kata pun tertunduk malu karna tak mampu bertutur sempurna tentangmu,
suara pun terhenti bergerak karna tak mampu bernyanyi indah tentangmu,
ibu,
sulit ku lukiskan tentangmu,
bukan ku tak mampu,
namun aku malu,
ibu,
aku tau, tak mudah bagimu menjadi ibu bagiku,
aku tau, tak mudah bagimu menjagaku,
aku tau, tak mudah bagimu merawatku,
aku tau, tak mudah bagimu mendidikku,
aku tau, tak mudah bagimu bertahan untukku,
karena aku juga, seorang ibu

entah berapa kali hatimu terasakiti olehku,
entah berapa kali hatiku tersakiti olehmu,
riaknya selalu sama dari tahun ke tahun,
gema nya selalu terdengar dari masa lalu hingga teraba olehku,
tangimu,
tangisku,
lukaku,
lukamu,

oh tidak, lukaku ibu, lukaku
yang terkadang terasa begitu besar hingga sulit memaafkanmu,
hingga lupa,
lukamu lebih besar dariku,
namun aku kerap lupa memaafkanmu,
tapi tidak denganmu,
tak perduli seberapa besar lukamu ditorehkan olehku,
kau selalu memaafkanku,

rinduku padamu selalu ibu,




Pagi ini, aku merindukanmu ibu
sedari subuh hatiku merindu,
Dinginya hembusan angin menggigit asa ku,
lantas kubayangkan, senyum mu yang luar biasa hangat,
dadaku tetiba terasa hangat,
air mata serentak mengalir,
tak perlu berkata banyak,
akupun tau kau rindu padaku,

sunggung,
aku rindu padamu, ibu
tunggulah kedatanganku dan sambut aku dengan
hidangan kesukaanku,
yang sudah terasa bagaikan ribuan taun tak ku kecap,
hidangan buatan tanganmu yang penuh kasih,

sungguh aku rindu padamu, ibu
tak terhitung memang,
ntah berapa banyak kita saling melukai dan terluka bersama,
cacian-makian-hinaan-hujatan,
sungguh aku terluka ibu,
dan aku tau kau pun terluka,
walau kau tak tau sedalam apa luka-ku,
tapi tak apa,
karena rinduku padamu lebih besar dari luka-ku,

sungguh aku rindu padamu, ibu
tak terhitung memang,
ntah berapa banyak kita saling tertawa bersama dan bahagia,
kecupan, pelukan,pujian dan doa
sungguh aku merasa damai ibu,
dan aku tau kau pun tenang,
walau kau tak tau sedalam apa damai-ku,
tapi tak apa,
karena rinduku padamu, lebih besar dari rasa-ku

sungguh aku rindu padamu, ibu
maafkan aku dan terimakasih,
atas semua peluh keringat dan deraian air mata yang kau berikan, untuku
atas semua sayatan luka yang terkadang sengaja kulakukan saat aku marah,
atas semua senyuman hangat yang mengobati tiap luka-ku,
atas semua do'a yang selalu Tuhan wujudkan, untukku berkat dirimu

sungguh aku rindu padamu, ibu



Hai makhluk kecil, 
Terkadang terasa sulit bagiku, 
Untuk tidak dengan sengaja berteriak padamu saat  kau menghujaniku dengan permintaan tiada akhir  dimana aku sedang berada di puncak  lelah  letih teramat sangat,

Hai makhluk kecil, 
Terkadang sulit bagiku,  
Untuk tidak dengan sengaja marah padamu saat kau memintaku menemanimu bermain dimana aku baru ingin merebahkan tubuhku yang terasa remuk, meluruskan tulangpungguku yg terasa payah dan kakiku yang terasa kebas 

Hai makhkuk kecil, 
Terkadang sulit bagiku, 
Untuk tidak menahan sedikit saja kesalku terhadap kelakuanmu yg absurb dan aneh diluar akalku tapi lucu dan menyenangkan bagimu,  seperti bermain salju bedak atau bermain air hujan pancoran tetangga, 

Hai makhluk kecil, 
Terkadang sulit bagiku, 
Berdamai dengan amarahku saat kau menolak ku ajak belajar dan berteriak "tidak mau! " 

Hai makhkuk kecil, 
Terkadang sulit buatku, 
Menahan kantuk demi membacakan buku faporitemu

Hai makhkuk kecil, 
Terkadang sulit bagiku, 
Merayu dirimu yang sedang merajuk sementara aku dipenuhi pikiran yang sedang carut marut dan mood labil

