Melepas Impian demi  anak  Bukan Akhir dari Segalanya
Ilustrasi efila art

Melepas Impian demi anak, Bukan Akhir dari Segalanya

Banyak hal yang kita korbankan, sebagai seorang ibu untuk anak-anak kita. Jangan tanya soal waktu dan tenaga, itu sudah pasti. Yang terberat dari semua itu adalah, meninggalkan impian.

 

Menjadi  seorang Arsitektur Lanskap adalah impian saya. Dan dengan terpaksa saya Melepas Impian saya itu layaknya menerbangkan burung merpati, lepas bebas di angkasa. Sedih rasanya, sesak di dada dan membuat saya kehilangan harapan dan semangat. Tapi, saya tidak punya pilihan. 

 

Cerita Awal

 

Tahun 2009, saya memutuskan untuk meneruskan kuliah saya ke jenjang S1 ( dulu lulus DIII ) dan ambil jurusan Arsitektur lanskap. Bukan keputusan mudah untuk kuliah lagi di saat usia saya hampir mendekati 30-an. 

 

Masalah biaya, teman kuliah yang usianya terpaut jauh serta waktu yang harus saya atur agar masih bisa bekerja. Untungya, para dosen sangat mendukung dan berbaik hati mau mengatur jadwal kuliah agar saya masih bisa kuliah sambil bekerja.

 

Tapi, dengan semakin padatnya mata kuliah dan kuliah lapangan. Akhirnya saya harus memilih, antara meninggalkan pekerjaan atau berhenti kuliah. Dilema yang terasa sangat berat, sungguh.

 

Karena di satu sisi, saya masih membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi hidup saya yag sudah tidak bisa lagi bergantung pada ibu saya. Tapi di sisi lain, akhirnya saya menemukan impian dan karir yang ingin saya capai. Yaitu menjadi seorang Arsitektur Lanskap.

 

Bersyukur saya bertemu Dosen yang luar biasa baik hati . Beliau rela merogoh koceknya untuk membiayai kuliah saya satu semester dan mengijinkan saya bekerja dengannya. Menjadi drafter dan assisten dosen. Bahkan, masa depan karir saya sudah beliau rancang sedemikian rupa sehingga saya tidak perlu lagi mengkhawatirkan lapangan pekerjaan setelah lulus kuliah. Saya sangat bersyukur.

 

Lalau Dua tahun kuliah, saya bertemu jodoh saya dan menikah.  Saya tetap kuliah dan Pak Suami mendukung 100%. Dua tahun kemudian saya hamil anak pertama saya, Keenan.

 

Selama hamil, saya ajak Keenan jadi pinter. Karena saya harus sidang skripsi. Saya ajak bimbingan dan  bolak-balik ke tempat penelitian. Rempong gak sih? Iya, banget! Tapi alhamdulillah Paksu selalu setia menemani jadi babang ojeg kemanapun saya  menuju.

 

Ada kejadian lucu  tapi sebetulnya naas  selama masa bimbingan ini. Jadi, waktu itu musim hujan. setiap pulang bimbingan pasti keujanan. Jas hujan selalu siap sedia. Tapi sayangnya waktu itu  hujannya gede banget, udah kaya badai aja. Dan malangnya, perempatan GedeBage, banjir.

 

Akibatnya, motor kami mogok dan terpaksa Paksu mendorong motor melewati batas banjir yang sampai  selutut itu dari perempatan hingga pasar GedeBage. Saya ngikutin dari belakang sambil komat-kamit baca solawat karena takut terpeleset. Saya takut si calon jabang bayi di perut saya yang sudah memasuki usia 8 bulan ini kenapa – napa . Karena saya jalannya sangat lamban dan hati-hati, saya tertinggal cukup jauh dari Paksu dan berusaha mengejar Paksu. Ditengah jalan, tiba-tiba saya terjatuh dan terperosok! Masuk got! Gak keliatan karena tertutup banjir.

 

Semua orang berusaha menolong saya yang berusaha bangkit sambil menangis. Saya gak bisa lihat dimana Suami saya dan saya takut si utun kenapa napa. Seorang bapak-bapak lantas bertanya,

 

Bu, gak apa-apa? Dimana suami ibu? “ tanyanya,

 

Suami saya? Eng ...eng..dimana ya pak suami saya? “ tanya saya balik bertanya sambil menangis.

