Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

illustrasi bikin sendiri nyontek dari scene film miss virginia (2019)

Pada suatu masa, sebelum liburan akhir semester sekolah keenan tahun lalu, POMG ngadain rapat mau piknik kemana kita, pilihannya antara naik kereta api terus ke museum iptek seharga 220rb per pasangan ibu-anak  atau renang yang hanya 130rb per ibu-anak.

Dan, 80% semua ortu siswa memilih renang. Aku agak kecewa sih sebetulnya.

Mengapa?  Karena coba bayangkanlah, kita se-TK sewa 1 gerbong kereta api, terus bakalan ada ahli edukasi per-kereta-apian dari pihak PT.KAI alias tour guide yang bakalan ngejelasin ke anak-anak tentang kereta api , trus udahnya langsung cuzzzz ke MUSEUM IPTEK dan diakhiri dengan NONTON FILM 4D!!!! mo gimana gak lengkap ga tuh program outing-class-nya alias belajar dilapangan anak-anak yang ntah kapan keenan bisa dapet kesempatan kaya gitu lagi?!!!! 

Yah, saya akui harga outing-class semester memang MAHAL, 220rb memang bisa di bilang mahal mengingat kita sebagai ortu masih punya kewajiban pembayaran lain yang sama pentingnya. tapi buatku pribadi, mahal dikit kagak napa-napa lah, yang penting anak-anak bisa belajar. apalagi beda-nya "cuman" 100rb yang kalopun jadi renang, kita bakalan tetep ngeluarin duit lebih segitu buat JAJAN!!!! Jadi jatoh-nya sama aja mahal Fernando! hehehehe

Emang sih, anak TK daya serap ilmu nya belum sempurna dan kalopun dijelasin panjang lebar se-panjang kereta api , mereka cuman pelanga-pelongo sambil manggut-manggut ntah ngerti ntah kagak, dan mungkin emang gak ngerti sama sekali apa yang di omongin tour guide, TAPI PENGALAMAN ITU PENTING!!! 

Bayangkan senangnya anak TK naik kereta untuk pertama kali, terus ke museum iptek dan merasa takjub dengan semua perkembangan teknologi yang belum mereka pahami, siapa yang tahu, setelah mereka naik kereta api jadi pengen jadi masinis atau bahkan ilmuwan yang bikin kereta api? siapa yang tahu setelah ke museum iptek mereka jadi pengen jadi engineer yang menciptakan teknologi baru??? Siapa yang tau??

Yaah, 
Realita yang menyakitkan ini mengingatkan saya akan realita yang dikisahkan oleh sutradara R. J. Daniel Hanna dalam film Miss Virginia (2019), film berdasarkan kisah nyata milik Virginia Walden Ford, seorang kulit hitam, single parents dan bisa dibilang secara ekonomi hidupnya pas-pas-an. Mereka tinggal lingkungan yang penuh dengan peredaran narkoba dan pembunuhan. Hal itu menyebabkan Virginia, merasa harus kerja keras agar anak laki-lakinya yang berusia 15 tahun tidak mengalami apa yang dialami anak-anak lain di lingkungan rumahnya, berakhir dipenjara atau terbunuh dijalanan.



Anaknya, james sekolah disekolah umum milik pemerintah yang broke-down dan under-funded. James sering jadi korban bully. Virginia tahu hal itu dan akhirnya pindahin james ke sekolah swasta. 

Dilema muncul kemudian ketika Virginia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa, biaya sekolah swasta itu mahal cuy!! Dia gak sanggup bayar sisa pembayaran uang daftar sekolah james yang baru! Padahal dia udah double job sebagai janitor di kantor salah satu anggota DPR, Lorraine Townsend, yang kemudian mereka jadi ce-es karena persamaan pandangan terhadap pendidikan, bahkan si Lorraine Townsend ngajak Virginia ke acara pertemuan warga di Town Hall buat ngasih suara di Town hall meeting. 

Acara hearing session di Town Hall meeting, waktunya pas pisan sama si virginia yang lagi galau karna masalah yang dia hadapi, ketika Virginia ditunjuk kedepan untuk buka suara, dia gak ngasih suara dukungan ke anggota DPR Lorraine Townsend, tapi dia malah curhat! 

