Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan


Malaikat Tak Bersayap Itu Bernama, IbuPagi itu cerah dan matahari bersinar hangat. Saya duduk di depan teras sambil menyeruput teh manis di temani goreng ulen dan obrolan hangat bersama ibu. Nikmat sekali, bahkan kami mengobrol di temani lagu kpop favorit saya dan ibu tidak keberatan, hehe

Sambil ngobrol banyak hal, saya memperhatikan betapa sayangnya saya dengan sosok yang satu ini. Ibu adalah sosok yang tegar dan kuat sekaligus bagai malaikat tak bersayap bagi saya.

Walau ibu bercerita banyak hal sambil tersenyum dan tertawa lebar, saya bisa melihat banyak sekali gurat kesedihan dan kerapuhan di setiap keriput yang mulai muncul di wajah ibu. Seketika rasa sesal menyeruak dalam dada saya, rasa sesal karena pernah menyakiti Ibu.

Hal ini membuat saya selalu bertanya, masih adakah waktu bagi saya untuk dapat membuat ibu bahagia ? masih banyak kah waktu yang tersisa bagi saya untuk mewujudkan impian Ibu? 

Saya terus menanyakan hal yang sama pada Tuhan di setiap sujud. Rasa sesal yang bergelayut dalam hati saya bersumber pada satu hal, dosa besar yang saya takut Tuhan akan murka karena dosa saya itu. 

Dosa saya adalah pernah membenci Ibu saya dalam waktu yang cukup lama dan menyalahkan Ibu atas semua peristiwa buruk yang terjadi dalam hidup saya. Kami bahkan hidup bertahun - tahun lamanya dalam konflik tiada akhir dan setiap bertemu sering bertengkar hebat berujung saling menyakiti. 

Mengapa saya pernah membenci ibu saya dan menyalahkan ibu atas semua peristiwa buruk dalam hidup saya sampai sekian lamanya?

Tumbuh Dengan Rasa Kesepian


Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua orangtua saya bekerja setiap hari dan libur hanya di hari Minggu. Hal ini menyebabkan saya sering di tinggal sendiri di rumah dengan adik. 

Ada rasa sepi selama saya ditinggal bekerja oleh orang tua saya. Karena, setiap hari saya berangkat sekolah, makan siang dan mengaji sendiri. Tanpa memberi salam atau disambut pulang sekolah dengan gembira oleh ibu. Selain itu saya juga harus menjaga dan menyiapkan segala keperluan adik saya. 

Tidak jarang saya juga bermain sendiri, karena teman - teman seumuran saya rumahnya jauh.

Hal ini membuat saya tumbuh menjadi anak yang kesepian dan tidak percaya diri.
Hal ini ditambah dengan hubungan saya dengan orangtua sangat kaku dan formal. Ibu memiliki karakter agak keras, begitu juga ayah. 

Ayah sangat disiplin dan galak. Beliau termasuk orang tua yang tidak bisa mentolerir kesalahan meskipun usia saya masih sembilan tahun. Hukuman fisik sudah jadi langganan saya ketika saya melakukan kesalahan. Bentakan dan kata - kata kurang pantas juga sering saya terima. Terkadang saya lari ke pelukan ibu untuk mencari perlindungan, tapi naasnya ibu lebih sering diam ketimbang menghibur saya apalagi meraih hati saya.

Hal ini terkadang membuat saya berfikir kalau saya ini anak adopsi dan bukan anak kandung mereka. Rasa kesepian ini ditambah dengan keinginan saya yang kuat untuk memiliki ibu yang lemah lembut dan pengertian, tapi kenyataannya ibu adalah ibu yang tidak demikian. Benih tidak suka dan agak benci ibu berawal dari sini. Mungkin lebih tepatnya bukan benci, tapi kecewa.

Terkadang saya tidak mengerti, kenapa ibu selalu galak dan bersikap kurang lembut pada saya? apa saya anak yang nakal? apa saya menyebalkan? apa saya kurang pintar?

Saat itu saya tidak bisa menemukan jawaban apapun. mengingat usia saya masih sembilan tahun. Tapi sayangnya, perasaan ini terus berlanjut bahkan ketika saya mencapai usia sekolah menengah atas karena saya masih merasakan ibu masih tetap sama, sering marah dan galak. Tak ada sama sekali bayangan atau sebuah opini tentang ibu sebagai malaikat tak bersayap di benak saya saat itu. 

Perceraian Orangtua


Saya masih ingat, saat itu pertengahan bulan Juni tahun 1999. Suatu pagi yang cerah dan langit berwarna biru serta awan berarak ditemani matahari yang teduh . Pagi hari yang sempurna. Tidak ada tanda kemurungan. 

Pagi itu saya, ayah, ibu dan kedua adik sarapan bersama seperti biasanya. Saya duduk manis menunggu ibu menyiapkan sarapan sementara adik bernyanyi riang. Lalu kami sarapan bersama dengan nikmat. 

Lalu tiba-tiba tanpa peringatan dan aba-aba, ayah dengan wajah tegang dan kaku berkata,

jadi, teteh sama aa mau ikut siapa? Ayah atau ibu?” 
DARR!!! Saya merasa seperti terkena sambaran petir saat itu juga!! 
Saya hanya bisa berkata dalam hati, “what?!!! Apa Apaan ini??? Maksudnya ayah sama ibu mau cerai? On no!

Seketika saya seperti terkena sengatan listrik yang membuat sekujur tubuh saya berubah menjadi kaku dan kelu. Hilang semua kata dan pikiran. Pagi itu laksana hujan badai disertai amukan kilat, tak seindah cuaca cerah di luar sana. Sungguh ironis. 

Saya melihat Ibu hanya mampu berteriak seraya berkata, “ apa-apaan ini ayaaah? ayah bercanda? Maksudnya apa iniiiiii?” sambil terus menangis tiada henti. 

Ayah tidak menggubris pertanyaan dan tangis isak Ibu, ayah pergi meninggalkan meja makan dengan layu dan punggung tertunduk rapuh lantas berlalu meninggalkan kami di meja makan masih duduk tegang dan kaku. 

Saya bisa apa? Selain duduk mematung dengan pikiran berkecamuk tak percaya. lalu saya ingat harus sekolah, seketika saya bangkit dan berusaha memecahkan kekakuan tubuh lalu bergegas berangkat sekolah. Saking bingung dan masih merasa tidak percaya, saya berangkat sekolah seakan kejadian tadi pagi tidak terjadi. Saya bahkan gak nangis! 

Sejak kisah pagi yang tragis itu, hidup saya tidak pernah sama lagi. Saya rasa, inilah akhir dari segala drama keluarga selama ini. Drama keluarga? Iya, drama keluarga dimana ayah dan ibu sebelum kejadian naas itu memang sering bertengkar. Mereka kerap bertengkar hampir di setiap kesempatan.Entah apa yang diributkan, semua pertengkaran selalu berakhir dengan teriakan, bentakan dan bantingan pintu kamar tidur. 

Orang Tua saya memang bukan orang tua yang harmonis sejak awal pernikahan mereka. jadi sebetulnya, walaupun mereka akhirnya bercerai juga saya tidak heran. Tapi tetap saja, menghadapi gerbang perceraian mereka di depan mata rupanya membuat saya syok dan meninggalkan bekas luka yang selalu basah dan tak kunjung sembuh. 

Saya pun merasa perceraian mereka disebabkan oleh ibu yang tidak mampu menjaga dan melindungi keluarga hingga akhirnya mereka berpisah. Kalau saja ibu tidak selalu marah - marah dan galak, saya yakin ayah akan betah di rumah. Kalau saja ibu tidak egois dan gak selalu ingin didengar, ayah pasti gak akan lari dari pernikahan. Kalau saja. Semua gara - gara Ibu!! kadang saya sesumbar dalam hati, apa itu istilah ibu sebagai malaikat tak bersayap? nonsense!!

