Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan





Pernah kah anda mendengar istilah, " seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak" ? pasti pernah ya. Lantas apa sih maksud sebenarnya?

Sebagaimana kita tahu bersama bahwa, peran seorang ibu dalam mendidik anak bukanlah peran yang kecil melainkan peran besar dimana seorang ibu memiliki andil besar dalam membentuk masyarakat yang berakhlak baik dan tangguh yang semua itu di mulai dari keluarga kecilnya. Nah, disinilah letak peran besar seorang ibu sebagai madrasah pertama berada.

Tetapi, benarkah "beban" mendidik anak ini hanya ada di pundak seorang ibu saja? bagaimana dengan fungsi seorang ayah dalam mendidik anak dan keluarga? 

Ingin tau jawabannya? 

Untuk mengetahui jawaban selanjutnya, yuk ikutan Virtual Class Mubadalah yang di selenggarakan oleh Komunitas Indonesian Content Creator bersama Mubadalah.id terkait Kursus Online Intensif dan Bimbingan Penulisan. 

Lho kok judulnya tentang penulisan? eit sabar dulu. Judul memang tentang penulisan, tetapi materi yang akan disampaikan sangat erat kaitannya dengan Urgensi relasi kesalingan dalam keadilan gender islam dalam sebuah keluarga. 

Bukan hanya itu, ada segudang materi lainnya yang sangat sayang untuk dilewatkan. Bukan hanya untuk para ibu, tetapi juga para ayah, calon ibu dan calon ayah atau mereka yang sangat ingin mengetahui lebih dalam mengenai prinsip dasar Mubadalah.

Kapan Sih Pelaksanaannya?









"Mubadalah Virtual Class; Kursus Online Intensif dan Bimbingan Penulisan"


Materi:

1. Urgensi relasi kesalingan dalam keadilan gender islam
2. Relasi keadilan gender dalam keluarga dan bersosial terkait islam yang rahmatan lil'alamin
3. Metodologi penafsiran ayat al-Qur'an dan hadist dalam perspektif kesalingan
4. Contoh-contoh tafsir kesalingan untuk isu keluarga dan bermasyarakat
5. Bimbingan penulisan populer isu-isu gender dalam perspektif kesalingan untuk media online



Narasumber:

1. Dr. Faqihudin Abdul Kodir, Lc. MA (Penulis Buku Qiro'ah Mubadalah)
2. Fathonah K. Daud, Lc. M. Phil (Penulis Buku Tafsir Ayat-Ayat Hukum Keluarga)
3. Zahra Amin (Redaksi Mubadalah.id)

Pelaksanaan:

1. Registrasi: 15 Agustus - 16 September 2020
2. Waktu Pembelajaran: 23 - 30 September 2020 (Senin, Kamis, dan Minggu) pukul 19.30-21.30 WIB via Zoom/Google Meet

Biaya Registrasi: Idr 300K

Form Registrasi : https://forms.gle/MoUxFEjmhAdxMe7LA


Fasilitas:

1. Materi
2. E-Sertifikat
3. Buku Qiro'ah Mubadalah
4. Kitab Nabiyurrahmah
5. Kitab Sittina 'Adliyah
6. Gratis biaya pengiriman ke seluruh Indonesia

Beasiswa penulisan 

Syarat dan Ketentuan:

1. Mengisi form pendaftaran


2. Mengikuti sosial media penyelenggara
3. Mengirim link tulisan terbaik yang pernah dimuat di media online
4. Membagikan e-flyer ini ke 5 grup whatsapp dan sosial media lainnya
5. Mengirim bukti screenshot follow, share, dan posting ke narahubung
6. 10 pendaftar terpilih akan menjadi kontributor Mubadalah.id dan menandatangani kontrak menulis sebanyak minimal 3 tulisan

Narahubung:

Eka Fitriani Larasati : 0857 9420 9094


Nah, gimana? seru kan ya? ada beasiswa pula. Jadi, tunggu apalagi, ayo segera daftarkan diri anda dan jangan lupa ajak teman  - teman yang lain ya.



Pernah gak sih kamu ngalamin Bad day yang super bad sampai efeknya kaya beresonansi sampai berhari-hari??? udah gitu, si bad day gak cuman terjadi sekali, tapi dua kali, tiga kali bahkan empat kali berturut turut? saya pernah. 

