![]() |
| Poster Resmi Hope (2026) via IMP Awards / © Plus M Entertainment & NEON |
Kegocek dengan judulnya, saya kira film Hope (2026) adalah film tentang perjuangan dan filosofis menegangkan tentang manusia melawan alien, layaknya War of the Worlds (2005) atau Arrival (2016).
Nyatanya, film Hope (2026) yang berdurasi 156 menit garapan sutradara Na Hong-jin ini menceritakan tentang perjuangan melawan alien di sebuah kota pelabuhan bernama Hope. Sungguh, sebuah metafora judul yang sangat harfiah, sampai saya bingung harus kagum atau tepuk jidat. Plot twist sih, hahaha.
Kekecewaan saya, ternyata awal dari rentetan kekecewaan lainnya.
Tapi tunggu dulu, benarkah Hope (2026) seburuk itu? Tidak juga, selain memang nyatanya Hope (2026) mendapat banyak kritikan kekecewaan, film ini sempat mencuri perhatian besar dan bahkan mendapat standing ovation selama 7 menit di Festival Film Cannes 2026.
Saya pun dibuat penasaran, kok bisa? Di luar masalah tradisi, Hope (2026) tidak mendapatkan tepuk tangan kosong. Para penonton Cannes benar-benar terpesona oleh satu jam pertama film ini. Kritikus dari Deadline saat itu memujinya sebagai "karya genre aksi superior yang jauh melampaui apa pun yang diproduksi Hollywood saat ini".
Jarang ada film bergenre fiksi ilmiah invasi alien yang berhasil menembus kompetisi utama Cannes Film Festival untuk memperebutkan Palme d'Or. Hope (2026) bukan sekadar film laga hiburan biasa, ia punya kedalaman psikologis, sinematografi yang megah, serta ketegangan yang dibangun secara brilian.
Tapi, seperti kata pepatah, selera memang subjektif. Sebagai penikmat film awam bermodal beli tiket bioskop non-subsidi festival film, tapi hasil baru gajian, punya catatan tersendiri.
Mengapa film dengan budget hampir 1 triliun Rupiah ini bisa terasa begitu bikin frustasi tapi juga bikin berdecak kagum? Adakah sisi bagusnya di film ini? Mari kita bedah kekacauan nan indah dari Hope (2026) satu per satu.
Satu Jam Pertama yang Hampir Bikin Walkout Bioskop
Yap itu benar, karena paruh pertama saya disuguhkan aksi kejar-mengejar alien yang wujud aslinya baru diperlihatkan mendekati detik-detik terakhir paruh pertama. Melelahkan tapi juga penasaran, ini alien-nya kapan nongolnya sih??
Saya lupa bahwa Hope (2026) adalah film Korea yang memang cenderung lebih mengedepankan sisi emosional tokohnya, jauh berbeda dengan film-film alien Hollywood yang heroik.
Selama satu jam pertama, saya "dipaksa" mengikuti polisi bernama Ko Bum-seok (Hwang Jung-min) yang ketakutan setengah mati tapi harus mengikuti naluri kepolisiannya, mencari si monster dan memburunya di seluruh sudut kota. Umpatan khas Korea seperti 씨발 (Ssibal) dan 새끼야 (Sekki-ya) meluncur bebas di sepanjang film bagian pertama.
Puncaknya, adegan gore dan mayat di mana-mana membuat saya enggan melanjutkan menikmati popcorn dan memilih menelan ludah.
Satu-satunya penyelamat film ini di paruh pertama adalah aksi heroik rekan polisi wanita Bum-Seok bernama Im Sung-ae yang diperankan Jung Ho-yeon, yang sempat viral sebagai pemain Squid Game (2021).
Im Sung-ae datang secara tiba-tiba dengan mobil patrolinya di tengah aksi kejar-kejaran Bum-seok dengan si monster yang akhirnya muncul. Im Sung-ae melakukan putaran rem tangan yang sempurna, lalu keluar dari mobil sembari membawa senapan dengan gagah berani dan mulai membombardir habis-habisan si monster.