 

Si Bapak malah bingung dan membantu saya berjalan sampai jalan raya yang tidak tergenang banjir.  Di ujung jalan, tiba-tiba saya melihat sosok suami saya dan berlari  layaknya scene film AADC. Sambil menangis saya teriak,

 

Babah.... Babaaahhh!! “ teriak saya. Paksu kaget melihat saya dan bertanya,

 

Ndaa tadi kemana? Aku nyariin!! Aku takut kamu kenapa – napa! Gpp kan? Kok nangis? “ tanyanya khawatir

 

Tadi aku jatuh ke solokan. Gak keliatan! Aku takut! “ jawabku masih sambil nangis.

Ya Allah! Maafin aku ya ninggalin kamu. Maafin aku belum bisa beliin kita mobil! Maafin yaa.... udah jangan nangis lagi “ jawabnya sambil meluk saya erat-erat.

 

Akhirnya kami pulang, sambil mendorong motor sampai rumah yang jaraknya hampir 5 KM!  Hari itu sungguh luar biasa naas, tapi lucu kalo dipikir – pikir!

 

Kalo mengingat moment itu, sungguh luar biasa perjuangan saya yang tetap meneruskan kuliah sambil hamil besar.

 

Melahirkan Keenan

 

Malam itu saya resah. Perut saya tak enak dan saya sulit tidur karena saya merasakan mules yang tiada henti. Ibu saya bilang saya akan segera melahirkan. Lalu esoknya kami ke bidan. Dan setelah di cek, saya sudah pembukaan satu. Lalu kami pulang dan menunggu di rumah. 

Pukul 10 pagi, saya merasakan mules yang semakin hebat. Tidak kuat rasanya sampai meminta Paksu mengantar saya ke bidan dan menunggu disana sampai saya melahirkan. Dengan gerak cepat Paksu ambil motor dan antar saya ke bidan. 

Lucunya, ditengah jalan sedang ada razia motor. Kami yang naik motor tanpa mengenakan helm, sudah pasti di stop Pak Polisi. 

Selamat siang pak, maaf bapak saya tilang karena tidak menggunakan helm! “ sapa pak polisi, 

Aduh pak! Maaf istri saya ini mau melahirkan! “ jawab Paksu teriak 

Ooohh... aduuuh... baiklah pak! Maaf kalau begitu, ayo cepat segera ke rumah sakit. Hati-hati dijalan ya Pak “ jawab pak polisi yang malah jadi panik dan bingung!  Dan kami pun tidak  jadi ditilang dan kami sampai di bidan dengan selamat, Hehehehe. 

Setelah menunggu hampir 12 jam, pembukaan tetap di angka satu. Gak naik-naik. Bidan akhirnya memutuskan menggunakan induksi agar pembukaan saya cepat naiknya. 

Iya sih jadi cepet naik kaya roket, saking cepetnya saya gak bisa nahan itu rasa mules sampai terus nangis dan meringis. 

Enam jam kemudian akhirnya saya pembukaan 10 dan siap melahirkan. Rasanya? Sakit banget buuu!! Sampai saya ga tahan dan teriak kaya orang gila. Padahal udah komat kamit baca doa dan solawat. Tapi tetep saya gak kuat nahannya. Sampai-sampai pak suami abis babak belur badan sama kepalanya saya cubit , cakar dan jambak rambutnya! Huhuhu, maafkan aku Paksu. 

Alhamdulillah, keenan lahir dengan selamat dan sehat sempurna. Rasanya? Bahagia sekali. Dan gak nyangka. Tapi sayangnya, saya mengalami Ruptur stadium empat yaitu tingkatan tertinggi dalam ruptur perineum setelah melahirkan. 

Robekan ini memanjang hingga ke dinding rektum, dimana jalan lahir sobek parah hingga anus yang berpotensi menyebabkan disfungsi dasar panggul dan saluran pencernaan. Hingga akhirnya bidan menyerah dan membawa saya ke rumah sakit dan saya di operasi bius total. 

Alhamdulillah proses operasi lancar. Tapi tidak dengan proses pembayaran operasi. Total biaya operasi memakan uang hingga 15juta! 

Suami saya sampai syok dan menangis di depan saya setelah saya siuman. Kami tidak punya tabungan sebanyak itu. Kami hanya menyiapkan dana 5 juta saja untuk persalinan. Itupun sudah habis untuk biaya persalinan di bidan. 

Ingin saya memohon bantuan pada ibu, tapi tiba – tiba saya ingat kalau beliau masih menanggung biaya kuliah adik bungsu saya. Lalu saya ingat ayah saya, saya coba telpon beliau tapi sayangnya setelah setengah jam menelpon, panggilan saya tidak dijawab. Orang tua saya sudah bercerai, sehingga suasana ini makin membuat hati saya sedih dan merana. 

