Tampilkan postingan dengan label keenan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keenan. Tampilkan semua postingan
aplikasi membaca online
ilustrasi karya artjoka


Let's Read,  Aplikasi Membaca Online Yang Menyenangkan. 
Saya setuju dengan pepatah yang mengatakan kalau buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, tapi untuk pengertian positif ya. Seperti halnya dengan kita sebagai orangtua yang hobi masak, anaknya pasti juga  suka masak dikit-dikit. Atau seperti ayahnya anak-anak saya yang hobi main gitar  sudah pasti anak-anak juga hobi main gitar. Mengapa? karena anak selalu memiliki rasa kagum akan apa yang dilakukan oleh kedua orangtuanya. 

Saya rasa inilah alasan mengapa budaya membaca harus dikenalkan pada anak sejak usia dini. Tetapi agar anak mau dan suka membaca tentu orangtuanya juga harus senang membaca dong,  Betul?

Ada yang gak suka baca buku? kenapa? membosankan karena text semua? oke - oke, gak suka baca buku gak apa-apa. Karir hobi membaca bisa dimulai dari sekarang lewat hal yang sangat sederhana, yaitu dengan download aplikasi.

Nah lho! Mau mulai suka membaca buku kok malah disuruh download aplikasi sih? hehehe. Tenang ibu - ibu , bapak-bapak, kakak dan adik. Ini aplikasi bukan sembarang aplikasi. Tetapi aplikasi yang memudahkan penggunanya mengakses banyak cerita anak yang menarik dan berasal dari negara - negara yang ada di wilayah Asia Tenggara. 

Aplikasi apa sih itu? saya kenalin ya, namanya aplikasi membaca online Let's Read. yuk ikuti perjalanan dan cerita seru saya berkenalan dengan aplikasi Let's Read.

Keseruan Berpetualang Lewat Membaca


Di suatu malam yang cerah, sengaja saya ajak Keenan dan Kilan duduk di teras rumah sambil melihat bulan dan bintang. Dengan semangat Kilan bercerita kalau ada serigala  di bulan. Sang serigala sembunyi di bulan karena takut dikejar awan api. Lalu bermukim di sana, menanam jagung dan kentang. Serigala suka sekali dengan jagung, rasanya manis. Apalagi yang direbus. mmm yummy!!



let's read aplikasi membaca online
Ilustrasi oleh artjoka, " Kilan Bercerita" 



Begitulah cerita Kilan. Sejak kapan ya serigala berubah jadi herbivora? hihihihi. Btw, Masih ingatkan cerita saya tentang Kilan yang hobi mendongeng kan? rupanya dia kembali melanjutkan dongengnya tentang serigala. Dengan semangat dia bercerita,

" Jadi ya mah, si serigala ituuuu sembunyi di bulan karena takut sama si awan api. Takut terbakar katanya

" Memangnya awan api gak akan nyampe ya kalau ke bulan?" tanya saya,

" Gak dong mah!! Bulan kan jauuuhhh banget! Kesana mamah harus naik roket!!! " jawabnya,

" Wahhh iya yaaa " jawab saya antusias

" Iya mah, nanti kita kesana ya sambil ketemu sama serigala " jawabnya

" Aahh gak mau!! Mamah takut sama serigala!! Takut dimakan!! " jawab saya

" Oohh iya yaaa, kaya cerita mamah yang serigala makan nenek ya? Iihh takut " jawabnya sambil memasang wajah ketakutan! Lucu banget ga sih ngebayangin ekspresi kilan? Hehehe.

Sepertinya tetap ya, yang mendongeng sebelum bobo adalah Kilan dan bukan emaknya! Wkwkwkwk. Tapi saya senang Kilan se cerewet itu karena saya selalu terhibur setiap kali dia mulai bercerita. Kegemaran Kilan bercerita ini dikarenakan saya terbiasa membacakan dongeng lewat koleksi buku cerita kami yang berderet manis di rak buku kami yang kecil dan sederhana. koleksi buku kami memang tidak banyak, tapi semua buku dibaca bolak-balik sampai lecet dan minta ditambal selotip bening ukuran besar, hehehehe. 