Tentu saja mereka gagal dan scene pun berlanjut seputar aksi kejar-mengejar, dan saya sempat terenyuh ketika scene melambat dan memperlihatkan slow motion Bum-seok menatap tajam mata si monster dan mendapatkannya seakan menangis. Bum-seok pun sempat gentar dan enggan menembak si monster yang kemudian lepas dari jangkauan, terus berlari hingga akhirnya, naas bagi si monster yang mati tertabrak truk besar.
Jung Ho-yeon memang Badass! Tapi tidak dengan Zo In-sung.
Tadinya saya berharap mendapat suguhan film horor-laga yang memuaskan mata dari aksi bela diri Zo In-sung seperti di drakor Moving 2023 atau Film Humint 2026 yang dibintanginya. Nyatanya, yang saya dapatkan adalah versi Korea dari Die Hard-nya Hollywood, Bruce Willis, Hahaha.
Beneran. Zo In-sung jadi tokoh "hese paeh" alias susah mati di film Hope (2026), sementara pemeran lainnya mati dengan mudah bahkan konyol.
Zo In-sung yang memerankan tokoh bernama Ko Sung-ki dilempar jauh, dilempar ke pohon, dikejar alien, sampai puncaknya mendekati ending film dalam aksi kejar-kejaran alien vs mobil polisi yang cukup intens, Zo In-sung "tewas" dihantam pohon saking cepatnya laju mobil. Ironis, sih. Wkwkwk.
Nyatanya, dia tidak mati dan diperlihatkan masih hidup di ending film.
Meskipun Variety bilang film ini adalah film aksi terbaik dan terlucu yang pernah Anda tonton terlepas dari efek makhluk yang kurang memuaskan, tapi saya berpendapat lain.
Film ini hampir bikin saya menyesal nonton di bioskop dan berpikir mending nunggu muncul di layanan streaming legal. Jujur, saya gelisah dan ingin walk out dari bioskop kalau gak ingat udah jajan popcorn mahal. Hahaha.
Ekspektasi saya terlalu besar, mengingat Hope (2026) adalah film Korea pertama yang saya tonton di bioskop.
Kekecewaan Film Hope (2026) yang Berlapis
Selain kekecewaan di atas, Hope (2026) memang menyimpan rentetan poin kekecewaan, seperti wujud Alien yang berbeda-beda, humor jorok, narasi absurd dan ending menggantung.
Pertama, saya dibuat jijik dengan landscape kota pelabuhan Hope yang porak poranda, dan scene ini langsung diperlihatkan begitu Bum-seok mendengar aksi tembak-menembak di pusat kota.
Tentu saja, ada kejutan jumpscarenya setiap kali Bum-seok mengendap, menembak cukup lama, bahkan terlalu lama hampir satu jam! Hingga akhirnya……. muncul sesosok makhluk asing/alien (yang diperankan dalam motion capture oleh Cameron Britton), yang bikin saya mengernyitkan dahi.
Apakah Eren Jaeger nyasar di film Hope (2026)? Karena, si alien pertama mirip banget dengan wujud Attack Titan (Eren Jaeger).
Makanya saya kecewa habis-habisan begitu melihat penampakan alien kedua dan ketiga yang jauh lebih "indah", apalagi wujud alien bernama J'aur (Alicia Vikander) yang di akhir film diketahui sebagai Sang permaisuri alias pemimpin tertinggi dari rombongan alien Hollywood tersebut.
Kedua, narasinya dangkal sejak awal.
Jika memang sejak awal ingin menunjukkan kemisteriusan si alien, kenapa narasi di paruh pertama hanya soal kejar-kejaran? Bahkan memakan waktu hingga satu jam? Kan bisa sedikit sneak peek tentang kedatangan alien, sedikit percakapan antar alien di pesawat? Like, wasting time gak sih? Kan bisa dijelaskan dari awal?
Saya paham sih kenapa cuman ya gereget aja gitu.
Sepertinya Na Hong-jin sengaja menciptakan atmosfer ketegangan (shrouded in mystery) di paruh pertama yang tampak meminjam ciri khas film Jaws (1975) karya Steven Spielberg.
