Tampilkan postingan dengan label married. Tampilkan semua postingan

Jika saya ditanya, " Siapa panutan saya saat ini? " Jawaban saya adalah ibu mertua saya. Ah masa sih? ...










Jika saya ditanya, " Siapa panutan saya saat ini? " Jawaban saya adalah ibu mertua saya. Ah masa sih? Yakin? Bukan karena biar disayang mertua?? Hihihi (¬‿¬)

Enggak lah, tanpa saya banyak memuji beliau, saya yakin sudah disayang beliau dari sejak pertama kami bertemu. Ahiiww 

Jadi, kenapa saya menjadikan Ibu mertua sebagai panutan saya? 

Itu karena, saya mengagumi kesabaran dan keikhlasan beliau dalam mengurus sang belahan jiwa, yaitu Bapak mertua yang sedang sakit keras selama hampir dua tahun lebih. 



Ibu mertua juga tidak pernah terlihat berkeluh kesah, menangis atau berteriak selama saya mengenal beliau. Sikap nya yang sangat lemah lembut dan selalu berkata halus. Jadi, sudah sewajarnya kalau saya menjadikan beliau sebagai panutan saya menjadi seorang istri dan ibu bagi anak – anak saya. 

Alasan Di Balik Keikhlasan Ibu Mertua


Bapak mertua saya, sudah sakit hampir dua tahun lebih. Sakit parah. Dokter mendiagnosa Bapak memiliki penyakit congenital heart disease atau jantung. Dokter bilang ini bawaan sejak lahir. Terjawab sudah semua keraguan keluarga selama ini, dimana Bapak seringkali mengeluh sesak dada. Selama ini kami mengira Bapak memiliki asma atau Bronchitis

awalnya, Bapak enggan berobat ke dokter dan memilih pengobatan alternatif. lalu, ketika pengobatan alternatif dirasa sudah tidak lagi  menunjukan hasil yang signifikan. Akhirnya Bapak mau berobat ke dokter. alhamdulillah. 

Mengapa Bapak memilih berobat alternatif ketimbang langsung ke dokter? itu karena Bapak pernah mengalami reaksi alergi obat yang cukup parah. Jadi, sesakit apapun bapak, beliau memilih berobat ke pengobatan alternatif.

Saya dan Pak suami ( Paksu ) sudah berulang kali menyarankan sampai memaksa Bapak untuk berobat ke dokter dan memberi pengertian kalau dokter pasti akan bertanya alergi obat bapak dan kasih obat yang aman. Tapi tidak di gubris.

Akhirnya, Bapak merasa lelah dengan berobat alternatif yang tidak membuahkan hasil, akhirnya dengan terpaksa bapak mau berobat ke rumah sakit. 

Namun, setelah di lanjutkan dengan berobat di dokter, kondisi Bapak tidak kunjung membaik. Badan semakin kurus, wajah Bapak pun tidak menyiratkan aura kesembuhan. Setiap saya melihat Bapak di rumah, selalu nampak murung dan sedih. Saya rasa, secara mental Bapak sudah down duluan.

Mengapa? 

Bapak sepertinya mengalami stress atas vonis penyakit yang dideritanya Akibatnya, gejala psikomatis pasti Bapak rasakan. Seperti pusing dan mimisan atau keluar darah dari gusi. Sementara itu, saya lihat Bapak – Bapak lain yang juga memiliki penyakit yang sama dengan Bapak, terlihat sehat bugar seperti yang tidak memiliki penyakit parah. 

Saya melihat kondisi Bapak yang begitu, agak sedikit geram juga. Terlebih melihat Ibu mertua yang dengan sabar dan ikhlas mengurus Bapak tanpa banyak mengeluh walau dirinya sendiri terkadang terlihat sangat kelelahan dan letih, terlebih dimalam hari dimana saatnya Ibu merebahkan tubuh yang payah kelelahan... eh Bapak selalu meraung dan meringis minta di pijit kaki. 

Melihat kesabaran dan keikhlasan Ibu mertua mengurus Bapak, betul – betul bikin saya geleng-geleng kepala gak habis pikir. 

Akhirnya saya bertanya pada Ibu mertua,

Mah, kok bisa sabar banget sih sama Bapak. Kalo saya pasti udah stress dan gak kuat. Bukan sama sakitnya bapak, tapi tingkah laku bapak yang gemesin “ tanya saya terheran-heran sambil makan ranginang, kriuk...kriuk

Lalu Ibu mertua menjawab santai sambil ikutan makan ranginang,

Karena ikhlas” jawab Ibu mertua sesingkat dan se sederhana itu. Saya pun melongo saking bingung dan gak habis pikir sama jawaban Ibu mertua.

Tapi ikhlas kan ada batasnya Mah, kok bisa sih Mamah masih tetep sabar ?” tanya saya lagi

Sabar mah gak ada batasnya atuh Neng. Di paksain aja, nanti lama – lama juga terbiasa. Jadi, ada pepatah sunda yang mengatakan, sing bakti kanu jadi salaki, sabab surga anjeun ayana di salaki. Mamah inget selalu ke sana “ jawab Ibu mertua menjelaskan.