Saya tertegun diam dan berfikir segalam macam alternatif solusi. Hingga akhirnya saya memutuskan suatu hal yang saya tau saya akan merasa sangat terpukul dan sedih teramat sangat karenanya. 

Saya lihat, Paksu juga berusaha menelpon kesana dan kemari mencari pinjaman. Tapi sepertinya gagal. Karena beliau datang menghampiri saya dengan wajah sendu. Melihat Paksu begitu kebingungan, akhirnya saya angkat bicara , 

Bah, pake aja uang buat sidang dan wisuda aku “ ucap saya 

Hah? Apa ndaa? Pake uang kuliah ndaa? “ jawab paksu terperangah kaget, 

iyaa..... “ jawabku sambil nangis, 

Tapi ndaa.... “ jawabnya getir 

Gak apa-apa Bah, aku ikhlas “ jawabku berusaha nahan tangisan. 

Lalu kami saling memandang dan berpelukan. Ya Allah, sesungguhnya aku sedih dan bingung. Tapi, kami tak punya pilihan.

Keputusan Akhir


Akhirnya, inilah moment dimana saya harus melepas impian terbesar saya demi kesembuhan saya setelah melahirkan keenan, anak pertama kami. Saya sedih? Tentu. Kecewa? Tidak. 

Pada akhirnya saya merasa, menjadi Arsitektur Lanskap mungkin bukan jodoh saya. Mungkin Allah hendak mengantarkan saya menuju impian lain dan menyiapkan saya untuk rencanaNYA yang lebih besar. Wallahualam. 

Terkadang saya merana, setiap kali Dosen yang baik hati itu menelpon atau watsapp menanyakan kabar saya dan menyemangati saya untuk meneruskan kuliah. Tapi dengan berat hati saya selalu menolak dengan alasan anak saya tidak ada yang menjaga. Padahal, sesungguhnya bukan itu alasannya. 

Ingin rasanya meneruskan kembali, tapi situasi finansial kami masih belum stabil. Usaha Paksu juga masih dirintis sementara kebutuhan bayi dan rumah tangga selalu meminta tiada henti setiap hari. 

Akhirnya, saya ikhlaskan dan melepas Impian saya. 

Tapi, Allah itu memang Maha Baik dan Penyayang. Seiring berjalannya waktu , akhirnya saya menemukan impian baru. Menjadi illustrator dan Menulis. 

Iya, saya tetap meneruskan hobi menggambar saya hingga berbuah manis yaitu di pinang saah satu clothing di Bandung dan menjadi illustrator mereka selama hampir 5 tahun terakhir. 

Saya juga kembali menekuni hobi saya yang lain yaitu menulis di Blog dan memutuskan untuk menjadi Blogger. Akhirnya, disinilah passion saya tertambat dan berlabuh. Entah ada rencana besar apa yang Allah siapkan untuk saya di impian baru saya ini. Apapun itu, saya tetap bersyukur. Karena melalui menulis, saya bertemu banyak relasi dan kawan baru yang saling support dan menyemangati. Dan yang paling utama, saling menguatkan dan menginspirasi. Untuk yang satu ini, saya tidak bisa berhenti bersyukur. Terimakasih Ya Allah. 

Terkadang, rencana yang sedemikian dirancang degan sempurna pada akhirnya bisa ambyar dan tidak tercapai. Terkesan tidak adil memang, tapi rencaa Allah lebih besar dan hebat dari rencana kita manusia. Jadi, tidak apa akhirnya saya tidak menjadi Arsitektur Lanskap. Karena sekarang saya menjadi “arsitektur” masa depan anak-anak saya. 

END

-----------------------------------------

Tulisan ini memenangkan juara pertama dalam sayembara menulis Paidguestpost#1 bertema THOUGHT yang diselengarakan oleh pemilik blog CREAMENO 




Saya masih ingat alasan mengapa saya mengusulkan tema challenge Tanos bulan September pada partner saya Renovrainbow adalah #walkingchallenge, yaitu 

" Teh, aku tuh pengen banget gak gampang cape kalo abis beraktivitas padat, bikin challenge olahraga yuk! " 

Dan Renov setuju walau sesungguhnya saya tau do'i lebih rajin olahraga dibanding saya, hehehe. I really want to say thank's a lot to you sis, karena sudah mewujudkan harapan emak yang mulai melar badannya selama masa pandemi ini, hihihi. 

Lalu digelar lah Tanos walking challenge yang berlangsung pada tanggal 07 - 13 September 2020. Dan kali ini, kami sepakat untuk mengajak teman satu komunitas kami di 1minggu1cerita dan teman - teman kami yang lainnya lewat undangan terbuka di platform social media Instagram. 