Konflik Tiada Akhir


Setelah perceraian mereka, drama keluarga pun dimulai. Urusan hak asuh anak, uang bulanan sampai pernikahan ibu yang kedua. Baik Ibu maupun saya, kami masing - masing berjuang menghadapi perceraian. 

Ibu yang berusaha menyusun kembali serpihan emosi dan kewarasannya sendiri dan saya yang depresi karena merasa kehilangan sosok ayah dan keluarga yang tidak utuh. 

Kami tidak bisa saling menguatkan karena ibu enggan membagi rasa sedihnya dan melimpahkan tugas domestik pada saya, seperti urusan memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah sampai urusan sekolah kedua adik saya. 

Sementara ibu banyak menghabiskan waktu di kantor dan dengan bebas pergi kemanapun dia suka dan lupa kalau dia punya anak - anak rapuh yang harus diperhatikan di rumah. hal ini kemudian yang membuat saya semakin kecewa dan membenci ibu. Hal ini bahkan berlanjut sampai saya lulus kuliah dan mulai bekerja. 

Lelah dengan semua emosi negatif yang saya rasakan baik terhadap ibu dan hidup saya, akhirnya saya memutuskan untuk mengubah hidup saya, selamanya. 

Sebuah Titik Balik


Amarah, kecewa dan rasa kesepian yang menggelayuti hidup saya selama bertahun - tahun akhirnya menemui titik terang cahaya. Cahaya itu adalah Keenan, anak saya yang pertama.

Setelah menikah dan menjadi ibu akhirnya saya bisa memahami Ibu dan mencoba mengerti dan memaafkan ibu bahkan menyesal pernah membenci ibu segitu hebatnya. 

Proses ini tidak mudah dan panjang sekali. Prosesnya di mulai sejak saya masih kuliah tingkat D3 dulu sampai saya menikah. Setiap proses terasa sangat berat karena berbenturan dengan ego dan trauma.

Trauma dari perceraian dan bagaimana dulu saya diperlakukan kasar semasa kecil berimbas pada cara saya mengasuh anak saya. Trauma yang akhirnya baru terselesaikan setelah lebih dari dua puluh tahun berjuang. 

Pada akhirnya saya memahami bagaimana sudut pandang ibu tentang semua ini. Seperti kepingan puzzle, saya mencoba menyusun satu per satu bagian cerita dari sudut pandang ibu sebagai pribadi dan ibu sebagai ibu. 

Ibu Juga Manusia


Ibu juga manusia, perempuan yang memiliki perasaan, harapan, cita - cita dan keterbatasan. Gelar Ibu tidak serta merta menjadikannya makhluk sempurna tanpa cacat. Sebagai pribadi, ibu juga berproses menemukan jati dirinya. 

Ibu juga punya rasa sakit dan trauma. 

Saya masih ingat, Ibu pernah bercerita mengenai trauma yang beliau rasakan saat masih kecil. Saat itu usia ibu sekitar sepuluh tahun dan seperti kebanyakan anak di usia tersebut terkadang bermain bersama teman terkadang juga bertengkar. 

Naasnya, ketika ibu bertengkar dengan salah satu temannya, Ibu dari teman ibu saya itu mengadu pada kakek kalau pertengkaran anak mereka di sebabkan oleh Ibu saya, padahal teman Ibu saya itu yang memulai lebih dulu. Akibatnya, Ibu mendapat hukuman dari Kakek. Dengan menggunakan sapu lidi, pantat dan kaki ibu dipukul hingga memerah dan bengkak. Ya Tuhan, kalau mengingat cerita Ibu itu, hati saya sedih.

Ibu adalah anak kelima dari 8 bersaudara. Keluarga ibu termasuk keluarga kaya tapi gak kaya - kaya amat, cukup berada sampai kakek dan nenek waktu itu bisa menyekolahkan anak - anaknya hingga SMA. 

Kakek adalah seorang perwira ABRI berpangkat, saya tidak tahu pangkatnya apa tapi kakek pernah menjadi pemimpin sebuah tim saat ada konflik di Irian Barat dulu. Sementara nenek adalah keturunan bupati Cianjur, jadi bisa di bilang nenek berasal dari keluarga Raden.

Keluarga ibu cukup keras dan disiplin dalam mendidik anak - anaknya. Ibu juga sering merasa diperlakukan tidak adil mengingat ibu anak ketujuh dari delapan bersaudara. Ibu juga mengalami masa sulit di sepanjang masa mudanya. Banyak impian Ibu yang harus kandas demi kakak dan juga kami anak - anaknya.

Sewaktu kecil, Ibu memiliki hobi dan cita - cita sebagai penulis dan pelukis. wahh ternyata hobi ibu menurun pada saya ya, hehehe. waktu kecil ibu sering mengikuti lomba menggambar dan juara. Karena kakek dan nenek tidak menyetujui hobi ibu, jadi ibu mengikuti setiap perlombaan dengan diam - diam. Lalu darimana ibu mendapat alat tulis dan gambar? dari setiap hadiah lomba yang ibu terima. waahhh, ibu hebat yaa.

Saya rasa pengalaman ibu semasa kecil membuatnya menjadi pribadi yang kuat, tangguh dan keras. Ibu berusaha untuk selalu berjuang dalam hidupnya. Memperjuangan harapan dan cita - citanya. Berjuang untuk mendapat kasih sayang dari keluarga dan orang sekitarnya. Saya bisa merasakan, ibu juga tumbuh dalam kesepian dan merasa kurang disayangi. 

Dengan Memahami bagaimana hidup ibu semasa kecil hingga dewasa, membuat rasa benci saya perlahan luntur. 

Kebencian saya terhadap ibu semakin luntur setelah saya menikah. Saya merasakan sendiri betapa sulitnya mempertahankan biduk rumah tangga. Tak semudah membalikan telapak tangan. Setelah saya sendiri mengalami konflik rumah tangga dan menjadi ibu bagi kedua anak saya, akhirnya saya paham bagaimana rasanya menjadi ibu ketika menghadapi perceraian mereka dahulu. Akhirnya saya mengiyakan istilah ibu sebagai malaikat tak bersayap. 

Memang tidak mudah menjadi ibu dan istri dengan segala tugas dan tanggung jawabnya. Tidak sedikit hal pribadi yang dikorbankan. Bukan hanya waktu, tapi tenaga, uang dan cita - cita. Menjadi ibu bukan hal yang mudah. Mulai dari kurang tidur sampai kelelahan tiada akhir mengurus mereka dari bayi. Belum termasuk stress mencari uang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan anak. 

Saya jadi ingat, walau ibu jarang ada di rumah lalu ketika pulang sering marah, galak dan disiplin terhadap saya, Ibu tetap memperhatikan kebutuhan saya. Untuk urusan jajan dan perut saya tidak pernah kekurangan sedikitpun. Tidak ada istilah kelaparan atau gak punya mainan. Walau masa kecil saya kesepian, perut saya kenyang. Satu hal yang layak disyukuri sebetulnya. 

Perceraian juga bukan hal yang mudah bagi Ibu, saya bisa bayangkan betapa sulitnya menghadapi perceraian dan berjuang menyusun kembali kepingan jati diri setelahnya. Akhirnya saya dapat memaklumi ketika akhirnya ibu menjadi depresi dan hilang kendali setelah bercerai dengan ayah. Saya membayangkan kalau saya jadi ibu, mungkin akan sama depresinya dengan ibu. 

Dalam keadaan depresi pun, ibu tetap berjuang mencari nafkah untuk saya dan adik - adik saya. Bahkan saya bisa kuliah berkat perjuangan ibu. Ibu memang tangguh dan kuat. 

Sampai titik ini, saya semakin tersadar dan mulai merasa bersalah pada ibu karena pernah membencinya.