Ehhm... jadi, bakti seorang istri ada pada suami, karena disanalah surga untuk seorang istri. Oke baiklah.

Tapi, saya masih gak paham. Melihat saya masih berkerut dahi dan mulut monyong tanda gak ngerti, Ibu mertua kembali melanjutkan penjelasannya,

Ibarat kita dulu hormat dan berbakti pada orangtua , seperti itu juga sekarang. Surga kita ada di suami kita. Allah akan ridho pada istri yang taat pada suami. Kunci pernikahan itu sebetulnya ada di tangan para istri, tong saruana mun pasea jeng salaki. Kudu bisa nurunkeun egois jeung ikhlas dengan situasi suami apapun itu “ 

Belajar Ikhlas, meluruhkan ego


Oh, i see. Saya mengerti, akhirnya. 

Awalnya saya agak sulit menerima penjelasan ibu mertua dimana saya harus belajar sabar dan ikhlas serta harus bisa menurunkan ego pribadi. 

Kesulitan ini saya rasakan karena saya masih memiliki ego yang cukup besar dalam diri saya. Ego untuk selalu diperhatikan lebih dahulu, ego untuk selalu di sayangi lebih dulu, ego tidak mau menerima kritikan Paksu dan ego-ego lainnya. 

Mengapa ego saya bisa sedemikian tinggi? Karena, orangtua saya bercerai jadi saya tidak punya bayangan atau pandangan sama sekali tentang esensi pernikahan itu seperti apa dan bagaimana berkomunikasi dalam pernikahan. Yang saya lihat dalam pernikahan hanya pertengkaran tiada akhir. Sehingga saya berasumsi, saya bebas mengutarakan apapun yang saya rasakan tanpa melihat situasi dan mood Paksu karena saya merasa itulah hak saya. 

Hasilnya? Pertengkaran dan salah paham lah yang saya dapat. Belum termasuk perang dingin dan emosi yang terpendam. 

Akhirnya, saya paksakan diri saya untuk mencoba memahami lebih dalam penjelasan ibu mertua dengan semedi. What? Hehehe, iya semedi alias muhasabah sambil tahajud lalu di lanjut curhat di jurnal.

Di sana, saya uraikan semua permasalahan yang kerap saya rasakan dengan Paksu. Sampai se detail-detailnya. Lalu diuraikan juga emosi atau perasaan saya terhadap masalah itu. 

Dan akhirnya saya menemukan bahwa, saya itu orangnya sangat mudah bereaksi negatif terhadap suatu perkara, dan baper-an. Saya juga kesulitan mengontrol emosi saya saat kelelahan dan kurang tidur. Ternyata hal itu juga memicu ego saya untuk di perhatikan dan di sayangi lebih dulu oleh Paksu. 

Jadi permasalahannya sebetulnya, ada dalam diri saya sendiri. 

Lantas kemana kah fungsi komunikasi dalam hubungan suami istri? 
Kenapa gak di muntahin semua keluh kesah yang kita rasakan pada pasangan agar semua permasalahan beres tanpa tersisa? 

Saya sudah mencoba untuk lebih terbuka akan apa yang saya rasakan, tapi saya selalu kesulitan mencari waktu yang tepat. Karena kesibukan Paksu mencari nafkah dari siang hingga tengah malam dan saya mengurus anak – anak sehingga kami jarang berkomunikasi dari hati ke hati seperti waktu kami masih pacaran. Jadi, sekalinya ngobrol yang di obrolin pasti urusan cuan. Akibatnya, saya banyak memendam emosi negatif termasuk saat kesal dengan Paksu. 

Jadi, solusinya bagaimana ?

Pertama, saya kembali terus mengingatkan diri saya sendiri akan wejangan ibu mertua untuk sabar dan ikhlas kalau udah mulai kesel atau bete dengan Paksu. Inget, Surga lho balasannya. 

Kedua, Menulis. 

What?? Kok menulis. Iya, jadi menulis kan resah di jiwa bisa membantu saya mengurai sebetulnya apa sih permasalahan saya. Dari sana saya bisa cari solusinya. Kalau sudah menulis, biasanya saya merasa jauh lebih baik dan lega. Jadi, energi negatif saya terkonversi menjadi respon positif.

Menulis itu punya segudang manfaat, selain perasaan jadi lega juga mengasah kemampuan mennulis kita terutama di Blog dan siapa tau bisa ikut ajang lomba menulis. iya kan?

Back to the topic, jadi setelah saya analisa, ternyata saya yang mudah reaktif dan baperan berdampak pada respon Paksu. Dia jadi males ngadepin saya dan ikut badmood. Ternyata Paksu ini orangnya sensitif jadi kalau saya badmood akan berpengaruh sama moodnya Paksu, sementara fokus utama beliau mencari nafkah yang merupakan tanggung jawab utama baginya.