Hal mahkluk kecil, 
Terkadang aku kalah dengan rasa lelah letih tiada akhir,
Terkadang aku kalah dengan emosiku,
Terkadang aku kalah dengan pikiranku,
Dan terkadang terasa sulit Menjadi ibumu,
Bukan karena tak ingin atau menolak,  aku hanya sedang lelah sekali,  
Hingga ingin aku menekan tombol pause dan berhenti sejenak, 
Walau masih terasa sulit,  aku tak pernah menyesal menjadi ibumu, 

Oh maafkan aku, 
Maafkan keterbatasanku, 
Maafkan ketidakmampuanku sedikit bersabar dan menahan amarahku,
Maafkan kesulitanku mengurai kesalku, 
Maafkan aku,  yang masih bergelut dengan luka lamaku, 

Maafkan aku, 
Yang masih belajar menjadi ibumu
Yang masih belajar mestabilkan emosiku
Yang masih belajar mengatur pikiranku
Yang masih belajar  menyesuaikan peranku
Yang masih belajar mengenai dirimu, 
Yang masih belajar ikhlas dan sabar, 
Yang masih berusaha mengurai dan menyembuhkan luka lamaku, 

Maafkan aku, dan
Terimakasih

Hadirmu sepenuhnya membuatku merasa berarti
Hadirmu sepenuhnya membuatku merasa dicintai
Hadirmu sepenuhnya membuatku merasa dibutuhkan
Hadirmu sepenuhnya membuatku merasa istimewa
Hadirmu sepenuhnya membuatku,  terasa seperti manusia







Dari awal saya punya prinsip, perihal prestasi di sekolah atau dimanapun, saya sih gak masalah kalo keenan gak dapet ranking atau juara juga. saya ga pernah maksa keenan buat jadi juara, dalam hal apapun. terlebih soal perlombaan. saya kurang "suka" kalo keenan ikut perlombaan. karena yang saya lihat hanya sisi negatif-nya saja, yaitu jadi bikin anak tertekan karena harus ikut lomba dan menang, ujung - uijungnya biasanya si anak jadi ambisius dan jadi kecewa berat kalo kalah. si anak bisa depresi. ini yang saya hindari. 

walaupun, sisi positifnya juga banyak. Perlombaan bisa membangkitkan sisi semangat berkompetensi dan tidak mudah menyerah pada anak. anak jadi terbiasa bersaing dan belajar untuk bertahan. kalau kalah, si anak jadi bisa belajar gimana caranya untuk memperbaiki "kesalahan" dan tidak mengulang kembali. tapi buatku, untuk belajar semua sisi positife dari perlombaan itu, bisa di asah dengan cara yang lain. 

Contoh kecilnya, sekarang di TK. Dia mulai belajar menulis dan membaca. Ini gak mudah loh buat anak yang terbiasa seharian main lalu masuk sekolah dan langsung kenalan sama huruf dan angka lalu si anak harus belajar tiap hari, mengulang dan mempelajari hal yang sama, kalo masih salah akan terus di ulang sampai dia bisa, hal ini dilakukan bahkan sampai 12 bulan ke depan. Kesabaran, keuletan, kegigihan dan semangat harus terus dipupuk biar si anak gak mudah loyo lantas enggan belajar. Apalagi kalo si anak lihat temen-temen sekelasnya udah pada jago melafalkan huruf dan angka, bahkan yang lancar baca, hal ini pasti membangkitkan sisi berkompetensi anak, jadi gak mau kalah sama temen-temennya. atau justru sebaliknya, jadi makin hoream karena ngerasa gak mampu. sama persis dengan mengikuti ajang perlombaan. Bedanya di waktu aja, kalo lomba itu rentang waktunya singkat, kalo sekolah... yah lama. 

Begitulah prinsip saya di awal. 

Namun, setelah saya mengikuti pembagian raport mengaji keenan beberapa hari yang lalu, prinsip saya agak berubah sedikit. 

Akhirnya, tibalah dibacakan nama siapa saja yang juara kelas PAUD, kelas keenan mengaji. sambil merasa dag-dig-dug ser saya nunggu nama juara kelas di sebut, sambil berharap, "semoga anak gue juara, semoga ya Allah, semoga!", lalu sampai nama juara 3 disebut, nama keenan gak di panggil. saya-pun "sedikit" kecewa.