Alih-alih mengandalkan CGI alien yang mahal sejak awal, film ini dengan cerdas memanfaatkan rasa takut manusia terhadap ketidakpastian dan membiarkan desain produksi Lee Hwok-young menanamkan rasa ngeri dengan menunjukkan akibat dari amukan si monster tanpa memperlihatkannya hingga detik terakhir paruh pertama dan menampilkannya secara penuh di paruh kedua.
Secara teori kritik film, ini langkah yang cerdas. Tapi bagi saya sebagai penonton awam di dalam bioskop? Strategi ini justru beneran menguji iman dan rasa kantuk.
Ketiga, yang paling mengganggu dari film ini adalah humor toilet yang sempat muncul di dua pertiga film, dimana seorang kakek tua yang sedang dirawat Im Sung-ae bercerita bahwa dia pernah bertemu alien itu beberapa waktu lalu.
Dia bercerita bahwa saat itu dia sedang pergi ke hutan dan tiba-tiba dia sakit perut lantas mencari tempat untuk buang air. Ketika dia mulai buang air, dia melihat empat makhluk asing. Panik pun tak bisa dihindari dan dia tidak boleh bersuara apalagi berteriak karena nyawa taruhannya.
Sialnya, karena takut, dia tahan BABnya dan menutup pantatnya menggunakan tangan agar tidak bersuara. Kemudian dia menutup mulutnya menggunakan tangan yang dia sendiri lupa, apakah tangan bekas menutup pantat atau bukan. Jorok banget kan?
Saya spontan berkata, “ Ih geuleuh, jorok! “, tapi penonton lain di bioskop tertawa sih, karena gak ada pilihan komedi kan? Yah lucuin aja deh, hahaha. Lumayanlah jadi hiburan garing ditengah scene yang melelahkan.
Kekecewaan berlapis pun memuncak ketika saya disuguhkan akhir cerita yang gak jelas. Setelah puas membabi buta manusia, diperlihatkan drama alien ratu yang menangis(Alicia Vikander). Like... film apaan sih ini? Dari horor invasi alien brutal, mendadak berubah jadi sinetron keluarga antar-galaksi, kocak!
Kenapa CGI Hope (2026) Buruk? Ini Alasannya
Meski visual paruh pertama bikin saya mual, saya tetap kagum dengan detail yang ditampilkan hingga saya berujar dalam hati, "Wah Ini beneran film berbudget mahal sih, satu kota hancur!" Dan nyatanya demikian.
Digadang-gadang sebagai film termahal di sepanjang sejarah film Korea, Hope (2026) menghabiskan biaya produksi mencapai 50 hingga 70 miliar Won (setara dengan $46 juta hingga $74,3 juta USD, atau sekitar Rp 715 miliar hingga Rp1,1 triliun).
Karena modalnya yang besar inilah kritikus dan netizen menjadi "murka" dan "geram" dalam menilai kualitas visual CGI Hope (2026).
Menariknya, sutradara Na Hong-jin sendiri tidak defensif. dalam wawancaranya dengan Asiae, ia mengakui kesalahannya dengan berujar, "Making aliens run around under the sun was my mistake."
Ternyata, alih-alih memanipulasi pencahayaan secara digital di dalam studio indoor yang aman, Na Hong-jin menantang tim VFX dengan merekam adegan kejar-kejaran alien secara langsung di bawah terik matahari di Haenam (Korea Selatan) dan hutan Retezat (Rumania).
Demi mempertahankan rasa penasaran audiens, tim produksi harus membuat lebih dari 400 creature shots yang semuanya digarap secara manual. Mulai dari stunt performer dengan model tiruan fisik, motion capture tradisional, penghancuran kota menggunakan green rig, hingga kamera rigs mekanis. Jelas tidak ada jalan pintas teknologi AI di sini. Semua digarap dengan keringat dan trial-and-error yang bikin saya rela memberikan dua jempol.
Tapi yang aneh, kenapa juga aliennya nongol siang bolong? Sementara kebanyakan film alien tuh malam hari.