Minggu lalu adalah minggu ter-hot sejak awal tahun ini sampai sekarang. Banyak banget peristiwa yang terjadi di minggu itu, bener-bener kaya roller coaster rasanya. 

Allah itu romantis kadang juga galak dan keras terhadap saya Lewat empat rangkaian peritiwa yang bisa dibilang naas, sepertinya itu adalah cara Allah SWT berkomunikasi dengan kita, eh saya maksudnya.


Selasa, 21 Juli 2020



Kalah Lomba Literasi

Menanti kabar itu terkadang tidak enak, membuat hati gelisah dan merana. Seperti menunggu jawaban dari si dia ( eeaaa ) , begitu juga perasaan saya.

Memang apa sih yang saya tunggu?

Jadi, saya lagi nunggu pengumuman pemenang dari empat lomba literasi yang saya ikuti. Rasanya deg-deg-an dan terus bertanya - tanya dalam hati, " lolos gak ya " seraya berharap lolos.

Tapi ternyata, saya tidak lolos dalam dua lomba literasi yang saya ikuti sejak bulan Mei lalu yaitu cerpen dan puisi. Ah mencelos hati saya, tapi tak apa. Masih ada dua lomba lagi. Semoga salah satunya menang. 

Tapi tetep, saya juga manusia. kecewa pasti dong, sedih apalagi. Ditambah ini bukan pertama kalinya saya ikut ajang perlombaan literasi. jadi rasanya, yah agak sesak juga. jadi saya obati kekecewaan ini dengan membahagiakan diri sendiri makan bakso favorit saya. Lumayan terobati dan mood saya tidak tergores sedikitpun.


Kamis, 23 Juli 2020


Kilan jatuh sakit


Mah, Kilan sakit perut! " keluh Kilan sambil berbaring di atas karpet ,

"Sakitnya sebelah mana? " tanya saya,

" sebelah sini, ini Kilan sakit banget perutnyaaaa! " jawab dia sambil nunjuk bagian pusar sambil nangis. duh, saya ga tega sungguh, lalu saya tanya lagi,

sakitnya kaya mau pup gak? atau perih kaya di tusuk? " tanya saya lagi,

sakit aja, gak mau pup " jawabnya memelas 


Duh, sakit apa ya?? saya bingung. Jadi ya saya gendong aja sambil terus mengusap-usap punggungnya sambil di balur kayu putih. 

Akhirnya dia tertidur di gendongan dan saya pindahin ke kamar. Satu jam berselang, dia bangun, mengeluh sakit sambil menangis keras. Saya makin panik dan pikiran di kepala udah ngebayangin yang serem-serem. 

Ini gara-gara saya abis googling tentang ciri-ciri sakit perut pada anak 3 tahun, jadi parno. padahal Pak Suami udah ngelarang! hiks . jadi saya mikirnya, Kilan kena usus buntu lah, maag, ginjal dan yang lainnya. Saya sempat kepikiran mau bawa Kilan ke UGD, tapi saya usahain dulu deh Kilan dibalur bawang merah pake kayu putih. 

Alhamdulillah abis itu dia tidur lelap. yah suka bangun terus mah wajar lah ya, masih agak sakit dan gak nyaman dia nya. Kalau udah gini, emak bergadang walau dia tidur pulas. 

Jadi, dalam tidur saya terbayang terus sakit perutnya kilan, terus terbangun dan langsung cek suhu tubuh dan perutnya. Alhamdulillah, Kilan membaik keesokan harinya, rupanya dia masuk angin. 

Ah, hari ini sungguh aduhai Ya, Allah. kali ini, Allah mungkin pengen nasihatin dan peringatin saya,

 " eka sayang, jangan terlalu keasyikan bloging!  sampai anak dibiarin main diluar, panas-panas-an maen siren head sama si raja! ga pake topi, jaket apalagi sepatu!! lain kali, perhatiin anak dulu baru ngonkrong depan PC! "


 Jum'at, 24 Juli 2020



Pukul 08.00 WIB



Kalah Lomba “lagi”



Akhirnya, pengumuman lomba literasi yang ketiga datang juga. 

Hasilnya? saya gak lolos lagi! 

Saya sedih? tentu
Saya kecewa ? iya dong
Saya down? sudah pasti

Why? yaahh, baru aja saya struggle melawan kekecewaan hari selasa kemarin dan sudah ok, lalu hari ini mental saya dihantam lagi dengan kegagalan. Memang sih, Kalah di dalam sebuah pertandingan itu biasa, saya juga sadar. 