Soal si Virginia menemui kenyataan bahwa dia ga punya duit buat lunasin pembayaran sekolah james yang baru dan james harus pindah lagi ke sekolah lama yang bagaikan neraka bagi james dan ada kemungkinan james gak punya masa depan lebih baik, apa jadi dokter, pengacara bahkan anggota DPR dan mungkin malah akan berakhir jadi pengedar narkoba atau mati dijalanan, hanya karena emaknya kagak punya duit buat sekolahin james di sekolah yang bagus!!!. Virginia minta beasiswa untuk anak seperti james, yang ingin sekolah disekolah yang bagus tapi gak mampu. Tapi sayangnya beasiswa semacam itu gak ada.

Sungguh malang, Curhatan virginia malah berbuntut dipecat sama si anggota DPR. Sedih dong dan hancur hati Virginia berkeping-keping, tapi dia gak nyerah. Dia bawa kasus anaknya ke anggota DPR lain yang jauh punya pengaruh politik lebih kuat. Daaann… perjuangan pun dimulai. Akhirnya begimana? Yah tonton ajah di web sebelah ya…

Ini yang aku maksud, realita yang kualami sama menyakitkanya dengan film miss Virginia, kita sama dalam pandangan pendidikan dimana anak layak dapat pendidikan terbaik walau ada harga yang harus dibayar. Tapi beda-nya Virginia berjuang sampai ranah politik biar anaknya dan anak-anak yang lain bisa dapat beasiswa, sedangkan saya ? Baru sampai begadang tiap hari ngerjain gambar!  Wkwkwk

Virginia itu hebat lho, udah single parents terus rela kerja keras banting tulang biar anaknya bisa masuk sekolah yang the best. 

Tapi saya udah gak kesel lagi kok, it’s not a big deal sebenernya. Klopun keenan gak jadi belajar soal kereta api, gampang, saya ajak ajah naik kereta api dari gedebage ampe cicalengka terus saya yang jadi tour guide-nya.

Gak jadi ke museum iptek? yah gpp, saya ajak aja dulu ke museum geologi dan saya yang jadi tour guide-nya nerangin soal dinosaurus. Gak jadi nonton film 4D? Saya suruh aja anak  nonton film pake kacamata 3D bikin sendiri. Jadi lebih kreatif kan ya sebetulnya. 

Yah,  selalu ada jalan menuju roma wahai mercedes,  selalu ada.  Virginia aja ga nyerah,  masa kamu nyerah??  Hehe

wassalam,



Hari ini adalah hari ke 69 sejak pandemi covid19 merebak dengan cepat di indonesia.
Saya sempat berharap hal yang sama dengan mungkin ribuan masyarakat muslim se-indonesia begitu hawa-hawa Ramadhan mau tiba, si covid udah pergi. tapi nyata-nya, ramadhan kali ini sungguh menjadi ramadhan paling berbeda sepanjang sejarah Ramadhan di indonesia.

Tanpa dibangunin sama teriak "sahuuuur-sahuuuurr" sama anak-anak dan petugas ronda keliling, tanpa tarawih, tanpa nga-buburit , tanpa petasan dan kembang api , tanpa takbir keliling, tanpa bukber antar grup di WA, tanpa silaturahmi antar rumah/saudara dan mungkin tanpa beli baju lebaran, solat Ied dan Mudik.

Ramadhan kali ini, saya malah di kasih tugas lebih sama Allah SWT. berbakti pada ibu.
puasa hari pertama kami kedatangan tamu istimewa, ibu . beliau sakit dan ingin saya yang mengurus beliau. tentu saya senang, anak-anak juga senang.

Ibu , sering ngeluh sakit dada kiri hingga menusuk punggung sejak 2 minggu kebelakang. udah makan paracetamol, asam mefenamat, di kasih freshcare, balsem, pijit, urut..... gak ngaruh. sakitnya gak ilang-ilang. jadi, besoknya saya antar ibu ke dokter langganan . kata dokter, ibu asam lambung. tapi kalo sakitnya masih ada, langsung ke dokter praktek/klinik yang ada dokter jantungnya atau internist.