Permohonan Maaf


Setelah saya melahirkan Keenan, Ibu menemani saya selama tiga hari di rumah ibu mertua. Ibu membuatkan saya sup daun katuk dan daun kelor setiap hari. Mengajari saya memandikan Keenan, memakaikan baju dan menyusui. Saya merasa tenang dan nyaman selama ibu ada di sisi saya selama tiga hari itu. Saya sangat bersyukur masih memiliki ibu di sisi saya yang bisa mengajari saya bagaimana mengurus bayi yang baru lahir.

Sayangnya, karena ibu harus kembali bekerja ibu tidak bisa lama menemani saya. Hal ini membuat saya sedih dan kalang kabut hingga akhirnya membuat saya mengalami Baby Blues Syndrome. Ternyata melahirkan lalu mengurus anak baru lahir itu tidak mudah. Lelah dan stress nya luar biasa. 

Setelah saya melahirkan anak kedua, saya semakin menyadari pentingnya kehadiran ibu. Betapa saya sangat membutuhkan ibu dan menginginkannya selalu ada di sisi saya. Ibu adalah malaikat tak bersayap milik saya.

Saya mulai menyadari banyak hal mengenai ibu. Mulai bisa memahami dan memaklumi ibu saya. 
Setiap kali saya berlibur ke rumah ibu, saya bisa melihat ibu semakin tua dan fisiknya tidak sekuat dulu lagi. Saya juga bisa melihat banyak sekali gurat kesedihan dan kerapuhan di setiap keriput yang mulai muncul di wajah ibu. Seketika rasa sesal meyeruak dalam dada saya dan saya sadar kalau saya belum pernah sekalipun membahagiakan Ibu.

Ya Tuhan, sampai kapan saya akan membenci, marah , kecewa dan menyalahkan Ibu atas semua tragedi dalam hidup saya? Pantaskah saya menyalahkan beliau? Perceraian Ayah dan Ibu, apakah Ibu yang menciptakan dan menginginkan? Ibu juga berjuang mempertahan kan harga diri dan kewarasan beliau selama ini. 

Kalaupun ibu menjadi pribadi yang keras itu karena tuntutan ibu harus demikian demi kami anak - anaknya. Selama bertahun - tahun ibu bekerja tiada henti sampai pinjam sana dan pinjam sini demi biaya kuliah saya dan adik - adik saya. Sendirian! Karena ayah tak bisa diandalkan.

Ibu juga ingin bahagia. 

Saya tak pernah memikirkan hal itu. Ibu juga ingin memiliki pasangan hidup untuk saling berbagi dan menyayangi. Tapi kenyataanya, ibu kurang beruntung soal ini. Pertama perceraian dengan ayah dan dengan suami nya yang kedua yang lagi - lagi harus kandas. Saya yakin, ibu juga sama kesepiannya dengan saya. 

Mengapa saya sangat egois sekali dan hanya memikirkan penderitaan diri sendiri. Ibu juga sama kesakitannya, sama berjuang untuk dirinya sendiri. Ibu juga ingin bahagia, sama seperti saya.

Ya Tuhan, maafkan saya.

Akhirnya suatu hari saya memutuskan untuk bertaubat dan memohon ampunan pada ibu. Saya memilih hari ulang tahunnya sebagai hari taubat. Jauh - jauh hari sengaja saya menabung untuk membelikan jam tangan kesukaan ibu, jam tangan berlapis sepuhan emas. Dengan perasaan dag dig dug dan tegang, saya serahkan hadiah ulang tahun pada ibu. 

Ibu, selamat ulang tahun ya “ ucap saya, 

waahh apa ini teteh? hadiah buat ibu? waah, makasih teh. padahal mah gak usah repot - repot “ Jawab ibu dengan wajah senang.

gak apa -apa bu, teteh udah nyiapin ini udah lama kok, hihihi. buka dong “ jawab saya lalu ibu membuka hadiahnya dan terkejut.

waahh teteh, ini jam tangan emas ya? aduh pasti mahal! teteh gak lagi gak punya uang, padahal mah gak usah “ jawab ibu terkejut, lagi di kasih hadiah aja ibu masih mikirin masih keuangan saya. duh makin mencelos hati saya.

Gak kok bu, ini mah sepuhan kok, bukan emas beneran. hehehe “ jawab saya malu - malu

Ibu tampak bahagia sekali. saya senang dan hati saya terasa sangat hangat. Tanpa ragu lagi saya langsung memegang kedua tangan ibu lalu bersujud sambil menangis.

Ibu maafin teteh ya, teteh sering nyakitin perasaan ibu dan sering bikin ibu sakit hati. sering merepotkan dan selalu bentak ibu. maafin teteh ya Bu “ ucap saya sambil menangis. Tenggorokan rasanya seperti tercekik dan tangisan pun semakin sulit dikendalikan. 

Ibu terkejut dan ikut menangis. sambil mengangkat tangan dan kepala saya ibu berkata, 

Teteh… udah jangan nangis lagi, gak apa - apa teh…. gak apa - apa gak usah minta maaf sama ibu sampai kayak gini. Jauh sebelum teteh minta maaf , ibu udah maafin semua kesalahan teteh. maafin ibu juga ya

Lalu saya bangkit dari tangisan dan menatap wajah ibu yang terlihat basah oleh air mata di antara kerutan wajahnya. Kami berpelukan dan hati saya lega sudah. 

Lalu kami duduk bersebelahan sambil saling memegang tangan dan ibu mengusap air mata saya. lalu saya berkata, 

Maaf ya teteh belum bisa membalas semua kebaikan, kerja keras dan usaha ibu sejak teteh bayi sampai sekarang

Gak apa - apa teh, jangan mikirin itu. Ibu ikhlas mengurus teteh sampai sekarang. Buat ibu, melihat teteh bahagia sama anak - anak, pernikahan teteh bahagia dan teteh sukses ….ibu udah bahagia, itu hadiah terbaik buat ibu. yaaa selain sering dibawakan batagor sama roti bakar lah bonusnya, heheh” jawab itu menenangkan hati saya sambil bercanda. 

Ah, terimakasih Ya Allah. Saya masih diberi waktu dan kesempatan untuk memohon maaf pada ibu. Terimakasih. 

Hadiah untuk Ibu

Saya sangat bersyukur, sekarang hubungan saya dan ibu jauh lebih baik . Saya bersyukur masih diberikan ibu hingga usia ini dan masih diberikan kesempatan memohon maaf. 

Sekarang setiap kali kami bertemu, kami selalu bercerita banyak hal, ke salon bersama dan luluran bersama Hal - hal seputar dunia perempuan dan kecantikan yang tidak pernah kami lakukan waktu dulu. Bahkan kami sama - sama menyukai drakor, hehe.

Penyesalan saya hanya satu, saya belum punya cukup banyak uang untuk membalas semua perjuangan ibu untuk saya selama ini. Saya ingin sekali mewujudkan impian Ibu untuk memiliki rumah di desa lengkap dengan kolam ikan dan kebun anggrek, bunga favoritnya.

Ketika saya melontarkan keinginan saya ini, ibu hanya berkata, 

Yang terpenting buat Ibu sekarang, Teteh bahagia dengan pernikahan Teteh dan sukses. itu saja cukup buat ibu. gak perlu banyak ngasih hadiah. ya kalau ibu di kasih rezeki tentu gak ibu tolak ya, kan lumayan. hehehe “ jawab ibu sambil bercanda. 

Ibu doakan teteh sukses dengan menulis di blognya dan sukses jadi seniman. Cita - cita ibu yang gak pernah terwujud. Mendengar teteh juara lomba waktu itu terus kemarin dapet hadiah wacom, ibu seneng banget. Itu aja udah jadi hadiah buat ibu. Berarti ibu berhasil mengantar anaknya sukses “ lanjut ibu. 

Jawaban ibu memang ibu - ibu banget ya, saya juga merasakan hal yang sama untuk anak - anak saya. Yang terpenting adalah kebahagiaan dan kesuksesan anak - anaknya. Urusan kebahagiaan sendiri, itu belakangan. 