Kilan sangat suka dibacakan dongeng sederhana seperti kisah si kerudung merah. Kalau saya sudah cerita tentang si kerudung merah, dia selalu minta di ceritain berulang sampai emaknya gempor nih mulut nyerocos terus, hahaha. Anak - anak memang suka dongeng. Mereka seperti masuk dunia dongeng dan berkhayal kalau mereka ada disana. Terkadang mereka berkhayal jadi si serigala atau si nenek. Ini adalah sebuah keseruan berpetualang lewat membaca bagi Kilan dan Keenan. 



let's read aplikasi membaca online

Dokumen Pribadi

Keenan dan Kilan adalah adik - kakak yang tidak pernah lepas dari yang namanya rebutan. Apa sih yang direbutin? biasa deh berebut mainan dan barang apapun, mulai dari bantal sampai sendal. Dari tali rafia yang cuma satu helai sampai berebut mandi duluan. Tapi kalau sudah urusan dibacakan buku cerita, keenan dan kilan seketika berubah jadi adik - kakak yang sangat manis dan akur. Biasanya saya membacakan buku cerita di malam hari sebelum tidur. Terkadang siang hari saat saya tidak terlalu sibuk dengan urusan domestik atau pekerjaan. 

4 Manfaat Membaca Online Lewat Aplikasi Let's Read


Awalnya saya mengira kalau fungsi dongeng bagi anak - anak hanya sebagai sarana hiburan bagi mereka. Tapi ternyata, membaca buku cerita berupa dongeng sangat bermanfaat bagi :

  1. Perkembangan daya pikir dan imajinasi anak
  2. Merangsang anak mau membaca
  3. Kedekatan orangtua dan anak 
  4. Mendidik anak etika dan nilai kehidupan

membaca online
Dokumen Pribadi


Kalau Kilan hobi mendongeng, maka Keenan lagi hot - hot nya belajar membaca. Apa saja dia coba baca dan sebutkan huruf - hurufnya. Termasuk buku cerita anak. Setiap kalimat yang ada dalam buku cerita dia coba eja satu persatu-satu dan saya bimbing menjadi sebuah kalimat. Sungguh, membaca buku memang mampu merangsang anak menjadi gemar membaca. Kesukaan dia adalah buku tentang si kodok, ulat dan nyamuk. Keenan lebih suka buku anak yang bertema ilmu pengetahuan. Bahkan tontonan di youtube pun dia dominasi dengan menonton channel ilmu pengetahuan. Gemes gak sih? Hehehe

Selain buku, anak - anak juga saya kenalkan dengan aplikasi membaca online buku cerita anak yang oke banget, yaitu aplikasi Let' Read.

let's read aplikasi membaca online
Dokumen Pribadi



Awalnya saya tau soal aplikasi ini lewat akun instagram milik salah satu ilustrator idola saya yaitu Aprilia Muktirina yang ternyata menjadi salah satu ilustrator yang berkontribusi membuat ilustrasi cerita yang tersedia di Aplikasi Let's Read. 

Eh ternyata, Let's Read juga punya aplikasinya. Lalu saya cari deh di google play dan cari aplikasinya. Saya langsung kepincut dengan logo yang lucu dari aplikasi membaca online Let's Read yang bergambar gajah. Setelah saya download saya makin jatuh cinta dengan aplikasi membaca oniline ini. Mengapa? Karena ilustrasi di setiap cerita bikin gemes dan aduhai lucu nya. Saya yang memiliki impian suatu hari nanti bisa menerbitkan buku cerita anak disertai ilustrasi buatan saya sendiri, menjadi semakin semangat untuk meneruskan proyek tersebut.

Bicara tentang aplikasi Let's Read, aplikasi ini merupakan aplikasi membaca online sekaligus perpustakaan digital buku cerita anak persembahan dari komunitas literasi The Asia Foundation melalui program literasi Books for Asia yang telah berlangsung sejak tahun 1954. 

Cerita yang disediakan juga beraneka ragam dari berbagai macam negara yang ada di Asia Tenggara. Sehingga, anak tidak hanya mengenal dongeng dari negara sendiri tetapi juga dari negara lain. Jadi, sambil membaca anak juga traveling ke luar negeri nih ceritanya, seru kan? 

Lewat  aplikasi Let's Read, anak - anak juga belajar mengenal cerita rakyat dari budaya mereka sendiri dan budaya dari negara di Asia Tenggara. Wah ini sih namanya double manfaat ya, melatih anak membaca sekaligus mengenal budaya negara lain. 

