Tampilkan postingan dengan label Motherhood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motherhood. Tampilkan semua postingan
Cara-Membuat-Sugar-Waxing







Cara Membuat Sugar Waxing Bulu Di Rumah. Halo para Moms yang super kece, apa kabar hari ini? bahagia?? semoga ya. Biar bahagianya bertambah, yuk Me Time bareng saya dengan melakukan waxing bulu di rumah dan membuat sugar Waxing bulu sendiri alias DIY. Cara membuatnya mudah kok, bahkan kurang dari 30 menit. Bisa dibuat sambil membersamai anak PJJ atau bermain. Asal jangan meleng aja ya, hehe. Sebelum lanjut, yuk bahas dulu definisi Waxing.

Definisi Waxing


Sebetulnya waxing itu apa sih? oke, jika dilihat dari segi bahasa wax itu lilin. Tetapi waxing memiliki definisi yang berbeda.

Waxing adalah cara menghilangkan rambut semi permanen dari akarnya menggunakan bahan wax atau cairan lilin. Bukan lilin dalam artian yang sebenarnya ya Moms, tapi cairan lilin yang bentuknya serupa gel yang nanti akan saya share bagaimana cara membuatnya.

Lantas, perlukan kita melakukan proses waxing ini? dan bagian tubuh mana saja yang memerlukan waxing bulu?

Manfaat Waxing


Sejujurnya saya hanya melakukan waxing sesekali jika diperlukan, itupun hanya di bagian yang memang memilki bulu yang cukup lebat yaitu ketiak. Tetapi lain cerita dengan Moms yang memilki bulu yang cukup lebat di bagian lengan, kaki, alis, wajah dan punggung. Waxing bulu menjadi salah satu solusi menghilangkan bulu - bulu tersebut.

Perlukah melakukan Waxing? tentu saja. Berdasarkan pengalaman salah satu teman saya yang kebetulan memiliki bulu yang cukup lebat, tumbuhnya bulu yang cukup lebat terutama dibagian kaki dan lengan cukup mengganggu penampilan. 
Waxing bulu menjadi cara atau metode yang cukup ampuh menghilangkan bulu untuk sementara waktu hingga sekitar tiga bulan lamanya. Hal ini tentu lebih efisien dan efektif jika dibandingkan shaving atau cukuran yang membuat bulu tumbuh dengan cepat.

Sebetulnya jika Moms sibuk dan agak malas membuat cairan waxing bulu dirumah, ada berbagai produk waxing bulu yang dijual di toko-toko kecantikan. Seperti :
  1. Beeswax yang merupakan perpaduan dari lilin lebah dan parafin
  2. Pre-coated wax strips , yang bisa Moms gunakan untuk bagian tubuh seperti alis dan bibir
  3. Sugar wax , nah ini dia cairan waxing bulu yang akan saya share bagaimana cara membuatnya.

Mengapa Harus Sugar wax?


Menurut informasi yang saya peroleh dari Wikipedia, sugar wax atau biasa disebut juga waxing Persia, merupakan cara menghilangkan bulu yang sudah digunakan sejak 1900 SM yang kala itu gula merupakan produk langka sehingga menggunakan madu sebagai penggantinya. Saat ini, bahan untuk membuat waxing bulu alami sudah dimodifikasi, yaitu menggunakan tambahan gula dan air lemon.
Berdasarkan informasi ini, tentu kita bisa melihat ya Moms kalau Sugar wax ini lebih aman karena mengandung bahan alami tanpa lilin. Dan, jika kita waxing bulu menggunakan sugar wax maka rasa sakit saat melakukan wax jauh berkurang jika dibandingkan menggunakan waxing konvensional. Selain itu, karena menggunakan bahan dan alat yang ada di rumah kita , tentu jauh lebih hemat. Hal yang sangat jadi perhatian para Moms bukan? hehe
Nah, bagi para Moms yang juga memilki permasalahan yang sama dengan teman saya, berikut saya share bagaimana cara membuat sugar waxing sendiri dirumah.

Cara Membuat Sugar Waxing Bulu Di Rumah


Bahan :

250 gram Gula Pasir ( 1 ½ gelas belimbing )
250 ml madu ( 1 gelas belimbing ) madu yang digunakan usahakan madu murni ya Moms
125 ml air lemon ( ½ gelas belimbing )
2 sdm air putih

Cara Membuat :

  1. Siapkan panci lalu masukan 2 sdm air putih dan gula pasir
  2. Aduk terus hingga cairan gula menjadi berbentuk seperti karamel
  3. Masukan madu dan air lemon
  4. Terus aduk hingga cairan berbentuk kental hampir mirip dengan kentalnya kecap
  5. Angkat dan pindahkan ke botol bekas selain kacang atau wadah anti panas seperti microwave bowl



Wah, mudah sekali membuatnya bukan? ini sih bisa para Moms buat sambil joget lagu blackpink ya, hehe. Oke, selanjutnya saya mau share juga bagaimana cara menggunakan sugar waxing bulu ini, yuk lanjut.

Cara Menggunakan Sugar waxing Bulu DIY

  1. Siapkan kain katun atau linen bekas, hal ini tentu lebih hemat ya
  2. Taburkan bedak bayi atau tepung kanji di area tubuh yang akan di wax . Hal ini dilakukan agar nantinya sugar waxing bulu menempel pada bulu bukan pada kulit. Hal ini akan mengurangi rasa sakit saat melakukan waxing bulu
  3. Oleskan Sugar waxing bulu yang sudah agak dingin atau hangat kuku pada bagian tubuh tadi secara merata
  4. Letakan kain katun atau linen bekas di atasnya dan tekan hingga wax menempel sepenuhnya
  5. Lalu tarik dari bawah kain ke atas secara cepat
  6. Simpan sisa sugar waxing bulu di dalam kulkas agar tahan lebih lama

Kesimpulan


Wow, mudah sekali ya proses membuat dan melakukan waxing dengan sugar waxing. Kalau mudah begini, me time para Moms akan jauh lebih efisien dan efektif tanpa harus keluar rumah. Terlebih di masa pandemi begini yang saya yakin Moms pasti masih merasa riskan jika harus Me Time di salon atau spa.

Jangan lupa ya Moms, setelah melakukan waxing terutama di bagian ketiak yang menghitam gunakan rollon yang bisa menghilangkan noda hitam pada ketiak. Saya sih biasanya menggunakan Rexona Motion Sense Advance Whitening. Wanginya harum dan bikin mood enak juga terasa segar dan tentu saja ketiak tidak lagi terdapat noda hitam secara perlahan. 

Jika Moms ingin berolahraga terutama joging, lakukan setelah  24  jam setelah waxing ya. Setelah itu Moms bisa banget joging dengan mengikuti petunjuk cara jogging yang benar.  

Demikian share saya kali ini mengenai cara membuat sugar waxing bulu dirumah, semoga bermanfaat ya Moms dan selamat ber Me Time ria.
balita-kurus-tapi-sehat




Baru Sadar Tubuh Balita kurus, Perlu khawatirkah ? ya saya khawatir. Karena saat ini balita saya, Kilan terlihat seperti balita kurus meskipun ia memilki tinggi badan ideal, yaitu 100cm.

Sejak lahir, Kilan yang sekarang berusia 4 tahun memang memiliki tubuh yang kecil nan ramping tapi tinggi.

kamu-kena-prank




Malaikat Tak Bersayap Itu Bernama, IbuPagi itu cerah dan matahari bersinar hangat. Saya duduk di depan teras sambil menyeruput teh manis di temani goreng ulen dan obrolan hangat bersama ibu. Nikmat sekali, bahkan kami mengobrol di temani lagu kpop favorit saya dan ibu tidak keberatan, hehe

Sambil ngobrol banyak hal, saya memperhatikan betapa sayangnya saya dengan sosok yang satu ini. Ibu adalah sosok yang tegar dan kuat sekaligus bagai malaikat tak bersayap bagi saya.

Walau ibu bercerita banyak hal sambil tersenyum dan tertawa lebar, saya bisa melihat banyak sekali gurat kesedihan dan kerapuhan di setiap keriput yang mulai muncul di wajah ibu. Seketika rasa sesal menyeruak dalam dada saya, rasa sesal karena pernah menyakiti Ibu.

Hal ini membuat saya selalu bertanya, masih adakah waktu bagi saya untuk dapat membuat ibu bahagia ? masih banyak kah waktu yang tersisa bagi saya untuk mewujudkan impian Ibu? 