Itu yang selalu jadi pikiran Paksu. Jadi wajar aja kalau sering terlihat murung kalau dagangan sepi. Karena Paksu mengkhawatirkan hal yang sangat realistis seperti, “ kalau dagang gak laku, mau dikasih makan apa istri sama anak gue?? “ begitulah kira-kira yang selalu ada dibenak Paksu. 

Memang, suami juga wajib memberikan nafkah batin pada istri. Tapi saya paham, tidak semua para suami bisa se-bijak papah - papah lainnya yang memahami hal ini. Karena, para suami juga sama halnya dengan kita, belajar setiap hari menjadi seorang suami dan ayah. Di sinilah letak keikhlasan di perlukan, ikhlas menerima Paksu yang juga sedang belajar menjadi suami dan ayah. 




Kadang saya lupa, Paksu memang tidak pandai merangkai kata atau ngasih saya wejangan dan kata-kata bijak serta menenangkan layaknya motivator. Tapi pandai memberikan saya kejutan dan menjawab curcol saya dengan jawaban paling realistis. Jadi, Paksu itu orangnya straight to the point, gak suka kode – kode tersembuyi. Jadi saya belajar untuk straight to the point juga, kalau saya bilang gak suka... ya bilang gak suka saat itu juga. Tapi, tetep saya harus memperhatikan mood Paksu.

Misal nih ya, saya pengen sentil Paksu soal kebiasaan jeleknya menyimpan kunci motor di mana aja padahal udah saya sediain box khusus tempat menyimpan kunci. Saya liat dulu, kalau Paksu keliatan lagi rudet sampai jidatnya berkerut kaya kerutan diwajahmu, hehehe......saya tunda dulu nyentil nya dan tarik nafas dalam – dalam biar energi negatif saya keluar dan pikiran lebih segar. Dan saya coba ulangi lagi nanti saat mood Paksu terlihat lebih baik. 

Perjalanan Akhir


Orangtua saya memang bercerai dan menorehkan luka yang cukup dalam. Terlebih perceraian mereka penuh drama dan pertengkaran sehingga saya hanya melihat sisi buruk dari pernikahan. Tetapi, perceraian orang tua saya juga memberikan saya banyak pelajaran tentang pernikahan. Seperti :

1. Belajar meredam ego dan emosi
2. Belajar memahami pasangan lebih dalam 
3. Belajar ikhlas menerima segala kekurangan pasangan
4. Belajar strategi komunikasi yang tepat dengan pasangan
5. Saling memahami dan memaafkan satu sama lain adalah proses tiada akhir dalam pernikahan. Karena masing – masing pasangan tumbuh dan berkembang setiap hari. Sehingga perubahan itu pasti terjadi. Oleh sebab itu belajar pun tidak berhenti satu titik pencapaian saja.

Saru hal yang paling krusial yang saya pelajari, bahwa, 
Jangan menuntut pasangan untuk memperhatikanmu lebih dulu. Tapi berhenti sejenak dan pikirkan, apakah kamu sudah melakukannya lebih dulu? Mau disayangi tapi gak balik menyayangi? Bukankah itu teramat sangat egois namanya? 

Wejangan Ibu mertuaku sayang memang benar, sabar itu gak ada batasnya dan kita sebagai istri memang perlu meluruhkan ego sambil memperbaiki kekurangan kita. Ingat saja dengan balasan Allah kalau kita bersedia ikhlas dan sabar dalam pernikahan. Pasti mau kan? Kalau saya sih mauuuuu ^_^

Saya rasa Allah itu memang Maha Adil. Saya diberi keluarga yang “cacat” tapi diberikan Ibu dan Bapak mertua serta Paksu yang Masya Allah baik dan perhatiannya luar biasa. Saya sangat bersyukur untuk itu. 

Sebagai rasa syukur saya, maka saya perlu memperbaiki kekurangan saya yang mudah baper, moody dan bereaksi negatif. Bukan hanya untuk saya, tapi juga suami dan anak – anak saya. Bukankah ibu yang bahagia akan menghasilkan anak – anak yang bahagia? 

Bahagia itu, kita sendiri yang ciptakan. Gak bisa beli kebahagiaan di Borma, kesana mah beli keperluan bulanan aja. Jangan lupa, minta cuan lebih yang warna merah buat beli kosmetik, eskrim dan coklat. Langsung todong aja, jangan pake kode – kode an, hahaha. Emak – emak juga perlu jajan dong, hihihi

Kalau kamu, gimana proses menjalani komunikasi dengan pasangan? Ada cerita lucu atau malah sebaliknya? Yuk saling berbagi (^_^)


Tulisan ini di ikut sertakan dalam setoran artikel untuk Komunitas Content Creator  Indonesia, Tema : Ikhlas dan Setoran Artikel Untuk Komunitas 1minggu1cerita, Minggu 32 dengan Tema : Terpaksa










Pernah gak sih kamu ngalamin Bad day yang super   bad sampai efeknya kaya beresonansi sampai berhari-hari??? udah gitu, si bad day...




