Tampilkan postingan dengan label #journalkeenan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #journalkeenan. Tampilkan semua postingan

Hai makhluk kecil, 
Terkadang terasa sulit bagiku, 
Untuk tidak dengan sengaja berteriak padamu saat  kau menghujaniku dengan permintaan tiada akhir  dimana aku sedang berada di puncak  lelah  letih teramat sangat,

Hai makhluk kecil, 
Terkadang sulit bagiku,  
Untuk tidak dengan sengaja marah padamu saat kau memintaku menemanimu bermain dimana aku baru ingin merebahkan tubuhku yang terasa remuk, meluruskan tulangpungguku yg terasa payah dan kakiku yang terasa kebas 

Hai makhkuk kecil, 
Terkadang sulit bagiku, 
Untuk tidak menahan sedikit saja kesalku terhadap kelakuanmu yg absurb dan aneh diluar akalku tapi lucu dan menyenangkan bagimu,  seperti bermain salju bedak atau bermain air hujan pancoran tetangga, 

Hai makhluk kecil, 
Terkadang sulit bagiku, 
Berdamai dengan amarahku saat kau menolak ku ajak belajar dan berteriak "tidak mau! " 

Hai makhkuk kecil, 
Terkadang sulit buatku, 
Menahan kantuk demi membacakan buku faporitemu

Hai makhkuk kecil, 
Terkadang sulit bagiku, 
Merayu dirimu yang sedang merajuk sementara aku dipenuhi pikiran yang sedang carut marut dan mood labil

Hal mahkluk kecil, 
Terkadang aku kalah dengan rasa lelah letih tiada akhir,
Terkadang aku kalah dengan emosiku,
Terkadang aku kalah dengan pikiranku,
Dan terkadang terasa sulit Menjadi ibumu,
Bukan karena tak ingin atau menolak,  aku hanya sedang lelah sekali,  
Hingga ingin aku menekan tombol pause dan berhenti sejenak, 
Walau masih terasa sulit,  aku tak pernah menyesal menjadi ibumu, 

Oh maafkan aku, 
Maafkan keterbatasanku, 
Maafkan ketidakmampuanku sedikit bersabar dan menahan amarahku,
Maafkan kesulitanku mengurai kesalku, 
Maafkan aku,  yang masih bergelut dengan luka lamaku, 

Maafkan aku, 
Yang masih belajar menjadi ibumu
Yang masih belajar mestabilkan emosiku
Yang masih belajar mengatur pikiranku
Yang masih belajar  menyesuaikan peranku
Yang masih belajar mengenai dirimu, 
Yang masih belajar ikhlas dan sabar, 
Yang masih berusaha mengurai dan menyembuhkan luka lamaku, 

Maafkan aku, dan
Terimakasih

Hadirmu sepenuhnya membuatku merasa berarti
Hadirmu sepenuhnya membuatku merasa dicintai
Hadirmu sepenuhnya membuatku merasa dibutuhkan
Hadirmu sepenuhnya membuatku merasa istimewa
Hadirmu sepenuhnya membuatku,  terasa seperti manusia







Dari awal saya punya prinsip, perihal prestasi di sekolah atau dimanapun, saya sih gak masalah kalo keenan gak dapet ranking atau juara juga. saya ga pernah maksa keenan buat jadi juara, dalam hal apapun. terlebih soal perlombaan. saya kurang "suka" kalo keenan ikut perlombaan. karena yang saya lihat hanya sisi negatif-nya saja, yaitu jadi bikin anak tertekan karena harus ikut lomba dan menang, ujung - uijungnya biasanya si anak jadi ambisius dan jadi kecewa berat kalo kalah. si anak bisa depresi. ini yang saya hindari. 

walaupun, sisi positifnya juga banyak. Perlombaan bisa membangkitkan sisi semangat berkompetensi dan tidak mudah menyerah pada anak. anak jadi terbiasa bersaing dan belajar untuk bertahan. kalau kalah, si anak jadi bisa belajar gimana caranya untuk memperbaiki "kesalahan" dan tidak mengulang kembali. tapi buatku, untuk belajar semua sisi positife dari perlombaan itu, bisa di asah dengan cara yang lain. 

Contoh kecilnya, sekarang di TK. Dia mulai belajar menulis dan membaca. Ini gak mudah loh buat anak yang terbiasa seharian main lalu masuk sekolah dan langsung kenalan sama huruf dan angka lalu si anak harus belajar tiap hari, mengulang dan mempelajari hal yang sama, kalo masih salah akan terus di ulang sampai dia bisa, hal ini dilakukan bahkan sampai 12 bulan ke depan. Kesabaran, keuletan, kegigihan dan semangat harus terus dipupuk biar si anak gak mudah loyo lantas enggan belajar. Apalagi kalo si anak lihat temen-temen sekelasnya udah pada jago melafalkan huruf dan angka, bahkan yang lancar baca, hal ini pasti membangkitkan sisi berkompetensi anak, jadi gak mau kalah sama temen-temennya. atau justru sebaliknya, jadi makin hoream karena ngerasa gak mampu. sama persis dengan mengikuti ajang perlombaan. Bedanya di waktu aja, kalo lomba itu rentang waktunya singkat, kalo sekolah... yah lama. 

Begitulah prinsip saya di awal. 

Namun, setelah saya mengikuti pembagian raport mengaji keenan beberapa hari yang lalu, prinsip saya agak berubah sedikit. 