Saya terus menanyakan hal yang sama pada Tuhan di setiap sujud. Rasa sesal yang bergelayut dalam hati saya bersumber pada satu hal, dosa besar yang saya takut Tuhan akan murka karena dosa saya itu. 

Dosa saya adalah pernah membenci Ibu saya dalam waktu yang cukup lama dan menyalahkan Ibu atas semua peristiwa buruk yang terjadi dalam hidup saya. Kami bahkan hidup bertahun - tahun lamanya dalam konflik tiada akhir dan setiap bertemu sering bertengkar hebat berujung saling menyakiti. 

Mengapa saya pernah membenci ibu saya dan menyalahkan ibu atas semua peristiwa buruk dalam hidup saya sampai sekian lamanya?

Tumbuh Dengan Rasa Kesepian


Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Kedua orangtua saya bekerja setiap hari dan libur hanya di hari Minggu. Hal ini menyebabkan saya sering di tinggal sendiri di rumah dengan adik. 

Ada rasa sepi selama saya ditinggal bekerja oleh orang tua saya. Karena, setiap hari saya berangkat sekolah, makan siang dan mengaji sendiri. Tanpa memberi salam atau disambut pulang sekolah dengan gembira oleh ibu. Selain itu saya juga harus menjaga dan menyiapkan segala keperluan adik saya. 

Tidak jarang saya juga bermain sendiri, karena teman - teman seumuran saya rumahnya jauh.

Hal ini membuat saya tumbuh menjadi anak yang kesepian dan tidak percaya diri.
Hal ini ditambah dengan hubungan saya dengan orangtua sangat kaku dan formal. Ibu memiliki karakter agak keras, begitu juga ayah. 

Ayah sangat disiplin dan galak. Beliau termasuk orang tua yang tidak bisa mentolerir kesalahan meskipun usia saya masih sembilan tahun. Hukuman fisik sudah jadi langganan saya ketika saya melakukan kesalahan. Bentakan dan kata - kata kurang pantas juga sering saya terima. Terkadang saya lari ke pelukan ibu untuk mencari perlindungan, tapi naasnya ibu lebih sering diam ketimbang menghibur saya apalagi meraih hati saya.

Hal ini terkadang membuat saya berfikir kalau saya ini anak adopsi dan bukan anak kandung mereka. Rasa kesepian ini ditambah dengan keinginan saya yang kuat untuk memiliki ibu yang lemah lembut dan pengertian, tapi kenyataannya ibu adalah ibu yang tidak demikian. Benih tidak suka dan agak benci ibu berawal dari sini. Mungkin lebih tepatnya bukan benci, tapi kecewa.

Terkadang saya tidak mengerti, kenapa ibu selalu galak dan bersikap kurang lembut pada saya? apa saya anak yang nakal? apa saya menyebalkan? apa saya kurang pintar?

Saat itu saya tidak bisa menemukan jawaban apapun. mengingat usia saya masih sembilan tahun. Tapi sayangnya, perasaan ini terus berlanjut bahkan ketika saya mencapai usia sekolah menengah atas karena saya masih merasakan ibu masih tetap sama, sering marah dan galak. Tak ada sama sekali bayangan atau sebuah opini tentang ibu sebagai malaikat tak bersayap di benak saya saat itu. 

Perceraian Orangtua


Saya masih ingat, saat itu pertengahan bulan Juni tahun 1999. Suatu pagi yang cerah dan langit berwarna biru serta awan berarak ditemani matahari yang teduh . Pagi hari yang sempurna. Tidak ada tanda kemurungan. 

Pagi itu saya, ayah, ibu dan kedua adik sarapan bersama seperti biasanya. Saya duduk manis menunggu ibu menyiapkan sarapan sementara adik bernyanyi riang. Lalu kami sarapan bersama dengan nikmat. 

Lalu tiba-tiba tanpa peringatan dan aba-aba, ayah dengan wajah tegang dan kaku berkata,

jadi, teteh sama aa mau ikut siapa? Ayah atau ibu?” 
DARR!!! Saya merasa seperti terkena sambaran petir saat itu juga!! 
Saya hanya bisa berkata dalam hati, “what?!!! Apa Apaan ini??? Maksudnya ayah sama ibu mau cerai? On no!

Seketika saya seperti terkena sengatan listrik yang membuat sekujur tubuh saya berubah menjadi kaku dan kelu. Hilang semua kata dan pikiran. Pagi itu laksana hujan badai disertai amukan kilat, tak seindah cuaca cerah di luar sana. Sungguh ironis. 

Saya melihat Ibu hanya mampu berteriak seraya berkata, “ apa-apaan ini ayaaah? ayah bercanda? Maksudnya apa iniiiiii?” sambil terus menangis tiada henti. 

Ayah tidak menggubris pertanyaan dan tangis isak Ibu, ayah pergi meninggalkan meja makan dengan layu dan punggung tertunduk rapuh lantas berlalu meninggalkan kami di meja makan masih duduk tegang dan kaku. 

Saya bisa apa? Selain duduk mematung dengan pikiran berkecamuk tak percaya. lalu saya ingat harus sekolah, seketika saya bangkit dan berusaha memecahkan kekakuan tubuh lalu bergegas berangkat sekolah. Saking bingung dan masih merasa tidak percaya, saya berangkat sekolah seakan kejadian tadi pagi tidak terjadi. Saya bahkan gak nangis! 

Sejak kisah pagi yang tragis itu, hidup saya tidak pernah sama lagi. Saya rasa, inilah akhir dari segala drama keluarga selama ini. Drama keluarga? Iya, drama keluarga dimana ayah dan ibu sebelum kejadian naas itu memang sering bertengkar. Mereka kerap bertengkar hampir di setiap kesempatan.Entah apa yang diributkan, semua pertengkaran selalu berakhir dengan teriakan, bentakan dan bantingan pintu kamar tidur. 

Orang Tua saya memang bukan orang tua yang harmonis sejak awal pernikahan mereka. jadi sebetulnya, walaupun mereka akhirnya bercerai juga saya tidak heran. Tapi tetap saja, menghadapi gerbang perceraian mereka di depan mata rupanya membuat saya syok dan meninggalkan bekas luka yang selalu basah dan tak kunjung sembuh. 

Saya pun merasa perceraian mereka disebabkan oleh ibu yang tidak mampu menjaga dan melindungi keluarga hingga akhirnya mereka berpisah. Kalau saja ibu tidak selalu marah - marah dan galak, saya yakin ayah akan betah di rumah. Kalau saja ibu tidak egois dan gak selalu ingin didengar, ayah pasti gak akan lari dari pernikahan. Kalau saja. Semua gara - gara Ibu!! kadang saya sesumbar dalam hati, apa itu istilah ibu sebagai malaikat tak bersayap? nonsense!!

Konflik Tiada Akhir


Setelah perceraian mereka, drama keluarga pun dimulai. Urusan hak asuh anak, uang bulanan sampai pernikahan ibu yang kedua. Baik Ibu maupun saya, kami masing - masing berjuang menghadapi perceraian. 

Ibu yang berusaha menyusun kembali serpihan emosi dan kewarasannya sendiri dan saya yang depresi karena merasa kehilangan sosok ayah dan keluarga yang tidak utuh. 

Kami tidak bisa saling menguatkan karena ibu enggan membagi rasa sedihnya dan melimpahkan tugas domestik pada saya, seperti urusan memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah sampai urusan sekolah kedua adik saya. 

Sementara ibu banyak menghabiskan waktu di kantor dan dengan bebas pergi kemanapun dia suka dan lupa kalau dia punya anak - anak rapuh yang harus diperhatikan di rumah. hal ini kemudian yang membuat saya semakin kecewa dan membenci ibu. Hal ini bahkan berlanjut sampai saya lulus kuliah dan mulai bekerja. 

Lelah dengan semua emosi negatif yang saya rasakan baik terhadap ibu dan hidup saya, akhirnya saya memutuskan untuk mengubah hidup saya, selamanya. 

Sebuah Titik Balik


Amarah, kecewa dan rasa kesepian yang menggelayuti hidup saya selama bertahun - tahun akhirnya menemui titik terang cahaya. Cahaya itu adalah Keenan, anak saya yang pertama.

Setelah menikah dan menjadi ibu akhirnya saya bisa memahami Ibu dan mencoba mengerti dan memaafkan ibu bahkan menyesal pernah membenci ibu segitu hebatnya. 

Proses ini tidak mudah dan panjang sekali. Prosesnya di mulai sejak saya masih kuliah tingkat D3 dulu sampai saya menikah. Setiap proses terasa sangat berat karena berbenturan dengan ego dan trauma.