Setelah 3 hari, Ternyata, sakitnya masih ada malah makin menjadi, lalu saya bawa ke dokter internist di daerah antapani, namanya Klinik Tongkonan atas saran ibu mertua karena dulu ayah mertua pernah berobat disana dan sembuh. ini menjadi perjalanan terjauhku dimasa pandemi. agak was-was dan parno, gimana kalo dijalan atau di klinik terpapar covid? tidak ada cara lain untuk menghentikan panik dan parno kecuali memberanikan diri, demi kesembuhan ibu. berbekal hand sanitizer buatan sendiri, tisu basah antiseptik, sarung tangan kain, sepatu dan kaos kaki lengkap beserta jaket dan tentu masker baru cuci.... kami berangkat pake GRAB PROTECT. agak mahal sih, tapi demi rasa aman dan nyaman berkendara, hayu ajah lah.











Klinik Tongkonan ini katanya banyak yang sembuh, kliniknya sederhana dan tempatnya kaya rumah tahun 90-an, lebih mirip tempat dokter praktek pribadi sih dibanding klinik. petugasnya cuman ada 2, ditambah dokter 1 dan petugas apotek 2 orang. Setelah sampai, langsung daftar dan di tes suhu dulu, dicatet nama+alamat dan keluhan, ditanya ada demam/batuk/pilek atau gak. lalu nunggu sekitar 30 menit baru dipanggil. dokter internist nya laki-laki, ibu agak kagok dan kurang nyaman. tapi gpp lah lanjut aja.

Begitu nama ibu dipanggil, saya langsung masuk ruangan dokter yang pintunya gak boleh ditutup dan harus jaga jarak. yo wes, gpp itu kan aturannya. dokter nanya ibu ada demam atau bapil, ibu jawab gak ada. terus di raba punggung pake stetoskop dan di suruh nafas. gak ada keluhan sesek nafas atau sakit di perut. jadi gak perlu USG abdomen. nge-ceknya sebentar banget. dokternya ngomong gak sambil duduk layaknya konsultasi dokter-pasien, tapi berdiri dengan jarak cukup jauh. 


karena dokternya pake masker dan face-shield ditambah logat bahasa sebrang yang kental dan suara yang pelan, aku gak bisa dengar apa kata dokter, apalagi ibu yang pendengarannya memang sudah berkurang karena faktor usia. jadi wajar kalo saya berjalan mendekati si dokter, tapi baru maju dua langkah, si dokter teriak dengan tegas, 

" EH!!! JANGAN MENDEKAT. CUKUP DISANA AJA!!" aduh Gusti! 

Saya mau tanya ibu kira-kira sakit apa dan kenapa, jawabannya gak jelas dan bikin bingung. akhirnya komunikasi kami banyak di selipi kata, "apa dok? gimana? " sambil saling teriak. si dokter cuman bilang, " ada kemungkinan cereda otot atau radang selaput paru. perlu di rontgen thorax dan ekg. saya kasih surat pengantar ke rumah sakit buat rontgen " terus kami di suruh cepet-cepet keluar ruangan.

Aduh gusti!!! takut sama pandemi kok gini-gini amat ya. Dokter Tongkonan kasih ibu obat penahan nyeri, antibiotik, obat maagh dan obat radang untuk 5 hari. setelah obat habis, sakitnya masih ajah ada. bingung kan kami.

Lalu , setelah gugling nyari Lab mandiri di daerah deket rumah, saya nemu Lab klinik Kimia Farma. saya bilang ke ibu kalo mendingan rontgen disana aja, mengingat kami berdua sebisa mungkin menghindari ke rumah sakit karena kami yakin semua rumah sakit fokusnya ke penanganan covid. jadi yah, was-was juga kalo pergi kesono. jadi, saya bawa ibu ke Lab kimia farma. 


Lab nya bersih, terlihat steril, tempat duduknya di kasih label jaga jarak pembatas buat duduk. yang saya suka di sana adalah petugasnya sangat ramah dan baik, dan gak keliatan ketakutan atau parno gitu nanganin customer yang mau cek Lab. semua pertanyaan dari saya dan ibu dijawab dengan tenang, sabar dan detail.

Lalu, kami memutuskan untuk konsultasi dengan dokter penyakit dalam di klinik Kimia Farma saja, mengingat adminnya baik dan ramah, dokternya juga pasti gitu. ditambah dokternya perempuan, maaf ya bukan rasis gender, tapi ini menyangkut kenyamanan.