Hanya saja saya jadi ingat, bagaimana proses pengerjaannya yang sampai membuat saya bergadang dan berjibaku dengan pekerjaan domestik yang never ending, PJJ Keenan, Tantrum Kilan yang oohh My God never ending, juga ditambah Kilan sakit kemarin...yah pada akhirnya saya down juga akhirnya. 

Hal ini membuat saya menjadi manusia paling galau sedunia. Galau pun di sebarkan lewat status WA yang gak lama kemudian saya hapus secepat kilat karena merasa alay dan rasanya agak geli , berasa cengeng! 

Tapi rupanya mood belum juga membaik. jadi seharian itu saya hidup kaya zombie. mata selayaknya panda, senyum irit dan males beresin rumah. Chat sama sahabat saya, Renny pun malah jadi kurang nyaman karena rupa-rupanya kita sama-sama lagi bad day juga. Walau kurang nyaman tapi setidaknya masih bisa ngobrol dan saling support. untuk satu hal ini, saya sangat bersyukur. karena di saat jatuh begini, Tuhan masih ngasih saya teman untuk berbagi. 

Saya sempat nangis di kamar mandi sambil ngocorin air bak biar gak kedengeran saya nangis sama anak-anak, Kan malu kalo ketahuan anak-anak , hehehe.

Lagian, udah lama juga saya gak nangis. kayanya pasti plong kalo bisa nangis. Tapi, ternyata saya gak bisa nangis. Kenapa? karena baru aja saya mau drama India nangis nangis sampai puas dikamar mandi, eh Kilan teriak minta dibikinin kepala Monster Siren Head! kan saya gak jadi nangisnya! Hehehe.

Sepertinya Allah SWT  kembali ingin melatih mental saya agar lebih kuat dan bisa menerima kekalahan lalu diakhiri dengan mengajak saya menertawai kekalahan dengan scene lucu di kamar mandi.



Pukul 20.38 WIB

Leila S. Chudori

Hadiah dari Allah SWT


" Say ... selamat ya dapat buku Jurnalistik Dasar Tempo, Horay . Kata siapa tulisannya gak layak menang? Proud of you " Sebuah ping di chat Wa dari sahabat saya Renovrainbow berbunyi,

"Ah yang bener? dapet info darimana?" jawab saya kaget setengah mati!!

" Udah ada di blog nya mas pringadi " jawabnya,

" Alhamdulillah ya Allah ... hiks! " jawab saya sambil menambahkan emoticon nangis,

" Aduh Naha ( kenapa ) kamu nangis " tanya nya lagi,

" Nangis sedih terharu teh, nuhun ya udah jadi editor aku " jawab saya berterimakasih tak terhingga.

Alhamdulillah, Makasih Ya Allah, Tulisan saya yang berjudul " Teruslah Menulis, Agar kisahmu Tetap Abadi walau ragamu telah tiada ",  menang di lomba menulis bersama Leila S.Chudori Tempo Institute yang bekerjasama dengan Mas Pringadi Abdi Surya. alhamdulillah ya Allah, terimakasih!!!

Allah SWT  itu memang Maha Penyayang , saya memang dihajar dengan kegagalan di tiga lomba lalu Tuhan kasih saya hadiah hiburan dengan menang di lomba ini. 

Tiba-tiba saya merasa kalau Allah SWT sebetulnya ingin mengajari saya untuk gak pantang menyerah dengan gagal di tiga lomba dan belajar soal menulis lagi dengan evaluasi diri di kemenangan lomba yang ke empat


Sabtu, 25 Juli 2020

Mensyukuri hidup

Malam ini malam minggu, kami sekeluarga punya kebiasaan unik. Yaitu Jalan - jalan ke Warban ( warung bandrek ) yang lokasinya ada di dekat Sekolah Krida. Terus, dalam perjalanan kami melewati "mantan" kios tempat kami ikhtiar mencari rezeki setiap hari selama 6 tahun terakhir.

Lalu, disana saya melihat, gerobak dagangan gorengan milik teman Pak Suami, sebut saja namanya Edi. Saya lihat istrinya menemani Edi dan melayani pembeli sambil menggendong anaknya yang masih berusia 2 tahun dan anak perempuannya yang sudah SMP membantu ibunya di sisinya. 