Alih-alih memanipulasi pencahayaan secara digital di studio indoor, Na Hong-jin menantang tim VFX dengan merekam adegan kejar-kejaran alien secara langsung di bawah sinar matahari di Haenam (Korea Selatan) dan hutan Retezat (Rumania).
Bisa dibilang, ini keputusan yang berani tapi bunuh diri karena sutradara lain yang juga idealis, Denis Villeneuve (Arrival, 2016) dan Neill Blomkamp (District 9, 2009) berhasil menampilkan alien di siang bolong dengan CGI manual.
Tidak adil memang membandingkan Hope (2026) dengan Arrival atau District 9, karena mereka punya infrastruktur VFX yang sudah matang puluhan tahun, plus waktu pascaproduksi lebih dari satu tahun. Hope? Baru pertama kali coba, dan dikejar deadline pula!
At least, saya cukup bangga dengan Hope (2026) karena menjadi adalah salah satu proyek fiksi ilmiah orisinal pertama dari Korea Selatan yang berani keluar dari zona nyaman studio tertutup.
Jadi, kegagalan visual Hope (2026) bukan karena teknik manualnya buruk, melainkan Na Hong-jin memilih tingkat kesulitan paling tinggi dalam dunia VFX dengan waktu pascaproduksi yang sempat terburu-buru untuk mengejar tenggat festival Cannes.
Ehm, jadi intinya deadline biar bisa masuk Cannes? Apakah sebanding dengan hasilnya? Secara kualitas visual awal, tidak sebanding. Tetapi secara publisitas industri, sangat menguntungkan.
Meskipun kritikus film internasional masih terbelah layaknya amoeba, strategi revisi pasca-Cannes ini sangat berhasil memikat penonton awam. Di Korea Selatan saja, versi final Hope (2026) langsung meledak menjadi film dengan pendapatan tercepat, menjual hingga 2,6 juta tiket hanya dalam waktu 5 hari penayangan.
Sinematografer Hong Kyung-pyo yang Menyelamatkan Hope (2026)
Sebetulnya menyenangkan melihat bagaimana film ini dibuat dengan luar biasa teliti dan penuh pertimbangan.
Satu-satunya pelampung di tengah semua kekecewaan itu adalah momen-momen di mana Hope (2026), benar-benar menunjukkan kualitasnya lewat tangan ajaib sang sinematografer, Hong Kyung-pyo yang cerdas dalam mengarahkan kamera, seperti adegan kejar-kejaran mobil polisi vs alien diakhir paruh pertama dan paruh kedua.
Di akhir paruh pertama, kamera Hong Kyung-pyo tidak hanya diam menonton, tetapi ikut meluncur dengan sangat cepat mengikuti arah mobil yang kendarai Im Sung-ae dan Bum-seok.
Begitu juga di paruh kedua, gerakan kamera terasa begitu smooth dengan angle zoom-in lalu zoom-out, bahkan saya merasa ikut berlari di depan Zo in-sung yang menaiki kuda di paruh kedua ketika dia melarikan diri dari alien Ma'veyyo dalam bentuk quadruped.
Tak berhenti di sana, momen ketika Ko Sung-ki (Zo In-sung) dipaksa loncat dari kuda ke mobil patroli pamannya, Bum-seok, yang sedang melaju kencang juga dieksekusi dengan brilian. Kamera berpindah ke arah depan, menangkap momen dramatis bin kocak saat Sung-ki menolak lompat karena ketakutan, sementara Bum-seok setengah memaksanya.
Karena alien Ma'veyyo sudah sangat dekat, Sung-ki akhirnya nekat melompat dan berpegangan pada lampu sirine mobil polisi yang bertengger lemah.Ya, akhirnya beneran copot dan Sung-ki langsung terpelanting ke luar badan mobil.
Beruntung, Sung-ae menangkap badanya sementara pamannya, Bum-seok, dengan sigap langsung menyambar dan memegangi kaki Sung-ki sekuat tenaga agar ponakannya itu tidak langsung terseret aspal.
Layaknya dikejar deadline mepet, Ko Sung-ki menyuruh Sung-ae mengambil bazooka dan Boom! Si alien kalah dan Euphoria meledak.