Review Tantangan

Lalu bagaimana pengalaman saya sendiri selama melaksanakan tantangan kali ini? 
apakah masih suka cepat lelah setelah beraktivias? 
apakah ingin meneruskan tantangan?

Klise jika saya katakan anak-anak jadi alasan, tapi demikianlah adanya guys! hihihi. Jadi, rute saya hampir selalu sama setiap hari, yaitu keliling lapangan terdekat di rumah atau keliling RW. Karena, anak-anak gak mau diajak jalan-jalan terlalu jauh. Iya sih, kasian ya jalan jauh bisa bikin kaki mereka pegal-pegal. Dan saya juga gak bisa berjalan lebih dari 20 menit walau sangat ingin, percayalah. Baru muter satu keliling aja, Kilan udah histeris minta pulang! wkwkwk. Jadi, emak harus mengeluarkan jurus, " Jajan lah sama kakak ya, nih uangnya " hehehehe. Aman.

Karena ini olahraga ringan, jadi efeknya juga ringan. Belum bisa membuat saya turun BB ( hadeeuuhh yang emak harapkan terlalu besar ya! hehehe ) tetapi cukup menjadi pembuka bagi emak untuk kembali zumba di rumah. Iya, olahraga favorit saya memang zumba. selain mudah, murah dan dirumah. Jadi anak-anak gak akan meraung-raung minta pulang atau ini dan itu, hehehehe.





Berbeda dengan cerita saya yang itu-itu aja, partner terbaik saya kak Renovrainbow memiliki cerita yang berwarna dengan menelusuri kota Wuppertal dimana do'i tinggal sekarang. Keren lah.

Btw, Ilustrasi artikel ini kaya yang gak nyambung sama bahasan ya? hihihi. Nyambung kok bagi yang suka nonton animasi karya Studio Ghibli, " Kiki Delivery Service"  pasti ngeh.. Disana diceritakan kalo kiki kabur dari rumah karena ingin mengejar impiannya menjadi penyihir dan di kota itulah dia ketemu banyak orang-orang baru yang baik hati dan mendukung kiki menjadi penyihir. 

Ibaratnya, Tanos walking challenge itu begitu bagi saya. Mungkin sebagian peserta ada yang sudah saling mengenal, tapi saya tidak mengenal semua terkecuali Kak Renov, teh Ail dan Kak Hani karena kami tergabung dalam komunitas 1m1c. Dan suatu kehormatan serta kebahagiaan tersendiri bagi saya untuk bisa berkenalan dengan teman-teman yang lain.

Harapan di luar pengharapan


Alhamdulillah, respon dan antusiasme dari partisipan luar biasa. Bahkan di luar harapan kami. Semua partisipan semangat dan saya sendiri merasa sangat terharu sekaligus terhibur dengan caption kocak para partisipan. 

Semangat para partisipan dalam mengikuti #tanoswalkingchallenge ini bahkan mengalahkan saya sebagai panitia, hehehe. Betapa tidak, para partisipan bahkan berjalan hingga melebihi batas minimal syarat tantangan ini yaitu yang hanya 20 menit saja. Rata - rata para partisipan berjalan hingga 1 - 3 jam per hari. Luar biasa bukan? tentu dengen menerapkan protokol kesehatan ya yaitu jaga jarak dan mengenakan masker.

Satu hadiah yang kami terima selama tantangan ini adalah bahwa kegiatan tantangan kali ini di liput oleh salah satu peserta partisipan yang biasa kami panggil dengan #pejuangtanos, yaitu Kang Huyogo yang ternyata adalah seorang wartawan. Beliau meliput kegiatan Tanos walking challenge di portal media online Liputan 6. Alhamdulillah. Saya berasa jadi artis, hihihihi. Terimakasih banyak Kang. 







Apa kata mereka


Alhamdulillah, reson dari setiap partisipan luar biasa. Soal semangat jangan ditanya deh. Semua sangat semangat. Siapa aja sih para pejuang Tanos yang hebat - hebat itu? ini diaaa

  1. Kak Adi
  2. Kak Ani,
  3. Kak Anil,
  4. Kak Devina,
  5. Kak Dita,
  6. Kak Endah “Kebuli Bandung”,
  7. Kak Hani,
  8. Kak Hugo,
  9. Kak Meti,
  10. Kak Michelle,
  11. Kak Netta,
  12. Kak Thea,
  13. Kak Vivi. 