Hasil rontgen thorax dan ekg baru bisa diambil esok hari dan dokter penyakit dalamnya juga baru buka praktek jam 7 malam. Jadi yah, kami menunggu. Abis solat subuh saya ga tidur. Tapi beberes rumah, nyuci baju dan nyiapin buat buka puasa biar nanti berangkat semua urusan domestik udah beres.

Pak suamik bersedia ambil hasil lab sebelum belanja buat dagang pagi hari. Kalo saya yg ambil duuhh rempong anak anak pasti mau ikut. Kan ga boleh karena lagi pspb. Setelah saya liat hasil rontgen thorax, di sana ada laporan hasil analisa nya. Tertulis kesimpulannya adalah BRONKITIS. wah, kami kaget. Kami jadi berkesimpulan wajar kalo ibu kena bronkitis karena suka mandi pake air dingin sebelum solat subuh sehabis beberes rumah dan berkeringat. Juga suka tidur pake kasur tipis depan tv. Tapi, kami juga was was ibu kena covid. Karena covid menyerang saluran pernafasan kan? Kami berdua jadi parno dan stress mikirin itu.

Abis buka puasa, solat magrib terus dzikir. Berdoa minta ke Allah supaya dokternya ramah dan ga kaya yg ketakutan gitu terus mencurigai kami sebagai suspect covid. Sambil berangkat mendendap ngendap menghindari para bocah yg anteng main sama sepupunya, ibu dan saya berangkat sambil pesen babang GRAB protect di jalan.

Sebelumnya saya udah telpon apotek buat daftar ke dokter internist, jadi begitu sampai cukup bilang mau berobat dan udah daftar ibu dapet no antrian 3, alhamdulillah ga terlalu antri lah. Admin nya baik dan ramah. Ibu di tensi dulu dan timbang BB juga cek suhu dan ditanya ada demam atau bapil. Mereka tetap waspada, tapi gak kaya yg ketakutan atau terlalu jaga jarak gitu. Mereka tetap melayani dengan ramah. Abis itu, kami nunggu sekitar 30 menit sampai bu dokternya datang dan 20 menit sampai nama ibu dipanggil bu dokter.

Begitu masuk ruangan dokter, kami disambut sama senyum ramah dokter dibalik masker dan kaca matanya dan ucapan, " iya ibu, ada keluhan apa"... Lalu kami cerita bla bla gejala sakit ibu dan udah berobat kemana aja sambil serahin hasil rontgen dan ekg. Lalu ibu diperiksa badan di kasur pasien. Begitu bu dokter liat di punggung ibu ada semacam bintik merah mengumpul dan kaya yg udah pecah, dengan tenang bu dokter bilang,
" ooohhh ini mah herpes bu. Tenang aja. Ga berbahaya kok bu" sontak kami berdua lega! Nuhun gusti.

Abis itu, bu dokter nyuruh saya liat bukti ibu kena herpes tanpa ragu atau nyuruh saya jaga jarak dengan beliau terus jelasin kenapa ibu bisa kena herpes dan bilang ibu harus sabar karena si herpes udah diem di syaraf dan bikin sakit tulang dan syaraf. Makanya sakitnya gak ilang ilang dan bakalan lama proses ilangnya. Bu dokter juga jelasin ngasih obat apa aja dan apa yg dipantrang.

Terus aku tanya, kenapa hasil rontgen nya bronkitis, terus bu dokter bilang gak bronkitis, itu hanya asumsi. Karena ibu ga ada demam batuk pilek atau sesak nafas.

Alhamdulillah. Kami bersyukur, sakit ibu ga se parah yg kami khawatirkan. Sekarang ibu hanya perlu banyak bersabar menahan sakit.

Jadi, apa hubungannya semua ini ?

Di masa pandemi Covid19 ini, memang perlu selalu waspada dan hati-hati dalam berinteraksi. Jarak jarak dan pembatasan juga perlu, tapi jangan sampai hal itu juga membatasi nilai kemanusiaan dan mencurigai semua orang sebagai suspect. 