Bahkan Sung-ae teriak kegirangan, “Oppa!! kamu bagai bintang film! Oppa saranghae!!!” hingga mereka tak sadar kaki Ko Sung-ki lepas dari pegangan, terpental ranting daun, darah muncrat menempel wajah Sung-ae. dan suasana getir pun menghentak seakan menjadi ironi yang kelabu pasca kemenangan prematur.
Belum usai melepas kepergian Ko Sung-ki, mereka dikejutkan dengan kemunculan pesawat alien yang hancur, jatuh dari langit dan menerjang perbukitan lalu, Boom!!! Bagai efek bom nuklir, gelombang kejut yang maha dahsyat langsung menyapu daratan.
Jadi, meskipun CGI-nya bikin mata gak nyaman dan endingnya absurd, Hope (2026) punya momen-momen di mana film ini benar-benar hidup. Sinematografinya menunjukkan bahwa di balik kekacauan visual alien, ada otak yang bekerja, ada keberanian yang jarang ditemui di sinema Asia.
Pesan Sarkasme di Film Hope (2026): Satire Sosial yang Bikin Manggut-Manggut
Selain aspek sinematografi yang jempolan, film Hope (2026) juga menyembunyikan narasi sarkasme yang cukup kental. Mirip seperti film peraih Oscar, Parasite (2019), film ini juga menyisipkan pesan satire tak kasat mata di balik setiap kekacauannya.
Seperti saya yang kegocek dari judul film ini, kota Hope Harbor itu sendiri sebuah ironi tersendiri.
Kota ini digambarkan seperti sebuah "purgatory" (api penyucian) sehari-hari bagi warganya, lengkap dengan pagar kawat berduri, ranjau darat, dan papan peringatan militer yang mendesak warga untuk "Lindungi bangsa dari infiltrasi". Sebuah lingkungan yang sejak awal sudah memupuk paranoia akut.
Selain soal judul, adegan satire paling telak terjadi ketika Bum-seok dan seorang kakek berjanggut menembak membabi buta ke arah "alien" di balik pintu tertutup. Ketika pintu dibuka, tebak apa yang mereka dapat? Bukan alien, melainkan tukang daging setempat yang sedang asyik menelepon istrinya!
Bum-seok dan si kakek langsung panik setengah mati. Pertengkaran hebat pun pecah di antara mereka; saling menyalahkan, lempar tanggung jawab, lengkap dengan dialog penuh umpatan Korea yang kasar. Adegan ini adalah analogi eksplisit yang sangat cerdas untuk menyindir perilaku elite politik di dunia nyata ketika membuat kebijakan blunder lalu sibuk cuci tangan.
Sarkasme lain muncul di kantor polisi, di mana ada karakter anak walikota yang bisa jadi polisi jalur nepotisme. Dengan kompetensi yang meragukan, dia menginterogasi Yang-bae (Eum Moon-suk), warga lokal eksentrik yang mengaku telah menembak dan menangkap bayi alien. Ketika Bum-seok dan tim memeriksa rumah Yang-bae yang jorok dan berantakan, kita disuguhkan nuansa satir sosial yang tajam, dikemas dalam humor yang bikin mual sekaligus ngeri.
Na Hong-jin juga sangat konsisten menggambarkan aparat kepolisian sebagai sosok yang bumbling (konyol) dan way out of their depth (tidak kompeten) lewat karakter utama kita, Bum-seok. Alih-alih memimpin evakuasi warga dengan tenang, sang kepala polisi ini justru menjadi orang yang paling panik, sibuk mengumpat, dan berlari tanpa arah karena ketakutan.
Namun, bagian yang paling menusuk dari film ini adalah bagaimana Na Hong-jin mengangkat tema xenofobia dan masalah imigran. Para alien di sini sebenarnya digambarkan sebagai makhluk yang terdampar, terluka, dan frustrasi.
Sementara umat manusia langsung membantainya tanpa pernah mau bertanya.