Untuk saat ini rezeki saya memang masih terbatas. Saya baru bisa memberikan ibu small things sebagai hadiah. Pijatan di kepala dan badan , general cleaning rumah ibu, memasak dan mencuci baju. serta jajanan sederhana. Semoga secepatnya saya bisa mewujudkan impian ibu ya.

Sebuah Pencerahan


selamat  hari ibu
me and mom


Ibu juga manusia, beliau tidak luput dari kesalahan dan ketidaksempurnaan. Ibu juga berproses dalam memahami dirinya sendiri dan mengobati luka lama.


Sungguh sangat egois jika kita sebagai anak hanya memikirkan luka batin sendiri, bagaimana dengan ibu? ibu juga punya trauma dan luka yang sama.

Jika dibandingkan dengan segala perjuangannya tanpa henti dan pamrih, luka batin yang saya alami sungguh tiada tandingannya. Mengingat semua perjuangan ibu, bagi saya ibu adalah malaikat tak bersayap. Sungguh.

Meminta maaf sekali saja rasanya tidak cukup, begitu pula dengan ucapan terimakasih. ada baiknya memang kita lebih sering menyapa hati ibu, menanyakan kabarnya dan mengatakan banyak terimakasih dan diakhiri dengan ucapan i love you ibu. Saya yakin Ibu akan sangat bahagia.

Sudahkan kita menyapa ibu kita hari ini? sudahkan meminta maaf? sudahkah memberikan small things yang bisa membuat wajahnya tersenyum? sudahkan kita mengatakan padanya, I Love you mom, thank you for everything ?
Sudahkan? yuk kita sapa ibu kita sebelum segalanya terlambat.


"Tulisan  saya ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba menulis Blog yang di selenggarakan oleh  Female Blogger Banjarmasin dan  Gloskin Banjarmasin, dengan Tema : Hadiah terindah untuk Ibu"







 Photo Challenge


Ikutan Photo Challenge Berhadiah Rasa Syukur dan Empati - Judulnya menggoda tidak? hehehe. Menggoda dong, di jaman serba sibuk seperti sekarang kadang kita sering luput akan hal kecil yang membuat kita lupa bersyukur dan memunculkan rasa empati baik untuk diri sendiri maupun lingkungan sekitar kita. Nah lewat tantangan foto ini, yuk kita kembali melihat hal kecil tersebut dan ceritakan kisah di baliknya. Sebelum lanjut, yuk kita bahas dulu mengenai foto dan fotografi. 

Definisi Foto dan Fotografi


Foto, siapa yang gak suka foto? mengambil foto atau bahkan di foto? nampaknya semua orang suka ya?. Lantas apa sih foto itu sebetulnya?

Menurut wikipedia, Foto adalah gambar diam baik berwarna maupun hitam-putih yang dihasilkan oleh kamera yang merekam suatu objek atau kejadian atau keadaan pada suatu waktu tertentu.

Sementara Fotografi merupakan serapan dari bahasa Inggris photography, yang berasal dari kata Yunani yaitu "photos": cahaya dan "grafo" yang memiliki arti melukis/menulis. Fotografi adalah proses melukis/menulis dengan menggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai objek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera. 

Di jaman modern ini, siapapun bisa menjadi fotografer dan mengambil foto tidak hanya menggunakan alat fotografi yang canggih seperti kamera analog atau DSLR. Berkat kemajuan teknologi, handphone di masa sekarang banyak dilengkapi dengan fitur kamera yang bisa digunakan untuk mengambil foto dengan kualitas yang baik.

Hal ini tentu menjadi peluang bagi siapapun untuk belajar fotografi dan sekedar mengabadikan momen dengan kualitas foto terbaik. 

Tujuan Foto dan Fotografi


Jika melihat lebih dalam ke dunia fotografi, tujuan dari fotografi itu maknanya dalam dan filosofis. Fotografis sangat berkaitan erat dengan karakter personal kita, imajinasi dan kejelian kita dalam mengamati momen, cahaya, bentuk, warna dan unsur fotografi lainnya. 

Nampaknya fotografi ini sudah mirip dengan melukis atau menggambar ya, sama - sama mengambil momen atau peristiwa. Yang membedakan hanya media nya saja. Sama dengan menggambar, foto juga memilki manfaat. Apa saja sih? Berikut delapan manfaat dari foto, yaitu :

  1. Sebagai bukti sejarah 

  2. sebagai dokumentai

  3. Sebagai bukti otentik

  4. Sebagai kenang-kenangan

  5. Sebagai motivasi

  6. Sebagai sumber penghasilan

  7. Sebagai citra diri

  8. Sebagai sumber informasi


wah, banyak juga ya manfaat foto. Tetapi bagi kita orang awam yang belum banyak mengetahui ilmu fotografi, nampaknya tujuan mengambil foto yang utama adalah untuk mengabadikan momen atau kenang - kenangan dan citra diri ya. 

Nah, terkait mengabadikan momen ini, ada hal yang sangat filosofis. Sebagaimana kita tahu kalau sebuah foto dapat menangkap momen atau peristiwa, maka foto tersebut pasti memiliki cerita atau kisah yang dapat kita jadikan motivasi dan pencerahan .Terkadang lewat foto bisa mendapat inspirasi dan motivasi yang dapat membuat hidup kita lebih semangat dan penuh makna. 

Kadang, saking sibuknya kita dengan kegiatan sehari - hari baik sebagai ibu maupun personal kita sering melupakan hal - hal kecil yang membuat kita lupa untuk bersyukur dan memunculkan rasa empati terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Memang, rasa bersyukur dan empati bisa kita dapatkan lewat perenungan tetapi sebuah foto bisa memunculkan rasa itu seketika. Nah, tujuan inilah yang kemudian menjadi landasan saya mengikuti salah satu tantangan yang akan dilaksanakan sebentar lagi lewat Tanos Photo Challenge. 

Tanos Photo Challenge


Secara pribadi, foto bagi saya memiliki banyak peranan penting. Setiap milestone anak - anak saya sudah pasti saya abadikan lewat foto. Ketika saya hamil dan melahirkan. Lalu ketika anak - anak pertama kali bisa tengkurap, berdiri, merangkak, duduk dan berjalan. Bahkan ketika ,mereka bisa loncat dan makan sendiri. Semua perkembangan anak - anak saya abadikan lewat foto. 

Kali ini saya ingin mengambil sebuah foto lewat Tanos Challenge Photo dengan tema rasa syukur dan empati selama tujuh hari. Jadi, setiap hari saya akan mengambil foto yang memiliki arti dan makna tersebut. 









Nah sekarang gak ada lagi alasan sok sibuk untuk berhenti sejenak dan memperhatikan hal kecil serta lebih banyak bersyukur.

Bagi teman - teman yang mau ikutan, walau sudah closed pendaftaran masih bisa ikutan kok. Silahkan berkunjung ke instagramnya @tanos.challenge dan ikuti petunjuk pendaftarannya di link bio. salam fotografi, eh salam Tanos. hehe


Tulisan ini di buat untuk Tanos Photo Challenge 
dan Tema "Sibuk" Minggu Komunitas Menulis 1 Minggu 1 Cerita



kebiasaan baik
artwork by artjoka


Yuk, Kita Memulai Kembali Kebiasaan Baik . Langkah awal dalam memulai kembali suatu kebiasaan memang gak mudah, tapi percayalah yang lebih sulit itu adalah konsistensi. Dulu, semenjak saya sakit saya rutin minum air putih minimal 8 gelas sehari. eh, setelah si sakit hilang jadi malas dan banyak tergoda dengan meminum minuman berasa dan dingin. Apalagi jika cuaca panas dan aktivitas sangat padat. 

Makanya, perlu dipaksakan nih si kebiasaan baik minum air putih ini biar gak kebablasan jongjon kurang minum air putih tau-tau aja nanti ada bagian organ tubuh kita yang sakit, Amit - amit kan?? jadi, joss ah bikin challenge Tanos di bulan Oktober ini dengan tema tantangan minum air putih. Siapa tau juga kan ya ada teman - teman yang seperti saya, sering males minum air putih dengan alasan kagok. 