Trauma dari perceraian dan bagaimana dulu saya diperlakukan kasar semasa kecil berimbas pada cara saya mengasuh anak saya. Trauma yang akhirnya baru terselesaikan setelah lebih dari dua puluh tahun berjuang. 

Pada akhirnya saya memahami bagaimana sudut pandang ibu tentang semua ini. Seperti kepingan puzzle, saya mencoba menyusun satu per satu bagian cerita dari sudut pandang ibu sebagai pribadi dan ibu sebagai ibu. 

Ibu Juga Manusia


Ibu juga manusia, perempuan yang memiliki perasaan, harapan, cita - cita dan keterbatasan. Gelar Ibu tidak serta merta menjadikannya makhluk sempurna tanpa cacat. Sebagai pribadi, ibu juga berproses menemukan jati dirinya. 

Ibu juga punya rasa sakit dan trauma. 

Saya masih ingat, Ibu pernah bercerita mengenai trauma yang beliau rasakan saat masih kecil. Saat itu usia ibu sekitar sepuluh tahun dan seperti kebanyakan anak di usia tersebut terkadang bermain bersama teman terkadang juga bertengkar. 

Naasnya, ketika ibu bertengkar dengan salah satu temannya, Ibu dari teman ibu saya itu mengadu pada kakek kalau pertengkaran anak mereka di sebabkan oleh Ibu saya, padahal teman Ibu saya itu yang memulai lebih dulu. Akibatnya, Ibu mendapat hukuman dari Kakek. Dengan menggunakan sapu lidi, pantat dan kaki ibu dipukul hingga memerah dan bengkak. Ya Tuhan, kalau mengingat cerita Ibu itu, hati saya sedih.

Ibu adalah anak kelima dari 8 bersaudara. Keluarga ibu termasuk keluarga kaya tapi gak kaya - kaya amat, cukup berada sampai kakek dan nenek waktu itu bisa menyekolahkan anak - anaknya hingga SMA. 

Kakek adalah seorang perwira ABRI berpangkat, saya tidak tahu pangkatnya apa tapi kakek pernah menjadi pemimpin sebuah tim saat ada konflik di Irian Barat dulu. Sementara nenek adalah keturunan bupati Cianjur, jadi bisa di bilang nenek berasal dari keluarga Raden.

Keluarga ibu cukup keras dan disiplin dalam mendidik anak - anaknya. Ibu juga sering merasa diperlakukan tidak adil mengingat ibu anak ketujuh dari delapan bersaudara. Ibu juga mengalami masa sulit di sepanjang masa mudanya. Banyak impian Ibu yang harus kandas demi kakak dan juga kami anak - anaknya.

Sewaktu kecil, Ibu memiliki hobi dan cita - cita sebagai penulis dan pelukis. wahh ternyata hobi ibu menurun pada saya ya, hehehe. waktu kecil ibu sering mengikuti lomba menggambar dan juara. Karena kakek dan nenek tidak menyetujui hobi ibu, jadi ibu mengikuti setiap perlombaan dengan diam - diam. Lalu darimana ibu mendapat alat tulis dan gambar? dari setiap hadiah lomba yang ibu terima. waahhh, ibu hebat yaa.

Saya rasa pengalaman ibu semasa kecil membuatnya menjadi pribadi yang kuat, tangguh dan keras. Ibu berusaha untuk selalu berjuang dalam hidupnya. Memperjuangan harapan dan cita - citanya. Berjuang untuk mendapat kasih sayang dari keluarga dan orang sekitarnya. Saya bisa merasakan, ibu juga tumbuh dalam kesepian dan merasa kurang disayangi. 

Dengan Memahami bagaimana hidup ibu semasa kecil hingga dewasa, membuat rasa benci saya perlahan luntur. 

Kebencian saya terhadap ibu semakin luntur setelah saya menikah. Saya merasakan sendiri betapa sulitnya mempertahankan biduk rumah tangga. Tak semudah membalikan telapak tangan. Setelah saya sendiri mengalami konflik rumah tangga dan menjadi ibu bagi kedua anak saya, akhirnya saya paham bagaimana rasanya menjadi ibu ketika menghadapi perceraian mereka dahulu. Akhirnya saya mengiyakan istilah ibu sebagai malaikat tak bersayap. 

Memang tidak mudah menjadi ibu dan istri dengan segala tugas dan tanggung jawabnya. Tidak sedikit hal pribadi yang dikorbankan. Bukan hanya waktu, tapi tenaga, uang dan cita - cita. Menjadi ibu bukan hal yang mudah. Mulai dari kurang tidur sampai kelelahan tiada akhir mengurus mereka dari bayi. Belum termasuk stress mencari uang untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan anak. 

Saya jadi ingat, walau ibu jarang ada di rumah lalu ketika pulang sering marah, galak dan disiplin terhadap saya, Ibu tetap memperhatikan kebutuhan saya. Untuk urusan jajan dan perut saya tidak pernah kekurangan sedikitpun. Tidak ada istilah kelaparan atau gak punya mainan. Walau masa kecil saya kesepian, perut saya kenyang. Satu hal yang layak disyukuri sebetulnya. 

Perceraian juga bukan hal yang mudah bagi Ibu, saya bisa bayangkan betapa sulitnya menghadapi perceraian dan berjuang menyusun kembali kepingan jati diri setelahnya. Akhirnya saya dapat memaklumi ketika akhirnya ibu menjadi depresi dan hilang kendali setelah bercerai dengan ayah. Saya membayangkan kalau saya jadi ibu, mungkin akan sama depresinya dengan ibu. 

Dalam keadaan depresi pun, ibu tetap berjuang mencari nafkah untuk saya dan adik - adik saya. Bahkan saya bisa kuliah berkat perjuangan ibu. Ibu memang tangguh dan kuat. 

Sampai titik ini, saya semakin tersadar dan mulai merasa bersalah pada ibu karena pernah membencinya.

Permohonan Maaf


Setelah saya melahirkan Keenan, Ibu menemani saya selama tiga hari di rumah ibu mertua. Ibu membuatkan saya sup daun katuk dan daun kelor setiap hari. Mengajari saya memandikan Keenan, memakaikan baju dan menyusui. Saya merasa tenang dan nyaman selama ibu ada di sisi saya selama tiga hari itu. Saya sangat bersyukur masih memiliki ibu di sisi saya yang bisa mengajari saya bagaimana mengurus bayi yang baru lahir.

Sayangnya, karena ibu harus kembali bekerja ibu tidak bisa lama menemani saya. Hal ini membuat saya sedih dan kalang kabut hingga akhirnya membuat saya mengalami Baby Blues Syndrome. Ternyata melahirkan lalu mengurus anak baru lahir itu tidak mudah. Lelah dan stress nya luar biasa. 

Setelah saya melahirkan anak kedua, saya semakin menyadari pentingnya kehadiran ibu. Betapa saya sangat membutuhkan ibu dan menginginkannya selalu ada di sisi saya. Ibu adalah malaikat tak bersayap milik saya.

Saya mulai menyadari banyak hal mengenai ibu. Mulai bisa memahami dan memaklumi ibu saya. 
Setiap kali saya berlibur ke rumah ibu, saya bisa melihat ibu semakin tua dan fisiknya tidak sekuat dulu lagi. Saya juga bisa melihat banyak sekali gurat kesedihan dan kerapuhan di setiap keriput yang mulai muncul di wajah ibu. Seketika rasa sesal meyeruak dalam dada saya dan saya sadar kalau saya belum pernah sekalipun membahagiakan Ibu.

Ya Tuhan, sampai kapan saya akan membenci, marah , kecewa dan menyalahkan Ibu atas semua tragedi dalam hidup saya? Pantaskah saya menyalahkan beliau? Perceraian Ayah dan Ibu, apakah Ibu yang menciptakan dan menginginkan? Ibu juga berjuang mempertahan kan harga diri dan kewarasan beliau selama ini. 

Kalaupun ibu menjadi pribadi yang keras itu karena tuntutan ibu harus demikian demi kami anak - anaknya. Selama bertahun - tahun ibu bekerja tiada henti sampai pinjam sana dan pinjam sini demi biaya kuliah saya dan adik - adik saya. Sendirian! Karena ayah tak bisa diandalkan.

Ibu juga ingin bahagia. 

Saya tak pernah memikirkan hal itu. Ibu juga ingin memiliki pasangan hidup untuk saling berbagi dan menyayangi. Tapi kenyataanya, ibu kurang beruntung soal ini. Pertama perceraian dengan ayah dan dengan suami nya yang kedua yang lagi - lagi harus kandas. Saya yakin, ibu juga sama kesepiannya dengan saya. 