Memang benar, manusia menembak karena mereka diserang duluan. Tapi akar dari seluruh petaka ini adalah satu: kematian seekor bayi alien yang dibunuh lantas diawetkan di dalam freezer oleh Yang-bae. Ras alien tersebut mengamuk dan menginvasi kota hanya karena anak dari sang ratu alien dibantai oleh manusia.
Dua-duanya sama-sama kehilangan dan tidak bisa memahami satu sama lain. Intinya, miskomunikasi? Bukan, melainkan keserakahan manusia itu sendiri yang digambarkan oleh tindakan Yang Bae.
Alur cerita seperti ini sebetulnya sidik jari sinematik Na Hong-jin.
Penasaran Dengan Season 2 Hope (2026)? Ini Bocorannya
Hope (2026) bukan film Korea yang sempurna dan menimbulkan after effect rasa kecewa yang cukup dalam.
Tapi, saya gak menyesal nonton film Hope (2026) telah meluangkan waktu dan modal gajian untuk menontonnya di layar lebar. Biar bagaimanapun, Hope (2026) telah berhasil menampilkan pesan satir sosial yang provokatif dan sukses memantik rasa penasaran penonton untuk menantikan kelanjutan ceritanya.
Kabarnya, naskah bagian kedua sudah selesai sebelum film pertama didistribusikan secara global. Wah, saya senang luar biasa.
Saat konferensi pers di Festival Film Cannes, sutradara Na Hong-jin mengonfirmasi bahwa naskah untuk sekuel Hope (2026) sudah rampung ditulis dan diproyeksikan menjadi trilogi film fiksi ilmiah monster berskala besar.
Kebalikan dari film pertama yang seluruhnya terjadi di siang bolong, Na Hong-jin membocorkan bahwa Hope 2 akan berlatar pada malam hari, bantuan militer akan datang. Ya kali sisa penduduk Hope Harbor yang mostly "aki-aki" bisa melawan alien level Venom yang susah mati?
Tapi jangan dulu senang.
Meskipun naskahnya sudah siap, status produksi Hope 2 sendiri masih dalam tahap diskusi. Belum ada konfirmasi resmi mengenai jadwal produksi. Tapi setidaknya, kita tahu bahwa ceritanya sudah ada dan itu cukup untuk bikin saya dan mungkin kamu, akan tetap menunggu.
Kesimpulan: Jadi, Film Hope (2026) Bagus Gak Sih?
Film ini gak bagus-bagus amat, tapi juga gak sejelek yang dituduhkan netizen di medsos.
Saya kecewa? Iya.
Saya pengen walk out? Hampir.
Saya nyesel nonton? Enggak.
Kenapa enggak? Karena Hope (2026) adalah film yang berani keluar dari zona nyaman sinema Korea, berani syuting alien di siang bolong, dan berani bikin ending yang absurd tapi bikin penasaran.
Keberanian itu gak selalu menghasilkan film yang sempurna, tapi setidaknya, Hope (2026) bukan film yang membosankan yang cuma ikut-ikutan formula Hollywood.
Kekuatan utama Hope (2026) justru terletak pada cara Na Hong-jin membangun ketegangan dari hal-hal yang paling mendasar, kepanikan massal, paranoia antar-warga, dan konflik sosial yang pecah di tengah isolasi.
Na Hong-jin tidak buru-buru menampilkan monsternya dan membiarkan rasa takut itu merambat perlahan, dari satu rumah ke rumah lain, dari satu bisik-bisik ke tembakan panik. Dan ketika alien itu akhirnya menampakkan diri, penonton sudah berada di puncak histeria. Paruh kedua film pun berubah menjadi wahana menegangkan yang tak kenal ampun.
Jadi, layak ditonton atau enggak? Layak, tapi dengan catatan.
Kalau kamu cuma mau nonton film alien yang ringan, menghibur, dan seru dari awal sampai akhir, mending skip aja. Karena kamu bakalan kecewa.
Tapi kalau kamu masih bisa menikmati film meskipun ada “cacat” nya dan agak “kudu mikir”, maka tontonlah di bioskop kalau masih tayang atau tunggu di streaming legal.