Geli gak sih? katanya gak masalah kalo anaknya gak juara atau gak dapet ranking, tapi begitu anaknya gak juara, ada rasa kecewa walau cuma se-uprit, lantas kemana gerangan si prinsip awal yang keukeuh di pertahankan itu? menguap bersamaan dengan hadirnya si kecewa ya? wkwkwkwkwk

Saya geli menertawakan diri sendiri, hahahaha. rupa-rupanya hati kecil saya ada juga keinginan keenan juara kelas! buat apa coba? yah buat rasa bangga aja dan kalo di hujani pertanyaan sama emak-emak yang lain bisa jawab dengan wajah mendongkak penuh rasa bangga lantas menjawab, "juara dong! "

Tetiba saya jadi ada rasa minder sedikit di hati, pasalnya, keenan rajin mengaji, bahkan hujan badai aja dia maksa buat tetep ngaji. tapi kok dia gak juara kelas ya, tapi JUARA MENGAJI! itu benar! keenan gak juara kelas tapi juara dalam kategori murid yang rajin masuk kelas mengaji! 

Kekecewaan saya agak dalam sebetulnya, sampai lupa ada rasa bangga lain yang harus di utamakan. Yang harus saya lihat harusnya prestasi keenan bukan pada angka rangking atau juara kelas, tapi kemampuan dia yang berkembang pesat dalam waktu 6 bulan terakhir. Itu yang disebut juara. juara dalam keinginan untuk belajar walau agak sulit buat dia. keenan satu-satunya murid pria di kelasnya. dan dia, termasuk anak yang gak bisa belajar serba cepat. daya ingatnya kurang, begitupun dengan daya tangkapnya dan harus selalu di ulang. Menulis juga kurang, bukan gak bisa atau malas, tapi ragu dan bingung. jadi, sampai sekarang dia masih menulis huruf hijaiyah pake panduan ( titik - titk huruf lalu di tebalkan), dia belum bisa menulis mandiri sesuai contoh. tapi, buat saya, keenan yang udah tau huruf hijaiyah dan segudang ilmu agama lainnya, itu adalah kemajuan yang sangat pesat. dibanding saya waktu belajar ngaji waktu kecil. 

Setelah menyadari hal ini saya buru-buru nyemangatin keenan, " gpp ya kak gak juara kelas juga, kakak udah hafal huruf hijaiyah walau masih suka lupa, surat-surat pendek, bahasa arab anggota tubuh, doa sebelum tidur, doa mau makan, nama malaikat, rukun islam, rukun iman, asmaul husna dan bahkan syahadat! lancar lagi bacanya! mamah bangga sama kakak! kakak hebat! besok-besok kita lebih giat lagi ya nge-hafal huruf hijaiyahnya dan nulis tanpa pake titik-titik! oke! semangat! " 

Respon keenan? biasa aja sih? hahahaha, gak deng! dia agak bangga juga juara rajin ngaji. buktinya dia pamerin hadiahnya ke kakek - neneknya. keenan, emang gak begitu pengen juara kelas dan harus maju ke depan. walaupun dia juara murid yang rajin ngaji, keenan malah nangis gak mau ke depan buat nerima hadiah! dia malu, dia gak pe-de!! aaah, disinilah saya menyadari bahwa prinsip awal saya agak memudar! yaitu apa? perlombaan itu penting untuk memunculkan rasa bangga pada anak terhadap dirinya dan juga rasa percaya diri!

Yup!

Akhirnya, saya jujur pada diri sendiri kalau juara itu memang perlu dan somehow emang bisa bikin bangga.  

Memang tidak masalah keenan tidak juara kelas, tapi kalau bisa, kenapa gak? selain bikin emaknya bangga sedikit ( ciee ), jadi juara bisa jadi nilai kebanggaan tersendiri buat si anak kalo ternyata dia hebat dan se-pintar itu. kalo udah bangga sama diri sendiri, rasa pe-de akan muncul dengan sendirinya. tapi, inipun tetap harus di "filter", rasa bangga yang muncul gak boleh kebablasan jadi sombong dan ambisius. disini tugas emak yang utama. jadi tukang filter pemahaman anak terhadap definisi juara. 

Jadi, kalo ada lomba menggambar atau mewarnai, saya mau mulai tawarin keenan. buat have fun aja. ngitung-ngitung ngelatih dia buat pe-de dan mau berada dalam situasi banyak orang ( keenan agak gak suka berada di keramaian ). kalo keenan mau, hayu atuh ku emak di dukung 100%, kalo gak mau, ya udah gpp. saya latih ke pe-de an dia dengan cara yang lain. 