Satu hal yang paling bikin saya auto download aplikasi lets read, yaitu cerita yang tersedia di aplikasi bisa di unduh dan dibaca secara offline. Jadi saya gak cemas lagi tuh kalo tiba - tiba lampu mati dan bikin sambungan wifi juga ikut mati. Anak - anak bisa tetap terhibur dengan membaca cerita dan dongeng di aplikasi Let' Read.

Jadi Saya sarankan nih ya segera deh download aplikasinya di playstore. Downloadnya Gratis! Ehhm demen kan ya sama yang gratis, hehe. 

Cara Download : 

1. Buka aplikasi playstore
2. Ketik Let's Read di menu pencarian
3. Temukan logo si gajah lucu 
4. Download langsung
5. Buka aplikasi dan selamat membaca. 

Aplikasi Let's Read tidak memerlukan akses registrasi dengan akun apapun. Begitu selesai di unduh kita bisa langsung membaca cerita - cerita menarik di Let's Read secara offline.



Download aplikasi Let's Read
Infographic di buat dengan Canva 



Gampang kan? Terasa sulit? Masa sih? Hehehe . Ya udah, saya bantu download ya. Cukup klik gambar  dibawah ini yaa

link download
Sumber foto : Situs Let's Read


Pengalaman Menggunakan Aplikasi Lets Read


Saya akui, kita tidak dapat memutus hubungan antara anak - anak jaman sekarang dengan kemajuan teknologi hanya karena alasan khawatir kecanduan gadget. Mengapa? karena mereka lahir di dunia dimana teknologi sudah berkembang dengan sedimikian pesatnya. Termasuk  teknologi telepon gengam, internet dan start up. Cara terbaik adalah dengan tetap memberikan mereka akses teknologi namun dalam pengawasan kita. 

Aplikasi Let's Read salah satu aplikasi yang mudah di operasikan oleh anak-anak dan syarat akan konten positif dan edukasi. Alhamdulillah sejauh ini anak - anak senang membaca online lewat aplikasi Let's Read karena mudah dan gambarnya lucu - lucu katanya. 

Let's Read Menggaet Ilustrator Hebat Indonesia

By the way, setelah saya kepo kepo cerita dan ilustrator di website resmi aplikasi membaca online Let's Read ternyata dalam proses penyediaan cerita anak, Lets Read menggaet banyak illustrator. Setidaknya ada 40 orang ilustrator asal Indonesia yang berkontribusi dalam proses pembuatan ilustrasi untuk cerita anak di aplikasi Let's Read. 


ilustrator let's read
                  Sumber foto : Instagram letsread.indonesia



Wow ya, ternyata aplikasi Let's Read juga menggaet illustrator lokal yang berbakat. Ehem... Saya juga berbakat nih Bapak dan Ibu, bolehlah menggaet saya sebagai ilustrator cerita anak di aplikasi Let's Read? Mulai menghayal nih emak- emak, hihihihi

Fitur Aplikasi Membaca Online Let's Read

Aplikasi membaca online Let’s Read ini selain dapat diunduh secara gratis dan bebas biaya registrasi, ternyata juga dilengkapi fitur aplikasi yang mudah dan lengkap. Apa saja sih fitur - fiturnya, yuk simak.

  1. Pilihan cerita dapat dibaca dengan berbagai macam pilihan bahasa baik bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Vietnam dan Bahasa dari negara Asia Tenggara lainnya
  2. Cerita dilengkapi Ilustrasi yang lucu dan menarik
  3. Ukuran Ilustrasi dan text dapat dapat disesuaikan dengan kenyamanan saat membaca
  4. Cerita dapat diunduh dan dibaca tanpa jaringan internet
  5. Itulah empat point fitur aplikasi membaca online Let's Read yang menurut saya sih fiturnya lengkap dan mudah. 

fitur aplikasi let's read
Infographic di buat dengan Canva 



Berpetualang seru lewat Membaca


Saya selalu ingat betapa menyenangkannya berpetualang lewat buku terlebih buku yang terdapat ilustrasi didalamnya. Kita seakan berada disana dan ikut merasakan suasana yang diceritakan dalam  buku. 