Yang jahat itu menurutku bukan virus corona, tapi nilai kemanusiaan yang diinjak - injak, keserakahan dan keegoisan kita para manusia. saya jadi berfikir, Mungkin Corona Ada Supaya Manusia Lebih Peduli .


Hal inilah yang jadi alasan kenapa ibu memilih berobat ke dokter di Kimia Farma. Kami ga rasis soal fasilitas klinik ya. Tapi, pelayanan yang ramah dan penjelasan yang detail lah yang bikin kami nyaman berobat disana, karena soal harga mah sama aja. Sama mahal nya kok. Hehehe

Hal ini juga berlaku untuk setiap aspek komunikasi di setiap kegiatan yg kita lakukan, semisal belanja ke warung. Jaga jarak perlu tapi mati nilai kemanusiaan jangan atuh lah. Selalu pakai masker, cuci tangan abis dari luar, ganti semua baju abis berangkat jauh dan selalu sedia hand sanitzer di ikuti doa terus, adalah solusi mengatasi rasa takut dan parno.

Akhirnya, saya bisa mengatasi parno saya sendiri karena pandemi ini.


Menjaga mood untuk bisa ceria dan hati senang selama masa pandemi corona ini, bisa dibilang agak susah. Walau diam dirumah adalah hobi saya sedari dulu, tapi lain dulu lain sekarang. Dulu sih, saya masih berkutat sama diri sendiri aja, sekarang, diam dirumah seharian selama 46 hari adalah sebuah stress baru. Karena setiap hari bergelut dengan irama parenting yang sama, kebosanan dan kejenuhan yang sama dan bergelut dengan persoalan ekonomi yang sama.

Pandemi ini, adalah wajah perang baru.

Dulu mungkin was-was berada dalam situasi perang. Was-was tiba-tiba ada peluru nyasar ntah darimana dan berakhirlah sudah. Sekarang “peluru”nya gak keliatan. Rasanya jadi seperti bohongan tapi nyata. Panic attack adalah level pertama memasuki susana perang pandemi ini. Tiba-tiba diri merasa kena serangan covid begitu si tenggorokan kerasa gatel, batuk dan dada agak sesak. Padahal, bukan covid, tapi panic attack. Dan saya yakin, sympton seperti ini dirasakan hampir semua orang. Batuk dikit langsung mikirin hidup.

Babak demi babak episode kepanikan juga saya rasakan selama 46 hari ini, hingga hari ini.

Babak pertama, 
Hari minggu, 30 maret 2020 adalah hari ke 36 masa lockdown pandemi covid, dimana anak-anak saya tiba-tiba demam parah. Tanpa batuk atau pilek. Anak pertama sama bahkan demamnya bikin dia halu dan rewel level 10. Demam berlanjut sampai 3 hari, si kecil malah abis turun demam naik lagi. Mau gak stress gimana? Padahal saya baru aja agak sembuh dari pilek dan batuk berkepanjangan. Saya juga parno takut batuk pilek lagi. 

Alhamdulillah setelah ikhtiar balur bawang merah sampai 3x dalam satu malam dan gak berhenti mulut komat kamit baca doa beserta dzikir dan wirid dilengkapi tahajud dan deraian air mata memohon dan memelas pada Sang Maha kuasa agar anak-anak sembuh, esoknya si sulung muntah dan mencret keluar, setelah itu mereka pulih dengan cepat. Rupa-rupanya mereka masuk angin karena terlalu heboh sabtu 5 april 2020 main di teras rumah sementara diluar cuaca hujan deras.

Hal ini berlanjut pada, punggung dan perut saya kram dan saya agak meriang. Parno saya kembali muncul. Saya tersiksa sangat dengan sakit ini. Pak suami gak henti mijit saya tapi si sakit gak kunjung hilang. Akhirnya, saya menyerah pada asam mefenamat, karena paracetamol udah gak mempan. Sembari tiduran dibarengi dzikir, rasa sakit berangsur hilang. Cemas saya hilang begitu juga si sakit.