Buat yang terbiasa konsisten minum mungkin tidak masalah ya, tapi bagi orang seperti saya yang mudah lupa karena terburu waktu dan berpacu dengan seabrek kegiatan dan tugas domestik kadang suka dengan sengaja melupakan dan bilang sama diri sendiri, “ ntar dulu deh kagok nih! “ tau - tau besok pagi bangun tidur sakit pinggang aja. terus aja begitu berulang setiap hari.

Keras sama diri sendiri itu harus, apa lagi untuk kebaikan dan kesehatan. Aware sama pentingnya suatu kebiasaan seperti minum air putih ini juga sangat penting. Kalau tau alasannya kenapa penting, secara sadar si otak akan lebih waspada kan? 


Tanos Drink Water Challenge Day 1


Saya download aplikasi pengingat minum air namanya Aqualert. Cara mengoperasikannya mudah, hanya tinggal masukan berat badan dan jenis kelamin. Nanti akan muncul berapa target minum harian kita. Aplikasi ini juga dilengkapi alarm atau pengingat. Tapi saya salah masukan target saya, yaitu 2 liter dan mengikuti petunjuk dari aplikasi, hehehe. gpp ya. 


aplikasi aqualert





Hari ini kok saya bisa lupa lagi sih?? ternyata adaptasi pake aplikasi lumayan ya, apalagi saya termasuk manusia yang gak pernah pake aplikasi apapun dalam keadaan sehari - hari kecuali sosmed, hehehe. Jadi agak kagok gitu terus udah minum lupa aja . 

Apa Kabar nih para pejuang Tanos hari ini? 

Awalnya saya kira gak bakalan ada yang ikutan nih challenge kali ini, tapi ternyata gak. Alhamdulillah jumlah participant mencapai 10 orang, siapa aja sih?   
  1. Ainun
  2. Anggi.
  3. Ani
  4. Ita
  5. Meti
  6. Sandra
  7. Syifa
  8. Renov
  9. Eka artjoka

Jadi penasaran, apa kabarnya partner saya nih kak Renovrainbow??  






Buat teman - teman yang penasaran dengan perjalanan para pejuang Tanos selama mengikuti challenge ini, silahkan kepo - kepo instagram saya dan kak Renovrainbow ya. 






Melepas Impian demi anak, Bukan Akhir dari Segalanya

Banyak hal yang kita korbankan, sebagai seorang ibu untuk anak-anak kita. Jangan tanya soal waktu dan tenaga, itu sudah pasti. Yang terberat dari semua itu adalah, meninggalkan impian.

 

Menjadi  seorang Arsitektur Lanskap adalah impian saya. Dan dengan terpaksa saya Melepas Impian saya itu layaknya menerbangkan burung merpati, lepas bebas di angkasa. Sedih rasanya, sesak di dada dan membuat saya kehilangan harapan dan semangat. Tapi, saya tidak punya pilihan. 

 

Cerita Awal

 

Tahun 2009, saya memutuskan untuk meneruskan kuliah saya ke jenjang S1 ( dulu lulus DIII ) dan ambil jurusan Arsitektur lanskap. Bukan keputusan mudah untuk kuliah lagi di saat usia saya hampir mendekati 30-an. 

 

Masalah biaya, teman kuliah yang usianya terpaut jauh serta waktu yang harus saya atur agar masih bisa bekerja. Untungya, para dosen sangat mendukung dan berbaik hati mau mengatur jadwal kuliah agar saya masih bisa kuliah sambil bekerja.

 

Tapi, dengan semakin padatnya mata kuliah dan kuliah lapangan. Akhirnya saya harus memilih, antara meninggalkan pekerjaan atau berhenti kuliah. Dilema yang terasa sangat berat, sungguh.

 

Karena di satu sisi, saya masih membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi hidup saya yag sudah tidak bisa lagi bergantung pada ibu saya. Tapi di sisi lain, akhirnya saya menemukan impian dan karir yang ingin saya capai. Yaitu menjadi seorang Arsitektur Lanskap.

 

Bersyukur saya bertemu Dosen yang luar biasa baik hati . Beliau rela merogoh koceknya untuk membiayai kuliah saya satu semester dan mengijinkan saya bekerja dengannya. Menjadi drafter dan assisten dosen. Bahkan, masa depan karir saya sudah beliau rancang sedemikian rupa sehingga saya tidak perlu lagi mengkhawatirkan lapangan pekerjaan setelah lulus kuliah. Saya sangat bersyukur.

 

Lalau Dua tahun kuliah, saya bertemu jodoh saya dan menikah.  Saya tetap kuliah dan Pak Suami mendukung 100%. Dua tahun kemudian saya hamil anak pertama saya, Keenan.

 

Selama hamil, saya ajak Keenan jadi pinter. Karena saya harus sidang skripsi. Saya ajak bimbingan dan  bolak-balik ke tempat penelitian. Rempong gak sih? Iya, banget! Tapi alhamdulillah Paksu selalu setia menemani jadi babang ojeg kemanapun saya  menuju.

 

Ada kejadian lucu  tapi sebetulnya naas  selama masa bimbingan ini. Jadi, waktu itu musim hujan. setiap pulang bimbingan pasti keujanan. Jas hujan selalu siap sedia. Tapi sayangnya waktu itu  hujannya gede banget, udah kaya badai aja. Dan malangnya, perempatan GedeBage, banjir.

 

Akibatnya, motor kami mogok dan terpaksa Paksu mendorong motor melewati batas banjir yang sampai  selutut itu dari perempatan hingga pasar GedeBage. Saya ngikutin dari belakang sambil komat-kamit baca solawat karena takut terpeleset. Saya takut si calon jabang bayi di perut saya yang sudah memasuki usia 8 bulan ini kenapa – napa . Karena saya jalannya sangat lamban dan hati-hati, saya tertinggal cukup jauh dari Paksu dan berusaha mengejar Paksu. Ditengah jalan, tiba-tiba saya terjatuh dan terperosok! Masuk got! Gak keliatan karena tertutup banjir.

 

Semua orang berusaha menolong saya yang berusaha bangkit sambil menangis. Saya gak bisa lihat dimana Suami saya dan saya takut si utun kenapa napa. Seorang bapak-bapak lantas bertanya,

 

Bu, gak apa-apa? Dimana suami ibu? “ tanyanya,

 

Suami saya? Eng ...eng..dimana ya pak suami saya? “ tanya saya balik bertanya sambil menangis.

 

Si Bapak malah bingung dan membantu saya berjalan sampai jalan raya yang tidak tergenang banjir.  Di ujung jalan, tiba-tiba saya melihat sosok suami saya dan berlari  layaknya scene film AADC. Sambil menangis saya teriak,

 

Babah.... Babaaahhh!! “ teriak saya. Paksu kaget melihat saya dan bertanya,

 

Ndaa tadi kemana? Aku nyariin!! Aku takut kamu kenapa – napa! Gpp kan? Kok nangis? “ tanyanya khawatir

 

Tadi aku jatuh ke solokan. Gak keliatan! Aku takut! “ jawabku masih sambil nangis.

Ya Allah! Maafin aku ya ninggalin kamu. Maafin aku belum bisa beliin kita mobil! Maafin yaa.... udah jangan nangis lagi “ jawabnya sambil meluk saya erat-erat.

 

Akhirnya kami pulang, sambil mendorong motor sampai rumah yang jaraknya hampir 5 KM!  Hari itu sungguh luar biasa naas, tapi lucu kalo dipikir – pikir!

 

Kalo mengingat moment itu, sungguh luar biasa perjuangan saya yang tetap meneruskan kuliah sambil hamil besar.