Cerita bergambar memang merupakan media yang paling mudah dalam menarik minat baca pada anak. Karena anak - anak cenderung menyukai tampilan visual. Orang dewasa seperti saya aja suka dengan buku cerita anak, apalagi mereka! hehehe

Kalo pengalaman membaca yang seru versi kalian kaya gimana sih ? yuk berbagi di kolom komentar.



Referensi Bacaan :
https://www.indorelawan.org
https://reader.letsreadasia.org






Mengapa Memilih Pondok Pesantren


Pondok Pesantren menjadi pilihan terbaik anak - anak untuk belajar dan menimba ilmu? setujukah anda? Saya setuju.


Beberapa waktu yang lalu saya diresahkan oleh beberapa kejadian viral di seantero jagat twitter-land. Salah satunya adalah kasus Adhisty Zara eks JKT 48. Kasusnya seperti apa? Silahkan google sendiri ya, hehehe. Yang jelas, kasus viral itu bikin saya merinding dan lebih memikirkan lagi soal pilihan pendidikan anak – anak saya, keenan dan kilan. Terutama keenan yang tahun depan akan masuk sekolah dasar.


Memang, sekolah bukan satu-satunya lembaga yang bertugas memonitoring, mengasuh dan membimbing anak agar memiliki akhlak yang baik. Dibutuhkan kerjasama orangtua agar anak – anak tidak melakukan hal-hal diluar norma agama dan sosial. Tetapi  jika anak sudah memiliki pondasi yang kuat terhadap agama, setidaknya disaat anak mengalami masa transisi pencarian jati diri dan memasuki dunia baru  dia akan berpegang teguh pada prinsipnya dan kembali ke rel yang benar.

Hal ini kemudian yang menjadi perhatian utama saya terhadap masa depan pendidikan dan pengembangan akhlak, budi pekerti dan falsafah hidup anak-anak saya. Saya memilih pondok pesantren sebagai pilihan utama pendidikan anak-anak saya.

Pesantren Jaman Now Lebih Terbuka


Alasan utama mengapa saya memilih pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan anak- anak saya adalah karena di pondok pesantren, anak - anak akan memperoleh ilmu agama yang komprehensif  terkait ilmu agama. Bahkan pesantren modern saat ini tidak hanya mempelajari ilmu agama, tetapi juga mempelajari berbagai ilmu pengetahuan sebagaimana pada sekolah negeri atau umum lainnya. 

Di beberapa pesantren juga membekali para santri nya ilmu berwirausaha, berkebun dan beternak. Sehingga, siswa juga dibekali ilmu agar ketika mereka lulus tidak hanya menjadi seorang pengajar atau  ustad seperti kebanyakan tetapi juga wirausaha dan mampu memiliki usaha sendiri. hebat bukan??

Awalnya saya kira kegiatan di pondok pesantren itu menjenuhkan dan kurang menyenangkan. Tetapi ternyata, pondok pesantren jaman sekarang lebih terbuka dengan banyak pilihan kegiatan ekstrakulikuler, ilmu dan bidang studi.


Menyiapkan kesiapan anak masuk pondok pesantren


Lantas timbul pertanyaan, bagaimana mempersiapkan anak-anak agar mau bersekolah di pesantren? Usia berapa sebaiknya anak-anak mulai masuk pesantren?

Oke. Saya ambil contoh Keenan anak pertama saya. Sejak pertama kali Keenan mulai memasuki dunia pendidikan, saya sudah merencanakan sejak awal kemana Keenan akan bersekolah.

Pertama, Sekolah Taman Kanak – kanak RA


Saya mendaftarkan Keenan Sekolah Swasta Yayasan Al Misbah yang memiliki tiga jenjang pendidik yaitu RA ( setara TK), MI ( setara SD ) dan MTS ( setara smp ). Saya memilih Keenan sekolah pendidikan usia dini ke RA dan bukan TK, Mengapa?

RA merupakan singkatan dari Raudhatul Athfal yang artinya taman kanak – kanak. Secara skema lembaga, RA berada dibawah naungan Departemen Agama dan dikelola oleh Ikatan Guru Raudhatul Athfal ( IGRA ) . Salah satu kelebihan RA adalah, Selain memiliki kurikulum materi pengetahuan umum juga menyiapkan kurikulum materi dasar-dasar ajaran agama Islam. 


