak sakit dan bertengkar dengan pasangan. 

Tapi Allah juga tidak lupa menghibur saya, dengan kemenangan di lomba terakhir dan memberikan saya teman – kakak – sahabat yang selalu suport saya siang dan malam . ini beneran, karena kami gak pernah stop chat setiap hari. Teman yang demikian adalah rezeki yang tak terbantahkan . Allah itu memang penuh kasih sayang bukan? 

Semoga kamu yang juga di dera peristiwa mencekam dan mengalami kekalahan bertubi-tubi dalam waktu yang bersamaan, tetep semangat ya. Karena kamu gak sendirian, Allah  selalu menyapamu dan memberimu semangat lewat sapaan dan pelukan dari hambaNYA yang lain. Tetap bersyukur dan mensyukuri hidup. 

Saya tutup cerita saya dengan puisi yang saya buat ketika saya kalah lomba . 
semoga berkenan.


Allah telah menegurku dengan cara yang paling bersahaja, halus dan lucu.
Lantas aku tersenyum namun takut sekaligus,
Ini peringatan yang nampak depan mata.
Sujud syukur saja tidak cukup,
Memohon ampunan perlu dilakukan,
Seraya berharap, Ya Allah, Tutuplah kesalahan dan dosaku,
Ampunilah Dosaku dan berikanlah aku keselamatan Dunia dan Akhirat.



SEJARAH DAN PERKEMBANGAN TULISAN


Sejarah mencatat bahwa, Bangsa Sumeria merupakan bangsa pertama yang memiliki huruf dan tulisan pertama di dunia. Bangsa Sumeria sudah menggunakan huruf paku yang merupakan huruf berbentuk paku dan dipahat di atas Batu sebagai media alat tulisnya sekitar 3000 tahun yang lalu, yang kemudian menjadi cikal bakal huruf pertama dunia di buat.

Seiring dengan semakin berkembangnya peradaban, maka tulisan dan huruf pun ikut berkembang. Keberadaan media alat tulis kemudian menjadi hal yang sangat diperlukan, untuk kebutuhan perdagangan, perjanjian dan kerjasama, penyebaran agama , karya sastra serta rekam jejak sejarah. 

Media menulis pun ikut mengalami perubahan dan perkembangan. Pada awalnya, manusia menulis di atas batu kemudian mulai berkembang menggunakan kulit batang pohon, kulit hewan, papirus dan kertas. 

Begitu pula dengan alat tulis, diawali dengan batu dan pena jarum kemudian bulu angsa, tinta hitam dan pada akhirnya menggunakan pinsil dan pulpen seperti yang kita gunakan pada saat ini. 

Melihat sejarah berkembangnya tulisan dan media alat tulis, maka tak pelak bahwa keberadaan alat tulis dan medianya sangat erat hubungannya dengan kebutuhan manusia akan menulis dengan berbagai maksud dan tujuan. 

Jika dilihat dari awal sejarah, menulis menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat jaman dahulu.

Sebagai contoh, AL QUR’AN. Nabi Muhammad S.A.W memerintahkan sahabat nabi untuk menuliskan kembali wahyu Allah S.W.T yang mana Setelah Nabi Muhammad wafat, para sahabat segera menyusun dan menuliskan hafalan ayat wahyu Allah SWT menjadi Al-Qur’an seperti yang kita kenal hingga saat ini.

Contoh Lain, Dead Sea Scroll atau naskah laut mati yang merupakan 900 lebih naskah manuskrip yang ditulis di atas papirus, perkamen, dan perunggu yang merupakan manuskrip yang di tulis oleh bangsa Ibrani yang dibuat sekitar tahun 408 SM - 318 SM yang berisi salinan kitab suci bangsa israel.

Hal ini menandakan bahwa sekali lagi, menulis sangat dibutuhkan sebagai rekam jejak sejarah dan karya sastra untuk diwariskan dan disebarkan ke kalangan tertentu atau ke seluruh umat manusia.

Saya secara pribadi, sangat takjub dan kagum akan perkembangan menulis terutama karya sastra baik fiksi maupun non fiksi dari masa ke masa. Sedikit banyak, sastrawan dan penulis masa kini banyak dipengaruhi karyanya oleh karya-karya sastrawan dan penulis jaman dahulu, seperti saya yang sangat menyukai karya Charles Dickens dan George Elliot. Saya juga sangat menyukai penulis hebat Indonesia seperti Pramoedya Ananta Noer, N.h Dini, Buya Hamka ,WS Rendra dan tentu saja, Leila S. Chudori

Terdapat banyak kisah pahit dan getir yang para Penulis hebat ini sampaikan kepada masyarakat pada saat itu sebagai protes terhadap ketidakadilan dan pemerintahan juga hiburan ditengah pengap dan sulitnya hidup pada jaman itu, yang mana gaung dan kisahnya masih relevan dengan keadaan dan situasi pada saat ini.

Lantas bagaimana perkembangan menulis pada saat ini? Sungguh sangat berkembang dengan sangat pesat. Hal ini di dukung dengan semakin berkembangnya teknologi komputer dan internet. Kemudahan ini membuat kita dapat dengan mudah mendapatkan akses informasi, ilmu dan karya sastra. Menulis pun pada akhirnya menjadi salah satu kebutuhan manusia pada saat ini sebagai bentuk aktualisasi diri, lapangan pekerjaan , media pelatihan dan media berkomunikasi serta bersilaturahmi.