Mengapa saya sangat egois sekali dan hanya memikirkan penderitaan diri sendiri. Ibu juga sama kesakitannya, sama berjuang untuk dirinya sendiri. Ibu juga ingin bahagia, sama seperti saya.

Ya Tuhan, maafkan saya.

Akhirnya suatu hari saya memutuskan untuk bertaubat dan memohon ampunan pada ibu. Saya memilih hari ulang tahunnya sebagai hari taubat. Jauh - jauh hari sengaja saya menabung untuk membelikan jam tangan kesukaan ibu, jam tangan berlapis sepuhan emas. Dengan perasaan dag dig dug dan tegang, saya serahkan hadiah ulang tahun pada ibu. 

Ibu, selamat ulang tahun ya “ ucap saya, 

waahh apa ini teteh? hadiah buat ibu? waah, makasih teh. padahal mah gak usah repot - repot “ Jawab ibu dengan wajah senang.

gak apa -apa bu, teteh udah nyiapin ini udah lama kok, hihihi. buka dong “ jawab saya lalu ibu membuka hadiahnya dan terkejut.

waahh teteh, ini jam tangan emas ya? aduh pasti mahal! teteh gak lagi gak punya uang, padahal mah gak usah “ jawab ibu terkejut, lagi di kasih hadiah aja ibu masih mikirin masih keuangan saya. duh makin mencelos hati saya.

Gak kok bu, ini mah sepuhan kok, bukan emas beneran. hehehe “ jawab saya malu - malu

Ibu tampak bahagia sekali. saya senang dan hati saya terasa sangat hangat. Tanpa ragu lagi saya langsung memegang kedua tangan ibu lalu bersujud sambil menangis.

Ibu maafin teteh ya, teteh sering nyakitin perasaan ibu dan sering bikin ibu sakit hati. sering merepotkan dan selalu bentak ibu. maafin teteh ya Bu “ ucap saya sambil menangis. Tenggorokan rasanya seperti tercekik dan tangisan pun semakin sulit dikendalikan. 

Ibu terkejut dan ikut menangis. sambil mengangkat tangan dan kepala saya ibu berkata, 

Teteh… udah jangan nangis lagi, gak apa - apa teh…. gak apa - apa gak usah minta maaf sama ibu sampai kayak gini. Jauh sebelum teteh minta maaf , ibu udah maafin semua kesalahan teteh. maafin ibu juga ya

Lalu saya bangkit dari tangisan dan menatap wajah ibu yang terlihat basah oleh air mata di antara kerutan wajahnya. Kami berpelukan dan hati saya lega sudah. 

Lalu kami duduk bersebelahan sambil saling memegang tangan dan ibu mengusap air mata saya. lalu saya berkata, 

Maaf ya teteh belum bisa membalas semua kebaikan, kerja keras dan usaha ibu sejak teteh bayi sampai sekarang

Gak apa - apa teh, jangan mikirin itu. Ibu ikhlas mengurus teteh sampai sekarang. Buat ibu, melihat teteh bahagia sama anak - anak, pernikahan teteh bahagia dan teteh sukses ….ibu udah bahagia, itu hadiah terbaik buat ibu. yaaa selain sering dibawakan batagor sama roti bakar lah bonusnya, heheh” jawab itu menenangkan hati saya sambil bercanda. 

Ah, terimakasih Ya Allah. Saya masih diberi waktu dan kesempatan untuk memohon maaf pada ibu. Terimakasih. 

Hadiah untuk Ibu

Saya sangat bersyukur, sekarang hubungan saya dan ibu jauh lebih baik . Saya bersyukur masih diberikan ibu hingga usia ini dan masih diberikan kesempatan memohon maaf. 

Sekarang setiap kali kami bertemu, kami selalu bercerita banyak hal, ke salon bersama dan luluran bersama Hal - hal seputar dunia perempuan dan kecantikan yang tidak pernah kami lakukan waktu dulu. Bahkan kami sama - sama menyukai drakor, hehe.

Penyesalan saya hanya satu, saya belum punya cukup banyak uang untuk membalas semua perjuangan ibu untuk saya selama ini. Saya ingin sekali mewujudkan impian Ibu untuk memiliki rumah di desa lengkap dengan kolam ikan dan kebun anggrek, bunga favoritnya.

Ketika saya melontarkan keinginan saya ini, ibu hanya berkata, 

Yang terpenting buat Ibu sekarang, Teteh bahagia dengan pernikahan Teteh dan sukses. itu saja cukup buat ibu. gak perlu banyak ngasih hadiah. ya kalau ibu di kasih rezeki tentu gak ibu tolak ya, kan lumayan. hehehe “ jawab ibu sambil bercanda. 

Ibu doakan teteh sukses dengan menulis di blognya dan sukses jadi seniman. Cita - cita ibu yang gak pernah terwujud. Mendengar teteh juara lomba waktu itu terus kemarin dapet hadiah wacom, ibu seneng banget. Itu aja udah jadi hadiah buat ibu. Berarti ibu berhasil mengantar anaknya sukses “ lanjut ibu. 

Jawaban ibu memang ibu - ibu banget ya, saya juga merasakan hal yang sama untuk anak - anak saya. Yang terpenting adalah kebahagiaan dan kesuksesan anak - anaknya. Urusan kebahagiaan sendiri, itu belakangan. 

Untuk saat ini rezeki saya memang masih terbatas. Saya baru bisa memberikan ibu small things sebagai hadiah. Pijatan di kepala dan badan , general cleaning rumah ibu, memasak dan mencuci baju. serta jajanan sederhana. Semoga secepatnya saya bisa mewujudkan impian ibu ya.

Sebuah Pencerahan


selamat  hari ibu
me and mom


Ibu juga manusia, beliau tidak luput dari kesalahan dan ketidaksempurnaan. Ibu juga berproses dalam memahami dirinya sendiri dan mengobati luka lama.


Sungguh sangat egois jika kita sebagai anak hanya memikirkan luka batin sendiri, bagaimana dengan ibu? ibu juga punya trauma dan luka yang sama.

Jika dibandingkan dengan segala perjuangannya tanpa henti dan pamrih, luka batin yang saya alami sungguh tiada tandingannya. Mengingat semua perjuangan ibu, bagi saya ibu adalah malaikat tak bersayap. Sungguh.

Meminta maaf sekali saja rasanya tidak cukup, begitu pula dengan ucapan terimakasih. ada baiknya memang kita lebih sering menyapa hati ibu, menanyakan kabarnya dan mengatakan banyak terimakasih dan diakhiri dengan ucapan i love you ibu. Saya yakin Ibu akan sangat bahagia.

Sudahkan kita menyapa ibu kita hari ini? sudahkan meminta maaf? sudahkah memberikan small things yang bisa membuat wajahnya tersenyum? sudahkan kita mengatakan padanya, I Love you mom, thank you for everything ?
Sudahkan? yuk kita sapa ibu kita sebelum segalanya terlambat.


"Tulisan  saya ini dibuat dalam rangka mengikuti Lomba menulis Blog yang di selenggarakan oleh  Female Blogger Banjarmasin dan  Gloskin Banjarmasin, dengan Tema : Hadiah terindah untuk Ibu"







menjadi gemuk


Menjadi Gemuk dan Bahagia, Benarkah? : Tanos Drink Water Challenge Journal : Day 3


Its sooo late post, beneran! Tapi gpp ya yang penting setor, eeaaa. Kali ini saya mau bahas soal dilema berkepanjang selama masa pandemi, yaitu kenaikan berat badan yang gak tangung - tanggung mencapai 5 kg! dahsyat ya!

Apa sih yang membuat berat badan saya melambung tinggi ke angkasa gini? sudah barang tentu pola makan dan pola tidur yang tidak benar. Katakanlah, hobi bergadang dan makan seenak jidat. apa aja dilahap, termasuk sang raja gorengan dan mie instan. Porsi makan pun gak masuk akal, bahkan pasangan saya bilang porsi makan saya udah layaknya monster yang kelaparan. hadeeuuuh.

Sedih gak sih? iya sedih, terlebih begitu pasangan beliin saya celana baru eh ternyata gak muat dong! wkwkwk. Terpaksa lah dibalikin lagi ke tokonya dan ganti dengan size 36! Subhanallah.