Keenan ikut kegiatan manasik haji  ( photo atas, keenan ketiga dari kiri )


Keenna Belajar jadi imam shalat
Keenan belajar menjadi imam shalat


Selain itu, dari segi atribut sekolah juga sudah disiapkan dan disesuaikan, yaitu untuk murid wanita berhijab dan pria seragam berlengan dan celana panjang. Khusus untuk hari jumat mereka memakai seragam berwarna putih. Kegiatan lainnya seperti manasik haji dan belajar praktek sholat juga rutin diadakan. Bahkan, hari santri pun ikut diperingati setiap tahunnya.

Salah satu yang saya rasakan besar manfaatnya menyekolahkan Keenan di RA adalah, dia mulai memahami konsep siapa Tuhan dan bahkan suatu hari Keenan pernah bertanya,

Mah, kenapa sih solat terus? Emang kenapa sih kita harus sholat? “ tanyanya terheran- - heran.

Pertanyaan ini sungguh menggelitik rasa haru saya. Mengapa tidak, di usianya yang masih lima tahun dia mampu berfikir sejauh itu. Lantas saya jawab,

Kakak udah kenal kan sama Allah? Tuhan yang memiliki juga menciptakan kakak, mamah, Kilan, babah dan semua yang ada di dunia ini. Nah, karena Allah sudah menciptakan semuanya untuk kita maka, kita wajib mentaati perintahnya Allah. Kalau gak, nanti Allah marah sama kakak. Takut kan ya kalau Allah marah?

Lalu dia kembali bertanya,

Gak ah, Keenan mah gak takut mah “ jawabnya polos

Lho kok gak takut? Harus takut lho. Gimana kalo kata Allah teh kakak harus solat tapi malah main layangan terus sampai gak solat, lalu Allah ngilangin semua layangan di seluruh dunia? Kakak pasti gak akan bisa main layangan lagi kan? Sedih kan? “ jawab saya berusaha menjelaskan,

Tinggal bikin we atuh layangan mah gampang “ jawabnya

Iya memang gampang, tapi gimana kalau Allah musnahin semua pohon bambu lewat bencana alam? Gunung meletus? Semua pohon bambu musnah! Gimana kakak mau bikin layangan? “ jawab saya. Lalu dia terdiam sambil berfikir. Nampaknya dia berfikir cukup keras tentang hal ini, hehehe

Kedua, Sekolah Madrasah Ibtidaiyah ( MI )


Setelah Keenan menyelesaikan pendidikannya di TK Ra Al Misbah, tahun depan saya berencana untuk kembali mendaftarkan Keenan ke MI ( Madsarah Ibtidaiyah ) Al Misbah . Jika anda mengetikan kata kunci sekolah MI di google, maka yang pertama muncul adalah lokasi sekolah ini. Rupa-rupanya MI Al Misbah cukup terkenal sampai masuk page one google ya, hehehe. Alhamdulillah.


Sekolah Yayasan Al Misbah



Karena lokasi sekolah RA Al misbah masih berada dalam lingkungan yayasan Al Misbah, maka setiap kali saya mengantar dan menunggu Keenan sekolah, secara tidak langsung saya mengamati bagaimana kebiasaan siswa SD dan SMP di sekolah ini. Satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah, setiap pagi sebelum memulai KBM para siswa dibiasakan membaca do’a, surat-surat dan hadits. Sehingga, saya tidak ragu lagi jika nanti Keenan melanjutkan SD ke MI Al Misbah.


Lapangan Upacara yang sering digunakan untuk kegiatan olahraga dan warga sekitar

Sama halnya dengan RA, Madrasah ibtidaiyah ( MI ) yang setara dengan SD juga pengelolaannya dilakukan oleh Kementerian Agama. Mengenai Kurikulum, madrasah Ibtidaiyah juga memiliki kurikulum yang sama dengan kurikulum sekolah dasar, tetapi memiliki porsi lebih banyak mengenai pendidikan agama . 