Akhirnya, tibalah dibacakan nama siapa saja yang juara kelas PAUD, kelas keenan mengaji. sambil merasa dag-dig-dug ser saya nunggu nama juara kelas di sebut, sambil berharap, "semoga anak gue juara, semoga ya Allah, semoga!", lalu sampai nama juara 3 disebut, nama keenan gak di panggil. saya-pun "sedikit" kecewa.

Geli gak sih? katanya gak masalah kalo anaknya gak juara atau gak dapet ranking, tapi begitu anaknya gak juara, ada rasa kecewa walau cuma se-uprit, lantas kemana gerangan si prinsip awal yang keukeuh di pertahankan itu? menguap bersamaan dengan hadirnya si kecewa ya? wkwkwkwkwk

Saya geli menertawakan diri sendiri, hahahaha. rupa-rupanya hati kecil saya ada juga keinginan keenan juara kelas! buat apa coba? yah buat rasa bangga aja dan kalo di hujani pertanyaan sama emak-emak yang lain bisa jawab dengan wajah mendongkak penuh rasa bangga lantas menjawab, "juara dong! "

Tetiba saya jadi ada rasa minder sedikit di hati, pasalnya, keenan rajin mengaji, bahkan hujan badai aja dia maksa buat tetep ngaji. tapi kok dia gak juara kelas ya, tapi JUARA MENGAJI! itu benar! keenan gak juara kelas tapi juara dalam kategori murid yang rajin masuk kelas mengaji! 

Kekecewaan saya agak dalam sebetulnya, sampai lupa ada rasa bangga lain yang harus di utamakan. Yang harus saya lihat harusnya prestasi keenan bukan pada angka rangking atau juara kelas, tapi kemampuan dia yang berkembang pesat dalam waktu 6 bulan terakhir. Itu yang disebut juara. juara dalam keinginan untuk belajar walau agak sulit buat dia. keenan satu-satunya murid pria di kelasnya. dan dia, termasuk anak yang gak bisa belajar serba cepat. daya ingatnya kurang, begitupun dengan daya tangkapnya dan harus selalu di ulang. Menulis juga kurang, bukan gak bisa atau malas, tapi ragu dan bingung. jadi, sampai sekarang dia masih menulis huruf hijaiyah pake panduan ( titik - titk huruf lalu di tebalkan), dia belum bisa menulis mandiri sesuai contoh. tapi, buat saya, keenan yang udah tau huruf hijaiyah dan segudang ilmu agama lainnya, itu adalah kemajuan yang sangat pesat. dibanding saya waktu belajar ngaji waktu kecil. 

Setelah menyadari hal ini saya buru-buru nyemangatin keenan, " gpp ya kak gak juara kelas juga, kakak udah hafal huruf hijaiyah walau masih suka lupa, surat-surat pendek, bahasa arab anggota tubuh, doa sebelum tidur, doa mau makan, nama malaikat, rukun islam, rukun iman, asmaul husna dan bahkan syahadat! lancar lagi bacanya! mamah bangga sama kakak! kakak hebat! besok-besok kita lebih giat lagi ya nge-hafal huruf hijaiyahnya dan nulis tanpa pake titik-titik! oke! semangat! " 

Respon keenan? biasa aja sih? hahahaha, gak deng! dia agak bangga juga juara rajin ngaji. buktinya dia pamerin hadiahnya ke kakek - neneknya. keenan, emang gak begitu pengen juara kelas dan harus maju ke depan. walaupun dia juara murid yang rajin ngaji, keenan malah nangis gak mau ke depan buat nerima hadiah! dia malu, dia gak pe-de!! aaah, disinilah saya menyadari bahwa prinsip awal saya agak memudar! yaitu apa? perlombaan itu penting untuk memunculkan rasa bangga pada anak terhadap dirinya dan juga rasa percaya diri!

Yup!

Akhirnya, saya jujur pada diri sendiri kalau juara itu memang perlu dan somehow emang bisa bikin bangga.  

Memang tidak masalah keenan tidak juara kelas, tapi kalau bisa, kenapa gak? selain bikin emaknya bangga sedikit ( ciee ), jadi juara bisa jadi nilai kebanggaan tersendiri buat si anak kalo ternyata dia hebat dan se-pintar itu. kalo udah bangga sama diri sendiri, rasa pe-de akan muncul dengan sendirinya. tapi, inipun tetap harus di "filter", rasa bangga yang muncul gak boleh kebablasan jadi sombong dan ambisius. disini tugas emak yang utama. jadi tukang filter pemahaman anak terhadap definisi juara. 

Jadi, kalo ada lomba menggambar atau mewarnai, saya mau mulai tawarin keenan. buat have fun aja. ngitung-ngitung ngelatih dia buat pe-de dan mau berada dalam situasi banyak orang ( keenan agak gak suka berada di keramaian ). kalo keenan mau, hayu atuh ku emak di dukung 100%, kalo gak mau, ya udah gpp. saya latih ke pe-de an dia dengan cara yang lain. 

Apapun prestasi keenan, dia mampu mengikuti pelajaran di sekolah/ngaji dan semangat, saya udah bangga. kalau akhirnya juara, emak mana coba yang gak bangga? 

Begitcuu ...



Artikel ini diikut sertakan minggu tema Jujur


" Dimanakah, PAK TANI?"
"YAH SALAH! coba lagi ya"

...........

" Dimanakah, PAK TANI?"
"benar! kamu hebat"

...........

Gara-gara game edukasi buat paud, keenan jadi kenal pak tani, dan inilah interpretasi dia soal pak tani setelah maen game dan jadi si bolang ke sawah deket rumah

keenan's art
"Dimanakah Pak tani?" 22/10/2019