Saya sangat bersyukur juga sangat menghargai apresiasi dari para pejuang Tanos hingga dituangkan dalam sebuah tulisan tersendiri di blog para pejuang tanos yaitu Kak Anilawati  Devina, Vivi dan kak HaniTerimakasih banyak ya. 


Yuk kita simak testimoni dari para pejuang tanos di hari terakhir #tanoswalkingchallenge berikut ini.




















Selanjutnya ada apa ya?
Melihat antusiasme para pejuang Tanos yang masih semangat melakukan challenge bahkan hingga tantangan usai dan juga beberapa teman kami yang ingin bergabung, maka challenge ini akan diperpanjang hingga batas waktu ..... tidak ada batasnya! hehehe.





Semoga tantangan ini bisa menjadi sebuah kebiasaan baru yang positif ya teman - teman. Bagi yang mau ikutan #tanoswalkingchallenge generasi kedua, ciee.... yuk ikutan. Caranya gampang banget. Cukup repost postingan di feed kak Renovrainbow di akun IG nya @renovrainbow yaaa... sampai ketemu di  #tanoswalkingchallenge

Salam Tanos


Cerita #tanoswalkingchallenge hari ini

It's Final Day!!! Horeeee

Yes, hari ini adalah hari terakhir Tanos walking challenge. Akhirnya berhasil melaksanakan tantangan selama tujuh hari tujuh malam, eh....enggak deng, hanya tujuh hari saja! hihihi

Hari ini masih berlanjut di rumah nenek. Kali ini ambil rute mencari Mang Bacang judulnya. Karena Kilan keukeuh pengen . Kita bertiga jalan melewati jalan komplek dan bertemu hal - hal unik di perjalanan.

Seperti,  ketemu cafe yang bangunanya bangus banget. Dengan tanaman rambat bebrunga putih menjuntai dari atap hingga jendela. Serasa ada  di bali . Lalu ketemu tupai! iua tupai tapi dalam sangkar burung yang tinggi dan besar. Kasian banget sih aku liatnya. 

Apalagi ya, oh ojol ojol ada truk gede ikut parkir belakang rumah dan nemu tulisan unik. Jalan kakinya 21 menit lumayanlah ya.

Hatur nuhun pisan buat partner terbaik, renovrainbow dan juga semua pejuang tanos yang udah konsisten dan semangatnya luar biasa mengalahkan kami paniciaaa, hihihihi











Para Pejuang Tanos


Apa kabar para #pejuangtanos lainnya ya? Silahkan klik link di masing-masing profil para pejuang Tanos di bawah ini ya.


3. Vivi
4. Dita 
9.  Bundav_26
10 Meti

Winner Of Today : Day 7


Dan yah, seperti biasa. Saking gemes dan terpukaunya dengan semua cerita, saya dan kak renov kebingungan nih pilih yang mana. Tapi akhirnya, kami memutuskan, kak Meti dan Kak Adi sebagai winner of today .  Selamat ya kak  (^__^)




Cerita #tanoswalkingchallenge hari ini


Hari ini, saya memboyong anak-anak berkunjung ke rumah neneknya yaitu ibu kandung saya ke Panyileukan. Lama nian tak berjumpa, hati sudah rindu begitu pula tubuh ini. Kenapa? soalnya kalo pulang ke rumah ibu itu artinya saya cuti jadi ibu rumah tangga, hahahaha. Anak macam apa ya saya ini, hihihi. 

Yah, ngitung-ngitung saya istirahat dari rutinitas rumah tangga lah beberapa hari. Lantas paksu? dirumah dong kan work from home, hehehehe.

Jadi, hari ini saya Tanos walking challenge nya di sini. Asyik gak? asyik lah karena walking challenge nya mengelilingi lapangan samping rumah sambil nostalgia, hehehe. Jadi, saya walking challenge keliling lapangan dan anak - anak main ayunan atau  jungkitan. Jadi saya bisa walking challenge lepas tangan, hahahaha

Sayang, hari ini saya gak pake tracker. Tapi tetep konsisten kok, selama 20 menit. Kenapa sih saya benar - benar mengikuti aturan 20 menit? padahal #pejuangtanos yang lain bahkan ada yang sampai 3 jam lebih lho?? 

Percayalah Fernando, sesungguhnya aku pun ingin demikian. Tapi apa daya, jangankan 3 jam, 20 menit aja ini selama walking challenge di kasih backsound rengekan anak-anak minta pulang! hahahaha. Kan pengennya mah sambil santai lepas tangan ( gak megang tangan si kecil ) sambil dengerin lagu kesukaan si blekping, be te es dan jidel, hihihihi

Tapi ya, dinikmati saja apa adanya akhirnya. 