Berikut beberapa tambahan kurikulum di MI, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Alquran dan Hadits 

2. Aqidah dan Akhlaq 

3. Fiqih 

4. Sejarah Kebudayaan Islam 

5. Bahasa Arab.


Ketiga, Madrasah Tsanawiyah di Pesantren


Disinilah tujuan akhir pendidikan Keenan bermuara. Saya belum memilih dan mencari pilihan pondok pesantren nanti untuk Keenan . Tetapi jika melihat pengalaman ayahnya waktu pesantren dulu, sedikit banyak saya belajar mengenai pesantren dan dunia nya. Untuk tahap selanjutnya mungkin saya akan mempelajari lebih lanjut mengenai pesantren yang ada di Kota Bandung.

Mengapa memilih di Kota Bandung? Karena lebih dekat dekat tempat tinggal. Jadi kalau ada apa-apa lebih mudah. Tentu ada pertimbangan penting dalam memilih pesantren, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Pertimbangan Madzhab dan Organisasi

Sebagaimana kita ketahui, islam memiliki banyak mazhab dan organisasi. Mulai dari pondok pesantren beraliran NU, Muhammadiyah, Pondok pesantren Modern, pondok pesantren tarbiyah (PKS) dan masih banyak lagi. Saya akan memilih pondok pesantren yang sejalan dengan pemahaman yang saya dan keluarga anut, untuk menghindari adanya konflik sosial antara anak dan keluarga kelak.

2. Program pendidikannya serta Kredibiltasnya terbukti baik.

Mulai dari prestasi, citra dan alumnus. Dengan melihat kredibiltas suatu pondok pesantren, maka kita bisa melihat bagaimana pondok pesantren ini mendidik, mengasuh dan mendidik para santri. Terlebih jika ada alumnus pondok pesantren yang berhasil dan sukes. Tentu hal ini menjadi nilai lebih dari pondok pesantren itu sendiri.

3. Biaya pendidikan.

Tidak ada pendidikan yang murah, terlebih lagi jika pondok pesantren tersebut memiliki kredibiltas baik, fasilitas lengkap dan kurikulum pendidikan yang komprehensif. Semisal gontor. Tentu biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit. Untuk itu, maka perlu dipersiapkan biaya pendidikan untuk kedepannya. Dengan menabung atau deposito. Memilih pondok pesantren dengan biaya yang terjangkau juga bisa menjadi pilihan, tetapi jangan asal memilih yang murah tetapi tidak berkualitas. Tetapi pilihlah pondok pesantren dengan biaya yang terjangkau dan berkualitas.

4. Tindak Lanjut

Setelah Keenan lulus MTS nanti, tentu akan ada perencanaan yang dilakukan selanjutnya. Apakah akan meneruskan ke jenjang Madrasah Aliyah di pondok pesantren tersebut atau pindah ke pondok pesantren lainnya atau malah berpindah haluan ke SMA Negeri?

Semua hal tersebut bergantung kepada kemauan dan keinginan Keenan nantinya. Mengapa? Karena saya menyadari bahwa, anak juga memiliki hak untuk memilih mau kemana dia bersekolah dan menimba ilmu. Saya sebagai orang tua hanya sebatas mempersiapkan dan membimbing melalui jalur yang terbaik yang sudah saya persiapkan dengan tujuan awal saya. Tentu saya berharap Keenan akan bisa melanjutkan ke Madrasah Aliyah lalu melanjutkan ke Universitas berbasis agama islam. Tetapi kembali, saya harus melihat bagaimana perkembangan Keenan nantinya.

Pondok Pesantren Bukan Pilihan Utama


Perencanaan pendidikan yang saya uraikan di atas terlihat sempurna ya, Lalu bagaimana dengan respon dan keinginan Keenan terhadap rencana saya itu? Apakah Keenan tertarik dengan pondok pesantren?

Untuk sekarang belum terlihat bagaimana keinginan keenan sebetulnya. Tetapi ketika dia melihat sepupunya yang sekarang sekolah di MTS di pondok pesantren, dia pun mengatakan ingin sekolah di sana seperti sepupunya. Juga, ketika saya menceritakan bahwa dulu Babah ( ayahnya) juga sekolah di pondok pesantren, diapun terakagum-kagum.

Dan keenan semakin penasaran dengan konsep pondok pesantren ketika saya ceritakan bagaimana sepupunya Aldi, sekolah di pondok pesantren Baitul Hidayah Bandung dan pamannya yang dulu juga pondok pesantren dan sekarang mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di universitas terkenal di Irak. Mendengar kata LUAR NEGERI, keenan pun semakin tertarik dan terkesan. 