Bagi saya sendiri, Hope (2026) adalah film yang berhasil bikin saya kecewa, kesal, kagum, dan penasaran, dalam satu waktu. Dan itu bukan film yang mudah dilupakan sampai saya menulis review sepanjang ini.
Standing ovation dari saya untuk Hope 2026, film bergenre sci-fi action-horror thriller paling bikin overthinking tahun ini yang hampir bikin saya walk out tapi berhasil bertahan, gak cuman karena Popcorn mahal yang terlanjur dibeli tapi memang, ketegangannya gokil!
Info Praktis
- Judul: Hope (2026)
- Sutradara: Na Hong-jin
- Produser: Na Hong-jin, Kim Sae-mie, Kim Sae-rom
- Penulis: Na Hong-jin
- Durasi: 156 menit
- Genre: Fiksi ilmiah, thriller, aksi (epic science fiction action thriller film)
- Penata musik: Michael Abels
- Sinematografer: Hong Kyung-pyo
- Editor: Kim Sun-min
- Perusahaan Produksi : Forged Films, Plus M Entertainment
- Distributor: Plus M Entertainment
- Pemain: Hwang Jung-min, Zo In-sung, Jung Ho-yeon, Michael Fassbender, Alicia Vikander, Cameron Britton
- Tanggal rilis: 17 Mei 2026 (Cannes), 15 Juli 2026 (Korea Selatan)
- Tayang di Indonesia: Bioskop sejak 9 September 2026
- Streaming: Belum ada informasi resmi apakah Hope (2026) akan tayang di Netflix atau platform streaming legal lainnya.
Daftar Referensi
- Bui, Hoai-Tran. "Hope Ending Explained: Na Hong-jin on the Sequel, That Final Shot, and More." Inverse, 9 September 2026. https://www.inverse.com/entertainment/hope-ending-explained-na-hong-jin-interview
- "Na Hong-jin Interview: Hope Sequel Plans." The Hollywood Reporter, 16 September 2026. https://www.hollywoodreporter.com/movies/movie-features/na-hong-jin-interview-hope-sequel-plans-1236703204/
- "Hope Sequel Already Written, Director Na Hong-jin Says at Cannes." Variety, Mei 2026. https://variety.com/2026/film/festivals/hope-sequel-already-written-director-na-hong-jin-cannes-1236752316/
- "Hope 2 Gets Strong Tease." Yahoo Entertainment, 2026. https://www.yahoo.com/entertainment/movies/articles/hope-2-gets-strong-tease-183242001.html
- "Review Film Hope (2026)." CNN Indonesia, 11 September 2026. https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20260911065701-220-1402626/review-film-hope-2026
- "Hope Review: Na Hong-jin's Sci-Fi Spectacular." Variety, 2026. https://variety.com/2026/film/reviews/hope-review-na-hong-jin-1236750496/
- "Making Hope: Na Hong-jin's Sci-Fi Spectacular and Most Expensive Korean Film Ever." South China Morning Post, 8 September 2026. https://www.scmp.com/lifestyle/k-drama/k-movies/article/3366596/making-hope-na-hong-jins-sci-fi-spectacular-and-most-expensive-korean-film-ever
- "Na Hong-jin Buka-bukaan Soal Bentuk Alien di Film Hope." CNN Indonesia, 10 September 2026. https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20260910084332-220-1402220/na-hong-jin-buka-bukaan-soal-bentuk-alien-di-film-hope
- "Hope: Na Hong-jin's Challenges Filming Aliens in Daylight." Asiae, 14 Juli 2026. https://www.asiae.co.kr/en/article/2026071310382864687
- "Na Hong-jin Interview with Elle: 400 Creature Shots and Michael Fassbender." SBS News, 9 September 2026. https://news.sbs.co.kr/english/article.do?news_id=N1008666512
- https://en.wikipedia.org/wiki/Hope_(2026_film)
- http://megaboxplusm.co.kr/newupcoming/movie?mcode=FE260106
- https://www.festival-cannes.com/en/press/press-material/film-kit/


Posting Komentar
Posting Komentar