Pernah gak sih kamu ngalamin Bad day yang super bad sampai efeknya kaya beresonansi sampai berhari-hari??? udah gitu, si bad day gak cuman terjadi sekali, tapi dua kali, tiga kali bahkan empat kali berturut turut? saya pernah. 

Minggu lalu adalah minggu ter-hot sejak awal tahun ini sampai sekarang. Banyak banget peristiwa yang terjadi di minggu itu, bener-bener kaya roller coaster rasanya. 

Allah itu romantis kadang juga galak dan keras terhadap saya Lewat empat rangkaian peritiwa yang bisa dibilang naas, sepertinya itu adalah cara Allah SWT berkomunikasi dengan kita, eh saya maksudnya.


Selasa, 21 Juli 2020



Kalah Lomba Literasi

Menanti kabar itu terkadang tidak enak, membuat hati gelisah dan merana. Seperti menunggu jawaban dari si dia ( eeaaa ) , begitu juga perasaan saya.

Memang apa sih yang saya tunggu?

Jadi, saya lagi nunggu pengumuman pemenang dari empat lomba literasi yang saya ikuti. Rasanya deg-deg-an dan terus bertanya - tanya dalam hati, " lolos gak ya " seraya berharap lolos.

Tapi ternyata, saya tidak lolos dalam dua lomba literasi yang saya ikuti sejak bulan Mei lalu yaitu cerpen dan puisi. Ah mencelos hati saya, tapi tak apa. Masih ada dua lomba lagi. Semoga salah satunya menang. 

Tapi tetep, saya juga manusia. kecewa pasti dong, sedih apalagi. Ditambah ini bukan pertama kalinya saya ikut ajang perlombaan literasi. jadi rasanya, yah agak sesak juga. jadi saya obati kekecewaan ini dengan membahagiakan diri sendiri makan bakso favorit saya. Lumayan terobati dan mood saya tidak tergores sedikitpun.


Kamis, 23 Juli 2020


Kilan jatuh sakit


Mah, Kilan sakit perut! " keluh Kilan sambil berbaring di atas karpet ,

"Sakitnya sebelah mana? " tanya saya,

" sebelah sini, ini Kilan sakit banget perutnyaaaa! " jawab dia sambil nunjuk bagian pusar sambil nangis. duh, saya ga tega sungguh, lalu saya tanya lagi,

sakitnya kaya mau pup gak? atau perih kaya di tusuk? " tanya saya lagi,

sakit aja, gak mau pup " jawabnya memelas 


Duh, sakit apa ya?? saya bingung. Jadi ya saya gendong aja sambil terus mengusap-usap punggungnya sambil di balur kayu putih. 

Akhirnya dia tertidur di gendongan dan saya pindahin ke kamar. Satu jam berselang, dia bangun, mengeluh sakit sambil menangis keras. Saya makin panik dan pikiran di kepala udah ngebayangin yang serem-serem. 

Ini gara-gara saya abis googling tentang ciri-ciri sakit perut pada anak 3 tahun, jadi parno. padahal Pak Suami udah ngelarang! hiks . jadi saya mikirnya, Kilan kena usus buntu lah, maag, ginjal dan yang lainnya. Saya sempat kepikiran mau bawa Kilan ke UGD, tapi saya usahain dulu deh Kilan dibalur bawang merah pake kayu putih. 

Alhamdulillah abis itu dia tidur lelap. yah suka bangun terus mah wajar lah ya, masih agak sakit dan gak nyaman dia nya. Kalau udah gini, emak bergadang walau dia tidur pulas. 

Jadi, dalam tidur saya terbayang terus sakit perutnya kilan, terus terbangun dan langsung cek suhu tubuh dan perutnya. Alhamdulillah, Kilan membaik keesokan harinya, rupanya dia masuk angin. 

Ah, hari ini sungguh aduhai Ya, Allah. kali ini, Allah mungkin pengen nasihatin dan peringatin saya,

 " eka sayang, jangan terlalu keasyikan bloging!  sampai anak dibiarin main diluar, panas-panas-an maen siren head sama si raja! ga pake topi, jaket apalagi sepatu!! lain kali, perhatiin anak dulu baru ngonkrong depan PC! "


 Jum'at, 24 Juli 2020



Pukul 08.00 WIB



Kalah Lomba “lagi”



Akhirnya, pengumuman lomba literasi yang ketiga datang juga. 

Hasilnya? saya gak lolos lagi! 

Saya sedih? tentu
Saya kecewa ? iya dong
Saya down? sudah pasti

Why? yaahh, baru aja saya struggle melawan kekecewaan hari selasa kemarin dan sudah ok, lalu hari ini mental saya dihantam lagi dengan kegagalan. Memang sih, Kalah di dalam sebuah pertandingan itu biasa, saya juga sadar. 