 

Melahirkan Keenan

 

Malam itu saya resah. Perut saya tak enak dan saya sulit tidur karena saya merasakan mules yang tiada henti. Ibu saya bilang saya akan segera melahirkan. Lalu esoknya kami ke bidan. Dan setelah di cek, saya sudah pembukaan satu. Lalu kami pulang dan menunggu di rumah. 

Pukul 10 pagi, saya merasakan mules yang semakin hebat. Tidak kuat rasanya sampai meminta Paksu mengantar saya ke bidan dan menunggu disana sampai saya melahirkan. Dengan gerak cepat Paksu ambil motor dan antar saya ke bidan. 

Lucunya, ditengah jalan sedang ada razia motor. Kami yang naik motor tanpa mengenakan helm, sudah pasti di stop Pak Polisi. 

Selamat siang pak, maaf bapak saya tilang karena tidak menggunakan helm! “ sapa pak polisi, 

Aduh pak! Maaf istri saya ini mau melahirkan! “ jawab Paksu teriak 

Ooohh... aduuuh... baiklah pak! Maaf kalau begitu, ayo cepat segera ke rumah sakit. Hati-hati dijalan ya Pak “ jawab pak polisi yang malah jadi panik dan bingung!  Dan kami pun tidak  jadi ditilang dan kami sampai di bidan dengan selamat, Hehehehe. 

Setelah menunggu hampir 12 jam, pembukaan tetap di angka satu. Gak naik-naik. Bidan akhirnya memutuskan menggunakan induksi agar pembukaan saya cepat naiknya. 

Iya sih jadi cepet naik kaya roket, saking cepetnya saya gak bisa nahan itu rasa mules sampai terus nangis dan meringis. 

Enam jam kemudian akhirnya saya pembukaan 10 dan siap melahirkan. Rasanya? Sakit banget buuu!! Sampai saya ga tahan dan teriak kaya orang gila. Padahal udah komat kamit baca doa dan solawat. Tapi tetep saya gak kuat nahannya. Sampai-sampai pak suami abis babak belur badan sama kepalanya saya cubit , cakar dan jambak rambutnya! Huhuhu, maafkan aku Paksu. 

Alhamdulillah, keenan lahir dengan selamat dan sehat sempurna. Rasanya? Bahagia sekali. Dan gak nyangka. Tapi sayangnya, saya mengalami Ruptur stadium empat yaitu tingkatan tertinggi dalam ruptur perineum setelah melahirkan. 

Robekan ini memanjang hingga ke dinding rektum, dimana jalan lahir sobek parah hingga anus yang berpotensi menyebabkan disfungsi dasar panggul dan saluran pencernaan. Hingga akhirnya bidan menyerah dan membawa saya ke rumah sakit dan saya di operasi bius total. 

Alhamdulillah proses operasi lancar. Tapi tidak dengan proses pembayaran operasi. Total biaya operasi memakan uang hingga 15juta! 

Suami saya sampai syok dan menangis di depan saya setelah saya siuman. Kami tidak punya tabungan sebanyak itu. Kami hanya menyiapkan dana 5 juta saja untuk persalinan. Itupun sudah habis untuk biaya persalinan di bidan. 

Ingin saya memohon bantuan pada ibu, tapi tiba – tiba saya ingat kalau beliau masih menanggung biaya kuliah adik bungsu saya. Lalu saya ingat ayah saya, saya coba telpon beliau tapi sayangnya setelah setengah jam menelpon, panggilan saya tidak dijawab. Orang tua saya sudah bercerai, sehingga suasana ini makin membuat hati saya sedih dan merana. 

Saya tertegun diam dan berfikir segalam macam alternatif solusi. Hingga akhirnya saya memutuskan suatu hal yang saya tau saya akan merasa sangat terpukul dan sedih teramat sangat karenanya. 

Saya lihat, Paksu juga berusaha menelpon kesana dan kemari mencari pinjaman. Tapi sepertinya gagal. Karena beliau datang menghampiri saya dengan wajah sendu. Melihat Paksu begitu kebingungan, akhirnya saya angkat bicara , 

Bah, pake aja uang buat sidang dan wisuda aku “ ucap saya 

Hah? Apa ndaa? Pake uang kuliah ndaa? “ jawab paksu terperangah kaget, 

iyaa..... “ jawabku sambil nangis, 

Tapi ndaa.... “ jawabnya getir 

Gak apa-apa Bah, aku ikhlas “ jawabku berusaha nahan tangisan. 

Lalu kami saling memandang dan berpelukan. Ya Allah, sesungguhnya aku sedih dan bingung. Tapi, kami tak punya pilihan.

Keputusan Akhir


Akhirnya, inilah moment dimana saya harus melepas impian terbesar saya demi kesembuhan saya setelah melahirkan keenan, anak pertama kami. Saya sedih? Tentu. Kecewa? Tidak. 

Pada akhirnya saya merasa, menjadi Arsitektur Lanskap mungkin bukan jodoh saya. Mungkin Allah hendak mengantarkan saya menuju impian lain dan menyiapkan saya untuk rencanaNYA yang lebih besar. Wallahualam. 

Terkadang saya merana, setiap kali Dosen yang baik hati itu menelpon atau watsapp menanyakan kabar saya dan menyemangati saya untuk meneruskan kuliah. Tapi dengan berat hati saya selalu menolak dengan alasan anak saya tidak ada yang menjaga. Padahal, sesungguhnya bukan itu alasannya. 

Ingin rasanya meneruskan kembali, tapi situasi finansial kami masih belum stabil. Usaha Paksu juga masih dirintis sementara kebutuhan bayi dan rumah tangga selalu meminta tiada henti setiap hari. 

Akhirnya, saya ikhlaskan dan melepas Impian saya. 

Tapi, Allah itu memang Maha Baik dan Penyayang. Seiring berjalannya waktu , akhirnya saya menemukan impian baru. Menjadi illustrator dan Menulis. 

Iya, saya tetap meneruskan hobi menggambar saya hingga berbuah manis yaitu di pinang saah satu clothing di Bandung dan menjadi illustrator mereka selama hampir 5 tahun terakhir. 

Saya juga kembali menekuni hobi saya yang lain yaitu menulis di Blog dan memutuskan untuk menjadi Blogger. Akhirnya, disinilah passion saya tertambat dan berlabuh. Entah ada rencana besar apa yang Allah siapkan untuk saya di impian baru saya ini. Apapun itu, saya tetap bersyukur. Karena melalui menulis, saya bertemu banyak relasi dan kawan baru yang saling support dan menyemangati. Dan yang paling utama, saling menguatkan dan menginspirasi. Untuk yang satu ini, saya tidak bisa berhenti bersyukur. Terimakasih Ya Allah. 

Terkadang, rencana yang sedemikian dirancang degan sempurna pada akhirnya bisa ambyar dan tidak tercapai. Terkesan tidak adil memang, tapi rencaa Allah lebih besar dan hebat dari rencana kita manusia. Jadi, tidak apa akhirnya saya tidak menjadi Arsitektur Lanskap. Karena sekarang saya menjadi “arsitektur” masa depan anak-anak saya. 

END

-----------------------------------------

Tulisan ini memenangkan juara pertama dalam sayembara menulis Paidguestpost#1 bertema THOUGHT yang diselengarakan oleh pemilik blog CREAMENO 





Ayo Kita Jaga Hutan dengan Adopsi Hutan Jaga hutan? adopsi hutan? apakah sih itu? Baiklah, saya coba berikan sedikit pembuka ya. Pernahkah kamu membayangkan jika suatu hari hutan di dunia ini hilang? gak terbayang? cobalah untuk membayangkannya,. sudah terbayang apa yang akan terjadi?
. Berbagai habitat flora dan fauna punah? betul
Cadangan oksigen sangat tipis? benar
Terjadi banjir dan bencana alam lainnya? benar.
Sudah terbayang bukan. Nah sekarang saya coba paparkan mengapa kita harus mulai peduli dari sekarang terhadap hutan dan melakukan aksi jag ahutan dengan adopsi hutan.  