Babak kedua, 
Tiba-tiba PC komputer rusak. Gak bisa internet-an. Saya bad mood bukan main. Karena kami tak punya TV, Anak-anak gak punya hiburan lain dan kadang mereka bosan main dirumah walau mereka main sampai bikin rumah kaya kapal pecah. Mereka merajuk terus pengen nonton youtube dan rewel terus , tentu hal ini bikin Pertengkaran adik-kakak menjadi hal yang tidak bisa dihindari sedari bangun tidur sampai kembali tidur. Saya lelah luar biasa. 

Solusinya mudah sebetulnya, tinggal install ulang. Masalahnya, semua tukang install tutup karena masa lockdown. Alhamdulillah, jumat 10 april 2020 si aa install deket rumah akhirnya buka. Saya serahkan si pc buat di install ulang. Dan kehidupan kami, kembali ceria,

Tapi,  gak lama kemudian tiba-tiba si PC kembali bermasalah, tiap masuk internet loadingnya lama dan malah bikin pc lemot. Saya coba utak atik dari pagi sampai malem tapi gak ada hasilnya. Akhirnya saya nyerah dan watsap si aa install kemarin. Dia kasih saran, coba cek hardisk pake HDD generator. Donlot aja . lha, si aa ini kumaha sih, mau donlot kumaha kan pc nya juga gak bisa internetan atuh? Saya gemes bukan main. 

Akhirnya, saya donlot itu software lewat hp suami saya, karena saya gak punya hp udah hampir sebulan lebih karena rusak kebanting si bungsu. Dan, berhasil. Saya langsung install di pc dan jalanin itu HDD generator. Prosesnya lama, makan waktu sampai 5 jam. Dan hasilnya? Alhamdulillah bisa internetan lagi dan nonton drakor lagi, juga setor tulisan di 1minggu1cerita setelah bolos 2x setor. Ya Tuhan, kenapa gak dari awal rusak aja saya watsap si aa install ya? Geleng-geleng kepala saya. Mungkin otak saya bener-bener udah freeze mikir sampai-sampai yang muncul duluan adalah panik.

Lalu sekarang gimana?

Setelah 46 hari masa lockdown, jumlah positif covid se-indonesia mencapai 5.516 orang , sembuh 548 orang, meninggal 496 orang.

Liat angka nya, memang bukan main-main. Awalnya saya nyalahin jokowi yang kurang gercep nanganin pandemi di awal wabah mulai terjadi di wuhan, tapi sekarang liat gerak pemerintah dan tim medis, saya gak bisa nyalahin pemerintah sepenuhnya, karena negera kita gak punya dana dan tenaga yang banyak. Sementara indonesia ini kan wilayahnya berpulau-pulau, beda dengan cina yang satu wilayah solid, mobilisasinya mudah. Lha kita, agak sulit karena berpulau. belum ditambah masyarakatnya yang ngeyel dan banyak ngurusin masalah yang gak perlu.

Satu hal yang mungkin bisa memunculkan harapan di hati saya adalah senyum tawa si bungsu yang selalu bertanya, “ si korona teh lagi dimana sekarang mah? Kok belum ilang-ilang juga sih? Cepet pergi atuhlah, kilan pengen momotoran lagi”. Itu harapan si bungsu yang juga menjadi harapan saya. Semoga wabah ini cepat berlalu.

memang, stimulus untuk membangun mood dan rasa "bahagia" itu perlu. jika tidak, akan seperti saya yang mulai hilang harapan.

tapi, sekali ini sebelum setor tulisan, saya buka profil IG influencer paporit saya, semua postingan dia positif. kalo orang lain masih bisa semangat dan berfikiran positif kenapa saya gak sih? gemes deh sama diri sendiri. apakah ini masa nya memang saya lagi down dan butuh me time tapi gak bisa karena lagi pandemi? hiks

terus, saya blogwalking sesama bloger.... kontenya positif semua, saya ngerasa hanya saya aja nih yang "ngeluh". ini bikin saya makin jatuh dalam rasa malu.

salah satu, sahabat saya sesama blogger dalam artikelnya 8 Tips Agar Emak Tetap ‘Waras’ Saat Pandemi berkata, " banyak bersyukur, tidak mengeluh, tetep produktif dan bantu sesama", duh saya makin anjlok merasa malu. saya lupa bersyukur.

ah, semoga besok semangat saya bisa kembali ON, mungkin zumba pake lagu kpop di komputer bisa bikin saya semangat lagi, walau tiap zumba pasti di "mandorin" si bungsu sambil teriak,

" mamaahhhh udah belum jumbanyaahh? aku pengen nonton si booba!!!!!" hehehehehe


Hari ini adalah hari ke-29 akhirnya virus corona mulai mewabah di seantaro indonesia. sampai hari ini, udah 1155 jiwa positif corona, 59 dinyatakan sembuh tapi memakan 102 korban jiwa!!! gue beneran sedih, parno dan was-was. beneran.