Eh, seperti apa ya keseruan cerita Kak Renovrainbow hari ini?






Para Pejuang Tanos


Apa kabar para #pejuangtanos lainnya ya? Silahkan klik link di masing-masing profil para pejuang Tanos di bawah ini ya.

3. Vivi
4. Dita 
9.  Bundav_26
10 Meti

Winner Of Today : Day 6


Dan yah, seperti biasa. Saking gemes dan terpukaunya dengan semua cerita, saya dan kak renov kebingungan nih pilih yang mana. Tapi akhirnya, kami memutuskan, kak Adi dan kak Anil  sebagai winner of today .  Selamat ya kak  (^__^)









Adakah teman-teman yang pernah mengalami alergi antibiotik? Suami saya pernah lho mengalami gejala alergi antibiotik yang cukup parah. Begini nih ceritanya. 

Pengalaman menggunakan antibiotik


Tahun lalu, suami saya sakit flu parah. Awalnya enggan ke dokter, tapi setelah saya paksa akhirnya mau juga. Tapi, suami maunya ke dokter langganan keluarga yang sebetulnya sang dokter  bukan dokter, tapi bidan praktek yang biasa mengobati sakit ringan. Saya ragu karena saya sih gak cocok berobat kesana.

Ya sudahlah, saya turuti saja kemauan suami.  Setelah pulang dari dokter itu dan makan obat, besoknya  kulit kaki dan tangannya Suami muncul ruam berwarna merah. Terus saya tanya di gigit serangga gak? Jawabnya enggak. Atau kaligata kali, jawabnya juga bukan.

Lalu saya oles kayu putih dan  bedak tabur. Tapi gak berefek. Si area merah itu malah jadi menghitam dan bengkak. Duh saya panik, terus sama kompres dengan air hangat. Tapi bengkak nya gak kunjung hilang malah meletus dan keluar getah bening. Saya langsung bawa suami ke dokter lain. Betulan dokter ya.

Setelah di lihat si ruam dan getah bening nya, Pak Dokter  bilang kalau Suami alergi antibiotik. Sempat bertanya obat apa yang dimakan, saya Perlihatkan obatnya. Lalu Dokter tersebut memberi antibiotik jenis lain dan salep yang di olesi ke area ruam. 

Alhamdulillah, gak lama kemudian ruam yang lain kempes dan yang terlanjur meletus menjadi kering. Flu juga berangsur sembuh.

Jadi, setiap berobat saya selalu menceritakan riwayat alergi antibiotik Suami saya yaitu jenis Sulfa dan ciprofloxacin.

Ada cerita lain soal alergi antibiotik ini
Pengalaman saya sendiri waktu mau melahirkan Kilan, anak bungsu saya secara sesar. Sebelum operasi, dokter melakukan serangkaian test alergi di area kulit tangan kiri saya. Kalau setelah di suntikan obat saya merasa gatal dan panas itu artinya saya alergi terhadap obat tersebut. Ternyata, saya juga alergi terhadap antibiotik jenis ciprofloxacin.

Lalu ada cerita lain dari tetangga saya, yang anaknya demam lalu diberi obat penurun panas tablet untuk anak. Tapi setelahnya, sang anak malah mengalami bengkak diseluruh wajah, terutama mata dan bibir. Nampaknya sang anak juga alergi tehadap obat jenis aspirin.

Melihat serangkaian cerita diatas, maka sudah selayaknya ya kita waspada terhadap penggunaan antibiotik. Terutama bagi anda yang memang memiliki riwayat alergi antibiotik.

Lantas, yang menjadi pertanyaan adalah memang nya antibiotik itu berbahaya ya ? jika digunakan untuk suatu kondisi yang tepat tentu tidak berbahaya, tetapi jika mengkonsumsi antibiotik mengakibatkan alergi hingga gejala nya parah, maka jika dibiarkan terdapat kemungkinan pasien akan mengalami kondisi yang lebih parah. 

Sebelum lanjut, saya memaparkan penjelasan dibawah berdasarkan hasil pengalaman dan rangkuman informasi yang saya peroleh dari portal web kesehatan.

Antibiotik, apa sih itu?


Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi. Pada umumnya, antibiotik digunakan hanya melawan infeksi bakteri namun tidak dapat bekerja melawan infeksi virus, seperti flu, pilek, sakit tenggorokan, gondok, bronkhitis.