Saya dan Kecintaan Saya dengan Hutan


Saya sangat menyukai pohon. Saya sangat menyukai berdiri lalu memeluk pohon dan merasakan angin sejuk menerpa wajah saya sambil menatap pemandangan ranting dan dedaunan yang diterpa angin dari bawah.
Setiap pohon memiliki aroma khas sendiri yang keluar dari kulit batangnya. Bahkan, ilustrasi artikel dan header blog pribadi saya pun tidak lupa saya sertakan gambar pohon kesayangan saya. Saya bahkan pernah bercita - cita ingin bisa jaga hutan sebagai upaya saya dalam menyelamatkan hutan dari kepunahan. 
Perkenalan pertama saya dengan hutan adalah, ketika saya memutuskan untuk bergabung dengan kegiatan ektrakulikuler Kimipala ( Kimia Pencinta Alam ) ketika saya SMA dulu. Kecintaan saya terhadap hutan tercurahan disana lewat berbagai kegiatan menjelajah beberapa hutan di beberapa pengunungan di  Jawa Barat. 


jaga hutan dengan adopsi hutan
Hutan Jayagiri


Ada pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan ketika saya bergabung dengan Kimipala yaitu  Ekspedisi ke Hutan Jayagiri Bandung. 
Rute yang kami ambil berawal dari terminal Ledeng, melewati Parongpong dan kebun teh lalu menyusuri jalan setapak yang cukup panjang hingga akhirnya menuju hutan Jayagiri. Kami tiba malam hari dan segera mendirikan tenda. Saya berharap bisa terbangun keesokan harinya disambut matahari hangat di balik hutan pinus  yang rindang.
Tetapi saya dikagetkan dengan pandangan yang menyayat hati keesokan harinya. Bukan jajaran pohon pinus yang saya temukan, tetapi bekas tebangan pohon yang cukup banyak.
Saya sedih bukan main, karena hamparan hutan gundulnya cukup luas. Saya sempat bertanya pada senior saya, kira-kira siapa yang menebang dan untuk alasan apa. Jawabannya singkat, dia tidak tahu. Tetapi ada kemungkinan besar oleh pihak pengembang pariwisata atau masyarakat sekitar yang menebang pohon untuk kehidupan sehari – hari mereka.
Saat itu saya tidak berpikir akan dampak besar dari ditebangnya puluhan pohon di Hutan Jayagiri, tetapi saya merasa sedih pohon – pohon ini di tebang sehingga musnah pula kehidupan yang menyertai pohon – pohon itu dimana pasti ada banyak habitat yang rusak dan hilang.  

FUNGSI HUTAN BAGI KEHIDUPAN MANUSIA


Sudah tahukan kamu tentang fungsi Hutan dan manfaatnya terhadap kehidupan kita? 
Hutan, memiliki fungsi yang sangat penting terhadap keberadaan ekosistem yang ada di dalamnya. ekosistem  ini memiliki fungsi yang penting diiantaranya adalah :
  • Sebagai sumber penyedia air
  • Menghasilkan oksigen
  • Habitat aneka ragam flora dan fauna
  • Mencegah terjadinya pemanasan global
Infografis fungsi hutan



Berbicara tentang fungsi hutan sebagai penghasil oksigen, tahukah kamu berapa jumlah oksigen yang dihasilkan oleh satu batang pohon? 
Pohon yang memiliki tinggi 12 meter dan berat dua ton mampu menghasilkan 100 kg oksigen per tahun. Sementara manusia memerlukan 740 kg oksigen per tahun. Jadi, satu orang akan membutuhkan 8 pohon untuk bernafas sepanjang tahun. Lalu berapa Jumlah Pohon  yang dibutuhkan oleh seluruh warga Indonesia agar bisa bernafas sepanjang tahun? Wah berat ya, tapi ini bisa di hitung. 





kebutuhan oksigen manusia


jumlah oksigen yang dihasilkan pohon




Pada tahun 2019, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan sebanyak 267 juta jiwa , maka akan dibutuhkan pohon sebanyak 2.136.000.000 agar seluruh warga masyarakat indonesia bisa bermafas sepanjang tahun.
Banyak ya jumlah pohonnya. Nah, jumlah batang pohon yang banyak itu ternyata sama dengan hutan yang memiliki luas sekitar 854.400 hektare. Sementara itu, Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL) KLHK, pada Tahun 2019 Indonesia memiliki luas hutan sebesar 94,1 juta hektare. 



berapa jumlah pohon yang dibutuhkan untuk menghasilkan oksigen



Jika melihat angka di atas, maka warga masyarakat Indonesia tidak perlu merasa khawatir akan kehabisan stok oksigen sepanjang tahun. Tapi, jangan merasa aman dulu dengan jumlah angka luas hutan yang dimiliki oleh Indonesia, mengapa? Karena ada permasalahan yang cukup penting yang jika diabaikan akan menyebabkan hilangnya hutan di seluruh Indonesia.

PERMASALAHAN  HUTAN DI INDONESIA


Hutan Jayagiri ternyata memiliki peranan yang cukup penting terkait pasokan sumber air bagi warga wilayah cekungan Bandung, yaitu sekitar 60 persen. Bukan hanya hutan Jayagiri, tetapi keberadaan hutan lain yang mengelilingi Cekungan Bandung juga memiliki fungsi penting yang sama terhadap ketersediaan air, pelestarian flora dan fauna, penyerapan karbon kota dan penghasil oksigen. Ironisnya, Bukan hanya hutan - hutan tersebut saja yang mengalami alih fungsi lahan, tetapi juga Cekungan Bandung itu sendiri .


  cekungan bandung

Cekungan Bandung, Photo milik Bale Bandung


cekungan lembang
cekungan lembang. photo milik Dinas Bina Marga dan Pemukiman


Cekungan Bandung, merupakan wilayah di sekitar kaki Gunung Tangkuban Perahu yang memiliki  topografi berbentuk cekungan dan memiliki luas sekitar 343.087 hektar. Wilayah ini membentang secara horizontal sepanjang  40 km yang dimulai dari Nagreg - Ujungberung  di sebelah timur Hingga  ke Padalarang di sebelah barat. Jadi, bisa dikatakan Cekungan Bandung merupakan wilayah Bandung Raya. 
Pada saat ini,  hutan - hutan di sekitar wilayah cekungan Bandung mengalami deforestasi akibat penebangan pohon secara ilegal sehingga, banjir di hilir kota Bandung tidak bisa di hindari. Wilayah Soreang, Cibaduyut dan Baleendah buktinya. Ketiga wilayah ini selalu menjadi langganan banjir di setiap musing penghujan datang. 
Alih fungsi lahan memang sulit dihindari mengingat semakin pesatnya pembangunan infrastuktur pemukiman dan pariwisata. Namun jika alih fungsi lahan ini dibiarkan tak terkendali, maka Kondisi cadangan air akan berkurang.
Mengapa? Karena air hujan yang turun hanya akan menjadi air limpasan yang mengalir begitu saja di permukaan tanah tanpa diserap oleh tanah dan mengalir ke sungai atau menyebabkan banjir seperti di tiga wilayah Bandung selatan tersebut diatas. 
Permasalahan yang dialami oleh Hutan Jayagiri dan hutan - hutan di sekitar kawasan cekungan Bandung  juga dialami oleh hutan di Indonesia. Deforestasi yang diakibatkan oleh alih fungsi lahan kawasan hutan menjadi kawasan pemukiman dan wisata atau industri telah menjadi mimpi buruk  bagi nasib hutan – hutan di seluruh Indonesia.


infografis permasalahan hutan di indonesia



Berdasarkan data dari Forest Watch Indonesia, dalam kurun rentang waktu tahun 2013 hingga 2017 ( 4 tahun ) hutan di Indonesia telah mengalami deforestasi sebesar 5,7 juta hektare. Itu artinya, Hutan di Indonesia mengalami deforestasi sekitar 1,4 juta hektare setiap tahunnya. Maka, akan dibutuhkan waktu kurang dari 70 tahun hingga seluruh hutan di Indonesia habis akibat deforestasi. 
Wow bukan! Lantas, Masihkah kita berfikir masih aman dan dapat bernafas lega sambil rebahan ? Masih mengira kalau hutan Indonesia masih rimbun dan luas? Itu ada datanya lho, kurang dari 70 tahun hutan kita akan menghilang jika di biarkan. 
Lantas, apa yang bisa kita lakukan dalam upaya jaga Hutan? Pertanyaan yang bagus! 