Saya juga meperlihatkan  video kegiatan pondok pesantren dimana sepupunya Aldi sekolah sekarang, dan dia tertarik. 







Keenan mengatakan dengan penuh semangat kalau dia ingin meneruskan sekolah ke MI Al Misbah tahun depan. Semoga nanti setelah lulus MI, keenan mau meneruskan ke jenjang MTS di pondok pesantren.

Bagaimana jika Keenan menolak? Tidak masalah


Ini terkesan bersebrangan dengan judul saya di atas, tetapi tidak. Saya memang membuat perencanaan dan menyediakan fasilitas terbaik untuk pendidikan anak-anak saya, tetapi yang menjalani semua itu bukan saya. Tetapi anak-anak saya. Sehingga, mereka harus memiliki keinginan yang kuat akan hal itu. Tidak bisa dipaksakan hanya karena “ambisi” saya semata.

Saya mengambil kasus dimana, sepupu saya pernah dipaksa oleh orangtuanya untuk belajar di pondok pesantren tanpa menanyakan bagaimana keinginan sepupu saya itu. Hasilnya, dia berontak dan kabur dari pondok pesantren. Berkaca ke peristiwa itu, maka saya tidak akan memaksakan anak-anak saya nanti untuk belajar di pondok pesantren.


Ibu Sebagai Madrasah Al - Ula



Seperti yang saya ceritakan di atas mengenai keresahan saya terkait gaya hidup anak – anak generasi sekarang, pondok pesantren memang menjadi pilihan saya agar Keenan dan kilan memiliki pondasi yang kuat terhadap agama sehingga mampu melewati segala macam rintangan dan godaan selama masa pencarian jati diri mereka.



Tetapi saya sadar, Pondok pesantren bukan lah pilihan utama. Pendidikan dasar agama masih bisa diperoleh melalui pengajian rutin di masjid setiap hari dan pengasuhan serta bimbingan dari kedua orangtua. Ini kemudian yang akan menjadi pekerjaan rumah saya terbesar jika Keenan atau Kilan menolak meneruskan belajar di pondok pesantren. Persiapan mental harus di siapkan sedari sekarang agar nantinya saya tidak kecewa.


Saya juga menyadari hal lain bahwa bagaimana seorang anak itu memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik dalam artian tidak melenceng dari norma agama dan sosial, bergantung pada bagaimana orangtua terutama ibu mendidik dan mengasuh anak-anak mereka. Mengapa?

Karena seorang Ibu merupakan madrasatul ula yang artinya sekolah utama dan pertama bagi seorang anak. Sejak dari kandungan hingga menjadi seorang manusia seutuhnya. Ibu lah yang pertama mengajari duduk, berjalan, berlari dan mengenal dunia di sekitarnya. Bahkan ibulah yang melihat, menggali dan mengembangkan potensi yang ada dalam diri anak – anaknya.

Seperti Ungkapan dari Hafiz Ibrahim yang menyatakan bahwa :

"Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”

Yang artinya, “Ibu adalah madrasah atau pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya “

Selama masa tumbuh dan kembang. seorang anak akan mempelajari banyak hal melalui sebuah proses yang disebut imitasi, dimana anak akan melihat, merespon lalu mengikuti bagaimana orang lain bersikap, berbicara dan bertingkah laku. Proses belajar inilah dilakukan anak dengan melihat ibu dan ayahnya.

Mempersiapkan anak – anak untuk belajar di pondok pesantren, secara tidak langsung juga “memaksa” saya dan ayahnya untuk kembali belajar. Belajar agama lebih dalam dan belajar pengasuhan sesuai fitrahnya.

Masa iya, cita-cita setinggi langit agar anak akhlakul karimah tetapi kedua orang tuanya tidak? Apa tidak malu? hehehe


" Dimanakah, PAK TANI?"
"YAH SALAH! coba lagi ya"

...........

" Dimanakah, PAK TANI?"
"benar! kamu hebat"

...........

Gara-gara game edukasi buat paud, keenan jadi kenal pak tani, dan inilah interpretasi dia soal pak tani setelah maen game dan jadi si bolang ke sawah deket rumah

keenan's art
"Dimanakah Pak tani?" 22/10/2019