Di wuhan sendiri padahal udah mulai dari bulan november 2019 dan sekarang mulai pulih.sementara negara lain udah langsung prevent sejak virus di wuhan merebak. lha kita mah nyantei aja, banyak pihak berujar, termasuk kemenkes sendiri, bilang kalo indonesia-mah moal ka-asupan corona, tenang we, nyatanya sekarang, yah we know it ya, sekarang jadi kebablasan.

Situasi udah kaya perang. sejak tanggal 15 maret 2020 sekolah di"home-schooling"kan. semua pembalajaran udah kaya kulwapp aja deh. untung udah pengalaman ikut kulwapp jadi ga grogi. 

PNS udah pasti work from home alias gawe dirumah aja, sebagian pegawai swasta juga. mereka sih enak ya, work from home tapi gaji mah tetep we ngalir, lha kita, para pencari nafkah di garda depan, alias pecari nafkah di pinggir jalan, termasuk pihak paling pertama kena imbas efek samping corona, dagangan sepi kaya kuburan. akhirnya, kami memilih stop dagang karna dagangpun percuma, yang lewat lalat. jangan tanya soal tabungan, jelas gak ada, karna namaya juga gajih harian, ya abis sama kebutuhan harian. masih syukur alhamdulillah sih, kami masih punya usaha lain agar supaya kami masih bisa bertahan di masa lockdown ini, tapi bagi mereka yang andalannya hanya jualan kaki lima, tiap hari tetep usaha dagang walau hanya bawa duit yang ntah cukup atau tidak buat makan. gak peduli soal corona karna kalo gak dagang-pun nyawa tetep taruhannya. 

Lantas patutkan kami salahkan jokowi sebagai pemimpin nomer wahid negeri ini? sekali-kali boleh ya, kami gemesss pak'de kok telat pisan sih penangannya? kenapa waktu wuhan merebak sampeyan gak langsung prevent sih? udah tau ini pandemi mudah nular secepat the flash tapi kenapa gak tutup bertahap bandara, pelabuhan dan semua aktivitas ekonomi yang bersifat ekspor-impor? kenapa gak nahan warga +62 yang keukeuh pengen holiday atau gawe ke luar negeri? eh malah jor-jor-an ngeluarin duit miliaran buat support pariwisata ditengah pandemi corona di seluruh dunia? malah ngasih diskon!!!! luar biasa!!! biar apa coba? biar ekonomi kita ga ambruk? tapi liat imbas nya sekarang pak'de, you juga yang lieur kan? ( sumber info : cara pemerintah ngadepin pandemi corona awal tahun 2020 ) padahal WHO udah wanti-wanti, JANGAN MERASA GAGAH SENDIRI KALO NEGARA YOU GAK BAKALAN KENA CORONA! sekarang kebukti kan?

Tapi ya, sudahlah, toh udah kejadian.

Setelah melewati 29 hari, kinerja pemerinta memang digenjot abis-abis-an. semua pihak sekarang digiring buat me-nomer-satu kan penanganan virus corona. banyak pihak medis yang juga jadi korban covid19 atau meninggal karena kelelahan. banyak orang semacam dr Tirta yang lagi hive karena aksi solideritas dan derwamawannya yang akhirnya juga tumbang karena super exhausted gue suka beliau karena tegas dan blak-blak-an, gue suka waktu dia akhirnya marah dan kesel sama lambatnya kinerja pemerintah juga kesel sama pemerintah yang gak juga memberlakukan LOCKDOWN area ditambah kesel sama pernyataan jubir kemenkes, yang bilang terang-terangan kalo "yang kaya bantu yang miskin yang miskin bantu untuk tidak menularkan penyakitnya", hellooowwww!!! maksud L? jadi si miskin tuh biang keladi penyebar virus gituh? duh pak, klo bicara itu di filter dulu atuh pak!!! jangankan dr Tirta, gue aja marah banget!!!!