Apapun prestasi keenan, dia mampu mengikuti pelajaran di sekolah/ngaji dan semangat, saya udah bangga. kalau akhirnya juara, emak mana coba yang gak bangga? 

Begitcuu ...



Artikel ini diikut sertakan minggu tema Jujur






pikiran ini ingin selalu bertutur,
asa ini ingin selalu berbagi,
namun, lantas mengapa jiwa ini selalu merasa dihakimi?
namun, lantas mengapa setiap jejak terasa diabaikan?
namun, lantas mengapa aku selalu merasa salah langkah dan malu?
apakah karena aku tak sama?
apakah karena aku beda? dengan mereka?


sulit memang menjadi aku,
si ambivert
padahal dulu aku tak begini,
aku si ekstrovert, selalu

lantas apa yang merubahku?
ah , tugas ini, tanggung jawab ini, terkadang membuatku merasa menjadi manusia terisolasi

aku ingin menjadi sempurna, tapi tak mampu
aku terlihat tanpa cela, padahal biasa saja
aku ingin biasa saja, tapi itu bukan aku
bahkan, dia pun tak mengerti aku

saat ini aku hanya ingin bersandar,
pada bahu,
merebahkan lelah dan melelapkan kesadaranku,

itupun sulit,
selama para godzilla masih terbangun,

ah malam,
segeralah datang,
bebaskan aku










Dari awal sejak saya berhasil merayap perlahan keluar dari kubangan baby blues syndrome, 6 bulan setelah melahirkan keenan, saya mulai tertarik pada montessori, saya follow akun montessori indonesia dan langsung bikin kurikulum montessori buat keenan sampai dia usia 1 tahun. saya bikin sendiri semua tools pembelajaran dan sebagian beli yang sesuai budget. tapi lepas 1 tahun, saya stop karena kepindahan ke rumah baru, 3 bulan setelah kepindahan saya lanjut montessori lagi, semua file pembelajaran dan print out udah siap, tinggal jalan. tapi lagi-lagi terhenti karena kehamilan anak kedua, kilan. repot dengan kehamilan kedua yang sering keluar masuk rumah-sakit dan my mental health agak terganggu, saya stop montessori keenan dan fokus sama kehamilan. setelah kilan lahir, selain mengurus bayi kilan, saya juga bergelut dengan sakit selama 2 tahun. sehingga, montessori, lagi-lagi terabaikan.

lalu sekarang setelah keenan akhirnya masuk sekolah TK, saya akhirnya memilih stop montessori keenan. saya nyerah. betulan. karena berbagai kesibukan urusan rumah tangga dan urusan mendulang rupiah terkadang masih menjadi prioritas saya. juga, secara pribadi saya ini orangnya sungguh sangat lack of patient and easy to give up when he say no! dan saya gak bisa konsisten dengan kurikulum dan schedule yang udah saya susun sedemikian rupa sampai matang. sayang sebetulnya, karena saya yang jadi kunci permasalahannya. bukan anak.

Tapi bukan berarti saya menyerah, akhirnya saya punya solusi yang bisa dibilang win-win solution, saya kasih keenan "kuliah lapangan" yang disesuaikan dengan kurikulum TK-nya, semisal belajar soal alam, yah saya bawa ke sawah dan ngumpulin tanah,pasir,kerikil, lumpur, tanaman, bunga, daun, ranting,akar dan lain-lainnya sambil komat-kamit cerita ttg bumi, matahari, gunung, sungai, laut dan lain-lain. kalo sekolah ngasih pe-er bikin karya atau bikin yang "aneh-aneh" saya malah suka. karena lewat praktek, anak jadi punya pengalaman walo 90% yang bikin pasti emak-nya. solusi kuliah lapangan ini akhirnya bisa ngasih saya waktu buat mengurus semua hal, urusan rumah tangga, urusan mencari rezeki dan pendidikan anak dan yah tentu urusan saya pribadi ( menulis dan menggambar ).



sampai di titik ini, impian saya buat homeschooling keenan memang masih jauh dari kenyataan, karena montessori-in aja masih kesulitan. saya cuman bisa ngacay tiap liat IG nya montessori indonesia, diyangjingga dan sahabat saya Evha Ummu Azmi , karena buat homeschollig-in anak itu butuh persiapan dan effort yang gak mudah, termasuk soal kesiapan emak yang 90% jadi sumber ilmu anak, extra sabar dan siap cape udah pasti, juga siap soal rupiah.