Dalam hati saya terenyuh dan berkata, 

" Duh, kasian itu istri sama anak-anaknya. sudah malam bukannya diam dirumah tapi di sini kedinginan dan bekerja membantu sang ayah " . 

lantas terbesit dalam hati saya rasa syukur hingga membuat saya nangis. Beneran, saya nangis. sedih banget rasanya. 

Saya sudah seharusnya bersyukur. di balik Pak Suami yang kadang gak romantis dan segudang kebiasaan buruk lainnya tapi dia tidak pernah sekalipun menyuruh saya membantu dia dagang di kios selama 6 tahun kami dagang hingga akhirnya bangkrut karena pandemi di bulan lalu. saya hanya membantu Pak Suami menyiapkan barang dagangan dan membuat adonan setiap hari. 

Setiap kali saya bilang saya ingin bantu, Pak Suami selalu menolak. dia bilang 

" Jangan, dagang itu cape dan anginnya gede kalo malam. kasian kamu, kasian anak-anak. Udah biar aku aja yang dagang, kan ada si Epul yang bantuin" . 

Pandemi memang berdampak besar terhadap perekonomian di setiap orang. Termasuk pedagang kaki lima seperti kami. Kalo gak kuat iman, bisa jadi melakukan hal yang tida-tidak. 

Saya sangat bersyukur karena selain dagang di kios, Pak Suami juga punya usaha lain yaitu jualan Thriftstore dan suami nge-band. Tapi nge-band tidak bisa diandalkan karena semua event dilarang selama pandemi, jadi si thrifstore ini andalan kami. At least, untuk keperluan sehari-hari Kami gak terlalu khawatir. 

Situasi kami masih bisa dikatakan sangat beruntung. Teman sesama pedagang bahkan ada yang sampai harus tinggal di masjid untuk sementara waktu karena gak mampu bayar kontrakan akibat dagangan yang gak laku-laku. Apa daya, kami ingin membantu tapi ekonomi kami pun pas – pas-an. Hanya bisa memberi sebesar kemampuan kami. Tapi alhamdulillah, Pak RT berbaik hati rela kontrakannya di tinggali teman Pak Suami itu dengan dibayar setengah harga normal. Ternyata, masih ada orang baik dimasa pandemi ini. 

Teman Pak Suami saya yang lain, katakanlah namanya Asep, juga mengalami hal yag sangat memprihatinkan. Awalnya dia punya usaha clothing yang sukses. Karena selama pandemi lesu penjualan sehingga barang di toko menumpuk sementara vendor terus menagih hutang produksi, akibatnya kontrakan rumahnya tak bisa di lunasi dan terpaksa tinggal di gudang milik temannya. Asep juga punya hutang pada kami, sehingga begitu kami ingin menangih..... tak tega rasanya. Jadi, yah kami ikhlaskan saja walau kami juga butuh. Semoga Tuhan mengganti lewat jalan yang lain.

Ingat perkataan Pak Suami itu dan melihat kondisi teman- teman Pak Suami, saya memang merasa sangat bersyukur. Bersyukur karena walau rumah kami sangat kecil dan sempit, tapi ini milik kami sendiri dan tidak ngontrak. 

Sekali Lagi Allah SWT menyapaku, untuk lebih banyak bersyukur.


Minggu, 26 Juli 2020

  
Tuhan menyapaku


Kilan si bungsu kembali berulah, kali ini dia rewel minta pedangnya harus lurus vertikal di gantung pake tali tapi cuman di ujungnya. 

Jadi dia tuh pengen maen “jeng-jeng” alias main gitar menggunakan pedang mainan dia. soalnya gitar plastik yang dia punya katanya kependekan . Kilan ingin gitar dengan ukuran normal seperti punya Babah. Katanya, dia mau konser pake lagu babahnya.

Tapi dia keukeuh, ingin pedangnya lurus. sementara tali yang dia jadikan Strap gitar hanya di ujung pegangan pedang aja. yah, mau bagaimanapun juga gak bakalan seimbang itu pedang, pasti jatuh, hihi. 