Bahagiakan saya menjadi gemuk  

Bahagiakan saya menjadi gemuk dan santay? jawabannya adalah iya. Lho kok bisa? memang, saya sempat kalang kabut begitu ketemu jadwal suntik KB karena pasti ketemu sama yang namanya timbangan berat badan. Udah deh, nimbang badan sembari tutup mata! dan bener aja, begitu liat angka kaann saya syok! hahahaha. akhirnya, ya udah lah ya....saya terima aja deh diri ini menjadi gemuk bahkan sering djadiin samsak permainan smekdown anak-anak karena dibilang badan emak asoy buat jadi samsak, hadeuuh.

Beruntung saya punya pasangan yang gak begitu peduli apakah saya menjadi gemuk atau kurus, selama saya baik hati dan tidak sombong sih dia asoy aja. Walau kadang suka nyemprit juga sih nyuruh zumba atau olahraga, tapi bukan ke nurunin berat badan melainkan biar tetap sehat dan fit. 

Dan ya, saya bahagia dengan kegemukan saya saat ini. Bahagia itu kan datang dari diri sendiri yang menerima keadaan diri sendiri. Jadi stress no more sih. Tapi, bukan berarti gemuk ini saya biarkan tanpa batas ya. Tetep ada koridornya dong, kalo gak nanti kebablasan dan kesehatan yang jadi taruhannya. Betul?

Kesehatan tetep nomer satu, karena bahagia juga kalo sakit ujung-ujungnya kan gak bahagia dan malah meriwehkeun orang sekitar. jadi, kalo berat badan saya akhirnya menjadi 66kg udah deh stop! harus ditakar lagi porsi makan, kurangi garam dan gula dan sebisa mungkin kurangi tuh beli beli thai tea! Dan tentu saja jangan berhenti minum air putih at least 2 liter sehari buat buang toxic dan lemak di tubuh.

Dan di hari ketiga Tanos drink water challenge ini saya bolos minum 2 gelas! bravo! nakal aku yaa...hihihi. Inilah cerita saya di hari ketiga, apa kabar cerita kak Renovrainbow yaaa??


Tanos drink water challenge
Tanos drink water day 3


Apa Kabar nih para pejuang Tanos hari ini?


Halo partner ku kak Renovrainbow, gimana cerita tantangan Tanos drink water challenge hari kedua? pasti seru ya. Pengalaman dari para pejuang Tanos lainnya juga seru - seru. 


Tanos
Report TDWC Day 3 para peserta

Buat teman - teman yang penasaran dengan perjalanan para pejuang Tanos selama mengikuti challenge ini, silahkan kepo - kepo instagram saya dan kak Renovrainbow ya. 




Melepas Impian demi anak, Bukan Akhir dari Segalanya

Banyak hal yang kita korbankan, sebagai seorang ibu untuk anak-anak kita. Jangan tanya soal waktu dan tenaga, itu sudah pasti. Yang terberat dari semua itu adalah, meninggalkan impian.

 

Menjadi  seorang Arsitektur Lanskap adalah impian saya. Dan dengan terpaksa saya Melepas Impian saya itu layaknya menerbangkan burung merpati, lepas bebas di angkasa. Sedih rasanya, sesak di dada dan membuat saya kehilangan harapan dan semangat. Tapi, saya tidak punya pilihan. 

 

Cerita Awal

 

Tahun 2009, saya memutuskan untuk meneruskan kuliah saya ke jenjang S1 ( dulu lulus DIII ) dan ambil jurusan Arsitektur lanskap. Bukan keputusan mudah untuk kuliah lagi di saat usia saya hampir mendekati 30-an. 

 

Masalah biaya, teman kuliah yang usianya terpaut jauh serta waktu yang harus saya atur agar masih bisa bekerja. Untungya, para dosen sangat mendukung dan berbaik hati mau mengatur jadwal kuliah agar saya masih bisa kuliah sambil bekerja.

 

Tapi, dengan semakin padatnya mata kuliah dan kuliah lapangan. Akhirnya saya harus memilih, antara meninggalkan pekerjaan atau berhenti kuliah. Dilema yang terasa sangat berat, sungguh.

 

Karena di satu sisi, saya masih membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi hidup saya yag sudah tidak bisa lagi bergantung pada ibu saya. Tapi di sisi lain, akhirnya saya menemukan impian dan karir yang ingin saya capai. Yaitu menjadi seorang Arsitektur Lanskap.

 

Bersyukur saya bertemu Dosen yang luar biasa baik hati . Beliau rela merogoh koceknya untuk membiayai kuliah saya satu semester dan mengijinkan saya bekerja dengannya. Menjadi drafter dan assisten dosen. Bahkan, masa depan karir saya sudah beliau rancang sedemikian rupa sehingga saya tidak perlu lagi mengkhawatirkan lapangan pekerjaan setelah lulus kuliah. Saya sangat bersyukur.

 

Lalau Dua tahun kuliah, saya bertemu jodoh saya dan menikah.  Saya tetap kuliah dan Pak Suami mendukung 100%. Dua tahun kemudian saya hamil anak pertama saya, Keenan.

 

Selama hamil, saya ajak Keenan jadi pinter. Karena saya harus sidang skripsi. Saya ajak bimbingan dan  bolak-balik ke tempat penelitian. Rempong gak sih? Iya, banget! Tapi alhamdulillah Paksu selalu setia menemani jadi babang ojeg kemanapun saya  menuju.

 

Ada kejadian lucu  tapi sebetulnya naas  selama masa bimbingan ini. Jadi, waktu itu musim hujan. setiap pulang bimbingan pasti keujanan. Jas hujan selalu siap sedia. Tapi sayangnya waktu itu  hujannya gede banget, udah kaya badai aja. Dan malangnya, perempatan GedeBage, banjir.

 

Akibatnya, motor kami mogok dan terpaksa Paksu mendorong motor melewati batas banjir yang sampai  selutut itu dari perempatan hingga pasar GedeBage. Saya ngikutin dari belakang sambil komat-kamit baca solawat karena takut terpeleset. Saya takut si calon jabang bayi di perut saya yang sudah memasuki usia 8 bulan ini kenapa – napa . Karena saya jalannya sangat lamban dan hati-hati, saya tertinggal cukup jauh dari Paksu dan berusaha mengejar Paksu. Ditengah jalan, tiba-tiba saya terjatuh dan terperosok! Masuk got! Gak keliatan karena tertutup banjir.

 

Semua orang berusaha menolong saya yang berusaha bangkit sambil menangis. Saya gak bisa lihat dimana Suami saya dan saya takut si utun kenapa napa. Seorang bapak-bapak lantas bertanya,

 

Bu, gak apa-apa? Dimana suami ibu? “ tanyanya,

 

Suami saya? Eng ...eng..dimana ya pak suami saya? “ tanya saya balik bertanya sambil menangis.

 

Si Bapak malah bingung dan membantu saya berjalan sampai jalan raya yang tidak tergenang banjir.  Di ujung jalan, tiba-tiba saya melihat sosok suami saya dan berlari  layaknya scene film AADC. Sambil menangis saya teriak,

 

Babah.... Babaaahhh!! “ teriak saya. Paksu kaget melihat saya dan bertanya,

 

Ndaa tadi kemana? Aku nyariin!! Aku takut kamu kenapa – napa! Gpp kan? Kok nangis? “ tanyanya khawatir

 

Tadi aku jatuh ke solokan. Gak keliatan! Aku takut! “ jawabku masih sambil nangis.

Ya Allah! Maafin aku ya ninggalin kamu. Maafin aku belum bisa beliin kita mobil! Maafin yaa.... udah jangan nangis lagi “ jawabnya sambil meluk saya erat-erat.

 

Akhirnya kami pulang, sambil mendorong motor sampai rumah yang jaraknya hampir 5 KM!  Hari itu sungguh luar biasa naas, tapi lucu kalo dipikir – pikir!

 

Kalo mengingat moment itu, sungguh luar biasa perjuangan saya yang tetap meneruskan kuliah sambil hamil besar.

 

Melahirkan Keenan

 

Malam itu saya resah. Perut saya tak enak dan saya sulit tidur karena saya merasakan mules yang tiada henti. Ibu saya bilang saya akan segera melahirkan. Lalu esoknya kami ke bidan. Dan setelah di cek, saya sudah pembukaan satu. Lalu kami pulang dan menunggu di rumah. 

Pukul 10 pagi, saya merasakan mules yang semakin hebat. Tidak kuat rasanya sampai meminta Paksu mengantar saya ke bidan dan menunggu disana sampai saya melahirkan. Dengan gerak cepat Paksu ambil motor dan antar saya ke bidan. 

Lucunya, ditengah jalan sedang ada razia motor. Kami yang naik motor tanpa mengenakan helm, sudah pasti di stop Pak Polisi. 