sama hal nya dengan montessori. memang kalau ada niat pasti ada jalan, buat montessori misalnya, gak harus pake tools yang mahal-mahal, kita bisa bikin dari bahan reuse-recycle yang ada disekitar kita, dan yah nambah beli ini itu dikit lah. tapi yah, idealisme saya pikir juga harus realistis, sesuaikan dengan potensi dan kondisi yang kita miliki. saat ini idealisme saya memang tidak seperti idealisme pendidikan yang saya harapkan, jauh. but at least, i do my best to give him best education as much as i can and as much as i can pay, hehe

saya gak berharap keenan & kilan masuk jajaran ranking terbesar nanti atau jadi bintang kelas, atau jadi anak yang cerewet pinternya dan cerdas melebihi teman-temannya yang lain. 
oh tidak demikian. Walau kalo misalnya keenan dan kilan akhirnya jadi juara kelas juga yah pasti bangga atuh, orangtua mana yang gak bangga kalo anaknya berprestasi?  tapi saya akan lebih bangga kalo mereka bisa berprestasi di bidang yang mereka suka. 

Mengapa saya keukeuh pisan keenan pengen saya homeschooling-in dan montessori, karena saya ingin memberikan mereka imu sebanyak-banyaknya bahkan diluar yang saya ketahui, saya ingin menawarkan seisi ilmu dunia dan akhirat kalau bisa, sehingga mereka bisa memilih jalan hidup yang paling cocok dengan mereka dan mereka konsisten disana. saya ingin mereka menjalani hidup yang bahagia dan penuh empati, penuh syukur dan mengetahui jati diri mereka sendiri lewat ilmu. karena saya menyukai ilmu, apalagi hal yang tidak saya ketahui. rasanya seperti menemukan kotak pandora dan terkejut bahagia dengan isi yang ada didalamnya.

sungguh, saya salut sama emak yang bisa konsisten dengan kurikulum dan schedule montessori mereka. itu gak mudah. two thumbs up!!!

Dan buat emak yang tebentur situasi seperti saya, kita ubah nilai idealisme kita dengan idealisme yang lebih realistis, sesuai kemampuan kita dan juga isi dompet!

begitcuu





2019
Hanyalah angka berurutan,
agar manusia tak lupa,
Lupa terhadap peristiwa istimewa hingga yg membuat sedih merana,
Lupa terhadap jiwa yang kerap kehilangan asa,

2019
Hanyalah angka berurutan, 
dimana akhirnya aku, kembali meracau dalam diam, 
terkadang dalam tawa atau getir serta tangis tengah malam,
dan membiarkan jemariku menari di atas keyboard komputerku,
menyuarakan isi hatiku yg lama tertahan, tertuang dalam jurnal dunia maya-ku,

Karna kita, perempuan, adalah manusia banyak kata dan punya pikiran bagai gurita,
dengan kemampuan bergerak super cepat,
Maka setiap peristiwa adalah layak di tuliskan di atas secarik kertas hingga berjilid banyaknya,
Karna kadang, 
suara tak mampu menampung banyaknya kata dan meninggalkannya di sudut ruang hingga berdebu dan tak tersentuh, 
hingga menjadikan diam sebagai tameng dan murka menjadi bahasa yang tak terbendung.

2019
Hanyalah angka berurutan, 
dimana aku menemukan bahwa, 
maha benar ego-ku dan maha suci ingin-ku hingga lupa, 
dia pun sama terlukanya denganku, sama lelahnya denganku, 
sama benar ego-nya dan sama suci inginnya denganku. 
Dia yang terkadang dalam diam selalu berkata terimakasih dan maaf padaku, 
atas semua peluh keringat kerja kerasku untuknya dan buah hati kami 
dan tangis tanpa suaraku di masa tersulit kami, 
karna malu telah merenggut keberaniannya tuk berkata sehingga senyum dan ramah tamahnya , kemudian menjadi hadiah bagiku. 