Akhirnya, saya gunakan seribu macam rayuan maut biar di dia paham. tapi yah namanya anak kecil usia 3 tahun, kan daya nalarnya belum sempurna betul. Jadi mau dibilangin sampai emaknya salto sambil tari jaipong juga gak bakalan ngerti. akhirnya, emak tandukan dan hilang kesabaran sampai agak bentak dan bilang,

" Ya udah! terserah kamu deh! susah bener dikasih tau! "


Teriakan saya ini rupanya cukup keras sampai ngebangunin naga yang lagi tidur, alias Pak Suami! hihihi. sambil bangun sempoyongan dan mata merah Pak Suami datang menghampiri kami layaknya monster buas sambil teriak,

" Ada apa ini??? Kenapa Kilan??? maunya apa sih??? ah segimana *hydgdhjd aja! "

*hydgdhjd, itu bukan typo ya, tapi kata-kata kasar Pak Suami. sekasar apa? ya kasarnya bahasa sunda untuk kata kamu. tapi bagi saya itu aja udah kasar sih. jadi saya bete! mau ngasih tau Pak Suami jangan bilang kasar takut disembur api naga! wkwkwk. ya udah saya milih diam sembari manyun! nahan bete dan kesel. dan hari pun berlalu sampai sore tiba.

Dalam hati saya udah bertekad mau nyemprot pak suami kalo sore ini ngomong kasar lagi, mau saya bilangin,

" Bisa aja babah bilang sama Keenan dan Kilan kalau marah boleh asal jangan ngomong kasar! tapi sendirinya? yey! " tapi tenyata pak suami udah gak marah lagi sih. tapi tetep aja saya mah masih bete. sampai ibu mertua tanya saya,

" Kenapa Eka kok manyun terus? kaya yang pundung?" saya tertunduk terus jawab,

" Gak lah mah, ini karena pilek terus batuk , kepala pusing " jawab saya lesu,

" Oh, kirain pundung karena Iyad " JLEB! kok tau sih??? pengen nangis!! dan meluk ibu mertuaku rasanya!!! akhirnya aku ngomong dong,

" Iya, emang pundung sama iyad. dia marah sama Kilan sampai ngomong kasar! kan sebel! bukan apa-apa, eka takut Kilan inget kata kasar dari ayahnya dan gak pernah lupa! kan bahaya! " ucap saya nyerocos kaya kereta api .

" Iya sih, Iyad emang suka gitu! sampai mamah kaget dan ikut sebel! " oh ibu mertuaku tersayang memang perhatian.

Setelah ditanya begitu sama ibu mertua, tiba-tiba rasa saya yang penuh dengan bete - sebel - kesel hilang seketika bagai di tiup bubuk ajaib!

Lagi-lagi Allah SWT  memperhatikan perasaan saya dan menyapa saya lewat ibu mertua.



Rabu, 29 Juli 2020



Sapaan Allah di setiap peristiwa  yang terjadi di minggu lalu memberi saya pencerahan soal banyak hal. Terutama soal mensyukuri hidup, bermental kuat dan menerima kekalahan.

Terkadang, saya sering luput akan hal besar yang saya miliki di depan mata dan lebih mempersoalkan hal kecil, hingga akhirnya Allah “turun tangan” mengingatkan saya lewat serangkaian kejadian yang bikin sedih bertubi-tubi. Mulai dari kalah lomba, anak sakit dan bertengkar dengan pasangan. 

Tapi Allah juga tidak lupa menghibur saya, dengan kemenangan di lomba terakhir dan memberikan saya teman – kakak – sahabat yang selalu suport saya siang dan malam . ini beneran, karena kami gak pernah stop chat setiap hari. Teman yang demikian adalah rezeki yang tak terbantahkan . Allah itu memang penuh kasih sayang bukan? 

Semoga kamu yang juga di dera peristiwa mencekam dan mengalami kekalahan bertubi-tubi dalam waktu yang bersamaan, tetep semangat ya. Karena kamu gak sendirian, Allah  selalu menyapamu dan memberimu semangat lewat sapaan dan pelukan dari hambaNYA yang lain. Tetap bersyukur dan mensyukuri hidup. 

Saya tutup cerita saya dengan puisi yang saya buat ketika saya kalah lomba . 
semoga berkenan.


Allah telah menegurku dengan cara yang paling bersahaja, halus dan lucu.
Lantas aku tersenyum namun takut sekaligus,
Ini peringatan yang nampak depan mata.
Sujud syukur saja tidak cukup,
Memohon ampunan perlu dilakukan,
Seraya berharap, Ya Allah, Tutuplah kesalahan dan dosaku,
Ampunilah Dosaku dan berikanlah aku keselamatan Dunia dan Akhirat.