Hanya saja saya jadi ingat, bagaimana proses pengerjaannya yang sampai membuat saya bergadang dan berjibaku dengan pekerjaan domestik yang never ending, PJJ Keenan, Tantrum Kilan yang oohh My God never ending, juga ditambah Kilan sakit kemarin...yah pada akhirnya saya down juga akhirnya. 

Hal ini membuat saya menjadi manusia paling galau sedunia. Galau pun di sebarkan lewat status WA yang gak lama kemudian saya hapus secepat kilat karena merasa alay dan rasanya agak geli , berasa cengeng! 

Tapi rupanya mood belum juga membaik. jadi seharian itu saya hidup kaya zombie. mata selayaknya panda, senyum irit dan males beresin rumah. Chat sama sahabat saya, Renny pun malah jadi kurang nyaman karena rupa-rupanya kita sama-sama lagi bad day juga. Walau kurang nyaman tapi setidaknya masih bisa ngobrol dan saling support. untuk satu hal ini, saya sangat bersyukur. karena di saat jatuh begini, Tuhan masih ngasih saya teman untuk berbagi. 

Saya sempat nangis di kamar mandi sambil ngocorin air bak biar gak kedengeran saya nangis sama anak-anak, Kan malu kalo ketahuan anak-anak , hehehe.

Lagian, udah lama juga saya gak nangis. kayanya pasti plong kalo bisa nangis. Tapi, ternyata saya gak bisa nangis. Kenapa? karena baru aja saya mau drama India nangis nangis sampai puas dikamar mandi, eh Kilan teriak minta dibikinin kepala Monster Siren Head! kan saya gak jadi nangisnya! Hehehe.

Sepertinya Allah SWT  kembali ingin melatih mental saya agar lebih kuat dan bisa menerima kekalahan lalu diakhiri dengan mengajak saya menertawai kekalahan dengan scene lucu di kamar mandi.



Pukul 20.38 WIB

Leila S. Chudori

Hadiah dari Allah SWT


" Say ... selamat ya dapat buku Jurnalistik Dasar Tempo, Horay . Kata siapa tulisannya gak layak menang? Proud of you " Sebuah ping di chat Wa dari sahabat saya Renovrainbow berbunyi,

"Ah yang bener? dapet info darimana?" jawab saya kaget setengah mati!!

" Udah ada di blog nya mas pringadi " jawabnya,

" Alhamdulillah ya Allah ... hiks! " jawab saya sambil menambahkan emoticon nangis,

" Aduh Naha ( kenapa ) kamu nangis " tanya nya lagi,

" Nangis sedih terharu teh, nuhun ya udah jadi editor aku " jawab saya berterimakasih tak terhingga.

Alhamdulillah, Makasih Ya Allah, Tulisan saya yang berjudul " Teruslah Menulis, Agar kisahmu Tetap Abadi walau ragamu telah tiada ",  menang di lomba menulis bersama Leila S.Chudori Tempo Institute yang bekerjasama dengan Mas Pringadi Abdi Surya. alhamdulillah ya Allah, terimakasih!!!

Allah SWT  itu memang Maha Penyayang , saya memang dihajar dengan kegagalan di tiga lomba lalu Tuhan kasih saya hadiah hiburan dengan menang di lomba ini. 

Tiba-tiba saya merasa kalau Allah SWT sebetulnya ingin mengajari saya untuk gak pantang menyerah dengan gagal di tiga lomba dan belajar soal menulis lagi dengan evaluasi diri di kemenangan lomba yang ke empat


Sabtu, 25 Juli 2020

Mensyukuri hidup

Malam ini malam minggu, kami sekeluarga punya kebiasaan unik. Yaitu Jalan - jalan ke Warban ( warung bandrek ) yang lokasinya ada di dekat Sekolah Krida. Terus, dalam perjalanan kami melewati "mantan" kios tempat kami ikhtiar mencari rezeki setiap hari selama 6 tahun terakhir.

Lalu, disana saya melihat, gerobak dagangan gorengan milik teman Pak Suami, sebut saja namanya Edi. Saya lihat istrinya menemani Edi dan melayani pembeli sambil menggendong anaknya yang masih berusia 2 tahun dan anak perempuannya yang sudah SMP membantu ibunya di sisinya. 

Dalam hati saya terenyuh dan berkata, 

" Duh, kasian itu istri sama anak-anaknya. sudah malam bukannya diam dirumah tapi di sini kedinginan dan bekerja membantu sang ayah " . 

lantas terbesit dalam hati saya rasa syukur hingga membuat saya nangis. Beneran, saya nangis. sedih banget rasanya. 

Saya sudah seharusnya bersyukur. di balik Pak Suami yang kadang gak romantis dan segudang kebiasaan buruk lainnya tapi dia tidak pernah sekalipun menyuruh saya membantu dia dagang di kios selama 6 tahun kami dagang hingga akhirnya bangkrut karena pandemi di bulan lalu. saya hanya membantu Pak Suami menyiapkan barang dagangan dan membuat adonan setiap hari. 