Jenis - jenis Antibiotik


Mengutip dari amazine.co berikut jenis - jenis antibiotik berdasarkan struktur kimia nya, yaitu :

1. Penisilin (Penicillins)


Penisilin adalah jenis antibiotik yang bekerja dengan mengganggu pembentukan dinding sel bakteri selama reproduksi.Jenis penisilin diantaranya adalah, penisilin G, penisilin V, ampisilin, tikarsilin, kloksasilin, oksasilin, amoksisilin, dan nafsilin. Antibiotik jenis penisilin biasanya digunakan untuk mengobati infeksi pada  kulit, gigi, mata, telinga dan saluran pernapasan. Berikut adalah jenis-jenis antibiotik penisilin :


  • Amoxicillin
  • Ampicillin
  • Oxacillin
  • Penicillin G

2. Sefalosporin (Cephalosporins)


Seperti halnya penisilin, Sefalosporin juga bekerja dengan mengganggu pembentukan dinding sel bakteri selama reproduksi . Bedanya, penggunaan antibiotik jenis ini digunakan jika, penisilin tidak mampu infeksi bakteri lebih lanjut. Dalam beberapa kasus, jika sesorang alergi terhadap penisilin maka dia juga akan alergi terhadap sefalosporin.  Jenis-jenis sefalosporin meliputi :

  • Cefadroxil
  • Cefuroxime
  • Cefixime
  • Cefotaxim
  • Cefotiam
  • Cefepime
  • Ceftarolin

3. Aminoglikosida (Aminoglycosides)


Antibiotik jenis ini bekerja dengan menghambat pembentukan protein bakteri. Antibiotik jenis ini biasanya digunakan untuk mengobati tifus dan pneumonia.  Jenis - jenis Aminoglikosida meliputi :

  • Amikacin
  • Kanamycin
  • Neomycin
  • Paramomycin
  • Tobramycin


4. Makrolid (Macrolides)


Antibiotik jenis Makrolida bekerja dengan cara mencegah biosintesis protein bakteri dan umunya  diberikan pada  pasien yang sangat sensitif terhadap penisilin. Yang termasuk jenis ini adalah :
  • Azithromycin
  • Clarithromycin
  • Erythromycin
  • Fidaxomicin
  • Roxithromycin
  • Spiramycin


5. Sulfonamida (Sulfonamides)


Antibiotik sulfa bisanya digunakan untuk  mengobati infeksi ginjal. Sayangnya, dibalik manfaat dari antibiotik untuk menyembuhkan infeksi pada ginjal juga memiliki efek berbahaya terhadap ginjal itu sendiri. sehingga, penggunaan obat ini harus dilakukan di bawah petunjuk dokter. Yang termasuk jenis ini adalah :

  • Sulfamethoxazole
  • Sulfisoxazole


6. Fluoroquinolones


Antibiotik jenis Fluoroquinolones adalah satu-satunya antibiotik yang secara langsung menghentikan sintesis DNA bakteri. Karena Fluoroquinolones dapat diserap dengan sangat baik oleh tubuh, maka fluoroquinolones dapat diberikan secara oral. Antibiotik ini relatif aman digunakan dan biasa digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih dan saluran pernapasan. Yang termasuk jenis ini adalah :

  • Ofloxacin
  • Ciprofloxacin
  • Levofloxacin
  • Moxifloxacin
  • Nalidixic Acid
  • Norfloxacin
  • Sparfloxacin
  • Gatifloxacin

7. Tetrasiklin (Tetracyclines)


Tetrasiklin adalah jenis  antibiotik yang memiliki  spektrum luas yang digunakan untuk mengobati berbagai infeksi seperti infeksi telinga tengah, saluran pernafasan dan saluran kemih. Namun, bagi pasien yang memiliki  masalah hati harus sesuai dengan petunjuk dari dokter. Yang termasuk jenis ini adalah :

  • Tetracycline HCl
  • Oxytetracycline
  • Doxycyline
  • Minocycline 
  • Tigecycline


8. Polipeptida (Polypeptides)


Polipeptida adalah antibiotik yang biasa digunakan untuk mengobati infeksi pada kulit akibat bakteri. Yang termasuk jenis ini adalah :

  • Bacitracin
  • Colistin
  • Polymyxin B





Gejala alergi antibiotik


a. Gejala alergi antibiotik ringan

  • Kulit melepuh dan mengelupas
  • Diare
  • Mual dan muntah
  • Gangguan penglihatan
  • Pembengkakan yang lebih parah di bagian tubuh tertentu, seperti bibir dan kelopak  mata  dan disertai rasa gatal

b. Gejala alergi antibiotik berat 

Reaksi alergi yang parah terhadap antibiotik disebut juga anafilaksis.  tanda dan gejala berikut ini. Gejala dari alergi ini adalah sebagai berikut : 

  • Lemas
  • Kesemutan
  • Sesak napas
  • Peningkatan detak jantung atau dada berdebar
  • Penurunan kesadaran atau pingsan


Terdapat suatu kasus yang cukup berat dari gejala anafilaksis yaitu hingga kehilangan nyawa dimana kondisi ini disebut juga kondisi sindrom Stevens-Johnson.