LANGKAH NYATA DALAM USAHA JAGA HUTAN 


Perubahan menuju perbaikan memang perlu dilakukan. Jangan membayangkan hal yang besar dahulu karena kita tidak tergabung dalam kelompok pahlawan super. Untuk membantu usaha pelestarian dan jaga  hutan, kita bisa melakukan beberapa hal seperti dibawah ini  : 

1. Gabung Komunitas peduli hutan dan lingkungan 

Ada banyak komunitas peduli hutan dan lingkungan di Indonesia. Tetapi tentu tidak mungkin kan  kalau kita gabung ke seluruh komunitas itu. Kita bisa bergabung dengan komunitas peduli lingkungan yang dekat dengan lingkungan rumah kita. Misalkan, CommuniTree, WALHI , greenpeace atau WWF. Kalau kamu berdomisili di Bandung seperti saya, bisa tuh gabung dengan WALHI, Peduli Ciptaan Indonesia (PCI) atau Bandung Share to Care.

2. Menjadikan Zero Waste sebagai pola hidup yang baru 

Secara sederhana, Zero waste merupakan pemahaman yang dijadikan sebagai gaya hidup dimana kita sebisa mungkin mengurangi sampah dalam kehidupan sehari-hari dan menggunaan prinsip 3R ( Reduce, Reuse, Recycle) .

Jika gaya hidup ini dirasa masih terasa agak berat, coba lakukan satu hal kecil saja yaitu kurangi penggunaan tisu dan bijak dalam menggunakan kertas.

Mengapa? Karena kedua produk tersebut berbahan dasar dari kulit batang pohon. Jadi sudah terbayang kan? Jadi mulai dari sekarang, kalau kamu rajin nangis sambil nonton drakor jangan gunakan tisu lagi. Tapi gunakan sapu tangan ya.

3. Jangan tebang pohon di depan rumah  

Rumah memang akan terlihat kusam dan seram kalau ada pohon besar di depan rumah. Tetapi jangan salah, ada satu pohon depan rumah bisa memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap penurunan suhu ruangan didalam rumah. Sehingga, penggunaan AC atau kipas angin bisa berkurang terlebih di musim panas. 

Agar rumah tidak terlihat seram dengan adanya pohon depan rumah, kamu bisa mengecat rumahmu dengan warna cerah dan membuat taman indah di sekitar pohon. Dijamin, rumahmu akan terlihat cantik dan tidak seram. 

Tiga langkah dalam upaya nyata Jaga Hutan di atas Mudahkan? Tetapi jika tiga langkah di atas masih di rasa terlalu berat, masih ada satu hal lagi yang bisa kamu lakukan dalam rangka ikut menyelamatkan, jaga hutan dan melestarikan nya. Yaitu hanya dengan menyiapkan keikhlasan hati untuk sedekah dan mendownload aplikasi KITABISA . Lho kok bisa? Gimana caranya? Caranya yaitu dengan adopsi hutan

ADOPSI HUTAN 


adopsi hutan


Akhirnya Indonesia kini memiliki hari hutan Indonesia, yang dirayakan pada tanggal 7 Agustus 2020. Dalam rangka perayaan, terdapat 100 organisasi dan komunitas bekerjasama merayakan Hari Hutan Indonesia pada 7 Agustus 2020 yang dilakukan secara virtual di Youtube. Berbagai kegiatan seni pun digelar. Peringatan Hari Hutan Indonesia ini terwujud bukan dalam waktu singkat, tetapi melalui petisi yang dimulai sejak tahun 2017 melalui Change.org
Tanggal 7 Agustus pada akhirnya dipilih sebagai Hari Hutan Indonesia karena tepat satu tahun yang lalu pada tanggal yang sama, secara permanen Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2019 mengenai Penghentian Pemberian izin baru dan penyempurnaan tata kelola hutan primer dan lahan gambut akhirnya disahkan oleh Presiden Jokowi. Melalui perayaan Hari Hutan Indonesia ini, di harapkan  warga masyarakat Indonesia dan pemerintah selalu ingat akan pentingnya keberadaan hutan.
Selain perayaan yang diselengarakan secara virtual, ada satu lagi  rangkaian perayaan Hari Hutan Indonesia yang digelar, yaitu  program Adopsi Hutan. 

Adopsi hutan? Apa itu ? 


hari hutan indonesia



Adopsi hutan adalah gerakan gotong royong untuk menjaga hutan yang masih ada. Apa saja yang dijaga? yaitu  mulai dari pohon tegaknya, flora eksotisnya, Fauna yang beraneka ragam  serta keanekaragaman hayati lain di dalamnya. Melalui adopsi hutan, siapa pun dan di mana pun berada, bisa terhubung secara langsung dengan ekosistem hutan beserta para penjaganya hutan yang selalu setia jaga hutan setiap saat melalui program donasi Adopsi Hutan. 
Tugas jaga hutan ini tidak mudah lho, kamu harus paham dan tahu betul seluk beluk hutan yang kamu jaga. Dibutuhkan lebih dari sekedar kemauan, tapi tekad kuat dan tentu saja, rasa peduli terhadap hutan yang tinggi.


aplikasi kitabisa


Jadi, menjadi orang yang tugasnya jaga hutan cukup berat  sehingga sudah selayaknya kita bantu dan dukung melalui program DONASI terhadap program ADOPSI HUTAN. Pengumpulan dana untuk Adopsi Hutan ini dilakukan melalui aplikasi kitabisa.

CARA ADOPSI HUTAN 

Cara Adopsi Hutan ini sangat mudah, caranya adalah sebagai berikut :

1. Siapkan saldo di rekeningmu, bisa BANK ataupun Aplikasi pembayaran elektronik 
2. Donwload aplikasi Kitabisa melalu App Playstore 
3. Daftar menggunakan alamat e-mail atau gmail mu di aplikasi Kitabisa 
4. Cari program ADOPSI HUTAN di menu pencarian donasi 
5. Setelah bertemu dengan program donasi Adopsi Hutan, kamu bisa melakukan Donasi dan pembyaran donasi. 

Agar lebih mudah, kamu bisa melihat video berikut ini. 




KEMANAKAH DONASI ADOPSI HUTAN MENGALIR


Uang yang kamu donasikan ke program donasi ADOPSI HUTAN akan disalurkan kepada lembaga masyarakat yang berada di lingkungan kawasan hutan Iindonesia untuk kegiatan patroli hutan desa/adat, modal wirausaha produksi hasil hutan non-kayu dan klinik kesehatan warga. Adapun para pengelola Adopsi Hutan yang akan di bantu adalah sebagai berikut :

1. Forum Konservasi Leuser ( FKL) di Aceh
2. Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI di Sumatera Barat, Jambi, dan Bengkulu
3. Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) di Kalimantan Barat
4. PROFAUNA Indonesia di Kalimantan Timur dan Jawa Timur.





ilustrasi jaga hutan dengan adopsi hutan

Nah, sudah paham kan sekarang ya soal pentingnya menjaga hutan? karena ternyata hutan besar sekali manfaatnya terhadap kelangsungan hidup manusia terutama ketersediaan oksigen. Gak mau kan cadangan oksigen kita habis hanya karena kerakusan kita sendiri  terhadap alih fungsi lahan? jadi, Ayo kita bersama - sama jaga hutan melalui program donasi Adopsi Hutan melalui aplikasi kitabisa.