Setiap kali saya bilang saya ingin bantu, Pak Suami selalu menolak. dia bilang 

" Jangan, dagang itu cape dan anginnya gede kalo malam. kasian kamu, kasian anak-anak. Udah biar aku aja yang dagang, kan ada si Epul yang bantuin" . 

Pandemi memang berdampak besar terhadap perekonomian di setiap orang. Termasuk pedagang kaki lima seperti kami. Kalo gak kuat iman, bisa jadi melakukan hal yang tida-tidak. 

Saya sangat bersyukur karena selain dagang di kios, Pak Suami juga punya usaha lain yaitu jualan Thriftstore dan suami nge-band. Tapi nge-band tidak bisa diandalkan karena semua event dilarang selama pandemi, jadi si thrifstore ini andalan kami. At least, untuk keperluan sehari-hari Kami gak terlalu khawatir. 

Situasi kami masih bisa dikatakan sangat beruntung. Teman sesama pedagang bahkan ada yang sampai harus tinggal di masjid untuk sementara waktu karena gak mampu bayar kontrakan akibat dagangan yang gak laku-laku. Apa daya, kami ingin membantu tapi ekonomi kami pun pas – pas-an. Hanya bisa memberi sebesar kemampuan kami. Tapi alhamdulillah, Pak RT berbaik hati rela kontrakannya di tinggali teman Pak Suami itu dengan dibayar setengah harga normal. Ternyata, masih ada orang baik dimasa pandemi ini. 

Teman Pak Suami saya yang lain, katakanlah namanya Asep, juga mengalami hal yag sangat memprihatinkan. Awalnya dia punya usaha clothing yang sukses. Karena selama pandemi lesu penjualan sehingga barang di toko menumpuk sementara vendor terus menagih hutang produksi, akibatnya kontrakan rumahnya tak bisa di lunasi dan terpaksa tinggal di gudang milik temannya. Asep juga punya hutang pada kami, sehingga begitu kami ingin menangih..... tak tega rasanya. Jadi, yah kami ikhlaskan saja walau kami juga butuh. Semoga Tuhan mengganti lewat jalan yang lain.

Ingat perkataan Pak Suami itu dan melihat kondisi teman- teman Pak Suami, saya memang merasa sangat bersyukur. Bersyukur karena walau rumah kami sangat kecil dan sempit, tapi ini milik kami sendiri dan tidak ngontrak. 

Sekali Lagi Allah SWT menyapaku, untuk lebih banyak bersyukur.


Minggu, 26 Juli 2020

  
Tuhan menyapaku


Kilan si bungsu kembali berulah, kali ini dia rewel minta pedangnya harus lurus vertikal di gantung pake tali tapi cuman di ujungnya. 

Jadi dia tuh pengen maen “jeng-jeng” alias main gitar menggunakan pedang mainan dia. soalnya gitar plastik yang dia punya katanya kependekan . Kilan ingin gitar dengan ukuran normal seperti punya Babah. Katanya, dia mau konser pake lagu babahnya.

Tapi dia keukeuh, ingin pedangnya lurus. sementara tali yang dia jadikan Strap gitar hanya di ujung pegangan pedang aja. yah, mau bagaimanapun juga gak bakalan seimbang itu pedang, pasti jatuh, hihi. 

Akhirnya, saya gunakan seribu macam rayuan maut biar di dia paham. tapi yah namanya anak kecil usia 3 tahun, kan daya nalarnya belum sempurna betul. Jadi mau dibilangin sampai emaknya salto sambil tari jaipong juga gak bakalan ngerti. akhirnya, emak tandukan dan hilang kesabaran sampai agak bentak dan bilang,

" Ya udah! terserah kamu deh! susah bener dikasih tau! "


Teriakan saya ini rupanya cukup keras sampai ngebangunin naga yang lagi tidur, alias Pak Suami! hihihi. sambil bangun sempoyongan dan mata merah Pak Suami datang menghampiri kami layaknya monster buas sambil teriak,

" Ada apa ini??? Kenapa Kilan??? maunya apa sih??? ah segimana *hydgdhjd aja! "

*hydgdhjd, itu bukan typo ya, tapi kata-kata kasar Pak Suami. sekasar apa? ya kasarnya bahasa sunda untuk kata kamu. tapi bagi saya itu aja udah kasar sih. jadi saya bete! mau ngasih tau Pak Suami jangan bilang kasar takut disembur api naga! wkwkwk. ya udah saya milih diam sembari manyun! nahan bete dan kesel. dan hari pun berlalu sampai sore tiba.