Gue juga kesel, kelurahan di wilayah rumah gue lambatnya bukan main! semprot desinfektan jalan raya baru dikerjain minggu ini, setelah mau nyampe 4 minggu! juga semprot di gang-gang, itu pun bukan foging, cuman pake sprayer pestisida yang jangkauannya cuman se-uprit. dari awal corona masuk indon, gue udah bikin masker sendiri dan hand sanitizer sendiri, karena abis dimana-mana. termasuk bikin desinfektan sendiri buat sekitaran rumah aja. setelah gue bikin, itu bahannya gampang kok, dimana-mana banyak tutorial bikinnya. cari bahannya juga gampang. kan jokowi udah bilang, hentikan semua pengeluaran yang kurang penting dan alokasikan segera buat penanganan virus corona di wilayah masing-masing! bisa kan inisiatif bikin sendiri atuh pak lurah????? iiiih super gemes gueee!!!

sebetulnya yang paling bikin gue marah adalah KELAKUAN WARGA +62 yang masih ngeyel aja ditengah pandemi begini masih keluyuran dan nongkrong! juga warga yang ngeyel tetep solat jumat dan pengajian, belum termasuk musyawarah-musyawarah dan acara-acara keagamaan di masjid atau tempat seminar! halo warga yang budiman, kalo ini cuman penyakit yang bikin you mati sendiri sih gpp, tapi ini kan nular nya cepet bambang!!!!! masih keukeuh aja bilang, " tong sieun ku korona, sieun mah ka gusti alloh! paeh mah urusan alloh tong nepi keun ka ibadah stop!" ya iyalah itu juge gue tau bambang! tapi kalo kita cuek bebek gak prevent gak stay at home terus masih aja "jihad" kesana kesini sambil nyebarin virus apa itu namanya bukan dzalim?? jatohnya dosa juga kan bambang? percuma ente ibadah diluar juga, nilainya nol!!! ibadah kan bisa di rumah juga. nabi aja nyuruh di rumah aja solatnya kalo ujan gede, apalagi ini VIRUS MEWABAH! iiiih kesel gue!!!! 

oke! beneran cukup!
Urusan gimana caranya pemerintah menangani virus corona ini akhirnya gue serahin aja sama Gusti Allah, pasrah aja. gue cuman bisa bantu do'a dan stay at home, karena gak punya super power kaya dr Tirta, walo inginnya begitu. 

Gue fokus sama keluarga kecil gue yang ditengah pandemi begini, malah sakit sekeluarga. bikin parno, mana gejalanya sama kaya gejala corona. batuk, pilek, meler, pusing, idung mampet, susah nafas, demam! gadang udah pasti, bolak balik doker gantian udah pasti. akhirnya kembali, pasrah dan banyak berdo'a jadi senjata utama. setelah seminggu, alhamdulillah satu per satu sembuh, walo ada sisa batuk dikit dan ingus kadang keluar dikit. tinggal si gue nih yang berada di tahap akhir penyembuhan. karena jadi perawat di rumah satu-satunya, gue juga akirnya tumbang. untungnya gak demam, cuman meriang. yang gak kuat adalah sakit usus dan punggungnya itu. akibat begadang dan gendong si bungsu siang-malam. asam mefenamat penyelamat. seperti biasa. 

Entah kapan virus ini mereda. memang akan mereda, karena corona termasuk virus yang self limited alias akan berlalu sendiri. tapi harus waspada dan cepet penanganannya karena sifat mudah menyebar dan mematikannya itu. kembali lagi, si kami untuk sekarang hanya bisa pasrah dan berdoa. semoga badai cepat berlalu. semoga tim medis pada kuat-kuat, semoga pemerintah bisa serba cepat dan potong semua birokrasi, semoga para warga nurut buat ngajedog di imah dan semoga para artis yang kaya raya berkat jadi yutuber mau jadi kaya dr Tirta , semua saling bantu. biar tiap hari gue buka twitter isinya bukan tentang naiknya angka korban terjangkit dan yang meninggal, tapi naiknya yang sembuh dan berkurangnya yang meninggal!!!