Selamat siang pak, maaf bapak saya tilang karena tidak menggunakan helm! “ sapa pak polisi, 

Aduh pak! Maaf istri saya ini mau melahirkan! “ jawab Paksu teriak 

Ooohh... aduuuh... baiklah pak! Maaf kalau begitu, ayo cepat segera ke rumah sakit. Hati-hati dijalan ya Pak “ jawab pak polisi yang malah jadi panik dan bingung!  Dan kami pun tidak  jadi ditilang dan kami sampai di bidan dengan selamat, Hehehehe. 

Setelah menunggu hampir 12 jam, pembukaan tetap di angka satu. Gak naik-naik. Bidan akhirnya memutuskan menggunakan induksi agar pembukaan saya cepat naiknya. 

Iya sih jadi cepet naik kaya roket, saking cepetnya saya gak bisa nahan itu rasa mules sampai terus nangis dan meringis. 

Enam jam kemudian akhirnya saya pembukaan 10 dan siap melahirkan. Rasanya? Sakit banget buuu!! Sampai saya ga tahan dan teriak kaya orang gila. Padahal udah komat kamit baca doa dan solawat. Tapi tetep saya gak kuat nahannya. Sampai-sampai pak suami abis babak belur badan sama kepalanya saya cubit , cakar dan jambak rambutnya! Huhuhu, maafkan aku Paksu. 

Alhamdulillah, keenan lahir dengan selamat dan sehat sempurna. Rasanya? Bahagia sekali. Dan gak nyangka. Tapi sayangnya, saya mengalami Ruptur stadium empat yaitu tingkatan tertinggi dalam ruptur perineum setelah melahirkan. 

Robekan ini memanjang hingga ke dinding rektum, dimana jalan lahir sobek parah hingga anus yang berpotensi menyebabkan disfungsi dasar panggul dan saluran pencernaan. Hingga akhirnya bidan menyerah dan membawa saya ke rumah sakit dan saya di operasi bius total. 

Alhamdulillah proses operasi lancar. Tapi tidak dengan proses pembayaran operasi. Total biaya operasi memakan uang hingga 15juta! 

Suami saya sampai syok dan menangis di depan saya setelah saya siuman. Kami tidak punya tabungan sebanyak itu. Kami hanya menyiapkan dana 5 juta saja untuk persalinan. Itupun sudah habis untuk biaya persalinan di bidan. 

Ingin saya memohon bantuan pada ibu, tapi tiba – tiba saya ingat kalau beliau masih menanggung biaya kuliah adik bungsu saya. Lalu saya ingat ayah saya, saya coba telpon beliau tapi sayangnya setelah setengah jam menelpon, panggilan saya tidak dijawab. Orang tua saya sudah bercerai, sehingga suasana ini makin membuat hati saya sedih dan merana. 

Saya tertegun diam dan berfikir segalam macam alternatif solusi. Hingga akhirnya saya memutuskan suatu hal yang saya tau saya akan merasa sangat terpukul dan sedih teramat sangat karenanya. 

Saya lihat, Paksu juga berusaha menelpon kesana dan kemari mencari pinjaman. Tapi sepertinya gagal. Karena beliau datang menghampiri saya dengan wajah sendu. Melihat Paksu begitu kebingungan, akhirnya saya angkat bicara , 

Bah, pake aja uang buat sidang dan wisuda aku “ ucap saya 

Hah? Apa ndaa? Pake uang kuliah ndaa? “ jawab paksu terperangah kaget, 

iyaa..... “ jawabku sambil nangis, 

Tapi ndaa.... “ jawabnya getir 

Gak apa-apa Bah, aku ikhlas “ jawabku berusaha nahan tangisan. 

Lalu kami saling memandang dan berpelukan. Ya Allah, sesungguhnya aku sedih dan bingung. Tapi, kami tak punya pilihan.

Keputusan Akhir


Akhirnya, inilah moment dimana saya harus melepas impian terbesar saya demi kesembuhan saya setelah melahirkan keenan, anak pertama kami. Saya sedih? Tentu. Kecewa? Tidak. 

Pada akhirnya saya merasa, menjadi Arsitektur Lanskap mungkin bukan jodoh saya. Mungkin Allah hendak mengantarkan saya menuju impian lain dan menyiapkan saya untuk rencanaNYA yang lebih besar. Wallahualam. 

Terkadang saya merana, setiap kali Dosen yang baik hati itu menelpon atau watsapp menanyakan kabar saya dan menyemangati saya untuk meneruskan kuliah. Tapi dengan berat hati saya selalu menolak dengan alasan anak saya tidak ada yang menjaga. Padahal, sesungguhnya bukan itu alasannya. 

Ingin rasanya meneruskan kembali, tapi situasi finansial kami masih belum stabil. Usaha Paksu juga masih dirintis sementara kebutuhan bayi dan rumah tangga selalu meminta tiada henti setiap hari. 

Akhirnya, saya ikhlaskan dan melepas Impian saya. 

Tapi, Allah itu memang Maha Baik dan Penyayang. Seiring berjalannya waktu , akhirnya saya menemukan impian baru. Menjadi illustrator dan Menulis. 

Iya, saya tetap meneruskan hobi menggambar saya hingga berbuah manis yaitu di pinang saah satu clothing di Bandung dan menjadi illustrator mereka selama hampir 5 tahun terakhir. 

Saya juga kembali menekuni hobi saya yang lain yaitu menulis di Blog dan memutuskan untuk menjadi Blogger. Akhirnya, disinilah passion saya tertambat dan berlabuh. Entah ada rencana besar apa yang Allah siapkan untuk saya di impian baru saya ini. Apapun itu, saya tetap bersyukur. Karena melalui menulis, saya bertemu banyak relasi dan kawan baru yang saling support dan menyemangati. Dan yang paling utama, saling menguatkan dan menginspirasi. Untuk yang satu ini, saya tidak bisa berhenti bersyukur. Terimakasih Ya Allah. 

Terkadang, rencana yang sedemikian dirancang degan sempurna pada akhirnya bisa ambyar dan tidak tercapai. Terkesan tidak adil memang, tapi rencaa Allah lebih besar dan hebat dari rencana kita manusia. Jadi, tidak apa akhirnya saya tidak menjadi Arsitektur Lanskap. Karena sekarang saya menjadi “arsitektur” masa depan anak-anak saya. 

END

-----------------------------------------

Tulisan ini memenangkan juara pertama dalam sayembara menulis Paidguestpost#1 bertema THOUGHT yang diselengarakan oleh pemilik blog CREAMENO 





Akhir-akhir ini pikiran saya terusik sama postingan akun parenting di IG milik  mamahtalks,  yang menampilkan sosok seorang Anchor favorite saya, Marissa Anita. 



Disini, Marissa Anita dengan gamblang menjelaskan apa itu inner child, dan jujur saya nangis nonton di bagian akhir video ini.

MY INNER CHILD



Sebelum melangkah ke definisi, apa itu Inner Child. berikut saya ceritakan pengalaman saya pertama kali menjadi ibu. curhat? tentu, berbagi cerita? ya!, karena tanpa curhat inilah, saya tidak akan menemukan akar Inner Child saya.

Jadi, setelah saya menjadi ibu dari dua anak, saya menemukan fakta mengejutkan bahwa Ternyata, jadi fulltime mother itu tidak mudah. Banyak yang perlu dibenahi. terlebih lagi soal diri sendiri. kalo ada universitas khusus menjadi ibu saya mau ikutan, tapi sayangnya, setelah kita melahirkan anak pertama, si doi lahir tanpa manual book, jadi, semua proses harus dijalani dan diikuti. 

Pertama, setelah Keenan, anak pertama saya lahir saya bagaikan orang bego, bingung mau ngapain ketika pertama kali meluk keenan.

Lantas ibu mertua bilang segera susuin, yo wes-lah saya susuin. Terus apa mudah nyusuin anak pertama? Gak lah marisol!! Bingung saya nyusuin itu harus gimana, diteken-teken, dipijat-pijat atau begimana? Ya yg paling naluriah ajah lah, saya sodorin aja langsung. My baby langsung nyomot asi dan dikenyot, tapi gak lebih dari 10 menit keenan nangis histeris, lahh saya nambah bingung mak, bayi nangis harus diapain?? 

Saya langsung eyong aja sambil kasih susu formula buatan ibu mertua. Alhamdulillah my baby diam seketika. Saya langsung sadar, “ oh begini ya jadi fulltime mother dan ngurus bayi” sambil masih merasa bego sendiri. 