Dalam hati saya udah bertekad mau nyemprot pak suami kalo sore ini ngomong kasar lagi, mau saya bilangin,

" Bisa aja babah bilang sama Keenan dan Kilan kalau marah boleh asal jangan ngomong kasar! tapi sendirinya? yey! " tapi tenyata pak suami udah gak marah lagi sih. tapi tetep aja saya mah masih bete. sampai ibu mertua tanya saya,

" Kenapa Eka kok manyun terus? kaya yang pundung?" saya tertunduk terus jawab,

" Gak lah mah, ini karena pilek terus batuk , kepala pusing " jawab saya lesu,

" Oh, kirain pundung karena Iyad " JLEB! kok tau sih??? pengen nangis!! dan meluk ibu mertuaku rasanya!!! akhirnya aku ngomong dong,

" Iya, emang pundung sama iyad. dia marah sama Kilan sampai ngomong kasar! kan sebel! bukan apa-apa, eka takut Kilan inget kata kasar dari ayahnya dan gak pernah lupa! kan bahaya! " ucap saya nyerocos kaya kereta api .

" Iya sih, Iyad emang suka gitu! sampai mamah kaget dan ikut sebel! " oh ibu mertuaku tersayang memang perhatian.

Setelah ditanya begitu sama ibu mertua, tiba-tiba rasa saya yang penuh dengan bete - sebel - kesel hilang seketika bagai di tiup bubuk ajaib!

Lagi-lagi Allah SWT  memperhatikan perasaan saya dan menyapa saya lewat ibu mertua.



Rabu, 29 Juli 2020



Sapaan Allah di setiap peristiwa  yang terjadi di minggu lalu memberi saya pencerahan soal banyak hal. Terutama soal mensyukuri hidup, bermental kuat dan menerima kekalahan.

Terkadang, saya sering luput akan hal besar yang saya miliki di depan mata dan lebih mempersoalkan hal kecil, hingga akhirnya Allah “turun tangan” mengingatkan saya lewat serangkaian kejadian yang bikin sedih bertubi-tubi. Mulai dari kalah lomba, anak sakit dan bertengkar dengan pasangan. 

Tapi Allah juga tidak lupa menghibur saya, dengan kemenangan di lomba terakhir dan memberikan saya teman – kakak – sahabat yang selalu suport saya siang dan malam . ini beneran, karena kami gak pernah stop chat setiap hari. Teman yang demikian adalah rezeki yang tak terbantahkan . Allah itu memang penuh kasih sayang bukan? 

Semoga kamu yang juga di dera peristiwa mencekam dan mengalami kekalahan bertubi-tubi dalam waktu yang bersamaan, tetep semangat ya. Karena kamu gak sendirian, Allah  selalu menyapamu dan memberimu semangat lewat sapaan dan pelukan dari hambaNYA yang lain. Tetap bersyukur dan mensyukuri hidup. 

Saya tutup cerita saya dengan puisi yang saya buat ketika saya kalah lomba . 
semoga berkenan.


Allah telah menegurku dengan cara yang paling bersahaja, halus dan lucu.
Lantas aku tersenyum namun takut sekaligus,
Ini peringatan yang nampak depan mata.
Sujud syukur saja tidak cukup,
Memohon ampunan perlu dilakukan,
Seraya berharap, Ya Allah, Tutuplah kesalahan dan dosaku,
Ampunilah Dosaku dan berikanlah aku keselamatan Dunia dan Akhirat.

Redraw random pic on pinterest Banyak banget hal yang berbeda dan berubah sewaktu masih pacaran dan setelah menikah. misal, waktu ...

Redraw random pic on pinterest

Banyak banget hal yang berbeda dan berubah sewaktu masih pacaran dan setelah menikah. misal, waktu lagi pacaran, nomer hape si yayang pasti inget di luar kepala, sambil merem pun kalau pencet  nomer si yayang di hape juga bisa. Kalo udah kawin, boro-boro inget. Jangankan nomer hape, tanggal jadian apalagi hari kawin aja suka lupa. 

Ada lagi nih yang bedanya jauuuh banget antara waktu pacaran sama udah nikah, yaitu bentuk perhatian.

Misal, waktu pacaran kalo si yayang jatoh, kita pasti bilang " aduuuh sayang, kamu sakit? ada yang luka? sini aku obatin" . Nah kalo udah kawin, kalimatnya jadi beda, " aduh, mamah sih kalo jalan gak liat-liat. sana beli hansaplast " wkwkwkw.

Kalo udah kaya gini, para istri biasanya suka j ngerasa kalo  suami jadi kaya yang gak peka gitu sama perasaan para istri ,  Padahal udah ngasih kode keras buat minta diperhatiin, tapi gak ngaruh! Kesel kan ya?  

Hal yang begini nih, walo keliatannya sepele tapi bisa memicu pertengkaran. Siapa yang biasanya kesel duluan? Para istri lah, siapa lagi yang suka ribet sama hal beginian? Hehehe. 