SAYA DAN DUNIA MENULIS


Sejak kecil saya sudah terbiasa menguraikan apa yang saya pikirkan dan rasakan ke dalam bentuk gambar dan tulisan. Entah itu di buku diari atau hanya di buku gambar. Bagi saya, kertas adalah media untuk berkarya. Terutama karya ilustrasi, karya sastra fiksi dan non fiksi. seperti puisi saya berikut ini ,

Ada sepenggal kisah yang tertinggal dalam ingatan,
Meminta untuk dirangkul dan tak ingin ditanggalkan,
Layaknya hati yang merindu pada senja di musim kemarau,
Dan asa yang ingin merajut hujan,
Dan jiwa yang sangat ingin memeluk salju,

Ringkih aku, memikul semua kegaduhan di pikiran
Dan kekusutan hatiku selama ini,
sehingga kutumpahkan saja semua gundah dan resah,
dalam buku bersampul kulit sintetis berwarna coklat,
bernama BUKU HARIAN.


Menulis dan menggambar yang saya awali dari sekedar hobi lantas menjadi ladang pekerjaan di kemudian hari, walau latar belakang pendidikan saya bukan seni atau sastra. 

Sekarang setelah menjadi ibu dari dua anak laki-laki, menulis dan menggambar pada akhirnya banyak membantu saya menemukan jati diri dengan sudut pandang yang lain, yang tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya. 

Buku harian selain sebagai tempat saya berkreasi dan berkarya, juga sebagai tempat saya menuliskan ide-ide dan menjadi wadah untuk aktualisasi diri. Saya sangat ingin membagi ide dan pemikiran saya juga pengalaman saya kepada khalayak umum untuk dipetik hikmahnya. Berangkat dari alasan ini, munculah ide memindahkan tulisan di buku harian ke dalam format digital, yaitu Blog. 

Ada sebuah rencana, bahwa apa yang nanti akan saya wariskan kepada anak-anak saya kelak bukanlah intan permata atau sejumlah uang di bank atau tanah berhekta-hektar. Tetapi jurnal, dimana saya akan mencatat semua kisah mereka sedari kecil hingga dewasa kelak, sebagai kisah yang layak mereka simak dan ambil hikmah nya sebagi bekal mereka mengarungi ganasnya lautan kehidupan. Dan untuk itulah artjoka lahir, blog pribadi saya. 

MENGAPA KITA HARUS MENULIS


Ada berjuta alasan mengapa orang menulis pada saat ini. mulai dari yang sifatnya pribadi seperti saya, sampai menulis yang menjadi kegemaran mereka seperti karya sastra baik fiksi maupun non fiksi dan topik lainnya. 

Saya berfikir bahwa,  Tulisan akan kekal abadi walau raga kita telah tiada, oleh sebab itu tetaplah menulis. Karena Tulisan  adalah maha karya yang dapat menjadi warisan yang sangat berharga dimana keberadaanya sedikit banyak akan mempengaruhi hidup seseorang, dimasa sekarang dan yang akan datang. 

Janganlah berhenti menulis dan berkarya walau terkadang ingin usai saat berkali-kali menerima kegagalan dan penolakan, karena kesuksesan hanya masalah proses dan waktu yang harus di lalui oleh setiap penulis. 

Membaca biografi atau autobiografi para penulis hebat, bisa menjadi salah satu bahan bakar api semangat kita dalam menulis. Seperti yang di sampaikan oleh Mohammad Hatta dibawah ini,

Saya menyebut satu nama yang patut menjadi kenang-kenangan buat selama-lamanya : Tjipto Mangunkusumo, yang meninggal kemarin pagi dalam usia 58 tahun. Sejarah hidupnya mudah diterangkan dengan beberapa kata saja: jujur, setia, ksatria, berjuang, berkorban, pembuangan dan penyakitan. 
Sungguh pemantik semangat yang mujarab bukan? 

Untuk meningkatkan kemampuan kualitas kita dalam menulis, Saat ini banyak tersedia pelatihan secara online baik yang bertarif maupun gratis. Manfatkanlah peluang dan fasilitas ini dengan sebaik-baiknya dan teruslah berlatih. 

Ada satu kutipan mujarab layaknya hembusan angin surga di saat saya jatuh dan merasa lelah seraya ingin berhenti karena kegagalan demi kegagalan sering saya dapatkan ketika mengikuti ajang perlombaan menulis,

Semua harus ditulis, apa pun.Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna. ( Pramoedya Ananta Noer )

Terimakasih Om Pramoedya, berkat kalimat bijak ini saya yang masih banyak belajar menulis diantara sempitnya waktu yang saya miliki sebagai ibu rumah tangga, pada akhirnya selalu mampu bangkit dan kembali berdiri tegak lalu duduk di depan komputer usang dan kembali mencurahkan semua pemikiran dan asa yang selalu meminta untuk dikeluarkan dari cangkangnya dan menari berlari dengan girangnya.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Catatan Pringadi bekerja sama dengan Tempo Institute”



Sumber Referensi :
1. Konten Redaksi kumparan, Tulisan Tersembunyi dalam Naskah Laut Mati Akhirnya Bisa Terbaca, .https://kumparan.com/kumparansains/tulisan-tersembunyi-dalam-naskah-laut-mati-akhirnya-bisa-terbaca/full, Diakses pada 19 juli 2020 pukul 21.00 WIB
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Laut_Mati, Di akses pada 7 Juli 2020 Pukul 21.00 WIB
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_huruf , Di akses pada 7 Juli 2020 Pukul 21.00 WIB