Dan, rutinitas ibu baru pun saya jalani. Mulai dari mandiin, susuin, tidurin, mandiin lagi, susuin lagi, tidurin lagi sampai saya sulit mandi dan makan. Bukan hanya itu, jahitan sisa operasi di area jalan lahir dan sekitarnya masih terasa sakit, terlebih kalo saya duduk dan bangkit dari duduk. hal ini bikin saya stress dan akhirnya terkena BABY BLUES SYNDROME.

Selama 1 bulan setelah melahirkan, Saya murung, melamun, gak selera makan, sedih dan banyak nangis. Sementara saya tinggal dengan mertua, suami bekerja dan ibu kandung pun bekerja. Seketika saya merasa berjuang sendirian. Dan hal ini saya alami sampai keenan 1 tahun. Curhat sana sini sudah, nangis ampe mata bengkak sama pak suami juga sudah. Rupa-rupa nya ini bagian dari proses yang namanya MENJADI IBU. 

Itulah moment pertama kali saya sadar, kalo jadi ibu itu gak seindah yang ditawarin film- film hollywood. Saya kelelahan luar biasa, kurang makan, kurang mandi, kurang tidur dan kurang bersosialisasi. Lengkap sudah. 

Setelah keenan melewati fase 1 tahun, saya mulai mencair. Gak terlalu tegang soal jadi fulltime mother dan ngurus anak, mulai santai dikit lah walo tetep hectic. Saya mulai menikmati jadi ibu. Layaknya mom jaman now, saya selalu pasang kamera di setiap moment penting perkembangan keenan terus pamer deh di semua akun sosial media saya, instagram, facebook, twitter dan BBM ( waktu itu WA blm ada ). 

Saya gak ngalamin lagi baby blues, saya mulai beradaptasi dengan serba kekurangan yang dimiliki seorang ibu yg punya bayi ( kurang mandi, tidur, makan, jajan, dangdan, shopping, jalan-jalan, kongkow dan piknik ) dan mulai bersahabat dengan DRAKOR karena itu satu-satunya hiburan saya, hehehe

Lalu, muncul lah episode baru dalam hidup saya layaknya sinetron hidayah indosiar, babak baru menjadi ibu, HAMIL ANAK KEDUA YANG TIDAK DIINGINKAN!! Dan dari sinilah semua tuh drama jadi ibu dimulai.

Tahun 2015, saya mengandung Kilan, anak kedua saya. Bisa di bilang, ini adalah kehamilan diluar kehendak. tapi, yang namanya TAKDIR DAN REZEKI, kita gak bisa nolak. apapun alasannya, kalo kata GUSTI ALLAH JADI, ya jadilah.

Tapi sayangnya, kehamilan ini justru menarik saya begitu dalam hingga terperosok ke lembah stress dan depresi. ketidaksiapan mental menjadi ibu ganda, ketidaksanggupan menurus bayi lagi dari nol karena ingat betapa melelahkannya mengurus bayi itu.... dan ingatan betapa ngerinya mengalami BABY BLUES SYNDROME, saya stress. belum lagi memikirkan finansial .....yaahhh itu stress lapisannya udah melebihi lapisan wafer Tango! 

Karena stress inilah, saya jadi mudah marah bahkan bersikap buruk sekali dalam pengasuhan si sulung. terkadang, keenan rewel dan tantrum. maklum lah usianya baru 2,5 tahun. sebetulnya sih, semua tantrum dia tuh masih dalam batas wajar. cuman karena saya nya aja nih yang lagi error emosinya, jadi tantrum keenan udah kaya neraka bagi saya.

Lalu, saya melakukan kesalahan pertama dalam pengasuhan keenan, BENTAK ANAK dan berlanjut dengan MAIN CUBIT. Padahal saya udah wanti-wanti sama diri sendiri buat gak bentak anak apalagi cubit anak. Karena saya dibesarkan dengan cara seperti itu, dan hasilnya saya trauma. Saya gak mau anak-anak saya mengalami apa yang saya alami. 

Tapi kenyataannya, malah sebaliknya. Saya bingung, kok bisa gitu sih? Kok bisa saya bertekad buat gak melakukan physical abuse sama anak saya tapi pas prakteknya yang terjadi adalah sebaliknya.

Merasa bersalah setiap saat dan setiap hari setiap malam sambil mewek dan melihat anak-anak tidur tentu saya alami, tapi sayangnya, keesokan hari nya saya melakukan hal yang sama lagi. Ini bagaikan lingkaran setan anu teu ereun-ereun ( gak berhenti). Dan ini bikin saya ngerasa jadi ibu yang super jahat dan gagal jadi ibu. saya tuh kenapa sih? .... tau gak kenapa buibu?...Ternyata, semua itu dikarenakan Inner child saya. what?? ... 

DEFINISI INNER CHILD

Mengacu pada John Bradshaw (1992), inner child merupakan pengalaman masa lalu yang tidak atau belum mendapatkan penyelesaian dengan baik. Orang dewasa bisa memiliki berbagai macam kondisi inner child yang dihasilkan oleh pengalaman positif dan negatif yang dialami pada masa lalu. Seperti motivasi alam bawah sadar lainnya, inner child juga muncul pada orang dewasa dalam bentuk perilaku atau keadaan emosi yang tidak disadari (unconscious).

Ada definisi lain soal Inner chiild :
Menurut Vanessa Guerrero inner child adalah bagian dalam diri kita yang terluka ketika masa kanak-kanak yang untuk sebagian orang luka yang timbul sangatlah dalam dan menghancurkan bahkan bisa lebih buruk, meskipun terdapat bagian menyenangkan saat masa kanak-kanak tetap saja beberapa luka mungkin terjadi sepanjang jalan dan jika luka tersebut belum sembuh maka akan berdampak pada masa dewasa.

Jadi, INNER CHILD itu apa? samakah dengan Ghost Parenting? 
BENANG MERAHNYA Dimana?

Ghost parenting, lebih mengacu kepada pola asuh kita saat ini yang dipengaruhi oleh pola asuh yang kita terima dimasa lalu. outputnya beragam, jika kita diperlakukan "baik" disepanjang masa pertumbuhan kita saat kecil hingga remaja, maka pola asuh kita kepada anak-anak kita akan baik-baik saja. 

Sebaliknya, jika kita hidup dalam keluarga yang broken, banyak di kritik, menerima kekerasan fisik dan verbal dan dididik keras, maka akan seperti itu pula pola asuh kita kepada anak-anak kita. KECUALI, kita menyadari bahwa kita mengalami ghost parenting dan mulai menata diri sendiri agar lingkaran setan itu berhenti di kita aja.

Lantas, apa itu inner child sebenarnya?
Inner child itu, adalah anak kecil dalam diri kita yang mengalami pola asuh yang buruk dimasa lalu oleh orangtua kita dan berdampak pada pola asuh kita terhadap anak - anak kita pada saat ini, yaitu GHOST PARENTING. 

Memang Ada Apa Dengan Masa Lalu Saya? Kepo kaannn? hehe

Nah ini yang saya maksud dengan kenapa saya curhat di paragraf atas. saya yang mudah terkena Baby blues syndrome, merasa stress, marah ,depresi dan berani bentak juga cubit anak selama masa pengasuhan anak-anak saya.

Semua itu dikarenakan saya mengalami ghost parenting dimana inner child saya terluka akibat pola asuh yang sangat buruk yang saya terima disepanjang masa pertumbuhan saya sejak kecill hingga remaja.

sudah mengerti sekarang? udah ketemu benang merahnya kan ?

Bagi pembaca setia blog saya pasti sudah baca postingan saya yang berjudul " Sekantong Harapan Bernama Kebahagiaan ", disana ceritanya saya bikin cerpen fiksi, tapi pada kenyatannya cerpen itu 100% kisah saya. gak ada yang di tambahin ceritanya biar lebih buas dan seram. Bagi yang belum baca, mangga dibaca ya biar tau kenapa saya merasa inner child saya adalah pangkal dari semua pola pengasuhan saya yang buruk terhadap anak-anak saya. 

Lantas, apakah saya menyalahkan kedua orangtua saya karena telah mengasuh dan mendidik saya dengan cara sedemikian menyakitkan bagi saya? iya tentu saja! tapi itu adalah proses bagi saya untuk akhirnya memahami mengapa mereka demikian dan memaafkan mereka pada akhirnya. 


SOLUSI Dan PROSES AKHIR

Pada akhirnya, saya bikin mind map buat solusi masalah ini, karena saya gak mau berlaur –larut soal ini, karena masa depan psikologis anak saya taruhanya. Betul gak mak?