Nah, Lupa dan cuek-nya para suami sama hal perintil kaya beginian kadang bisa memicu pertengkaran. biasanya para istri bakal netting nih, alias negative thingking, kalo pak suami gak care, gak perhatian, udah gak sayang lagi, istri bukan lagi prioritas utama dan bla bla bla. Para istri biasanya manyun jadi seharian dan marah – marah. ujung-ujungnya jadi berantem dan pengen rasanya rambut pak suami diuwel – uwel sampai rontok, wehehehe. 

Etapi, jangan emosi dulu ya buuu.... tahan – tahan. Ada alasan lho kenapa para suami suka jadi pelupa dan keliatan kaya gak care gitu. Apa sih alasan utamanya? 


FOKUS CARI DUIT



Yah! Sudah gak asing lagi kan sama satu hal yang ini. Pembagian tugas dan tanggung jawab dalam pernikahan kita semua pasti udah tau deh, istri urusan domestik dan anak sementara suami urusan cari nafkah. 

Nah, kadang ada para suami yang saking fokusnya nyari duit apalagi yang penghasilannya harian bukan bulanan, udah pasti tuh urat dikepala sering nongol saking tegangnya. 

Mau gak tegang gimana, yang namanya wirausaha tuh ga tentu penghasilannya. Kadang bagus kadang gak. Kalo lagi bagus sih biasanya mood si para suami bagus. Jangankan tanggal ulang tahun, tanggal jadian juga beliau pasti inget terus gak lupa beliin para istri coklat atau bunga. 

Tapi kalo lagi sepi orderan, pasti beliau kaya yang gak peduli gitu sama istri. cuek bebek dan jadi doyan marah-marah. pahamilah bu... pak suami bukan gak care padamu dan mentingin soal duit, tapi otaknya lagi mikir keras gimana caranya ngasilin duit lebih buat engkau wahai para istri dan juga anak-anak. Bukankah ini salah satu tanda kalau beliau cinta dan peduli sama keluarga? Betul kan? 

Jadi bu, jangan emosi dulu ya. Pak suami gak inget sama tanggal ultah, anniversary atau gak mau bantu urusan domestik, bukan karena gak care lagi sama kita para istri. Tapi karena fokus nyari duit sebagai bentuk tanggung jawab beliau terhadap keluarga. 

CARA BERFIKIR YANG BERBEDA


Laki – laki itu, cara berfikirnya beda sama perempuan. Kalo perempuan itu terkenal dengan multitasking, sementara laki – laki monotasking. Artinya, dalam pikiran perempuan tuh banyak cabangnya. Misal, lagi masak nih, para istri bisa sambil gendong anak, sapu rumah, cuci piring , nyuapin anak bahkan balas pesan di WAG. Tapi kalo para suami, kalo lagi ngerjain satu hal yah hanya fokus sama satu hal itu aja. 

Alasannya kenapa? Karena secara ilmiah otak para pria itu akan membakar lebih banyak energi ketika mereka harus melakukan beberapa hal sekaligus. Kondisi inilah yang membuat pria merasa sulit untuk melakukan pekerjaan sekaligus atau sulit beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya 

Ada Fakta lain nih, berdasarkan penelitian  otak wanita itu lebih aktif dibandingkan otak pria. Hal ini disebabkan baik saat bekerja maupun saat istirahat, aliran darah ke otak pada wanita lebih banyak dibandingkan pada pria. Jadi, meskipun secara volume otak pria lebih besar dibandingkan otak wanita, namun secara kinerja otak wanita lebih aktif. Jadi, jangan heran kalau wanita dikatakan lebih bisa multitasking

Tetapi, dibalik ke-monotasking-nya para suami, mereka gak secuek itu kok. Coba diingat-ingat, sudah berapa kali pak suami bantu cuci piring, jemur cucian, jagain anak waktu istri lagi mandi, meluk istri pas lagi sedih, beliin makanan tanpa diminta, cebokin BAB anak ? memang bisa dihitung dengan jari, tapi kalau melihat fakta ilmiah diatas, rasanya semua hal yang dilakukan para suami itu sudah hebat sekali. Iya kan? 

Lalu, kata siapa kalau laki-laki itu mentalnya kuat kaya baja, kuat nahan nangis sampai kuat ditimpuk bata?  jangan lupa, pak suami juga perasaan lho. Misal, merasa tak berdaya  dan sedih luar biasa kalo inget duit di dompet tinggal recehan, perasaan sedih gak bisa beliin anak-anak mainan atau bahkan jajan, sedih liat istri jadi kurang glowing karena belum mampu beliin kosmetik SK-II atau jafra terbaru sementara stok lama udah abis, jadi terpaksa istri pake baby cream bayi dan bedak bayi. Para suami itu sensitif lho, cuman jarang aja diliatin. 

Jadi bu, kalo nanti – nanti pak suami lupa tanggal ultah kita, atau anniversary langsung aja todong, “ ayah kok lupa sih sama ultah aku? Aku gak mau tau, pokoknya aku minta peluk sekarang!” dijamin deh, mood bete ibu-ibu langsung mencair, apalagi kalo ditambahin, “ ayah, minta duit dong buat jajan” , wehehehe