Apakah Alergi antibiotik bisa menurun dari orangtua ke anak?

Jawabannya adalah IYA, tetapi hanya 20% saja. 

Anak yang memiliki orangtua yang alergi terhadap antibiotik memiliki peluang 20% juga memiliki alergi yang sama. Tapi tidak selalu demikian. Mengapa?

Karena, menurut  dr. Aditya, dr Arifianto, SpA, dalam alergi tidak berlaku adanya kepastian hubungan genetik atau keturunan dan semua orang punya kemungkinan untuk alergi terhadap satu jenis obat karena alergi itu sifatnya  sporadis.

Kesimpulannya, tidak ada kepastian alergi terhadap antibiotik akan diturunkan dari orangtua ke anaknya. Tetapi kemungkinan itu akan selalu ada sebanyak 20%. 

Seperti kasus Suami saya yang alergi terhadap salah satu jenis antibiotik, ternyata setelah di analisa ternyata Ayah mertua saya juga memiliki alergi yang sama bahkan dengan jenis antibiotik yang sama. Tetapi, Alergi ini hanya diturunkan pada Suami saya. Sementara kakak ipar saya ( saya punya dua kakak ipar ) dan adik ipar tidak memiliki alergi antibiotik sama sekali.



Apa yang harus dilakukan?


Berdasarkan pengalaman saya, satu-satunya cara apakah kita memiliki alergi terhadap antibiotik adalah dengan mengkonsumsi antibiotik itu sendiri. Jika setelah mengkonsumsi obat jenis antibiotik mengalami gejala seperti diatas, jangan ditunda lagi ayo segera lekas menghubungi dokter dan segera mendapat pengobatan lebih lanjut. Karena jika dibiarkan akan mengalami gejala yang lebih.

selanjutnya, Catat atau simpan di google keep/note jenis obat apa saja yang setelah kita mengkonsumsi nya mengalami gejala alergi seperti yang saya sebutkan diatas. Jangan lupa untuk memberitahu dokter jika teman-teman memiliki riwayat alergi terhadap antibiotik.

Begitulah cerita pengalaman saya dan sedikit pemaparan mengenai antibiotik. Semoga bermanfaat ya terutama bagi teman-teman yang juga memiliki alergi terhadap salah satu atau bahkan dua jenis antibiotik.

Cara terbaik untuk menghindari penggunaan antibiotik adalah dengan menjaga kesehatan dan kewarasan, mengapa? karena stress  sangat mempengaruhi  kesehatan lho, terutama proses peredaran darah dan fungsi kerja dari organ lainnya. Jadi, jangan lupa untuk selalu tersenyum, berbahagia, bersyukur dan nonton drakor ya, hehehe





sumber referensi :
https://www.suarasurabaya.net
https://www.alodokter.com/
https://health.detik.com/
https://www.halodoc.com/https://www.sehatq.com/


Tulisan ini diikutsertakan dalam Tema Minggu : Alergi di Komunitas 1 Minggu 1 Cerita

Cerita #tanoswalkingchallenge hari ini


Tanos walking challenge hari ini, benar - benar jalan tipis. Saking tipisnya hanya keliling gang area rumah, ke lapangan Al Misbah sembari nyari kucing kesayangan kami yang sudah hilang sejak hari kemarin, si Kiki.

Saya baru sadar, ternyata sebagian sawah sudah panen. Sebagian padi nya disimpan di jemur di lapangan Al Misbah. Sudah jelas di datangi burung gereja. Dari kejauhan juga saya liat sebagian sawah sedang dipanen. Kalau sudah panen, kami kebagian asapnya nih. Asap? iya, asap pembakaran jerami. Bikin sesek dan bau. 

Setelah jalan kaki sekitar 20 menit, si Kiki tak kunjung ketemu. Jadi saya sudahi jalan kaki sore ini dan kembali ke kandang alias pulang.

Halo, apa kabarmu hari ini my partner renovrainbow?








Winner Of Today : Day 5


Dan yah, seperti biasa. Saking gemes dan terpukaunya dengan semua cerita, saya dan kak renov kebingungan nih pilih yang mana. Tapi akhirnya, kami memutuskan, kak  Huyogo  sebagai winner of today .  Selamat ya kak  (^__^)