Bagaikan terilhami, pas lagi hot-hot nya saya pengen selesein masalah ini, Saya menemukan judul postingan di pinterest, “ selesaikan trauma masa lalumu dan benahi dirimu sendiri untuk masa depan anak-anakmu

JLEB!!

Bagaikan kena lemparan kulit durian, saya tersadar, inilah hal pertama yang harus saya lakukan.yaitu, berdamai dengan masa lalu. berdamai ya, bukan melupakan. karena masa lalu seburuk apapun gak akan pernah bisa dilupain kecuali amnesia, tapi amit-amit deh. 

Masa lalu sudah seharusnya jadi bagian hidup seseorang, kaya potongan puzzle. pada akhirnya semua akan membentuk diri sendiri saat ini dan esok hari. banyak yang menyakitkan kaya kisah sedih di hari minggu? tentu, masih sering nangis kalo inget masa lalu? tentu, suka sedih kalo inget betapa kangennya sama ayah kandung? sudah pasti. dirasain aja, dinikmati lalu tumpahin semua emosi kedalam karya. 

Sama halnya dengan Kurt Cobain, yang menjadikan tragedi dalam hidupnya menjadi dasar dia bikin karya, dan hasilnya? Band Nirvana jadi Band panutan sejuta umat anak band dari dulu sampai sekarang. tapi jangan diliat ending hidupnya yang suicide ya, jangan ditiru! 


Apa saya masih main kasar? TIDAK! alhamdulillah.

Semua itu bukan proses singkat dan sebentar. Puluhan kulwap parenting dan buku parenting, sahabat baru seorang ibu yang juga mengalami inner child/Ghost parenting dan menulis, semua itu menjadi penolong saya. 

Apakah mudah? tidak! sangat sulit bagi saya mengendalikan emosi dan marah walau hanya untuk hal sepele, seperti kelakuan kilan yang doyan hujan bedak sampai lantai penuh dengan bedak, kilan yang lagi ada di fase anxiety separation, keenan yang demen merengek minta beli layangan dan segudang aksi ke-soleh-an mereka berdua yang bisa bikin kepala saya tandukan dan stok coklat abis. 

Satu rahasia dalam menahan emosi dan marah biar gak meledak, CUBIT DIRI SENDIRI. jadi, setiap saya marah dengan kelakuan "lucu" mereka, saya cubit paha sendiri sambil membayangkan dan berkata sama diri sendiri, " RASAIN LO! SAKIT KAN DICUBIT?? MAKANYA JANGAN CUBIT ANAK LO! "

And It works!!
Sekarang, saya bisa lebih sedikit lebih tenang menghadapi tantrum dan sedikit bisa lebih sabar mengahadapi permintaan para sultan bahkan sampai yang gak masuk akal, seperti masukin si kiki ( kucing kesayangan keluarga ) ke dalam keresek, katanya abis belanja kucing di petshop. kan ngakak saya jadinya, wkwkwkwk.

tapi, hidup gak seindah dongeng marisol, gak selamanya saya sebaik hati itu yang bisa nahan emosi dan amarah bla-bla-bla. kadang lepas kontrol kalau lagi kalut, kadang santai banget kaya emak-emak bijaksana di film-film. yah begitulah.

But at least, i try dan it works for a few times. 

INNER CHILD BUKAN SATU-SATUNYA PENYEBAB SALAH PENGASUHAN

Marah sama kelakuan absurd anak-anak bukan satu-satunya penyebab amarah para emak memuncak hingga kembali melakukan tindakan kasar dan kata-kata kasar pada anak. karena, ternyata menurut artikel www.popmama.com
Trauma masa lalu bukan pelaku utama mengapakita jadi orangtua yang suka main kasar sama anak. Si trauma ini bawa kawan-kawannya, salah satunya ialah MANGKEL JENGKEL SAMA SUAMI dan KESULITAN EKONOMI.
Kadang, secara gak sadar, saat kita jengkel sama pak suami yang suka susah dibangunin solat subuh ato naro jaket dan sepatu dimana aja bisa bikin ubun-ubun kita pecah. Marah gak bisa kusabab sieun dicarekan balik ( Takut dimarahin balik ) dan dianggap istri durhaka, hasilnya, pas anak rewel eh si anak kena getahnya. Bener gak mak?

kesulitan ekonomi? udah pasti bikin stress. Dan gak jarang pas kita lagi mumet-mumetnya mikirin soal Hubbud dunya ini alias urusan duniawi otak lagi jangar-jangarnya, klo ditambah anak rewel loba pamenta teu eureun-eureun ( banyak permintaannya, gak berhenti), jadilah kombinasi yang pas buat bikin gunung berapi emak meletus, dan anak kembali jadi korban ledakan gak disengaja. 

Kalo sudah begini, banyak banget point yang kudu dibenahi. Betul gak? Bukan hanya soal ghost parenting atau inner child semata. Makin bingung gak mak? Iya saya bingung, hehehe.


KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN

Ini penting. Sulit kah melakukannya ? bagi yang tidak terbiasa seperti saya tentu sulit. waktu pacaran, saya mudah curhat soal apapun dengan pasangan, setelah menikah semua topik pembicaraan mengarah pada dua hal saja, anak-anak dan cuan! wehehehe. 

Pada akhirnya, kami masing-masing menjalani peran masing-masing. pasangan pencari nafkah dan saya pengasuh anak. 

Menikah itu tidak mudah, tidak seindah waktu pacaran. banyak adaptasi, pemahaman, menerima, mencocokan, mengalah dan sejuta atribut lainnya. salah satu harus mengalah, siapa? ya saya! kenapa? karena yang inner child nya bermasalah hanya saya! suami sih baik-baik aja. 

Lalu langkah apa yang diambil biar komunikasi dengan pasangan lancar jaya? ya tentu dengan memberanikan diri open conversation diluar topik soal anak-anak dan cuan. 

Susah gak sih? susah mak! hahahaha. awalnya grogi, kaya lupa aja gitu gimana curhat sama pasangan soal perasaan, geli sendiri. berasa jadi anak ababil aja! wkwkwkwk. tapi seiring waktu, bisa dan terbiasa kembali. 

Apakah semua selesai? gak juga. jadi orangtua itu kan proses tiada akhir. sampai kita jadi kakek nenek juga bakal tetep jadi orang tua kan? jadi, kedepannya masih banyak tahapan menjadi orangtua yang akan dilalui.

Lantas bagaimana harus bersikap? Biasa aja sih, nikmatin alurnya, mau nyebelin, nyenengin, bikin gondok, jadi berantem sama pasangan, pabaeud-baeud ( saling cemberut), lalu baikan lagi, roromantisan lagi dan seterusnya.

Btw, apakah pak suami tau soal inner child saya? Ghost parenting? perceraian orangtua saya yang jadi penyebab semua trauma ? Tentu Dong! Sejak awal pacaran beliau udah tau dan alhamdulillah menerima. Saya sharing di blog soal inipun tentu atas ijin beliau, mana berani saya share yg begitu private tanpa ijin beliau. Katanya, gpp kalo ini bikin saya merasa lebih baik. So sweet ga sih? Hehehe

Kunci utama dalam mengatasi inner child 

1. Selalu PEDEKATE sama Allah SWT
2. GAK BERHENTI BELAJAR
3.Memahami ( Perbaiki inner child, memaafkan, ikhlas dan memahami pasangan)
4. Bersabar
5. Menulis

Untuk bagian menulis ini, kita bisa menulis surat untuk anak dalam diri kita setiap kita sedih ketika tiba-tiba ingat bagaimana kita diperlakukan sangat buruk saat masih kecil oleh orangtua kita. misal, saat ingin dibelikan permen tapi kita malah dibentak dan dikatain anak tukang jajan dan ngabisin duit orangtua. dan lain sebagainya. Menulis keliatannya sepele, tapi dampak akan luar biasa. 

Dealing with your inner child, waktu penyembuhannya beda-beda di tiap orang. ada yang bentar ada juga yang lama kaya saya, yang butuh 10 tahun buat memahami dan sekarang memaafkan lalu ikhlas. yang penting, sekarang udah tau alasannya kenapa suka bersikap kasar dan gampang marah sama anak, ya udah, perbaiki dan jangan ulangi. dan jangan lupa, tulis surat untuk inner child kita sebagai terapi healing. 

Itu aja mak kuncinya. Insha Allah kita semua bisa melalui semua proses dan tahapan ini. jangan tanya kunci yang lain ya sama saya, apalagi kunci inggris dimana atau kunci menuju hatinya kaya gimana, *eeeaaaa


Sumber referensi :