Dia yang tak pernah mengolok atau mempermasalahkan kelebihan berat badanku yang makin naik tak tertolong, dia selalu berkata, "tumpukan lemak tak jadi soal, jangan hiraukan". 
Dia yang selalu mendukung inginku mengoceh di jurnal dunia maya-ku tentang semua hal yg kupikirkan, tanpa menghakimi, 
Ah, kurasa aku tetap mencintai dia seperti di awal cerita kami bertemu

2019
Hanyalah angka berurutan,
Dimana aku tak berharap 2020 akan lebih baik ataupun istimewa,
Realistis saja kawan,
Tak ada resolusi,
Tak ada list to do,
Tak ada target,

jalani hidup layakya angin berhembus ke segala penjuru, 
layaknya air menembus setiap celah 
dan hujan yang mulai tak tentu kapan datangnya, 
karena hari esok, adalah misteri milik Tuhan, 
bukan milikku,

2020
Hanyalah angka berurutan, 
dimana aku memilih nonton korea, 
ketimbang turun kejalanan tiup terompet lalu teriak bersorai saat dentang jam tengah malam pergantian tahun bergema lantas pulang dengan hati hampa karena lelah tanpa arti.

Pergantian tahun, hanyalah perubahan urutan angka-angka, namun bukan berarti tak bermakna.



Setelah 5 tahun absen melihara kucing, akhirnya saya melihara kucing juga. namanya kiki. dia tiba-tiba datang kerumah. sekarang usianya sekitar 6 bulan. warnanya hitam putih, blesteran kampung-angora dibagian ekor. anak-anak sangat sayang sama si kiki ini.

Dulu saya juga pernah punya kucing, namanya M, motifnya sama dengan si kiki ini. cuman dia meninggal karena virus, dan gak tertolong alias udah almarhum. dari situ saya enggan lagi melihara kucing. bukan apa-apa, saya ga mau lagi ngalamin sedih dan nangis-nangis ampe berminggu-minggu kalo kucing peliharaan saya tetiba sakit parah kaya si M terus its dead! nyesek man!!






Nah, udah 3 hari ini kiki sakit cacing ( kotorannya ada cacing tambang-nya). dia ogah makan, diemnya di kolong meja terus. malahan dia pernah ngilang seharian, ga taunya nyumput di bawah saluran air/selokan!

Akhirnya di hari ke-3 saya putuskan buat bawa ke dokter hewan di key petshop , lokasinya deket banget dari rumah. juga itu petshop langganan saya beli pakan si kiki. saya terus langganan disana karna obatnya lengkap, pelayan nya ramah dan harga pakannya murah ( ini yang gue paling demen! wkwkwkwk ).

Duh rempong bener bawa si kiki ke dokter hewan! soalnya para krucil mau ikut juga! kebayang dong dalam satu motor bawa 2 toddler dan 1 hewan peliharaan tanpa pake kardus bekas indomie! soalnya gak punya keranjang, buat apa juga? jarang bawa kiki kemana-mana! hihihi

Yo wislah, berangkatlah kesana.

iiihh mak, dokter hewannya baiikkk bener! penjelasannya detail dan ramah, sabar nerangin ini itu. perlakuannya ke kiki juga lembut.

Sambil si kiki di njus obat 3x dan di periksa badannya, saya sambil was-was komat kamit dalam hati bicara, "astaga! 3 kali suntikan! brapa duit nih Tuhan??? duh semoga gak mahal!!!" ah ya, typical emak-emak banget ya? hahahahaha

Setelah selesai, bayar lah kita di depan kasir langsung sama dokternya. setelah di hitung, saya kaget luar binasa!! ternyata cost-nya MURAH PISAN!!!

Saya bandingin harganya ya, si M pernah sakit yang sama 5 tahun yang lalau, saya bawa ke dokter langganan di daerah arcamanik Bandung, costnya sekitar 150rb! nah sekarang, si kiki sakit yang sama dengan si M, costnya cuman 65rb!!! coba mau ga pingsan gimana saya??? harusnya ya, naik harga 100% kan setelah 5 tahun! tapi ya saya ga tau juga obatnya apa sama ato gak sama si M makanya murah.

tapi dokter bilang si kiki di kasih suntik obat radang, infeksi perut dan buat cacing. terus dikasih juga kapsul dan tambahan Drontal (obat cacing tablet) plus injeksi bekas buat ngasih makan kiki karna harus cair katanya.

Dengan harga yang segitu murahnya dan pelayannya yang memuaskan, saya pasti langganan nih sama drh. andri di key petshop, soalnya saya puas. bukan iklan ya, hehehe.

buat yang rumahnya disekitaran Bandung timur, silahkan berkunjung kesini. deket kampus UIN kok. depan Dj Resto.